Anda di halaman 1dari 29

1

PROPOSAL SKRIPSI

A. JUDUL

Efektivitas Model Pembelajaran Berbasis Chemo-entrepreneurship (CEP)


Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Mahasiswa IAIN Walisongo Tadris Kimia
Semester VII Pada Materi Praktikum Zat Adiktif

B. LATAR BELAKANG MASALAH

Belajar pada dasarnya adalah mengalami suatu proses. Belajar adalah


berbuat, bereaksi, mengalami, menghayati. Pengalaman berarti menghayati
situasi-situasi yang sebenarnya dan bereaksi dengan sungguh-sungguh terhadap
berbagai aspek situasi itu demi tujuan-tujuan yang nyata bagi pembelajaran.
Pengalaman mempunyai dua aspek, seseorang menerima stimulus dari luar dan
sebaliknya individu itu bereaksi terhadap perangsang itu, yakni mengamati,
memikir, mengolahnya dan menentukan sikap dan kelakuan terhadap pengaruh
dari lingkungan.1 Keadaan ini sebagai suatu stimulus-respons.

Keberhasilan pembelajaran dipengaruhi banyak faktor. Pengajar, peserta


didik dan kegiatan pembelajaran adalah tiga faktor yang memiliki peran
penting. Pengajar sebagai subyek pembelajaran memiliki tugas dan tanggung
jawab atas inisiatif dan pengarah pembelajaran. Peserta didik sebagai obyek,
dituntut kesediaan dan kesiapannya untuk terlibat langsung secara aktif.
Pembelajaran akan berlangsung dinamis jika terjadi keterpaduan harmonis dan
bersifat komplementer antara aktifitas pengajar dan peserta didik. Keberhasilan
tersebut ditunjukkan dengan adanya perubahan pada diri peserta didik sesuai
tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Begitu besarnya pengaruh kegiatan
1
Prof. Dr. S. Nasution, M.A, Didaktik Asas-Asas Mengajar, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), Ed.2, hlm.
99
2

pembelajaran yang baik dan memperhatikan strategi, pendekatan dan metode


pembelajaran yang sesuai dalam pelaksanaannya.

Pendidikan kimia pada Program Studi Matematika dan Ilmu


Pengetahuan Alam (MIPA) jurusan Tadris IAIN Walisongo mengemban tugas
untuk menghasilkan lulusan sarjana pendidikan kimia yang berkualitas.
Keberadaan Program pendidikan Kimia yang relatif baru tentu saja merupakan
kendala tersendiri dalam memperoleh mahasiswa dengan jumlah besar dan
berkualitas tinggi.

Berdasarkan nilai rata-rata hasil studi mahasiswa pendidikan kimia mata


kuliah Praktikum Kimia Bahan Makanan semester gasal tahun 2007/2008,
yaitu 2,73. Hal ini menjadi kendala tersendiri bagi dan pengampu untuk bisa
meningkatkan hasil belajar mahasiswa. Kondisi laboratorium kimia Tadris
Kimia yang cukup memadai dan representatif sebagai sarana pembelajaran
adalah suatu tantangan tersendiri bagi pengajar untuk memanfaatkan
seoptimal mungkin melalui pengembangan pembelajaran bertujuan
meningkatkan hasil belajar mahasiswa Pendidikan Kimia khususnya dan
memperbaiki lulusan IAIN Walisongo pada umumnya.2

Berbagai pendekatan pembelajaran dikembangkan untuk meningkatkan


kualitas pembelajaran. Pendekatan Chemo-entrepreneurship (CEP)
menekankan pada kegiatan pembelajaran yang dikaitkan pada obyek nyata
sehingga selain mendidik, pendekatan ini memungkinkan mahasiswa dapat
mempelajari proses pengolahan suatu bahan menjadi produk yang bermanfaat
dan bernilai ekonomi.3 Permasalahannya adalah seberapa besar efektif
pendekatan pembelajaran CEP jika diimplementasikan pada materi zat adiktif
untuk praktikum kimia bahan makanan. Pengelompokan dalam suatu kegiatan
2
Tim Evaluasi diri Tadris Kimia, Borang Kimia, (Semarang: IAIN Walisongo, 2008)
3
Titi Wahyukaeni, Pembelajaran dengan Pendekatan “CHEMO_ENTREPRENEURSHIP” Sebagai
Strategi Peningkatan Kemampuan Mata Kuliah Kimia Organik I, (Semarang: Seminar Nasional dan
Pendidikan Kimia, 2006), hlm. 111
3

praktikum tanpa melalui pendekatan yang tepat tidak akan mendorong


mahasiswa terlibat secara aktif. Eksplorasi aspek afektif mahasiswa dalam
masalah dan eksplorasi aspek kognitif mahasiswa berupa pemahaman atas
materi, sulit untuk dipantau karena perlu dikembangkan pembelajaran dengan
model pengelompokan khusus yang mampu membuat mahasiswa secara aktif
tidak hanya di kelompok tapi juga di dalam kelas.

C. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka


dirumuskan permasalahannya yaitu:

Seberapa efektif pengaruh pembelajaran materi zat aditif praktikum kimia


bahan makanan menggunakan pendekatan berbasis Chemo-Entrepreneurship
(CEP) terhadap hasil belajar mahasiswa?

D. PENEGASAN ISTILAH

Untuk menghindari terjadinya kesalahpahaman dalam memahami judul,


perlu diperjelas terlebih dahulu pengertian beberapa istilah yang tercantum
dalam judul, sehingga dapat diketahui arti dan makna yang dimaksud.

1. Efektivitas

Efektivitas berarti “ menunjukkan taraf tercapainya suatu tujuan, suatu


usaha dikatakan efektif kalau usaha itu mencapai tujuan.4

Efektifias pada penelitian ini dimaksudkan bahwa suatu usaha untuk


meningkatkan hasil belajar mahasiswa melalui pendekatan CEP.
4
Hasan Shadily, Ensiklopedi, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve,t.th), hlm. 883
4

2. Pendekatan Chemo-Entrepreneurship

Konsep pembelajaran CEP adalah suatu pendekatan pembelajaran kimia


yang kontekstual, yaitu pendekatan pembelajaran yang dikaitkan dengan
obyek nyata sehingga selain mendidik, pendekatan ini memungkinkan
peserta didik dapat mempelajari proses pengolahan suatu bahan menjadi
produk yang bermanfaat, bernilai ekonomi, dan dapat menumbuhkan jiwa
kewirausahaan.5

3. Hasil Belajar

Belajar merupakan sarana untuk mendapatkan pengetahuan. Para ilmuwan


banyak mendefinisikan arti kata belajar itu sendiri. Menurut James O.
Whittaker, belajar dapat didefinisikan sebagai proses dimana tingkah laku
ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman.

Howard L. Kinsley mendefisikan belajar sebagai proses dimana telah


(dalam artian luas) ditimbulkan atau diubah melalui praktek atau latihan.6

Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pebelajar


setelah mengalami aktivitas belajar.7

4. Praktikum Kimia Bahan Makanan

Pembelajaran praktikum kimia bahan makanan bertujuan memberikan


keterampilan dasar pada mahasiswa mengenai reaksi-reaksi kimia yang
dapat terjadi, kandungan dan sifat-sifat bahan pangan meliputi: air, lipida,
protein, karbohidrat, mineral, warna, bau, rasa, vitamin, enzim, dan zat

5
Supartono, Chemo-Entrepreneurship (CEP) Sebagai Pendekatan Pembelajaran Kimia Yang Inovatif
dan Kreatif, (Semarang: Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, 2005),
hlm. 68
6
Drs. Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan, (Malang: PT Rineka Cipta, 1990), hlm. 98
7
Chatarina.T. Anni, Psikologi Belajar, (Semarang: UPT MKK UNNES, 2004), hlm. 4
5

aditif, faktor penyebab kerusakan bahan makanan, dan pengawetan bahan


makanan.8

5. Zat Aditif dalam Makanan

Secara alamiah, zat aditif makanan dididefinisikan sebagai bahan yang


ditambahkan dan dan dicampurkan sewaktu pengolahan makanan untuk
meningkatkan mutu, zat aditif makanan diantaranya pewarna, penyedap,
pengawet, pemantap, antioksidan, pengemulsi, pengumpal, pemucat,
pengental, dan anti gumpal.9

E. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan penelitian ini adalah:

1. Mengetahui hasil belajar aspek kognitif mahasiswa setelah


diimplementasikan pembelajaran berbasis CEP.

2. Mengetahui hasil belajar aspek psikomotor mahasiswa setelah


diimplementasikan pada pembelajaran CEP yang dikembangkan.

3. Mengetahui hasil belajar aspek afektif mahasiswa setelah diimplementasikan


pembelajaran berbasis CEP.

4. Mengetahui efektifitas pembelajaran materi zat adiktif praktikum kimia


bahan makanan menggunakan pendekatan berbasis CEP yang
dikembangkan.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat:

8
Suwahono, Petunjuk Praktikum Kimia Bahan Makanan, (Semarang: Laboratorium Pendidikan Kimia
Jurusan Tadris Fak Tarbiyah IAIN Walisongo, 2007),hlm.1
9
A. S. Yandri, Zat Aditif, Makalah Seminar Kimia X 2006 Jurusan Kimia FMIPA, (Lampung:
Universitas Lampung,2006), hlm. 2
6

1. Lahirnya suatu konsep pembrlajaran melalui model pembelajaran aktif, yang


mendorong mahasiswa untuk mengoptimalkan aspek kognitif, maupun
psikomotor khususnya pada pembelajaran kimia bahan makanan.

2. Bagi pengajar, diperoleh suatu model pembelajaran yang melibatkan peserta


didik secara aktif dalam pengajaran praktikum.

3. Bagi pengembangan kurikulum, diperoleh ketepatan implementasi


pembelajaran sesuai tuntutan kurikulum berbasis kompetensi.

4. Bagi lembaga, khususnya JurusanTadris Program Studi Pendidikan Kimia


Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo memiliki model pembelajaran yang
mampu mengoptimalkan sarana pembelajaran secara optimal.

F. KAJIAN TEORETIS

1. Hakekat Belajar

a. Belajar

Belajar adalah proses yang melahirkan atau mengubah suatu kegiatan


melalui jalan latihan (Apakah dalam laboratorium atau dalam
lingkungan alamiah) yang dibedakan dari perubahan-perubahan oleh
faktor-faktor yang tidak termasuk latihan.10

Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada diri
setiap orang sepanjang hidupnya. Proses belajar itu terjadi karena adanya
interaksi antara seseorang dengan lingkungannya. Oleh karena itu, belajar
dapat terjadi kapan saja dan di mana saja. Salah satu pertanda bahwa
10
Prof. Dr. S. Nasution, op. cit, hlm. 35
7

seseorang itu telah belajar adalah adanya perubahan tingkah laku pada diri
orang itu yang mungkin disebabkan oleh terjadinya perubahan pada tingkat
pengetahuan, keterampilan, atau sikapnya.

Proses belajar yang diselenggarakan secara normal di sekolah-


sekolah dimaksudkan untuk mengarahkan perubahan pada diri peserta
didik secara terencana, baik dalam saspek pengetahuan, keterampilan
maupun sikap. Interaksi yang terjadi selama proses belajar tersebut
dipengaruhi oleh lingkungannya, yang antara lain terdiri atas peserta didik,
guru, petugas perpustakaan, kepala sekolah, bahan dan materi pelajaran
(buku, modul, selebaran, majalah, dan sejenisnya), dan berbagai sumber
belajar dan fasilitas (proyektor overhead, perekam pita audio, dan video,
radio, televisi, computer, perpustakaan, labororium, pusat sumber belajar,
dan lain-lain).

Perolehan pengetahuan dan keterampilan, perubahan-perubahan


sikap dan perilaku dapat terjadi karena interaksi antara pengalaman baru
dengan pengalaman yang pernah dialami sebelumnya.11

Pendidikan merupakan perpaduan aktifitas mengajar dan aktifitas


belajar. Aktifitas mengajar dan belajar adalah inti proses pengajaran.
Pengajaran melibatkan banyak komponen yang saling bergantung mulai
perencanaan, pengelolaan, interaksi pengajaran, pemberdayaan sumber
belajar sampai penilaian pengajaran. Pelaksanaan pembelajaran
memerlukan perencanaan pengajaran yang ditulis dalam satuan acara
perkuliahan. Realisasi perencanaan pembelajaran disebut strategi
pembelajaran yang berupa prosedur atau langkah pengajaran dalm
melaksanakan rencana tersebut.

11
Prof. Dr. Azhar Arsyad, M. A, Media Pembelajaran, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005), Cet.
VI, hlm. 2
8

Dalam belajar, banyak sekali faktor yang mempengaruhinya. Dari


sekian banyak faktor yang mempengaruhi belajar, dapat digolongkan
menjadi tiga macam, yaitu:

a. Faktor-faktor stimuli belajar.

b. Faktor-faktor metode belajar.

c. Faktor-faktor individual.12

Metode pembelajaran adalah suatu kerangka konseptual yang


prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar
untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman
bagi perancang dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan
aktivitas belajar mengajar. Pembelajaran yang selama ini biasa diterapkan
menggunakan metode ekspositori dengan menanut persepsi lama yang
menganggap bahwa dosen sebagai sumber informasi dan pikiran peserta
didik sebagai kertas kosong yang putih bersih dan siap menunggu coretan-
coretan berupa pengetahuan dari dosennya. Sudah merupakan tugas dosen
untuk mengajar dan menyodori mahasiswa dengan muatan-muatan
informasi dan pengetahuan. Dosen menerangkan, mahasiswa
mendengarkan, mencatat dan mengerjakan latihan soal. Pembelajaran
seperti ini membuat mahasiswa pasif dan kurang terlibat dalam
pembelajaran yang dapat menimbulkan kejenuhan dan kurangnya
pemahaman konsep, sehingga mahasiswa kurang termotivasi untuk belajar
dan mengakibatkan rendahnya hasil belajar mahasiswa.

b. Hasil belajar

12
Drs. Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan, (Malang: Rineka Cipta, 1990), hlm. 108
9

Menurut Nana Sudjana hasil belajar adalah kemampuan yang


dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajar.13 Sedangkan
menurut Nana Syaodih Sukmadinata hasil belajar atau achievement
merupakan realisasi atau pemekaran dari kecakapan-kecakapan atau
kapasitas yang dimiliki seseorang.14

2. Pembelajaran Berbasis Chemo-Entrepreneurship

Konsep pembelajaran CEP adalah suatu pendekatan pembelajaran


kimia yang kontekstual, yaitu: pendekatan pembelajaran yang dikaitkan
dengan obyek nyata sehingga selain mendidik, pendekatan CEP ini
memungkinkan peserta didik dapat mempelajari proses pengolahan suatu
bahan menjadi produk yang bermanfaat, bernilai ekonomi, dan dapat
menumbuhkan jiwa kewirausahaan.15

Peter F. Drucker mengatakan bahwa kewirausahaan


(entrepreneurship) merupakan kemampuan dalam menciptakan sesuatu
yang baru dan berbeda. Pengertian ini mengandung maksud bahwa orang
yang memiliki kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru, berbeda
dari yang lain. Atau mampu menciptakan sesuatu yang berbeda dengan
yang sudah ada sebelumnya.16

3. Tinjauan Materi

a. Praktikum Kimia Bahan Makanan

13
Nana Sudjana, Penelitian Hasil Belajar Mengajar, (Bandung: Remaja Rosda Karya,2002), hlm. 22
14
Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi proses Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosda
Karya,2003), hlm.103
15
Supartono, Chemo-Entrepreneurship (CEP) Sebagai Pendekatan Pembelajaran Kimia Yang
Inovatif dan Kreatif, (Semarang: Prosidang Seminar Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam, 2005), hlm. 68
16
Kasmir, Kewirausahaan, (Jakarta: PT Raja Grafindo, 2006),Ed. I, hlm. 17
10

Pembelajaran praktikum kimia bahan makanan bertujuan


memberikan keterampilan dasar pada mahasiswa mengenai reaksi-
reaksi kimia yang dapat terjadi, kandungan dan sifat-sifat bahan pangan
meliputi: air, lipida, protein, karbohidrat, mineral, warna, bau, rasa,
vitamin, enzim, dan zat aditif, faktor penyebab kerusakan bahan
makanan, dan pengawetan bahan makanan.17

b. Zat Aditif dalam Makanan

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan R.I. No. 329/Menkes/ PER /


XII/ 76, yang dimaksud dengan aditif makanan adalah bahan yang
ditambahkan dan dicampurkan sewaktu pengolahan makanan untuk
meningkatkan mutu. Termasuk ke dalamnya adalah pewarna, penyedap
rasa dan aroma, pemantap, antioksidan, pengawet, pengemulsi,
antigumpal, pemucat, dan pengental.18

Istilah zat aditif sendiri mulai familiar di tengah masyarakat Indonesia


setelah merebak kasus penggunaan formalin pada beberapa produk
olahan pangan, tahu, ikan dan daging yang terjadi pada beberapa bulan
belakangan.

Secara umum, zat aditif makanan dapat dibagi menjadi dua yaitu:

a) Aditif sengaja, yaitu aditif yang diberikan dengan sengaja dengan


maksud dan tujuan tertentu, seperti untuk meningkatkan konsistensi,
nilai gizi, cita rasa, mengendalikan keasaman atau
kebasaan,memantapkan bentuk dan rupa, dan sebagainya.

b) Aditif tidak sengaja, yaitu yang terdapat dalam makanan dalam jumlah
sangat kecil sebagai akibat dari proses pengolahan.
17
Suwahono, loc.cit, hlm.1
18
F. G. Winarno, Kimia Pangan dan Gizi, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama,1995),Cet. VII, hlm.
214.
11

Bila dilihat dari sumbernya, zat aditif dapat berasal dari sumber
alamiah seperti lesitin, asam sitrat, dan lain-lain, dapat juga disintesis dari
bahan kimia yang mempunyai sifat serupa dengan bahan alamiah yang
sejenis, baik susunan kimia, maupun sifat metabolismenya seperti karoten,
asam askorbat, dan lain-lain. Pada umumnya bahan sintesis mempunyai
kelebihan, yaitu lebih pekat, lebih stabil, dan lebih murah. Walaupun
demikian ada kelemahannya yaitu sering terjadi ketidak sempurnaan proses
sehingga mengandung zat-zat berbahaya bagi kesehatan, dan kadang-
kadang bersifat karsinogen yang dapat merangsang terjadinya kanker pada
hewan dan manusia.19

Zat aditif makanan telah dimanfaatkan dalam berbagai proses


pengolahan makanan. Berikut adalah beberapa contoh zat aditif

a. Zat Pengawet

Zat pengawet terdiri dari senyawa organik dan anorganik dalam


bentuk asam atau garamnya. Aktivitas-aktivitas bahan pengawet
tidaklah sama, misalnya ada yang efektif terhadap bakteri, khamir,
ataupun kapang.

Zat pengawet organik lebih banyak dipakai daripada yang


anorganik karena bahan ini lebih mudah dibuat. Bahan organik
digunakan baik dalam bentuk asam maupun dalam bentuk garamnya.
Zat kimia yang sering digunakan sebagai pengawet ialah asam sorbet,
asam propionate, asam benzoate, asam asetat (CH3CCOH), dan
epoksida. Pada zat pengawet anorganik yang masih sering dipakai
adalah sulfit, nitrat, dan nitrit.20

b. Zat Pewarna
19
Ibid., hlm. 214
20
Ibid., hlm. 224-225
12

Di Indonesia, karena undang-undang penggunaan zat pewarna


belum ada, terdapat kecenderungan penyalahgunaan pemakaian zat
pewarna untuk sembarang bahan pangan, misalnya zat pewarna untuk
tekstil dan kulit dipakai untuk mewarnai bahan makanan. Hal ini jelas
sangat berbahaya bagi kesehatan karena adanya residu logam berat pada
zat pewarna tersebut.

Hingga saat ini aturan penggunaan zat pewarna di Indonesia


diatur dalam SK Menteri Kesehatan RI tanggal 22 Oktober 1973 No.
11332/ A/ SK/ 73. Tetapi dalam peraturan itu belum dicantumkan
tentang dosis penggunaannya dan tidak ada sanksi bagi pelanggaran
terhadap ketentuan tersebut.21

c. Asidulan, Zat Pengasam

Asidulan merupakan senyawa kimia yang bersifat asam yang


ditambahkan pada proses pengolahan makanan dengan berbagai tujuan.
Asidulan dapat bertindak sebagai penegas rasa dan warna ataun
menyelubungi after taster yang tidak disukai. Sifat asam senyawa ini
dapat mencegah pertumbuhan mikroba dan bertindak sebagai bahan
pengawet. Kemudian pH rendah buffer yang dihasilkan mempermudah
proses pengolahan. Bahan ini bersifat sinergis terhadap antioksidan
dalam mencegah ketengikan dan browning

d. Zat Pemanis Sintetik

Zat pemanis sintetik merupakan zat yang dapat menimbulkan


rasa manis atau dapat membantu mempertajam penerimaan terhadap
rasa manis tersebut, sedangkan kalori yang dihasilkannya jauh lebih

21
Ibid., hlm. 184
13

rendah daripada gula. Umumnya zat pemanis sintetik mempunyai


struktur kimia yang berbeda dengan struktur polidrat gula alam.22

Tabel contoh zat aditif

Zat Aditif Contoh Keterangan


Pewarna Daun pandan (hijau), Pewarna alami
kunyit(kuning), buah
coklat(coklat),
wortel(orange)
Sunsetyellow Pewarna sintesis
FCF(orange),
Carmoisine(merah),
Brilliant Blue FCF
(biru), Tartrazine
(kuning).
Pengawet Natrium benzoate, Terlalu banyak
Natrium Nitrat, Asam mengkonsumsi zat
Sitrat, Asam Sorbat, pengawet aka
Formalin mengurangi daya
tahan tubuh terhadap
penyakit
Penyedap Pala, merica, cabai, Penyedap alami
laos, kunyit, ketumbar
Mono-natrium Penyedap sintesis
glutamate/vetsin
(ajinomoto/sasa), asam
cuka, benzaldehida,
amil asetat, dll
Antiaoksidan Butyl hidroksi anisol Mencegah
22
Ibid., hlm. 218
14

(BHA), butyl hidrosil ketengikan


toluene (BHT),
tokoferol
Pemutih Hydrogen peroksida, -
oksida klor, benzoil
peroksida, natrium
hipoklorit
Pemanis bukan gula Sakarin, Dulsin, Baik dikonsumsi
Siklamat penderita diabetes,
khusus siklamat
bersifat karsinogen
Pengatur keasaman Aluminium ammonium/ Menjadi lebih asam,
kalium/ natrium sulfat, lebih basa, atau
asam laktat menetralkan
makanan
Anti gumpal Aluminium silikat, Ditambahkan ke
kalsium silikat, dalam pangan dalam
magnesium karbonat, bentuk bubuk
magnesium oksida
(Direktorat survei dan penyuluhan keamanan pangan,2006)

G. RUMUSAN HIPOTESIS

Berdasarkan kajian teoritik, hipotesis penelitian ini adalah model


pembelajaran berbasis Chemo-Entrepreneurship (CEP) dapat meningkatkan
hasil belajar dan peran aktif mahasiswa dalam materi zat aditif praktikum kimia
bahan makanan.
15

H. METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas yang menggunakan


data pengamatan langsung terhadap jalannya proses pembelajaran di kelas.
Penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan
yang sengaja dimunculkan, dan terjadi dalam sebuah kelas.23

a. Subyek Penelitian

Subyek yang akan diteliti ialah mahasiswa yang mendapat


pembelajaran praktikum kimia bahan makanan semester VII tahun
2008/2009 Program Studi Pendidikan Kimia Jurusan Tadris Fakultas
Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang yang terdiri dari 20 mahasiswa.

b. Prosedur PTK

1. Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian dalam PTK melalui 4 tahap antara lain:

a. Perencanaan

b. Pelaksanaan tindakan

c. Observasi

d. Refleksi.24

2. Fokus yang diteliti

a. Fokus mahasiswa

23
Zainal Aqib, Penelitian Tindakan Kelas bagi Pengembangan Profesi Guru, (Bandung: Yrama
Widya, 2006), Cet. I, hlm. 13
24
Ibid., hlm. 21
16

1. Meningkatkan peran aktif mahasiswa dalam praktikum kimia bahan


makanan.

2. Meningkatkan sikap entrepreneurship mahasiswa.

3. Meningkatkan hasil belajar mahasiswa dalam praktikum kimia bahan


makanan.

b. Fokus Dosen

Cara Dosen dalam menciptakan pembelajaran yang aktif melalui


model Chemo-Entrepreneurship.

3. Rincian Penelitian

 Siklus 1

1. Perencanaan

a. Permasalahan diidentifikasi dan masalah dirumuskan bersama


kolaborator

b. Merancang rencana pembelajaran

c. Merancang dan menyiapkan model pembelajaran

d. Merancang dan menyiapkan alat evaluasi

2. Pelasanaan Tindakan
17

Melaksanakan skenario rencana pembelajaran (RP) dengan kegiatan


pembelajaran model CEP dengan kegiatan praktikum seperti yang
telah direncanakan

3. Obsevasi

Melakukan pengamatan terhadap pelaksanaan tindakan dengan


menggunakan lembar observasi dan alat evaluasi

4. Refleksi

Menganalisis hasil observasi dan hasil evaluasi apakah kegiatan


yang dilakukan dapat meningkatkan hasil belajar kimia dan peran
aktif mahasiswa. Apabila belum dapat meningkatkan hasil belajar
maka dicari upaya pemecahan dan tindakan untuk meningkatkan
hasil belajar dan peran aktif mahasiswa pada siklus selanjutnya.

 Siklus 2

1. Perencanaan dan penerapan yang dilakukan pada siklus 2, sama


dengan perencanaan yang dilakukan pada siklus 1. Berdasarkan
refleksi dari siklus 1 diadakan penyempurnaan untuk pelaksanaan
siklus 2.

2. Pelaksanaan Tindakan

Melaksanakan skenario pembelajaran dan rencana pembelajaran


yang sudah lebih sempurna dari siklus 1.

3. Observasi
18

Melakukan pengamatan terhadap pelaksanaan tindakan dengan


lembar pengamatan dan tes hasil belajar dengan alat evaluasi.

4. Refleksi

Menganalisis hasil observasi dan hasil evaluasi serta melakukan


pemecahan masalah dari tindakan siklus 2.

 Siklus 3

Pelaksanaan siklus 3 sifatnya penyempurnaan dari siklus 1 dan siklus 2


dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi serta refleksinya.

Prosedur kerja tersebut secara garis besar dapat dijelaskan dengan


deskripsi umum penelitian tindakan kelas

Siklus I

Permasalahan Rencana Pelaksanaan


Tindakan Tindakan

Refleksi Observasi
Terselesaikan
19

Siklus II

Rencana Pelaksanaan
Tindakan Tindakan

Refleksi II Observasi II
Terselesaikan

Siklus III

Rencana Pelaksanaan
Tindakan Tindakan

Refleksi III Observasi III


Terselesaikan

c. Data dan Teknik Pengambilan Data

1. Data

Data hasil penelitian dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu data


kualitatif dan data kuantitatif.25

a. Data kuantitatif

25
Prof. Dr. Sugiyono, Statistika Untuk Penelitian, (Bandung: Alfabeta, 2005), cet. VIII, hlm. 14
20

Data kuantitatif adalah data yang berbentuk angka.26 Data kuantitatif


berupa hasil belajar mahasiswa pada praktikum bahan makanan zat
aditif.

b. Data kualitatif

Data kualitatif adalah data yang berbentuk kalimat, kata atau gambar.27
Data kualitatif berupa peran aktif mahasiswa dalam menjalankan
praktikum.

2. Pengambilan Data

a. Lembar pengamatan/observasi

Selama proses berlangsung (selama kegiatan pembelajaran) dilakukan


pengamatan dengan lembar pengamatan tertentu untuk mengetahui
kebiasaan mahasiswa berjiwa entrepreneurship.

b. Data tentang hasil belajar mahasiswa diambil dari tes evaluasi setiap
siklusnya.

d. Instrumen penelitian

a. Perangkat penelitian ini terdiri atas rencana pembelajaran, petunjuk


praktikum, serta lembar observasi mahasiswa.

b. Instrumen untuk evaluasi berupa lembar pengamatan untuk jiwa


entrepreneurship.

e. Analisis instrumen

26
Ibid., hlm. 15
27
Ibid., hlm. 15
21

Dalam sebuah penelitian, data mempunyai kedudukan yang sangat


penting, karena data merupakan penggambaran variable yang diteliti dan
berfungsi sebagai alat pembuktian hipotesis. Instrumen yang baik harus
memenuhi dua persyaratan penting yaitu valid dan reliable (sahih).

1. Analisis Validitas

Validitas adalah suatu ukuran yang menjukkan tingkat-tingkat kevalitan


atau kesahihan suatu instrument. Sebuah instrumen dikatakan valid
apabila mampu mengukur apa yang diinginkan.28 Validitas soal dapat
dicapai apabila terdapat kejayaan antara skor butir soal tersebut dengan
skor total. Menghitung validitas butir soal digunakan rumus:

Keterangan

r xy = koefisien korelasi item soal

N = banyaknya peserta tes

X = jumlah skor item

Y = jumlah skor total

Kriteria r x y adalah sebagai berikut:

0,00 < rxy < 0,20 sangat rendah

0,20 < rxy < 0,40 rendah

0,40 < rxy < 0,60 cukup

28
Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2002), hlm 65
22

0,60 < rxy < 0,80 tinggi

0,80 < rxy < 1,00 sangat tinggi.29

2. Analisis reliabilitas

Reliabilitas artinya dapat dipercaya atau diandalkan.30 Suatu tes dapat


dikatakan memiliki taraf kepercayaan yang tinggi jika perangkat tes
tersebut dapat memberikan hasil yang tepat. Analisis reliabilitas tes ini
menggunakan rumus KR 20 yang dikemukakan oleh Kuder dan
Richardson.

Keterangan

rII = indeks korelasi (harga reliabilitas)

K = banyaknya butir soal

P = proporsi subyek yang menjawab item yang benar

q = proposi subyek yang menjawab item yang salah (q = 1-p)

∑pq = jumlah hasil perkalian antara p dan q

Vt = variasi total

Kreteria adalah sebagai berikut:

0,00 < rxy < 0,20 sangat rendah

0,20 < rxy < 0,40 rendah

29
Ibid., hlm. 75
30
Ibid., hlm. 101
23

0,40 < rxy < 0,60 cukup

0,60 < rxy < 0,80 tinggi

0,80 < rxy < 1,00 sangat tinggi

3. Tingkat kesukaran soal

Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu sukar dan tidak terlalu
mudah. Rumus tingkat kesukaran soal yang digunakan adalah sebagai
berikut:

Keterangan

P = indeks kesukaran

B = banyaknya siswa yang menjawab benar

JS = jumlah selurah peserta tes

Kriteria yang digunakan adalah sebagai berikut:

P = 0,00 butir soal terlalu sulit

0,00 < P < 0,30 butir soal sukar

0,30 < P < 0,70 butir soal sedang

0,70 < P < 1,00 butir soal mudah

P = 1 butir soal terlalu mudah.31

31
Ibid., hlm. 208-210
24

f. Analisis Data

Pada penelitian ini digunakan metode deskriptif dengan


membandingkan hasil belajar mahasiswa sebelum tindakan dengan hasil
belajar mahasiswa setelah tindakan.

Langkah-langkah pengolahan data sebagai berikut:

1. Merekapitulasi nilai tes praktikum zat aditif, nilai pre tes dan nilai post tes
pada tiap siklus.

2. Menghitung nilai rerata atau presentase hasil belajar sebelum dilakukan


tindakan dengan hasil belajar setelah dilakukan tindakan pada tiap siklus
untuk mengetahui adanya peningkatan hasil belajar.

3. Penilaian

a. Data nilai hasil belajar (kognitif) diperoleh dengan menggunakan


rumus:

.32

b. Nilai rata-rata dicari dengan rumus sebagai berikut:

Keterangan :

= nilai rata-rata

32
Ibid., hlm. 236
25

= jumlah nilai

= jumlah peserta tes

c. Untuk analisis hasil observasi peran aktif mahasiswa secara klasikal


yang diperlukan untuk mengetahui sejauh mana peran aktif kegiatan
praktikum. Rumus yang digunakan adalah deskriptif presentase yang
yang menggambarkan besarnya presentase keaktifan mahasiswa dalam
proses pembelajaran.

Keterangan:

NP% = Persentase nilai yang diperoleh

n = jumlah skor yang diperoleh

N = jumlah sekor maksimal

d. Ketentuan Persentase Ketuntasan Belajar Kelas

Keterangan:

∑ sb = jumlah yang mendapat nilai > 65% dari seluruh


tujuanpembelajaran.

∑ k = jumlah dalam sampel.33

33
E. Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi KOnsep Karakteristik, (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2004), hlm. 1999
26

I. SISTEMATIKA

BAB I : Pendahuluan Pada bab ini memaparkan tentang latar belakang


masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, perumusan
masalah, serta manfaat penelitian skripsi.

BAB II : Gambaran umum tentang pembelajaran berbasis chemo-


entrepreneurship, bab ini merupakan landasan dari
permasalahan yang dikaji, oleh karena itu dibahas masalah
pembelajaran dengan chemo-entrepreunership, praktikum
kimia bahan makanan, zat aditif dalam makanan, serta
pengajuan hipotesis dari pembelajaran berbasis chemo-
entrepreneurship.

BAB III : Jalannya penelitian, pengembangan pembelajaran berbasis


chemo-entrepreneurship. Pada bab ini menerangkan bagaimana
jalannya penelitian pengembangan

BAB IV : Analisis, pada bab ini menjelaskan hasil dari penelitian


pengembangan

BAB V : Penutup, pada bab ini merupakan proses akhir dari bab-bab
sebelumnya sehingga disampaikan kesimpulan, mengenai
pengaruh pengembangan pembelajaran berbasis chemo-
entrepreneurship untuk meningkatkan hasil belajar mahasiswa
pada materi praktikum zat aditif, kemudian saran-saran dan
diakhiri penutup.

J. PENUTUP

Demikian penyusunan proposal yang peneliti buat. Peneliti yakin masih


banyak terdapat kekurangan dan kesalahan dalam penyusunan proposal ini.
27

Kritik dan saran sangat peneliti harapkan demi perbaikan penulisan selanjutnya.
Terima kasih.

Semarang, September 2008

Peneliti

SUMANAH
NIM : 043711294

Pembimbing I Pembimbing II

(Ratih Rizqi Nirwana,S.Si) (Drs. Sajid Iskandar Setyohadi)


NIP. 150368388 NIP. 150231364

DAFTAR PUSTAKA

Aqib, Zainal. Penelitian Tindakan Kelas bagi Pengembangan Profesi Guru,


Bandung: Yrama Widya, 2006, Cet. I,
28

Arikunto, Suharsimi, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Bumi


Aksara, 2002
_________________. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek,
Yogyakarta: PT Rineka Cipta,2002

Arsyad, Azhar, Media Pembelajaran, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005

Direktorat Survei dan Penyuluhan Keamanan Pangan, Pemanfaatan Zat Aditif


Secara Tepat, Lampung: Badan Pengendali Obat dan Makanan
(BPOM), 2006

Kasmir, Kewirausahaan, Jakarta: PT Raja Grafindo, 2006,Ed. I

Mulyasa, E. Kurikulum Berbasis Kompetensi Konsep Karakteristik, Bandung:


PT remaja Rosdakarya,2004

Nasution, S. Didaktik Asas-Asas Mengajar, Jakarta: Bumi Aksara, 1995, Ed. 2

Sudjana,Nana Metode Statistika, Bandung: Tarsito, 1992

____________________, Penelitian Hasil Belajar Mengajar, Bandung:


Remaja Rosda Karya,2002

Syaodih Sukmadinata, Nana Landasan Psikologi proses Pendidikan,


Bandung: Remaja Rosda Karya,2003

Seomanto, Wasty. Psikologi Pendidikan, Malang: Renika Cipta, 1990

Sugiyono, Statistika Untuk Penelitian, Bandung: Alfabeta, 2005, cet. VIII


29

Supartono, Chemo-Entrepreneurship (CEP) Sebagai Pendekatan


Pembelajaran Kimia Yang Inovatif dan Kreatif, Semarang: Prosidang
Seminar Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, 2005
Suwahono, Petunjuk Praktikum Kimia Bahan Makanan, Semarang:
Laboratorium Pendidikan Kimia Jurusan Tadris Fak Tarbiyah IAIN
Walisongo, 2007
T. Anni, Chatarina, Psikologi Belajar, Semarang: UPT MKK UNNES, 2004

Tim Evaluasi diri Tadris Kimia, Borang Kimia, Semarang: IAIN


Walisongo,2008

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta:
Balai Pustaka, 2005,Edisi Ke III

Wahyukaeni, Titi, Pembelajaran Dengan Pendekatan


“CHEMO_ENTREPRENEURSHIP” Sebagai Strategi Peningkatan
Kemampuan Mata Kuliah Kimia Organik I, Semarang: Seminar
Nasional dan Pendidikan Kimia, 2006

Winarno,F.G. Kimia Pangan dan Gizi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama,


1995, Cet. VII

Yandri, A.S. Zat Aditif, Makalah Seminar Kimia X 2006 Jurusan Kimia
FMIPA, Lampung: Universitas Lampung, 2006