Anda di halaman 1dari 35

TUGAS

ANALSIS TOKSIKOLOGI FORENSIK DAN KLINIK



Determination of Chronic Abuse of The Anaesthetic Agents Midazolam
and Propofol as Demonstrated by Hair Analysis





OLEH:

Putu Wida Kawistari (1008505006)
Putu Hediarta Widiana Putra (1008505080)
Putu Yudha Ugrasena (1008505082)







JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2013
1

Determination of Chronic Abuse of The Anaesthetic Agents Midazolam
and Propofol as Demonstrated by Hair Analysis

I. Kasus
Seorang perawat wanita di departemen anestesiologi berumur 44 tahun
ditemukan tewas di rumahnya. Pada kasus ini, ditemukan sebuah botol kosong
Hypnovel (midazolam 5 mg/5 mL) dan jarum suntik di dekat mayat. Pada tubuh
korban tidak menunjukkan adanya tanda-tanda kekerasan, tetapi terdapat beberapa
bekas jarum pada lengan dan kongesti paru pada saat otopsi. Darah femoral dan
berbagai jenis rambut dikumpulkan untuk investigasi toksikologi. Helaian rambut
di kepala (panjang 6 cm) dipotong sedekat mungkin dengan kulit menggunakan
gunting kecil pada bagian posterior vertex dan disimpan dalam tabung plastik
kering pada suhu kamar. Tidak ada penggunaan kosmetik yang diaplikasikan ke
rambut (misalnya pengeritingan, bleaching, dying hair, dll). Sampel rambut ketiak
dan kemaluan juga dipotong sedekat mungkin dengan kulit menggunakan gunting
kecil dan disimpan dalam tabung kering pada suhu kamar. Warna untuk semua
spesimen rambut adalah coklat (Cirimele et al., 2002).

II. Tujuan Analisis
Untuk analisis agen anestesi dalam sampel rambut yaitu midazolam dengan
metode GC-MS mode ionisasi kimia negatif (NCI) dan propofol dengan metode
HS-GC/MS yang sensitif dan spesifik dalam menyelesaikan kasus forensik.

III. Tujuan Aspek Forensik
Untuk membuktikan adanya penyalahgunaan senyawa midazolam dan
propofol yang terdapat pada sampel rambut perawat wanita yang tewas di
rumahnya.

IV. Aspek Forensik
Dewasa ini dalam penyidikan suatu tindak kriminal merupakan suatu
keharusan menerapkan pembuktian dan pemeriksaan bukti fisik secara ilmiah.
2

Sehingga diharapkan tujuan dari hukum acara pidana, yang menjadi landasan
proses peradilan pidana, dapat tercapai yaitu mencari kebenaran materiil. Tujuan
ini tertuang dalam Keputusan Menteri Kehakiman No.M.01.PW.07.03 tahun 1983
yaitu: untuk mencari dan mendapatkan atau setidaktidaknya mendekati
kebanaran materiil, ialah kebenaran yang selengkap-lengkapnya dari suatu
perkara pidana dengan menerapkan ketentuan hukum acara pidana secara jujur
dan tepat dengan tujuan untuk mencari siapakah pelaku yang dapat didakwakan
melakukan suatu pelanggaran hukum, dan selanjutnya meminta pemeriksaan dan
putusan dari pengadilan guna menemukan apakah terbukti bahwa suatu tindak
pidana telah dilakukan dan apakah orang yang didakwa itu dapat dipersalahkan.
Berbagai macam bidang ilmu forensik dapat diterapkan untuk menjelaskan kasus
ini. Toksikologi forensik mencangkup terapan ilmu alam dalam analisis racun
sebagi bukti dalam tindak kriminal. Toksikologi forensik merupakan gabungan
antara kimia analisis dan prinsip dasar toksikologi. Bidang kerja toksikologi
forensik meliputi:
- Analisis dan mengevaluasi racun penyebab kematian,
- Analisis ada/tidaknya alkohol, obat terlarang di dalam cairan tubuh atau
napas, yang dapat mengakibatkan perubahan prilaku (menurunnya
kemampuan mengendarai kendaraan bermotor di jalan raya, tindak kekerasan
dan kejahatan, penggunaan dooping),
- Analisis obat terlarang di darah dan urin pada kasus penyalahgunaan
narkotika dan obat terlarang lainnya.
(Wirasuta, 2008)
Baik darah maupun cairan tubuh lainnya paling sering digunakan/diterima
sebagai bukti fisik dalam tindak kejahatan. Seperti pada kasus keracunan, dalam
pembuktian dugaan tersebut, seorang dokter kehakiman bekerjasama dengan
toksikolog forensik untuk melakukan penyidikan. Dalam hal ini barang bukti yang
paling sahih adalah darah dan/atau cairan tubuh lainnya. Toksikolog forensik akan
melakukan analisis toksikologi terhadap sampel biologi tersebut, mencari
senyawa racun yang diduga terlibat. Berdasarkan temuan dari dokter kehakiman
selama otopsi jenasah dan hasil analisisnya, toksikolog forensik akan
3

menginterpretasikan hasil temuannya dan membuat kesimpulan keterlibatan racun
dalam tindak kejahatan yang dituduhkan (Wirasuta, 2008).
Tetapi dalam kasus ini, konsentrasi senyawa midazolam dan propofol dalam
darah tidak memenuhi untuk menimbulkan efek toksisitas. Sehingga dicurigai
bahwa korban telah menyalahgunakan agen anestesi dalam jangka panjang. Untuk
mengetahui riwayat penggunaan obat yang kronis, sampel biologi yang dapat
digunakan adalah rambut. Salah satu keuntungan dasar menggunakan rambut
adalah bahwa informasi itu terus terjebak ke dalamnya untuk waktu yang lama.
Hal ini disebabkan mekanisme penyerapan dan perangkap yang ada di rambut dan
terutama melalui sistem peredaran darah di folikel rambut. Substansi terjebak
selama keratinisasi pembentukan sel baru. Kelenjar keringat dan sebasea juga
memainkan peran mendasar dalam proses pengendapan obat di rambut. Obat yang
larut dalam air diekskresikan ke keringat dan sebum dan dapat dimasukkan
setelah rambut muncul dari permukaan kepala. Keuntungan lain dari penggunaan
rambut adalah sampel rambut memiliki potensi yang rendah untuk mengalami
kerusakan (adulteration) dibandingkan sampel urin. Jadi, apabila hasil analisis
dipertanyakan keabsahannya di pengadilan, maka dilakukan analisis ulang dengan
mengambil sampel rambut baru dari tersangka (Tsatsakis and Tzatzarakis, 2000).
Dalam kasus ini, peran ilmu forensik digunakan untuk mengetahui kasus ini
termasuk tindak kriminal sebagai masalah hukum atau termasuk tindak kriminal
masalah teknis. Korban dicurigai telah lama melakukan penyalahgunaan terhadap
agen anestesi midazolam dan propofol dimana midazolam juga merupakan obat
psikotropika golongan IV. Dengan bantuan ilmu forensik, dapat disimpulkan
penyebabnya adalah bunuh diri. Oleh sebab itu penyidik tidak perlu melakukan
penyidikan selanjutnya guna mencari siapa pelaku dari peristiwa tersebut, karena
kematian diakibatkan oleh perbuatannya sendiri.

V. Uraian Masalah
5.1. Masalah Forensik
Ditemukan sebuah botol kosong Hypnovel (midazolam 5 mg/5 mL) dan
jarum suntik di dekat mayat, serta tidak ditemukannya tanda-tanda
4

kekerasan pada tubuh korban, sehingga diduga perawat tersebut meninggal
akibat penyalahgunaan midazolam dan propofol.
Apakah kasus tersebut termasuk tindak kriminal sebagai masalah hukum
atau tindak kriminal sebagai masalah teknis?

5.2. Masalah Analisis
Sampel biologis yang paling banyak digunakan dalam analisis toksikologi
adalah berupa urin dan plasma. Namun, eliminasi obat dalam sampel
tersebut terjadi dalam beberapa hari saja, sehingga untuk mengetahui
tepatnya tingkat toksisitas pasien, biasanya diperlukan analisis toksikan
yang berulang baik dari darah maupun urin, sehingga dalam kasus ini
digunakan sampel rambut.
Diperlukan suatu metode analisis yang cepat, sensitif, dan spesifik dalam
penentuan midazolam dan propofol pada sampel rambut.

VI. Penelusuran Pustaka
6.1. Midazolam
Midazolam, yang juga dikenal sebagai Hypnovel, merupakan water soluble
benzodiazepine yang terikat dalam albumin plasma. Midazolam termasuk
psikotropika golongan IV yang pertama kali dibuat tahun 1976 oleh Fryer dan
Walser. Tujuan pemberian utamanya adalah sebagai obat penenang atau hipnotis
serta digunakan dalam prosedur medis dan bedah. Midazolam mempunyai afinitas
yang lebih besar terhadap reseptor benzodiazepin jika dibandingkan dengan
diazepam. Paparan midazolam terhadap pH darah juga mengubah strukturnya dari
water-soluble menjadi lipid-soluble yang mampu melewati sawar darah otak
untuk meningkatkan akses menuju sistem saraf pusat.

5


Gambar 6.1. Rumus Bangun Midazolam (Moffat et al., 2005)

Rumus molekul : C
18
H
13
ClFN
3

Berat molekul : 325,8 g/mol
Pemerian : Kristal tidak berwarna
Kelarutan : Larut dalam air
Titik leleh : 158-160
0
C
pKa : 6,2
Koefisien partisi : Log P (oktanol/air) 4,3
(Moffat et al., 2005)




Gambar 6.2. Spektrum Massa Midazolam (Moffat et al., 2005)

6.2. Propofol
Propofol merupakan derivat fenol yang banyak digunakan sebagai anastesia
intravena dan lebih dikenal dengan nama dagang Diprivan. Pertama kali
digunakan dalam praktek anestesi pada tahun 1977 sebagai obat induksi. Propofol
6

digunakan untuk induksi dan pemeliharaan dalam anastesia umum, pada pasien
dewasa dan pasien anak anak usia lebih dari 3 tahun. Dengan .menggunakan
propofol, maka didapatkan kesadaran yang lebih cepat kembali dengan
efek residul yang minimum pada sistem saraf pusat jika dibandingkan dengan
obat induksi lainnya (Mangku, 2002).
Propofol mengandung lecitin, glycerol dan minyak soybean, sedangkan
pertumbuhan kuman dihambat oleh adanya asam etilendiamintetraasetat atau
sulfat, hal tersebut sangat tergantung pada pabrik pembuat obatnya. Obat ini
dikemas dalam cairan emulsi lemak berwarna putih susu bersifat isotonik dengan
kepekatan 1 % (1 ml = 10 mg).


Gambar 6.3. Rumus Bangun Propofol (Moffat et al., 2005)

Rumus molekul : C
12
H
18
O
Berat molekul : 178,3 g/mol
Kelarutan : Sangat sukar larut dalam air
Titik leleh : 19
0
C
pKa : 11,1
Koefisien partisi : Log P (oktanol/air) 3,79
(Moffat et al., 2005)

6.3. Preparasi Sampel Biologis (Rambut)
Pada sekitar tahun 1960 dan 1970 an, analisis rambut digunakan untuk
mengevaluasi logam berat yang toksik seperti arsen, timah, dan raksa.
Pemeriksaan dilakukan dengan metode atomic absorption spectroscopy yang
mapu mendeteksi keberadaan senyawa-senyawa tersebut dengan limit nanogram.
Akan tetapi, pada tahun tersebut pemeriksaan rambut untuk bahan bahan
7

organik terutama obat, tidak dapat dilakukan karena metode analitis belum cukup
sensitif. Setelah 10 tahun, maka dikembangkan RIA (radioimmunoassay) dimana
obat yag telah ditandai dengan radioisotop membuktikan adanya deposit dari
darah ke rambut. Baumgartner et al (1979) mempublikasikan penelitiannya
tentang hubungan konsentrasi morfin dalam rambut dengan waktu penggunaannya
menggunakan metode RIA. Sekarang, metode GC-MS adalah metode yang dipilih
untuk analisis rambut.
Keuntungan tes rambut dibandingkan dengan urine atau darah adalah
mempunyai jendela pengamatan yang besar (minggu ke bulan, tergantung dari
panjang batang rambut, 2-4 hari untuk obat dalam urine dan darah) serta mampu
membedakan antara chronic use atau single exposure. Biasanya analisis rambut
disertai juga dengan analisis urin atau darah. Analisis rambut digunakan untuk
mengetahui data jangka panjang sedangkan analisis urin atau darah untuk
informasi jangka pendek.
Prosedur pengambilan rambut untuk analisis belum terstandarisasi. Pada
beberapa studi, sampel diambil secara acak dari kulit kepala. Rambut lebih baik
diambil dari baian belakang kepala (vertex posterioir) karena dibandingkan
dengan baigan kepala yang lain, daerah ini memiliki beberapa alas an antara lain
keragaman pertumbuhan rambut yang relative rendah, pengaruh umur dan jenis
kelamin tidak terlalu berpengaruh terhadap rambut di bagian ini, dan jumlah
rambut yang berada dalam tahap pertumbuhan relative konstan. Setelah diambil,
specimen disimpan dalam aluminium foil, dan dimasukkan ke dalam tube plastic
dengan suhu yang ambient. Jumlah sampel yang diambil tergantung dari obat
yang hendak dianalisis dan metode yang digunakan. Misalnya fentanyl
memerlukan 100 mg sampel.
Stabilitas obat dalam rambut : substansi organik mampu bertahan hingga
ratusan tahun dalam rambut dalam kondisi yang baik (kelembapan yang rendah,
temperatur kamar)
Efek penggunaan kosmetik : penggunaan bahan bahan kosmetik seperti
bleaching, permanent waving , pewarna, yang mengandung basa kuat dapat
berpengaruh terhadap konsentrasi awal obat dalam rambut. Setelah perlakuan
8

tersebut, diperkirakan sekitar 50-80% obat akan berkurang. Sehingga reagen
reagen tersebut mengakibatkan ketidakstabilan obat dalam rambut.
Adapun protokol dalam pengambilan sampel rambut menurut Flanagan et
al. (2007) adalah sebagai berikut:
Sampel idealnya diambil dari bagian vertex (mahkota) kepala dengan
menggunting kurang lebih 2 mm dari kulit kepala.
Ampel diambil sebanyak kurang lebih setebal pensil (100 200 helai)
Genggam rambut dengan kuat menggunakan jari dan ikat dengan benang katun
pada ujung akar sebelum digunting.
Gunting sampel sedekat mungkin dengan kulit kepala, pastikan gunting sejajar
dengan kulit kepala.
Sambil memegang sampel rambut, sampel diratakan dan ditempatkan dengan
hati-hati di atas aluminium foil, dengan bagian ujung akar rambut dibiakan di
luar auminium foil sepanjang 15 mm.
Tandai bagian ujung akar dan lipat aluminium foil di sekeliling rambut, lipat
lagi hingga sepanjang setengah panjang rambut.
Tempatkan dalam suatu amplop khusus.
Lengkapi dan tandatangani formulir permohonan dan pastikan donor juga
menandatangani formulir.

Gambar 6.4. Skema Pengambilan Sampel Rambut
9

Melarutkan obat yang ada dalam rambut diperlukan untuk menghindari
terjadinya kehilangan atau gangguan pada analit. Sampel rambut dapat
diserbukkan kemudian dilarutkan. Teknik preparasi yang dapat dilakukan adalah
sebagai berikut :
Inkubasi dalam larutan buffer dan analisis dengan metode RIA
Inkubasi dalam larutan asam atau basa disertai dengan ekstraksi cair- cair atau
ekstraksi fase padat (SPE) dan analisis dengan kromatografi, paling banyak
digunakan GC-MS
Inkubasi dalam pelarut organic (umumnya methanol dengan atau tanpa HCl),
ekstraksi cair- cair atau ekstraksi fase padat (SPE) dan analisis dengan
kromatografi, paling banyak digunakan GC-MS
Digesti dalam larutan enzimatik, Digestion in an enzymatic solution, ekstraksi
cair- cair atau ekstraksi fase padat (SPE) dan analisis dengan kromatografi,
paling banyak digunakan GC-MS
Inkubasi sampel rambut dalam NaOH menyebabkan matriks protein
terdegradasi. Parameter yang harus diperhatikan adalah molaritas NaOH, waktu,
dan suhu inkubasi. Hidrolisis dalam suasana alkali sesungguhnya kurang baik
untuk mengekstraksi komponen kimia yang kurang stabil, misalnya
benzodiazepine dan cocaine. Untuk senyawa morfin misalnya ekstraksi dari
rambut disarankan untuk menggunakan suasana asam,. Sampel diinkubasi dalam
HCl 0,1M pada suhu 45C atau 56C selama semalam atau HCl 0,6 M pada suhu
120C selama 30 menit.
Inkubasi dengan pelarut organic lebih sederhana. Sampel ditempatkan
dalam methanol atau etanol, kemudian pada ultrasound bath suhu 45C selama
beberapa jam. Analisis GC-MS dapat langsung digunakan sepanjang penguapan
fase organic. Untuk inkubasi dengan larutan enzimatik, beberapa contoh enzim
yang dipakai misalnya pronase solution, glucuronidase arylsulfatase, proteinase.
Pengembangan ekstraksi yang baru menggunakan ekstraksi cair dengan
kaabon dioksida. Penambahan zat polar seperti air,methanol, dan trietilamin
menambah nilai pada property ekstraksi. Ekstraksi dapat berlangsung 30 menit
sehingga lebih cepat.
10

6.4. Kromatografi Gas (GC)
6.4.1. Instrumentasi GC
Kromatografi gas merupakan metode analisis instrumental yang umum
digunakan. Metode ini dapat digunakan dalam analisis kualitatif dan kuantitatif
komponen dalam sampel. Kromatografi gas memisahkan komponen yang berbeda
yang terdapat di dalam sampel, sehingga memudahkan dalam identifikasi dan
pengukuran komponen tunggal pada sampel. Komponen dipisahkan berdasarkan
perbedaan volatilitas dan struktur dari komponen komponen tersebut. Secara
umum, instrumen kromatografi gas terdiri dari pengatur suplai dan aliran gas;
injektor, detektor, oven, kolom dan sistem data (Rood, 2007).
a. Pengatur Suplai dan Aliran Gas
Gas dengan kemurnian tinggi dialirkan dari tabung bertekanan tinggi.
Regulator tekanan dalam tabung akan mengatur jumlah gas yang dialirkan.
Gas yang alirannya tepat terkontrol yang dialirkan ke injektor disebut dengan
gas pembawa. Gas pembawa akan mengalir melewati injektor menuju kolom
hingga detektor (Rood, 2007).

Gambar 6.5. Diagram Alir Kromatografi Gas (Rood, 2007)

b. Injektor
Fungsi injektor untuk menghantarkan sampel ke dalam gas pembawa.
Penyuntikan sampel dapat dilakukan secara manual atau otomatis (yang dapat
11

menyesuaikan jumlah sampel) (Gandjar dan Rohman, 2007). Injektor akan
memasukkan sampel menuju kolom (Rood, 2007).

c. Kolom Kapiler dan Oven
Kolom kromatografi gas terletak di dalam oven yang suhunya
terkontrol. Komponen-komponen sampel yang telah menguap akan melewati
kolom dengan kecepatan alir yang sama dengan gas pembawa. Bagian dalam
kolom dilapisi oleh lapisan tipis polimer yang disebut dengan fase diam. Fase
diam ini akan menghalangi pergerakan komponen-komponen dalam sampel,
sehingga komponen-komponen tersebut akan terpisah. Hal ini disebut dengan
retensi. Hal hal yang mempengaruhi retensi adalah panjang dan diameter
kolom, struktur kimia dan jumlah fase diam, serta temperatur kolom. Hal
hal ini menyebabkan komponen-komponen sampel akan melewati kolom
dengan kecepatan yang berbeda, sehingga komponen-komponen tersebut
akan keluar dari kolom dengan waktu yang berbeda (Rood, 2007).

Gambar 6.6. Mekanisme Pemisahan Analit dalam Kolom (Rood, 2007)

d. Detektor
Setelah komponen-komponen keluar dari kolom, komponen tersebut
akan masuk ke dalam detektor. Detektor akan berinteraksi dengan komponen
tersebut berdasarkan sifat fisika kimianya. Interaksi ini akan menghasilkan
12

sinyal elektronik yang sebanding dengan jumlah dari komponen tersebut
(Rood, 2007).
Detektor merupakan perangkat yang diletakkan pada ujung kolom
tempat keluar fase gerak yang membawa komponen hasil pemisahan dan
berfungsi mengubah sinyal gas pembawa dan komponen di dalamnya
menjadi sinyal elektronik yang selanjutnya akan digunakan untuk analisis
kualitatif maupun kuantitatif. Waktu tambat atau waktu retensi dalam
kromatogram dapat digunakan untuk data kualitatif, sedangkan luas puncak
kromatogram dapat digunakan sebagai data kuantitatif.

e. Sistem Data
Komputer yang telah dilengkapi dengan perangkat lunak (software)
untuk digitalisasi signal detektor antara lain:
Memfasilitasi setting paramaeter - parameter instrumen (aliran fase gas;
suhu oven; pemrogaman suhu; penyuntikan sampel secara otomatis).
Menampilkan kromatogram dan informasi - informasi lain dengan
menggunakan grafirk berwarna.
Merekam data kalibrasi, retensi, serta perhitungan - perhitungan dengan
statistik.
Menyimpan data parameter analisis untuk analisis senyawa tertentu.
(Rood, 2007)

Alat perekam akan memplot sinyal detektor dengan waktu yang
dibutuhkan komponen untuk melewati kolom yang disebut dengan
kromatogram (Rood, 2007).

6.4.2. Derivatisasi
Derivatisasi pada GC dapat didefinisikan sebagai proses kimia untuk
memodifikasi senyawa dalam rangka peningkatan volatilitas, stabilitas, kinerja
pemisahan dan atau sensitivitas. Metode yang paling populer digunakan untuk GC
adalah sililasi yang mengurangi polaritas sampel dan menggantikan gugus
13

hidrogen aktif dengan trimetilsilil. N-metil-trimethylsilyltrifluoroacetamide
(MSTFA) adalah trimetilsilil acetamides yang paling volatil. Hal ini berguna
untuk analisis bahan bahan yang mudah menguap dimana puncak dari derivat
mungkin dekat dengan reagen atau puncak produk (Mohd, 2012). Persamaan
umum reaksi menggunakan MSTFA yaitu :


Gambar 6.7. Reaksi derivatisasi MSTFA, TMS = Si (CH
3
)
3
, Y = O, S, NH, NR`,
COO, R, R` = Alk, Ar (Mohd, 2012)

6.5. Spektrometri Massa
Spektrometri massa merupakan salah satu metode yang memiliki spesifitas
yang tinggi dalam mengidentifikasi suatu senyawa serta dalam mengidentifikasi
struktur molekular suatu senyawa. Spektrometri massa didasarkan pada
pergerakan partikel yang bermuatan (ion) dalam bidang listrik atau magnetik
berdasarkan rasio m/z dari ion tersebut (Bramer, 1997). Spektrometri massa
mampu menganalisis senyawa-senyawa yang memiliki kromofor yang lemah dan
mampu mengidentifikasi komponen dalam puncak kromatogram yang kurang
sempurna. Instrumen MS mampu mengidentifikasi spektrum massa, menyeleksi
ion spesifik dari spektrum tersebut, memfragmentasi ion dan menghasilkan
spektrum massa lainnya.
Prinsip dasar spektrometri massa adalah pengubahan komponen cuplikan
menjadi ion-ion gas dan memisahkannya berdasarkan perbandingan massa
terhadap muatan (m/z). Spektrometri massa mampu menghasilkan berkas ion
dari suatu zat uji, memilah ion tersebut menjadi spektum yang sesuai dengan
perbandingan massa terhadap muatan dan merekam kelimpahan relatif tiap jenis
ion yang ada. Umumnya hanya ion positif yang dipelajari karena ion negatif
yang dihasilkan dari sumber tumbukan umumnya sedikit. Berikut adalah skema
prinsip dasar spektrometri massa:
14


Gambar 6.8. Skema Prinsip Dasar Spektrometri Massa (Miller, 2005).
Komponen-komponen dari spektrometri massa ini dapat dilihat dari gambar
dibawah ini:

Gambar 6.9. Bagian Utama Spektrometri Massa (Miller, 2005).

1. Sumber Ion (Ion Source)
- Electron Impact Ionization
Energi ionisasi yang sering digunakan adalah 70 eV. Proses ionisasi
electron impact dapat dijelaskan dengan model gelombang atau partikel.
Teorinya didasarkan atas interaksi antara elektron yang berenergi tinggi
dengan elektron terluar dari molekul. Penyerapan energi awalnya mengarah
pada pembentukan molekul M
+
dengan melepaskan sebuah elektron.
Kelebihan energi ini menyebabkan eksitasi pada tingkat energi rotasi dan
vibrasi dari redikal kation ini. Proses selanjutnya dari fragmentasi
tergantung dari banyaknya jumlah kelebihan energi dan kemampuan
molekul untuk stabilisasi internal (Hubschmann, 2009).
Ketika analit keluar dari kolom kapiler, ia akan diionisasi oleh
elektron dari filamen tungsten yang diberi tegangan listrik. Ionisasi ini
terjadi bukan karena tumbukan elektron dan molekul, tapi karena interaksi
medan elektron dan molekul ketika berdekatan. Hal tersebut menyebabkan
15

satu elektron terlepas, sehingga terbentuk ion molecular M
+
yang memiliki
massa sama dengan molekul netral tetapi bermuatan lebih positif.
Untuk analisis keragaman jenis pestisida dengan metode analisis multi
residu, EI lebih banyak digunakan pada sebagian besar pestisida halogen
karena sensitivitasnya yang tinggi pada senyawa halogen. Keuntungan EI
lainnya adalah tersedia library yang luas pada full scan mode dalam
konfirmasi senyawa yang diidentifikasi dengan membandingkannya dengan
pustaka (Raina and Hall, 2008).

Gambar 6.10. Skema Representasi Sumber Ion Electron Impact (Barker,
1999)
2. Pompa Vakum
Vakum dalam spektrometer massa berfungsi untuk mempertahankan
ion hingga mencapai detektor tanpa mengalami perubahan menjadi
molekul gas lainnya. Perubahan ini dapat menurunkan resolusi dan
sensitivitas dari instrumen karena meningkatnya energi kinetik yang
menginduksi fragmentasi ion atau mencegah ion untuk mencapai detektor
(Siuzdak, 1996).
Terdapat tiga jenis pompa vakum dalam spektrometer massa, yaitu
pompa vakum dengan baling-baling berputar yang dilapisi minyak (pompa
mekanik), pompa vakum difusi minyak dan pompa molekul turbo. Prinsip
pompa mekanik dapat mencapai tekanan 10
-3
torr karena tekanan uap dari
16

minyak yang melapisi. Pompa mekanik biasanya menunjukkan kapasitas
pemompaan 50 sampai 150 L/min. Pompa difusi minyak harus memiliki
tekanan di bawah 10
-2
torr sebelum pemanas dihidupkan. Pompa vakum
difusi mencapai tekanan 10
-9
torr ketika didinginkan dengan nitrogen cair.
Vakum ini dapat memiliki kapasitas pemompaan sebesar 200 hingga 500
L/s, yang penting ketika memompa sumber menggunakan gas untuk
ionisasi kimia atau ketika menjalankan ion yang disemprotkan pada
HPLC. Pompa turbo memiliki serangkaian baling-baling pada poros pisau
berputar pada kecepatan hingga 60.000 rpm antara rangkaian tempat stator
(McMaster, 2005).

3. Penganalisis Massa (Mass Analyzer)
Inti dari spektrometer massa adalah penganalisis massa (mass
analyzer) yang mampu memisahkan ion berdasarkan perbandingan massa
dan muatan (m/z). Ion yang dipisahkan dapat berupa ion bermuatan positif
yang merupakan hasil kombinasi ion molekul dan komponen pelarut pada
fase gerak; fragmentasi ion dari adanya tumbukan pada ruang chamber;
atau ion negatif yang dihasilkan akibat perubahan polaritas pada ruang
ionisasi dan dalam pengaturan fokus lensa (McMaster, 2005).
Pemilihan jenis mass analyzer ini tergantung pada tujuan analisa,
diantaranya analisa yang memiliki tujuan kuantitatif atau kualitatif, tingkat
sensitivitas yang diperlukan serta diperlukan data fragmentasi single (MS)
atau multiple (MS/MS) (Miller, 2005). Tujuan analyzer adalah untuk
menahan ion, pemilihan ion massa tertentu sebagai frekuensi radio
dipindai, dan memindahkan ion yang terpilih ke detektor untuk dilakukan
perhitungan. Terdapat enam jenis umum dari mass analyzers yaitu :
quadrupole, magnetic sector, time-of-flight, time-of-flifht reflectron,
quadrupole ion traps, dan fourier transform-ion cyclotron resonance (FT-
ICR) (McMaster, 2005).


17

a. Quadrupole Analyzer
Pada Quadrupole terdapat empat batang yang menyerupai
kolom yang tersusun paralel dengan arus searah atau Direct Current
(DC) tegangan dan potensial frekuensi radio atau Radio-Frequency
(RF) (Siuzdak, 1996).

Gambar 6.11. Quadrupole Analyzer (McMaster, 2005)

Medan quadrupoles digunakan untuk menentukan ion mana
yang dapat masuk untuk mencapai detektor. Quadrupole juga
memiliki fungsi sebagai filter massa. Pada medan quadrupole, ion
akan bergerak ke wilayah medan dan akan berosilasi tergantung pada
rasio massa per muatan dan frekuensi radio, dimana hanya ion tertentu
dalam batas nilai potensial terhadap muatan dibiarkan terbawa dengan
cepat yang melewati filter. M/z dari ion dengan demikian ditentukan
dengan mengkorelasikan medan yang diterapkan pada quadrupoles
dengan ion yang mencapai detektor. Spektrum massa dapat diperoleh
dengan penandaan RF, dimana menggambarkan jalur ion yang
memiliki nilai m/z berbeda yang memasuki quadrupole dengan DC
tetap dan pada RF hanya ion dengan m/z tertentu yang dapat untuk
melewatinya (Siuzdak, 1996).

b. Penangkap Ion (Ion Trap)
Penganalisis massa penangkap ion dikembangkan pada waktu
yang sama dengan quadrupole. Prinsip kedua analisa tersebut sangat
mirip, namun penerapannya untuk sumber ionisasi elektrospray masih
18

perlu dikembangkan. Keuntungan utama ion trap adalah dapat
dilakukan pada spektrometri massa tandem tanpa melakukan beberapa
analisa tambahan (Siuzdak, 1996).

Gambar 6.12. Ion Trap (McMaster, 2005).

c. Magnetic mass analyzers
Penganalisis massa awal memanfaatkan pemisahan ion dengan
medan magnet. Sebuah ion yang bergerak melewati medan magnet
akan mengalami gaya, dan perjalanan dalam gerakan melingkar
dengan jari-jari kelengkungan tergantung pada m/z dari ion. Sebuah
magnetik memisahkan ion sesuai dengan jari-jari kelengkungan, dan
karena itu hanya ion yang diberikan m/z akan dapat mencapai detektor
di setiap medan magnetnya. Keterbatasan primer analisa magnetik
khas adalah resolusi mereka relatif rendah (Siuzdak, 1996).
4. Detektor
Detektor pada spektrometer massa berfungsi untuk menghasilkan
sinyal dari ion yang telah melewati penganalisis massa, dengan
menghasilkan elektron sekunder, yang selanjutnya diperkuat atau dengan
menginduksi arus yang dihasilkan oleh muatan yang bergerak. Terdapat
lima jenis detektor ion yang umum digunakan yaitu faraday cup,
penggandaan elektron, scintillation counter, high energy dynode (HED),
array detector, FT-ICR (Siuzdak, 1996).


19

a. Faraday Cup

Gambar 6.13. Faraday Cup

Faraday cup bekerja berdasarkan pada prinsip perubahan muatan
pada lempeng logam menghasilkan aliran elektron dan tebentuk arus.
Satu ion menumbuk permukaan dynode pada Faraday Cup (sebuah
dynode merupakan material pengemisi sekunder, biasanya BeO, GaP,
atau CsSB) menginduksi beberapa elektron sekunder yang kemudian
ditolak dan untuk sementara dipindahkan. Emisi sesaat dari elektron
menginduksi arus pada cup dan memberikan penguat (amplifikasi) kecil
pada sinyal ketika ion menumbuk cup. Detektor ini tidak sensitif, akan
tetapi kuat dan memiliki desain yang simpel (Siuzdak, 1996).

b. Electron Multiplier

Gambar 6.14. Electron multiplier
20

Sebuah electron multiplier (pengganda elektron) merupakan salah
satu dari deteksi ion yang memiliki sensitifitas yang tinggi melalui
pengembangan prinsip yang digunakan pada Faraday Cup.Dimana
pada Faraday Cup menggunakan satu dynode, sedangkan pada electron
multiplier terdiri dari serangkaian dynode yang dipertahankan pada
potensial yang semakin meningkat.Ion menumbuk permukaan dynode,
menghasilkan emisi elektron. Elektron sekunder ini yang kemudian
terikat pada dynode kedua dimana akan dihasilkan elektron sekunder
yang selanjutnya. Pada akhirnya akan dihasilkan 10
6
elektron. Masa
hidup dari electron multiplier adalah 1-2 tahun (Siuzdak, 1996).

c. Photomultiplier Conversion Dynode (Scintillation Counting atau Daly
Deterctor)

Gambar 6.15. Photomultiplier Conversion Dynode
Photomultiplier Conversion Dynode Deterctorsama seperti
electron multiplier dimana pada awalnya ion membentur dynode,
menghasilkan emisi elektron. Akan tetapi, dengan photomultiplier
conversion dynode detector elektron selanjutnya akan membentur layar
fosfor. Layar fosfor seperti layar televisi, yang akan menghasilkan foton
setelah tumbukan elektron. Foton tersebut akan terdeteksi oleh
photomultiplier, yang beroperasi seperti electron multiplier (Siuzdak,
1996).
Cara kerja dari Detektor Daly yaitu kation yang memasuki
detektor akan dipercepat dengan adanya beda potensial. Kation tersebut
21

akan menumbuk suatu dynode, yang disebut dynode konversi. Dynode
konversi merupakan suatu plat logam yang dapat melepaskan elektron-
elektron sekunder apabila ditumbuk dengan kation. Elektron sekunder
dilepaskan dan dipercepat menuju dynode kedua akibat beda potensial.
Dynode kedua tersusun atas scintilator plastik yang apabila tertumbuk
dengan elektro akan menghasilkan berkas sinar. Detektor Daly
memiliki bentuk T yang dibuat dari baja stainless steel dengan semua
bagian logam penyusunnya yang dibuat mengkilap.Bagian utama
detektor berupa suatu ruang vakum, terletak di bagian tengah
detektor.Kondisi vakum dibuat dengan menghubungkan ruang utama
tersebut dengan suatu pompa vakum dan dengan menambahkan kalium
hidrosida untuk menghilangkan air.Dynode konversi dan scintillator
tersusun pada ruang vakum tersebut.Salah satu sisi dari ruang vakum
tersebut terhubung dengan selubung Kovar. Selubung Kovar terbentuk
dari perpaduan gelas dan logam dan dialiri suatu beda potensial 40 kV.
Bagian ujung dari selubung Kovar dilekatkan dengan suatu batang baja
stainless yang memiliki diameter 1 cm. Detektor Daly ditutup dengan
selubung logam untuk mencegah masukknya cahaya. Detektor Daly
tersusun atas tiga komponen utama, yaitu dynode konversi, scintillator
dan fotomultiplier (Daly, 1960).
Keuntungan utama dari konversi dynode adalah tabung
photomultiplier tertutup di dalam vakum (foton melalui gelas tertutup),
sehingga tidak terkontaminasi oleh lingkungan di dalam
spektrofotometer massa. Masa hidup dari detektor ini yaitu 5 tahun atau
lebih, dengan sensitifitas yang sama dengan electron multiplier,
sehingga photomultiplier conversion lebih sering digunakan dalam
spektrofotometr massa (Siuzdak, 1996).




22

d. High Energy Dynode Detector (HED)

Gambar 6.16. High Energy Dynode Detector (HED)
HED menggunakan medan elektrostatik sebelum electron
multiplier. Ketika ion masuk ke dalam medan, maka ion tersebut akan
dipercepat menuju electron multiplier. HED membantu peningkatan
energi ion dan oleh karena itu menghasilkan sensitifitas yang lebih baik
(Siuzdak, 1996).

e. Array Detector

Gambar 6.17. Array Detector

Array Detector pada dasarnya adalah kumpulan detektor pada
susunan yang linier. Susunan ini memungkinkan sekelompok ion (yang
mempunyai m/z berbeda) terdeteksi secara simultan setelah melewati
magnetic sector analyzer. Detektor ini hanya bisa digunakan untuk
massa dengan rentang kecil (Siuzdak, 1996).



23

f. Fourier Transform Ion Cyclotron Resonance Mass Spectrometer
FT-MS mass analyzer juga digunakan sebagai detektor karena
perpindahan ion menginduksi arus yang sesuai dengan m/z-nya
(Siuzdak, 1996).

VII. Metode
7.1. Alat dan Bahan
a. Alat
GC/MS denganNCI deteksi chromatograph (LC sistem Alliance)
Tabung kaca head space
Kolom kapiler HP wax (30 m 0.25 mm I. D. 0.25 mm tebal film)
Detektor selected ion monitoring
Dan beberapa peralatan lain sesuai keperluan analisis.

b. Bahan
Methylene klorida
Tetrahydofuran (THF)
Soerensen buffer pH 7,6
Diazepam deuerated
Diethyl eter / kloroform
N,O-bis(trimethylsilyl)trifluoroacetamide
1% trimethylchlorosilane.
Rambut Perawat (dari ketiak, kepala, pubis) dengan panjang berbeda
Rambut selain perawat (Blank)

7.2. Prosedur Kerja
Penyiapan dan Pengukuran Larutan Stok dan Standar
a. Larutan Stok Midazolam, 1-OH-midazolam
Larutan stok disiapkan dalam metanol pada konsentrasi 400 g/ml dan
disimpan pada suhu -20
O
C.
Dibuat larutan kerja 400 ng/mL
24

b. Larutan internal standar (Diazepam deuerated) untuk midazolam dan 1-OH-
midazolam
Larutan stok Diazepam deuerated dibuat pada konsentrasi 100 g/mL
Dibuat Larutan baku kerja internal sebesar 5 ng/mL
c. Larutan internal standar (THF) untuk propofol
Disiapkan stok tetrahidrofuran (THF) pada konsentrasi 100 g/mL
Dibuat larutan kerja baku internal sebesar 5 ng/mL
d. Pembuatan Buffer
KH
2
PO
4
(38,8 mL) (9,07 g/ml) dicampur dengan 61,2 ml (11.87
g/ml) Na
2
HPO
4
dan diatur pH nya menjadi 7,6 dengan 1M NaOH.
Buffer disimpan selama 1 bulan pada temperatur hangat dalam termos
gelap.

Pembuatan Kurva Kalibrasi Midazolam, 1-OH-midazolam, propofol
Sejumlah internal standar ditambahkan pada larutan baku kerja dan
dibuat rentang konsentrasi Midazolam, 1-OH-midazolam 0,050 ng/mL-
12 ng/mL dan propofol 0,1 ng/mL 10,00 ng/mL di rambut kemudian
dianalisis dengan GC-MS

Penanganan Sampel Rambut (Prosedur Ekstraksi) untuk Analisis
Midazolam, 1-OH-midazolam
Untuk melakukan validasi metode, rambut kepala tanpa obat digunakan
sebagai spesimen kosong (blanko). Rambut perawat yang telah
dilakukan pencucian berturut-turut dalam metilen klorida dipotong-
potong menjadi 3 bagian. Dari akar 2 cm, 2-4 cm, dan 4-6 cm. Rambut
dari ketiak dan pubis juga dikumpulkan dan dicuci dengan metilen
klorida. Rambut kemudian dihaluskan dalam ball mill dan 50 mg bubuk
rambut diinkubasi dalam 1 ml larutan penyangga pH 7,6 semalaman
pada suhu 40C dengan diazepam deuterated digunakan sebagai standar
internal sebesar 50 ng. Setelah ekstraksi dengan 5 ml dietileter :
kloroform (80:20 v/v), fase organik diuapkan dan ekstrak kering
25

diderivatisasi dengan 35 ml N,O-bis (trimetilsilil) trifluoroacetamide
dan 1 % trimetilklorosilan.

Penanganan Sampel Rambut (Prosedur Ekstraksi) untuk Analisis Propofol
Setelah dicuci berturut-turut dalam metilen klorida, rambut dipotong
menjadi segmen kecil 1 mm dengan gunting dan sebanyak 50 mg
ditambahkan ke tabung 20 ml kaca head-space dengan tetrahidrofuran
(THF) sebagai standar internal dan ditambahkan 1 ml larutan
penyangga pH 7,6. Tabung disegel dan diinkubasi semalaman pada
suhu 40C.

Analisis Midazolam, 1-OH-midazolam dengan GC-MS
Analisis dilakukan dengan menggunakan metode GC/MS dalam mode
NCI. Alikuot 1,5 l dari derivatisasi ekstrak diinjeksikan dengan suhu
injektor 250C ke kolom kapiler HP-5MS (30 m 0,25 mm ID 0,25
pM ketebalan Film). Pemisahan dicapai dengan kecepatan alir konstan
dari 1,0 ml/menit dari gas pembawa helium menggunakan suhu oven
awal 60C dipertahankan selama 1 menit, kemudian 30C/menit sampai
295C dan suhu akhir dipertahankan selama 6 menit. Sumber ion dan
temperatur quadropole dari Hewlett Packard 5989 detektor massa
selektif adalah 200C dan 100C. Metana digunakan sebagai gas
reaktan pada tekanan 1,3 Torr dalam sumber ion. Spektrum massa yang
direkam dalam mode full scan 250-450 Amu. Analit diidentifikasi
berdasarkan waktu retensi relatif mereka dan spektrum massa tertentu,
yaitu midazolam dengan waktu retensi 10,08 menit, m/z 325-327; 1 -
OH - midazolam dengan waktu retensi 10,64 menit, m/z 325-413-415;
diazepam-d
5
dengan waktu retensi 9,55 menit, m/z 289. Kuantifikasi
dilakukan setelah penentuan faktor respon terhadap diazepam-d
5
.



26

Analisis propofol dengan GC-MS
Campuran yang telah homogen dianalisis secara langsung dengan
sistem operasi HS-GC/MS mode tumbukan elektron (electronic
impact). Untuk proses volatilisasi, tabung yang diberi tekanan selama
15 menit pada 80C dalam HS 40 (Perkin Elmer) dan aliquot
dipindahkan ke kromatografi gas (Hewlett Packard 5890) di bawah
tekanan helium 100 kPa. Rasio split 1:1 di injektor dipanaskan dengan
suhu 180C. Kromatografi dioperasikan pada kolom lilin kapiler HP
(30 m 0,25 mm ID 0,25 mm ketebalan film) menggunakan suhu
oven berikut: 45C selama 3 menit, 10C/menit sampai 180C dan
30C/menit sampai 240C. Deteksi dilakukan dengan detektor massa
selektif Hewlett Packard 5971 menggunakan mode Selected ion
monitoring (SIM). Propofol diidentifikasi berdasarkan waktu retensi
dan kelimpahan relatif tiga ion mengkonfirmasikan: propofol dengan
waktu retensi 18,34 menit, m/z 117-163-178; THF dengan waktu
retensi 2,13 menit, m/z 72. Kuantifikasi Propofol dibuat setelah
penentuan faktor respon terhadap THF.

Validasi Metode
a. Linieritas dan Rentang
Linearitas adalah kemampuan metode analisis yang memberikan respon
yang secara langsung atau dengan bantuan transformasi matematik
yang baik, proporsional terhadap konsentrasi analit dalam sampel.
Rentang metode adalah pernyataan batas terendah dan tertinggi analit
yang sudah ditunjukkan dapat ditetapkan dengan kecermatan,
keseksamaan, dan linearitas yang dapat diterima (Harmita, 2004).
Rentang linieritas Midazolam dan 1-OH-midazolam dibuat pada
konsentrasi 0,050 5 ng/mg hair (r = 0.97 and 0.96), rentang linieritas
propofol 0,1 10,00 ng/mg (r = 1.00).


27

b. Presisi
Presisi ditentukan dengan simpangan baku dan simpangan baku relatif
dari larutan sampel yang ditetapkan. Simpangan baku ditentukan
menggunakan rumus berikut:


Nilai presisi midazolam dan 1-OH-midazolam pada konsentrasi 0.5
ng/mg masing-masing sebesar 6.3% dan 8.1%. Nilai presisi propofol
pada konsentrasi 0,5 ng/mg adalah 6,0%.

c. Akurasi
Data AUC dari pengukuran rentang linearitas digunakan kembali untuk
menentukan akurasi metode ini. Caranya adalah dengan menghitung
perolehan kembali Midazolam, 1-OH-midazolam dan propofol yaitu
mensubstitusikan nilai masing-masing AUC pengukuran pada
persamaan regresi y = bx + a. Jadi, perolehan kembali dihitung dengan
rumus :
% 100
sebenarnya kadar
pengukuran hasil dari kadar
kembali Perolehan

Pada analisis Midazolam dan 1-OH-midazolam, nilai akurasi adalah
rata-rata persen perolehan kembali untuk konsentrasi 0,5 ng/mg sebesar
93,8% dan 90,2%. Persen perolehan kembali untuk propofol
konsentrasi 0,5 ng/mg sebesar 27%.




28

d. Batas Deteksi dan batas kuantifikasi
Batas deteksi (LOD) dan batas kuantitasi (LOQ) ditentukan dengan
menghitung simpang baku residual yang membandingkan hasil
pengukuran dengan hasil perhitungan. Rumus yang digunakan adalah:

Q = LOD (batas deteksi) atau LOQ (batas kuantitasi)
Sb = simpangan baku residual
k = konstanta yaitu 3 untuk LOD atau 10 untuk LOQ
Sl = arah garis linear (kepekaan arah) dari kurva antara respon
terhadap konsentrasi = slope (b pada persamaan garis y = a + bx)
(Harmita, 2004)

Nilai LOQ Midazolam, 1-OH-midazolam, propofol pada kasus ini
adalah 1,05 ng/mg.

VIII. Hasil dan Pembahasan
Pada kasus ini dapat dilakukan uji skrining pada darah dengan
immunoassay, kromatografi cair ditambah dengan detektor diode array (HPLC-
DAD) dan GC/MS baik dengan deteksi NCI untuk midazolam atau Head Space
(HS) preparation untuk propofol. Dua prosedur baru dikembangkan untuk
identifikasi midazolam dan propofol pada rambut. Berdasarkan penelitian pada
artikel Determination of chronic abuse of the anaesthetic agents midazolam and
propofol as demonstrated by hair analysis bahwa dalam identifikasi dan uji
konfirmasi midazolam dan propofol dapat dilakukan dengan metode GC/MS baik
dengan deteksi NCI (midazolam) atau Head Space (HS) yang telah tervalidasi.
Dalam analisis, etanol terdeteksi dalam sampel darah pada 0,38 g/l. Hasil analisis
untuk anestesi di darah femoral adalah midazolam 45 ng/ml, 1 -OH-midazolam 1
ng/ml dan propofol 39 ng/ml. Konsentrasi agen anestesi yang ditentukan lebih
rendah dari rentang terapi, namun keberadaan etanol, tidak adanya bantuan
pernapasan, kontrol medis serta suntikan cepat dan berulang mungkin telah
29

berkontribusi terhadap kematian. Pada analisis Midazolam, 1-OH-midazolam,
propofol sampel rambut dicuci secara berturut-turut dengan metilen klorida untuk
menghilangkan pengotor-pengotor selain analit pada sampel. Rambut
dikumpulkan baik dari kepala, ketiak, dan pubis. Dipotong-potong menjadi 3
bagian. Dari akar 2 cm, 2-4 cm, dan 4-6 cm tujuannya untuk mengetahui deposisi
analit ada pada bagian rambut yang mana yang ditunjukkan dengan kadar
tertinggi analit pada bagian rambut tertentu. Pada analisis Midazolam dan 1-OH-
midazolam dilakukan derivatisasi untuk memudahkan analit menjadi bentuk
uapnya untuk dapat dianalisis pada sistem GC-MS yang digunakan. Kombinasi
GC-MS dengan negative chemical ionization (NCI) memberi kekuatan untuk
menghilangkan gangguan bahan kimia sehingga menyediakan kemampuan untuk
mengukur dalam matriks yang kompleks, ketika digunakan pada GC-MS. Tes ini
biasanya memberikan batas kuantifikasi jauh lebih rendah daripada LC/MS/MS.
Kombinasi headspace (HS) pada GC-MS menyediakan analisis dengan kuat,
teknik sepenuhnya otomatis untuk penentuan melacak senyawa organik volatil
dengan jumlah sedikit. Sampel mungkin disegel kedap udara dalam headspace
vial pada tahap akan dilakukan sampling. Pendekatan ini menghindari kesalahan
karena kontaminasi silang dengan gelas dan hilangnya komponen volatil selama
transfer sampel. Prosedur dikembangkan untuk identifikasi dan kuantifikasi
midazolam, 1-OH-midazolam dan propofol dalam rambut manusia telah
divalidasi. Untuk midazolam dan 1-OH-midazolam, linearitas diamati untuk
konsentrasi mulai 0,05 - 5,00 ng/mg (r = 0,97 dan 0,96). Dalam presisi dan
perolehan kembali pada konsentrasi 0,5 ng/mg dapat diterima (midazolam 6,3 dan
93,8%; 1-OH-midazolam 8,1 dan 90,2%). Pada titik kalibrasi terendah (0,05
ng/mg), rasio signal-to-noise untuk midazolam adalah 35. Untuk propofol,
linearitas diamati untuk konsentrasi mulai 0,1 - 10,00 ng/mg (r = 1,00). Dalam
presisi dan perolehan kembali pada 0,5 ng/mg dapat diterima (6,0 dan 27%). Pada
titik kalibrasi terendah (0,1 ng/mg).
30


Tabel 1.Hasil analisis dari midazolam, 1-OH midazolam (1-OH-M) and propofol
pada tipe rambut yang berbeda
Analisis segmental rambut untai 6 cm mengungkapkan kehadiran
midazolam di setiap panjang segmen 2 cm. Konsentrasi masing-masing sebesar
0,76; 0,71 dan 0,59 ng/mg dari akar ke ujung untai (Tabel 1). Seperti umumnya
kasus untuk obat lain dalam rambut, obat induk memiliki konsentrasi yang lebih
tinggi dari konsentrasi metabolit 1-OH-midazolam. Analisis segmental untai 6
cm rambut mengungkapkan kehadiran propofol di setiap segmen 2 cm panjang
(Tabel 1). Konsentrasi ditentukan berada dalam kisaran (1,05 - 3,5 ng/mg).
Konsentrasi propofol dalam sampel rambut kemaluan lebih tinggi dari pada
rambut kepala (Tabel 1). Hasil ini sesuai dengan review pelaporan konsentrasi
yang lebih tinggi untuk zat lainnya dalam rambut kemaluan daripada di rambut
kepala. Gambar 2 menunjukkan kromatogram SIM yang diperoleh dari kedua
segmen rambut kepala ( 2-4 cm ).
31




Gambar 8.1. Kromatogram Ion (a), Spektrum Massa (b), Spektrum Turunan TMS
(c)
32

Berdasarkan kromatogram ion di atas, kromatogram ion untuk midazolam
(m/z 325-327), 1-OH-midazolam (m/z 425-413-415) dan standar internal (m/z
289) dari ekstrak ketiak rambut. Spektrum Massa midazolam diamati dalam mode
NCI deteksi. Mass Spektrum turunan TMS dari 1-OH-midazolam diamati dalam
mode NCI deteksi. Analit diidentifikasi berdasarkan retension time relatif mereka
dan spektrum massa tertentu, yaitu midazolam waktu retensi 10,08 menit, m/z
325-327, 1-OH-midazolam dengan waktu retensi 10,64 menit, m/z 325-413-415,
diazepam-d
5
dengan waktu retensi 9,55 menit, m/z 289. Kuantifikasi dilakukan
setelah penentuan faktor respon terhadap diazepam d
5
. Propofol diidentifikasi
berdasarkan waktu retensi dan kelimpahan relatif tiga ion dengan hasil waktu
retensi propofol 18,34 menit, m/z 117-163-178, THF dengan waktu retensi 2,13
menit, m/z 72. Kuantifikasi Propofol dibuat setelah penentuan faktor respon
terhadap THF.

IX. Kesimpulan
Penyalahgunaan agen anestesi (misalnya halotan, nitrat oksida, lidokain,
fentanyl dan fentanil derivatif seperti Sufentanil inj dan alfentanyl, dll) oleh staf
medis untuk tujuan hiburan sudah banyak diketahui dan dijelaskan dalam literatur
tetapi bukti analitis sering kurang. Etanol yang ditemukan dalam darah juga dapat
menjad pemicu kematian dalam kasus ini. Dalam situasi ini, analisis rambut dapat
menjadi pengatasannya. Pengamatan baru ini menegaskan bahwa GC / MS-NCI
mewakili teknik pilihan untuk mendeteksi agen anastesi dalam rambut manusia
dengan metode GC-MS-NCI dapat mendeteksi suatu paparan kronis yang jelas
untuk propofol dengan analisis rambut. Sifat fisiko-kimia propofol mendukung
untuk dilakukannya headspace preparation dari spesimen rambut dan
pengembangan metode asli yang tidak memerlukan prosedur ekstraksi yang lama.


DAFTAR PUSTAKA

Cirimele, V., P. Kintz, S. Doray, B. Ludes. 2002. Determination of Chronic Abuse
of The Anaesthetic Agents Midazolam and Propofol as Demonstrated by
Hair Analysis. Int J Legal Med 116: 5457.
Flanagan, R. J., A. Taylor., I. D. Watson, and R. Whelpton. 2007. Fundamentals
of Analytical Toxicology. New Delhi : John Wiley and Sons, Ltd.
Gandjar, I.G. dan A. Rohman. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Harmita. 2004. Petunjuk Pelaksanaan Validasi Metode Dan Cara
Perhitungannya. Majalah Ilmu Kefarmasian, Vol. I, No.3, Desember
2004, 117 135.
Miller, J. M. 2005. Chromatography Concepts and Contrasts. New Jersey: John
Wiley & Sons, Inc.
McMaster, M. C. 2005. LC/MS A Practical Users Guide. New Jersey : Wiley
Interscience.
Moffat, C., D. Anthony, B. Osselton, dan B. Widdop. 2005. Clarkes Analysis of
Drugs and Poisons in Pharmaceutical, Body Fluids, and Post-Mortem
Material. 3
rd
Edition. London: The Pharmaceutical Press.
Mohd, M. A. 2012. Advanced Gas Chromatography Progress in Agricultural,
Biomedical and Industrial Applications. Europe : InTech.
Rood, D. 2007. The Troubleshooting and Maintenance Guide for Gas
Chromatographers. 4
th
Edition. Weinheim : WILEY-VCH Verlag.GmbH
& Co. KGaA.
Siuzdak, G. 1996. Mass Sepctrometry for Biotechnology. London: Academic
Press.
Tsatsakis, Aristidis M., Manolis Tzatzarakis. 2000. Sectional Hair Testing.
Judicial and Clinical Applications. Pure Appl. Chem., Vol. 72, No. 6:
10571066.


Wirasuta, I.M.A.G. 2008. Buku Ajar Analisis Toksikologi Forensik. Bukit
Jimbaran: Jurusan Farmasi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam, Universitas Udayana.