Anda di halaman 1dari 10

TEORI BELAJAR JEROME BRUNER

I. Biografi Jerome S. Bruner


Jerome Bruner dilahirkan dalam tahun 1915. Jerome Bruner, seorang ahli psikologi
yang terkenal telah banyak menyumbang dalam penulisan teori pembelajaran, proses
pengajaran dan falsafah pendidikan. Bruner bersetuju dengan Piaget bahwa perkembangan
kognitif anak-anak adalah melalui peringkat-peringkat tertentu. Walau bagaimanapun, Bruner
lebih menegaskan pembelajaran secara penemuan yaitu mengolah apa yang diketahui pelajar
itu kepada satu corak dalam keadaan baru (lebih kepada prinsip konstruktivisme).
Beliau bertugas sebagai profesor psikologi di Universitas Harvard di Amerika Serikat
dan dilantik sebagai pengarah di Pusat Pengajaran Kognitif dari tahun 1961 sehingga 1972,
dan memainkan peranan penting dalam struktur Proyek Madison di Amerika Serikat. Setelah
itu, beliau menjadi seorang profesor Psikologi di Universitas Oxford di England.
Jerome S. Bruner adalah seorang ahli psikologi perkembangan dan ahli psikologi
belajar kognitif. Pendekatannya tentang psikologi adalah eklektik. Penelitiannya yang
demikian banyak itu meliputi persepsi manusia, motivasi, belajar dan berfikir. Dalam
mempelajarai manusia, ia menganggap manusia sebagai pemroses, pemikir dan pencipta
informasi. Bruner menganggap, bahwa belajar itu meliputi tiga proses kognitif, yaitu
memperoleh informasi baru, transformasi pengetahuan, dan menguji relevansi dan ketepatan
pengetahuan. Pandangan terhadap belajar yang disebutnya sebagai konseptualisme
instrumental itu, didasarkan pada dua prinsip, yaitu pengetahuan orang tentang alam
didasarkan pada model-model mengenai kenyataan yang dibangunnya, dan model-model itu
diadaptasikan pada kegunaan bagi orang itu.
Pematangan intelektual atau pertumbuhan kognitif seseorang ditunjukkan oleh
bertambahnya ketidaktergantungan respons dari sifat stimulus. Pertumbuhan itu tergantung
pada bagaimana seseorang menginternalisasi peristiwa-peristiwa menjadi suatu sistem
simpanan yang sesuai dengan lingkungan. Pertumbuhan itu menyangkut peningkatan
kemampuan seseorang untuk mengemukakan pada dirinya sendiri atau pada orang lain
tentang apa yang telah atau akan dilakukannya.
Menurut Bruner belajar bermakna hanya dapat terjadi melalui belajar penemuan.
Pengetahuan yang diperoleh melalui belajar penemuan bertahan lama, dan mempunyai efek
transfer yang lebih baik. Belajar penemuan meningkatkan penalaran dan kemampuan berfikir
secara bebas dan melatih keterampilan-keterampilan kognitif untuk menemukan dan
memecahkan masalah.
Teori instruksi menurut Bruner hendaknya mencakup:
1. Pengalaman-pengalaman optimal bagi siswa untuk mau dan dapat belajar, ditinjau dari
segi aktivasi, pemeliharaan dan pengarahan.
2. Penstrukturan pengetahuan untuk pemahaman optimal, ditinjau dari segi cara penyajian,
ekonomi dan kuasa.
3. Perincian urutan-urutan penyajian materi pelajran secara optimal, dengan memperhatikan
faktor-faktor belajar sebelumnya, tingkat perkembangan anak, sifat materi pelajaran dan
perbedaan individu.
4. Bentuk dan pemberian reinforsemen.
Beliau berpendapat bahwa seseorang murid belajar dengan cara menemui struktur
konsep-konsep yang dipelajari. Kanak-kanak membentuk konsep dengan mengasingkan
benda-benda mengikut ciri-ciri persamaan dan perbedaan. Selain itu, pengajaran didasarkan
kepada perangsang murid terhadap konsep itu dengan pengetahuan sedia ada.
Misalnya,kanak-kanak membentuk konsep segiempat dengan mengenal segiempat
mempunyai 4 sisi dan memasukkan semua bentuk bersisi empat kedalam kategori
segiempat,dan memasukkan bentuk-bentuk bersisi tiga kedalam kategori segitiga.
Dalam teori belajarnya Jerome Bruner berpendapat bahwa kegiatan belajar akan
berjalan baik dan kreatif jika siswa dapat menemukan sendiri suatu aturan atau kesimpulan
tertentu. Dalam hal ini Bruner membedakan menjadi tiga tahap. Ketiga tahap itu adalah: (1)
tahap informasi, yaitu tahap awal untuk memperoleh pengetahuan atau pengalaman baru, (2)
tahap transformasi, yaitu tahap memahami, mencerna dan menganalisis pengetahuan baru
serta ditransformasikan dalam bentuk baru yang mungkin bermanfaat untuk hal-hal yang lain,
dan (3) evaluasi, yaitu untuk mengetahui apakah hasil tranformasi pada tahap kedua tadi
benar atau tidak.

II. Proses dan Penerapan Belajar Menurut Jerome S. Bruner
Menurut Bruner, dalam proses belajar dapat dibedakan tiga fase atau episode, yakni
(1) informasi, (2) transformasi (3) evaluasi (pengkajian pengetahuan).
Informasi, dalam tiap pelajaran kita peroleh sejumlah informasi ada yang menambah
pengetahuan yang telah kita miliki, ada yang memperhalus dan memperdalamnya, ada pula
informasi yang bertentangan dengan apa yang telah kita ketahui sebelumnya, misalnya bahwa
tidak ada energi yang lenyap.
Transformasi, informasi itu harus dianalisis diubah atau ditransformasi kedalam
bentuk yang lebih abstrak atau konseptual agar dapat digunakan untuk hal-hal yang lebih
luas.
Dalam hal ini bantuan guru sangat diperlukan. Evaluasi, kemudian kita nilai hingga
manakah pengetahuan yang kita peroleh dan transformasi itu bisa dimanfaatkan untuk
memahami gejala-gejala lain. Dalam proses belajar, ketiga episode selalu ada. Yang menjadi
masalah ialah berapa banyak informasi yang diperlukan agar dapat ditransformasikan. Lama
tiap episode tidak selalu sama. Hal ini antara lain juga bergantung pada hasil yang
diharapkan, motivasi murid belajar, minat, keinginan untuk mengetahui dan dorongan untuk
menemukan sendiri.
Teori belajar bruner dikenal dengan tiga tahapan belajarnya yang terkenal, yaitu
enaktif, ikonik dan simbolik. Pada dasarnya setiap individu pada waktu mengalami atau
mengenal peristiwa yang ada di dalam lingkungannya dapat menemukan cara untuk
menyatakan kembali peristiwa tersebut di dalam pikirannya, yaitu suatu model mental
tentang peristiwa yang dialaminya. Hal tersebut adalah proses belajar yang terbagi menjadi
tiga tahapan, yakni:
(1) Tahap enaktif; dalam tahap ini peserta didik di dalam belajarnya menggunakan atau
memanipulasi obyek-obyek secara langsung.
(2) Tahap ikonik; pada tahap ini menyatakan bahwa kegiatan anak-anak mulai menyangkut
mental yang merupakan gambaran dari objek-objek. Dalam tahap ini, peserta didik tidak
memanipulasi langsung objek-objek, melainkan sudah dapat memanipulasi dengan
menggunakan gambaran dari objek. Pengetahuan disajikan oleh sekumpulan gambar-
gambar yang mewakili suatu konsep.
(3) Tahap simbolik; tahap ini anak memanipulasi simbol-simbol secara langsung dan tidak
ada lagi kaitannya dengan objek-objek. Anak mencapai transisi dari penggunaan
penyajian ikonik ke penggunaan penyajian simbolik yang didasarkan pada sistem
berpikir abstrak dan lebih fleksibel. Dalam penyajian suatu pengetahuan akan
dihubungkan dengan sejumlah informasi yang dapat disimpan dalam pikiran dan
diproses untuk mencapai pemahaman.
Sejalan dengan pernyataan di atas, maka untuk mengajar sesuatu tidak usah ditunggu
sampai anak mancapai tahap perkembangan tertentu. Yang penting bahan pelajaran harus
ditata dengan baik maka dapat diberikan padanya. Dengan lain perkataan perkembangan
kognitif seseorang dapat ditingkatkan dengan jalan mengatur bahan yang akan dipelajari dan
menyajikannya sesuai dengan tingkat perkembangannya.
Penerapan teori Bruner yang terkenal dalam dunia pendidikan adalah kurikulum spiral
dimana materi pelajaran yang sama dapat diberikan mulai dari Sekolah Dasar sampai
Perguruan tinggi disesuaikan dengan tingkap perkembangan kognitif mereka. Cara belajar
yang terbaik menurut Bruner ini adalah dengan memahami konsep, arti dan hubungan
melalui proses intuitif kemudian dapat dihasilkan suatu kesimpulan (discovery learning).
Berdasarkan pendapat ketiga ahli di atas (Burner, Ausubel, dan gagne), ternyata teori
kognitif melibatkan hal-hal mental atau pemikiran seseorang individu. Teori ini ada kaitan
dengan ingatan jangka pendek dan ingatan jangka panjang. Sesuatu pengetahuan yang
diperolehi melalui pengalaman atau pendidikan formal akan disimpan dan disusun melalui
proses pengumpulan pengetahuan supaya dapat digunakan kemudian.
Penerapan model kognitif dalam pembelajaran:
Belajar Karakteristik Teori Penerapan Dalam pembelajaran
Kognitif
Bruner
Model ini sangat
membebaskan peserta
didik untuk belajar
sendiri. Teori ini
mengarahkan peserta
didik untuk belajar secara
discovery learning.
1. Menentukan tujuan-tujuan instruksional
2. Memilih materi pelajaran
3. Menentukan topik-topik yang akan dipeserta
didiki
4. Mencari contoh-contoh, tugas, ilustrasi
dsbnya., yang dapat digunakan peserta didik
untuk bahan belajar
5. Mengatur topik peserta didik dari konsep
yang paling kongkrit ke yang abstrak, dari
yang sederhana ke kompleks
6. Mengevaluasi proses dan hasil belajar
Bermakna
Ausubel
Dalam aplikasinya
menuntut peserta didik
belajar secara deduktif
(dari umum ke khusus)
dan lebih mementingkan
aspek struktur kognitif
peserta didik
1. Menentukan tujuan-tujuan instruksional
2. Mengukur kesiapan peserta didik (minat dan
kemampuan, struktur kognitif)baik melalui tes
awal, interviw, pertanyaan dll.
3. Memilih materi pelajaran dan mengaturnya
dalam bentuk penyajian konsep-konsep kunci
4. Mengidentifikasikan prinsip-prinsip yang
harus dikuasai peserta didik dari materi tsb.
5. Menyajikan suatu pandangan secara
menyelurh tentang apa yang harus dikuasai
pesertadidik
6. Membuat dan menggunakan advanced
organizer paling tidak dengan cara membuat
rangkuman terhadap materi yang baru
disajikan, dilengkapi dengan uraian singkat
yang menunjukkan relevansi (keterkaiatan)
materi yang sudah diberikan dengan yang akan
diberikan
7. Mengajar peserta didik untuk memahami
konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang sudah
ditentukan dengan memberi fokus pada
hubungan yang terjalin antara konsep yang ada
8. Mengevaluasi proses dan hasil belajar

III. Teori Pengajaran Menurut Jerome S. Bruner
Bruner berpendapat bahwa pengajaran dapat dianggap sebagai (a) hakikat seseorang
sebagai pengenal (b) hakikat dari pengetahuan, dan (c) hakikat dari proses mendapatkan
pengetahuan. Manusia sebagai makhluk yang paling mulia di antara makhluk-makhluk lain
memiliki dua kekuatan yakni akal pikirannya dan kemampuan berbahasa. Dengan dua
kemampuan tersebut maka manusia dapat mengembangkan kemampuan yang ada padanya.
Dorongan dan hasrat ingin mengenal dan mengetahui dunia dan lingkungan alamnya
menyebabkan manusia mempunyai kebudayaan dalam bentuk konsepsi, gagasan,
pengetahuan, maupun karya-karyanya. Kemampuan yang ada dalam dirinya mendorongnya
untuk mengekspresikan apa yang telah dimilikinya.
Kondisi dan karakteristik tersebut hendaknya melandasi atau dijadikan dasar dalam
mengembangkan proses pengajaran. Dengan demikian guru harus memandang siswa sebagai
individu yang aktif dan memiliki hasrat untuk mengetahui lingkungan dan dunianya bukan
semata-mata makhluk pasif menerima apa adanya.
Selanjutnya Bruner berpendapat bahwa teori pengajaran harus mencakup lima aspek
utama yakni:
1. Pengalaman optimal untuk mempengaruhi siswa belajar
Bruner melihat bahwa ada semacam kebutuhan untuk mengubah praktek mengajar
sebagai proses mendapatkan pengetahuan untuk membentuk pola-pola pemikiran
manusia. Keefektifan belajar tidak hanya mempelajari bahan-bahan pengajaran tetapi
juga belajar berbagai cara bagaimana memperoleh informasi dan memecahkan masalah.
Oleh sebab itu diskusi, problem solving, seminar akan memperkaya pengalaman siswa
dan mempengaruhi cara belajar.
2. Struktur pengetahuan untuk membentuk pengetahuan yang optimal.
Tujuan terakhir dari pengajaran berbagai mata pelajaran adalah pemahaman terhadap
struktur pengetahuan. Mengerti struktur pengetahuan adalah memahami aspek-aspeknya
dalam berbagai hal dengan penuh pengertian. Tugas guru adalah memberi siswa
pengertian tentang struktur pengetahuan dengan berbagai cara sehingga mereka dapat
membedakan informasi yang berarti dan yang tidak berarti.
3. Spesifikasi mengurutkan penyajian bahkan pelajaran untuk dipelajari siswa
Mengurutkan bahan pengajaran agar dapat dipelajari siswa hendaknya
mempertimbangkan kriteria sebagi berikut; kecepatan belajar, daya tahan untuk
mengingat, transfer bahwa yang telah dipelajari kepada situasi baru, bentuk penyajian
mengekspresikan bahan-bahan yang telah dipelajari, apa yang telah dipelajarinya
mempunyai nilai ekonomis, apa yang telah dipelajari memiliki kemampuan untuk
mengembangkan pengetahuan baru dan menyusun hipotesis.
4. Peranan sukses dan gagal serta hakikat ganjaran dan hukuman
Ada dua alternatif yang mungkin dicapai siswa manakala dihadapkan dengan tugas-
tugas belajar yakni sukses dan gagal. Sedangkan dua alternatif yang digunakan untuk
mendorong perbuatan belajar adalah ganjaran dan hukuman. Ganjaran penggunaannya
dikaitkan dengan keberhasilan (sukses) hukuman dikaitkan dengan kegagalan.
5. Prosedur untuk merangsang berpikir siswa dalam lingkungan sekolah
Pengajaran hendaknya diarahkan kepada proses menarik kesimpulan dari data yang dapat
dipercaya ke dalam suatu hipotesis kemudian menguji hipotesis dengan data lebih lanjut
untuk kemudian menarik kesimpulan-kesimpulan sehingga siswa diajak dan diarahkan
kepada pemecahan masalah. Ini berarti belajar pemecahan masalah harus dikembangkan
di sekolah agar para siswa memiliki keterampilan bagaimana mereka belajar yang
sebenarnya. Melalui metode pemecahan masalah akan merangsang berpikir siswa dalam
pengertian luas mencakup proses mencari informasi, menggunakan informasi,
memanfaatkan informasi untuk masalah pemecahan lebih lanjut.
Berdasarkan pemikiran di atas, Bruner menganjurkan penggunaan metode discovery
learning, inquiry learning, dan problem solving.
Metode discovery learning yaitu dimana murid mengorganisasi bahan yang dipelajari
dengan suatu bentuk akhir. Prosedur ini berbeda dengan reception learning dan expository
teaching, dimana guru menerangkan semua informasi dan murid harus mempelajari semua
bahan atau informasi itu.
Banyak pendapat yang mendukung discovery learning itu, di antaranya J. Dewey
(1993) dengan complete art of reflective activity atau terkenal dengan problem solving. Ide
Bruner itu ditulis dalam bukunya Process of Education. Didalam buku ini ia melaporkan hasil
dari suatu konferensi di antara para ahli science, ahli sekolah atau pengajar dan pendidik
tentang pengajaran science. Dalam hal ini ia mengemukakan pendapatnya, bahwa mata
pelajaran dapat diajarkan secara efektif dalam bentuk intelektual yang sesuai dengan tingkat
perkembangan anak.
Bruner mendapatkan pertanyaan, bagaimana kita dapat mengembangkan program
pengajaran yang lebih efektif bagi anak yang muda? Jawaban Bruner adalah dengan
mengkoordinasikan metode penyajian bahan dengan cara di mana anak dapat mempelajari
bahan itu yang sesuai dengan tingkat kemajuan anak. Tingkat-tingkat kemajuan anak dari
tingkat representasi sensori (enactive) ke representasi konkret (iconic) dan akhirnya ke
tingkat representasi abstrak (symbolic).
The Wat of Discovery dari Bruner :
a. Adanya satu kenaikan di dalam potensi intelektual.
b. Ganjaran intrinsik lebih ditekankan daripada ganjaran ekstrinsik.
c. Murid mempelajari bagaimana menemukan berarti murid itu menguasai metode
discovery learning.
d. Murid lebih senang mengingat-ingat informasi.

IV. Ciri Khas Teori Pembelajar Jerome S. Bruner
1. Empat Tema tentang Pendidikan
Tema pertama mengemukakan pentingnya arti struktur pengetahuan. Hal ini perlu
karena dengan struktur pengetahuan kita menolong siswa untuk untuk melihat, bagaimana
fakta-fakta yang kelihatannya tidak ada hubungan, dapat dihubungkan satu dengan yang lain.
Tema kedua adalah tentang kesiapan untuk belajar. Menurut Bruner kesiapan terdiri
atas penguasaan keterampilan-keterampilan yang lebih sederhana yang dapat mengizinkan
seseorang untuk mencapai keterampilan-keterampilan yang lebih tinggi.
Tema ketiga adalah menekankan nilai intuisi dalam proses pendidikan. Dengan
intuisi, teknik-teknik intelektual untuk sampai pada formulasi-formulasi tentatif tanpa melalui
langkah-langkah analitis untuk mengetahui apakah formulasi-formulasi itu merupakan
kesimpulan yang sahih atau tidak.
Tema keempat adalah tentang motivasi atau keingianan untuk belajar dan cara-cara
yang tersedia pada para guru untuk merangsang motivasi itu.
2. Model dan Kategori
Pendekatan Bruner terhadap belajar didasarkan pada dua asumsi. Asumsi pertama
adalah bahwa perolehan pengetahuan merupakan suatu proses interaktif. Berlawanan dengan
penganut teori perilaku Bruner yakin bahwa orang yang belajar berinteraksi dengan
lingkungannya secara aktif, perubahan tidak hanya terjadi di lingkungan tetapi juga dalam
diri orang itu sendiri.
Asumsi kedua adalah bahwa orang mengkontruksi pengetahuannya dengan
menghubungkan informasi yang masuk dengan informasi yang disimpan yang diperoleh
sebelumnya, suatu model alam (model of the world). Model Bruner ini mendekati sekali
struktur kognitif Aussebel. Setiap model seseorang khas bagi dirinya. Dengan menghadapi
berbagai aspek dari lingkungan kita, kita akan membentuk suatu struktur atau model yang
mengizinkan kita untuk mengelompokkan hal-hal tertentu atau membangun suatu hubungan
antara hal-hal yang diketahui.
3. Belajar sebagai Proses Kognitif
Bruner mengemukakan bahwa belajar melibatkan tiga proses yang berlangsung
hampir bersamaan. Ketiga proses itu adalah (1) memperoleh informasi baru, (2) transformasi
informasi dan (3) menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan (Bruner, 1973).
Informasi baru dapat merupaka penghalusan dari informasi sebelumnya yang dimiliki
seseorang atau informasi itu dapat dersifat sedemikian rupa sehingga berlawanan dengan
informasi sebelumnya yang dimiliki seseorang. Dalam transformasi pengetahuan seseorang
mempelakukan pengetahuan agar cocok dengan tugas baru. Jadi, transformasi menyangkut
cara kita memperlakukan pengetahuan, apakah dengan cara ekstrapolasi atau dengan
mengubah bentuk lain.
Hampir semua orang dewasa melalui penggunaan tig sistem keterampilan untuk
menyatakan kemampuanny secara sempurna. Ketiga sistem keterampilan itu adalah yang
disebut tiga cara penyajian (modes of presentation) oleh Bruner (1966). Ketiga cara itu ialah:
cara enaktif, cara ikonik dan cara simbolik.
Cara penyajian enaktif ialah melalui tindakan, jadi bersifat manipulatif. Dengan cara
ini seseorang mengetahui suatu aspek dari kenyataan tanpa menggunakan pikiran atau kata-
kata. Jadi cara ini terdiri atas penyajian kejadian-kejadian yang lampau melalui respon-respon
motorik. Misalnya seseorang anak yang enaktif mengetahui bagaimana mengendarai sepeda.
Cara penyajian ikonik didasarkan atas pikiran internal. Pengetahuan disajikan oleh
sekumpulan gambar-gambar yang mewakili suatu konsep, tetapi tidak mendefinisikan
sepenuhnya konsep itu. Misalnya sebuah segitiga menyatakan konsep kesegitigaan.
Penyajian simbolik menggunakan kata-kata atau bahasa. Penyajian simbolik
dibuktikan oleh kemampuan seseorang lebih memperhatikan proposisi atau pernyataan
daripada objek-objek, memberikan struktur hirarkis pada konsep-konsep dan memperhatikan
kemungkinan-kemungkinan alternatif dalam suatu cara kombinatorial.
Sebagai contoh dari ketiga cara penyajian ini, tentang pelajaran penggunaan
timbangan. Anak kecil hanya dapat bertindak berdasarkan prinsip-prinsip timbangan dan
menunjukkan hal itu dengan menaiki papan jungkat-jungkit. Ia tahu bahwa untuk dapat lebih
jauh kebawah ia harus duduk lebih menjauhi pusat. Anak yang lebih tua dapat menyajikan
timbangan pada dirinya sendiri dengan suatu model atau gambaran. Bayangan timbangan
itu dapat diperinci seperti yang terdapat dalam buku pelajaran. Akhirnya suatu timbangan
dapat dijelaskan dengan menggunakan bahasa tanpa pertolongan gambar atau dapat juga
dijelaskan secara matematika dengan menggunakan Hukum Newton tentang momen.
4. Ciri khas Teori Bruner dan perbedaannya dengan teori yang lain
Teori Bruner mempunyai ciri khas daripada teori belajar yang lain yaitu tentang
discovery yaitu belajar dengan menemukan konsep sendiri. Di samping itu, karena teori
Bruner ini banyak menuntut pengulangan-pengulangan, maka desain yang berulang-ulang itu
disebut kurikulum spiral kurikulum. Secara singkat, kurikulum spiral menuntut guru untuk
memberi materi pelajaran setahap demi setahap dari yang sederhana ke yang kompleks,
dimana materi yang sebelumnya sudah diberikan suatu saat muncul kembali secara
terintegrasi di dalam suatu materi baru yang lebih kompleks. Demikian seterusnya sehingga
siswa telah mempelajari suatu ilmu pengetahuan secara utuh.
Bruner berpendapat bahwa seseorang murid belajar dengan cara menemui struktur
konsep-konsep yang dipelajari. Anak-anak membentuk konsep dengan melihat benda-benda
berdasarkan ciri-ciri persamaan dan perbedaan. Selain itu, pembelajaran didasarkan kepada
merangsang siswa menemukan konsep yang baru dengan menghubungkan kepada konsep
yang lama melalui pembelajaran penemuan.



Belajar Penemuan berdasarkan teori Jerome s. Bruner
Salah satu model kognitif yang sangat berpengaruh adalah model dari Jerome Bruner
(1966) yang dikenal dengan nama belajar penemuan (discovery learning). Bruner
menganggap bahwa belajar penemuan sesuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh
manusia dan dengan sendirinya memberikan hasil yang paling baik. Bruner menyarankan
agar siswa hendaknya belajar melalui berpartisipasi aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-
prinsip agar mereka dianjurkan untuk memperoleh pengalaman dan melakukan eksperimen-
eksperimen yang mengizinkan mereka untuk menemukan konsep dan prinsip itu sendiri.
Pengetahuan yang diperoleh dengan belajar penemuan menunjukkan beberapa
kebaikan. Diantaranya adalah:
1. Pengetahuan itu bertahan lama atau lama dapat diingat.
2. Hasil belajar penemuan mempunyai efek transfer yang lebih baik.
3. Secara menyeluruh belajar penemuan meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan
untuk berpikir secara bebas.
Asumsi umum tentang teori belajar kognitif: a. Bahwa pembelajaran baru berasal dari
proses pembelajaran sebelumnya. b. Belajar melibatkan adanya proses informasi (active
learning). c. Pemaknaan berdasarkan hubungan. d.Proses kegiatan belajar mengajar
menitikberatkan pada hubungan dan strategi.
Model kognitif mulai berkembang pada abad terakhir sebagai protes terhadap teori
perilaku yang yang telah berkembang sebelumnya. Model kognitif ini memiliki perspektif
bahwa para peserta didik memproses infromasi dan pelajaran melalui upayanya
mengorganisir, menyimpan, dan kemudian menemukan hubungan antara pengetahuan yang
baru dengan pengetahuan yang telah ada. Model ini menekankan pada bagaimana informasi
diproses.
Peneliti yang mengembangkan kognitif ini adalah Ausubel, Bruner, dan Gagne. Dari
ketiga peneliti ini, masing-masing memiliki penekanan yang berbeda. Ausubel menekankan
pada aspek pengelolaan (organizer) yang memiliki pengaruh utama terhadap belajar. Menurut
Ausubel, konsep tersebut dimaksudkan untuk penyiapan struktur kognitif peserta didik untuk
pengalaman belajar. Bruner bekerja pada pengelompokan atau penyediaan bentuk konsep
sebagai suatu jawaban atas bagaimana peserta didik memperoleh informasi dari lingkungan.

REFERENSI
Dwijandono dan Sri Esti Wuryani. 1989. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Depdikbud.
Ratna Wilis Dahar, 1996. Teori-teori Belajar. Jakarta: Erlangga.