Anda di halaman 1dari 15

KERERAWATAN KEGAWATDARURATAN PADA PASIEN DENGAN

HENTI JANTUNG

A. Definisi
Henti jantung adalah terhentinya kontraksi jantung yang efektif ditandai
dengan pasien tidak sadar, tidak bernafas, tidak ada denyut nadi. Pada keadaan
seperti ini kesepakatan diagnostis harus ditegakkan dalam 3 4 menit.
Keterlambatan diagnosis akan menimbulkan kerusakan otak. Harus dilakukan
resusitasi jantung paru.
Henti jantung atau tepatnya henti sirkulasi ialah keadaan keadaan
dengan sirkuasi yang tidak efektif dari jantung ke seluruh tubuh.hal ini
menandakan penderita dalam keadaan gawat.sekitar 90% henti jantung
dasarnya ialah asistole mekanis dan elektrik komplet,sedangkan 10% lainnya
mempunyai mempunyai dasar fibrilasi ventrikel (ilmu kesehatan anak volume
2).
Henti jantung adalah terhentinya denyut jantung dan peredaran darah
secara tiba-tiba pada seseorang yang tidak apa-apa,merupakan keadaan darurat
yang paling gawat,yang lebih di kenal dengan istilah henti jantung (cardiac
arrest).keadaan ini biasanya di ikuti pula dengan berhentinya fungsi pernafasan
dan hilangnya kesadaran serta reflek.(ilmu kesehatan anak volume 3).

B. Etiologi
Penyebab utama dari cardiac arrest adalah aritmia, yang dicetuskan oleh
beberapa faktor, diantaranya penyakit jantung koroner, stress fisik (perdarahan
yang banyak, sengatan listrik, kekurangan oksigen akibat tersedak, tenggelam
ataupun serangan asma yang berat), kelainan bawaan, perubahan struktur
jantung (akibat penyakit katup atau otot jantung) dan obat-obatan. Penyebab
lain cardiac arrest adalah tamponade jantung dan tension pneumothorax.



1. Terhentinya system pernafasan secara tiba-tiba yang dapat disebabkan
karena:
Penyumbatan jalan nafas : aspirasi cairan lambung atau benda asing.
Sekresi air yang terdapat dijalan nafas, seperti pada saat tenggelam,
edema paru, lendir yang banyak.
Depresi susunan saraf pusat yang disebabkan karena obat-obatan, racun,
arus listrik tegangan tinggi, hipoksia berat, edema otak.
2. Terhentinya peredaran darah secara tiba-tiba yang disebabkan :
Hipoksia, asidosis, hiperkapnia karena penyakit paru atau karena henti
perrnafasan secara tiba-tiba.
3. Terganggunya fungsi system saraf, yang terjadi sebagai akibat terganggunya
system pernafasan dan peredaran darah.

C. Tanda dan Gejala
1. Ketidaksadaran sering terjadi sebagai kolaps yang tiba-tiba.
2. Tidak ada denyut nadi yang teraba rasakan baik untuk denyut karotis/
femoral
3. Apnea/ gerakan nafas tidak efektif (henti nafas)
4. Pupil dilatasi/ setelah 40 detik paska kolaps, pupil dilatasi. Pupil dilatasi
maksimal menandakan sudah terjadi 50% kerusakan otak irreversible.
5. Kulit keabuan/ putih/ sianosis (biru).
6. Henti nafas segera timbul setelahnya.
7. Organ-organ tubuh akan mulai berhenti berfungsi akibat tidak adanya suplai
oksigen, termasuk otak.
8. Kerusakan otak mungkin terjadi jika cardiac arrest tidak ditangani dalam 5
menit, selanjutnya akan terjadi kematian dalam 10 menit.
9. Tidak ada denyut jantung.
Tanda-tanda di atas menunjukkan pasien mati secara klinis. Jika ventilasi
dan sirkulasi tidak dimulai dalam waktu 3 menit, kematian biologis
(kerusakan otak yang tidak dapat diperbaiki lagi) akan terjadi.

D. Penatalaksanaan
Penanganan henti jantung dilakukan untuk membantu menyelamatkan
pasien / mengembalikan fungsi cardiovascular. Adapun prinsip-prinsipnya
yaitu sebagai berikut:
Tahap I :
Berikan bantuan hidup dasar
Bebaskan jalan nafas, seterusnya angkat leher / topang dagu.
Bantuan nafas, mulut ke mulut, mulut ke hidung, mulut ke alat bantuan
nafas.
Jika nadi tidak teraba :
Satu penolong : tiup paru kali diselingi kompres dada 30 kali.
Dua penolong : tiup paru setiap 2 kali kompresi dada 30 kali.
Tahap II :
Bantuan hidup lanjut.
Jangan hentikan kompresi jantung dan Venulasi paru.
Langkah berikutnya :
Berikan adrenalin 0,5 1 mg (IV), ulangi dengan dosis yang lebih besar
jika diperlukan. Dapat diberikan Bic Nat 1 mg/kg BB (IV) jika perlu.
Jika henti jantung lebih dari 2 menit, ulangi dosis ini setiap 10 menit
sampai timbul denyut nadi.
Pasang monitor EKG, apakah ada fibrilasi, asistol komplek yang aneh :
Defibrilasi : DC Shock.
Pada fibrilasi ventrikel diberikan obat lodikain / xilokain 1-2 mg/kg BB.
Jika Asistol berikan vasopresor kaliumklorida 10% 3-5 cc selama 3
menit.
Petugas IGD mencatat hasil kegiatan dalam buku catatan pasien.
Pasien yang tidak dapat ditangani di IGD akan di rujuk ke Rumah Sakit
yang mempunyai fasilitas lebih lengkap.
Pasien yang mendadak kolaps ditangani melalui 5 tahap, yaitu:
1. Respons awal
2. Penanganan untuk dukungan kehidupan dasar (basic life support)
3. Penanganan dukungan kehidupan lanjutan (advanced life support)
4. Asuhan pasca resusitasi
5. Penatalaksanaan jangka panjang

Respons awal dan dukungan kehidupan dasar dapat diberikan oleh
dokter, perawat, personil paramedic, dan orang yang terlatih. Terdapat
keperluan untuk meningkatkan keterampilan saat pasien berlanjut melalui
tingkat dukungan kehidupan lanjut, asuhan pascaresusitasi, dan
penatalaksanaan jangka panjang.
1. Respons Awal
Respons awal akan memastikan apakah suatu kolaps mendadak benar-
benar disebabkan oleh henti jantung. Observasi gerakan respirasi, warna
kulit, dan ada tidaknya denyut nadi pada pembuluh darah karotis atau arteri
femoralis dapat menentukan dengan segera apakah telah terjadi serangan
henti jantung yang dapat membawa kematian. Gerakan respirasi agonal
dapat menetap dalam waktu yang singkat setelah henti jantung, tetapi yang
penting untuk diobservasi adalah stridor yang berat dengan nadi persisten
sebagai petunjuk adanya aspirasi benda asing atau makanan. Jika keadaan
ini dicurigai, maneuver Heimlich yang cepat dapat mengeluarkan benda
yang menyumbat. Pukulan di daerah prekordial yang dilakukan secara kuat
dengan tangan terkepal erat pada sambungan antara bagian sternum
sepertiga tengah dan sepertiga bawah kadang-kadang dapat memulihkan
takikardia atau fibrilasi ventrikel, tetapi tindakan ini juga dikhawatirkan
dapat mengubah takikardia ventrikel menjadi fibrilasi ventrikel. Karena itu,
telah dianjurkan untuk menggunakan pukulan prekordial hanya pada pasien
yang dimonitor; rekomendasi ini masih controversial. Tindakan ke tiga
selama respons inisial adalah membersihkan saluran nafas. Gigi palsu atau
benda asing yang di dalam mulut dikeluarkan, dan maneuver Heimlich
dilakukan jika terdapat indikasi mencurigakan adanya benda asing yang
terjepit di daerah orofaring. Jika terdapat kecurigaan akan adanya henti
respirasi (respiratory arrest) yang mendahului serangan henti jantung,
pukulan prekordial kedua dapat dilakukan setelah saluran napas dibersihkan.
2. Tindakan Dukungan Kehidupan Dasar (Basic Life Support)
Tindakan ini yang lebih popular dengan istilah resusitasi
kardiopulmoner (RKP;CPR;Cardiopulmonary Resuscitation) merupakan
dukungan kehidupan dasar yang bertujuan untuk mempertahankan perfusi
organ sampai tindakan intervensi yang definitive dapat dilaksanakan. Unsur-
unsur dalam tindakan RKP terdiri atas tindakan untuk menghasilkan serta
mempertahankan fungsi ventilasi paru dan tindakan kompresi dada.
Respirasi mulut ke mulut dapat dilakukan bila tidak tersedia perlengkapan
penyelamat yang khusus misalnya pipa napas orofaring yang terbuat dari
plastic, obturator esophagus, ambu bag dengan masker.
Langkah-langkah penting yang harus diperhatikan dalam resusitasi
kardiopulmoner :
Pastikan bahwa saluran nafas korban dalam keadaan lapang/ terbuka.
Mulailah resusitasi respirasi dengan segera.
Raba denyut nadi karotis di dalam lekukan sepanjang jakun (Adams
apple) atau kartilago tiroid.
Jika denyut nadi tidak teraba, mulai lakukan pijat jantung (Isselbacher:
228)
Langkah-Langkah Bantuan Hidup dasar :
1. Berikan ventilasi dengan 2 kali tiupan efektif
2. Lakukan tindakan Pijat jantung Luar pada pertengahan Sternum dengan
kedalaman 4-5 cm sebanyak 30 kompresi setiap siklus (dilakukan dengan
1 atau 2 orang penolong) dan dilakukan selama 4 siklus (kurang lebih 1
menit menjadi 100 kompresi) 2 kali ventilasi setiap siklusnya dan
pastikan saat memberikan ventilasi posisi kepala dalam keadaan Head
Til-Chin Lift.
3. Cek kembali denyut nadi karotis
4. Bila ada DC shock atau AED, bisa diberikan kejut jantung sebanyak 200
Joule (pada VT/VF)
5. Untuk Henti jantung, pertimbangkan pemberian model Cardiac Tumb.

Langkah Sebelum Memulai Resusitasi Jantung Paru (RJP)
1. Penentuan Tingkat Kesadaran ( Respon Korban )
Dilakukan dengan menggoyangkan korban. Bila korban menjawab,
maka ABC dalam keadaan baik. Dan bila tidak ada respon, maka perlu
ditindaki segera.
2. Memanggil bantuan (call for help)
Bila petugas hanya seorang diri, jangan memulai RJP sebelum
memanggil bantuan.
3. Posisikan Korban
Korban harus dalam keadaan terlentang pada dasar yang keras
(lantai, long board). Bila dalam keadaan telungkup, korban dibalikkan.
Bila dalam keadaan trauma, pembalikan dilakukan dengan Log Roll
4. Posisi Penolong
Korban di lantai, penolong berlutut di sisi kanan korban.
5. Pemeriksaan Pernafasan
Lakukan RJP dengan mengingat singkatan C-A-B
C-A-B adalah kependekan dari Chest Compression (tekanan
pada dada) Airway (pembebasan jalan nafas) Breathing
(meniupkan bantuan nafas buatan)
Rekomendasi ini dibuat oleh American Heart Association tahun
2010 berdasarkan beberapa penelitian mutakhir yang menunjukkan
bahwa prioritas terhadap kompresi dada yang lebih cepat dan lebih kuat
mampu menyelamatkan lebih banyak nyawa, tanpa menunda terlalu lama
pemberian nafas buatan.
Yang pertama harus selalu dipastikan adalah airway dalam keadaan
baik.
a. Tidak terlihat gerakan otot napas
b. Tidak ada aliran udara via hidung
Dapat dilakukan dengan menggunakan teknik lihat, dengar dan
rasa, bila korban bernapas, korban tidak memerlukan RJP.

6. Pemeriksaan Sirkulasi
a. Pada orang dewasa tidak ada denyut nadi carotis
b. Pada bayi dan anak kecil tidak ada denyut nadi brachialis
c. Tidak ada tanda-tanda sirkulasi
d. Bila ada pulsasi dan korban pernapas, napas buatan dapat dihentikan.
Tetapi bila ada pulsasi dan korban tidak bernapas, napas buatan
diteruskan. Dan bila tidak ada pulsasi, dilakukan RJP.
Lanjutkan tindakan RJP sampai :
1. Bila ada respon atau pasien menjadi sadar kembali
2. Penderita dinyatakan meninggal dunia (pupil dilatasi dan refleks cahaya
negatif)
3. Penolong kelelahan dan tidak ada penolong lain
4. Sudah ada penolong lain yang lebih berkompeten
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam melakukan tindakan RJP
1. RJP jangan berhenti lebih dari 5 detik dengan alasan apapun
2. Jangan menekan pada daerah Prosesus xifoideus karena dapat berakibat
robeknya hati
3. Diantara tiap kompresi, tangan harus melepas tekanan tetapi tetap
melekat pada sternum, jari-jari jangan menekan iga korban
4. Hindari gerakan yang menyentak. Kompresi harus lembut, teratur dan
tidak terputus
5. Perhatikan komplikasi yang mungkin terjadi karena RJP
Dalam AHA Guidelines For CPR and ECC, 2010 review 07
Desember 2011, langkah penanganan pada pasien Cardiac arrest adalah :
Pengenalan dini dari Sudden cardiac Arrest berdasarkan pengkajian
terhadap ketidak-sadaran (un-responsiveness) dan tidak adanya nafas
normal (tidak bernafas atau hanya Gasping/agonal).
Teknik Look, Listen, Feel atau Lihat, Dengar, Rasakan untuk mengkaji
Breathing korban, pada Guidliness CPR menurut AHA tahun 2010 ini
di tiadakan. Check nafas dilakuakan pada saat pengenalan dini keadaan
emergency (terutama cardiac) satu paket dengan pengkajian kesadaran
(responsiveness / un-responsiveness )
Di dorong / dianjurkan untuk hanya melakukan Hand Only CPR (hanya
melakukan penekanan dada saja, tanpa memberikan tiupan dua kali)
bagi penolong awam yang tidak terlatih.
Perubahan sequence atau urutan langkah-langkah CPR. Kalau di
Guidelines tahun 2005 atau yang sebelumnya kita mengenal urutan
ABC (Airway, Breathing, Circulation), maka di Guidelines AHA tahun
2010 ini menjadi CAB (Circulation, Airway, Breathing), jadi setelah
call for help dan di pastikan kondisi aman untuk menolong, lalu check
response korban termasuk mengkaji ada / tidak adanya nafas secara
visual tanpa tehnik LLF. Kalau ternyata korban tidak sadar dan tidak
bernafas atau bernafas tapi Cuma gasping (nafas abnormal), langsung
ke C, yang artinya kalau untuk orang awam langsung lakukan kompresi
atau untuk Health Care provider (Paramedic, Nurse, Dokter) check nadi
karotis dulu dengan tidak lebih dari sepuluh detik. Kalau selama itu
nadi tidak terasa atau tidak yakin, jangan buang waktu, segera lakukan
kompresi tiga puluh kali di ikuti dengan dua tiupan yang mana durasi
tiap tiupan tidak lebih dari satu detik, bagi yang tidak terlatih bisa hanya
melakukan kompresi saja tanpa di ikuti dengan tiupan atau di sebut
dengan Hand Only CPR seperti yang sudah di jelaskan pada point
diatas.
Seperti halnya Guidelines tahun 2005, guidelines 2010 ini pun
menekankan pada focus untuk melakukan High Quality CPR, yang
mana hal itu bisa tercapai bila kita bisa melakukan High Quality
Compression. Adapun factor-faktor yang mempengaruhi kualitas
kompresi adalah Rate (kecepatan), depth (kedalaman), dada re-coil
sempurna antara kompresi, minimal intrupsi pada saat melakukan
kompresi dan menghindari pemberian ventilasi (tiupan) yang
berlebihan.
Pada guidelines 2005, term yang di gunakan untuk menggambarkan
rate atau kecepatan dari kompresi adalah approximately 100 x/menit,
yang artinya kecepatan kompresi kurang lebih seratus kali per menit
(kurang atau lebih dikit boleh lah-red). sedangkan untuk Guidelines
2010 ini di gunakan term at least 100 x/m, yang artinnya kecepatan
kompresi yang baik pada saat CPR tidak boleh kurang dari seratus kali
per menit.
Pada guidelines 2005, kedalaman kompresi pada orang dewasa adalah
1.5- 2 inches (4-5 cm). tahun 2010 ini di tetapkan bahwa kedalaman
kompresi untuk orang dewasa adalah 2 inches (5 cm), anak-anak juga 2
inches dan 1.5 inches untuk infant
Untuk penggunaan AED, di guidelines terbaru ini tidak ada perbedaan
dengan Guidelines tahun 2005
3. Tindakan Dukungan Kehidupan Lanjut (Advance Life Support)
Tindakan ini bertujuan untuk menghasilkan respirasi yang adekuat,
mengendalikan aritmia jantung, menyetabilkan status hemodinamika
(tekanan darah serta curah jantung) dan memulihkan perfusi organ.
Aktivitas yang dilakukan untuk mencapai tujuan ini mencakup:
a. Tindakan intubasi dengan endotracheal tube
b. Defibrilasi/ kardioversi, dan/atau pemasangan pacu jantung
c. Pemasangan lini infuse.
Ventilasi dengan O2 atau udara ruangan bila O2 tidak tersedia dengan
segera, dapat memulihkan keadaan hipoksemia dan asidosis dengan segera.
Kecepatan melakukan defibrilasi atau kardioversi merupakan elemen
penting untuk resusitasi yang berhasil. Kalau mungkin, tindakan defibrilasi
harus segera dilakukan sebelum intubasi dan pemasangna selang infuse.
Resusitasi kardiopulmoner harus dikerjakan sementara alat defibrillator diisi
muatan arusnya. Segera setelah diagnosis takikardia atau fibrilasi ventrikel
ditentukan, kejutan listrik sebesar 200-J harus diberikan. Kejutan tambahan
dengan kekuatan yang lebih tinggi hingga maksimal 360-J, dapat dicoba bila
kejutan pertama tidak berhasil menghilangkan takikardia atau fibrilasi
ventrikel. Jika pasien masih belum sadar sepenuhnya setelah dilakukan
reversi, atau bila 2 atau 3 kali percobaan tidak membawa hasil, maka
tindakan intubasi segera, ventilasi dan analisis gas darah arterial harus
segera dilakukan. Pemberian larutan NaHCO3 intravena yang sebelumnya
diberikan dalam jumlah besar kini tidak dianggap lagi sebagai keharusan
yang rutin dan bisa berbahaya bila diberikan dalam jumlah yang lebih besar.
Namun, pasien yang tetap mengalami asidosis setalah defibrilasi dan
intubasi yang berhasil harus diberikan 1 mmol/kg NaHCO3 pada awalnya
dan tambahan 50% dosis diulangi setiap 10-15 menit.
Setelah upaya defibrilasi pendahuluan tanpa mempedulikan apakah
upaya ini berhasil atau tidak, preparat bolus 1mg/kg lidokain diberikan
intravena dan pemberian ini diulang dalam waktu 2 menit pada pasien-
pasien yang memperlihatkan aritmia ventrikel yang persisten atau tetap
menunjukkan fibrilasi ventrikel. Penyuntikan lidokain ini diikuti oleh infuse
lidokain dengan takaran 1-4 mg/menit. Jika lidokain tidak berhasil
mengendalikan keadaan tersebut, pemberian intravena prokainamid (dosis
awal 100mg/5 menit hingga tercapai dosis total 500-800mg, diikuti dengan
pemberian lewat infuse yang kontinyu dengan dosis 2-5mg/menit). Atau
bretilium tosilat (dosis awal 5-10mg/kg dalam waktu 5 menit; dosis
pemeliharaan (maintanance) 0,5-2 mg/menit), dapat dicoba. Untuk
mengatasi fibrilasi ventrikel yang per sisten, preparat epinefrin (0,5-1,0 mg)
dapat diberikan intravena setiap 5 menit sekali selama resusitasi dengan
upaya defibrilasi pada saat-saat diantara setiap pemberian preparat tersebut.
Obat tersebut dapat diberikan secara intrakardial jika cara pemberian
intravena tidak dapat dilakukan. Pemberian kalsium glukonat intravena
tidak lagi dianggap aman atau perlu untuk pemakaian yang rutin. Obat ini
yang hanya digunakan pada pasien dengan hiperkalemia akut dianggap
sebagai pencetus VF resisten, pada keadaan adanya hipokalsemia yang
diketahui, atau pada pasien yang menerima dosis toksik antagonis hemat
kalsium.
Henti jantung yang terjadi sekunder akibat bradiaritmia atau asistol
ditangani dengan cara yang berbeda. Setelah diketahui jenis aritmianya,
terapi syok dari luar tidak memiliki peranan. Pasien harus segera diintubasi,
resusitasi kardiopulmoner diteruskan dan harus diupayakan untuk
mengendalikan keadaan hipoksemia serta asidosis. Epinefrin dan atau
atropine diberikan intravena atau dengan penyuntikan intrakardial.
Pemasangan alat pacing eksternal kini sudah dapat dilakukan untuk
mencoba menghasilkan irama jantung yang teratur, tetapi prognosis pasien
pada bentuk henti jantung ini umumnya sangat buruk. Satu pengecualian
adalah henti jantung asistolik atau bradiaritmia sekunder terhadap obstruksi
jalan napas. Bentuk henti jantung ini dapat memberikan respons cepat untuk
pengambilan benda asing dengan maneuver Heimlich atau, pada pasien
yang dirawat di rumah sakit. Dengan intubasi dan penyedotan sekresi yang
menyumbat di jalan napas.
4. Perawatan Pasca Resusitasi
Fase penatalaksanaan ini ditentukan oleh situasi klinis saat
terjadinya henti jantung. Fibrilasi ventrikel primer pada infark miokard akut
umumnya sangat responsive terhadap teknik-teknik dukungan kehidupan
(life support) dan mudah dikendalikan setelah kejadian permulaan.
Pemberian infuse lidokain dipertahankan dengan dosis 2-4 mg/menit selama
24-72 jam setelah serangan. Dalam perawatan rumah sakit, bantuan
respirator biasanya tidak perlu atau diperlukan hanya untuk waktu yang
singkat dan stabilisasi hemodinamik yang terjadi dengan cepat setelah
defibrilasi atau kardioversi. Dalam fibrilasi ventrikel sekunder pada IMA
(kejadian dengan abnormalitas hemodinamika menjadi predisposisi untuk
terjadinya aritmia yang dapat membawa kematian), upaya resusitasi kurang
begitu berhasil dan pada pasien yang berhasil diresusitasi, angka
rekurensinya cukup tinggi. Gambaran klinis didominasi oleh ketidak
stabilan hemodinamik. Dalam kenyataan, hasil akhir lebih ditentukan oleh
kemampuan untuk mengontrol gangguan hemodiunamik dibandingkan
dengan gangguan elektrofisiologi. Disosiasi elektromekanis, asitol dan
bradiaritmia merupakan peristiwa sekunder yang umum pada pasien yang
secara hemodinamis tidak stabil dan kurang responsive terhadap intervensi.
Hasil akhir (outcome) setelah serangan henti jantung di rumah sakit
yang menyertai penyakit nonkardiak adalah buruk, dan pada beberapa
pasien yang berhasil diresusitasi, perjalanan pasca resusitasi didominasi oleh
sifat penyakit yang mendasari serangan henti jantung tersebut. Pasien
dengan kanker, gagal ginjal, penyakit system saraf pusat akut dan infeksi
terkontrol, sebagai suatu kelompok, mempunyai angka kelangsungan hidup
kurang dari 10 persen setelah henti jantung di rumah sakit. Beberapa
pengecualian utama terhadap hasil akhir henti jantung yang buruk akibat
penyebab bukan jantung adalah pasien dengan obstruksi jalan nafas
transien, gangguan elektrolit, efek proaritmia obat-obatan dan gangguan
metabolic yang berat, kebanyakan mereka yang mempunyai harapan hidup
baik jika mereka mendapat resusitasi dengan cepat dan dipertahankan
sementara gangguan transien dikoreksi.
5. Penatalaksanaan Jangka Panjang
Bentuk perawatan ini dikembangkan menjadi daerah utama
aktivitas spesialisasi klinis karena perkembangan system penyelamatan
emergency berdasar-komunitas. Pasien yang tidak menderita kerusakan
system saraf pusat yang ireversibel dan yang mencapai stabilitas
hemodinamik harus dilakukan tes diagnostik dan terapeutik yang ekstensif
untuk tuntutan penatalaksanaan jangka panjang. Pendekatan agresif ini
dilakukan atas dasar dorongan fakta bahwa data statistik dari tahun 1970
mengindikasikan kelangsungan hidup setelah henti jantung di luar rumah
sakit diikuti oleh angka henti jantung rekuren 30 persen pada 1 tahun, 45
persen pada 2 tahundan angka mortalitas total hampir 60 persen pada 2
tahun. Perbandingan historis mendukung bahwa statistik buruk ini dapat
diperbaiki dengan intervensi yang baru. Tetapi seberapa besar perbaikannya
idak diketahui karena kurangnya uji intervensi bersamaan yang terkendali.
Diantara pasien ini dengan penyebab henti jantung di luar rumah sakit
adalah MI akut dan transmural, penatalaksanaan sama dengan semua pasien
lain yang menderita henti jantung selama fase akut MI yang nyata. Untuk
hampir semua kategori pasien, bagaimanapun, uji diagnostic ekstensif
dilakukan menentukan etiologi, gangguan fungsional dan ketidakstabilan
elektrofisiologik sebagai penuntun penatalaksanaan selanjutnya. Secara
umum, pasien yang mempunyai henti jantung di luar rumah sakit akibat
penyakit jantung iskemik kronik, tanpa MI akut, dievaluasi untuk
menetukan apakah iskemia transien atau ketidakstabilan elektrofisologik
merupakan penyebab yang lebih mungkin dari peristiwa ini. Jika terdapat
alas an untuk mencurigai suatu mekanisme iskemik, pembedahan anti-
iskemik atau Intervensi medis (seperti angiografi, obat) digunakan untuk
mengurangi beban iskemik. Ketidakstabilan elektrofisiologik paling baik
diidentifikasi dengan menggunakan stimulasi elektris terprogram untuk
menentukan apakah VT atau VF tertahan dapat diinduksi pada pasien. Jika
ya, informasi ini dapat digunakan sebagai data dasar untuk mengevaluasi
efektifitas obat untuk pencegahan kekambuhan. Informasi ini juga dapat
digunakan untuk menentukan kecocokan untuk pembedahan antiaritmik
dengan tuntunan peta. Menggunakan teknik ini untuk menegakkan terapi
obat pada pasien dengan fraksi ejeksi 30 persen atau lebih, angka henti
jantung rekuren adalah kurang dari 10 persen selama tahun pertama tindak
lanjut. Hasil akhir tidak sebaik untuk pasien fraksi dengan fraksi ejeksi
dibawah 30 persen, tetapi tetap lebih baik dibandingkan riwayat alami yang
tampak dari kelangsungan hidup setelah henti jantung. Untuk pasien yang
keberhasilan dengan terapi obat tidak dapat diidentifikasi dengan teknik ini,
pengobatan empirik dengan amiodaron, penanaman
defibrillator/kardioverter (ICD, implantable cardioverter/defibrillator) dalam
tubuh, atau pembedahan antiaritmia (seperti bedah pintas koroner,
aneurismektomi, kriobliasi), dapat dianggap sebagai pilihan. Sukses
pembedahan primer, diartikan sebagai mempertahankan hidup prosedur dan
kembali pada keadaan yang tak dapat diinduksi tanpa terapi obat, adalah
lebih baik dari 90 persen bila pasien dipilih untuk kemampuan dipetakan
dalam ruang operasi. Terapi ICD juga dikembangkan menjadi sistem yang
lebih menarik, termasuk kemampuan untuk memacu lebih baik
dibandingkan mengejutkan (shock out) beberapa aritmia pada pasien
terpilih. Susunan Intervensi tersedia untuk pasien ini, digunakan dengan
pantas, menunjukkan perbaikan perbaikan yang berlanjut pada hasil akhir
jangka panjang.


DAFTAR PUSTAKA

Mustafa I, dkk. 1996. Bantuan Hidup Dasar. RS Jantung Harapan Kita. Jakarta.
Sunatrio S, dkk. 1989. Resusitasi Jantung Paru. dalam Anesteiologi. Editor
Muhardi
Muhiman, dkk, Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI.
Sjamsuhidajat R, Jong Wd. 1997. Resusitasi. Hal : 124-129. dalam Buku Ajar
Ilmu
Bedah. Edisi Revisi. EGC. Jakarta.
PPGD basic I, Perhimpunan Kedokteran Gawat Darurat Indonesia, 2011
PPGD basic I, Instalasi Gawat Darurat RSUP DR. Hasan Sadikin, Bandung
Ulfah AR,. Advance Cardiac Life Sipport, Pusat Jantung Nasional Harapan Kita.
Jakarta. 2003
AHA Guidelines For CPR and ECC, 2010