Anda di halaman 1dari 11

1

Referat

PENATALAKSANAAN HIPERTENSI ESSENSIAL
DI PELAYANAN PRIMER



Oleh :
Yui Muya 0910312053
Milfa Sari 0910314184
Rigo Junaidi 0910312035
Tomas Apriady 0910312121

Preseptor :
dr. Arnelis, Sp.PD-KGEH

BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2014
2

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Hipertensi merupakan penyakit yang mempunyai hubungan erat dengan risiko
kejadian penyakit kardiovaskular, dimana pada tekanan darah yang lebih tinggi besar
kemungkinan terjadinya penyakit ginjal, stroke, serangan jantung dan gagal jantung.
Prevalensi hipertensi akan terus meningkat bila tidak ada parameter untuk melakukan
tindakan pencegahan yang efektif.
Tindakan preventif dan promotif sebaiknya dilakukan terutamanya di layanan
primer untuk menatalaksana kasus hipertensi. Dengan memodifikasi gaya hidup,
hipertensi dapat dikontrol selain dari penggunaan obat-obat hipertensi.
Tatalaksana hipertensi yang benar dan tepat dapat mengurangi risiko terjadinya
komplikasi hipertensi seperti hipertensi emergensi dan urgensi, hipertensi maligna dan
hipertensi ensefalopati.

1.2 Tujuan penulisan
Tujuan dari penulisan ini adalah agar penulis dan pembaca dapat lebih memahami
tentang penatalaksanaan hipertensi di pelayanan primer.

1.3 Batasan Masalah
Masalah yang dibahas pada makalah ini dibatasi pada penatalaksanaan hipertensi di
pelayanan primer.

1.4 Metode Penulisan
Metoda yang dipakai pada clinical science session ini adalah tinjauan pustaka
yang merujuk kepada beberapa literatur.



3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Hipertensi adalah jika didapatkan tekanan darah sistolik 140 mmHg atau tekanan
darah diastolik 90 mmHg. Hipertensi primer atau esensial merupakan hipertensi
tanpa adanya penyakit sekunder yang mendasari. Hanya 10% dari kasus hipertensi
adalah primer dengan penyebabnya tidak diketahui.
Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang terjadi dengan ada penyakit yang
mendasari atau sebagai komplikasi dari penyakit tersebut. 90% dari hipertensi adalah
dari hipertensi sekunder.
Beberapa kondisi hipertensi komplikasi seperti kedaruratan hipertensi (hipertensi
emergensi dan urgensi), hipertensi maligna dan hipertensi ensefalopati.

2.2 Faktor Risiko
Faktor risiko dibedakan dalam 2 kelompok, yaitu kelompok yang dapat
dimodifikasi dan yang tidak dapat dimodifikasi.
Hal yang tidak dapat dimodifikasi adalah umur, jenis kelamin, riwayat hipertensi
dan penyakit kardiovaskular dalam keluarga. Faktor risiko hipertensi yang dapat
dimodifikasi adalah seperti;
Riwayat pola makan (konsumsi garam berlebihan).
Konsumsi alkohol berlebihan.
Aktivitas fisik kurang.
Kebiasaan merokok.
Obesitas.
Dislipidemia.
Diabetus Melitus.
Psikososial dan stres.


4

2.3 Patofisiologis
Hampir semua hipertensi sekunder dapat dipahami dari perjalanan penyakit yang
mendasari, tetapi pada hipertensi esensial, mekanisme terjadinya hipertensi kurang
diketahui.
Hipertensi terjadi karena peningkatan curah jantung dan tahanan perifer akibat
dari preload yang meningkat, kontraktilitas yang meningkat, konstriksi fungsional
dan hipertrofi struktural.
Namun ada beberapa teori yang berhubungan dengan hipertensi esensial seperti;
Faktor gangguan ekskresi natrium yang menyebabkan peningkatan
resistensi perifer.
Retensi kalium dan cairan akibat overaktif dari sistem renin-angiotension
yang menyebabkan volume darah meningkat.
Respon stress dari sistem saraf simpatis.

2.4 Diagnosis
Diagnosis hipertensi ditegakkan dari anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Anamnesis untuk mencari faktor risiko dan komplikasi. Pemeriksaan fisikdengan
ukur tekanan darah dan nadi bandingkan kanan dan kiri, posisi tidur duduk dan
berdiri.

Tabel 2.1 Klasifikasi hipertensi berdasarkab JNC VVI

Klasifikasi tekanan darah TDS
(mmHg)
TDD
(mmHg)
Normal < 120 dan <80
Pre hipertensi 120-139 atau 80-89
Hipertensi stage 1 140-159 atau 90-99
Hipertensi stage 2 160 atau 100


5

Pemeriksaan penunjang: laboratorium lengkap terdiri dari:
a. Urin lengkap
b. Elektrolit serum
c. Darah lengkap
d. Profil lipid
e. Gula darah
f. EKG
g. Ureum dan kreatinin
h. Rontgen Thoraks

2.5 Penatalaksanaan
Pengobatan hipertensi tidak hanya berdasarkan pada derajat tekanan darah tapi
juga mempertimbangkan terdapatnya faktor resiko kardiovaskular.
Target tekanan darah menurut JNC VII tujuan utama kesehatan masyrakat
memberikan terapi hipertensi adalah untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas
penyakit kardiovaskular dan ginjal. Target TD secara umum adalah <140/90 mmHg
tanpa adanya penyakit DM dan ginjal, dan <130/80 mmHg jika didapatkan penyakit
ginjal dan DM.

Tujuan terapi menurut JNC VII adalah:
menurunkan morbiditas dan mortalitas penyakit kardiovaskuler dan ginjal.
terapi TD hingga <140/90 mmHg atau TD <130/80 mm Hg pada penderita
dengan DM atau penyakit ginjal.
pencapaian target TD sistol terutama pada orang usia > 50 tahun.

Tatalaksana hipertensi:
a. Modifikasi gaya hidup
Adapun cara untuk modifikasi gaya hidup dalam mencegah dan mengobati
hipertensi adalah:
menurunkan berat badan (IMT diusahakan 18,5-24,9 kg/m3) diperkirakan
menurunkan TDS 5-20 mmHg per 10 kg penurunan berat badan.
6

Diet dengan asupan cukup kalium dan kalsium dengan mengkonsumsi
makanan kaya buah, sayur, rendah lemak hewani dan mengurangi asam
lemak jenuh. Diharapakan menurunkan TDS 8-14 mmHg.
Mengurangi konsumsi natrium tidak lebih dari 100 mmol/ hari (6 gr Nacl).
Diharapkan menurunkan TDS 2-8 mmHg.
Meningkatkan aktifitas fisik dengan berjalan meinimal 30 menit perhari.
Diharapkan menurunkan TDS 4-9 mmHg.
Berhenti merokok dan mengurangi konsumsi alkohol.

b. Obat-obat anti Hipertensi
Pemberian obat anti hipertensi merupakan pengobatan jangka panjang.
Kontrol pengobatan sebaiknya dilakukan setiap 2 minggu atau 1 bulan untuk
mengoptimalkan hasil pengobatan.

1. Hipertensi tanpa compelling indication
Hipertensi stage-1
Dapat diberikan diuretik (HCT 12.5-50 mg/hari, furosemid 2x20-80
mg/hari), atau pemberian penghambat ACE (captopril 2x25-100 mg/hari
atau enalapril 1-2 x 2,5-40 mg/hari), penyekat reseptor beta (atenolol 25-
100mg/hari dosis tunggal), penghambat kalsium (diltiazem extended
release 1x180-420 mg/hari, amlodipin 1x2,5-10 mg/hari, atau nifedipin
long acting 30-60 mg/hari) atau kombinasi.
Hipertensi stage-2.
Bila target terapi tidak tercapai setelah observasi selama 2 minggu, dapat
diberikan kombinasi 2 obat, biasanya golongan diuretik, tiazid dan
penghambat ACE atau antagonis reseptor AII (losartan 1-2 x 25-100
mg/hari) atau penyekat reseptor beta atau penghambat kalsium.
Pemilihan anti hipertensi didasarkan ada tidaknya kontraindikasi dari
masing-masing antihipertensi diatas.Sebaiknya pilih obat hipertensi yang
diminum sekali sehari atau maksimum 2 kali sehari.

7

2. Hipertensi compelling indication
Bila target tidak tercapai maka dilakukan optimalisasi dosis atau ditambahkan
obat lain sampai target tekanan darah tercapai (kondisi untuk merujuk ke
Spesialis).

Tabel 2.2 Hipertensi Compelling I ndication


3. Kondisi khusus lain

Obesitas dan sindrom metabolic.Lingkar pinggang laki-laki >90
cm/perempuan >80 cm. Tolerasi glukosa terganggu dengan GDP 110
mg/dl, tekanan darah minimal 130/85 mmHg, trigliserida tinggi 150
mg/dl, kolesterol HDL rendah <40 mg/dl (laki-laki) dan <50 mg/dl
(perempuan) Modifikasi gaya hidup yang intensif dengan terapi utama
ACE, pilihan lain reseptor AII, penghambat calsium dan penghambat .
Hipertrofi ventrikel kiri. Tatalaksana tekanan darah agresif termasuk
penurunan berat badan, restriksi asupan natrium dan terapi dengan semua
kelas antihipertensi kecuali vasodilator langsung, yaitu hidralazin dan
minoksidil.
8

Penyakit Arteri Perifer. Semua kelas antihipertensi, tatalaksana faktor
risiko dan pemberian aspirin.
Lanjut Usia. Diuretik (tiazid) mulai dosis rendah 12,5 mh/hari. Obat
hipertensi lain mempertimbangkan penyakit penyerta.
Kehamilan. Golongan metildopa, penyekat reseptor , antagonis kalsium,
vasodilator. Penghambat ACE dan antagonis reseptor AII tidak boleh
digunakan selama kehamilan.


Tabel 2.3 Kesimpulan tatalaksana pada Hipertensi berdasarkan risiko


Tekanan Darah
Resiko A
(tidak ada faktor
resiko)
Resiko B
(punya faktor
resiko paling
kurang satu tidak
termasuk diabetes)
Resiko C
(pasien Diabetes
Mellitus dengan
atau tanpa faktor
resiko lainnya)
High Normal
130-139/85-89
Modifikasi gaya
hidup
Modifikasi gaya
hidup
Terapi obat
Hipertensi stage 1
140-159/90-99
Modifikasi gaya
hidup sampai 12
bulan
Modifikasi gaya
hidup samapai 6
bulan
Terapi obat
Hipertensi stage 2 & 3
160 / 100
Terapi obat Terapi obat Terapi obat









9

Tabel 2.4 Algoritma Tatalaksana Hipertensi


Modifikasi gaya hidup
Tidak mencapai target tekanan darah <140/90mmHg atau < 130/60
mmHg untuk penderita diabetes atau penyakit ginjal kronik
Pilihan Obat Awal
Tanpa indikasi
memaksa (without
compelling
indication)
Dengan Indikasi
memaksa (with
compelling
indication)
Hipertensi stage 1
Yang banyak
digunakan adalah
tiazide tapi dapat
juga
dipertimbangkan
ACE-i,ARB, beta
bloker, CCB
Hipertensi stage 2
Kombinasi 2 obat
untuk sebagian
besar kasus
umumnya diuretik
tiazide dan ACE-
I,ARB,CCB, dan
BB
Obat-obat untuk
indikasi
memaksa obat
anti hipertensi
sesuai kebutuhan
(diuretik,ACEI,
ARB,BB,CCB
Tidak mencapai target organ tekanan darah
Optimalkan dosis atau berikan tambahan obat
sampai target tekanan darah tercapai
pertimbangkan konsultasi dengan ahli hipertensi
10

2.6 Komplikasi
Hipertensi yang tidak terkontrol akan menyebabkan beberapa komplikasi seperti
hipertrofi ventrikel kiri, proteinurea dan gangguan fungsi ginjal,aterosklerosis pembuluh
darah, retinopati, stroke atau TIA, infark myocard, angina pectoris, serta gagal jantung.

2.7 Kriteria Rujukan

Hipertensi dengan komplikasi.
Resistensi hipertensi.
Krisis hipertensi (hipertensi emergensi dan urgensi). Yaitu tekanan darah
>220/140 dan telah mengenai organ target. Karakteristiknya adalah:
- Gejala sesak napas, nyeri dada, kacau, gangguan kesadaran.
- Dari pemeriksaan fisik ditemukan ensefalopati, edema paru, gangguan
fungsi ginjal, CVA, iskemia jantung.
- Pengobatannya adalah secara parenteral periksa laboratorium standar dan
rencana rawat ruangan HCU.

2.8 Prognosis
Umumnya baik apabila terkontrol.













11

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Hipertensi adalah suatu penyakit yang sering terjadi di masyarakat, dimana angka
kejadiannya terus meningkat. Biasanya masyarakat datang ke unit pelayanan kesehatan
karena komplikasi dari hipertensi tersebut, jadi untuk menghindari komplikasi tersebut
kita harus mengetahui faktor risiko dari hipertensi tersebut dan bagaimana cara
menanggulanginya. Adapun cara yang paling baik untuk menanganinya adalah dengan
memodifikasi gaya hidup secara dini.