Anda di halaman 1dari 14

RIZKY HERMAWAN 200110110090

Rusa Timor
Rusa timor merupakan salah satu rusa asli
Indonesia selain rusa bawean, sambar, dan
menjangan. Rusa timor yang mempunyai
nama latin Cervus timorensis diperkirakan
asli berasal dari Jawa dan Bali, kini
ditetapkan menjadi fauna identitas provinsi
Nusa Tenggara Barat (NTB).
Rusa timor sering juga disebut sebagai rusa jawa. Dalam bahasa Inggris,
rusa timor mempunyai beberapa sebutan seperti Javan Rusa, Javan Deer, Rusa,
Rusa Deer, dan Timor Deer. Sedangkan dalam bahasa latin (ilmiah) binatang ini
disebut sebagai Cervus timorensis yang mempunyai beberapa nama sinonim
seperti Cervus celebensis (Rorig, 1896), Cervus hippelaphus (G.Q. Cuvier , 1825
), Cervus lepidus (Sundevall, 1846), Cervus moluccensis (Quoy & Gaimard,
1830), Cervus peronii (Cuvier, 1825), Cervus russa(Muller & Schlegel, 1845),
Cervus tavistocki (Lydekker, 1900), Cervus timorensis(Blainville, 1822), dan
Cervus tunjuc (Horsfield, 1830).
Klasifikasi Ilmiah.
Kerajaan: Animalia.
Filum: Vertebrata.
Sub filum : Chordata.
Kelas: Mammalia.
Ordo: Artiodactyla.
Famili: Cervidae.
Genus: Cervus.
Spesies: Cervus timorensis.
Nama binomial (ilmiah): Cervus timorensis. Nama Indonesia: Rusa timor.

RIZKY HERMAWAN 200110110090
Subspesies Rusa Timor
Subspesies Rusa Timor. Whitehead (Schroder dalam Nugroho, 1992;
Semiadi, 2002) membagi jenis rusa timor (Cervus timorensis) menjadi 8
subspesies (anak jenis), yaitu:
Cervus timorensis russa (Mul.&Schl., 1844) biasa ditemukan di Pulau
Jawa
Cervus timorensis florensis (Heude, 1896) biasa ditemukan Pulau Lombok
dan Pulau Flores
Cervus timorensis timorensis (Martens, 1936) biasa ditemukan P. Timor,
P. Rate, P. Semau, P. Kambing, P. Alor, dan P. Pantai
Cervus timorensis djonga (Bemmel, 1949) biasa ditemukan P. Muna dan
P. Buton
Cervus timorensis molucensis (Q.&G.,1896) biasa ditemukan Kep.
Maluku, P. Halmahera, P. Banda, dan P. Seram
Cervus timorensis macassaricus (Heude, 1896) biasa ditemukan P.
Sulawesi
Cervus timorensis renschi (Sody, 1933)
Cervus timorensis laronesietes (Bemmel, 1949)
Ciri-ciri Fisik dan Perilaku.
Ciri-ciri Fisik dan Perilaku Rusa timor (Cervus timorensis) yang
ditetapkan menjadi fauna identitas NTB, mempunyai bulu berwarna coklat
kemerah-merahan hingga abu-abu kecoklatan dengan bagian bawah perut dan
ekor berwarna putih. Rusa timor dewasa mempunyai panjang badan berkisar
antara 195-210 cm dengan tinggi badan mencapai antara 91-110 cm dan Panjang
badan dengan kepala kira-kira 120 130 cm, panjang ekor 10 30 cm.. Rusa
timor (Cervus timorensis) mempunyai berat badan antara 103-115 kg walaupun
rusa timor yang berada dipenangkaran mampu memiliki bobot sekitar 140 kg.
Ukuran rusa timor ini meskipun kalah besar dari sambar (Cervus unicolor) namun
RIZKY HERMAWAN 200110110090
dibandingkan dengan rusa jenis lainnya sepertirusa bawean, dan menjangan,
ukuran tubuh rusa timor lebih besar. Rusa jantan memiliki tanduk (ranggah) yang
bercabang, dengan ujung-ujungnya yang runcing , kasar dan beralur memanjang
dari pangkal hingga ke ujung ranggah. Panjang ranggah rata-rata 80 90 cm, tapi
ada yang mencapai 111,5 cm. Tanduk akan tumbuh pertama kali pada anak jantan
saat umur 8 bulan. Setelah dewasa, tanduk menjadi sempurna yang ditandai
dengan terdapatnya 3 ujung runcing.
Rusa timor (Cervus timorensis) merupakan hewan yang dapat aktif di
siang hari (diurnal) maupun di malam hari (nokturnal), tergantung kondisi
habitatnya. Rusa timor sebagaimana rusa lainnya termasuk hewan pemamah biak
yang menyukai daun-daunan dan berbagai macam buah-buahan Rusa memakan
berbagai bagian tumbuhan mulai dari pucuk, daun muda, daun tua, maupun
batang muda. Umumnya rusa timor bersifat poligamus yaitu satu penjantan akan
mengawini beberapa betina. Rusa betina mempunyai anak setiap tahun dengan
sekali musim rata-rata satu ekor anak. Rusa jantan bersifat agresif, sedangkan
betinanya tidak. Rusa jantan akan berebut pasangan dengan pejantan lain saat
musim kawin dengan mengadu tanduk mereka. Yang terkuatlah yang akan
mendapatkan betina dan kawin. Rusa menandai daerah teritorinya dengan
menggosok-gosokkan tanduk atau badannya pada pohon, terkadang mereka juga
mengencingi suatu pohon untuk menandai batas teritorinya.

Reproduksi
Pada musim kawin, perilaku rusa banyak mengalami perubahan. Pada awal
musim kawin, rusa menjadi gelisah dan peka terhadap kedatangan mahluk asing
di lingkungannya. Rusa jantan lebih peka terhadap kedatangan pejantan lain dan
menantang pejantan lain untuk berkelahi dalam rangka memperebutkan atau
mempertahankan betina. Meskipun hidup bersama dalam satu kelompok, setiap
rusa mengikuti siklus seksualnya masing-masing. Berdasarkan beberapa hasil
RIZKY HERMAWAN 200110110090
penelitian, terdapat kaitan erat antara musim birahi dengan terlepasnya tanduk-
tanduk/ranggah rusa. Rusa betina pada musim kawin akan mondar-mandir dari
daerah teritori pejantan satu ke daerah teritori pejantan yang lain untuk memilih
pejantan, dan akhirnya menetap pada daerah teritori pejantan yang dipilihnya
sampai terjadi perkawinan. Pada umumnya kopulasi terjadi pada malam hari.
Masa reproduksi rusa dimulai dari umur 1,5 tahun sampai 12 tahun, rusa
dapat bertahan hidup antara umur 15- 20 tahun. Anak rusa umur 4 bulan dapat
mencapai bobot badan 17,35 kg untuk jantan dan 16,15 kg betina. Pada umur satu
sampai dua tahun rusa sudah bereproduksi, dengan lama bunting antara 7,5 bulan
sampai 8,3 bulan. Bila ditangani secara intensif, satu bulan setelah melahirkan
rusa sudah dapat bunting lagi terutama bila dilakukan penyapihan dini dengan
anak yang dilahirkan, umur sapih anak rusa secara alami yaitu 4 bulan. Setiap
tahun rusa dapat menghasilkan anak, biasanya anak yang dilahirkan hanya satu
ekor.
Musim kawin rusa timor terjadi pada bulan Juli-September dengan jumlah
anakan 1-2. Masa kehamilan (gestasi) berlangsung selama 8 bulan. Induk betina
akan menyapih anaknya setelah berumur 6-8 bulan. Rusa betina dan jantan
memasuki masa kematangan secara seksual dan siap kawin pada umur 18-24
bulan.

Sifat Kualitatif Rusa Timor
Sifat kualitatif lebih banyak diatur atau ditentukan oleh genotype individu.
Pada rusa timor sifat kualitatif yang dapat dilihat dengan jelas adalah warna bulu,
warna kulit, pola warna, bentuk kepala, bentuk badan dan bentuk tanduk.Warna
kulit rusa timor coklat kemerah-merahan sampai coklat gelap. Warna di bagian
perut lebih terang dari pada di bagian punggungnya. Bila dibandingkan denga
warna rusa sambar yang coklat kehitaman. Bentuk kepala lebih cekung
dibandingkan dengan rusa sambar. Bentuk badan dan tanduk lebih kecil daripada
RIZKY HERMAWAN 200110110090
rusa sambar. Berdasarkan penelitian Thohari et al. (1993),dari hasil analisis
polimorfisme protein darah yaitu pada lokus transferin,post albumin dan
haemoglobin dapat digunakan sebagai indicator mengidentifikasi perbedaan
genetic diantara rusa timor, rusa sambar dan rusa bawean. Lokus post albumin
dianggap dapat dijadikan sebagai gen penanda untuk mengidentifikasi
karakteristik ketiga jenis rusa tersebut. Perkembangan ukuran tanduk dapat
digunakan untuk menduga umur rusa . Tanduk pertama kali tumbuh pada umur
kira-kira 1 tahun yang terdiri atas tanduk tunggal. Tanduk rusa timor besar,
langsing dan panjang. Velvet dan tanduk rusa timor merupakan salah satu sifat
kualitatif yang mempunyai nilai ekonomik tinggi.
Table 1 : Perkembangan Tanduk Rusa Jantan
Umur (bulan) Keadaan
4 6
7 9
13 15
24
30
84
108
Mulai nampak ada yang menonjol
Tanduk tumbuh/muncul ke luar
Tanduk tunggal tumbuh sempurna (20-30 cm)
Tanduk mempunyai 2 cabang
Tanduk mempunyai 3 cabang
Perkembangan tanduk sempurna (panjang 80 90 cm)
Jarak diantara cabang tanduk bertambah lebar

Sifat Kuantitatif Rusa Timor
Sifat-sifat kuantitatif yang dapat diukur pada rusa timor antara lain
panjang badan, tinggi badan, lingkar dada, lebar dada, dalam dada, panjang
kepala, panjang ekor dan lainnya. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa
lingkar dada, tinggi pinggul, panjang badan dan tinggi badan memberikan
kontribusi pada ukuran tubuh rusa. Secara umum dari hasil pengukuran tubuh
terhadap rusa timor, rusa sambar dan rusa bawean menunjukkan bahwa rusa
sambar relative lebih besar dari rusa timor kemudian rusa bawean (Thohari et al.,
1993). Tubuh rusa jantan lebih besar dibandingkan dengan tubuh rusa betina.
Semakin tinggi panjang pinggul dan panjang femur maka skor bentuk tubuh yang
RIZKY HERMAWAN 200110110090
diperoleh semakin tinggi. Hal yang sangat mempengaruhi keadaan sifat kuantitatif
rusa disini adalah keadaan lingkungan. Keadaan morfologi rusa sangat
dipengaruh oleh keadaan atau habitat dimana dia tinggal.

Daging rusa (venison) mempunyai persentase karkas 58 % (sapi 41 % dan
domba 43 %). Komposis energi yang dihasilkan dari lemak daging pada rusa 22
% (sapi 33 % dan domba 35-47 %), energi daging mencapai 628 jouls / 100 g.
Kandungan protein daging 21 % (tetap dengan bertambahnya umur) dan 40 %
dari bagian karkas belakang (3/4 bagian karkas belakang mempunyai harga
tinggi).

Tingkah Laku Rusa Timor ( Cervus Timorensis )
Tingkah laku hewan adalah ekspresi suatu hewan yang ditimbulkan oleh
semua faktor yang mempengaruhinya, baik faktor dari dalam maupun dari luar
yang berasal dari lingkungannya . Untuk praktisnya, tingkah laku dapat diartikan
sebagai gerak-gerik organisme. Sehingga perilaku merupakan perubahan gerak
termasuk perubahan dari bergerak menjadi tidak bergerak sama sekali atau
membeku, dan perilaku hewan merupakan gerak-gerik hewan sebagai respon
terhadap rangsangan dalam tubuhnya dengan memanfaatkan kondisi
lingkungannya.
Berbagai macam tingkah laku rusa timor yang telah diamati oleh peneliti-
peneliti, baik tingkah laku harian maupun tingkah laku reproduksi. Tingkah laku
seksual pada hewan, yang tidak saling memilih pasangannya, akan
menguntungkan proses domestikasi suatu jenis, juga akan menguntungkan
program pemuliaan yang menggunakan beberapa keturunannya yang terbatas.
Jantan ruminansia akan agresif selama musim kawin. Sifat jantan untuk
mengawini betina dan keberhasilan terjadinya perkawinan, tergantung pada: a)
RIZKY HERMAWAN 200110110090
tingkat agresifitas yang terjadi pada jantan, b) daya tarik yang terjadi di antara
jantan dan betina yang sedang berahi, c) tahapan interaksi tingkah laku sebagai
hasil dari kesediaan betina untuk kawin (mating) yang ditunjukkan dengan posisi
tubuhnya untuk dapat dikawini dan d) reaksi pejantan untuk menaiki betina untuk
copulas.
Tingkah laku reproduksi sangat penting diketahui agar dapat mengembang
serta meningkatkan produktifitas populasi rusa timor. Rusa timor memiliki
tingkah laku memilih shelter (tempat berlindung) yang memiliki ketersediaan
sumber pakan dan minum,serta tersedianya naungan yang jauh dari gangguan
manusia. Rusa timor memiliki kebiasaan hidup berkelompok. Kebiasaan lain dari
rusa timor ini adalah membuang kotoran (feses) bersamaan dengan
mengkonsumsi pakan.Untuk tingkah laku reproduksi rusa timor dimulai dari
mating ratio, jumlah rusa timor pejantan tiap kelompok berjumlah 1 : 5 dan
memiliki sifat superior pejantan yang menjadi pemimpin dalam kelompok.
Tingkah laku reproduksi pada betina diawali dengan tingkah laku berahi. Saat
rusa timor betina berahi lebih sering menyendiri, nafsu makan menurun, dan
relatif diam saat didekati pejantan. Berahi rusa timor dipengaruhi oleh kondisi
lingkungan. Musim hujan dengan pakan yang melimpah akan meningkatkan
kuantitas dan kualitas berahi betina.
Berbeda dengan betina, tingkah laku reproduksi pejantan apabila sedang
libido, pejantan mengitari rombongan betina untuk mencari betina yang sedang
berahi, apabila pada saat tersebut ada lebih dari satu pejantan yang libido, maka
akan terjadi pertarungan. Hal ini dibuktikan oleh peneliti Daud Samsudewa,2006,
bahwa ditemukan beberapa potongan tanduk dishelter rusa, sebagai bukti telah
terjadinya pertarungan antar sesama pejantan. Libido rusa timor (Cervus
timorensis) jantan dipengaruhi oleh ukuran tanduk. Jika pejantan dalam kondisi
tanggalnya ranggah, maka pejantan tidak berani mendekati betina rusa timor
(Cervus timorensis). Tanggalnya ranggah menyebabkan penurunan libido jantan
pada rusa timor (Cervus timorensis).
RIZKY HERMAWAN 200110110090
Tingkah Laku Bercumbu
Rusa timor (Cervus timorensis), baik pejantan maupun betina sebelum
terjadinya perkawinan, rusa timor betina dan pejantan memiliki tingkah laku
percumbuan. Tingkah laku percumbuan terdiri dari Snifing (berteriak memanggil
pasangan), Flehmen(mengendus-endus), Kissing (menciumi tubuh pasangan),
kicking dan Nuding (menjilat dan menyepak pasangan). Tingkah laku
percumbuan tersebut dilakukan secara berurutan selama 308 menit, 71,5 menit,
30,8 menit, 10,1menit. Tahapan terakhir tingkah laku reproduksi rusa timor
(Cervus timorensis) tingkah laku coitus. Coitus pada rusa timor diawali dari
proses mounthing (pejantan menaiki betina), dilanjutkan dengan penetrasi alat
reproduksi jantan kealat reproduksi betina. Mounthing dilakukan oleh pejantan
rusa timor pada saat perkawinan dilakukan sebanyak tiga kali sebelum terjadi
coitus.
Pada pejantan, tingkah laku mencium/mengendus (Flehmen), dan menjilat
(kicking) merupakan pola tingkah laku reproduksi mencumbu yang paling sering
dilakukan. Hal ini merupakan salah satu fungsi yang sangat penting sebagai
komunikasi secara kimiawi ( chemical communication) melalui indra penciuman.
Tingkah laku rusa timor betina pada saat bercumbu dengan rusa jantan, lebih
bersifat pasif, dalam arti kata membiarkan dicumbu oleh rusa jantan, hal ini hanya
terjadi pada saat fase estrus. Namun sering juga sebaliknya, yang mencumbu yaitu
rusa timor betina, dengan cara menggesek-gesekan kepalanya pada leher rusa
jantan, kemudian menjilati bulu jantan disekitar perut yang menyebabkan penis
jantan menjadi ereksi. Ereksi pejantan ditandai dengan keluarnya gland penis dari
preputium.
Tingkah Laku Reproduksi Saat kawin
Perkawinan terjadi setelah proses mencumbu. Tingkah laku reproduksi
pejantan saat kawin dengan usaha menaiki (mounting) rusa timor betina, dengan
cata menaiki punggung betina dari arah samping dengan kaki depannya, dagunya
RIZKY HERMAWAN 200110110090
diletakkan diatas punggung betina, kemudian intromission dan akhirnya ejakulasi,
yang berlangsung singkat antara 2-3 detik. Waktu yang diperlukan dari mulai
menaiki betina sampai terjadinya ejakulasi berlangsung selama 2-3 menit. Setelah
ejakulasi rusa timor jantan turun dari punggung betina.
Rusa timor (Cervus Timorensis) betina siap untuk kawin ( mating), setelah
terangsang seksual. Tingkah laku rusa betina pada saat kawin yaitu dengan berdiri
tegak, bagian belakang pantat agak direndahkan, dan membiarkan dirinya dinaiki
oleh pejantan. rusa betina yang masih muda dan dalam keadaan berahi, umumnya
agak takut untuk dikawini rusa pejantan. Hal ini dibuktikan pada saat jantan
berusaha mendekat untuk mengawini rusa betina muda, rusa betina sering kali
berlari cepat bahkan seringkali merebahkan dirinya ketanah, kemudian rusa jantan
akan mendorongnya untuk bangun. Sedangkan rusa betina dewasa dan telah
beranak, pada umumnya lebih tenang menghadapi rusa jantan. Rusa betina muda
memiliki pola kurang sempurna, pada respon perkawinan dan tidak mencari
pejantan.Hal lain yang perlu diketahui mengenai tingkah laku rusa timor selain
tingkah laku reproduksinya adalah tingkah laku keseharian rusa timor (Cervus
timorensis). Adapun tingkah laku harian rusa meliputi, tingkah laku makan dan
minum (Ingesti), investigative, grooming (membersihkan diri), bergerak
(movement) serta tingkah laku sosial.
Tingkah Laku Makan (Ingestive)
Secara umum baik rusa timor jantan maupun betina melakukan aktivitas
ingestive (makan-minum) lebih banyak pada pagi dan sore hari, sedangkan pada
siang hari lebih banyak waktu digunakan untuk istirahat. Secara relatif ada
perbedaan alokasi waktu yang digunakan untuk aktivitas harian diantara rusa
jantan dan betina. Untuk aktivitas makan, terlihat rusa betina relatif menggunakan
waktu lebih lama dibanding rusa jantan baik pagi maupun sore hari, begitu pula
untuk aktivitas lainnya.
RIZKY HERMAWAN 200110110090
Pada waktu merumput ini rusa akan lebih memilih hijauan yang paling
disukai disekitar areal tempat habitat rusa sampai batas tertentu, kemudian akan
kembali ketempat semula memilih jenis hijauan lainya. Rusa timor menyukai
hijauan berdaun lunak dan basah serta bagian yang muda seperti jenis legum dan
rumput-rumputan. Saat merumput terdapat rusa yang menjadi ketua rombongan
yaitu betina tua. Hal ini dikarenakan rusa betian lebih tanggap dalam memilih
rumput. Betina juga lebih tanggap terhadap bahaya luar dengan memberi tanda
atau isyarat kepada anggotanya dengan mengeluarkan suara atau berhenti sejenak
merumput. Jika telah aman betina akan menuntun kembali dalam merumput.
Tingkah Laku Sosial
Pada kondisi alam rusa timor merupakan hewan yang hidup berkelompok,
aktif pada siang dan malam hari. Jumlah kelompok rusa dapat mencapai ratusan
ekor apabila musim kawin. Rusa timor sangat sensitive pada keadaan. Tingkah
laku investigative merupakan tingkah laku waspada terhadap gangguan yang
mencurigakan, ditandai dengan menegakkan kepala tanpa bersuara serta
memandang lurus kesatu arah yang dianggap berbahaya. Rusa betina lebih
tanggap terhadap bahaya dan memberikan isyarat pada lainnya . Tingkah laku
sosial rusa timor lainnya adalah sulitnya mendekati rusa jantan apabila ranggah
sudah matang. Dalam hal ini rusa jantan menjadi lebih galak dan liar, jika didekati
selalu ingin menyerang. Pada musim kawin rusa liar akan bergabung dengan rusa
yang dipelihara. Rusa jantan akan beriringan dengan betina serta mengelilingi
betina. Untuk mendapatkan betina, rusa jantan berkelahi sampai muncul
pemenang, dan yang lemah akan tersingkir. Perkelahian berlangsung 3 jam,
tergantung banyaknya saingan. Setelah perkawinan selesai, maka rusa-rusa
tersebut akan berkumpul dan bermain seperti semula.
Tingkah Laku Harian Lainnya
Aktivitas istirahat biasanya dilakukan sebagai aktivitas yang menyelingi
aktivitas makan, yang dilakukan dengan berbaring di bawah pohon, semak atau
RIZKY HERMAWAN 200110110090
hutan sambil memamahbiak. Aktivitas ini juga dilakukan untuk berteduh dan
berlindung dari teriknya sinar matahari pada siang hari, untuk menjaga kestabilan
suhu tubuh. Aktivitas bergerak (movement) biasa dilakukan rusa untuk berpindah
dari satu tempat ke tempat lain, umumnya dari satu areal vegetasi ke areal
vegetasi lainnya untuk mencari makan, atau untuk mencari tempat berlindung
yang lebih aman akibat ada gangguan. Aktivitas membersihkan diri (grooming)
biasanya dilakukan antar induk betina dengan anak rusa, antara jantan dengan
betina atau bahkan dilakukannya sendiri disela-sela aktivitas makan dan istirahat.
Grooming biasa dilakukan rusa dengan cara menjilat-jilat bagian tubuhnya untuk
menghilangkan kotoran yang melekat di bagian tubuhnya.

Habitat Rusa Timor
Habitat dan Persebaran. Rusa timor diperkirakan berasal dari pulau Jawa
dan Bali yang kemudian tersebar ke berbagai wilayah di Indonesia. Bahkan telah
diintroduksi juga ke berbagai negara seperti Australia, Mauritius, Kaledonia,
Selandia Baru, Papua Nugini, dan Timor Leste. Habitat rusa timor berupa hutan,
dataran terbuka serta padang rumput pada daerah beriklim tropis dan subtropis
dan savanna. namun binatang ini mampu beradaptasi di habitat yang berupa
hutan, pegunungan, dan rawa-rawa. Rusa timor diketemukan di dataran rendah
hingga pada ketinggian 2600 m di atas permukaan laut (Direktorat PPA, 1978).
Padang rumput dan daerah-daerah terbuka merupakan tempat mencari makan,
sedangkan hutan dan semak belukar merupakan tempat berlindung. Salah satu
tempat berlindung yang disukai oleh rusa timor (Cervus timorensis) adalah
semak-semak yang didominasi oleh kirinyuh (Eupatorium spp.), saliara (Lantana
camara), gelagah (Saccarum spontaneum) dan alang-alang (Imperata cylindrica).
Rusa timor termasuk satwa yang mudah beradaptasi dengan lingkungan
yang kering bila dibandingkan dengan jenis rusa yang lain, karena ketergantungan
terhadap ketersediaan air relatif lebih kecil. Dengan kemampuan adaptasi yang
RIZKY HERMAWAN 200110110090
baik ini rusa timor mampu berkembangbiak dengan baik di daerah-daerah
meskipun bukan habitat aslinya.

Populasi dan Konservasi
Populasi dan Konservasi. Populasi rusa timor secara keseluruhan
diperkirakan sekitar 10.000 hingga 20.000 ekor dewasa. Berdasarkan jumlah
populasi dan persebarannya, rusa timor dimasukkan dalam status konservasi
vulnerable (Rentan) oleh IUCN Red List. Populasi rusa timor terbesar terdapat
di TN. Wasur, Papua dengan populasi sekitar 8.000 ekor (1992). Populasi di Jawa
justru megalami pengurangan yang sangat besar. Seperti di TN. Baluran sekitar
1.000 ekor (2008).
Ancaman utama terhadap rusa timor berasal dari perburuan yang
dilakukan oleh manusia untuk mengambil dagingnya. Penurunan populasi juga
diakibatkan oleh berkurangnya lahan dan padang penggembalaan (padang
rumput) di Taman Nasional yang menjadi habitat rusa timor. Hilangnya padang
rumput ini ada yang diakibatkan oleh konversi menjadi lahan pertanian dan
pemikiman juga oleh kesalahan pengelolaan seperti penanaman pohon
Pengelolahan satwa liar merupakan bagian dari upaya konservasi
satwaliar. Untuk menjaga kelestarian populasi rusa maka diperlukan pengelolaan
yang baik agar usaha-usaha pemanfaatan hasil tersebut dapat tetap berlangsung.
Untuk menghindari kepunahan dan sekaligus memanfaatkan rusa secara optimal
dan berkelanjutan dapat dilakukan melalui penangkaran (konservasi ex-situ)
dengan sistim ranch. Penangkaran rusa mempunyai prospek karena rusa mudah
beradaptasi dengan lingkungan di luar habitat alaminya, mempunyai tingkat
produksi dan reproduksi yang tinggi. Dalam pembangunan penangkaran ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu komponen habitat yang terdiri dari
pakan, air, naungan (cover), dan ruang. Usaha penangkaran dilakukan untuk
menghindari kepunahan dan dalam rangka memanfaatkan satwa liar secara
RIZKY HERMAWAN 200110110090
optimal berazaskan kelestarian, karena dalam penangkaran kehidupan satwa liar
dikendalikan sebaik mungkin.

Status Konservasi dan Perlindungan
Rusa (Cervus spp) merupakan hewan yang dilindungi menurut undang-
undang Ordonansi dan Peraturan Perlindungan Binatang Liar tahun 1931 No. 134
dan 266. Untuk mempertahankan dan meningkatkan mutu suatu rumpun ternak
maka sebelumnya telah terbit UU RI Nomor 6 Tahun 1967 pada pasal 13.
Selanjutnya SK Menteri Pertanian No 362/KPTS/TN/12/V/1990 pada tanggal 20
Mei 1990, memasukkan rusa ke dalam kelompok aneka ternak yang dapat
dibudidayakan seperti ternak lainnya, termasuk di dalamnya mengatur tentang
peraturan ijin usaha. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 7 Tahun 1999
tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, pada tanggal 27 Januari 1999
memasukkan semua jenis dan genus Cervus kedalam Lampiran Jenis-jenis
Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Selain itu Rusa termasuk hewan dalam
kategori terancam punah dalam daftar Appendix I CITES, sehingga keberadaanya
harus dijaga dan tidak dibenarkan melakukan perburuan apalagi memperjual
belikan dagingnya. Dalam kaitannya sebagai satwa liar, rusa timor keberadaanya
juga diatur dalam UU RI nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya
Alam Hayati dan Ekosistemnya. Peraturan Menteri Pertanian nomor
35/Permentan/OT.140/8/2006 tentang Pedoman Pelestarian dan Pemanfaatan
Sumber Daya Genetik Ternak. Dan yang terakhir sebagai pengganti UU RI
nomor 6 Tahun 1967, adalah dikeluarkannya UU RI nomor 18 Tahun 2009
tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. Pada bab III, pasal 9 ayat 3 tentang
Sumber daya genetic asal satwa liar.


RIZKY HERMAWAN 200110110090
Sumber :
http://mohridwanderwotubun.blogspot.com/2013/04/rusa-timor-cervus-
timorensis_15.html
http://gembiralokazoo.com/collection/rusa-timor.html
http://duniatani.wordpress.com/rusa
http://rusaindonesia.blogspot.com