Anda di halaman 1dari 17

LBM 2 VIVI NOVITA 012106294 SGD 2-MARS

MANAJEMEN RESIKO, KESELAMATAN PASIEN, K3 DAN SANITASI RUMAH SAKIT


Step 7
K3
1. Apakah definisi dari K3?
Jawab :
suatu upaya untuk menekan atau mengurangi resiko kecelakaan dan penyakit
akibat kerja
2. Apakah tujuan K3?
Jawab :
langsung ( perlindungan untuk petugas kerja secara langsung)
mengurangi jam kerja yang hilang akibat kecelakaan kerja
menghindari kerugian material dan jiwa akibat kecelakaan kerja
menciptakan tempat kerja yang efisien dan produktif karena tenaga kerja
merasa aman dalam bekerja
tidak langsung
meningkatkan image market terhadap perusahaan
agar petugas RS, Pasien, keluarga pasien , pengunjung dan
lingkungan RS merasa aman dan nyaman
teciptanya sistem k3 di tempat kerja yang melibatkan segala
pihak shingga dapat mencegah dan mengurangi kecelakaan
serta penyakit akibat kerja dan terciptanya tempat kerja yang
aman efisien dan produktif

3. Apakah ruang lingkup dari manajemen K3?
Jawab :


keselamatan terhadap faktor penyebab penyakit
keselamatan terhadap pemakaian peralatan medik dan non medik
keselamatan terhadap bahan berbahaya ( mis : radioaktif )
keselamatan terhadap bahaya kebakaran
keselamatan terhadap bencana
(Kuliah dari H. Saekun Rais SP, SH, SHI)

4. Bagaimana strategi untuk mewujudkan K3?
Jawab :
1. Upaya penyehatan ruang bangun
Ciptakan kondisi ruang dan konstruksi serta pengaturan peralatan untuk cegah
dampak negatif.
Pengukuran dan Pengaturan pencahayaan, Suhu,kelembaban, kebisingan.
2. Upaya penyehatan air bersih
Pemeriksaan dan monitoring air bersih 6 bulan sekali
Melakukan sampling dan pengukuran suhu
Melakukan sampling dan pengiriman sampling
Pengawasan kualitas air bersih
3. Upaya pengelolaan limbah cair
Merawat, memelihara, khlorinasi, pengukuran suhu, pH, pengiriman sampling
dan analisa laboratorium
4. Upaya pengelolaan limbah padat
Pemisahan, pewadahan, pengangkutan, pembakaran / pemusnahan sampah
medis dan umum
Monitoring jumlah produksi sampah medis dan sampah umum
5. Upaya pengendalian serangga dan binatang pengganggu
Pengawasan, pemeriksaan, pencegahan, pengendalian dan pemberantasan
perkembangbiakan serangga dan binatang pengganggu
Identifikasi dan monitoring populasi serangga dan binatang pengganggu
6. Upaya penyehatan makanan dan minuman
Pemantauan dan pengawasan kebersihan bahan, tempat pengolahan, proses dan
tempat penyimpanan dan distribusi makanan minuman serta kebersihan alat
masak dan alat makan minum
Sampling dan pengiriman sampel makanan, swab alat makan
Monitoring dan penyehatan lingkungan dapur, tempat penyimpanan dan alat
distribusi
7. Upaya penyehatan linen
Penerimaan, pencucian sterilisasi, penyimpanan dan distribusi linen, personal
hygiene, kesehatan kerja ruang, penyehatan lingkungan ruang laundry
8. Upaya penyuluhan kesling
9. Pengawasan sterilisasi

5. Apa saja dasar hukum mengenai K3? Dicari isinya yah
Jawab :
UUD 1945 pasal 27
UU no 14 tahun 1969 tentang ketentuan pokok ketenagakerjaan
UU no 1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja
SK Menkes no 351 2003 tentang komite kesehatan dan keselamatan kerja
SE ( surat edaran ) dirjen pelayanan medik tentang PK3 RS no 00.06.6.4.01497 tahun
1995

Peraturan dan UU
1. Undang-Undang No 14/1969 tentang Ketentuan Pokok Tenaga Kerja.
2. Undang-Undang No 1/1970 tentang Keselamatan Kerja.
3. Undang-Undang No 23/1992 tentang Kesehatan.
4. Permenkes RI No 986/92 dan Kep Dirjen PPM dan PLP No HK.00.06.6.598
tentang Kesehatan Lingkungan RS.
5. Permenkes RI No 472/Menkes/Per/V/96 tentang pengamanan bahan
berbahaya bagi kesehatan.
6. Kepmenkes, No. 261/MENKES/SK/II/1998 dan Kep Dirjen PPM dan PLP No
HK.00.06.6.82 tentang Petunjuk TehnisPelaksanaan Persyaratan Kesehatan
Lingkungan Kerja.
7. Kepmenkes, No. 1335/MENKES/SK/X/2002 tentang Standar Operasional
Pengambilan dan Pengukuran Sampel Kualitas Udara Ruang RS.

Pengorganisasian K3 di rumah sakit berdasarkan atas;
1. Surat edaran Direktur Jenderal Pelayanan Medik No.00.06.6.4.01497 tanggal
24 Februari 1995 tentang PK3-RS
2. Optimalisasi fungsi PK3-RS dalam pengelolaan K3 RS
3. Akreditasi RS
4. Audit manajemen K3 RS
5. SK MenKes No 351/MenKes/SK/III/2003 tanggal 17 Maret 2003 tentang
Komite Kesehatan dan Keselamatan Kerja Sektor Kesehatan
6. SKB No. 147 A/Yanmed/Insmed/II/1992 Kep.44/BW/92 tentang Pelaksanaan
Pembinaan K3 Berbagai Peralatan Berat Nonmedik di Lingkungan RS
http://www.jmpk-online.net

Keselamatan Pasien
1. Apa saja 7 langkah keselamatan pasien di Rumah Sakit?
Jawab :
1) Bangun kesadaran akan nilai KP ciptakan kepemimpinan & budaya yg
terbuka dan adil
RS :
o Kebijakan : tindakan staf segera setelah insiden, langkah kumpul fakta,
dukungan kepada staf, pasien keluarga
o Kebijakan : peran & akuntabilitas individual pada insiden
o Tumbuhkan budaya pelaporan & belajar dari insiden
o Lakukan asesmen dengan menggunakan survey penilaian KP
Tim :
o Anggota mampu berbicara, peduli & berani lapor bila ada insiden
o Laporan terbuka & terjadi proses pembelajaran serta pelaksanaan
tindakan / solusi yg tepat
Prinsip penting :
o Budaya safety berarti staf selalu sadar terhadap KTD potensial
o Staf berserta RS selalu mampu mengakui & belajar dari kesalahan &
bertindak untuk memperbaiki
o Terbuka untuk berbagi informasi, dan dlm hal KTD staf ditangani secara
adil
o Semua KTD juga terkait dng system, mencari kesalahan pada system akan
membantu RS belajar untuk menekan insiden
2) Pimpin dan dukung staf anda bangunlah komitmen & focus yg kuat & jelas
tentang KP di RS
RS :
o Ada anggota direksi yg bertanggung jawab atas KP
o Di bagian2 ada orang yg dapat menjadi penggerakKP
o Prioritaskan KP dlm agenda rapat direksi / manajemen
o Masukkan KP dalam semua program latihan staf
Tim :
o Ada penggerak dalam tim untuk memimpin gerakan KP
o Jelaskan relevansi & pentingnya, serta manfaat gerakan KP
o Tumbuhkan sikap ksatria yg menghargai pelaporan insiden
Prinsip penting :
o Pelaksanaan KP-RS butuh motivasi & komitmen pimpinan : direksi ,
pimpinan klinis & manajerial dari seluruh jajaran pelayanan
o Pimpinan perlu menunjukkan KP-RS adalah prioritas, pimpinan harus
sering tampak & aktif memimpin di lapangan memperbaiki system KP-RS
o Staf agar mudah melapor bila tidak merasa bahwa asuhan pasien aman
3) Integrasikan aktivitas pengelolaan risiko kembangkan system & proses
pengelolaan risiko, serta lakukan identifikasi & asesmen hal yg potensial
bermasalah
RS :
o Struktur & proses menjamin risiko klinis & non klinis, mencakup KP
o Kembangkan indicator kinerja bagi system pengelolaan risiko
o Gunakan informasi dari system pelaporan insiden & asesmen risiko &
tingkatkan kepedulian terhadap pasien
Tim :
o Diskusi isu KP dalam forum2
o Penilaian risiko pada individu pasien
o Proses asesmen risiko teratur, tentukan akseptabilitas tiap risiko &
langkah memperkecil risiko tsb
Prinsip penting :
o Manajemen risiko terintegrasi berarti pelajaran dari suatu area risiko
dapat segera disebarkan ke area risiko yg lain
o Konsisten melaksanakan identifikasi, assesmen, analisis & investigasi
semua risiko
o Penggunaan beberapa risk assessment tools : risk matrix grading, FMEA
(failure mode and effect analysis), risk assessment shecklist
4) Kembangkan system pelaporan pastikan staf anda agar dapat melaporkan
kejadian / insiden serta RS mengatur pelaporan kpd KKP-RS
RS :
o Lenkapi rencana implementasi system pelaporan insiden, ke dalam
maupun ke luar yg harus dilaporkan ke KPPRS PERSI
Tim :
o Dorong anggota untuk melapor setiap insiden & insiden yg telah dicegah
tetapi tetap terjadi juga, sbg bahan pelajaran yg penting
Prinsip penting :
o Pelaporan insiden adalah langkah pertama proses mencegah KTD
o Staf penting memahami APA insiden KP yg harus dilaporkan (semua
insiden yg menyebabkan / dapat menyebabkan cedera, tidak hanya yg
sentinel) dan bagaimana cara melaporkannya
o RS selektif melaporkan insiden penting ke KKPRS, shg secara nasional dpt
disusun peta KTD dan berbagai solusi /umpan balik ke RS-RS
5) Libatkan dan berkomunikasi dengan pasien kembangkan cara-cara
komunikasi yg terbuka dgn pasien
RS :
o Kebijakan : komunikasi terbuka ttg insiden dng pasien & keluarga
o Pasien & keluarga mendapat informasi bila terjadi insiden
o Dukungan, pelatihan & dorongan semangat kepada kepada staf agar
selalu terbuka kepada pasien & keluarga
Tim :
o Hargai dan dukung keterlibatan pasien & keluarga bila telah terjadi
insiden
o Prioritaskan pemberitahuan kpd pasien & kelurga bila terjadi insiden
o Segera setelah kejadian , tunjukkan empati kpd pasien & keluarga
Prinsip penting :
o Banyak pasien adalah ahli tentang kondisinya shg dpt membantu
identifikasi risiko & merencanakan solusi terhadap masalah KP
o Pasien ingin terlibat sbg mitra dlm proses asuhan
o stafBanyak pasien adalah ahli tentang kondisinya shg dpt membantu
identifikasi risiko & merencanakan solusi terhadap masalah KP
o Pasien ingin terlibat sbg mitra dlm proses asuhan
o Staf perlu melibatkan pasien dlm proses Dx, Th, diskusi risiko, monitoring,
segera diskusikan KTD secara bijak & dgn empati
o Keterbukaan ini & mendiskusikan KTD akan membantu pasien untuk lebih
baik dlm menerima risiko atau KTD
6) Belajar & berbagi pengalaman tentang KP dorong staf untuk melakukan
analisis akar masalah untuk belajar bagaimana & mengapa kejadian itu timbul
RS :
o staf terlatih mengkaji insiden secara tepat, mengidentifikasi sebab
o Kebijakan : criteria pelaksanaan analisis akar masalah atau metode
analisis lain, mencakup semua insiden & minimum 1, per tahun untuk
proses risiko tinggi
Tim :
o diskusikan dlam tim pengalaman dari hasil analisis insiden
o identifikasi bagian alain yg mungkin terkena dampak & bagi pengalaman
tsb
prinsip penting :
o bila insiden terjadi, isu penting bukanlah siapa yg salah tetapi
bagaimana & mengapa hal itu terjadi
o belajar secara sistematik : tipe insiden yg perlu dilapor, informasi apa dan
kapan diperlukan , bagaimana menganalisis
7) Cegah cedera melalui implementasi system KP gunakan informasi yg ada
tentang kejadian / masalah untuk melakukan perubahan pada system pelayanan
RS :
o tentukan solusi dengan informasi dari system pelaporan, asesmen risiko,
kejadian insiden, audit serta analisis
o solusi mencakup penjabaran ulang system, penyesuaian pelatihan staf &
kegiatan klinis, penggunaan instrument yg menjamin KP
o assesmen risiko untuk setiap perubahan
o sosialisasikan solusi yg dikembangkan oleh KKPRS-PERSI
o umpan balik kepada staf ttg setiap tindakan yg diambil atas insiden
tim :
o kembangkan asuhan pasien menjadi lebih baik & lebih aman
o telaan perubahan yg dibuat tim & pastikan pelaksanaannya
o umpan balik atas setiap tindak lanjut tentang insiden yg dilaporkan
prinsip penting :
o dari solusi, dibuat system bau shg staf mudah melaksanakan asuhan yg lebih
baik & lebih aman
o pastikan system baru termasuk assesmen risiko, dievaluasi terus menerus
dlm jangka panjang, termasuk belajar terus menerus
keselamatan pasien dan menajemen risiko klinis di RS

2. Apa saja standar dari keselamatan pasien?
Jawab :
a. Hak pasien
b. Mendidik pasien dan keluarga
c. Keselamatan pasien dan asuhan berkesinambungan
d. Penggunaan metoda-metoda peningkatan kinerja, untuk melakukan evaluasi dan
meningkatkan keselamatan pasien
e. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien
f. Mendidik staf tentang keselamatan pasien
g. Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan pasien

Standar I. Hak pasien.
1. Standar :
Pasien & keluarganya mempunyai hak untuk mendapatkan informasi tentang rencana
& hasil pelayanan termasuk kemungkinan terjadinya KTD (Kejadian Tidak
Diharapkan).
2. Kriteria :
a. Harus ada Dokter penanggung jawab pelayanan.
b. Dokter penanggung jawab pelayanan wajib membuat rencana pelayanan
c. Dokter penanggung jawab pelayanan wajib memberikan penjelasan secara
jelas & benar kepada pasien & keluarganya tentang rencana & hasil
pelayanan, pengobatan atau prosedur untuk pasien termasuk kemungkinan
terjadinya KTD.
Standar II. Mendidik pasien dan keluarga.
3. Standar :
RS harus mendidik pasien & keluarganya tentang
kewajiban & tanggung jawab pasien dalam asuhan pasien
4. Kriteria :
Keselamatan dalam pemberian pelayanan dapat ditingkatkan dengan keterlibatan
pasien yang merupakan partner dalam proses pelayanan. Karena itu, di RS harus ada
sistem & mekanisme mendidik pasien & keluarganya tentang kewajiban & tanggung
jawab pasien dalam asuhan pasien. Dengan pendidikan tsb diharapkan pasien &
keluarga dapat :
a. Memberikan informasi yang benar, jelas, lengkap & jujur.
b. Mengetahui kewajiban & tanggung jawab pasien & keluarga.
c. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk hal yang tidak dimengerti
d. Memahami & menerima konsekuensi pelayanan.
e. Mematuhi instruksi dan menghormati peraturan RS.
f. Memperlihatkan sikap menghormati & tenggang rasa.
g. Memenuhi kewajiban finansial yang disepakati.

3. Apa saja tujuan dari keselamatan pasien?
Jawab :
definisi dari keselamatan pasien RS?
suatu sistem yang membuat asuhan pasien di rumah sakit menjadi lebih aman
suatu sistem untuk mencegah terjadinya cidera yang disebabkan oleh kesalahan
akibat pelaksanaan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya
dilakukan.
tujuan :
untuk mencegah terjadinya cidera yang disebabkan oleh kesalahan akibat
pelaksanaan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya
dilakukan
untuk membuat asuhan pasien di rumah sakit menjadi lebih aman

Sanitasi Rumah Sakit
1. Apakah definisi dari sanitasi RS?
Jawab :
adalah upaya pengawasan berbagai factor lingkungan fisik, kimia dan biologic di
RS yang menimbulkan atau mungkin dapat mengakibatkan pengaruh buruk
terhadap kesehatan petugas, penderita, pengunjung maupun bagi masyarakat di
sekitar RS
Kiat Mengelolah Rumah Sakit, dr.R.Darmanto


2. Apakah ruang lingkup dari sanitasi?
Jawab :
- kerumahtanggaan
- upaya khusus sanitasi
- upaya desinfeksi dan sterilisasi
- upaya pengendalian serangga dan binatang pengangu
- upaya pengawasan pasien dan pengunjung rumah sakit
- upaya penangulangan bencana
- upaya pengawasan kesehatan pegawai RS
Kiat Mengelolah Rumah Sakit, dr.R.Darmanto

Ben Freedman menyebutkan lingkup garapan sanitasi RS meliputi :
A. Aspek Kerumahtanggaan (Housekeeping) seperti :
1.Kebersihan gedung secara keseluruhan.
2.Kebersihan dinding dan lantai.
3.Pemeriksaan karpet lantai.
4.Kebersihan kamar mandi dan fasilitas toilet.
5.Penghawaan dan pembersihan udara.
6.Gudang dan ruangan.
7.Pelayanan makanan dan minuman.
B. Aspek khusus Sanitasi.
1.Penanganan sampah kering mudah terbakar.
2.Pembuangan sampah basah.
3.Pembuangan sampah kering tidak mudah terbakar.
4.Tipe incinerator Rumah Sakit.
5.Kesehatan kerja dan proses-proses operasional.
6.Pencahayaan dan instalasi listrik.
7.Radiasi.
8.Sanitasi linen, sarung dan prosedur pencucian.
9.Teknik-teknik aseptik.
10.Tempat cuci tangan.
11.Pakaian operasi.
12.Sistim isolasi sempurna.
C. Aspek dekontaminasi, disinfeksi dan sterilisasi.
1.Sumber-sumber kontaminasi.
2.Dekontaminasi peralatan pengobatan pernafasan.
3.Dekontaminasi peralatan ruang ganti pakaian.
4.Dekontaminasi dan sterilisasi air,makanan dan alat-alat pengobatan.
5.Sterilisasi kering.
6.Metoda kimiawi pembersihan dan disinfeksi.
7.Faktor-faktor pengaruh aksi bahan kimia.
8.Macam-macam disinfektan kimia.
9.Sterilisasi gas.
D. Aspek pengendalian serangga dan binatang pengganggu.
E. Aspek pengawasan pasien dan pengunjung Rumah Sakit :
1.Penanganan petugas yang terinfeksi.
2.Pengawasan pengunjung Rumah Sakit.
3.Keamanan dan keselamatan pasien.
F. Peraturan perundang-undangan di bidang Sanitasi Rumah Sakit.
G. Aspek penanggulangan bencana.
H. Aspek pengawasan kesehatan petugas laboratorium.
I. Aspek penanganan bahan-bahan radioaktif.
J. Aspek standarisasi sanitasi Rumah Sakit

Dari lingkup sanitasi yang begitu luas tersebut yang paling penting untuk
dikembangkan adalah menyangkut :
a)Program sanitasi kerumahtanggaan yang meliputi penyehatan ruang dan bangunan
serta lingkungan RS.
b)Program sanitasi dasar, yang meliputipenyediaan air minum, pengelolaan kotoran cair
dan padat, penyehatan makanan dan minuman, pengendalian serangga, tikus dan
binatang pengganggu.
c) Program dekontaminasi yang meliputi kontaminasi lingkungan karena mikroba, bahan
kimia dan radiasi.
d)Program penyuluhan.
e)Program pengembangan manajemen dan perundang-undangan yang meliputi
penyusunan norma dan standar serta pengembangan tenaga sanitasi RS melalui
pelatihan, konsultasi


3. Apakah tujuan sanitasi RS?
Jawab :
Tujuan
menciptakan kondisi lingkungan RS agar tetap bersih, nyaman, dan dapat mencegah
terjadinya infeksi silang serta tidak mencemari lingkungan
Manfaat
1)Dapat mengurangi kemungkinan terjadinya re-infeksi dan infeksi silang ( infeksi
nosokomial )di RS.
2)Dapat mempercepat proses penyembuhan penderita.
3)Akibat dari butir 1 dan 2 akan dapat dihemat biaya pengeluaran RS dan masyarakat
yang terkena infeksi (pasien, petugas dan pengunjung RS).
4)Mengurangi dampak negatif limbah RS terhadap lingkungan dan masyarakat.
5)Rumah Sakit yang saniter merupakan daya tarik bagi masyarakat untuk
menggunakannya.
6)Meningkatkan citra RS sebagai tempat yang bersih, sehat dan tenang

4. Bagaimana syarat syarat sanitasi RS yg baik?
Jawab :
1. lingkungan
a. lingkungan rumah sakit harus mempunyai batas yang jelas dilengkapi
dengan pagar yang kuat sehingga orang lain maupun binatang liar tidak
bebas masuk
b. lingkungan rumah sakit harus dilengkapi dengan penerangan yang baik
c. lingkungan rumah sakit tidak becek , tidak berdebu, dan terdapat
saluran yang terbuka / tertutup
d. saluran air limbah harus tertutup dan dihubungkan langsung dengan
IPAL


2. Ruang dan Bangunan
a. harus dalam keadaan bersih mudah dibersihkan tersedia tempat sampah
sesuai dengan jenis sampahnya ( sampah medis dan sampah non
medis)
b. tersedia fasilitas sanitasi sesuai dengan yang dibutuhkan
c. ruang dan bangunan harus bebas dari serangga dan binatang yang
lainnya
d. mutu udara harus memenuhi syarat tidak berbau, kadar debu tidak
melampaui 150 ug/m3 dalam pengukuran selama 24 jam dan angka
kuman kurang lebih 350 koloni / m3, udara bebas kuman patogen
o penerangan semua ruangan harus diberi penerangan
o kebisingan diruang perawatan tidak boleh melebihi 45dBA, diruang poliklinik,
maks 80dBA, laboratorium mks 68 dBA, ruang cuci dapur maks 78 dBA
o pembersihan ruangan
o penyediaan air bersih
o pengawasan kualitas air bersih di RS
o pengelolaan limbah RS
o pembuangan sampah padat
o pengelolaan sampah :
penampungan sampah,
tempat sampah harus : tidak mudah berkarat, kedap air, bertutup, mudah
diangkut, mudah dikosongkan, mudah dibersihkan
pengangkutan sampah,
harus diusahakan agar bahan2 yg berbahaya tidak mencemari jalan yg
ditempuh ke pembuangan
perlakukan sampah sebelum dibuang
ada sampah yg bias di daur ulang, misalnya perak nitrat pembuangan cairan
pencuci film bias diambil peraknya. Limbah infeksius sering disterilkan
dengan otoklaf
insenerator :
adalah alat untuk membakar sampah padat kering mapun yg basah
o mengusahakan agar di sekitar RS tidak ada tempat perindukan untuk segala
macam serangga baik untuk nyamuk, lalat, maupun kecoa
o tikus diusahakan tidak ada tempat untuk bersarangnya tikus di RS
o mengendalikan infeksi nosokomial : membasuh tangan, desinfeksi, sterilisasi
keselamatan pasien dan menajemen risiko klinis di RS

5. Apa saja dasar hukum tentang sanitasi RS?
Jawab :
1. UUD 1945 dan UU
2. SK Menkes
3. Surat edaran Dirjen Pelayanan Medik

Manajemen Resiko
1. Apakah definisi dari manajemen resiko?
Jawab :
kegiatan meminimalkan bahaya terhadap pasien, kegiatan untuk menciptakan
lingkungan yang aman bagi karyawan, pasien, dan pengunjung
sebagai aktivitas klinik dan administratif yang dilakukan oleh rumah sakit
untuk melakukan, identifikasi, evaluasi dan pengurangan risiko terjadinya
cidera atau kerugian pada :
- pasien,
- personil,
- pengunjung dan
- rumah sakit itu sendiri
The Joint Commission on Accreditation of Healthcare Organization

2. Bagaimana proses terbentuknya manajemen resiko yang terintegrasi?
Jawab :
Proaktif
Melalui program2 yg dirancang untuk mencegah, mengendalikan dan membuat
sesedikit mungkin keterbukaan pasien thd risiko klinis
5 kiat untuk manajemen risiko klinis yang proaktif :
o Credentialing of medical staff
Seleksi staf medik yang baik
o Incident monitoring and tracking
Monitor dan menjejaki kejadian klinis yg tidak diinginkan
o Complaints monitoring and tracking
Monitor dan menjejaki keluhan pasien / public
o Infection control. Pengendalian infeksi nosokomial
o Documentation in the medical record
Rekam medis yg baik
Reaktif
Proses sistematis melakukan identifikasi, evaluasi dan penanganan risiko klinis
jika sudah terjadi (termasuk negosiasi besaran ganti)
Pelatihan manajemen risiko klinik ; Perhimpunan Dokter Forensik
Indonesia
a. Proses manajemen risiko terintegrasi
o Identifikasi risiko
Adalah usaha mengidentifikasi situasi yg dapat menyebabkan cedera,
tuntutan atau kerugian secara financial. Identifikasi akan membantu langkah2
yg akan diambil manajemen risiko tsb
o Analyzing identified risks
o Evaluating the risks
o Treating the risks
b. Instrument
o Laporan kejadian
o Review rekam medik (penyaringan kejadian untuk memeriksa rm untuk
memeriksa rm untuk mencari penyimpangan pada praktik danprosedur)
o Pengaduan (complaint) pelanggan
o Survey / self assessment
keselamatan pasien dan menajemen risiko klinis di RS

3. Apakah tujuan dari manajemen resiko?
Jawab :
Meminumkan keterjadian medical errors, adverse events, dan harms pada
pasien (membuat asuhan pasien lebih aman)
Meminimumkan kemungkinan terjadinya klaim dan mengendalikan biaya klaim
yang harus menjadi tanggungan institusi (mencegah kerugian finansial bagi RS)
Pelatihan manajemen risiko klinik ; Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia
4. Apakah manfaat dari manajemen resiko?
Jawab :
a. Terhadap pasien
o Membuat sekecil mungkin cidera yg tidak diinginkan
o Meningkatkan keamanan pasien dan mutu asuhan
b. Terhadap staf
o Meningkatkan kesehatan, kesejahteraan dan keamanan staf
c. Terhadap institusi
o Menjaga reputasi
o Meminimumkan risiko financial dengan manajemen yg lebih baik
o Memenuhi objektif secara optimal dengan pemanfaatan sebaik-baiknya
sumberdaya yg ada
d. Terhadap public
o Meningkatakan kepercayaan public, bahwa dengan program MRK yg baik
keamanan mereka lebih terjamin
Pelatihan manajemen risiko klinik ; Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia
STEP 4















Manajement K3
Manajement Risiko di RS
Manajement Sanitasi
Keselamatan dan Kesehatan
(pasien, pengunjung)
RS yang Baik
Manajemen Risiko
Rumah Sakit
Manajemen
Keselamatan
Pasien
Manajemen
Sanitasi
Manajemen RS Manajemen Risiko
Pasien
Staff
Pengunjung
RS
Proses Manajemen
Risiko
7 Langkah
Keselamatan Pasien
Ruang Lingkup