Anda di halaman 1dari 3

Sistem Peredaran Darah Pada Hewan

Invertebrata
Posted by Weda Ayu at 3/24/2014 08:41:00 pm
invertebrata adalah hewan yang tidak mempunyai tulang belakang. Beberapa filum pada
hewan invertebrata yaitu porifera, coelenterata, platyhelminthes dan nemathelminthes tidak
memerlukan sistem peredaran khusus karena sel-sel tubunya dapat berhubungan langsung
dengan lingkungannya.
Hewan invertebrata yang sudah memiliki sistem peredaran antara lain :
A. Sistem Peredaran Darah pada Echinodermata
Hewan yang termasuk ke dalam
filum Echinodermata sudah memiliki
rongga tubuh (selom). Selom berisi cairan
yang bertindak sebagai darah, karena
cairan ini akan merendam semua jaringan
tubuh agar dapat memberikan bahan
makanan yang sudah dicerna dan oksigen
kepada sel-sel. Sebaliknya sisa bahan
makanan hasil metabolisme akan
dikembalikan ke dalam cairan selom.
Rongga selom dibatasi oleh deretan sel-sel yang permukaannya dilengkapi oleh bulu-
bulu getar. Gerakan bulu getar akan membantu aliran cairan selom supaya proses peredaran
darah dapar terjadi. Cairan selom tidak berwarna merah.
Berdasarkan hal di atas, maka Echinodermata belum mempunyai pembuluh darah khusus,
jantung dan sel-sel darah.
B. Sistem Peredaran pada Mollusca
Mollusca sudah memiliki sistem
peredaran yang dilengkapi dengan jantung
meskipun sel-sel darahnya belum sempurna.
Karena sel-sel darahnya belum sempurna
maka cairan yang beredar tidak berwarna
merah.
Contoh hewan yang termasuk
mollusca adalah siput. Siput mempunyai
jantung yang memiliki tiga ruangan, dua
serambi dan satu bilik. Serambi berfungsi
untuk menerima cairan dari peredaram
sedangkan bilik berfungsi untuk mengeluarkan cairan masuk ke dalam peredaran. Jantung
berada di dalam rongga tubuh (selom).
Darah dipompakan oleh jantung dan diedarkan ke seluruh tubuh melalui pembuluh
darah nadi. Pembuluh ini makin jauh dari jantung, percabangannya makin halus. Ujung-ujung
percabangan halus pembuluh darah nadi akan menumpahkan darah ke dalam sinus (celah-celah
antara jaringan). Setelah mencapai sinus darah akan mencapai sel-sel dan dimanfaatkan dalam
proses metabolisme.
Dari sinus, darah yang membawa hasil metabolisme akan ditampung dalam pembuluh
darah balik. Pembuluh darah balik akan kembali ke jantung melalui serambi. Serambi akan
menampung darah dari tubuh, sedangkan serambi kiri akan menampung darah dari alat
pernapasan.
Bilik jantung hanya berjumlah satu, berfungsi untuk menampung darah dari serambi
kanan yang kaya akan karbon dioksida dan dari serambi kiri yang kaya akan oksigen. Oleh
karena itu pada bilik terjadi percampuran antara dua jenis darah yang berbeda kandungan
gasnya.
Pembuluh darah nadi dan pembuluh darah balik tidak berhubungan langsung tetapi
melalui celah-celah, sehingga peredaran darahnya disebut peredaran darah terbuka.
C. Sistem Peredaran pada Annelida
Contoh hewan yang termasuk filum
Annelida adalah caing tanah. Cacing tanah
merupakan hewan yang sudah mempunyai
sistem peredaran untuk mengangkut darah.
Darah berwarna merah karena sudah
mengandung hemoglobin untuk mengikat
oksigen.
Darah belum mengandung sel-sel
darah, sehingga hemoglobin larut dalam cairan
darah. Darah beredar ke seluruh tubuh melalui
pembuluh darah sehingga peredaran darahnya disebut peredaran darah tertutup.
Pada dasarnya, sistem peredaran pada Annelida terdiri atas 2 batang pembuluh darah
yang masing-masing memanjang di daerah punggung dan di daerah perut. Darah yang mengalir
dalam pembuluh darah punggung menuju ke arah depan (mulut) sedangkan darah yang mengalir
dalam pembuluh darah perut mengalir ke arah belakang (anus).
Dari pembuluh darah perut, darah mengalir ke bagian-bagian tubuh termasu dinding usus
dan kulit melalui percabangan yang makin lama makin halus. Selanjutnya, dari bagian-bagian
tubuh tersebut darah mengalir kembali melalui pembuluh darah yang meunju ke pembuluh darah
punggung.
D. Sistem Peredaran pada Arthropoda
1) Sistem Peredaran pada Belalang
Belalang memiliki sistem peredaran yang kurang sempurna. Sistem peredarannya
masih peredaran terbuka. Pembuluh darah satu-satunya hanyalah sebatang pembuluh
darah yang memanjang di daerah punggung, bahkan itupun sering disebut sebagai
jantung. Pada daerah ujung abdomen
terdapat beberapa lubang yang disebut
ostium. Ostium dilengkapi dengan katup
untuk mengatur masuknya darah dalam
pembuluh darah tersebut.
Apabila jantung mengkerut,
maka darah dalam pembuluh darah di
dorong ke arah kepala dan keluar
melalui lubangnya. Sebaliknya apabila jantung mengendur kembali, maka darah dari
tubuh masuk melalui ostium.
Darah yang berada di luar jantung tidak berada dlama pembuluh darah, tetapi
berada bebas di dalam celah-celah jaringan sehingga alat-alat dalam tubuh terendam
dalam cairan tubuh.
Darah belalang tidak mengangkut oksigen, hal ini karena peredaran darahnya
terbuka sehingga alirannya lambat dan kurang efisien. Kondisi seperti ini tidak bisa
mengimbangi kebutuhan oksigen yang tinggi yang diperlukan oleh serangga. Serangga
membutuhkan oksigen yang tinggi karena gerakannya yang sangat aktif.
Untuk mendapatkan oksigen, maka serangga mempunyai sistem pernapasan
dengan trakea yang bercabang-cabang ke dalam tubunya. Dengan demikian, meskipun
aliran darahnya darahnya lambat namun kebutuhan oksigen untuk pembakaran dan
respirasi sel cukup mudah diperoleh serangga melalui sistem trakea.
2) Sistem Peredaran pada Udang Lobster
Udang lobster memiliki
jantung sesungguhnya dan
pembuluh - pembuluh darah
sebagai komponen sistem
transportasi. Peredaran
darahnya termasuk sistem
peredaran terbuka.
Pembuluh darah nadi yang mengangkut darah dari jantung setelah bercabang-
cabang halus tidak berhubungan langsung dengan pembuluh darah balik. Darah masuk
ke dalam celah-celah yang bertindak sebagai sinus. Dari sinus, darah mengalir bebas
menuju 20 pasang insang untuk mengambil oksigen. Darah mengalir dari insang melalui
beberapa saluran untuk masuk ke dalam celah di sekeliling jantung.

http://de-fa irest.blogspot.com/2014/03/sistem-peredaran-darah-pada-hewan.html