Anda di halaman 1dari 9

LaporanPraktikum Kimia Organik

Percobaan 4
Putu Eka Satya Yudha
11213011
Kromatografi Kolom dan Kromatografi Lapis Tipis:
Isolasi Kurkumin dari Kunyit (Curcuma longa L) dan Pemisahan Zat Pewarna
Makanan
NamaAsistenPraktikum:
Mayfin Eimeren Limiarni (10412001)
Asih Suryati (11212030)





Laboratorium Kimia OrganikFakultasMatematikadanIlmuPengetahuabAlam
InstitutTeknologi Bandung
JalanGanesa no. 10
Bandung
2014
Percobaan 4 Kromatografi Kolom dan Kromatografi Lapis Tipis:
Isolasi Kurkumin dari Kunyit (Curcuma longa L) dan Pemisahan Pewarna
Makanan
1. Tujuan
1. Menentukan nilai Rf dari hasil isolasi dari kunyit dan zat pewarna makanan.
2. Menentukan komponen senyawa dan urutan kepolaran senyawa dari isolat kunyit
dari hasil KLT Preparatif.
3. Menentukan kepolaran komponen zat penyusun pewarna makanan.
2. TeoriDasar
Kromatografi merupakan suatu metode yang digunakan untuk memisahkan
senyawa organik dan anorganik sehingga senyawa tersebut mudah dipelajari dan
dianalisis. Metode kromatografi adalah cara pemisahan dua atau lebih senyawa atau
ion berdasarkan pada pebedaan migrasi dan distribusi senyawa atau ion-ion tersebut
dalam dua fasa berbeda. Fasa ini bisa berwujud padat-cair, cair-cair, gas-cair.zat
terlarut yang memiliki afinitas yang lebih besar pada fasa gerak akan bertahan lebih
lama di fasa gerak sedangkan yang memiliki afinitas kecil terhadap fasa gerak akan
bertahan lebih lama pada fasa diam. Fasa adalah fasa yang tidak bergerak, sedangkan
fasa gerak adalah fasa yang bergerak melalui fasa diam dan membawa komponen-
komponen yang akan dipisahkan. Keakuratan pemisahan berdasarkan beberapa
faktor, yaitu pemilihan adsorben sebagai fasa diam,kepolaran pelarut sebagai fasa
gerak, ukuran kolom, dan laju elusi.
3. Data Pengamatan
3.1 Isolasi Kurkumin
Massa kunyit = 20 g
Massa ekstrak kurkumin = 0.75 g
Data percobaan kromatografi lapis tipis preparatif
Sampel Warna Jarak noda (cm) Jarak eluen (cm)
Kurkumin Kuning 12 13.5
Demetoksi
Kurkumin
Jingga 11.2 13.5
Bisdemetoksi
Kurkumin
Merah tua 5.8 13.5

3.2 Pemisahan Zat Pewarna Makanan
Sebelum pemisahan dengan kromatografi kolom
Sampel Warna Jarak noda (cm) Jarak eluen (cm)
Pewarna Ungu Merah 1.1 3.45
Biru 1.2 3.45
Pewarna coklat
Kuning 0.8 3.5
Merah 1.15 3.5
Biru 1.3 3.5
Biru muda 1.45 3.5
Merah muda 1.4 3.5
Sesudah pemisahan dengan kromatografi kolom
Sampel Warna Jarak noda (cm) Jarak eluen (cm)
Pewarna Ungu Merah 1.2 3.5
Biru 1.4 3.5
Pewarna coklat Biru 1.55 3.45
Orange 1.3 3.45


4. Pengolahan Data
1. Isolasi kurkumin




Dengan menggunakan persamaan diatas, didapat bahwa nilai R
f
dari
bisdemetoksi kurkumin adalah 0.8889, R
f
demetoksi kurkumin adalah 0.82963,
dan R
f
dari kurkumin adalah 0.42963.
No. Sampel Warna Rf Polaritas
1 kurkumin kuning 0.8888889
2 Demetoksi kurkumin jingga 0.8296296
3 Bisdemetoksi kurkumin
merah
tua
0.4296296


Hasil paparan dibawah sinar UV 254 nm Hasil paparan dibawah sinar UV 366 nm

2. Pemisahan zat pewarna makanan
a. Sebelum dipisahkan dengan kromatografi kolom
(1) Warna ungu







(2) Warna coklat




Tabel warna ungu
No. Warna Rf
kepolaran
1 Merah 0.3188

2 Biru 0.3478


Tabel warna coklat
No Warna jarak noda eluen Rf Polaritas
1
biru
muda
1.45 3.5 0.414286
2 biru 1.3 3.5 0.371429
3 orange 1.15 3.5 0.328571
4 pink 1.4 3.5 0.314286
5 kuning 0.8 3.5 0.228571

b. Sesudah pemisahan dengan kromatografi kolom
1) Warna ungu




2) Warna coklat




Tabel warna ungu
No. Warna Rf Polaritas
1 Merah 0.34286
2 Biru 0.4

Tabel warna coklat
No. Warna Rf Polaritas
1 Biru 0.4492754
2 Orange 0.374811

5. Pembahasan
1. Kromatografi Kolom dan Kromatografi Lapis Tipis
Kromatografi merupakan teknik pemisahan yang digunakan untuk memisahkan
senyawa organik ataupun non-organik sehingga senyawa tersebut dapat dipelajari dan
dianalisis. Prinsip kerja dari kromatografi adalah melakukan pemisahan dua atau
lebih ion berdasarkan pada perbedaan migrasi dan distribusi senyawa atau ion-ion
tersebutdidalam dua fasa yang berbeda. Zat terlarut yang yang memiliki afinitas lebih
tinggi pada fasa gerak akan bertahan lebih lama pada fasa gerak, sedangkan yang
memiliki afinitas lebih rendah pada fasa gerak akan bertahan lebih lama pada fasa
diam. Dengan demikian, senyawa senyawa akan dapat dipisahkan komponen-
komponennya akibat dari perbedaan migrasi di fasa gerak dan fasa diam. Fasa diam
adalah fasa yang tidak mengalami pergerakan, sedangkan fasa gerak merupakan fasa
yang bergerak melalui fasa diam dan membawa komponen-komponen senyawa yang
akan dipisahkan. Dalam posisi yang berbeda-beda, senyawa-senyawa yang berbeda
akan tertahan dan teradsorbsi oleh fasa diam, dan kemudian satu per satu senyawa ini
akan terbawa kembali oleh fasa gerak yang melaluinya
Dalam percobaan ini, kami menggunakan cara kromatografi kolom dan
kromatografi lapis tipis. Kromatografi kolom merupakan suatu metode pemisahan
dengan menggunakan suatu tabung yang berfungsi sebagai kolom tempat pemisahan
senyawa. Pada kromatografi kolom, fasa diam yang digunakan adalah silika gel dan
fasa geraknya adalah NaCl 1%, etanol-air (1:4), dan aqua dm. diperlukan pelarut yang
berbeda karena jika menggunakan NaCl 1% pada proses tersebut dan warna yang
telah terpisah tidak mau menetes, maka dapat menggunakan etanol-air yang bersifat
lebih polar. Begitu juga setelah menggunakan etanol-air dan masih belum menetes
semua warnanya, maka gunakan pelarut yang lebih polar lagi yaitu aqua dm karena
semakin lama keluarnya zat warna, maka sifatnya semakin polar.. Kromatografi
kolom dapat diaplikasikan untuk mengecek kandungan pigmen likopen dari tomat
yang berfungsi sebagai antioksidan. Sedangkan kromatografi lapis tipis merupaka
metode pemisahan dengan menggunakan plat kaca, plastik, atau aluminium. Pada
KLT, yang menjadi fasa diamnya adalah silika gel dan fasa geraknya adalah
butanol:etanol:ammonia 2% (3:1:2) Kromatografi lapis tipis dapat digunakan untuk
mengecek residu dari pestisida.

2. Isolasi Kurkumin
Pada percobaan ini sebelum dilakukan isolasi terlebih dahulu dilakukan proses
preparasi sampel. Kunyit yang digunakan berbentuk serbuk halus, agar
mempermudah pemisahan kurkumin dari kunyit dan hasil yang akan diperoleh lebih
maksimal. Kurkumin diekstraksi dengan cara refluks. Proses refluks dilakukan
dengan menggunakan diklorometan yang bersifat nonpolar, hal ini karena kurkumin
bersifat nonpolar. Setelah itu, campuran disaring dengan menggunakan saringan
vakum agar semua larutannya (filtratnya) bisa diperoleh. Setelah itu, dilakukan
distilasi pada larutan kuning tersebut agar larutan kuning tersebut menjadi lebih
pekat dengan cara menguapkan pelarutnya. Setelah itu, didapat residu berwarna
kuning kemerahan yang mengandung kurkumin, demetoksi kurkumin, dan
bisdemetoksi kurkumin. Lalu, residu tersebut dicampurkan dengan n-heksana karena
n-heksana bersifat non-polar. Setelah itu, dilakukan pemisaha antara senyawa
kurkumin, demetoksi kurkumin, dan bisdemetoksi kurkumin dengan cara
Kromatografi Lapis Tipis Preparatif (KLT Preparatif). Tujuan dilakukannya
pemisahan dengan cara KLT preparatif adalah agar senyawa yang telah terpisah dapat
diperoleh kembali dengan cara dikeruk dan dilakukan distilasi. Jika kita
melakukannya dengan metode KLT biasa, maka senyawa kurkumin yang terpisah
tidak dapat diambil karena jumlahnya yang sedikit. Setelah melakukan pemisahan
dengan KLT preparatif, maka didapat pada bagian bawah yaitu senyawa bisdemetoksi
kurkumin yang bersifat paling polar diantara ketiga senyawa yang ada pada campuran
tersebut karena memiliki nilai R
f
0.42963 yang tengah adalah demetoksi kurkumin
yang bersifat lebih polar karena memiliki nilai R
f
0.82963, dan yang atas adalah
kurkumin yang bersifat lebih tidak polar 0.8889.
3. Pengujian dibawah sinar UV dengan panjang gelombang 254 nm dan 366 nm.
Pada saat noda dari KLT preparatif diletakkan dibawah sinar UV dengan
panjang gelombang 254 nm, maka lempeng akan berfluorensi dan sampel akan
berwarna gelap karena adanya interaksi oleh UV dengan indikator fluoresensi yang
ada pada lempeng yang terjadi karena elektron yang tereksitasi dari tingkat dasar ke
tingkat yang lebih tinggi dan kembali ke keadaan semula sambil melepaskan energi.
Sedangkan pada pemancaran sinar UV dengan panjang gelombang 366 nm, sampel
akan berfluorensi dan berwarna kuning gelap karena adanya daya interaksi sinar UV
dengan gugus kromofor yang terikat pada auksokrom yang ada pada noda tersebut.
4. Pada pemisahan zat pewarna makanan berwarna coklat, warna kuning tidak muncul
pada saat pemisahan dengan kromatografi kolom karena warna kuning keluar
bersamaan dengan warna merah sehingga merah yang didapat bercapur dengan warna
kuning karena tingkat kepolaran zat warna merah mirip dengan warna kuning jadi,
warna merah dan kuning keluar secara bersamaan.
6. Kesimpulan
Jadi, pada plat sampel terdiri dari bisdemetoksi kurkumin yang bersifat paling
polar dengan nilai R
f
0.42963, demetoksi kurkumin yang bersifat kurang polar
dibandingkan dengan kurkumin dengan R
f
0.82963, dan kurkumin yang lebih tidak
polar dengan R
f
0.88889. Kemudian pada pemisahan zat pewarna makanan, untuk
warna ungu didapat warna biru dan merah yang menjadi komponen penyusunnya
dengan Rf warna biru adalah 0.4 dan Rf warna merah adalah 0.34386 yang berarti
bahwa warna merah bersifat lebih polar diandingkan dengan warna biru. Untuk
pewarna coklat, warna komponen yang muncul adalah biru dan merah. Warna kuning
tidak muncul karena terdapat kemiripan kepolaran dengan warna merah sehingga
warna merah yang keluar merupakan pencampuran dari warna merah dan kuning. Rf
dari warna merah tersebut adalah 0.4201899 dan Rf warna biru 0.4492754.



7. DaftarPustaka
Mayo, D.W., Pike, R.M., Forbes, D.C. 2011. Microscale Organic Laboratory: with
Multistep and Multiscale Synthesis, 5
th
ed. John Wiley & Sons. New York.
Halaman: 92-101
Williamson.1999. Macroscale and Microscale Organic Experiments, 3
rd
ed. Boston.
Halaman: 164-194