Anda di halaman 1dari 20

1

BAB I
TINJAUAN PUSTAKA
I.I Pendahuluan
Uretra merupakan bagian terpenting dari saluran kemih. Pada pria dan wanita, uretra
mempunyai fungsi utama untuk mengalirkan urin keluar dari tubuh. Saluran uretra juga penting
dalam proses ejakulasi semen dari saluran reproduksi pria.
Pada striktur uretra terjadi penyempitan dari lumen uretra akibat terbentuknya jaringan
fibrotik pada dinding uretra.Striktur uretra menyebabkan gangguan dalam berkemih, mulai dari
aliran berkemih yang mengecil sampai sama sekali tidak dapat mengalirkan urin keluar dari
tubuh. Urin yang tidak dapat keluar dari tubuh dapat menyebabkan banyak komplikasi, dengan
komplikasi terberat adalah gagal ginjal
1,2

Striktur uretra masih merupakan masalah yang sering ditemukan pada bagian dunia
tertentu. Striktur uretra lebih sering terjadi pada pria dari pada wanita, karena uretra pada wanita
lebih pendek dan jarang terkena infeksi. Segala sesuatu yang melukai uretra dapat menyebabkan
striktur. Orang dapat terlahir dengan striktur uretra, meskipun hal itu jarang terjadi. Striktur
uretra dapat disebabkan karena suatu infeksi, trauma pada uretra, dan kelainan bawaan. Infeksi
yang paling sering menimbulkan striktur uretra adalah infeksi oleh kuman gonokokus yang telah
menginfeksi uretra beberapa tahun sebelumnya. Keadaan ini sekarang jarang dijumpai karena
banyak pemakaian antibiotika untuk memberantas uretritis.Trauma yang menyebabkan striktur
uretra adalah trauma tumpul pada selangkangan (straddle injury), fraktur tulang pelvis, dan
instrumentasi atau tindakan transuretra yang kurang hati-hati. Pengobatan striktur uretra banyak
pilihan dan bervariasi tergantung panjang dan lokasi dari striktur, serta derajat penyempitan
lumen uretra
3
1.2. Anatomi dan Fisiologi
Uretra merupakan tabung yang menyalurkan urine keluar dari buli-buli melalui proses
miksi. Secara anatomi uretra dibagi menjadi 2 bagian yaitu uretra posterior dan uretra anterior.
Pada pria organ ini berfungsi juga dalam menyalurkan cairan mani. Uretra di lengkapi dengan
2

sfingter uretra interna yang terletak pada perbatasan buli-buli dan uretra,serta sfingter uretra
eksterna yang terletak pada perbatasan uretra anterior dan posterior. Sfingter uretra interna terdiri
atas otot polos yang di persarafi oleh sistem simpatik sehingga pada saat buli-buli penuh sfingter
ini terbuka. Sfingter uretra eksterna terdiri atas otot bergaris di persarafi oleh sistem somatik
yang dapat di perintah sesuai dengan keinginan seseorang. Pada saat miksi sfinter ini terbuka dan
tetap tertutup pada saat menahan kencing.

Panjang uretra wanita kurang lebih 3-5 cm,sedangkan
uretra pria dewasa kurang lebih 23-25 cm.
2
Uretra anterior adalah bagian uretra yang dibungkus oleh korpus spongiosum penis.
Uretra anterior terdiri atas: pars bulbosa,pars pendularis,fossa navicularis,dan meatus uretra
eksterna. Didalam lumen uretra anterior terdapat beberapa muara kelenjar yang berfungsi dalam
proses reproduksi,yaitu kelenjar cowperi berada didalam diafragma urogenitalis dan bermuara di
uretra pars bulbosa,serta kelenjar Littre yaitu kelenjar para uretralis yang bermuara di uretra pars
pendularis.
2

Uretra posterior pada pria terdiri atas uretra pars prostatika,yaitu bagian uretra yang
dilingkupi oleh kelenjar prostat,dan uretra pars membranasea. Dibagian posterior lumen uretra
pars prostatika terdapat suatu tonjolan verumontanum,dan dan di sebelah proksimal dan distal
dari verumontanum ini terdapat Krista uretralis. Bagian terakhir dari vas deferens yaitu kedua
duktus ejakulatorius yang terdapat di bagian kiri dan kanan verumonntanum,sedangkan sekresi
kelenjar prostat bermuara di dalam duktus prostatikus yang tersebar di uretra prostatika. Didalam
uretra bermuara kelenjar periuretra,diantaranya adalah kelenjar Skene. Kurang lebih sepertiga
medial uretra,terdapat sfingter uretra eksterna yang terdiri atas otot bergaris. Tonus otot sfinter
uretra external dan tonus otot levator ani berfunsi mempertahankan agar urin tetap berada dalam
buli-buli pada saat perasaan ingin miksi. Miksi terjadi jika tekanan intravesika melebihi tekanan
intra uretra akibat kontraksi otot detrusor dan relaksasi sfingter uretra.
2
3


a).puncak kandung kemih
b).badan kandung kemih
c).fundus kandung kemih
d).ureter
e).mulut ureter
f).lipatan uterik
g).segitiga vesika
h).leher kandung kemih
i).prostat
k).uretra prostatika dengan kolikulus
l).uretra membranous
m).glandula bulbouretralis
n).portio cavernosus uretra
o).copus cavernosus uretra
p).corpus cavernosus penis
q).glans penis
r).fossa terminalis uretra
Gambar 1.1. Anatomi Uretra

4

1.3. Etiologi
Sriktura uretra dapat disebabkan oleh:
1. Trauma : Trauma yang dapat menyebabkan sriktura uretra adalah trauma
tumpul pada selangkangan (straddle injury), fraktur tulang pelvis

yang berhubungan
dengan kerusakan uretra posterior(membranous). Trauma tumpul pada perineum (jatuh
yang mengangkang) berhubungan dengan kerusakan uretra pars bulbosa
,
dan trauma
langsung pada penis.
3,4,5

Segmen yang terkena lebih pendek dan lebih terlokalisasi dibandingkan dengan
akibat peradangan,sedangkan bagian lainnya tampak normal.
2. Kongenital:bayi yang lahir dengan striktura uretra
11
,kejadiannya langkah
dan terdapatCobbs Collar dan cincin putih(penyempitan)pada bagian proksimal dari
uretra bulbosa.
5,6

3. Idiopatik :tidak diketahui penyebabnya.
4. Peradangan : biasa terjadi pada uretra anterior,sering disebabkan oleh
infeksi gonore,tuberkolosis,atau uretritis non spesifik.
5. Iatrogenic :karena instrument atau kateterisasi. Instrument Endoscopy
yang dapat menyebabkan striktura uretra yaitu:TURP,TUIP,HOLEP.
11

6. Neoplasma : terjadi karena infiltarasi keganasan,namun jarang. Setiap
jenis tumor primer uretra dapat menyebabkan striktur uretra. Kanker penis primer dapat
menyebabkan striktur uretra.
7

Striktur uretra karena peradangan saat ini jarang di jumpai karena banyak pemakaian
antibiotic untuk pemberantasan uretritis.
2

5


Gambar 1.2. Penyebab terjadinya striktur uretra
2

Gambar 1.3. Striktur uretra yang terjadi akibat peradangan
1,2
1.4. Epidemiologi
Berdasarkan presentasinya maka penyebab terjadinya striktura uretra adalah:
1,3
Trauma External 29%
Congenital 22%
Idiopatik 19%
Inflammatory 16 %
Iatrogenic 14%
Striktur uretra lebih sering terjadi pada pria dari pada wanita, karena uretra pada wanita
lebih pendek dan jarang terkena infeksi. Segala sesuatu yang melukai uretra dapat menyebabkan
striktur uretra. Frekuensi kerusakan uretra berdasarkan lokasi yaitu:uretra posterior lebih dari
6

95% berhubungan dengan fraktur pelvic,5-10% pasien yang mengalami fraktur pelvik juga
menderita laserasi uretra,2-3 orang pria yang menderita fraktur diastatik pubik juga mengalami
kerusakan uretra. Sedangkan pada uretra anterior terjadi kerusakan pada selangkangan sampai
bulbus uretra,yang disebabkan oleh iatrogenic seperti instrument medis,dan dapat juga
disebabkan oleh benda asing.
1,4

Pada fraktur panggul 5%-10% mengalami cedera uretra posterior. Striktura uretra
bulbosa banyak terjadi pada pria,karena disebabkan oleh cedera perineum dalam posisi
mengangkang.
1.5. Patofisiologi
1.Trauma
Cedera uretra anterior paling sering terjadi akibat pukulan benda tumpul ke perineum,
dan menyebabkan kerusakan pada jaringan uretra. Kejadian ini merupakan cedera awal yang
sering diabaikan oleh pasien. Jaringan uretra yang megalami kerusakan tidak mendapat suplai
darah sehingga mengalami iskemik dan berkembang menjadi jaringan parut. Selain itu upaya
tubuh untuk memperbaiki kerusakan yang disebabkan oleh cedera mengakibatkan penumpukan
jaringan parut di saluran uretra dan akan menimbulkan penyempitan yang signifikan atau bahkan
penutupan bagian itu.Sedangkan cedera uretra posterior terjadi karena trauma tumpul pada
panggul,yang menyebabkan kerusakan dan pergeseran pada pars membranosa dan pars
prostatika tidak mengalami kerusakan karena adanya ligamentum puboprostatik. Pergeseran dari
tulang panggul dapat merobek atau merenggangkan membrane uretra. Selanjutnya bagian uretra
yang robek akan berkembang menjadi jaringan parut,yang menumpuk pada saluran uretra yang
dapat menimbulkan penyempitan uretra. Biasanya berkembang lebih cepat dari pada striktur
karena inflamasi dan soliter.
9,10,11
2.Kongenital
Tidak memiliki mekanisme yang pasti,dan merupakan kelainan anatomis yang sudah
terbentuk sejak lahir.


7

3.Idiopatik:
Tidak memiliki mekanisme yang jelas. Dapat terjadi karena trauma atau infeksi pada
waktu bayi yang tidak diketahui oleh penderita.
4.Inflamasi atau peradangan
Biasanya didahului oleh penyakit radang seperti uretritis gonokokal. Sebagian besar
striktur karena peradangan terjadi didalam bola uretra yang mengandung sebagian besar kelenjar
parauretral. Penyempitan karena inflamasi sering meluas k corpus spongiosum. Proses radang
akibat trauma atau infeksi pada uretra akan menyebabkan terbentuknya jaringan sikatrik pada
uretra. Jaringan sikatrik pada lumen uretra menimbulkan hambatan aliran urin hingga retensi
urin. Aliran urin yang terhambat mencari jalan keluar ke tempat lain(disebelah proksimal
striktura) dan akhirnya mengumpul dirongga peri uretra. Jika terinfeksi akan menimbulkan abses
periuretra yang kemudia pecah ,membentuk fistula uterokutan. Pada keadaan tertentu dijumpai
banyak sekali fistula sehingga disebut sebagai fistula seruling. Jaringan sikatriks dan fistula ini
akan menumpuk dan menyempitkan saluran uretra
5.Iatrogenic
Operasi terbuka atau robekan selama kateterisasi atau instrumentasi. Pemasangangan
kateter atau instrument yang tidak tepat dan berkepanjangan,dapat menimbulkan lesi pada
uretra,dan merobek mukosa dan submukosa uretra. Lesi tersebut akan menjadi jaringan sikatriks
dan akan mempersempit segmen uretra.
6.Neoplasma: neoplasma pada uretra akan mempersempit lumen uretra dan menghambat
pengeluaran urin.
Sesuai dengan derajat penyempitan lumennya,striktura uretra dibagi menjadi 3
tingkatan yaitu:
1. Ringan :jika oklusi yang terjadi kurang dari 1/3 diameter lumen uretra
2. Sedang :jika terdapat oklusi 1/3-1/2 diameter lumen uretra
3. Berat :jika terdapat oklusi lebih besar dari diameter lumen uretra
8

Pada penyempitan derajat berat kadang teraba jaringan keras diatas korpus spongiosum
yang dikenal dengan sebutan: spongiofibrosis.
2

A. Lipatan mukosa
B. Konstriksi iris
C. Fibrosis minimal
D. Spongiofibrosis
E. Inflamasi dan fibrosis sampai jaringan korpus spongiosum
F. Striktur dengan komplikasi fistel, dapat terbentuk abses
Gambar 1.4. Jenis-jenis striktur uretra berdasarkan patologinya
3


Gambar 1.5. Tiga lokasi striktur uretra (1,2,3)
9

(1.Pars membranacea, 2. Pars Bulbosa 3. Meatus Uretra 4. Kandung kemih 5.Prostat
6. Rectum 7. Diafragma urogenital 8. Simfisis)
1.6. Gejala Klinis
1. Pancaran air seni lemah
2. Pancaran air seni bercabang
Pada pemeriksaan sangat penting untuk ditanyakan bagaimana pancaran urinnya.
Normalnya, pancaran urin jauh dan diameternya besar. Tapi kalau terjadi penyempitan karena
striktur, maka pancarannya akan jadi turbulen.
3. Frekuensi
Disebut frekuensi apabila buang air kecil lebih sering dari normal, yaitu lebih dari tujuh
kali / hari. Apabila sering buang air kecil di malam hari disebut nocturia. Dikatakan nocturia
apabila di malam hari, buang air kecil lebih dari satu kali, dan keinginan buang air kecil itu
sampai membangunkannya dari tidur sehingga mengganggu tidurnya
7,8

4. Overflow incontinence (inkontinensia paradoxal).
Terjadi karena meningkatnya tekanan di vesica akibat penumpukan urin yang terus
menerus. Tekanan di vesica menjadi lebih tinggi daripada tekanan di uretra. Akibatnya urin
dapat keluar sendiri tanpa terkontrol. Disini terlihat adanya perbedaan antara overflow
inkontinensia (inkontinesia paradoksal) dengan flow incontinentia. Pada flow incontinenntia,
misalnya akibat paralisis musculus spshincter urtetra, urin keluar tanpa adanya keinginan untuk
buang air kecil, namun pada overflow incontinence, pasien merasa ingin kencing (karena
vesicanya penuh), namun urin keluar tanpa bisa dikontrol. Itulah sebabnya disebut inkontinensia
paradoxal.
7,8

5. Dysuria dan hematuria
6. Keadaan umum pasien baik
10

7. Jelek bila telah lama akibat adanya perubahan pada faal ginjal.
Perjalanannya adalah infeksi -> striktur -> refluks -> hidroureter -> hidronefrosis -> faal ginjal
turun.
4
1.7. Diagnosis
Faktor resiko:
9

1. Alat-alat yang ada dalam uretra,misalnya:kateter dan cystoscop
2. Benign Prostatic Hyperplasia
3. Trauma pada daerah pelvic
4. Uretritis yang berulang
Anamnesis :
anamnesis bertujuan untuk mencari gejala dan tanda dari striktur urethra juga
untuk mencari penyebab striktur urethra.
1. Berkurangnya aliran urin
2. Ketegangan saat berkemih
3. Pancaran air kencing kecil dan bercabang
4. Perasaan tidak puas setelah berkemih
5. Frekuensi berkemih lebih dari normal
6. Tidak dapat menahan keinginan untuk berkemih
7. Terkadang sakit dan nyeri saat berkemih
8. Kadang dijumpai infiltrate,abses,dan fistel
9. Retensi urin
10. Nyeri pada daerah pelvic

Pemeriksaan Fisik.
9

Pada pemeriksaan fisik, bertujuan untuk mengecek keadaan penderita juga untuk
meraba fibrosis di urethra, infiltrat, abses atau fistula. Pada pemeriksaan fisisk dapat
ditemukan:
11

1. Penurunana aliran urin
2. Pembesaran kandung kemih
3. Pembesaran limphonodus pada daerah inguinal
4. Pembesaran prostat
5. Permukaan bawah penis menjadi keras

Patologi
Analisis patologi dari striktura menunjukan adanya deposit kolagen yang tidak
teratur,fibrosis.
Patologi dari striktura uretra non-trauma,terdapat 2 pembagian striktura uretra
yang di nilai dari perubahan epitel.Perubahan dari epithelium uretra dari epithelium
kolumnar pseudostratified yang mana relative fleksibel dan tahan air menjadi epithelium
squamous yang kurang fleksibel dan kurang tahan air. Karakter epithelium ini
mendukung pada lamina propria atau lembaran otot yang kokoh atau kuat. Epithelium
uretra berada langsung pada jaringan spong pada corpus spongiosum.
5

Pemeriksaan laboratorium:

1. Urinalisis
2. Kultur urin dan sensitivitas
3. Serum elektrolit dengan urea darah dan kreatinin serum nitrogen.
Gambaran Histologi
Pada striktur uretra yang bukan keganasan di temukan pembentukan scar atau
jaringan parut dengan deposite kolagen dan infiltrate inflamasi yang menonjol. Radiasi
striktur dapat ditunjukan dengan kekurangan celuler,dan hipertropi vascular dengan
matrix aseluler.Sedangkan striktur uretra yang merupakan keganasan mempunyai
karakteristik karsinoma patologi yang spesifik.


Radiologi
1. Urethrocystography
1,6

Di indikasikan untuk pasien yang mengalami trauma,darah
dalam urin,dan dicurigai fraktur pelvic.
12

pemeriksaan uretrosistografi bertujuan untuk melihat
kelainan pada uretra pars cavernosa, pars membranacea, dan pars
prostatica serta VU.
Caranya
memasukkan kontras melalui kateter atau dapat juga
melalui pungsi (menusuk) suprapubik.
bahan kontras dimasukkan dengan semprit yang
ujungnya sesuai dengan meatus uretra eksterna, diisi sampai
kontras masuk ke vesica urinaria.
pemeriksaan juga dapat dilakukan dengan cara
menggunakan klem atau dengan cara memasukkan kateter kecil ke
distal penis,tetapi didahulukan dengan anastesi local.
Foto diambil pada waktu pengisian kontras dengan
posisi antero-posterior, oblik kanan dan kiri.

Tampak penyempitan pada urethra pars cavernosa


Gambar 1.7. uretrogram pada striktur uretra multipel pada uretra anterior
6

13

1.8. Penatalaksanaan
Striktur uretra tidak dapat dihilangkan dengan jenis obat-obatan apapun.Pasien yang datang
dengan retensi urin, secepatnya dilakukan sistostomi suprapubik untuk mengeluarkan urin, jika
dijumpai abses periuretra dilakukan insisi dan pemberian antibiotika.Pengobatan striktur uretra
banyak pilihan dan bervariasi tergantung panjang dan lokasi dari striktur, serta derajat
penyempitan lumen uretra.Tindakan khusus yang dilakukan terhadap striktur uretra adalah
9,10
:
1. Bougie (Dilatasi)
Sebelum melakukan dilatasi, periksalah kadar hemoglobin pasien dan periksa adanya glukosa
dan protein dalam urin.


Tersedia beberapa jenis bougie. Bougie bengkok merupakan satu batang logam yang ditekuk
sesuai dengan kelengkungan uretra pria; bougie lurus, yang juga terbuat dari logam, mempunyai
ujung yang tumpul dan umumnya hanya sedikit melengkung; bougie filiformis mempunyai
diameter yang lebih kecil dan terbuat dari bahan yang lebih lunak.


Berikan sedatif ringan sebelum memulai prosedur dan mulailah pengobatan dengan antibiotik,
yang diteruskan selama 3 hari. Bersihkan glans penis dan meatus uretra dengan cermat dan
persiapkan kulit dengan antiseptik yang lembut. Masukkan gel lidokain ke dalam uretra dan
dipertahankan selama 5 menit. Tutupi pasien dengan sebuah duk lubang untuk mengisolasi penis.


Apabila striktur sangat tidak teratur, mulailah dengan memasukkan sebuah bougie filiformis;
biarkan bougie di dalam uretra dan teruskan memasukkan bougie filiformis lain sampai bougie
dapat melewati striktur tersebut (Gbr.3A-D). Kemudian lanjutkan dengan dilatasi menggunakan
bougie lurus (Gbr.3E).


Apabila striktur sedikit tidak teratur, mulailah dengan bougie bengkok atau lurus ukuran
sedang dan secara bertahap dinaikkan ukurannya. Dilatasi dengan bougie logam yang dilakukan
secara hati-hati. Tindakan yang kasar tambah akan merusak uretra sehingga menimbulkan luka
baru yang pada akhirnya menimbulkan striktur lagi yang lebih berat. Karena itu, setiap dokter
yang bertugas di pusat kesehatan yang terpencil harus dilatih dengan baik untuk memasukkan
14

bougie. Penyulit dapat mencakup trauma dengan perdarahan dan bahkan dengan pembentukan
jalan yang salah (false passage). Perkecil kemungkinan terjadinya bakteremi, septikemi, dan
syok septic dengan tindakan asepsis dan dengan penggunaan antibiotik.
9


Gambar.1.9 Dilatasi Uretra dengan Bougie

15

Gambar 1.10 Dilatasi uretra pada pasien pria (lanjutan). Bougie lurus dan bougie bengkok (F);
dilatasi strikur anterior dengan sebuah bougie lurus (G); dilatasi dengan sebuah bougie bengkok
(H-J).
2. Uretrotomi interna
Tindakan ini dilakukan dengan menggunakan alat endoskopi yang memotong jaringan
sikatriks uretra dengan pisau Otis atau dengan pisau Sachse, laser atau elektrokoter.
Otis uretrotomi dikerjakan pada striktur uretra anterior terutama bagian distal dari
pendulans uretra dan fossa navicularis, otis uretrotomi juga dilakukan pada wanita
dengan striktur uretra.
Indikasi untuk melakukan bedah endoskopi dengan alat Sachse adalah striktur uretra
anterior atau posterior masih ada lumen walaupun kecil dan panjang tidak lebih dari 2 cm
serta tidak ada fistel, kateter dipasang selama 2-3 hari pasca tindakan. Setelah pasien
dipulangkan, pasien harus kontrol tiap minggu selama 1 bulan kemudian 2 minggu sekali
selama 6 bulan dan tiap 6 bulan sekali seumur hidup. Pada waktu kontrol dilakukan
pemeriksaan uroflowmetri, bila pancaran urinnya < 10 ml/det dilakukan bouginasi.
8,9

3. Uretrotomi eksterna
Tindakan operasi terbuka berupa pemotongan jaringan fibrosis kemudian dilakukan
anastomosis end-to-end di antara jaringan uretra yang masih sehat, cara ini tidak dapat dilakukan
bila daerah strikur lebih dari 1 cm.

Cara Johansson; dilakukan bila daerah striktur panjang dan
banyak jaringan fibrotik.
Stadium I, daerah striktur disayat longitudinal dengan menyertakan sedikit jaringan sehat di
proksimal dan distalnya, lalu jaringan fibrotik dieksisi. Mukosa uretra dijahit ke penis pendulans
dan dipasang kateter selama 5-7 hari.


Stadium II, beberapa bulan kemudian bila daerah striktur telah melunak, dilakukan pembuatan
uretra baru.

Uretroplasty dilakukan pada penderita dengan panjang striktur uretra lebih dari 2 cm
atau dengan fistel uretro-kutan atau penderita residif striktur pasca Uretrotomi Sachse. Operasi
uretroplasty ini bermacam-macam, pada umumnya setelah daerah striktur di eksisi, uretra diganti
16

dengan kulit preputium atau kulit penis dan dengan free graft atau pedikel graft yaitu dibuat
tabung uretra baru dari kulit preputium/kulit penis dengan menyertakan pembuluh darahnya.
8,9,10

1.9 Komplikasi
Trabekulasi, sakulasi dan divertikel
Pada striktur uretra kandung kencing harus berkontraksi lebih kuat, maka otot kalau diberi
beban akan berkontraksi lebih kuat sampai pada suatu saat kemudian akan melemah. Jadi pada
striktur uretra otot buli-buli mula-mula akan menebal terjadi trabekulasi pada fase kompensasi,
setelah itu pada fase dekompensasi timbul sakulasi dan divertikel. Perbedaan antara sakulasi dan
divertikel adalah penonjolan mukosa buli pada sakulasi masih di dalam otot buli sedangkan
divertikel menonjol di luar buli-buli, jadi divertikel buli-buli adalah tonjolan mukosa keluar buli-
buli tanpa dinding otot.
8,9

Residu urine
Pada fase kompensasi dimana otot buli-buli berkontraksi makin kuat tidak timbul residu. Pada
fase dekompensasi maka akan timbul residu. Residu adalah keadaan dimana setelah kencing
masih ada urine dalam kandung kencing. Dalam keadaan normal residu ini tidak ada.
7,8

Refluks vesiko ureteral
Dalam keadaan normal pada waktu buang air kecil urine dikeluarkan buli-buli melalui uretra.
Pada striktur uretra dimana terdapat tekanan intravesika yang meninggi maka akan terjadi
refluks, yaitu keadaan dimana urine dari buli-buli akan masuk kembali ke ureter bahkan sampai
ginjal.
7

Infeksi saluran kemih dan gagal ginjal
Dalam keadaan normal, buli-buli dalam keadaan steril. Salah satu cara tubuh
mempertahankan buli-buli dalam keadaan steril adalah dengan jalan setiap saat mengosongkan
buli-buli waktu buang air kecil. Dalam keadaan dekompensasi maka akan timbul residu,
akibatnya maka buli-buli mudah terkena infeksi.


17

Adanya kuman yang berkembang biak di buli-buli dan timbul refluks, maka akan timbul
pyelonefritis akut maupun kronik yang akhirnya timbul gagal ginjal dengan segala akibatnya.
9,10

Infiltrat urine, abses dan fistulasi
Adanya sumbatan pada uretra, tekanan intravesika yang meninggi maka bisa timbul inhibisi
urine keluar buli-buli atau uretra proksimal dari striktur. Urine yang terinfeksi keluar dari buli-
buli atau uretra menyebabkan timbulnya infiltrat urine, kalau tidak diobati infiltrat urine akan
timbul abses, abses pecah timbul fistula di supra pubis atau uretra proksimal dari striktur.
7,8.
1.10 Pencegahan
Menghindari terjadinya trauma pada uretra dan pelvis
3,4,8,10

Tindakan transuretra dengan hati-hati, seperti pada pemasangan kateter
3,4,8,10

Menghindari kontak langsung dengan penderita yang terinfeksi penyakit menular seksual
seperti gonorrhea, dengan jalan setia pada satu pasangan dan memakai kondom
3,4,8,10

Pengobatan dini striktur uretra dapat menghindari komplikasi seperti infeksi dan gagal
ginjal
3,4,8,10

1.11.Prognosis
Striktur uretra kadang mengalami kekambuhan, sehingga pasien harus sering menjalani
pemeriksaan yang teratur oleh dokter. Penyakit ini dikatakan sembuh jika setelah dilakukan
observasi selama satu tahun tidak menunjukkan tanda-tanda kekambuhan.
2,4,7

1.12.Striktur Uretra pada Wanita
Etiologi striktur pada wanita berbeda dengan laki-laki, etiologi striktura uretra pada wanita
radang kronis. Biasanya di derita wanita usia diatas 40 tahun dengan sindroma sistitis
berulang yaitu disuria, frekuensi dan urgensi.
11

Diagnosis striktur uretra dibuat dengan bougie aboule, tanda khas dari pemeriksaan bougie
aboule adalah pada waktu dilepas terdapat flik/hambatan.
11

Pengobatan dari striktura uretra pada wanita dengan dilatasi, kalo gagal dengan otis
uretrotomi.
11

18

1.13 Kontrol Bekala
Setiap kontrol dilakukan pemeriksaan pancaran urin yang langsung dilihat oleh dokter, atau
dengan rekaman uroflometri. Untuk mencegah timbulnya kekambuhan, sering kali pasien harus
menjalani beberapa tindakan, antara lain: (1) dilatasi berkala dengan busi dan (2) kateterisasi
bersih mandiri berkala (KBMB) atau CIC (Clean Intermitten Catheterization) yaitu pasien
dianjurkan untuk melakukan kateterisasi secara periodik pada waktu tertentu dengan kateter yang
bersih (tidak perlu steril) guna mencegah timbulnya kekambuhan striktura.
3

19

Daftar Pustaka
1. Cook J, Sankaran B, Wasunna A.E.O. Uretra Pria, dalam: Penatalaksanaan Bedah Umum
di Rumah Sakit. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 1995. Hal;165-166.
2. Purnomo Basuki B. Striktura uretra, dalam: Dasar-dasar UROLOGI. Ed 2. CV. Sagung,
Jakarta, 2003. Hal; 153-156.
3. Purwadianto A, Sampurna B. Retensi Urin, dalam: Kedaruratan Medik, Pedoman
Penatalaksanaan Praktis. Ed Revisi. Binarupa Aksara, Jakarta, 2000. Hal;145-148.
4. Rochani. Striktur Urethra, dalam: Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Bagian Bedah Staf
Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Binarupa Aksara, Jakarta, 1995.
Hal; 152-156.
5. Scott M. Gilbert, M.D., Department of Urology, Columbia-Presbyterian Medical Center,
New York. Urethral Stricture. http://www.medlineplus.com/medicalencyclopedia.html, 5
Maret 2004. Diakses tanggal 29 Juli 2012
6. Sjamsuhidayat R, Wim de Jong. Striktur Uretra, dalam: Buku Ajar Ilmu Bedah Ed.
Revisi. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 1996. Hal; 1018-1019.
7. Smith, Donald R. General Urology. Lange Medical Publication. Drawer L, Los Altos.
California. 2008. 633-7.
8. Snell, Richard S. Perineum, dalam : Anatomi Klinik. Edisi 3. Penerbit Buku Kedokteran
EGC, Jakarta. 1998.h 96,100.
9. Stricture Urethra. http://www.strictureurethra.com, diakses tanggal 4 Agustus 2012
10. Urethral Stricture. http://www.drrajmd.com/urology/urethral-stricture, diakses tanggal 14
Agustus 2012
11. Center For Reconstructive Urethral Surgery.Acessed: Desember 2011. Available from
URL: http://www.uretra.it/stenosi-uretra-eziologia-medici/?lang=en
12. Siswanto Abeng Tenri. Ureter dan Uretra. In :Rasad Sjahriar. In:Radiologi Diagnostik,
2th Ed. Jakarta: Balai Penerbit FKUI;2005.Chapter XI, p.315-317.
13. Andrich Daniela E,Anthony R Mundy. Urethral Stricture Surgery:the state of the art. In
:Kirby Roger S,Michael P OLearly. In ;Hot Topics in Urology. London : Elsevier
Limited;2004. Chapter 19, p. 239-252.
20

14. Vakili B, Chesson RR, Kyle BL, Shobeiri SA, Echols KT, Gist R, et al. The incidence of
urinary tract injury during hysterectomy: a prospective analysis based on universal
cystoscopy. Am J Obstet Gynecol. May 2005;Acessed: Agustus 5
th
2012. Available from
URL: http://www.medscape.com/medline/abstract/15902164