Anda di halaman 1dari 4

Golongan II B

SENG, KADMIUM, RAKSA, DAN UNUNBIUM


Unsur golongan II B dapat disebut golongan Zinc atau golongan 12. Golongan ini terdiri dari seng /Zink
(Zn), cadmium(Cd), Raksa (Hg), dan Ununbium (Uub).logam-logam dengan ini dan logam-logam
golongan II(Alkali Tanah) mempunyai konfigurasi elektronik terluar yang sama, yaitu electron valensi
ns2. Unsur tersebut mempunyai 2 elektron s terlur dengan sub kulit d terisi penuh . perbedaan antara
kedua golo gan ini adalah bahwa untuk periode yang sama, logam-logam golongan 12 mengandug
electron penuh d
10
, tetapi golongan alkali tanah sama sekali tidak mengandung electron d
0
. oleh
karena itu, dalam beberapa hal logam-logam golongan H alkali tanah, dan dengan demikian sering
dipertimbangkan sebagai gologan unsur-unsur utama atau representative. Konsis dengan pandangan ini
adalah bahwa hampir semua senyawanya tidak berwarna (atau putih). Zink dan cadmium sangat mirip
sifat kimianya, dan mempunyai tigat oksidasi +2 dalam semua senyawa sederhananya. Raksa
mempunyai tingkat oksidasi +1 dan +2.
Sifat umum senyawa golongan II B
Kelompok logam ini sekilas sering tampak seperti dalam kelompok logam-logam transisi aka tetapi
kenyataannya sifat fisik logam-logam ini menunjukan perbedaaan yang mencolok dengan logam transisi.
Sebagai contoh titik leleh zink dan cadmium masing-masing adalah 419 C dan 321 C, jauuh lebih rendah
dari pada titik leleh logam-logam transisi yang mendekati 1000 C .raksa pada temperature kamar berupa
cairan, dan ini dapat dijelaskan secara memuaskan dengan efek electron relativistic, yaitu bahwa
kontraksi /penyusutan orbit-orbital mengakibatkan unsur-unsur berprilaku lebih mirip cairan mulia
(oble liquid) kemiripan logam-logam golongan ini dengan logam-logam transisi hanyalah terletak pada
pembentukan senyawa-senyawa kompleknya, khususnya dengan ligan ammonia .ion sianida dan ion
halide. Zink, cadmium, dan raksa cenderung membentusenyawa kovalen dari pada ionik. Lebih umumya
adalah jari-jari electron dari atas ke bawah semakin besar, sebab sejumlah kulit electron semakin
banyak. Energy ionisasi dari atas kebawah semakin kecil, sebab jari-jari atom semakin besar, sehingga
daya tarik antara inti dengan electron terluar semakin lemah. Titik leleh dan titik didih dari atas ke
bawah semakin kecil, sebab energy kohesi (energy tarik-menarik atom satu dengan lainnya ) semakin
kecil, hingga diperlukan suhu rendah untuk memutuskan ikatan antar atom.
Tabel 1.1 karakteristik sifat umum senyawa golonga II B
karakteristik 30 Zn 48 Cd 80 Hg 112 Uub
Konfigurasi
elektron
[18 Ar] 3d
10
4s
2
[36 Kr]4d
10
5s
2
[54Xe]4f
14
5d
10
6s
2
[86Rn]7s
2
5f
14
6d
10

Densitas/g cm-1 7,14 8,65 13,55 Belum diketahui
Titik didih/C 907 765 357 Belum diketahui
Titik leleh/C 419,5 320,8 -38,9 Belum diketahui
Struktur Kristal heksagonal Heksagonal Rhombohedral Belum diketahui
jari-jari atom 1,25 1,41 1,44 Belum diketahui

jari-jari ionic M
2+
0,74 0,95 0,102 Belum diketahui

energi ionisasi/ kJ
mol-1
906,1 876,5 1007 Belum diketahui

elektronegativitas 1,6 1,7 1,9 Belum diketahui


a.Seng
Seng dengan nama lain dari bahasa Belanda adalah Zink.berabad-abad sebelum seng dikenal
sebagai unsur tersendiri yang unik , bijih seng telah digunakan dalam pembuatan kuningan .campuran
logam yang mengandung 87 % seng telah ditemukan direruntuhan daerah Transylvania purba. Kuningan
yang merupakan campuran aloi tembaga dan seng, telah lama digunakan paling tidak sejak abad ke-13
di india, manakala logam ini masih belum dikenal oleh bangsa Eropa sampai dengan akhir abad ke -
16.Para alkimiawan membakar seng untuk menghasilkan apa yang mereka sebut sebagai salju putih
kimiawan jerman Andreas Sigismund Marggraf umumya dianggap sebagai penemu logam seng murni
pada tahun 1746.karya Luigi Galvani dan Alessandro Volta berhasil menyingkap sifat-sifat elektrokimia
seng pada tahun 1800.pelapisan seng pada baja untuk mecegah perkaratan merupakan aplikasi utama
seng .aplikas-aplikasi lainnya meliputi peggunaanya pada baterai dan aloi.

B.Reaksi
Reaksi dengan udara
Seng terkorosi pada udara yang lembab. Logam seng dibakar untuk membentuk seng (II)
oksida yang berwarna putih dan apabila dipanaskan lagi, maka warna akan berubah menjadi
kuning.
2Zn(s) + O2(g) 2ZnO(s)
Reaksi dengan halogen
Seng bereaksi dengan bromine dan iodine untuk membentuk seng (II) dihalida.
Zn(s) + Br2(g) ZnBr2(s)
Zn(s) + I2(g) ZnI2(s)
Reaksi dengan asam
Seng larut perlahan dalam asam sulfat encer untuk membentuk gas hidrogen.
Zn(s) + H2SO4(aq) Zn2+(aq) +SO42- (aq) + H2(g)
Reaksi seng dengan asam pengoksidasi seperti asam nitrit dan HNO3 sangat kompleks dan
bergantung pada kondisi yang tepat.

Reaksi dengan basa
Seng larut dalam larutan alkali seperti potassium hidroksida dan KOH untuk membentuk
zinkat.
Zn(s) +KOH(aq) Zn (OH)2(aq) +K
+
(g)
C. Persenyawaan
Zink klorida (ZnCl2)
Senyawa ini bersifat molekuler, bukan ionik karena memiliki titik leleh nisbi rendah dan mudah
menyublim.Senyawa ini dapat diperoleh sebagai dihidrat ZnCl2.2H2O, dan sebagai batangan-batangan
zink klorida anhidrat.
Zink oksida (ZnO)
Bersifat amfoterik dan membentuk zinkat dengan basa. Zink oksida dibuat melalui oksida zink
panas di udara.
Zinkat
Adalah garam yang terbentuk oleh larutan zink atau oksida dalam alkali. Rumusnya sering ditulis
ZnO22- walaupun dalam larutan berair ion yang mungkin adalah ion kompleks dengan ion Zn2-
terkoordinasi dengan ion OH-. Ion ZnO22- dapat berada sebagai lelehan natrium zinkat, tetapi
kebanyakan zinkat padat adalah campuran dari berbagai oksida.
Zink blende
Struktur krital dengan atom zink yang dikelilingi oleh empat atom sulfur pada sudut-sudut
tetrahedron, setiap sulfur dikelilingi oleh empat atom zink. Kristal ini tergolong sistem kubus.
Zink sulfat
Bentuk umumnya adalah ZnSO4.7H2O Senyawa ini kehilangan air diatas 30C menghasilkan
heksahidrat dan molekul air selanjutnya dilepaskan diatas 100C menghasilkan monohidrat. Garam
anhidrat terbentuk pada 450C dan ini mengurai diatas 500C.
Zink sulfide (ZnS)
ZnS sebuah bubuk kuningan yang larut
Menyublim pada 1180 C.
Zink hidroksida Zn(OH)2
Zn hidroksi bersifat amfoter dan dapat membentuk kompleks amina bila direaksikan dengan ammonia
kuat berlebih.