Anda di halaman 1dari 15

TEORI KOMUNIKASI MASSA

1. Hypodermie Needle Theory


Teori ini berkembang di sekitar tahun 1930 hingga 1940an. Dan ini merupakan
teori media massa pertama yang ada. Teori ini mengasumsikan bahwa komunikator
yakni media massa digambarkan lebih pintar dan juga lebih segalanya dari
audience.
Teori ini memiliki banyak istilah lain. Biasa kita sebut Hypodermic needle
( teori jarum suntik ), Bullet Theory ( teori peluru ) transmition belt theory
( teori sabuk transmisi ). Dari beberapa istilah lain dari teori ini dapat
kita tarik satu makna , yakni penyampaian pesannya hanya satu arah dan juga
mempunyai efek yang sangat kuat terhadap komunikan.
Dari beberapa sumber teori ini bermakna :
Memprediksikan dampak pesan pesan komunikasi massa yang kuat dan kurang
lebih universal pada semua audience ( Severin, Werner J.2005: 314
Disini dapat dimaknai bahwa peran media massa di waktunya ( sekitar tahun
1930an ) sangat kuat sehingga audience benar mengikuti apa yang ada dalam
media massa.
Selain itu teori ini juga di maknai dalam teori peluru karena apa yang di
sampaikan oleh media langsung sampai terhadap audience. ( Nurudin . 2007 :
165 )
Kekuatan media yang begitu dahsyat hingga bisa memegang kendali pikiran
khalayak yang pasif dan tak berdaya. ( http//jurnalkomunikasi.com ).
Dari sini kita ketahui bahwa teori peluru adalah :
Sebuah teori media yang memiliki dampak yang kuat terhadap audiencenya
sehingga tak jarang menimbulkan sebuah budaya baru dan penyaampaiannya
secara langsung dari komunikator yakni media kepada komunikan ( audience ).

beberapa hal yang juga ada dan menjadi bagian yang sangat penting ada dalam
teori ini antara lain :
Media : dalam hal ini berperan sebagai komunikator, dan komunikator di
sini sifatnya adalah melembaga dan bukan perorangan.
Pesan : disni pesan adalah isi atau hal yang disampakan oleh media tersebut
Audience : audience berfungsi sebagai komunikan yang menerima pesan dari
komunikator.

Komunikator yakni media juga memiliki kriteria yang ada :
kredibilitas media tersebut
daya tarik dari media tersebut
kekuasaan media

Pesan yang di sampaikaan juga memiliki beberapa unsur :
struktur pesan tersebut
gaya dari pesan tersebut
appeals dari pesan tersebut.

Dan selain itu sebagai komunikan, ada beberapa perubahan atau efek yang di
harapkan diantaranya :
perusebahan afeksi dari komunikan
perubahan behaviour dan
perubahan kognisi

Jadi disini media benar mempunyai kekuatan yang sangat kuat untuk
mempengaruhi audience.

Dari uraian tersebut diatas, dapat diambil contoh pada iklan air mineral yang
bermerek Aqua. Dimana pada saat produk air mineral ini dipublikasikan, secara
langsung bisa mempengaruhi asumsi khalayak bahwasanya air mineral itu adalah
aqua. Sehingga sampai saat ini aqua sudah terdoktrin di ingatan khalayak.
Walaupun sudah banyak merek-merek air mineral yang bermunculan.

2. Agenda Settingn Theory
Teori Penentuan Agenda (bahasa Inggris: Agenda Setting Theory) adalah teori
yang menyatakan bahwa media massa berlaku merupakan pusat penentuan
kebenaran dengan kemampuan media massa untuk mentransfer dua elemen yaitu
kesadaran dan informasi ke dalam agenda publik dengan mengarahkan kesadaran
publik serta perhatiannya kepada isu-isu yang dianggap penting oleh media
massa. Dua asumsi dasar yang paling mendasari penelitian tentang penentuan
agenda adalah:

(1) masyarakat pers dan mass media tidak mencerminkan kenyataan; mereka
menyaring dan membentuk isu;
(2) konsentrasi media massa hanya pada beberapa masalah masyarakat untuk
ditayangkan sebagai isu-isu yang lebih penting daripada isu-isu lain; Salah
satu aspek yang paling penting dalam konsep penentuan agenda adalah peran
fenomena komunikasi massa, berbagai media massa memiliki penentuan agenda
yang potensial berbeda termasuk intervensi dari pemodal.
Contoh : McCombs dan Shaw terfokus pada dua elemen: kesadaran dan informasi.
Investigasi Penentuan Agenda melihat fungsi media massa dalam berkampanye,
mereka berusaha untuk menilai apa hubungan antara masyarakat pemilih dalam
satu kata yang penting dan isi pesan sebenarnya media massa yang digunakan
selama kampanye. McCombs Shaw dan menyimpulkan bahwa media massa secara
signifikan memengaruhi pada para pemilih yang dianggap sebagai masalah utama
dari kampanye
.
3. Cultivation Theory
Epistimologis dari cultivation adalah penanaman. Cultivation Theory- Teori
Kultivasi-, adalah sebuah teori dalam konteks keterkaitan media massa dengan
penanaman terhadap suatu nilai yang akan berpengaruh pada sikap dan perilaku
khalayak. Teori ini, digagas oleh seorang Pakar komunikasi dari Annenberg
School of Communication, Profesor George Gerbner. Pada 1960, Profesor
Gerbner melakukan penelitian tentang indikator budaya untuk mempelajari
pengaruh televisi. Profesor Gerbner ingin mengetahui pengaruh-pengaruh
televisi terhadap tingkah laku, sikap, dan nilai khalayak. Dalam bahasa lain,
Profesor Gerbner memberikan penegasan dalam penelitiannya berupa dampak yang
di timbulkan televisi kepada khalayak.
Teori Kultivasi berpandangan bahwa media massa, yang dalam konteks teori ini
adalah televisi, memiliki andil besar dalam penanaman dan pembentukan
nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Menurut teori ini, televisi menjadi
alat utama dimana para penonton televisi itu belajar tentang masyarakat dan
kultur di lingkungannya(Nurudin, 2004). Persepsi dan cara pandang yang ada
dalam masyarakat, sangat besar dipengaruhi oleh televisi. Atau dalam kalimat
lain, apa yang kita pikirkan adalah apa yang dipikirkan media massa.


4. Uses And Gratification Theory
Uses and Gratification Theory adalah salah satu teori komunikasi dimana
titik-berat penelitian dilakukan pada pemirsa sebagai penentu pemilihan
pesan dan media.
Pemirsa dilihat sebagai individu aktif dan memiliki tujuan, mereka
bertanggung jawab dalam pemilihan media yang akan mereka gunakan untuk
memenuhi kebutuhan mereka dan individu ini tahu kebutuhan mereka dan
bagaimana memenuhinya. Media dianggap hanya menjadi salah satu cara
pemenuhan kebutuhan dan individu bisa jadi menggunakan media untuk memenuhi
kebutuhan mereka, atau tidak menggunakan media dan memilih cara lain.
Teori Penggunaan dan Pemenuhan Kebutuhan menggunakan pendekatan ini berfokus
terhadap audiens member. Dimana Teori ini mencoba menjelaskan tentang
bagaimana audiens memilih media yang mereka inginkan. Dimana mereka
merupakan audiens / khalayak yang secara aktif memilih dan memiliki kebutuhan
dan keinginan yang berbeda beda di dalam mengkonsumsi media.
Menurut para pendirinya, Elihu Katz, Jay G. Blumlerm dan Michael Gurevitch
uses and gratifications meneliti asal mula kebutuhan secara psikologis dan
sosial, yang menimbulkan harapan tertentu dari media massa atau
sumber-sumber lain , yang membawa pada pola terpaan media yang berlainan,
dan menimbulkan pemenuhan kebutuhan dan akibat-akibat lain.
Pendekatan ini secara kontras membandingkan efek dari media dan bukan apa
yang media lakukan pada pemirsanya (kritik akan teori jarum hipodermik,
dimana pemirsa merupakan obejk pasif yang hanya menerima apa yang diberi
media).
Sebagaimana yang diketahui, bahwa kebutuhan manusia yang memiliki motif yang
berbeda-beda. Dengan kata lain, setiap orang memiliki latar belakang,
pengalaman dan lingkungan yang berbeda. Perbedaan ini, tentunya berpengaruh
pula kepada pemilihan konsumsi akan sebuah media. Katz, Blumler, Gurevitch
mencoba merumuskan asumsi dasar dari teori ini , yaitu : Khalayak dianggap
aktif, dimana penggunaan media massa diasumsikan memiliki tujuan. Point
kedua ialah, dalam proses komunikasi massa banyak inisiatif yang mengaitkan
pemuasan kebutuhan dengan pemilihan media terletak pada anggota khalayak.
Point ketiga, media massa harus bersaing dengan sumber sumber lain untuk
memuaskan kebutuhannya. Dimana kebutuhannya ialah untuk memuaskan kebutuhan
manusia, hal ini bergantung kepada khalayak yang bersangkutan. Point keempat,
banyak tujuan pemilih media massa disimpulkan dari data yang diberikan
anggota khalayak. Point kelima adalah Nilai pertimbangan seputar keperluan
audiens tentang media secara spesifik.
Teori Penggunaan dan Pemenuhan Kepuasan dapat dilihat sebagai kecenderungan
yang lebih luas oleh peneliti media yang membuka ruang untuk umpan balik dan
penerjemahan prilaku yang lebih beragam. Namun beberapa komentar
berargumentasi bahwa pemenuhan kepuasan seharusnya dapat dilihat sebagai
efek, contohnya film horror secara umum menghasilkan respon yang sama pada
pemirsanya, lagipula banyak orang sebenarnya telah menghabiskan waktu di
depan TV lebih banyak daripada yang mereka rencanakan. Menonton TV sendiri
telah membentuk opini apa yang dibutuhkan pemirsa dan membentuk
harapan-harapan.
Teori Penggunaan dan Pemenuhan Kepuasan pada awalnya muncul ditahun 1940 dan
mengalami kemunculan kembali dan penguatan di tahun 1970an dan 1980an. Para
teoritis pendukung Teori Penggunaan dan Pemenuhan Kepuasan berargumentasi
bahwa kebutuhan manusialah yang memengaruhi bagaimana mereka menggunakan dan
merespon saluran media. Zillman sebagaimana dikutip McQuail telah
menunjukkan pengaruh mood seseorang saat memilih media yang akan ia gunakan,
pada saat seseorang merasa bosan maka ia akan memilih isi yang lebih menarik
dan menegangkan dan pada saat seseorang merasa tertekan ia akan memilih isi
yang lebih menenangkan dan ringan. Program TV yang sama bisa jadi berbeda
saat harus kepuasan pada kebutuhan yang berbeda untuk individu yang berbeda.
Kebutuhan yang berbeda diasosiasikan dengan kepribadian seseorang,
tahap-tahap kedewasaannya, latar belakang, dan peranan sosialnya. Sebagai
contoh menurut Judith van Evra anak-anak secara khusu lebih menyukai untuk
menonton TV untuk mencari informasi dan disaat yang sama lebih mudah
dipengaruhi
Kritik akan teori ini
Pada derajat tertentu laporan penggunaan media oleh para pemirsanya memiliki
keterbatasan-keterbatasan. Banyak orang tidak benar-benar tahu alasan
mengapa mereka memilih media atau saluran tertentu, contohnya anak-anak
hanya tahu bahwa mereka menghindari menonton saluran yang menayangkan
bincang-bincang orang dewasa, atau film berbahasa asing karena mereka tidak
mengerti, tetapi anak-anak tersebut tidak benar-benar sadar mereka berakhir
di saluran mana.
Walaupun teori ini menekankan pemilihan media oleh para pemirsanya, namun
ada penelitian-penelitian lain yang mengungkapkan bahwa penggunaan media
sebenarnya terkait dengan kebiasaan, ritual, dan tidak benar-benar diseleksi.
Teori ini mengesampingkan kemungkinan bahwa media bisa jadi memiliki
pengaruh yang tidak disadari pada kehidupan pemirsanya dan mendikte
bagaimana seharusnya dunia dilihat dari kacamata para perancang kandungan
isi dalam media.
Sebagai contoh saat anak-anak pulang sekolah, sudah menjadi kebiasaannya
untuk mengambil makan siang dan duduk dikursi sembari menyetel TV. Tidak ada
alasan yang benar-benar nyata mengapa ia menyetel TV dan bukannya membaca
majalah atau koran, hanya kebiasaan, atau justru sebaliknya, bagi orang
dewasa mungkin ia langsung membaca koran dan bukannya menyetel TV saat
meminum kopinya dipagi hari. Pada banyak hal kejadian ini merupakan kejadian
alamiah sehari-hari dan tidak dilakukan secara sadar. Walaupun begitu
menonton TV dapat juga menjadi pengalaman seni dan menggugah motivasi
seseorang untuk melakukan sesuatu.
Namun sebuah teori yang menyatakan bahwa pemirsa media sebenarnya hanya
menggunakan media untuk menyalurkan pemenuhan akan kepuasannya sejujurnya
tidak secara penuh dapat menilai kekuatan media dalam lingkup sosial di masa
kini. Teori Penggunaan dan Pemenuhan Kepuasan dapat dikatakan tidak sempurna
saat digunakan untuk menilai media yang telah digunakan secara ritual
(kebiasaan). Namun teori ini tetap tepat untuk digunakan untuk menilai
hal-hal spesifik tertentu yang menyangkut pemilihan pribadi saat menggunakan
media.
5. Media Equation Theory
Teori ini memprediksikan mengapa seseorang secara tidak sadar, merespon dan
berbicara dengan media layaknya seperti ketika berbicara dengan orang.
(Byron Reeves, Clifford Nass, 1996)
Teori ini melihat komunikasi interpersonal antara individu dan media. Kita
berbicara dengan komputer kita, dan kita menerapkan hubungan pribadi
layaknya komputer itu adalah seorang manusia. Kita secara tidak sadar
memperlakukan media tersebut layaknya seperti manusia. Ada keunikan
tersendiri dengan teori ini. Teori ini terbilang baru dan memberikan
pendekatan baru dalam bidang komunikasi interpersonal.
Teori ini termasuk teori empiris (positivis). Teori ini lulus dalam kriteria
teori empiris dari Chaffee & Bergers 1997 yang mengatakan bahwa:

1. Teori ini memprediksi bagaimana seseorang memperlakukan media
(berdasarkan teori interpersonal) layaknya media itu adalah manusia.
2. Teori ini menjelaskan bahwa pemirsa adalah aktif
3. Teori ini relatif mudah dimengerti
4. Teori ini termasuk aliran positivis (generalisasi, satu kebenaran,
perilaku bisa diprediksi, dan tidak melihat nilai-nilai yang dianut
seseorang).

Contoh kasus:
Ketika kamu melihat acara televisi dengan televisi yang kecil, kamu cenderung
akan melihat lebih dekat. Dan ketika televisinya besar, kamu duduk
menjauhinya. Coba saja minta tolong temanmu untuk memperhatikan tingkah
lakumu ketika sedang menonton acara yang menampilkan artis, program, atau
kejadian menarik. Sewaktu kecil dulu, aku cenderung mendekati televisi,
tersenyum sendiri, dan terkadang terkesima jika melihat artisyang aku suka
muncul didalam televisi. Sebaliknya jika ada artis yang tidak aku suka, aku
cenderung untuk tidak melihatnya dan menjauhi televisi.
6. Diffusion Of Innovasion Theory
Latar Belakang Teori
Munculnya Teori Difusi Inovasi dimulai pada awal abad ke-20, tepatnya tahun
1903, ketika seorang sosiolog Perancis, Gabriel Tarde, memperkenalkan Kurva
Difusi berbentuk S (S-shaped Diffusion Curve). Kurva ini pada dasarnya
menggambarkan bagaimana suatu inovasi diadopsi seseorang atau sekolompok
orang dilihat dari dimensi waktu. Pada kurva ini ada dua sumbu dimana sumbu
yang satu menggambarkan tingkat adopsi dan sumbu yang lainnya menggambarkan
dimensi waktu.
Pemikiran Tarde menjadi penting karena secara sederhana bisa menggambarkan
kecenderungan yang terkait dengan proses difusi inovasi. Rogers (1983)
mengatakan, Tardes S-shaped diffusion curve is of current importance
because most innovations have an S-shaped rate of adoption. Dan sejak
saat itu tingkat adopsi atau tingkat difusi menjadi fokus kajian penting
dalam penelitian-penelitian sosiologi.
Pada tahun 1940, dua orang sosiolog, Bryce Ryan dan Neal Gross,
mempublikasikan hasil penelitian difusi tentang jagung hibrida pada para
petani di Iowa, Amerika Serikat. Hasil penelitian ini memperbarui sekaligus
menegaskan tentang difusi inovasimodel kurva S. Salah satu kesimpulan
penelitian Ryan dan Gross menyatakan bahwa The rate of adoption of the
agricultural innovation followed an S-shaped normal curve when plotted on
a cumulative basis over time.
Perkembangan berikutnya dari teori Difusi Inovasi terjadi pada tahun 1960,
di mana studi atau penelitian difusi mulai dikaitkan dengan berbagai topik
yang lebih kontemporer, seperti dengan bidang pemasaran, budaya, dan
sebagainya. Di sinilah muncul tokoh-tokoh teori Difusi Inovasi seperti
Everett M. Rogers dengan karya besarnya Diffusion of Innovation (1961); F.
Floyd Shoemaker yang bersama Rogers menulis Communication of Innovation:
A Cross Cultural Approach (1971) sampai Lawrence A. Brown yang menulis
Innovation Diffusion: A New Perpective (1981).

Esensi Teori
Teori Difusi Inovasi pada dasarnya menjelaskan proses bagaimana suatu
inovasi disampaikan (dikomunikasikan) melalui saluran-saluran tertentu
sepanjang waktu kepada sekelompok anggota dari sistem sosial. Hal tersebut
sejalan dengan pengertian difusi dari Rogers (1961), yaitu as the process
by which an innovation is communicated through certain channels over time
among the members of a social system. Lebih jauh dijelaskan bahwa difusi
adalah suatu bentuk komunikasi yang bersifat khusus berkaitan dengan
penyebaranan pesan-pesan yang berupa gagasan baru, atau dalam istilah Rogers
(1961) difusi menyangkut which is the spread of a new idea from its source
of invention or creation to its ultimate users or adopters.
Sesuai dengan pemikiran Rogers, dalam proses difusi inovasi terdapat 4 (empat)
elemen pokok, yaitu:
(1) Inovasi; gagasan, tindakan, atau barang yang dianggap baru oleh
seseorang. Dalam hal ini, kebaruan inovasi diukur secara subjektif menurut
pandangan individu yang menerimanya. Jika suatu ide dianggap baru oleh
seseorang maka ia adalah inovasi untuk orang itu. Konsep baru dalam ide
yang inovatif tidak harus baru sama sekali.
(2) Saluran komunikasi; alat untuk menyampaikan pesan-pesan inovasi
dari sumber kepada penerima. Dalam memilih saluran komunikasi, sumber paling
tidakperlu memperhatikan (a) tujuan diadakannya komunikasi dan (b)
karakteristik penerima. Jika komunikasi dimaksudkan untuk memperkenalkan
suatu inovasi kepada khalayak yang banyak dan tersebar luas, maka saluran
komunikasi yang lebih tepat, cepat dan efisien, adalah media massa. Tetapi
jika komunikasi dimaksudkan untuk mengubah sikap atau perilaku penerima
secara personal, maka saluran komunikasi yang paling tepat adalah saluran
interpersonal.
(3) Jangka waktu; proses keputusan inovasi, dari mulai seseorang
mengetahui sampai memutuskan untuk menerima atau menolaknya, dan pengukuhan
terhadap keputusan itu sangat berkaitan dengan dimensi waktu. Paling tidak
dimensi waktu terlihat dalam (a) proses pengambilan keputusan inovasi, (b)
keinovatifan seseorang: relatif lebih awal atau lebih lambat dalammenerima
inovasi, dan (c) kecepatan pengadopsian inovasi dalam sistem sosial.
(4) Sistem sosial; kumpulan unit yang berbeda secara fungsional dan
terikat dalam kerjasama untuk memecahkan masalah dalam rangka mencapai
tujuan bersama
Lebih lanjut teori yang dikemukakan Rogers (1995) memiliki relevansi dan
argumen yang cukup signifikan dalam proses pengambilan keputusan inovasi.
Teori tersebut antara lain menggambarkan tentang variabel yang berpengaruh
terhadap tingkat adopsi suatu inovasi serta tahapan dari proses pengambilan
keputusan inovasi. Variabel yang berpengaruh terhadap tahapan difusi inovasi
tersebut mencakup (1) atribut inovasi (perceived atrribute of innovasion),
(2) jenis keputusan inovasi (type of innovation decisions), (3) saluran
komunikasi (communication channels), (4) kondisi sistem sosial (nature of
social system), dan (5) peran agen perubah (change agents).
Sementara itu tahapan dari proses pengambilan keputusan inovasi mencakup:
1. Tahap Munculnya Pengetahuan (Knowledge) ketika seorang individu
(atau unit pengambil keputusan lainnya) diarahkan untuk memahami eksistensi
dan keuntungan/manfaat dan bagaimana suatu inovasi berfungsi
2. Tahap Persuasi (Persuasion) ketika seorang individu (atau unit
pengambil keputusan lainnya) membentuk sikap baik atau tidak baik
3. Tahap Keputusan (Decisions) muncul ketika seorang individu atau unit
pengambil keputusan lainnya terlibat dalam aktivitas yang mengarah pada
pemilihan adopsi atau penolakan sebuah inovasi.
4. Tahapan Implementasi (Implementation), ketika sorang individu atau
unit pengambil keputusan lainnya menetapkan penggunaan suatu inovasi.
5. Tahapan Konfirmasi (Confirmation), ketika seorang individu atau
unit pengambil keputusan lainnya mencari penguatan terhadap keputusan
penerimaan atau penolakan inovasi yang sudah dibuat sebelumnya.

7. Spiral Of Silence Theory
Spiral of silence theory di kenal juga dengan teori spiral kesunyian, dan
sering juga disebut juga spiral kebisuan. Teori ini dikembangkan oleh
Elisabeth Noelle Neumann (1973,1980). Pada beberapa sumber Neumann di
sebutkan sebagai seorang sosiolog, peneliti politik, bahkan ada yang
menyebutkan bahwa Neumann adalah seorang jurnalis Nazi Jerman, dimana
tulisan-tulisannya mendukung rezim Hitler dan anti yahudi. Teori spiral
kesunyian dianggapnya sebagai buah karyan Neumann yang pemikirannya
dipengaruhi oleh lingkungan Nazi (Saverin & Tankard, 2001). Namun para
ilmuwan lain lebih memilih untuk memandang teori spiral kesunyian ini sebagai
sebuah teori yang hendaknya dipandang atau dinilai dengan prinsip-prinsip
ilmiah.
Teori ini mendasarkan asumsinya pada pernyataan bahwa pendapat pribadi
bergantung pada apa yang dipikirkan atau diharapkan orang lain, atau apa
yang orang rasakan atau anggap sebagai pendapat dari orang lain. Orang pada
umumnya berusaha untuk menghindari isolasi sosial, atau pengucilan atau
keterasingan dalam komunitasnya dalam kaitannya mempertahankan sikap atau
keyakinan tertentu. Dalam hal ini terdapat 2 premis yang mendasarinya;
pertama, bahwa orang tahu pendapat mana yang diterima dan pendapat mana yang
tidak diterima. Manusia dianggap memiliki indera semi statistik
(quasi-statistical sense) yang digunakan untuk menentukan opini dan cara
perilaku mana yang disetujui atau tidak disetujui oleh lingkungan mereka,
serta opini dan bentuk perilaku mana yang memperoleh atau kehilangan kekuatan
(Saverin & Tankard, 2001). Kedua, adalah bahwa orang akan menyesuaikan
pernyataan opini mereka dengan persepsi ini. Dalam kehidupan sehari-hari
kita mengekspresikan opini kita dengan berbagai cara, tak selalu harus
membicarakannya, kita mengenakan pin atau bros, atau menempel stiker di
belakang mobil kita. Kita berani melakukan itu karena kita yakin bahwa orang
lain pun dapat menerima pendapat kita (Littlejohn, 1996).
Dalam menghadapi sebuah isu yang dianggap kontroversial, orang akan
membentuk kesan tentang distribusi opini. Mereka mencoba menentukan apakah
sikapnya terhadap isu tersebut termasuk kedalam kelompok mayoritas atau
tidak, apakah opini publik sejalan dengan mereka atau tidak. Apabila menurut
mereka opini publik ternyata tidak sejalan dengan mereka, atau mereka masuk
kedalam kelompok (yang memiliki sikap) minoritas, maka mereka akan cenderung
diam dalam menghadapi isu tersebut. Semakin mereka diam, semakin sudut
pandang tertentu tidak terwakili, dan mereka semakin diam. Spiral kesunyian
timbul karena adanya ketakutan akan pengucilan atau keterasingan. Neumann
mengatakan mengikuti arus memang relatif menyenangkan, tapi itupun bila
mungkin, karena anda tidak bersedia menerima apa yang tampak sebagai pendapat
yang diterima umum, paling tidak anda dapat berdiam diri, supaya orang lain
dapat menerima anda (Littlejohn, 1996).
Dalam hal penentuan opini publik, media masa menjadi bagian yang penting dan
kuat walaupun para individu seringkali menyangkal hal ini. Tiga
karakteristik komunikasi masa, yaitu cumulation, ubiquity, dan consonance,
bergabung untuk menghasilkan dampak yang sangat kuat pada opini publik.
Cumulation mengacu pada pembesaran tema-tema atau pesan-pesan tertentu
secara perlahan-lahan dari waktu ke waktu. Ubiquity mengacu pada kehadiran
media masa yang tersebar luas. Consonance mengacu pada gambaran tunggal dari
sebuah kejadian atau isu yang dapat berkembang dan seringkali digunakan
bersama oleh surat kabar, majalah, televisi, dan media lain yang berbeda-beda.
Dampak harmoni adalah untuk mengatasi ekspos selektif, karena orang tidak
dapat memilih pesan lain, dan untuk menyajikan kesan bahwa sebagian besar
orang melihat isu dengan cara yang disajikan media.
Walaupun opini publik pada hakikatnya adalah pandangan serta pemahaman
pribadi terhadap sebuah isu, namun mereka tak dapat membedakan dan menyangkal
pengaruh media terhadap pandangan mereka terhadap isu tersebut. Setiap orang
atau individu biasanya tidak berdaya di hadapan media. Ada dua alasan
yang memprekuat ketidakberdayaan individu dihadapan media; pertama,
sulitnya mendapatkan publisitas bagi suatu maksud atau sudut pandang; kedua,
dikambinghitamkan oleh media, dalam hal ini Neumann menyebutnya pillory
function (fungsi pasungan) dari media. Media mempublikasikan opini mana yang
menonjol dan mana yang tidak. Pada akhirnya seseorang akan sulit membedakan
mana pemahaman yang diperoleh dari media atau berasal dari saluran-saluran
lainnya.
Dalam hal menentukan distribusi opini publik, menurut Neumann, media masa
memiliki 3 cara. Pertama, media masa membentuk kesan tentang opini yang
dominan. Kedua, media masa membentuk kesan tentang opini mana yang sedang
meningkat. Ketiga, media masa membentuk kesan tentang opini mana yang dapat
disampaikan di muka umum tanpa menjadi tersisih (Saverin & Tankard, 2001).
Dalam hal keberanian seseorang untuk menyatakan pendapat, tentunya ada
faktor-faktor lain yang membedakan. Seseorang yang umurnya lebih muda
cenderung lebih ekspresif dibandingkan seseorang yang lebih tua. Kaum pria
pada umumnya lebih bersedia untuk mengemukakan pendapatnya dibandingkan
wanita. Orang yang berpendidikan lebih tinggi, lebih banyak berbicara
dibandingkan yang berpendidikan rendah. Dalam Littlejohn (1995), terdapat
pula beberapa pengecualian dalam teori ini. Mereka adalah kelompok-kelompok
atau individu-individu yang tidak takut dikucilkan dan bersedia mengemukakan
opini mereka dengan tanpa memperdulikan apapun akibatnya, suatu
karakteristik dari para inovator, para pembuat perubahan, dan kaum
berfikiran maju.
Memang, teori lingkaran kesunyian menggambarkan fenomena yang melibatkan
baik saluran komunikasi antarpribadi maupun komunikasi masa. Media
mempublikasikan opini publik, kemudian memperjelas opini mana yang menonjol.
Selanjutnya, individu-individu menyatakan opini mereka (atau tidak,
bergantung kepada sudut pandang yang menonjol). Dan selanjutnya, media
kemudian melibatkan diri kedalam opini yang diekspresikan tersebut, dan
lingkaran itu terus berlanjut. Pada beberapa fenomena, teori lingkaran
kesunyian dapat pula menggambarkan bagaimana sebuah ancaman-ancaman kritik
dari orang lain merupakan suatu kekuatan yang ampuh dalam membungkam
seseorang.
Terdapat beberapa kritik mengenai teori ini. Pada penelitiannya, Larosa
(1991) menunjukan bahwa dihadapan opini publik, orang tidak benar-benar
selemah yang dinyatakan Neumann. Larosa melakukan sebuah survey dimana dia
menguji apakah keterbukaan politik dipengaruhi tidak hanya oleh persepsi
iklim opini seperti yang dinyatakan olah Neumann, tetapi juga oleh
variabel-variabel lain. Variabel-variabel lain tersebut antara lain usia,
pendidikan, penghasilan, minat dalam politik, tingkat persepsi atas
kemampuan diri (self eficacy), relevansi pribadi dengan isi, penggunaan
media berita oleh seseorang, dan perasaan yakin seseorang dalam kebenaran
pendapatnya. Hasil analisis regresi menunjukan keterbukaan dipengaruhi oleh
rintangan variabel demografi, tingkat persepsi atas kemampuan diri,
perhatian pada informasi politik dalam media berita, dan perasaan yakin
seseorang dalam posisinya, tetapi tidak dipengaruhi oleh relevansi pribadi
pada isu atau penggunaan media berita secara umum.
Rimmer dan Howard (1990) dalam penelitiannya mereka tidak menemukan hubungan
antara penggunaan media dan kemampuan untuk memperkirakan dengan akurat
pendapat mayoritas berkenaan suatu isu. Namun Salwen, Lin, dan Matera (1994),
dalam penelitannya, mereka menemukan bahwa kecenderungan umum untuk
berbicara lebih berhubungan dengan persepsi opini nasional dan persepsi
liputan media nasional daripada dengan opini lokal atau liputan media lokal
pada suatu isu tersebut.

DAFTAR FUSTAKA
Saverin, J.W., & Tankard, J.W.Jr. (2005). Teori Komunikasi: Sejarah,
metode, dan terapan di dalam media masa. Jakarta:Kencana Prenanda media
Group
Stephen W. Littlejohn. (1996). Theories of Human Communication. New
Jersey: Wadsworth Puublication
Rohim, S. (2009). Teori Komunikasi: Perspektif, ragam, & Aplikasi.
Jakarta: PT Rineka Cipta
Nurudin, Komunikasi Massa, Yogyakarta.2004
Bland Michael, dkk. 2001. Hubungan Media Yang Efektif. Jakarta :
ERLANGGA
J. Severin dan Tankard. 2008. Teori Komunikasi. Jakarta : Kencana: Media
Pressindo.
Mulyana Deddy. 2005. Konteks Konteks Komunikasi. Bandung : PT. Remaja
Rosdakarya.
Nurudin. 2007. Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta: PT. Rajawali Pers.
Diposkan oleh jujun junaedi di 22.49
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke
FacebookBagikan ke Pinterest




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar


Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Poskan Komentar (Atom)

Arsip Blog
2013(6)
o September(3)
Mei(3)
MEMBANGUN RASA PERCAYA DIRI
biografi jujun junaedi
TEORI KOMUNIKASI MEDIA MASSA
2012(3)

Mengenai Saya

jujun junaedi


Lihat profil lengkapku




Template Picture Window. Diberdayakan oleh Blogger.