Anda di halaman 1dari 22

1

BAB I
PENDAHULUAN

Skizofrenia merupakan gangguan psikotik yang paling sering. Hampir 1 %
penduduk di dunia menderita skizofrenia selama hidup mereka. Gejala skizofrenia
biasanya muncul pada usia remaja akhir atau dewasa muda. Awitan pada laki-
laki biasanya antara 15-25 tahun. Prognosis biasanya lebih buruk pada laki-laki
bila dibandingkan dengan perempuan. Awitan setelah umur 40 tahun jarang
terjadi.
Skizofrenia suatu deskripsi sindrom dengan variasi penyebab (banyak
belum diketahui) dan perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronis atau
deteriorating) yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada perimbangan
pengaruh genetik, fisik, dan sosial budaya. Pada umumnya ditandai
oleh penyimpangan yang fundamental dan karakteristik dari pikiran dan persepsi,
serta oleh afek yang tidak wajar (inappropriate) atau tumpul (blunded). Kesadaran
yang jernih (clear consciousness) dan kemampuan intelektual biasanya tetap
terpelihara, walaupun kemunduran kognitif tertentu dapat berkembang kemudian.
Skizofrenia merupakan penyakit kronik. Sebagian kecil dari
kehidupan mereka berada dalam kondisi akut dan sebagian besar penderita berada
lebih lama dalam fase residual yaitu fase yang memperlihatkan gambaran
penyakit yang ringan. Selama periode residual, pasien lebih menarik diri atau
mengisolasi diri, dan aneh. Gejala-gejala penyakit biasanya terlihat jelas oleh
orang lain.
2

Di Amerika Serikat prevalensi skizofrenia seumur hidup dilaporkan secara
bervariasi terentang dari 1 sampai 1,5 %; konsisten dengan angka tersebut,
penelitian Epidemologica Catchment Area (ECA) yang disponsori oleh
National Institue of Mental Helath (NIHM) melaporkan prevalensi seumur hidup
sebesar 1,3%. Skizofrenia adalah sama-sama prevalensinya antara laki-laki dan
wanita. Tetapi, dua jenis kelamin tersebut menunjukkan perbedaan dalam onset
dan perjalanan penyakit. Laki-laki mempunyai onset lebih awal daripada wanita.
Usia puncak onset untuk laki-laki adalah 15 sampai 25 tahun, untuk wanita usia
puncak adalah 25 sampai 35 tahun. Onset skizofrenia sebelum usia 10 tahun atau
sesudah 50 tahun adalah sangat jarang.














3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Skizofrenia
A.1 Definisi
Skizofrenia suatu deskripsi sindrom dengan variasi penyebab (banyak
belum diketahui) dan perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronis atau
deteriorating) yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada perimbangan
pengaruh genetik, fisik, dan sosialbudaya.
A.2 Epidemiologi
Penelitian insiden pada gangguan yang relatif jarang terjadi, seperti
skizofrenia, sulit dilakukan. Survei telah dilakukan di berbagai negara, namun dan
hampir semua hasil menunjukkan tingkat insiden per tahun skizofrenia pada orang
dewasa dalam rentang yangsempit berkisar antara 0,1 dan 0,4 per 1000 penduduk.
Ini merupakan temuan utama daripenelitian di 10-negara yang dilakukan oleh
WHO. Untuk prevalensi atau insiden skizofrenia di Indonesia belum ditentukan
sampai sekarang, begitu juga untuk tiap-tiap subtipe skizofrenia.
Prevalensinya antara laki-laki dan perempuan sama, namun menunjukkan
perbedaan dalam onset dan perjalanan penyakit. Laki-laki mempunyai onset yang
lebih awal daripada perempuan. Usia puncak onset untuk laki-laki adalah 15
sampai 25 tahun, sedangkan perempuan 25 sampai 35 tahun. Beberapa penelitian
telah menyatakan bahwa laki-laki adalah lebih mungkin daripada wanita untuk
terganggu oleh gejala negatif dan wanita lebih mungkin memiliki fungsi sosial
yang lebih baik daripada laki-laki. Pada umumnya, hasil akhir untuk pasien
4

skizofrenik wanita adalah lebih baik daripada hasil akhir untuk pasien skizofrenia
laki-laki. Skizofrenia tidak terdistribusi rata secara geografis di seluruh dunia.
Secara historis,prevalensi skizofrenia di Timur Laut dan Barat Amerika Serikat
adalah lebih tinggi dari daerah lainnya.
A.3 Etiologi
Penyebab skizofrenia sampai sekarang belum diketahui secara pasti. Namun
berbagai teori telah berkembang seperti model diastesis-stres dan hipotesis
dopamin. Model diastesis stres merupakan satu model yang mengintegrasikan
faktor biologis, psikososial dan lingkungan. Model ini mendalilkan bahwa
seseorang yang mungkin memiliki suatu kerentanan spesifik (diastesis) yang jika
dikenai oleh suatu pengaruh lingkungan yang menimbulkan stres, memungkinkan
perkembangan gejala skizofrenia. Komponen lingkungan dapat biologis (seperti
infeksi) atau psikologis (seperti situasi keluarga yang penuh ketegangan).
Hipotesis dopamin menyatakan bahwa skizofrenia disebabkan oleh terlalu
banyakny aaktivitas dopaminergik. Teori tersebut muncul dari dua pengamatan.
Pertama, kecuali untuk klozapin, khasiat dan potensi antipsikotik berhubungan
dengan kemampuannya untuk bertindak sebagai antagonis reseptor dopaminergik
tipe 2. Kedua, obat-obatan yang meningkatkan aktivitas dopaminergik (seperti
amfetamin) merupakan salah satu psikotomimetik. Namun belum jelas apakah
hiperaktivitas dopamin ini karena terlalu banyaknya pelepasan dopamin atau
terlalu banyaknya reseptor dopamin atau kombinasi kedua mekanisme tersebut.
Namun ada dua masalah mengenai hipotesa ini, dimana hiperaktivitas dopamin
adalah tidak khas untuk skizofrenia karena antagonis dopamin efektif dalam
mengobati hampir semua pasien psikotik dan pasien teragitasi berat. Kedua,
5

beberapa data elektrofisiologis menyatakan bahwa neuron dopaminergik mungkin
meningkatkan kecepatan pembakarannya sebagai respon dari pemaparan jangka
panjang dengan oba tantipsikotik. Data tersebut menyatakan bahwa abnormalitas
awal pada pasien skizofrenia mungkin melibatkan keadaan hipodopaminergik.
Skizofrenia berdasarkan teori dopamin terdiri dari empat jalur dopamin yaitu:
1. Mesolimbik dopamin pathways
Merupakan hipotesis terjadinya gejala positif pada penderita skizofrenia.
Mesolimbik dopamin pathways memproyeksikan badan sel dopaminergik
ke bagian ventral tegmentum area (VTA) di batang otak kemudian ke
nukleus akumbens di daerah limbik. Jalur ini berperan penting pada
emosional, perilaku khususnya halusinasi pendengaran, waham dan
gangguan pikiran. Antipsikotik bekerja melalui blokade reseptor dopamin
ksususnya reseptor dopamin D
2
.
2. Hipotesis hiperaktif mesolimbik dopamin pathways
Jalur ini dimulai dari daerah VTA ke daerah serebralkorteks khususnya
korteks limbik. Peranan mesokortikal dopamin pathway adalah sebagai
mediasi dari gejala negatif dan kognitif pada penderita skizofrenia. Gejala
negatif dan kognitif disebabkan terjadinya penurunan dopamin di jalur
mesokortikal terutama pada daerah dorsolateral prefrontal korteks.
Penurunan dopamin dimesokortikal dopamin pathways dapat terjadi secara
primer dan sekunder. Penurunan sekunder terjadi melalui inhibisi dopamin
yang berlebihan pada jalur ini atau melaluiblokade antipsikotik terhadap
reseptor D
2
. Peningkatan dopamin pada mesokortikaldapat memperbaiki
gejala negatif atau mungkin gejala kognitif.
6

3. Nigostriatal dopamin pathways
Berjalan dari daerah substansia nigra pada batangotak ke daerah basal
ganglia atau striatum. Jalur ini merupakan bagian dari sistem saraf
ekstrapiramidal. Penurunan dopamin di nigostriatal dopamin pathways
dapat menyebabkan gangguan pergerakan seperti yang ditemukan pada
penyakit parkinson yaitu rigiditas, bradikinesia dan tremor. Namun
hiperaktif atau peningkatan dopamin di jalur ini yang mendasari terjadinya
gangguan pergerakan hiperkinetik seperti korea,diskinesia atau tik.
4. Tuberoinfundibular dopamin pathways
Jalur ini dimulai dari daerah hipotalamus kehipofisis anterior. Dalam
keadaan normal tuberoinfundibular dopamin pathways mempengaruhi oleh
inhibisi dan penglepasan aktif prolaktin, dimana dopamin berfungsi
melepaskan inhibitor pelepasan prolaktin. Sehingga jika ada gangguan
dari jalur ini akibat lesi atau penggunaan obat antipsikotik, maka akan
terjadi peningkatanprolaktin yang dilepas sehingga menimbulkan
galaktorea, amenorea atau disfungsiseksual.
Selain dopamin, neurotransmiter lainnya juga tidak ketinggalan diteliti
mengenai hubungannya dengan skizofrenia. Serotonin contohnya, karena obat
antipsikotik atipikal mempunyai aktivitas dengan serotonin. Selain itu, beberapa
peneliti melaporkan pemberian antipsikotik jangka panjang menurunkan
aktivitas noradrenergik.



7

A.4 Pedoman Diagnostik Skizofrenia
Ada 2 kelompok gejala skizofrenia menurut Bleuler yaitu: primer dan
sekunder.
Gejala-gejala Primer :
Asosiasi terganggu (gangguan proses pikiran). Pada skizofrenia, inti
gangguan memang terdapat pada proses pikiran.
Afek terganggu. Gangguan ini pada skizofrenia mungkin berupa:-
Parathimi: apa yang seharusnya menimbulkan rasa senang dan gembira,
tapi pada penderita timbul rasa sedih atau marah.- Paramimi: penderita
merasa senang dan gembira, akan tetapi ia menangis.
Ambivalensi (Menghendaki 2 hal yang berlawanan pada waktu yang sama).
Autisme (Cenderung menarik diri dari dunia luar dan akan berdialog
dengandunianya sendiri).
Gejala-gejala Sekunder:
Waham: Pada skizofrenia, waham sering tidak logis sama sekali dan sangat
bizarre, tetapi penderita tidak sadar hal itu dan bagi penderita wahamnya
merupakan fakta dan tidak dapat diubah oleh siapa pun.
Halusinasi: Pada skizofrenia, halusinasi timbul tanpa penurunan kesadaran
dan hal itu merupakan suatu gejala yang hampir tidak dijumpai pada
keadaan lain.
Ilusi: Munculnya persepsi baru akibat adanya mental image serta objek luar.
Depersonalisasi: Suatu keadaan dimana dirinya merasakan berubah.
Negativisme : Sikap yang berlawanan dengan yang diperintahkan
kepadanya, dan dia menolak tanpa alasan.
8

Automatisasi: Pekerjaan yang dilakukan dengan sendirinya, tidak
terpengaruh dariluar.
Echolalia: Secara spontan menirukan bunyi atau suara atau ucapan yang
didengar dari orang lain.
Mannerisme: Mengulang-ulang perbuatan tertentu eksesif, biasanya
dilakukan secara ritual seperti melakukan seremonial.
Streotipi: Tindakan yang berulang-ulang.
Fleksibilitas cerea: Sikap atau bentuk atau posisi yang dipertahankan dalam
posisi yang kosong.
Benommenheit: Intelektual atau perkembangan yang lambat.
Katapleksi: Hilangnya tonus otot dan kelemahan secara sementara serta
dicetuskanoleh berbagai keadaan emosional
Menurut PPDGJ III yang merupakan pedoman diagnostik untuk
Skizofrenia:
Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua
gejala atau lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas):
(a) - Thought echo : isi pikiran diri sendiri yang berulang atau bergema dalam
kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama,
namunkualitasnya berbeda; atau
- Thought insertion or withdrawal : isi pikiran yang asing dari luar masuk
kedalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh
sesuatu dariluar dirinya (withdrawal); dan
- Thought broadcasting : isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain
atauumum mengetahuinya.
9

(b) - Delusion of control : waham tentang dirinya dikendalikan oleh
suatukekuatan tertentu dari luar; atau
- Delusion of influence : waham tentang dirinya dipengaruhi oleh
suatukekuatan tertentu dari luar; atau
- Delusion of passivity : waham tentang dirinya tidak berdaya dan
pasrahterhadap sesuatu kekuatan dari luar.
- Delusional perception : pengalaman inderawi yang tidak wajar, yang
bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau mukjizat.
(c) Halusinasi auditorik :
- suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap perilaku
pasien, atau
- mendiskusikan perihal pasien diantara mereka sendiri (diantara berbagai
suara yang berbicara), atau
- jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagi tubuh
(d) Waham
- waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat dianggap tidak
wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan agama atau
politik tertentu, atau kekuatan dam kemampuan diatas manusia biasa
(misalnya mampu mengendalikan cuaca, atau komunikasi dengan makhluk
asing dari dunia lain).
Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas:
(a) halusinasi yang menetap dari panca-indera apa saja, apabila disertai
baik oleh waham yang mengambang maupun setengah berbentuk tanpa
kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai ide-ide berlebihan (over-
10

valued ideas) yang menetap atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu-
minggu atau berbulan-bulan terus berulang
(b) Arus pikiran yang terputus (break) atau mengalami sisipan (interpolation),
yang berakibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan, atau
neologisme;
(c) Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh gelisah (excitement), posisi tubuh
tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme, dan
stupor;
(d) Gejala-gejala "negatif", seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang,
danrespon emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang
mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja
sosial; tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh
depresi atau medikas ineuroleptika;
Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun
waktu satubulan atau lebih.
Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu
keseluruhan(overall quality) dari beberapa aspek kehidupan perilaku pribadi
(personalbehaviour ), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak
bertujuan, tidak berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendir (self absorbed
atitude), dan penarikan dirisecara sosial.




11

A.5 Jenis-Jenis Skizofrenia
Penderita skizofrenia digolongkan ke dalam salah satu jenis menurut gejala
utama yang terdapat padanya. Adapun pembagian skizofrenia (Maramis, 1994)
adalah sebagai berikut :
1. Skizofrenia paranoid
Jenis skizofrenia dimana penderitanya mengalami waham dan halusinasi
yang meneror atau mengintimidasi (misalnya merasa diawasi secara terus-
menerus atau diikuti ketika pergi ke manapun) dan juga waham yang
membuat penderita meyakini bahwa ia adalah sesosok figur besar (Tuhan,
Malaikat, Nabi, panglima besar, dsb).
2. Skizofrenia hebefrenik
Jenis skizofrenia yang sifatnya ditandai terutama oleh perilaku yang tidak
bertujuan dan kekanak-kanakan. Seseorang yang menderita skizofrenia jenis
ini sering menunjukkan tanda tanda emosi dan ekspresi yang tidak sesuai
dengan keadaannya. Halusinasi dan khayalan adalah gejala gejala yang
sering dialami untuk orang yang menderita skizofrenia jenis ini.
3. Skizofrenia katatonik
Jenis skizofrenia yang ditandai dengan gangguan motorik, termasuk
kegembiraan ekstrim dan perilaku menyerang secara fisik terhadap orang
lain tanpa alasan. Orang yang menderita bentuk skizofrenia ini akan
menampilkan gejala diam dan mempertahankan posisi yang janggal dalam
waktu yang lama (stupor, fleksibilitas lilin, negativisme).


12

4. Skizofrenia tidak terinci
Jenis skizofrenia yang penderitanya memiliki delusi, halusinasi dan perilaku
tidak teratur tetapi tidak memenuhi kriteria untuk skizofrenia paranoid, tidak
teratur, atau katatonik.
5. Skizofrenia residual
Skizofrenia sisa akan didiagnosis ketika setidaknya episode dari salah satu
dari empat jenis skizofrenia yang lainnya telah terjadi. Tetapi skizofrenia ini
tidak mempunyai satu gejala positif yang menonjol dan biasanya hanya
tinggal gejala negatifnya saja.
6. Episode Skizofrenia akut
Gejala skizofrenia timbul mendadak sekali dank lien seperti dalam keadaan
mimpi. Kesadaran mungkin berkabut.












13

B. SKIZOFRENIA KATATONIK
Merupakan jenis skizofrenia yang ditandai dengan gangguan motorik,
termasuk kegembiraan ekstrim dan perilaku menyerang secara fisik terhadap
orang lain tanpa alasan. Orang yang menderita bentuk skizofrenia ini akan
menampilkan gejala diam dan mempertahankan posisi yang janggal dalam waktu
yang lama (stupor, fleksibilitas lilin, negativisme). Simptom-simptom skizofrenia
katatonik yang paling jelas adalah symptom-simptom katatonik yang disebutkan
sebelumnya. Pasien umumnya bergantian mengalami imobilitas katatonik dan
keriangan yang liar, namun salah satunya dapat lebih dominan. Para pasien
tersebut menolak perintah dan saran dan dan seringkali menirukan kata-kata orang
lain. Onset reaksi katatonik dapat lebih tiba-tiba dibanding skizofrenia yang lain,
meskipun orang yang bersangkutan sebelumnya telah menunjukkan semacam
menarik diri dari kenyataan. Anggota badan penderita skizofrenia katatonik dapat
menjadi kaku dan bengkak, terlepas dari ketidaksadaran yang terlihat jelas,
setelahnya ia bisa saja mampu menceritakan semua yang terjadi selama stupor
tesebut. Dalam kondisi riang berlebihan orang yang katatonik dapat berteriak dan
berbicara tanpa henti dan tidak runut, dan selalu bergerak cepat dan penuh
semangat. Dewasa ini skizofrenia katatonik jarang ditemukan , mungkin karena
terapi obat bekerja secara efektif bagi proses-proses motorik yang aneh tersebut.





14

B.1 Pedoman Diagnostik Skizofrenia katatonik ( F20.2) :
Memenuhi kriteria umum untuk diagnosis skizofrenia.
Satu atau lebih dari perilaku berikut ini harus mendominasi gambaran
klinisnya:
(a) Stupor (amat berkurangnya dalam reaktivitas terhadap lingkungan dan
dalamgerakan serta aktivitas spontan) atau mutisme (tidak berbicara)
(b) Gaduh gelisah (tampak jelas aktivitas motorik yang tak bertujuan, yang
tidak dipengaruhi oleh stimuli eksternal)
(c) Menampilkan posisi tubuh tertentu (secara sukarela mengambil dan
mempertahankan posisi tubuh tertentu yang tidak wajar atau aneh)
(d) Negativisme (tampak jelas perlawanan yang tidak bermotif terhadap
semuaperintah atau upaya untuk menggerakkan, atau pergerakan kearah
yangberlawanan)
(e) Rigiditas (mempertahankan posisi tubuh yang kaku untuk melawan
upayamenggerakkan dirinya)
(f) Fleksibilitas cerea/ waxy flexibility (mempertahankan anggota gerak dan
tubuh dalam posisi yang dapat dibentuk dari luar),
(g) Gejala-gejala lain seperti command automatism (kepatuhan secara
otomatis terhadap perintah), dan pengulangan kata-kata serta kalimat-
kalimat.
Pada pasien yang tidak komunikatif dengan manifestasi perilaku dari
gangguan katatonik, diagnosis skizofrenia mungkin harus ditunda sampai
diperoleh bukti yang memadai tentang adanya gejala-gejala lain. Penting untuk
diperhatikan bahwa gejala-gejala katatonik bukan petunjuk diagnostik untuk
15

skizofrenia. Gejala katatonik dapat dicetuskan oleh penyakit otak, gangguan
metabolik, atau alkohol dan obat-obatan,serta dapat juga terjadi gangguan afektif.

B.2 Diagnosis Banding Skizofrenia Katatonik
1. Skizofrenia residual
Skizofrenia residual merupakan salah satu diagnosa banding dari skizofrenia
katatonik. PPDGJ-III memberikan pedoman diagnostik untuk skizofrenia residual
yakni harus memenuhi semua kriteria dibawah ini untuk suatu diagnosis yang
meyakinkan:
a. Gejala negatif dari skizofrenia yang menonjol, misalnya perlambatan
psikomotorik, aktivitas menurun, afek yang menumpul, sikap pasif dan
ketiadaan inisiatif, kemiskinan dalam kuantitas atau isi pembicaraan,
komunikasi non-verbal yang buruk seperti dalam ekspresi muka, kontak
mata, modulasi suara, dan posisi tubuh, perawatan diri dan kinerja
sosial yang buruk.
b. Sedikitnya ada riwayat satu episode psikotik yang jelas dimasa lampau yang
memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofrenia
c. Sedikitnya sudah melampaui kurun waktu satu tahun dimana intensitas dan
frekuensi gejala yang nyata seperti waham dan halusinasi telah sangat
berkurang (minimal) dan telah timbul sindrom negatif dari skizofrenia.
2. Gangguan katatonik organik
Untuk menegakkan diagnosis gangguan katatonik organik ( F06.1) ini, harus
mengetahui sebelumnya pedoman diagnostik untuk Gangguan mental lainnya
akibat kerusakan dan disfungsi otak dan penyakit fisik (F06) yaitu,
16

Adanya penyakit, kerusakan atau disfungsi otak, atau penyakit fisik sistemik
yang diketahui berhubungan dengan salah satu sindrom mental yang
tercantum
Adanya hubungan waktu (dalam beberapa minggu atau bulan ) antara
perkembangan penyakit yang mendasari dengan timbulnya sindrom mental
Kesembuhan dari gangguan mental setelah perbaikan atau dihilangkannya
penyebab yang mendasarinya
Tidak adanya bukti yang mengarah pada penyebab alternatif dari sindrom
mental ini (seperti pengaruh yang kuat dari riwayat keluarga atau pengaruh
stres sebagai pencetus)
Sedangkan pedoman diagnostik untuk gangguan katatonik organik menurut
PPDGJ-III sebagai berikut,
Kriteria umum tersebut diatas (F06)
Disertai salah satu dibawah ini :
(a) Stupor (berkurang atau hilang sama sekali gerakan spontan dengan
mutismeparisal atau total, negativisme, dan posisi tubuh yang kaku)
(b) Gaduh gelisah (hipermotilitas yang kasar dengan atau tanpa
kecenderungan untuk menyerang)
(c) Kedua-duanya (silih-berganti secara cepat dan tak terduga dari hipo- ke
hiper-aktivitas).




17

B.3 Penatalaksanaan
a. Psikofarmaka Antipsikosis :
Obat-obatan antipsikosis terbagi menjadi 2 kelompok utama yaitu
Antipsikosis tipikal dan atipikal. Mekanisme obat antipsikosis tipikal adalah
memblokade Dopamin pada reseptor pasca sinaps neuron di otak, khususnya di
sistem limbik dan ekstrapiramidal (Dopamine D2 receptor antagonist ), sehingga
efektif untuk gejala positif. Sedangkan obat antipsikosis atipikal di samping
berafinitas terhadap Dopamine D2 Receptors, juga terhadap Serotonin 5 HT2
Receptors (Serotonin-dopamine antagonist) sehingga efektif juga untuk gejala negative.
Golongan obat anti-psikosis tipikal terbagi menjadi Phenothiazine
(Chlorpromazine, Trifluoperazine, Thiooridazine), Butyrophenone ( Haloperidol),
dan Diphenyl-butyl-piperidine (Pimozide), sedangkan untuk golongan atipikal
terdiri dari Benzamide (Sulpiride), Dibenzodiazepine (Clozapin, Olanzapin,
Quetiapine), dan Benzisoxazole ( Risperidon, Aripiprazole).
Pemilihan obat antipsikosis didasarkan atas beberapa pertimbangan yaitu :
- Pada dasarnya semua obat antipsikosis mempunyai efek primer yang sama
pada dosis ekivalen. Perbedaan terutama pada efek sekunder (efek samping :
sedasi, otonomik dan ekstrapiramidal)
- Pemilihan jenis obat mempertimbangkan gejala psikosis yang dominan dan
efek samping obat. Pergantian obat disesuaikan dengan dosis ekivalen.
- Apabila dalam riwayat penggunaan obat antipsikosis sebelumnya, jenis obat
tertentu sudah terbukti efektif dan dapat ditolelir dengan baik, efek
sampingnya, dapat dipilih kembali untuk pemakaian sekarang
18

- Apabila gejala negatif lebih menonjol dari pada gejala positif, pilihan
antipsikosis atipikal perlu dipertimbangkan
Dalam pengaturan dosis perlu mempertimbangkan :
- Onset efek primer (klinis) sekitar 2-4 minggu dan efek sekunder sekitar 2-6
jam
- Waktu paruh 12-14 jam (pemberian obat 1-2x/hari)
- Dosis pagi dan malam dapat berbeda untuk mengurangi dampak efek
samping (dosis pagi kecil, dosis malam lebih besar) sehingga tidak begitu
mengganggu kualitas hidup pasien.
b. Psikoterapi suportif
- Psikoventilasi: Pasien dibimbing untuk menceritakan segala permasalahannya,
apa yang menjadi kekhawatiran pasien kepada therapist, sehingga therapist
dapat memberikan problem solving yang baik dan mengetahui antisipasi pasien
dari faktor faktor pencetus.
- Persuasi: Membujuk pasien agar memastikan diri untuk selalu kontrol dan
minum obat dengan rutin.
- Sugesti: Membangkitkan kepercayaan diri pasien bahwa dia dapat sembuh
(penyakit terkontrol)
- Desensitisasi: Pasien dilatih bekerja dan terbiasa berada di dalam lingkungan
kerja untuk meningkatkan kepercayaan diri.
c. Sosioterapi
Memberikan penjelasan kepada keluarga dan orang-orang sekitarnya
sehingga tercipta dukungan sosial dengan lingkungan yang kondusif untuk
membantu proses penyembuhan pasien serta melakukan kunjungan berkala.
19

B.4 Prognosis
Prognosis tidak berhubungan dengan tipe apa yang dialami seseorang.
Perbedaan prognosis paling baik dilakukan dengan melihat pada prediktor
prognosis spesifik di tabel berikut :
PROGNOSIS BAIK PROGNOSIS BURUK
Onset lambat Onset muda
Faktor pencetus yang jelas Tidak ada faktor pencetus
Onset akut Onset tidak jelas
Riwayat seksual, sosial, pekerjaan
dan premorbid yang baik
Riwayat seksual , sosial, pekerjaan
dan premorbid yang baik
Gejala gangguan mood (terutama
gangguan depresi)
Perilaku menarik diri, autistik
Gejala positif Gejala negatif
Riwayat keluarga gangguan mood Riwayat keluarga Skizofrenia
sistem pendukung yang baik sistem pendukung yang buruk
Tanda dan gejala neurologis
Riwayat trauma prenatal
Tidak ada remisi dalam 3 tahun
banyak relaps dan banyak
penyerangan




20

BAB III
KESIMPULAN

Untuk menegakkan diagnosis skizofrenia katatonik ( F20.2), pedoman
diagnostiknya sebagai berikut :
Memenuhi kriteria umum untuk diagnosis skizofrenia.
Satu atau lebih dari perilaku berikut ini harus mendominasi gambaran
klinisnya:
(a) Stupor (amat berkurangnya dalam reaktivitas terhadap lingkungan dan
dalamgerakan serta aktivitas spontan) atau mutisme (tidak berbicara)
(b) Gaduh gelisah (tampak jelas aktivitas motorik yang tak bertujuan, yang
tidak dipengaruhi oleh stimuli eksternal)
(c) Menampilkan posisi tubuh tertentu (secara sukarela mengambil dan
mempertahankan posisi tubuh tertentu yang tidak wajar atau aneh)
(d) Negativisme (tampak jelas perlawanan yang tidak bermotif terhadap
semuaperintah atau upaya untuk menggerakkan, atau pergerakan kearah
yangberlawanan)
(e) Rigiditas (mempertahankan posisi tubuh yang kaku untuk melawan
upayamenggerakkan dirinya)
(f) Fleksibilitas cerea/ waxy flexibility (mempertahankan anggota gerak dan
tubuh dalam posisi yang dapat dibentuk dari luar),
(g) Gejala-gejala lain seperti command automatism (kepatuhan secara
otomatis terhadap perintah), dan pengulangan kata-kata serta kalimat-
kalimat.
21

Pada pasien yang tidak komunikatif dengan manifestasi perilaku dari gangguan
katatonik, diagnosis skizofrenia mungkin harus ditunda sampai diperoleh bukti
yang memadai tentang adanya gejala-gejala lain. Penting untuk diperhatikan
bahwa gejala-gejala katatonik bukan petunjuk diagnostik untuk skizofrenia.
Gejala katatonik dapat dicetuskan oleh penyakit otak, gangguan metabolik,
atau alkohol dan obat-obatan,serta dapat juga terjadi gangguan afektif


















22

DAFTAR PUSTAKA

1 Amir N. Skizofrenia. In : Elvira S.D, Hadisukanto G Editors. Buku Ajar
Psikiatri.Jakarta; Badan Penerbit FKUI. 2010. p. 170-176.
2. Maslim R. Skizofrenia, Gangguan Skizotipal dan Gangguan Waham. In:
Maslim REditor. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari
PPDGJ-III.Jakarta;Nuh Jaya. 2001. p. 46-57.
3. Kaplan, Sadock, Grebb. Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Prilaku Psikiatri
KlinisJilid Satu 7th ed. Jakarta; Binarupa Aksara, 1997. p.699-702,706-
713,720-727,737-740
4. Case Report Session: Skizofrenia Katatonik. Available from URL :
http://www.scribd.com/document_downloads/direct/48786174?extension=doc
x&ft=1338453194&lt=1338456804&uahk=2pl3leYp/vL922aKbpuI1s7VQSQ
5. Suhestri T. Skizofrenia Paranoid dan Gangguan Delusional. Available from url:
http://www.scribd.com/document_downloads/direct/55081569?extension=doc
x&ft=1338453536&lt=1338457146&uahk=Z5DkI9d1JayMU5agsTMYLzvcA
sI
6 Ritonga S.R. Terapi Efektif untuk Skizofrenia Paranoid. Available from url :
http://www.fkumyecase.net/wiki/index.php?page=Terapi+Efektif+untuk+Skizo
frenia+Paranoid
7. Maslim R. Penggunaan Klinis Obat Psikotropik 3r Ed. Jakarta; Nuh Jaya.
2007. p.10-22