Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

PENGARUH PERUBAHAN SUHU PANAS DAN DINGIN


MEDIA AIR TERHADAP MEMBUKA & MENUTUP
OPERCULUM BENIH IKAN MAS


Disusun Oleh :
Kelompok 6
Indah Nurwulan 230110130087
Abduyana Purwidyo 230110130091
Muhammad Aditya 230110130094

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Fisiologi Hewan Air

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2014
Page | 2

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat dankarunia-Nya sehingga kami berhasil menyelesaikan laporan praktikum
untuk memenuhi nilai mata kuliah Fisiologi Hewan Air, yang berjudul Pengaruh
Perubahan Suhu Panas dan Dingin Media Air TerhadapMembuka dan Menutup
Operculum Benih Ikan Mas dengan tepat waktu. Laporan praktikum ini berisi
informasi seputar klasifikasi ikan mas, morfologi ikan mas, danpengaruh suhu
terhadap operculum ikan mas.
Kami menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena
itu, kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami
harapkandemikesempurnaan laporan praktikum ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan
serta dalam penyusunan laporan ini dari awal sampai akhir. Semoga bermanfaat
untuk kita semua.



Jatinangor, 21 Oktober 2014
Kelompok 6



Page | 3

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................. 2
DAFTAR ISI ................................................................................................................. 3
BAB I ............................................................................................................................ 5
PENDAHULUAN ........................................................................................................ 5
1.1. Latar Belakang ............................................................................................... 5
1.2. Tujuan ............................................................................................................. 7
1.3. Manfaat ........................................................................................................... 7
BAB II ........................................................................................................................... 8
TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................................... 8
2.1. Klasifikasi Ikan Mas ....................................................................................... 8
2.2. Morfologi Ikan Mas ........................................................................................ 8
2.3. Sistem Pernapasan Ikan Mas ........................................................................ 10
2.4. Habitat .......................................................................................................... 12
BAB III ....................................................................................................................... 13
METODOLOGI PRAKTIKUM ................................................................................. 13
3.1. Waktu dan Tempat ....................................................................................... 13
3.2. Alat dan Bahan ............................................................................................. 13
3.3. Prosedur Praktikum ...................................................................................... 14
BAB IV ....................................................................................................................... 16
HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................................................... 16
4.1. Hasil Pengamatan Kelompok ....................................................................... 16
Page | 4

4.2. Hasil Pengamatan Kelas ............................................................................... 17
4.3. Pembahasan Kelompok ................................................................................ 18
4.4. Pembahasan Kelas ........................................................................................ 19
BAB V ......................................................................................................................... 20
PENUTUP ................................................................................................................... 20
5.1. Kesimpulan ................................................................................................... 20
5.2. Saran ............................................................................................................. 21
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 22


Page | 5

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Ikan adalah anggota vertebrata poikilotermik (berdarah dingin) yang hidup di
air dan bernapas dengan insang. Ikan merupakan kelompok vertebrata yang paling
beraneka ragam dengan jumlah spesies lebih dari 27,000 di seluruh dunia.
Secara taksonomi, ikan tergolong kelompok paraphyletic yang hubungan
kekerabatannya masih diperdebatkan, biasanya ikan dibagi menjadi tiga, yaitu ikan
tanpa rahang (kelas Agnatha, 75 spesies termasuk lamprey dan ikan hag), ikan
bertulang rawan (kelas Chondrichthyes, 800 spesies termasuk hiu dan pari), dan
sisanya tergolong ikan bertulang keras (kelas Osteichthyes).
Fisiologi ikan mencakup proses osmoregulasi, sistem sirkulasi, sistem
respirasi, bioenergetik dan metabolisme, sistem pencernaan, organ-organ sensor,
sistem saraf, sistem endokrin dan sistem reproduksi (Fujaya,1999).
Insang dimiliki oleh jenis ikan. Insang berbentuk lembaran-lembaran tipis
berwarna merah muda dan selalu lembap. Bagian terluar dari insang berhubungan
dengan air, sedangkan bagian dalam berhubungan erat dengan kapiler-kapiler darah.
Tiap lembaran insang terdiri dari sepasang filamen, dan tiap filamen mengandung
banyak lapisan tipis (lamela). Pada filamen terdapat pembuluh darah yang memiliki
banyak kapiler sehingga memungkinkan O
2
berdifusi masuk dan CO
2
berdifusi
keluar. Insang pada ikan bertulang sejati ditutupi oleh tutup insang yang disebut
operkulum, sedangkan insang pada ikan bertulang rawan tidak ditutupi oleh
operkulum.
Insang tidak saja berfungsi sebagai alat pernapasan tetapi dapat pula berfungsi
sebagai alat ekskresi garam-garam, penyaring makanan, alat pertukaran ion, dan
osmoregulator. Beberapa jenis ikan mempunyai labirin yang merupakan perluasan ke
atas dari insang dan membentuk lipatan-lipatan sehingga merupakan rongga-rongga
Page | 6

tidak teratur. Labirin ini berfungsi menyimpan cadangan 0
2
sehingga ikan tahan pada
kondisi yang kekurangan O
2
. Contoh ikan yang mempunyai labirin adalah ikan gabus
dan ikan lele.
Untuk menyimpan cadangan O
2
, selain dengan labirin, ikan mempunyai
gelembung renang yang terletak di dekat punggung.Stickney (1979) menyatakan
salah satu penyesuaian ikan terhadap lingkungan ialah pengaturan keseimbangan air
dan garam dalam jaringan tubuhnya, karena sebagian hewan vertebrata air
mengandung garam dengan konsentrasi yang berbeda dari media lingkungannya
Mekanisme pernapasan pada ikan melalui 2 tahap, yakni inspirasi dan
ekspirasi. Pada fase inspirasi, O
2
dari air masuk ke dalam insang kemudian O
2
diikat
oleh kapiler darah untuk dibawa ke jaringan-jaringan yang membutuhkan. Sebaliknya
pada fase ekspirasi, CO
2
yang dibawa oleh darah dari jaringan akan bermuara ke
insang dan dari insang diekskresikan keluartubuh.
Ikan memiliki bermacam ukuran, mulai dari paus hiu yang berukuran 14
meter (45 ft) hingga stout infantfish yang hanya berukuran 7 mm (kira-kira 1/4 inci).
Ada beberapa hewan air yang sering dianggap sebagai ikan, seperti ikan paus, ikan
cumi dan ikan duyung, yang sebenarnya tidak tergolong sebagai ikan.
Ikan dapat ditemukan di hampir semua genangan air yang berukuran besar
baik air tawar, air payau maupun air asin pada kedalaman bervariasi, dari dekat
permukaan hingga beberapa ribu meter di bawah permukaan. Namun, danau yang
terlalu asin seperti Great Salt Lake tidak bisa menghidupi ikan. Ada beberapa spesies
ikan dibudidayakan untuk dipelihara untuk dipamerkan dalam akuarium.
Ikan adalah sumber makanan yang penting. Hewan air lain, seperti moluska
dan krustasea kadang dianggap pula sebagai ikan ketika digunakan sebagai sumber
makanan. Menangkap ikan untuk keperluan makan dalam jumlah kecil atau olahraga
sering disebut sebagai memancing. Hasil penangkapan ikan dunia setiap tahunnya
berjumlah sekitar 100 juta ton.


Page | 7

1.2. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui perubahan suhu panas media
air terhadap membuka & menutup operculum benih ikan mas yang secara tidak
langsung ingin mengetahui laju pernafasan ikan tersebut.
1.3. Manfaat
Manfaat dari praktikum ini adalah praktikan dapat mengetahui dan memahami
tingkah laku ikan mas serta laju pernapasan ikan mas pada saat terjadinya perubahan
suhu dingin dan suhu panas.

Page | 8

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Klasifikasi Ikan Mas

Klasifikasi ikan mas menurut Saanin (1984) dikelompokkan ke dalam:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Actinopterygii
Ordo : Cypriniformes
Famili : Cyprinidae
Genus : Cyprinus
Spesies : Cyprinus carpio (Linnaeus, 1758)
2.2. Morfologi Ikan Mas
Ikan mas (Cyprinus carpio) termasuk jenis ikan konsumsi air tawar. Ikan mas
memiliki badan berbentuk memanjang dan sedikit pipih ke samping (Compresed) dan
mulutnya terletak di ujung tengah (terminal) dan dapat disembulkan (protaktil),
memiliki dua pasang sungut serta warna badan yang sangat beragam. Di Indonesia
sendiri, ikan mas memiliki beberapa nama sebutan yakni kancra, tikeu, tombro, raja,
rayo, ameh atau nama lain sesuai dengan daerah penyebarannya.
Page | 9

Secara umum hampir seluruh tubuh ikan mas ditutupi oleh sisik kecuali pada
beberapa bagian tertentu yang hanya memiliki sedikit sisik. Sisik ikan mas berukuran
besar dan digolongkan ke dalam sisik tipe sikloid (lingkaran).
Dr. A.L Buschkiel dalam RO. Ardiwinata (1981) menggolongkan jenis ikan
mas menjadi dua golongan, yaitujenis-jenis ikan mas yang bersisik normal dan jenis
kumpai yang memiliki ukuran sirip memanjang. Golongan pertama yakni yang
bersisik normal dikelompokkan lagi menjadi dua, kelompok ikan mas yang bersisik
biasa dan kelompok yang bersisik kecil.
Sedangkan Djoko Suseno (2000) berpendapat, berdasarkan fungsinya, ras-ras
ikan mas yang ada di Indonesia dapat digolongkan menjadi dua kelompok. Kelompok
pertama merupakan ras-ras ikan konsumsi dan kelompok kedua adalah ras-ras ikan
hias.
Ikan mas sebagai ikan konsumsi dibagi menjadi dua kelompok ,yakni ras ikan
mas bersisik penuh dan ras ikan mas bersisik sedikit. Kelompok ras ikan mas yang
bersisik penuh adalah ras-ras ikan mas yang memiliki sisik normal, tersusun teratur
dan menyelimuti seluruh tubuh. Contohnya ikan mas majalaya, ikan mas punten, ikan
mas si nyonya, dan ikan mas merah. Sedangkan yang tergolong dalam ras karper
bersisik sedikit adalah ikan karper kaca yang oleh petani di Tabanan biasa disebut
dengan nama karper gajah. Untuk kelompok ras ikan karper hias, beberapa
diantaranya adalah karper kumpay, kaca, mas merah, dan koi.
Secara morfologis, ikan mas memiliki bentuk tubuh yang agak memanjang
dan sedikit memipih kesamping. Sebagian besar tubuh ikan mas ditutupi oleh sisik,
tipe mulut terminal(dapatdisembulkan), terdapat dua pasang sungut, dan tidak
bergerigi. Sirip punggung (dorsal) ikan masmemanjang dan berjari-jari keras,
sedangkan di bagian akhir bergerigi. Begitu juga dengan siripdubur (anal) dan sirip
ekor (caudal) berbentuk cagak. Tipe ekor ikan mas adalah homocercal. Tipe sisik
pada ikan ini adalah lingkaran(cycloid)yang terletak beraturan, dengan warna pigmen
hijau, biru, merah, kuning keemasan atau kombinasi dari warna-warna tersebut sesuai
Page | 10

dengan ras ikan.Garis rusuk (linea lateralis) yang lengkap terletak di tengahtubuh,
dengan posisi melintang dari tutup insang sampai ke ujung belakang pangkal ekor
(Lentera,2004).
Ikan mas tergolong ikan air tawar, namun ikan mas terkadang dapat
ditemukan di perairanpayau atau di muara sungai dengan salinitas antara 25-300 /00.
Ikan mas dapat tumbuh normal, jika lokasi pemeliharaan berada pada ketinggian
antara 150-1000 m diatas permukaan laut, dengan suhu 20
o
C-25
o
C, dan pH air antara
7-8 (Herlina,2002).
Ikan ini merupakan ikan pemakan organisme hewan kecil atau renik ataupun tumbuh-
tumbuhan (omnivora). Cahyono (2000) menyatakan, jenis makan dan tambahan yang
biasa diberikan pada ikan mas adalah bungkil kelapa atau bungkil kacang, sisa rumah
pemotongan hewan, sampah rumah tangga, dan lain-lain, sedangkan untuk makanan
buatan biasanya diberikan berupa crumble dan pellet.
2.3. Sistem Pernapasan Ikan Mas
Ikan mas bernapas dengan insang yang terdapat pada sisi kiri dan kanan
kepala. Masing-masing mempunyai empat buah insang yang ditutup oleh tutup
insang (operkulum). Proses pernapasan pada ikan adalah dengan cara membuka dan
menutup mulut secara bergantian dengan membuka dan menutup tutup insang. Pada
waktu mulut membuka, air masuk ke dalam rongga mulut sedangkan tutup insang
menutup.
Oksigen yang terlarut dalam air masuk berdifusi ke dalam pembuluh kapiler
darah yang terdapat dalam insang. Dan pada waktu menutup, tutup insang membuka
dan air dari rongga mulut keluar melalui insang. Bersamaan dengan keluarnya air
melalui insang, karbondioksida dikeluarkan. Pertukaran oksigen dan karbondioksida
terjadi pada lembaran insang. Serangga mempunyai sitem pernapasan yang disebut
sistem trakea. Oksigen yang dibutuhkan oleh sel-sel tubuh untuk oksidasi tidak
diedarkan oleh darah tetapi diedarkan oleh trakea yang bercabang-cabang ke seluruh
tubuh. Cabang kecil trakea yang menembus jaringan tubuh disebut trakeolus.
Page | 11

Insang tidak hanya berfungsisebagai alat pernapasan, tetapi juga berfungsi
sebagai alat ekskresi garam- garam, penyaringmakanan, alat pertukaran ion, dan
osmoregulator.


Masuknya udara untuk pernapasan tidak melalui mulut melainkan melalui
stigma (spirakel). Proses pernapasan pada serangga terjadi sebagai berikut. Dengan
adanya kontraksi otot-otot tubuh, maka tubuh serangga menjadi mengembang dan
mengempis secara teratur. Pada waktu tubuh serangga mengembang, udara masuk
melalui stigma, selanjutnya masuk ke dalam trakea, kemudian ke dalam trakeolus dan
akhirnya masuk ke dalam sel-sel tubuh. Oksigen berdifusi ke dalam sel-sel tubuh.
Karbondioksida hasil pernapasan dikeluarkan melalui sistem trakea juga yang
akhirnya dikeluarkan melalui stigma pada waktu.

Page | 12

2.4. Habitat
Ikan mas berasal dari daratan Asia dan telah lama dibudidayakan sebagai ikan
konsumsi oleh bangsa Cina sejak 400 tahun SM. Penyebarannya merata di daratan
Asia juga Eropa sebagian Amerika Utara dan Australia. Pembudidayaan ikan mas di
Indonesia banyak ditemui di Jawa dan Sumatra dalam bentuk empang, balong
maupun keramba terapung yang di letakan di danau atau waduk besar. Budidaya
modern di Jawa Barat menggunakan sistem air deras untuk mempercepat
pertumbuhannnya.
Habitat aslinya yang di alam meliputi sungai berarus tenang sampai sedang
dan di area dangkal danau. Perairan yang disukai tentunya yang banyak menyediakan
pakan alaminya. Ceruk atau area kecil yang terdalam pada suatu dasar perairan adalah
tempat yang sangat ideal untuknya. Bagian-bagian sungai yang terlindungi
rindangmya pepohonan dan tepi sungai dimana terdapat runtuhan pohon yang
tumbang dapat menjadi tempat favoritnya. Di Indonesia sendiri untuk mencari tempat
memancing ikan mas bukanlah hal yang sulit. Karena selain telah dibudidayakan
banyak empang yang sengaja dibuat demi memanjakan para penggemar mancing ikan
mas.

Page | 13

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1. Waktu dan Tempat
Prktikum ini dilaksanakan pada :
Waktu : Kamis, 9 Oktober 2014
Tempat : Laboraturium FHA,FPIK UNPAD
3.2. Alat dan Bahan
a. Alat
Beaker glass sebagai ikan untuk ikan yang akan diamati
Wadah plastic sebagi tempat ikan sebelum dan setelah diamati
Water bath sebagai penangas air
Termometer Hg / alcohol untuk mengukur suhu air
Hand counter untuk menghitung bukaan operculum
Timer / stopwatch untuk mengamati waktu

b. Bahan
Benih ikan mas sebanyak 10 ekor
Stok air panas untuk mengubah suhu air sesuai perlakuan

Page | 14

3.3. Prosedur Praktikum
Dalam percobaan ini langkah-langkah yang harus diperhatikan antara lain :
1. Siapkan sebuah beaker glass 1000 ml sebagai wadah perlakuan dan dua wadah
plastik sebagai tempat ikan yang belum dan yang sudah diamati.
2. Ambil sebanyak 3 ekor benih ikan mas dari akuarium stok, lalu masukan ke
dalam salah satu wadah plastik yang telah diberi air.
3. Isi beaker glass ( volumenya). Lalu ukur suhunya dengan termometer dan
catat pengamatannya.
4. Pengamatan dilakukan dengan 3 perlakuan yaitu :
a. Untuk suhu kamar / suhu awal (26C)
b. Untuk suhu +3C
c. Untuk suhu -3 C dari suhu kamar/ awal
5. Masukan ikan pertama kedalam beaker glass yang sudah diketahui suhunya (suhu
awal) kemudian hitung banyaknya membuka dan menutupnya operculum benih
ikan mas tersebut selama satu menit dengan menggunakan hand counter dan
stopwatch sebagai penunjuk waktu. Diulang sebanyak tiga kali untuk masing-
masing ikan. Data yang diperoleh dicatat pada kertas lembar kerja yang telah
tersedia.
6. Setalah selesai dengan ikan pertama, dilanjutkan dengan ikan kedua dan
seterusnya sampai ikan terakhir (ketiga) teramati. Ikan yang telah diamati
dimasukan ke dalam wadah plastik lain yang telah disedikan.
7. Setelah selesai perlakuan untuk suhu awal, dilanjutkan dengan perlakuan untuk
suhu B dan C, atur suhu air di beaker glass agar suhu sesuai dengan yang
diinginkan dengan cara menambah air panas untuk menaikan suhu dan
menggunakan es batu untuk menurukan suhu.
Page | 15

8. Tuliskan data hasil pengamatan pada tabel yang telah disediakan pada lembar
kerja.

Page | 16

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Pengamatan Kelompok
Tabel 1. Banyaknya buka tutup operculum benih ikan mas pada suhu
kamar 26 C.
Ikan ke :
Ulangan
Rata-rata
I II III
1 196 156 192 181.3
2 132 148 131 137
3 147 132 149 142.6

Tabel 2. Banyaknya buka tutup operculum benih ikan mas pada suhu
29 C.
Ikan ke :
Ulangan
Rata-rata
I II III
1 221 195 229 215
2 170 199 185 184.6
3 163 186 180 176.3


Page | 17

Tabel 3. Banyaknya buka tutup operculum benih ikan mas pada suhu
23 C.
Ikan ke :
Ulangan
Rata-rata
I II III
1 194 202 196 197.3
2 164 172 203 179.6
3 177 168 150 165

4.2. Hasil Pengamatan Kelas
Suhu Kel 1 Kel 2 Kel 3 Kel 5 Kel 6 Kel 7 Kel 9 Kel 12 Kel 13
26 170 171.6 152.6 196.7 153.6 137 182.6 158 134.3
29 213.3 195.6 181.03 233.5 192 180.3 186.6 208 164
23 152.3 157.6 212.9 166.3 180 139.2 172.3 101 102





Kel 14 Kel 16 Kel 17 Kel 18 Kel 19
141 204.2 153.3 150.3 159.3
167 253.6 180.2 187.9 221.8
114 125.6 142.6 122.8 144.1
Suhu Kel 11
28 251
31 259
25 192
Suhu Kel 20
27.5 150.6
30.5 179.9
24.5 126.5
Suhu Kel 8
24 141.3
27 201.3
21 144.5
Suhu Kel 10
27 170.3
30 229.4
24 149.9
Page | 18

Suhu Kel 21 Kel 22 Kel 24
26 125.1 115.8 143.1
29 173.1 154.1 168.6
23 106.4 86.55 126.7

4.3. Pembahasan Kelompok
Dari praktikum yang telah di lakukan, di dapatkan data hasil pengamatan
sesuai dengan data diatas. Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu
terhadap membuka dan menutupnya operculum benih ikan mas.
Percobaan pertama di lakukan dengan mengamati buka tutup operculum ikan
mas pada suhu kamar,yaitu 26 C (sebagai suhu normal). Pada suhu ini,buka tutup
operculum ikan mas cenderung normal (stabil).
Kemudian pada perlaukan kedua suhu kamar dinaikan 3 C menjadi 29
C,dengan cara menambahkan air panas. Hasil pengamatan yang didapat menunjukkan
bahwa,semakin tinggi suhu suatu air maka buka tutup operculum ikan pun juga ikut
meningkat atau lebih cepat dari biasanya. Karena kadar O
2
yang terlarut dalam air
meningkat apabila suhu air meiningkat, sehingga ikan pasti lebih sering membuka
tutup operculumnya untuk mencari O
2
yang sesuai dengan kebutuhannya.
Pada perlaukan yang ketiga,suhu kamar 26C diturunkan 3C menjadi 23 C
dengan menggunakan es batu. Dan hasil pengamatan yang didapat bahwa pada suhu
yang lebih rendah tingkat frekuensi membuka dan menutupnya operculum ikan akan
semakin lambat dibandingkan dengan suhu kamar dan suhu 29 C. Hal ini
dikarenakan, adaptasi pada tubuh ikan mengurangi laju respirasinya. Dan salah satu
faktor lainnya yaitu dengan adanya suatu penurunan temperatur, maka metabolisme
pada ikan cenderung menurun. Sehingga kebutuhan oksigen pada ikan pun berkurang
Suhu Kel 4 Kel 23
27 156.3 124.2
30 180.7 152.1
24 146.8 106.4
Page | 19

dan gerakan ikan juga melambat. Oleh karena itu,perubahan suhu yang secara tiba-
tiba dapat sangat berpengaruh pada ikan itu sendiri.
4.4. Pembahasan Kelas
Dari data berbagai kelompok yang ada di atas,dapat kita lihat hasil yang
berbeda beda penyebab utama yang ada dari perbedaan data hasil praktikum ini
adalah perbedaan suhu dari berbagai kelompok, suhu berpengaruh terhadap jumlah
buka tutup operculum karena jumlah oksigen terlarut yang ada pada air tersebut. Bila
suhu yang di ambil dalam praktikum bagi sebagian kelompok sama dan jumlah buka
tutup operculum pun sama maka,kemungkinan besar tidak ada kesalahan pada alat
atau perhitungan buka tutup operculum tersebut.
Namun jika suhu yang di ambil oleh sebagian kelompok sama tetapi jumlah
buka tutup operculum yang sangat berbeda maka terdapat kesalahan,salah satunya
dari saat penghitungan operculum yang menggunakan hand counter atau kesalahan
pada saat melihatnya juga bias menjadi penyebab berbedanya jumlah buka tutup
operculum dalam suhu yang sama bagi sebagian kelompok. Karena pada saat
pelakasanaan praktikum,terdapat banyak hand caunter yang rusak. Sehingga banyak
dari beberapa kelompok yang melakukan perhitungan buka tutup operculum yang
berbeda-beda.
Perbedaan suhu kamar yang di ambil akan berbeda pada sebagian kelompok
bisa disebabkan karena termometer yang berbeda sehingga ada sedikit perbedaan
pada suhu kamar, kemudian kemungkinan selanjutnya dapat pula disebabkan oleh
laboratorium yang berbeda beda sehingga suhu kamar laboratorium satu dan yang
lainnya akan berbeda pula.



Page | 20

BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Suhu merupakan peran yang penting bagi kelangsungan hidup ikan, karena
apabila terjadi suatu penurunan suhu pada perairan menyebabkan kelarutan oksigen
dalam perairan meningkat, sehingga kebutuhan oksigen pada ikan atau organisme
lainnya berkurang. Dan frekuensi buka tutup operculum ikan menjadi lebih lambat
dari biasanya. Sedangkan apabila terjadi kenaikan suhu pada suatu perairan
menyebabkan kelarutan oksigen (DO) pada perairan menurun, sehingga kebutuhan
oksigen pada ikan atau organisme lainnya meningkat. Dan buka tutup pada ikan pun
menjadi lebih cepat.
Ikan terlihat stress pada perubahan suhu panas dan dingin, hal tersebut terlihat
dari buka tutup operculum ikan yang tidak stabil dan pergerakan ikan yang sangat
aktif. Hal tersebut dapat disebabkan oleh beberapa hal, mulai dari penggunaan ikan
yang sudah dilakukan secara berulang-ulang oleh praktikan lain dan pengambilan
ikan dari aquarium stok yang tidak secara perlahan sehingga menyebabkan ikan
stress.
Perubahan suhu yang terjadi secara tiba-tiba sangat berpengaruh terhadap laju
pernapasan dan laju metabolisme ikan. Ikan tidak bisa secara langsung menyesuaikan
diri pada lingkungan baru. Memang ikan merupakan organisme yang bersifat
Poikilotermik yang dapat menyesuaikan diri pada lingkungannya, tetapi dibutuhkan
waktu secara bertahap agar ikan dapat menyesuaikan dirinya dengan baik.


Page | 21

5.2. Saran
Saran dari kelompok kami, sebaiknya ikan yang digunakan dalam praktikum
belum digunakan oleh praktikan lain. Karena hal tersebut dapat menyebabkan ikan
stress karena terlalu sering di gunakan. Lalu ukuran ikan yang akan di uji coba dalam
praktikum musti disesuaikan, karena salah satu kesalahan dalam perhitungan pun
terdapat pada ukuran ikan yang terlalu kecil sehingga sulit diamati oleh praktikan.
Kemudian, sebaiknya dilakukan pengecekan alat yang akan digunakan dalam
praktikum terutama pada thermometer dan hand caunter, sehingga perhitungan yang
dihasilkan lebih akurat. Dan untuk para praktikan juga diharapkan lebih teliti dalam
melaksanakan praktikum.












Page | 22

DAFTAR PUSTAKA

http://hewan.co/morfologi-ikan-mas-dan-klasifikasi-nya.html
http://hikmat.web.id/biologi-klas-xi/sistem-pernapasan-ikan/
www.wikipedia.com