Anda di halaman 1dari 35

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kejadian gawat darurat dapat diartikan sebagai keadaan dimana seseorang membutuhkan
pertolongan segera karena apabila tidak mendapatkan pertolongan dengan segera maka dapat
mengancam jiwanya atau menimbulkan kecacatan permanen. Keadaan gawat darurat yang sering
terjadi di masyarakat antara lain keadaan seseorang yang mengalami henti napas, henti jantung,
tidak sadarkan diri, kecelakaan, cedera, misalnya patah tulang, kasus stroke, kejang, keracunan,
dan korban bencana. Unsur penyebab kejadian gawat darurat antara lain karena terjadinya
kecelakaan lalu lintas, penyakit, kebakaran maupun bencana alam. Kasus gawat darurat karena
kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab kematian utama d daerah perkotaan ( Media
Aeculapius, 2007 ).
Menurut American Hospital Association (AHA) dalam Herkutanto (2007), keadaan gawat
darurat adalah suatu kondisi dimana berdasarkan respon dari pasien, keluarga pasien, atau siapa
pun yang berpendapat pentingnya membawa pasien ke rumah sakit untuk diberi
perhatian/tindakan medis dengan segera. Kondisi yang demikian berlanjut hingga adanya
keputusan yang dibuat oleh pelayanan kesehatan yang profesional bahwa pasien berada dalam
kondisi yang baik dan tidak dalam kondisi mengancam jiwa. Penderita gawat darurat adalah
penderita yang oleh karena suatu penyebab (penyakit, trauma, kecelakaan, tindakan anestesi)
yang bila tidak segera ditolong akan mengalami cacat, kehilangan organ tubuh atau meninggal
(Sudjito, 2007).
Dalam suatu kejadian gawat darurat kemungkinan akan ditemukannya suatu perdarahan atau
luka pada pasien gawat darurat. Perdarahan merupakan keluarnya darah dari pembuluh darah
akibat kerusakan atau robekan pembuluh darah. Ada 2 tipe perdarahan, yaitu perdarahan yang
berasal dari pembuluh darah vena dan perdarahan yang berasal dari pembuluh darah arteri.
Perdarahan pada pembuluh darah vena berwarna agak gelap dan mengalir secara spontan.
Sedangkan perdarahan dari pembuluh darah arteri warnanya lebih terang dan alirannya
memancar dari tubuh yang terluka. Perdarahan pada arteri dapat menyebabkan kondisi kritis,
sebab darah yang terpompa keluar dengan kecepatan melebihi rata-rata. Akibatnya, korban akan
banyak kehilangan darah.
B. Tujuan
a. Tujuan Umum
Untuk mengetahui proses perdarahan serta penatalaksanaannya dan untuk mengetahui proses
proses peradangan dan proses penyembuhan luka secara makroskopis dan mikropis.
b. Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui macam macam perdarahan.
2

2. Untuk mengetahui jenis perdarahan.
3. Untuk mengetahui penatalaksanaan perdarahan.
4. Untuk mengetahui perubahan yang terjadi secara makroskopis pada proses peradangan.
5. Untuk mengetahui perubahan yang terjadi secara mikroskopis pada proses peradangan
6. Untuk mengetahui perubahan yang terjadi secara makroskopis pada proses penyembuhan
luka.
7. Untuk mengetahui perubahan yang terjadi secara mikroskopis pada proses penyembuhan
luka.



















3

BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Proses Perdarahan
a. Pengertian Pendarahan
Perdarahan adalah keluarnya darah dari pembuluh dara akibat kerusakan (robekan)
pembuluh darah. Kehilangan darah bisa disebabkan perdarahan internal dan eksternal.
Perdarahan internal lebih sulit diidentifikasi. Jika pembuluh darah terluka maka akan segera
terjadi kontriksi dinding pembuluh darah sehingga hilangnya darah dapat berkurang. Platelet
mulai menempel pada tepi yang kasar sampai bentuk sumbatan.
Gangguan perdarahan adalah istilah umum untuk berbagai masalah medis yang
mengarah ke pembekuan darah miskin dan perdarahan terus-menerus. Dokter juga menyebut
mereka istilah-istilah seperti koagulopati, perdarahan dan gangguan pembekuan darah.
Ketika seseorang memiliki kelainan pendarahan mereka memiliki kecenderungan
untuk berdarah lagi. Kelainan dapat disebabkan oleh cacat pada pembuluh darah atau dari
kelainan dalam darah itu sendiri. Mungkin kelainan pada faktor pembekuan darah atau
platelet.
Pembekuan darah, atau koagulasi, adalah proses yang mengendalikan perdarahan.
Berubah darah dari cair ke padat. Ini adalah proses kompleks yang melibatkan sebanyak 20
protein plasma yang berbeda, atau faktor pembekuan darah. Biasanya, proses kimia yang
kompleks terjadi menggunakan faktor pembekuan ini untuk membentuk suatu zat yang
disebut fibrin yang berhenti berdarah. Ketika faktor-faktor koagulasi tertentu yang kurang
atau hilang, proses ini tidak terjadi secara normal. Pendarahan Gangguan Pembekuan Ilustrasi

b. Jenis perdarahan
Berdasarkan letak keluarnya darh:
I. Perdarahan luar
Ada 3 macam perdarahan:
1. Perdarahan dari pembuluh rambut (kapiler)
Tanda-tandanya:
a). Perdarahan tiak hebat
b). Keluar perlahan-lahan berupa rembesan
c). Biasanya perdarahan berhenti sendiri walaupun tidak diobati
d). Mudah untuk menghentikan dengan perawatan luka biasa
2. Perdarahan dari pembuluh darah balik (vena)
Tanda-tandanya:
4

a). Warna darah merah tua
b). Pancaran darah tidak begitu hebat dibandingkan perdarahan arteri
c).Perdarahan mudah untuk dihentikan dengan cara menekan dan meninggikan
anggota badan yang luka lebih tinggi dari jantung.
3. Perdarahan dari pembuluh nadi (arteri)
Tanda-tandanya:
a). Warna darah merah muda
b). Keluar secara memancar sesuai irama jantung
c). Biasanya perdarahan sukar untuk dihentikan

II. Perdarahan dalam
Perdarahan dalam adalah perdarahan yang terjadi di dalam rongga dada, rongga
tengkorak dan rongga perut. Biasanya tidak tampak darah mengalir keluar, tapi terkadang
dapat juga darah keluar melalui lubang hidung, telinga, dan mulut. Penyebabnya:
a). Pukulan keras, terbentur hebat
b). Luka tusuk
c). Luka tembak
d). Pecahnya pembuluh darah karena suatu penyakit
e). Robeknya pembuluh darah akibat terkena ujung tulang yang patah.

c. Penyebab dan CaraMengatasi Perdarahan
Penanganan cidera dinilai melalui tingkatan cedera berdasarkan adanya perdarahan lokal.
1. Akut (0-24 jam)
Kejadian cedera antara saat kejadian sampai proses perdarahan berhenti, biasanya 24 jam,
pertolongan yang benar dapat mempersingkat periode ini.
2. Sub-akut (24-48 jam)
Masa akot telah berakhir, perdarahan telah berhenti, tetapi bisa berdarah lagi. Bila
pertolongan tidak benar akan kembali ke tingkat akut, berdarah lagi.
3. Tingkat lanjut (48 jam sampai lebih)
Pedarahan telah berhenti, kecil kemungkinan kembali ke tingkat akut, penyembuhan
telah mulai. Dengan pertolongan yang baik masa ini dapat dipersingkat, Perdarahan
bawah kuku
Pendarahan ini dapat terjadi apabila kuku terjepit pintu, terpukul martil dan
sebagainya sehingga warna kuku menjadi merah dan terasa sakit. Apabila hal ini
terjadi kompreslah kuku dengan es. Setelah itu, lubangi sedikit bagian kuku yang
berdarah tadi untuk memungkinkan darah yang berada di bawah kuku keluar
kemudian berikan saleb anti biotic pada lubang kuku tersebut.
5


Perdarahan pada pelatih harus sangat mahir dalam hal ini agar tahu kapan harus meminta
pertolongan dokter.
Perdarahan pada umumnya

1. hidung (mimisan)
Epistaksis atau perdarahan hidung sering ditemukan dalam kehidupan sehari-
hari dan hampir 90% dapat berhenti sendiri. Perdarahan ini terjadi mungkin karena:
a. Seringkali tanpa sebab, sepontan terjadi mimisan.
b. Benturan ringan misalnya ketika mengorek ingus terlalu kuat, bersin terlalu
kuat, atau benturan kuat seperti terjatuh, terpukul dll.
c. Infeksi: sinusitis, rhintis atau penyakit infeksi lain seperti sifilis, atau lepra.
d. Neoplasma/tumor: kasinoma atau tumor ganas lainnya.
e. Kelainan bawaan.
f. Penyakit kardiovaskuler: tekanan darah tinggi dan kelainan pembuluh darah.
g. Kelainan darah: hemofili, leukemia dan trombositopenia (keguguran
trombosit).
h. Infeksi sistemik: demam berdarah, demam tifoid, influensa, dan lain-lain.
i. Perubahan tekanan atmosfer: peyakit akibat menyelam sehingga terjadi
perbedaan tekanan yang tinggi dan mendadak sehingga sering terjadi
mimisan.
j. Gangguan endokren: menarche (haid pertama kali) atau menopause.

Hal yang harus dilakukan untuk mengatasi perdarahan adalah:
a. Untuk membantu korban maka dudukkan dia dengan kepala menunduk, hal
ini untuk mencegah agar darah tidak terhisap paru-paru.
b. Pencet hidung kanan kiri selama 10 menit.

Gambar 1
6

c. Selanjutnya masukkan segulungan kain kasa ke dalam hidung (druk). Kain
kasa lebih baik lagi di basahi dengan hidrogen peroksida. Untuk beberapa
waktu (20-30 menit) mintalah korban untuk membuka mulutnya dan katakan
padanya untuk sementara waktu tidak menelan ludah.
d. Bisa juga memasukkan gulungan daun sirih ke dalam lubang hidung yang
berdarah. Karena daun sirih mengandung minyak atsiri (kadinen, kavikol,
sineol, eugenol, kariovilen, karvakrol, tarpinen, seskuiterpen). Kandungan
ini dapat membantu menyempitkan pembuluh darah.
e. Selain itu, untuk sementara waktu korban tidak boleh mendengus atau
membuang ingus.

2. Perdarahan pada telinga
Terjadinya perdarahan pada telinga ini bisa jadi disebabkan oleh tusukan
benda tajam, mungkin juga karena tulan kepala retak, atau dapat pula di akibatkan
oleh adanya ledakan yang keras. Untuk membantu korban maka hal yang harus
dilakukan adalah dengan mengirim dia segera ke rumah sakit. Jangan tetesi telinga
korban dengan obat tetes telinga dan jangan berusaha membersihkan gumpalan darah
pada lubang telinga.

3. Perdarahan pada waktu hamil
Perdarahan pada ibu hamil merupakan hal yang perlu diwaspadai, karena
dapat terjadi tiba-tiba bahkan kadang terjadi tanpa sebab ataupun tidak dapat
diperkirakan sebelumnya. Hal yang terpenting adalah bagaimana memberikan
pertolongan pertama pada ibu, mengantisipasi keadaan yang lebih buruk akibat
kehilangan cairan dan mencegah shock.
Perdarahan pada waktu hamil, secara umum dibagi menjadi dua bagian, yaitu
perdarahan pada kehamilan muda (di bawah 5 bulan) dan perdarahan pada kehamilan
lanjut/tua (di atas 6 atau 7 bulan).
Perdarahan pada kehamilan muda diakibatkan oleh: keguguran (abortus),
kehamilan di luar kandungan (kehamilan di luar rahim) dan kehamilan anggur
(mola), yaitu kehamilan yang tidak berisi janin tetapi berisi gelembung-gelembung
yang berwarna seperti anggur. Perdarahan pada kehamilan tua/lanjut disebabkan oleh
lepasnya plasenta/ari-ari sebelum bayi lahir atau perdarahan pada plasenta dan
karena jalan lahir tertutup plasenta.
a. Perdarahan pada kehamilan muda
1) Keguguran atau abortus
Tanda-tanda abortus adalah:
7

a) Pengeluaran darah mulai hanya berupa bercak atau sedang hingga
hebat (gumpalan darah) pada usia kehamilan di bawah 5 bulan.
b) Terjadinya kram atau nyeri/ mulas pada perut bagian bawah.

Cara penaganannya adalah dengan
a) Bila perdarhan/bercak sedikit segera istirahat baring total di tempat
tidur, dan tidak melakukan aktifitas apapun.
b) Bantu semua keperluan makan-minum, mandi, dan lain-lain keperluan
sehari-hari.
c) Istirahat yang cukup dan beri support mental/psikologis.
d) Bila perdarahan banyak segera periksa ke dokter kandungan atu rujuk
ke rumah sakit.
2) Kehamilan di luar kandungan
Tanda-tanda kehamilan di luar kandungan adalah:
a) Nyeri perut bagian bawah yang sangat, bahkan hingga
limbung/pingsan.
b) Pengeluaran darah bercak hingga sedang.
c) Penderita tampak pucat.
d) Terdapat tanda-tanda shock.
Cara penanganannya adalah dengan:
Penderita segera di rujuk ke rumah sakit/dokter kandungan.
3) Kehamilan anggur atau mola.
Tanda-tanda mola adalah:
a) Pengeluaran darh berwarna coklat disertai jaringan yang
bergelembung-gelembung seperti anggur.
b) Mual dan muntah berlebihan.
c) Kram atau nyeri/mulas pada perut bagian bawah.
d) Perut tampak lebih besar dari usia kehamilannya.
Cara penanganannya adalah dengan:
Penderita segera di rujuk ke rumah sakit/dokter kandungan.
b. Perdarahan pada kehamilan tua/lanjut
1) Perdarahan karena lepasnya plasenta (ari-ari)
Tanda-tanda perdarahan karena lepasnya plasenta adalah:
a) Kelur darah berwarna merah tua agak kehitaman pada umur
kehamilan lebih dari 6 atau 7 bulan.
b) Biasanya terdapat faktor penyebab sebelumnya, misalnya jatuh,
penyakit/infeksi, tekanan darah tinggi, dan sebagainya.
8

Cara penanganannya adalah dengan:
Penderita segera di rujuk ke rumah sakit/dokter kandungan.
2) Perdarhan karena jalan lahir tertutup plasenta (ari-ari)
Tanda-tanda perdarhan karena jalan lahir tertutup plasenta adalah:
a) Pengeluaran darah ringan atau berupa bercak hingga banyak,
berwarna merah segar pada kehamilan di atas 6-7 bulan.
b) Perdarahan umumnya berhenti secara spontan.
c) Tidak ada penyebab sebelumnya, kadang-kadang terjadi pada waktu
bangun tidur.
Cara penanganannya adalah dengan:
Penderita segera di rujuk ke rumah sakit/dokter kandungan.
4. Perdarahan pada rongga perut
Perdarahan pada rongga perut yang diakibatkan oleh luka terbuka mudah
diketahui. Tetapi rongga perot dapat juga terjadi tanpa luka terbuka, misalnya yang
di timbulkan oleh pukulan yang keras oleh benda tumpul ke arah perut. Pada
kecelakaan kendaraan bermotor, hal semacam ini tidak jarang di jumpai.
Bahay perdarahan rongga perut selain infeksi (bila ada luka terbuka), juga
shock dan kematian cepat menyusul.
Tanda-tanda perdarahan rongga perut tanpa luka terbuka ialah: penderita
merasa kesakitan yang hebat pada di daerah perut. Dinding perut menegang (kadang-
kadang sampai sekeras papan). Bila dipegan atau ditekan perutnya penderita akan
merasa kesakitan. Mual dan muntah yang kadang-kadang berdarah merupakan salah
satu tanda-tandanya. Kemudian akan cepat menjadi shock dan meninggal.Tindakan
pertongan pertama:
a. Bila ada luka terbuka:
a) Tutup lukanya dengan snelverband. Jika tidak ada snelverband,
tutuplah dengan setumpuk tebal kasa steril. Siramlah kasa seteril
dengan cairan steril (aquadest steril atau larutan garam steril).
b) Apabila ada usus yang nampak keluar, jangan berusaha untuk
memasukkannya kembali.
c) Balutlah luka tersebut dengan balutan yang menekan.
d) Jangan dfiberi minum atau makanan apa pun. Jika penderita merasa
haus, cukup basahi bibirnya dengan air.
e) Kirim segera ke rumah sakit.
b. Tanpa luka terbuka (akibat pukulan atau ledakan):
a) Jangan diberi minum atau makan apa pun.
b) Balut perut dengan balutan menekan.
9

c) Kirim segera ke rumah sakit.

5. Perdarahan di kepala
Kulit kepala mempunyai jaringa pembuluh darah yang sangat banyak
jumlahnya. Sehingga luka yang dangkalpun banyak mengalirkan darah. Perdaran di
kepala akan lebih berbahaya jika terjadi di atas telinga atau di belakang kepala.
Tindakan pertolongan:
a) Perhatikan mungkin ada tulang kepala yang retak (perdarahan lewat te linga dan
hidung)
b) Perhatikan pula tulang kepala yang pecah dan mungkin ada gangguan pada otak.
Jika tidak ada tanda-tanda patah tulang kepala atau gangguan pada otak.
Hentikanlah pendarahan dengan cara menekan langsung pada luka.
c) Luka ditutup dengan kasa steril dan diberi balutan menekan.
Jika tidak ada tanda-tanda patah tulang kepala atau gangguan pada otak: tekanan
langsung pada luka akan lebih berbahaya. Yang harus dikerjakan ialah: Mencoba
menghentikan perdarahan dengan menekan nadi yang mengalirkan darah ke kulit
kepala. Cara melakukannya yaitu dengan cara menggunakan tiga jari tangan,
nadi leher di tekan ke belakang. Ibu jari tangan yang menekan diletakkan di
tengkuk. Jadi nadi ditekan ke arah ibu jari, jangan ke arah tenggorokan. Nadi
yang di tekan adalah nadi yang terletak pada sisi yang sama dengan tempat
perdarahan. Penekanan dilakukan lebih rendah dari jakun.
Kemudian tindakan pertolongan pertama yang harus dilakukan jika terjadi
luka terbuka di kepala tanpa disertai patah tulang kepala adalah:
a) Gunting rambut sekitar luka.
b) Bersihkan luka dengan cairan steril.
c) Tutup luka dengan kasa steril lalu di balut
d) Bawa penerita ke dokter

10


Gmbar 2 Balutan perdarahan di pelipis


6. Perdarahan di selaput otak
Kecelakaan di kepala mungkin tidak mengakibatkan apa-apa di luarnya.
Tetapi pembuluh darah selaput otak mungkin pecah. Dalam hal ini biasanya
penderita tidak merasa apa-apa kecuali sedikit pusing setelah kecelakaan. Tetapi
semakin lama darah yang mengumpul di rongga otak semakin banyak dan semakin
menekan otak. Oleh sebab itu penderita akan merasa semakin pusing, muntah-
muntah dan pingsan. Tindakan pertolongan pertama yang harus di lakukan adalah:
a) Setiap korban kecelakaan yang yang diduga mengalami benturan di kepala
harus diperlakukan sebagai penderita gegar otak.
b) Meskipun tetap sadar, penderita tetap harus berbaring dengan kepala dialasi
bantal.
c) Setiap 15 atu 30 menit kesadaran penderita harus diperiksa. Jika perlu
penderita harus dibangunkan jika tertidur. Kesadaran yang menghilang
sementara ia tertidur akan lebih sulit diketahui.
d) Apabila kesadaran menurun, atau kepala semakin pusing, atau muntah-
muntah semakin banyak, penderita harus segera di bawa ke rumah sakit
dalam keadaan tetap berbaring.

7. Perdarahan di mata
Kelilip yang tajam atau tusukan benda tajam dapat melukai mata.Tindakan
pertolongan yang harus dilakukan:Penderita harus segera diusung ke rumah sakit
dengan mata di balut dengan menggunakan balutan (kasa) steril.
11


8. Perdarahan pembuluh nadi
Pembuluh nadi bertugas membawa darah segar dari jantung ke seluruh bagian
tubuh. Kebanyakan pembuluh nadi ini tersimpan dalam di bawah jaringan tubuh, dan
hanya beberapa saja yang dekat permukaan ke kulit. Tanda-tanda pendarahan pembuluh
nadi adalah: darah keluar menyembur sesuai dengan denyut jantung. Darah yang keluar
berwarna merah segar.
Tindakan pertolongan harus segera diberikan karena penderita akan cepat
kehilangan darah dan terjadi shock. Ada tiga cara penghentian perdarahan nadi:

1. Tekanan di tempat perdarahan
Cara ini adalah yang terbaik untuk perdarahan nadi pada umumnya. Caranya
adalah dengan menggunakan setumpuk kasa steril (kain bersih biasa), tempat
perdarahan itu ditekan. Tekanan tersebut harus dipertahankan sampai terhenti atau
sampai pertolongan yang lebih lanjut (pertolongan oleh tenaga medis) dapat di
berikan. Penekanan ini dilakukan selama 15-20 menit atau sampai terfiksasi sehingga
tidak ada lagi perdarahan.
Kasa boleh dilepas apabila kasa sudah terlalu basah oleh darah dan perlu
diganti dengan yang baru. Kemudian kasa tersebut di tutup dengan dengan balutan
yang menekan, dan bawa penderita ke rumah sakit. Selama perjalanan, bagian yang
mengalami perdarahan diangkat lebih tinggi dari letak jantung.

Gambar 3

2. Tekanan pada tempat-tempat tertentu
Tempat-tempat yang di tekan adalah hulu (pangkal) pembuluh nadi yang terbuka. Jadi
tujuan dari penekanan ini adalah untuk menghentikan aliran darah yang menuju ke
pembuluh nadi yang cidera.
Perhatikan gambar berikut, garisgaris panah menunjukkan arah aliran darah di dalam
pembuluh nadi, tempat-tempat yang ditekan terletak diantara jantung dan tempat luka.
12

a) untuk pedarahan di daerah muka;
b) untuk perdarahan muka dan kepala;
c) untuk perdarahan di kaki;
d) untuk perdarahan di daerah bawah lutut;
e) untuk perdarahan di lengan;
f) untuk perdarahan di bawah siku;
g) untuk perdarahan di pundak dan sepanjang lengan;
h) untuk perdarahan kulit kepala dan kepala bagian atas.

Gambar 4 Tempat-tempat untuk penekanan perdarahan pembuluh nadi.

Selain itu penekanan juga bisa dilakukan pada pembuluh darah yang menjadi sumber
perdarahan.
Letak pembuluh darah diatas tulang, dibawah kulit. Pada separuh badan terdapat 6
titik dimana pembuluh darah dapat ditekan.
1. Arteri Tempolaris superficial
Untuk perdarahan pada kulit kepala dan kepala atas. Tempat penekanan: pada
pelpis +- 1 cm depan lubang telinga luar.
13

2. Arteri facialis
Untuk perdarahan daerah muka. Tempat penekanan: pada rahang bawah +- 1 cm
depan sendi rahang.
3. Arteri carotis communis
Untuk perdarahan daerah leher, kepala, muka. Tempat penenkanan: pada sisi
leher
4. Arteri sub clavia
Untuk perdarahan seluruh lengan. Tempat penekanan: pada bagian bawah
pertengahan tulang selangka
5. Arteri bracialis
Untuk perdarahan seluruh lengan. Tempat penekanan: pada bagian dalam lengan
atas +- 5 jari dari ketiak.
6. Arteri femoralis
Untuk perdarahan seluruh tungkai bawah. Tempat penekanan: pada pertengahan
lipat paha.

3. Tekanan dengan torniket (torniquet)
Torniket adalah bulatan yang menjepit sehingga aliran darah di bawahnya
terhenti sama sekali. Sehelai pita kain yang lebar, pembalut segitiga yang di lipat-
lipat, atau sepotong ban dalam sepeda dapat digunakan untuk keperluan ini. Panjang
torniket harus cukup untuk dua kali melilit bagian yang hendak di balut. Tempat yang
paling baik untuk memasang torniket ini adalah lima jari di bawah ketiak (untuk
perdrahan di lengan) dan lima jari di bawah lipat paha (untuk perdarahan di kaki).
Cara menggunakan torniket ini adalah:
a) Lilitkan torniket di tempat yang dikehendaki. Lebih bagus lagi apabila
sebelumnya dialasi dengan kain atau kain kasa untuk mencegah timbulnya
lecet pada kulit yang terkena torniket langsung.
b) Apabila menggunakan kain maka ikatkan dengan sebuah simpul hidup,
kemudian selipkan sebatang kayu di atas simpul tersebut. Selanjutnya diikat
lagi dengan simpul air untuk mengencangkan torniket, tetapi jangan diputar
terlalu keras, karena dapat melukai jaringan-jaringan di bawahnya.
c) Tanda-tanda apabila torniket ini sudah dapat memperkecil denyut nadi bagian
tubuh yang berada di bawah torniket, akan terlihat dari warna kulit di sekitar
daerah tersebut menjadi kekuningan.
d) Untuk memudahkan pengusungan, perlihatkan torniket, jangan di tutup
dengan selimut. Selain itu setiap 10 menit torniket harus dikendurkan selama
30 detik, untuk memberi kesempatan darah memberi makanan-makanan ke
14

jaringan di bawah torniket tersebut. Sementara torniket kendor, luka dapat
ditekan dengan kasa steril.
e) Penderita yang ditorniket harus segera dikirim ke rumah sakit, untuk
memperoleh pertolongan selanjutnya.

Gambar 5 Cara memasang torniket.


Gambar 6 Cara memasang torniket. Segulung perban dapat di selipkan di bawah
torniket.
Selain itu ada beberapa tekhnik yang bisa dilakukan untuk menghentikan perdarahan yaitu:
1. Tekhnik elevasi
Dilakukan dengan mengangkat bagian yang luka (setelah dibalut) sehingga lebih tinggi
dari jantung. Tekhnik ini hanya untuk perdarahan didaerah alat gerak saja dan dilakukan
bersama dengan tekanan langsung. Tekhnik ini tidak dapat digunakan untuk korban
dengan kondisi cedera otot rangka dan benda tertancap.
2. Tekhnik pengklem
Dilakukan pada pembuluh darah yang agak besar. Sebelum di klem, pastikan terlebih
dahulu mana pembuluh darah yang menjadi sumber perdarahan. Dapat dilakukan dengan
cara meletakkan kassa di tempat luka sehingga darah terserap kemudian diangkat dan
15

diperhatikan dari mana asal perdarahan. Kemudian daerah tersebut dijepit dan
diusahakan posisi klem tegak lurus. Ini berguna jika dilakukan ligasi maka ikatan tidak
longgar setelah klem dibuka.
3. Tekhnik ligasi
Dilakukan bila penjepitan dengan klem masih terjadi perdarahan terutama perdarahan
yang besar. Caranya sama dengan klem, namum setelah diklem dilakukan ligasi pada
pembuluh darah kemudian klem di buka. Ligasi dapat dilakukan dengan menggunakan
chromic cat gut atau plain cat gut dengan ukuran 3,0. Hal yang perlu diperhatikan ligasi
dengan cat gut, disimpulkan sekurang-kurangnya 3 kali. Karena semakin lama cat gut
maka cat gut akan mengembang dan ikatan menjadi longgar apabila hanya sekali atau
dua kali.
4. Imobilisasi
Bertujuan meminimalkan gerakan anggota tubuh yang luka. Dengan sedikitnya gerakan
diharapkan aliran darah kebagian yang luka menurun.
5. RICE untuk perdarahan dalam
a).R- rest: diistirahatkan, adalah tindakan pertolongan pertama yang esensial, penting
untuk mencegah kerusakan jaringan lebih lanjut.
b). I- Ice: terapi dingin, gunanya mengurangi perdarahan, dan meredakan rasa nyeri.
c). C- Compresion: penekanan atau balut tekan gunanya untuk membantu mengurangi
pembengkakan jaringan dan perdarahan lebih lanjut.
d). E- Elevation: peninggian daerah cidera gunanya untuk mencegah statis, mengurangi
edema (pembengkakan), dan rasa nyeri.
6. Resusitasi cairan
Pengganti yang terbaik adalah darah dari golongan yang sama. Kalau tidak ada maka
untuk sementara dapat dipakai cairan pengganti untuk mencegah terjadinya syok dan
memanfaatkan golden time yang ada. Beberapa jenis cairan pengganti yang dapat
dipakai yaitu:
a) Plasma
b) Plasma nate
c) Fresh frozen plasma (mengandung semua factor pembekuan, kecuali trombosit)
d) NaCL


B. Proses Peradangan
a. Definisi
16

Inflamasi merupakan respons protektif setempat yang ditimbulkan oleh cedera atau
kerusakan jaringan, yang berfungsi menghancurkan, mengurangi, atau mengurung (sekuestrasi)
baik agen pencedera maupun jaringan yang cedera itu (Dorland, 2002).
Secara garis besar, peradangan ditandai dengan vasodilatasi pembuluh darah lokal yang
mengakibatkan terjadinya aliran darah setempat yang berlebihan, kenaikan permeabilitas kapiler
disertai dengan kebocoran cairan dalam jumlah besar ke dalam ruang interstisial, pembekuan
cairan dalam ruang interstisial yang disebabkan oleh fibrinogen dan protein lainnya yang bocor
dari kapiler dalam jumlah berlebihan, migrasi sejumlah besar granulosit dan monosit ke dalam
jaringan, dan pembengkakan sel jaringan. Beberapa produk jaringan yang menimbulkan reaksi
ini adalah histamin, bradikinin, serotonin, prostaglandin, beberapa macam produk reaksi sistem
komplemen, produk reaksi sistem pembekuan darah, dan berbagai substansi hormonal yang
disebut limfokin yang dilepaskan oleh sel T yang tersensitisasi (Guyton & Hall, 1997).

b. Tanda-tanda radang (makroskopis)
Gambaran makroskopik peradangan sudah diuraikan 2000 tahun yang lampau. Tanda-
tanda radang ini oleh Celsus, seorang sarjana Roma yang hidup pada abad pertama sesudah
Masehi, sudah dikenal dan disebut tanda-tanda radang utama. Tanda-tanda radang ini masih
digunakan hingga saat ini. Tanda-tanda radang mencakup rubor (kemerahan), kalor (panas),
dolor (rasa sakit), dan tumor (pembengkakan). Tanda pokok yang kelima ditambahkan pada
abad terakhir yaitu functio laesa (perubahan fungsi) (Abrams, 1995; Rukmono, 1973; Mitchell &
Cotran, 2003).
Umumnya, rubor atau kemerahan merupakan hal pertama yang terlihat di daerah yang
mengalami peradangan. Saat reaksi peradangan timbul, terjadi pelebaran arteriola yang
mensuplai darah ke daerah peradangan. Sehingga lebih banyak darah mengalir ke mikrosirkulasi
lokal dan kapiler meregang dengan cepat terisi penuh dengan darah. Keadaan ini disebut
hiperemia atau kongesti, menyebabkan warna merah lokal karena peradangan akut (Abrams,
1995; Rukmono, 1973).
Kalor terjadi bersamaan dengan kemerahan dari reaksi peradangan akut. Kalor
disebabkan pula oleh sirkulasi darah yang meningkat (hiperemi aktif). Sebab darah yang
memiliki suhu 37
o
C disalurkan ke permukaan tubuh yang mengalami radang lebih banyak
daripada ke daerah normal (Abrams, 1995; Rukmono, 1973).
Perubahan pH lokal atau konsentrasi lokal ion-ion tertentu dapat merangsang ujung-
ujung saraf. Pengeluaran zat seperti histamin atau zat bioaktif lainnya dapat merangsang saraf.
Rasa sakit disebabkan pula oleh tekanan yang meninggi akibat pembengkakan jaringan yang
meradang (Abrams, 1995; Rukmono, 1973). Sebenarnya rasa sakit ini mendahului suatu proses
radang. Hal ini mungkin karena terbentuknya suatu zat oleh sel mast. Zat ini berguna untuk
meningkatkan premeabilitas dinding pembuluh darah.
17

Pembengkakan sebagian disebabkan hiperemi dan sebagian besar ditimbulkan oleh
pengiriman cairan dan sel-sel dari sirkulasi darah ke jaringan-jaringan interstitial. Campuran dari
cairan dan sel yang tertimbun di daerah peradangan disebut eksudat meradang (Abrams, 1995;
Rukmono, 1973).
Berdasarkan asal katanya, functio laesa adalah fungsi yang hilang (Dorland, 2002).
Functio laesa merupakan reaksi peradangan yang telah dikenal. Akan tetapi belum diketahui
secara mendalam mekanisme terganggunya fungsi jaringan yang meradang (Abrams, 1995).
Fungtio laesa dapat berarti berkurangnya fungsi karena adanya rasa sakit akibat saraf yang
terangsang sehingga bagian organ tubuh tidak berfungsi. Penyebab lain penurunan fungsi tubuh
adalah edema.
Tanda utama radang ini disebut cardinal symptom dan disebabkan oleh perubahan
pembuluh darah. Radang merupakan proses yang kompleks, menyebabkan terjadinya perubahan
di dalam jaringan tubuh. Proses tersebut antara lain :
1. Proses penghancuran rangsang yang biasanya disertai dengan kerusakan jaringan
2. Proses perbaikan jaringan yang rusak.

c. Klasifikasi Radang
a) Menurut Faktor Klinis atau Lamanya Radang
1. Radang akut
Radang akut adalah respon yang cepat dan segera terhadap cedera yang
didesainuntuk mengirimkan leukosit ke daerah cedera. Leukosit membersihkan berbagai
mikroba yang menginvasi dan memulai proses pembongkaran jaringan nekrotik. Terdapat
2 komponen utama dalam proses radang akut, yaitu perubahan penampang dan struktural
dari pembuluh darah serta emigrasi dari leukosit. Perubahan penampang pembuluh darah
akan mengakibatkan meningkatnya aliran darah dan terjadinya perubahan struktural pada
pembuluh darah mikro akan memungkinkan protein plasma dan leukosit meninggalkan
sirkulasi darah. Leukosit yang berasal dari mikrosirkulasi akan melakukan emigrasi dan
selanjutnya berakumulasi di lokasi cedera (Mitchell & Cotran, 2003).
Segera setelah jejas, terjadi dilatasi arteriol lokal yang mungkin didahului oleh
vasokonstriksi singkat. Sfingter prakapiler membuka dengan akibat aliran darah dalam
kapiler yang telah berfungsi meningkat dan juga dibukanya anyaman kapiler yang
sebelumnya inaktif. Akibatnya anyaman venular pasca kapiler melebar dan diisi darah
yang mengalir deras. Dengan demikian, mikrovaskular pada lokasi jejas melebar dan
berisi darah terbendung. Kecuali pada jejas yang sangat ringan, bertambahnya aliran
darah (hiperemia) pada tahap awal akan disusul oleh perlambatan aliran darah, perubahan
tekanan intravaskular dan perubahan pada orientasi unsur-unsur berbentuk darah terhadap
dinding pembuluhnya. Perubahan pembuluh darah dilihat dari segi waktu, sedikit banyak
18

tergantung dari parahnya jejas. Dilatasi arteriol timbul dalam beberapa menit setelah
jejas. Perlambatan dan bendungan tampak setelah 10-30 menit (Robbins & Kumar, 1995).
Peningkatan permeabilitas vaskuler disertai keluarnya protein plasma dan sel-sel
darah putih ke dalam jaringan disebut eksudasi dan merupakan gambaran utama reaksi
radang akut. Vaskulatur-mikro pada dasarnya terdiri dari saluran-saluran yang
berkesinambungan berlapis endotel yang bercabang-cabang dan mengadakan
anastomosis. Sel endotel dilapisi oleh selaput basalis yang berkesinambungan (Robbins &
Kumar, 1995).
Pada ujung arteriol kapiler, tekanan hidrostatik yang tinggi mendesak cairan
keluar ke dalam ruang jaringan interstisial dengan cara ultrafiltrasi. Hal ini berakibat
meningkatnya konsentrasi protein plasma dan menyebabkan tekanan osmotik koloid
bertambah besar, dengan menarik kembali cairan pada pangkal kapiler venula. Pertukaran
normal tersebut akan menyisakan sedikit cairan dalam jaringan interstisial yang mengalir
dari ruang jaringan melalui saluran limfatik. Umumnya, dinding kapiler dapat dilalui air,
garam, dan larutan sampai berat jenis 10.000 dalton (Robbins & Kumar, 1995).
Eksudat adalah cairan radang ekstravaskuler dengan berat jenis tinggi (di atas
1.020) dan seringkali mengandung protein 2-4 mg% serta sel-sel darah putih yang
melakukan emigrasi. Cairan ini tertimbun sebagai akibat peningkatan permeabilitas
vaskuler (yang memungkinkan protein plasma dengan molekul besar dapat terlepas),
bertambahnya tekanan hidrostatik intravaskular sebagai akibat aliran darah lokal yang
meningkat pula dan serentetan peristiwa rumit leukosit yang menyebabkan emigrasinya
(Robbins & Kumar, 1995).
Penimbunan sel-sel darah putih, terutama neutrofil dan monosit pada lokasi jejas,
merupakan aspek terpenting reaksi radang. Sel-sel darah putih mampu memfagosit bahan
yang bersifat asing, termasuk bakteri dan debris sel-sel nekrosis, dan enzim lisosom yang
terdapat di dalamnya membantu pertahanan tubuh dengan beberapa cara. Beberapa
produk sel darah putih merupakan penggerak reaksi radang, dan pada hal-hal tertentu
menimbulkan kerusakan jaringan yang berarti (Robbins & Kumar, 1995).
Dalam fokus radang, awal bendungan sirkulasi mikro akan menyebabkan sel-sel
darah merah menggumpal dan membentuk agregat-agregat yang lebih besar daripada
leukosit sendiri. Menurut hukum fisika aliran, massa sel darah merah akan terdapat di
bagian tengah dalam aliran aksial, dan sel-sel darah putih pindah ke bagian tepi
(marginasi). Mula-mula sel darah putih bergerak dan menggulung pelan-pelan sepanjang
permukaan endotel pada aliran yang tersendat tetapi kemudian sel-sel tersebut akan
melekat dan melapisi permukaan endotel (Robbins & Kumar, 1995).
Emigrasi adalah proses perpindahan sel darah putih yang bergerak keluar dari
pembuluh darah. Tempat utama emigrasi leukosit adalah pertemuan antar-sel endotel.
19

Walaupun pelebaran pertemuan antar-sel memudahkan emigrasi leukosit, tetapi leukosit
mampu menyusup sendiri melalui pertemuan antar-sel endotel yang tampak tertutup tanpa
perubahan nyata (Robbins & Kumar, 1995).
Setelah meninggalkan pembuluh darah, leukosit bergerak menuju ke arah utama
lokasi jejas. Migrasi sel darah putih yang terarah ini disebabkan oleh pengaruh-pengaruh
kimia yang dapat berdifusi disebut kemotaksis. Hampir semua jenis sel darah putih
dipengaruhi oleh faktor-faktor kemotaksis dalam derajat yang berbeda-beda. Neutrofil
dan monosit paling reaktif terhadap rangsang kemotaksis. Sebaliknya limfosit bereaksi
lemah. Beberapa faktor kemotaksis dapat mempengaruhi neutrofil maupun monosit, yang
lainnya bekerja secara selektif terhadap beberapa jenis sel darah putih. Faktor-faktor
kemotaksis dapat endogen berasal dari protein plasma atau eksogen, misalnya produk
bakteri (Robbins & Kumar, 1995).
Setelah leukosit sampai di lokasi radang, terjadilah proses fagositosis. Meskipun
sel-sel fagosit dapat melekat pada partikel dan bakteri tanpa didahului oleh suatu proses
pengenalan yang khas, tetapi fagositosis akan sangat ditunjang apabila mikroorganisme
diliputi oleh opsonin, yang terdapat dalam serum (misalnya IgG, C3). Setelah bakteri
yang mengalami opsonisasi melekat pada permukaan, selanjutnya sel fagosit sebagian
besar akan meliputi partikel, berdampak pada pembentukan kantung yang dalam. Partikel
ini terletak pada vesikel sitoplasma yang masih terikat pada selaput sel, disebut fagosom.
Meskipun pada waktu pembentukan fagosom, sebelum menutup lengkap, granula-granula
sitoplasma neutrofil menyatu dengan fagosom dan melepaskan isinya ke dalamnya, suatu
proses yang disebut degranulasi. Sebagian besar mikroorganisme yang telah mengalami
pelahapan mudah dihancurkan oleh fagosit yang berakibat pada kematian
mikroorganisme. Walaupun beberapa organisme yang virulen dapat menghancurkan
leukosit (Robbins & Kumar, 1995).
2. Radang kronis
Radang kronis dapat diartikan sebagai inflamasi yang berdurasi panjang
(berminggu-minggu hingga bertahun-tahun) dan terjadi proses secara simultan dari
inflamasi aktif, cedera jaringan, dan penyembuhan. Perbedaannya dengan radang akut,
radang akut ditandai dengan perubahan vaskuler, edema, dan infiltrasi neutrofil dalam
jumlah besar. Sedangkan radang kronik ditandai oleh infiltrasi sel mononuklir (seperti
makrofag, limfosit, dan sel plasma), destruksi jaringan, dan perbaikan (meliputi
proliferasi pembuluh darah baru/angiogenesis dan fibrosis) (Mitchell & Cotran, 2003).
Radang kronik dapat timbul melalui satu atau dua jalan. Dapat timbul menyusul
radang akut, atau responnya sejak awal bersifat kronik. Perubahan radang akut menjadi
radang kronik berlangsung bila respon radang akut tidak dapat reda, disebabkan agen
penyebab jejas yang menetap atau terdapat gangguan pada proses penyembuhan normal.
20

Ada kalanya radang kronik sejak awal merupakan proses primer. Sering penyebab jejas
memiliki toksisitas rendah dibandingkan dengan penyebab yang menimbulkan radang
akut. Terdapat 3 kelompok besar yang menjadi penyebabnya, yaitu infeksi persisten oleh
mikroorganisme intrasel tertentu (seperti basil tuberkel, Treponema palidum, dan jamur-
jamur tertentu), kontak lama dengan bahan yang tidak dapat hancur (misalnya silika),
penyakit autoimun. Bila suatu radang berlangsung lebih lama dari 4 atau 6 minggu
disebut kronik. Tetapi karena banyak kebergantungan respon efektif tuan rumah dan sifat
alami jejas, maka batasan waktu tidak banyak artinya. Pembedaan antara radang akut dan
kronik sebaiknya berdasarkan pola morfologi reaksi (Robbins & Kumar, 1995).

b) Berdasarkan Perubahan Jaringan atau Mikroskopis
1. Radang Eksudatif
Pada radang eksudatif, sebagian besar didominasi oleh eksudat radang, jaringan
mati hanya sedikit. Ada dua macam eksudat radang yaitu eksudat selular dan eksudat
humoral. Berdasarkan eksudat selularnya, radang dibagi menjadi radang akut, radang
subakut, dan radang kronis. Pada radang akut, sel yang terutama dijumpai adalah PMN
(Sel Polimorfonuklear) neutrofil, sedangkan limfosit dan monosit sedikit. Pada radang
subakut yang banyak adalah sel PMN eosinofil, sedangkan jumlah limfosit dan monosit
bertambah banyak. Pada radang kronis, yang paling banyak dijumpai adalah sel limfosit
dan monosit. Kadang dijumpai sel plasma dan sel PMN sedikit.
2. Radang Degeneratif
Sebagian besar gambaran mikroskopisnya terdiri atas jaringan nekrosis dengan
sedikit sel radang misalnya pada difteri, yang mengandung kuman pada tonsil tetapi
mengeluarkan eksotoksin yang dapat menyebabkan radang pada jantung. Jika sampai
menimbulkan kematian, dalam jaringan otot jantung akan ditemukan jaringan nekrosis di
beberapa bagian.
3. Radang Proliferatif
Secara mikroskopis, selain dijumpai eksudat, radang juga terdiri atas jaringan
yang dapat berproliferatifa. Jadi, di sini akan terlihat pertumbuhan jaringan sehingga
akan membentuk tonjolan. Karena ada eksudat radang dan proliferasi jaringan,
gambaranya hampir sama dengan jaringan granulasi. Jaringan granulasi yang berlebihan
akan membentuk suatu tonjolan yang disebut granuloma yaitu suatu masa seperti tumor
yang tersir atas jaringan granulasi. Karena ada pertumbuhan jaringan granulasi, disebut
radang granulomatosa. Radang ini memberikan gambaran yang spesifik dan dapat
dijumpai pada tuberkulosis, sifilis, lepra, sarkoidosis, limfogranuloma inguinal,
brucellosis, dan aktinomikosis.

21

c) Berdasarkan Eksudat Humoralnya
1. Radang Katarhalis
Eksudat merupakan eksudat jernih berupa lender, dijumpai pada alat tubuh
yang memproduksi lender, seperti nasofaring, paru, traktus intestinalis, dan rahim,
misalnya pada pilek dan kolera.
2. Radang Fibrinosa
Eksudat sebagian besar terdiri atas fibrin, biasanya sel radang hanya sedikit.
Akan tetapi ada juga penyakit dengan gambaran mikroskopis eksudat terdiri fibrin
tetapi banyak mengandung PMN, misalnya pneumonia lobaris. Pada penyakit ini,
pleuranya sering ikut meradang. Keadaan demikian dinamakan pleuritis sika
(kuning).
3. Radang Serosa
Eksudatnya Nampak serosa dan jernih. Fibrinnya sedikit sekali, tetap cair dan
sering cairan itu harus disedot. Dapat dijumpai misalnya pada tuberculosis yang akan
menyebabkan pleuritis eksudatnya.
4. Radang Purulenta
Eksudat sebagian besar terdiri atas nanah, dijumpai pada bisul dan
bronkopneumonia atau pneumonia lobularis. Pada pneumonia lobularis, walaupun
ada PMN neutrofil yang hidup dan mati, juga ada kuman, tetapi ridak menimbulkan
nanah atau radang purulenta, karena tidak ada jaringan mati atau nekrosis.
Sebaliknya, pada pneumonia lobularis salain ada PMN dan fibrin, juga ada
jaringan nekrotik sehingga ada nanah. Akibatnya, penyembuhan pada pneumonia
lobularis dapat terjadi dengan sempurna tanpa cacat, meskipun selalu ada jaringan
parut.
5. Radang Haemorrhagik
Pada radang ini eksudatnya berwarna merah karena banyak mengandung
eritrosit, biasanya banyak terjadi kerusakan jaringan sehingga akan dibentuk kapiler
dan saluran limfe baru. Namun jika radang sudah mereda atau sembuh, kapiler akan
menyempit dan menghilang kembali.

6. Radang Pseudomembranosa
Radang ini tampak karakteristik dengan adanya pembentukan membrane
palsu yang terbentuk dari bekuan fibrin, epitel nekrotik, dan sel leukosit mati. Radang
ini hanya dijumpai pada permukaan mukosa, misalnya faring, laring, trakea, bronkus
dan traktus intestinalis, akibat adanya suatu gen atau iritan yang kuat misalnya kuman
difteri. Pada radang ini akan akan terjadi nekrosis dan kemudian membeku sehingga
22

permukaan jaringan radang akan dilapisi oleh lapisan yang nekrosis berwarna putih
keabu-abuan. Selaput ini disebut pseudomembran.
d) Berdasarkan Lokasinya
1. Abses
Abses adalah radang bernanah yang berkumpul pada suatu tempat dalam
tubuh sehingga nanah itu berada dalam rongga yang secara anatomis tidak ada. Jika
dijumpai nanah dalam rongga tubuh yang secara anatomis sudah ada, disebut
empiemia, misalnya epiemia peritonni, empimia perikardii, dan sering adalah
empymia thiracii. Kumpulan nanah dalam rongga toraks disebut empimia saja.
2. Phlegmon atau Selulitis
Phlegmon merupakan radang purulenta atau supuratif yang menjalar rata
diseluruh bagian tubuh, misalnya apendisitis akut flegmonosa. Selulitis merupakan
suatu radang akut yang dijumpai pada jaringan penyambung jarang, tersebar merata
dan luas serta sering ada di bawah kulit tanpa pembentukan nanah. Ada beberapa
penulis yang menganggap selulitis sama dengan phlegmon dan memberikan definisi
sebagai berikut : phlegmon adalah radang akut yang tersebar merata di dalam
jaringan beranyaman jarang yang mnungkin disertai dengan pembentukan nanah.
Ulkus atau tukak adalah suatu defek local dari suatu permukaan organ atau
jaringan tubuh yang disebabkan karena adanya jaringan nekrotik dari suatu radang
yang tercurah keluar. Ulserasi hanya dapat terjadi jika radang kronis itu dapat keluar
atau dekat dengan permukaan sehingga dapat ditembus. Ulkus terjadi jika sebagian
permukaan jaringan menghilang sehingga jaringan disekitarnya meradang. Jaringan
yang nekrosis ini dapat disebabkan karena toksin ataupun penyumbatan kapiler akibat
radang.
Ulkus sering dijumpai pada keadaan :
1) Ada fokus radang nekrotik pada mukosa mulut, lambung, dan usus.
2) Radang subkutaneus dari anggota gerak bawah pada penderita lanjut usia dengan
gangguan sirkulasi yang merupakan factor predisposisi untuk terjadinya nekrosis
yang luas.
3) Pada leher rahim, dalam mulut (ulkus dekubitalis), lambung (ulkus peptikum),
dan kulit (borok)
e) Fase Penyembuhan
1. Pemulihan Jaringan
Pemulihan jaringan merupakan proses akhir dari suatu radang menuju
penyembuhan, sedangkan penyembuhan merupakan proses atau cara memperbaiki
jaringan yang rusak.
Sel yang menggantikan jaringan yang rusak berasal dari 2 sumber. Yaitu :
23

1) Jaringan Parenkim
2) Jaringan stroma
Proses penyembuhan dari sel parenkim terjadi dengan mengganti sel yang rusak
dengan sel yang baru dan sama, sehingga fungsi tubuh dan jaringan akan pulih kembali
dengan sempurna. Penyembuhan yang demikian disebut regenerasi. Sedangkan untuk
jaringan storma sel atau jaringan yang rusak akan diganti dengan jaringan ikat. Proses
demikian disebut organisasi. Pada organisasi akan terbentuk jaringan granulasi yang
kemudian akan terbentuk jaringan ikat.
Sel parenkim dibedakan menjadi :
a) sel labil
Merupakan sel yang memang pada saat tertentu mengalami mikrosis tetapi
akan mengalami pembaharusan yang terjadi secara periodik dan sel akan diganti
dengan sel yang sama melalui suatu proses yang disebut regenerasi fisiologis.
b) sel stabil
Merupakan sel parenkim yang terdapat dalam sel kelenjar dalam tubuh
termasuk hati, pankrean, kelenjar edndokrin, sel tubulus ginjal, dan kelenjar pada
kulit.
c) sel permanen
Pada regenerasi sel labil atau stabil akan terjadi perubahan dimana sel dewasa
akan berubah menjadi sel muda atau embrional yang dapat berkembang biak.
2. Faktor-faktor Penghambat Penyembuhan
1. Faktor Umum
a. Umur
Biasanya penyembuhan lebih lambat pada lanjut usia. Munkin disebabkan karena
kurangnya supply darah pada orang yang sudah tua.
b. Diet
Pada saat orang sedikit makan protein menyebabkan kadar protein dalam darah
sangat rendah. Keadaan ini menyebabkan luka sukar sembuh dan menyebakan luka
semakin parah. Zat yang penting yaitu suatu zat yang disebut methionin. Zat ini akan
membuat tubuh dapat membuat zat protein secara lebih efisien.
c. Vitamin
Misalnya Vit.C, merupakan zat yang sangat berguna untuk pembentukan asam
hialuron yang merupakan zat perekat antar jaringan ang sangat penting.
d. Hormon
Misalnya kortison. Pemberian kortison pada radang dapat menyebabkan gangguan
pada mekanisme perubahan pembuluh darah, menyebabkan pembentukan eksudat
radang yang sedikit sekali atau terhambat.
24

2. Faktor Lokal
a. Suplai darah
Kekurangan darah juga dapat menyebabkan tubuh kekurangan zat yang sangat
dibutuhkan misalnya vitamin dan oksigen. Hal ini sendiri akan menyebakan
terhambatnya proses penyembuhan.

b. Benda asing
Karena benda asing ini merupakan suatu rangsangan pada jaringan yang tetap akan
memelihara adanya radang
c. Pergerakan jaringan
Misalnya patah tulang. Jika kedua benda ini tetap ada gerakan, penyembuhan akan
terhambat.
d. Besarnya kerusakan jaringan
Jika ada kerusakan total dari suatu organ biasanya tidak dapat diperbaiki dengan
sempurna.
e. Jenis jaringan
Kerusakan pada jaringan tubuh (sel stabil dan sel labil) akan sembuh dengan
sempurna, tetapi pada sel permanen penyembuhannya terjadi sebaliknya.

C. Proses Penyembuhan Luka
Fisiologi Penyembuhan Luka
Proses dasar seluler dan biokimia yang sama terjadi dalam penyembuhan semua
cedera jaringan lunak, baik luka ulseratif kronik, seperti dekubitus dan ulkus tungkai, luka
traumatis, misalnya laserasi, abrasi, dan luka bakar, atau luka akibat tindakan bedah.
Proses Fisiologis penyembuhan luka dapat dibagi kedalam 4 fase utama :
a. Respon Inflamasi Akut Terhadap Cedera
Hemostasis : vasokontriksi sementara dari pembuluh darah yang rusak terjadi
pada saat sumbatan trombosit dibentuk dan diperkuat juga oleh serabut fibrin untuk
membentuk sebuah bekuan.
Respon jaringan yang rusak, jaringan yang rusak dan sel mast melepaskan
histamine dan mediator lain, sehingga menyebabkan vasodilatasi dari pembuluh
darahsekeliling yang masih utuh serta meningkatnya penyediaan darah ke daerah tersebut,
sehingga menjadi merah dan hangat. Permeabilitas kapiler kapiler darah meningkat dan
cairan yang akan protein mengalir kedalam spasium interstisial, menyebabkan edema
local dan mungkin hilangnya fungsi di atas sendi tersebut. Leukosit polimorfonuklear
25

(polimorf) dan makrofag mengadakan migrasi ke luar dari kapiler dan masuk ke dalam
daerah yang rusak sebagai reaksi terhadap agens kemotaktik yang dipacu oleh adanya
cedera.
Respon inflamasi akut terhadap cedera mencakup hemostatis, pelepasan
histamine dan mediator lain dari sel sel yang rusak dan migrasi sel darah putih ( leukosit
polimorfonuklear dan makrofag) ketempat yang rusak. Durasi fase 0 3 hari, fase ini
merupakan bagian yang essensial dari proses penyembuhan dan tidak ada upaya yang
dapat menghentikan proses ini kecuali pada kompartemen tertutup ( missal luka bakar
pada leher). Meski demikian, jika hal tersebut diperpanjang secara terus menerus,
adanya benda asing, pengelupasan jaringan yang luas, trauma kambuhan, atau oleh
penggunaan yang tidak bijaksana preparat tropical untuk luka, seperti antiseptic,
anibiotik, atau krim asam, sehingga penyembuhan diperlambat dan kekuatan regangan
luka menjadi tetap rendah.
Sejumlah besar sel tertarik ke tempat tersebut untuk bersaing mendapatkan gizi
yang tersedia. Inflamasi yang terlalu banyak dapat menyebabkan granulasi yang
berlebihan pada fase III dan dapat menyebabkan jaringan parut hipertrofik.
Ketidaknyamanan karena edema dan denyutan pada tempat luka juga menjadi
berkepanjangan.
b. Fase Destruktif
Pembersihan terhadap jaringan mati atau yang mengalami devitalisasi dan bakteri
oleh polimorf dan makrofag. Polimorf menelan dan menghancukan bakteri. Tingkat
aktivitas polimorf yang tinggi hidupnya singkat saja dan penyembuhan dapat berjalan
terus tanpa keberadaan sel tersebut. Meski demikian, penyembuhan berhenti bila
makrofag mengalami deaktifasi dengan durasi fase 1 6 hari. Sel sel tersebut tidak
hanya mampu menghancurkan bakteri dan mengeluarkan jaringan yang mengalami
devitalisasi serta fibrin yang berlebihan, tetapi juga mampu merangsang pembentukkan
fibroblast, yang melakukan sintesa struktur protein kolagen dan menghasilkan sebuah
factor yang dapat merangsang angiogenesis. (fase III).
Polimorf dan makrofag mudah dipengaruhi oleh turunnya suhu pada tempat luka,
sebagaimana yang dapat terjadi bilamana sebuah luka yang basah dibiarkan tetap terbuka,
pada saat aktivitas mereka dapat turun sampai nol. Aktivitas mereka dapat juga dihambat
oleh agens kimia, hipoksia dan juga perluasan limbah metabolic yang disebabkan karena
buruknya perfusi jaringan.
c. Fase Proliferatif
Fibroblast meletakkan substansi dasar dan serabut serabut kolagen serta
pembuluh darah baru mulai menginfiltrasi luka. Begitu kolagen diletakkan, maka terjadi
peningkatan yang cepat pada kekuatan regangan luka. Kapiler kapiler dibentuk oleh
26

tunas endothelial, suatu proses yang disebut angiogenesis. Bekuan fibrin yang dihasilkan
pada fase I dikeluarkan begitu kapiler baru menyediakan enzim yang diperlukan. Tanda
tanda inflamasi mulai berkurang. Jaringan yang dibentuk dari gelung kapiler baru, yang
menopang kolagen dan substansi dasar, disebut jaingan granulasi karena
penampakkannya yang granuler dengan durasi fase selama 3 24 hari dengan warna
merah terang.
Gelung kapiler baru jumlahnya sangat banyak dan rapuh serta mudah sekali rusak
Karena penanganannya yang kasar, missal menarik balutan yang melekat. Vitamin C
penting untuk sintesis kolagen. Tanpa vitamin C, sintesis kolagen berhenti, kapiler darah
baru rusak dan mengalami perdarahan, serta penyembuhan luka terhenti. Factor sistemik
lain yang dapat memperlambat penyembuhan pada stadium ini termasuk defisiensi besi,
hipoproteinemia, serta hipoksia. Fase proliferative terus berlangsung secara lebih lambat
seiring dengan bertambahnya usia.
d. Fase Maturasi
Epiteliasasi, kontraksi, dan reorganisasi jaringan ikat. Dalam setiap cedera yang
mengakibatkan hilangnya kulit, sel epitel pada pinggir luka dan sisa sisa folikel rambut,
serta glandula sebasea dan glandula sudorifera, membelah dan mulai bermigrasi di atas
jaringan granula baru. Karena jaringan tersebut hanya dapat bergerak di atas jaringan
yang hidup, maka mereka lewat dibawah eskar atau dermis yang mongering. Apabila
jaringan tersebut bertemmu dengan sel sel epitel lain yang juga mengalami migrasi,
maka mitosis berhenti akibat inhibisi kontak, durasi waktu pada fase maturasi adalah 24
365 hari.
Kontraksi luka disebabkan karena miofibroblast kontraktil yang membantu
menyatukan tepi tepi luka. Terdapat suatu penurunan progresif dalam vaskularitas
jarnga parut, yang berubah dalam penampilannya dari merah kehitaman menjadi putih.
Serabut serabut kolagen mengadakan reorganisasi dan kekuatan regangan luka
meningkat. Luka masih sangat rentan terhadap trauma mekanis ( hanya 50% kekuatan
regangan normal dari kulit diperoleh kembali dalam tiga bulan pertama ). Epitelialisasi
terjadi sampai tiga lebih cepat di lingkungan yang lembab (di bawah balutan oklusif atau
balutan semifermeabel) daripada lingkungan yang kering.
Kontraksi luka biasanya merupakan suatua fenomena yang sangat membantu,
yakni menurunkan daerah permukaan luka dan meninggalkan jaringan parut yang relative
kecil, tetapi kontraksi berlanjut dengan buruk pada daerah tertentu, seperti di atas tibia,
dan dapat menyebabkan distorsi penampilan pada cedera wajah. Kadang, jaringan fibrosa
pada dermis menjadi sangat hipertrofi, kemerahan dan menonjol, yang pada kasus ekstrim
menyebabkan jaringan parut keloid tidak sedap dipandang.
27

Termasuk ukuran dan tempat luka, kondisi fisiologis umum pasien, dan adanya
bantuan ataupun intervensi dari luar yang ditujukan dalam rangka mendukung
penyembuhan.
a. Penyembuhan Luka Secara Intensi Primer
Penyembuhan luka secara intense primer merupakan penyembuhan yang terdapat sedikit
jaringan yang hilang, seperti pada luka bersih yang dibuat akibat tindakan bedah, atau pada
laserasi yang tepinya dirapatkan oleh plester kulit, maka penyembuhan terjadi secara intensi
primer, yaitu dengan menyatukan kedua tepi luka berdekatan dan saling berhadapan. Jaringan
granulasi yang dihasilkan, sangat sedikit. Dalam waktu 10 14 hari, reepitelialisasi secara
normal sudah sempurna, dan biasanya hanya menyisakan jaringan parut tipis, yang dengan cepat
dapat memudar dari warna merah muda menjadi putih. Meskipun demikian, diperlukan waktu
beberapa bulan bagi jaringan untuk memperoleh kembali segala sesuatunya, seperti kekuatan
regangan mereka sebelumnya.

b. Penyembuhan luka Secara Intensi Sekunder
Pada luka luka terbuka, di mana terdapat kehilangan jaringan yang signifikan,
dikatakan bahwa penyembuhan terjadi secara intense sekunder. Luka terbuka yang kronis, sepeti
dekubitus dan ulkus tungkai, termasuk dalam kategori ini, demikian pula halnya dengan
beberapa luka akibat operasi dengan sengaja dibiarkan terbuka, seperti misalnya absesyang baru
saja dilakukan drain atau sinus pilonidal yang dibiarkan terbuka.
Jaringan granulasi, yang terdiri atas kapiler kapiler darah baru yang disokong oleh
jaringan ikat, terbentuk didasar luka dan sel sel epitel melakukan migrasi ke pusat permukaan
luka, dan dari pulau pulau jaringan epitel yang berhubungan dengan folikel rambut, kelenjar
sebasea, dan kelenjar sudorifera. Daerah permukaan luka menjadi lebih keil akibat suatu proses
yang dikenal sebagai kontraksi dan jaringan ikat disusun kembali dengan bertambahnya waktu.
Pada mulanya, jaringan parut berwarna merah dan menonjol. Pada saatnya, tonjolan dan
warnanya kemerahan itu akan berkurang dan akhirnya menghilang sehingga meninggalkan
jaringan parut yang lunak dan lebih pucat disbanding kulit sekitarnya. Meskipun demikian,
rangkaian kejadian tersebut bukannya tanpa variasi. Jaringan fibrosa pada lapisan dermis dapat
menjadi hipertrofi yang nyata sekali, berwarna merah, dan menonjol.
Reaksi yang lebih kemerahan adalah pembentukkan jaringan parut keloid. Pada parut
keloid jaringan tampak nyata menonjol, cenderung untuk menyebar, mengikutsertakan kulit
normal disekitarnya, dan dapat terasa panas, nyeri tekan, dan gatal. Parut keloid lebih banyak
terjadi pada pasien pasien yang berkulit hitam daripada pasien berkulit putih. Daerah daerah
tertentu ternyata mempunyai resiko yang tinggi dalam menghasilkan parut keloid disbanding
28

daerah lainnya, terutama pada daerah presternal dan daerah deltoid, serta jaringan parut vertical
pada daerah leher.

c. Faktor Faktor yang dapat Memperlambat Penyembuhan
Banyak factor yang dapat memperlambat penyembuhan luka. Factor factor tersebut
dapat dibagi kedalam factor factor yang ada hubungannya dengan pasien (intrinsic), seperti
kondisi kondisi yang kurang menguntungkan pada tempat luka, dan sejumlah kondisi medis
yang dapat menyebabkan lingkungan sekitar yang buruk bagi penyembuhan luka, factor factor
dari luar (ekstrinsik), seperti pengelolaan luka yang kurang tepat dan efek efek terapi lainnya
yang tidak menguntungkan.
Mengatasi pengaruh pengaruh yang merugikan dari semua factor tersebut, sangat
diperlukan untuk penyembuhan optimum. Pokok pokok pikiran inilah yang akan banyak
diulang, pada keadaan yang berbeda diseluruh buku ini.
a. Factor factor local yang merugikan pada tempa luka.
Factor factor local yang merugikan ditempat luka yang dapat memperlambat
penyembuhan meliputi hipoksia, dehidrasi, eksudat yang berlebihan, turunnya
temperature, jaringan nekrotik, krusta yang berlebihan, adanya benda asing, dan trauma
yang berulang.
1. Kurangnya suplai darah dan pengaruh hipoksia.
Luka dengan suplai darah yang buruk sembuh dengan lambat, jika factor factor
yang essensial untuk penyembuhan, seperti oksigen, asam amino, vitamin dan
mineral, sangat lambat menapai luka karena lemahnya vaskularisasi, maka
penyembuhan luka tersebut akan terhambat, meskipun pada pasien pasien yang
nutrisinya baik.
2. Dehidrasi
Jika luka terbuka dibiarkan terkena udara, maka lapisan permukaannya akan
mongering. Sel sel epitel pada tepi luka bergerak kebawah, dibawah lapisan
tersebut, sampai sel sel tersebut mencapai kondisi lembab yang memungkinkan
mitosis dan migrasi sel sel untuk menembus permukaan yang rusak.(Silver, 1980).
Waktu yang panjang akibat membiarkan luka itu mongering mengakibatkan lebih
banyak jaringan yang hilang dan menimbulkan jaringan parut, yang akhirnya dapat
menghambat fase penyembuhan (Turner, 1985).
3. Eksudat berlebihan
Terdapat suatu keseimbangan yang sangat halus antara kebutuhan akan lingkungan
luka yang lembab, dan kebutuhan untuk mengeluarkan eksudat berlebihan yang dapat
mengakibatkan terlepasnya jaringan. Eksotoksin dan sel sel debris yang berada
29

didalam eksudat dapat memperlambat penyembuhan dengan cara mengabadikan
respon inflamasi.
4. Turunnya temperature
Aktivitas fagositik dan aktivitas mitosis secara khusus mudah terpengaruh terhadap
penurunan temperature pada tempat luka. Kira kira dibawah 28
o
C, aktivitas
leukosit dapat turun nol. Apabila luka basah dibiarkan terbuka lama pada saat
mengganti balutan, atau saat menunggu pemeriksaan dokter, maka temperature
permukaan dapat menurun sampai paling rendah 12
o
C. Pemulihan jaringan ke suhu
tubuh dan aktivitas mitosis sempurna, dan memakan waktu sampai 3 jam.
5. Jaringan nekrotik, krusta yang berlebihan, dan benda asing.
Adanya jaringan nekrotik dan krusta yang berlebihan di tempat luka dapat
memperlambat penyembuhan dan meningkatkan risiko terjadinya infeksi klinis.
Demikian juga, adanya segala bentuk benda asing, temasuk bahan bahan jahitan
drain luka. Oleh karena itulah maka sangat penting untuk mengeluarkan kontaminan
orgnik maupun anorganik ecepat mungkin tetapi dengan trauma yang minimum
terhadap jaringan yang utuh.
6. Trauma dapat berulang
Pada sebuah luka terbuka, traum mekanis dengan mudah merusak jaringan granulasi
yang penuh dengan pembuluh darah dan mudah pecah, epithelium yang baru saja
terbentuk dan dapat menyebabkan luka sehingga kembali ke keadaan fase
penyembuhan tertentu yaitu fase respon inflamasi akut. (Moya J. Morison, 2004)

d. Penyembuhan luka
Penyembuhan luka yakni berintegrasinya kembali jaringan yang mengalami
diskontinu oleh karena trauma atau sebab yang lain. Sekalipun penyembuhan luka tidak
termasuk kedalam kasus ICU akan tetapi luka yang disebabkan oleh trauma merupakan
bagian dari pasien yang dirawat di ICU.
Berdasarkan fisiologi penyembuhan luka dapat dibagi atas 3, yakni fase pertama
inflamasi dimana tampak reaksi dari pembuluh darah dan sel sraf. Fae kedua disebut dengan
fase proliferasi dimana terjadi epitelisasi. Fase ketiga penyembuhan yang sempurna dimana
terjadi parut dari jaringan kolagen.
Secara klasik penyembuhan luka dibagi atas :
1. Penyembuhan primer, penyembuhan luka dengan menjahit kedua bagian kulit yang
terbuka dan tidak terdapat infeksi.
2. Penyembuhan sekunder terjadinya dengan pembentukkan jaringan granulasi.
3. Penyembuhan tersier dimana terjadi proses infeksi.
30

Bila penyembuhan luka melalui infeksi maka terbentuk ulkus yng dapat dibagi atas 4 tingkat
kedalaman. Tingkat pertama kulit sampai tingkat epidermis dimana menjadi merah, tingkat
kedua dimana terjadi kerusakan dermis, tingkat ketiga dalam penyembuhan luka ini
dibicarakan :
a. Tipe luka berdasarkan dalamnya luka.
b. Kategori luka.
c. Fase fase penyembuhan luka.
d. Tipe penyembuhan luka.
e. Factor factor yang mempengaruhi penyembuhan luka.
f. Konsep penyembuhan luka.
g. Efek penggunaan antiseptic.
h. Penggunaan biosintentik dressing pada luka.
i. Keuntungan dan kerugian penggunaan dressing.
j. Protocol dan penilaian luka pada umumnya.
Untuk fase fase penyembuhan luka :
1. Fase inflamasi : penyembuhan dimulai.
a. Respon hemostatik
b. Respon vaskuler.
c. Respon seluler
2. Fase proliferasi : fase penyembuhan utama.
a. Sintesis kolagen
b. Angiogenesis
c. Epitelialisasi
3. Fase remodeling : proses penyembuhan lengkap.
a. Perubahan kolagen.
Kategori luka
Berdasarkan kategorinya luka dapat dibagi atas kehilangan kemampuan intergritas :
a. Kehilangan kemampuan integritas kulit.
b. Kehilangan integritas jaringan subkutan
c. Kehilangan integritas jaringan yang lebih jauh sampai ke tulang.
Tipe penyembuhan luka
Tipe penyembuhan luka dapat dibagi menjadi dua yaitu :
31

a. Penyembuhan Primer, yakni penyembuhan luka tanpa terdapatnya proses infeksi dan biasanya
terjadi pada luka superficial. Penyembuhan primer ini ditandai dengan tidak tampaknya tanda
tanda inflamasi, sesudah 48 jam luka menutup dan tidak terdapat tepi luka pada hari ke 7
dan hari ke 9.
b. Penyembuhan sekunder , yakni ditandai dengan terdapatnya :
1. Jaringan granulasi : pucat atau tidak ada kemajuan penyembuhan luka. Terlalu basah atau
terlalu kering.
2. Ukuran luka : tidak berubah atau meluas sesudah pus dikeluarkan.
3. Eksudat : terdapat eksudat, menebal atau dengan tanpa bau.
4. Jaringan epitel : tidak terdapat atau terdapat disekitar luka.(Tabrani Rab, 2008)


















32

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Perdarahan adalah keluarnya darah dari pembuluh dara akibat kerusakan (robekan)
pembuluh darah. Kehilangan darah bisa disebabkan perdarahan internal dan eksternal.
Perdarahan internal lebih sulit diidentifikasi. Jika pembuluh darah terluka maka akan segera
terjadi kontriksi dinding pembuluh darah sehingga hilangnya darah dapat berkurang. Platelet
mulai menempel pada tepi yang kasar sampai bentuk sumbatan. Perdarahan dibagi dua jenis
yaitu perdarahan luar dan perdarahan dalam dimana perdarahan luar seperti pedarahan dari
pembuluh rambut, perdarahan dari pembuluh darah balik, dan perdarahan dari pembuluh nadi.
Sedangkan perdarahan dalam biasanya disebabkan oleh pukuran keras atau terbentur hebat,
luka tusuk, luka tembak, pecahnya pembuluh darah karena suatu penyakit dan robeknya
pembuluh darah akibat terkena ujung tulang patah.
Perdarahan pada umumnya ada beberapa jenis seperti, perdarahan di hidung,
perdarahan pada telinga, perdarahan pada waktu hamil, perdarahan pada rongga perut,
perdarahan di kepala, perdarahan di selaput otak, perdarahan di mata, dan perdarahan
pembuluh nadi. Dari berbagai jenis perdarahan yang telah dijelaskan di makalah, untuk
penatalaksanaannya berbeda-beda tergantung dari jenis perdarahannya.
Proses peradangan merupakan respon yang dikeluarkan oleh tubuh untuk
memberikan sinyal bahwa dalam tubuh ada yang salah. Untuk prosesnya dibagi menjadi
beberapa tanda yaitu rubor (kemerahan), kalor (rasa panas), dolor (rasa sakit atau nyeri), dan
yang terakhir adalah tumor (pembengkakan). Tanda pokok yang kelima tersebut disebut
sebagai function laesa.
Menurut kelompok dari berbagai sumber yang didapatkan penyembuhan luka akan
selalu mengalami 4 fase penting dimana fase pertama yaitu fase peradangan atau inflamasi
dimana luka masih merah, dan sangat mudah mengalami infeksi, kemudian berlanjut ke fase
yang kedua yaitu fase destruktif dimana makrofag sudah mulai membentuk jaringan mati,
sehingga jika jaringan tersebut tidak dihilangkan maka akan menghambat pembentukan
jaringan atau menghambat proses penyembuhan luka, kemudian fase ketiga merupakan fase
proliferative yang mulai adanya sintesis kolagen dan pembentukan jaringan jaringan baru,
dan fase terakhir yaitu remodeling merupakan fase dimana luka mulai sembuh dan terbentuk
jaringan baru yang sempurna.



33

B. Saran
1. Bagi Mahasiswa:
Diharapkan mahasiswa mampu memahami tentang perdarahan, proses proses
peradangan,dan penyembuhan luka.
2. Bagi perawat :
Diharapkan agar dapat meningkatkan ketrampilan dalam memberikan praktek asuhan
keperawatan, khususnya tentang klien dengan kasus perdarahan, gangguan penyembuhan
luka, dan peradangan.
3. Bagi dunia dunia keperawatan :
Diharapkan dengan adanya makalah ini, kita sebagai tenaga keperawatan lebih memahami
bagaimana terjadinya perdarahan dan bagaimana penatalaksanaannya, proses proses
peradangan, dan proses proses penyembuhan luka.

























34

DAFTAR PUSTAKA

Brunner dan Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal Bedah. EGC : Jakarta
Smeltzer dan Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Vol.1.
EGC : Jakarta
Smeltzer dan Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Vol.2.
EGC : Jakarta
Morison M. 2004. Manajemen Luka. EGC : JAKARTA
Moenadjat Yefta. 2009. Luka Bakar (Masalah dan Tatalaksana). FKUI : JAKARTA
Rab Tabrani. 2006. Agenda Gawat Darurat (Critical Care) Jilid 1. Alumni : Bandung
Rab Tabrani. 2008. Agenda Gawat Darurat (Critical Care) Jilid 2. Alumni : Bandung
Tierney Lawrence. 2001. Diagnosis dan Terapi Kedokteran Penyakit Dalam (Buku 2).
Salemba Medika:Jakarta
Syaifuddin. 2006. Anatomi Fisiologi Untuk Mahasiswa Keperawatan. EGC:Jakarta
Kusuma Hardhi. 2012. Handbook For Health Student (Student Mediaction). Yogyakarta
Mansjoer Arif. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Jilid I. Media Aesculapis:Jakarta
Mansjoer Arif. 2009. Kapita Selekta Kedokteran Jilid II. Media Aesculapis:Jakarta
Suparyanto, (2010).Proses Peradangan.
http://drsuparyanto.com/2010/09/prosesperadangan.hml. diakses tanggal 27 September 2013
jam 20:09 WIB.
Yanasari Vandri,(2010).Macam Macam Syok.
http://wordprees.com/tag/file_digital/macam-macamsyok.pdfdi. diakses tanggal 27
September 2013 jam 20:39
Yanasari Vandri,(2010).Syok.
http://wordprees.com/tag/file_digital/syok.pdfdi. diakses tanggal 27 September 2013 jam
20:39
35

Ircham Machfoedz, 2007. Pertolongan Pertama di Rumah, di Tempat Kerja, atau di
Perjalanan. Yogyakarta: Fitramaya.

Kartono Mohamad, 2001. Pertolongan Pertama. Edisi yang disempurnakan. Jakarta: PT
Gramedia Pustaka.

Risang Bagus Sutawijaya, 2009. Gawat Darurat. Yogakarta: Aulia Publising.

Sudijandoko Andun, 2000, Perwatan dan Pencegahan Cedera, Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan.

http://ciyuinspirasiku.blogspot.com/2013/02/perdarahan-dan -penanganannya.html

http://alifasalwa.blogspot.com/2009/08/prosedur-menghentikan-perdarahan.html

http://www.scribd.com/doc/132045588/makalah-pendarahan-ket

http://sahrilramadhan.blogspot.com/2011/11/askep-leukemia.html

http://kuliahal.blogspot.com/2009/12/askep-leukemia.html

http://ephopuppy.blogspot.com/2011/02/keperawatan-leukemia-pada-anak 10

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/37618/5/Chapter%20I.pdf
http://ppni-dki.com/download/al10.pdf