Anda di halaman 1dari 17

PROPOSAL

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

STRATEGI PENINGKATAN HASIL BELAJAR PADA MATA


PELAJARAN ELEKTRONIKA DIGITAL DAN KOMPUTER
DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA AUDIO VISUAL
DI KELAS 1 SMK N 5 JAKARTA

Disusun oleh :
IKI ARIF
5215060210

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITS NEGERI JAKARTA
2009

1
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembangunan di Indonesia saat ini sedang memasuki era alih teknologi dalam rangka
menyongsong pembangunan jangka panjang. Pada saat ini pembangunan sedang giat-giatnya
dilaksanakan, begitu pula di bidang pendidikan.
Pembangunan dibidang pendidikan khususnya pendidikan teknologi dan kejuruan
berangsur-angsur ditingkatkan baik dari segi kualitas maupun kuantitas serta diselaraskan
dengan kebutuhan di lapangan serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Demi
memenuhi kebutuhan lapangan dan menyelaraskan dengan laju perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Akhirnya lembaga pendidikan di Indonesia khususnya
pendidikan teknologi dan kejuruan dituntut untuk mampu mempersiapkan sumber daya
manusia yang tampil.
Terkait dengan mutu pendidikan, khususnya SMK saat ini kurang memuaskan dalam
artian mereka banyak yang belum siap untuk memasuki dunia kerja. Hal ini disebabkan
karena nilai kompetensi mereka banyak yang berada pada batas minimal. Siswa SMK lebih
suka praktek dibandingkan dengan belajar teori, pada saat belajar teori banyak siswa yang
malas ataupun cepat bosan. Melihat kondisi tersebut dirasa perlu mengambil langkah untuk
meningkatkan hasil belajar siswa, salah satunya adalah menggunakan media Audio Visual (
music dan gambar animasi ) dalam proses belajar mengajar di kelas. Dengan memakai media
tersebut diharapkan siswa akan memiliki minat dan semangat untuk belajar

B. Sasaran Tindakan
Siswa Program Keahlian Teknik Audio Video Tingkat I.

C. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka masalah-masalah tersebut dapat
diidentifikasikan sebagai berikut :
1. Apakah dengan menggunakan media Audio Visual dapat meningkatkan hasil belajar
siswa pada mata pelajaran Elektronika Digital dan Komputer?

2. Jenis media Audio Visual apa yang sesuai untuk pembelajaran Elektronika Digital
dan Komputer ?

2
3. Bagaimana cara meningkatkan minat belajar siswa dalam mata pelajaran Elektronika
Digital dan Komputer?

4. Suara dan animasi pilihan siapa yang sesuai untuk meningkatkan minat siswa saat
belajar Elektronika Digital dan Komputer ? Pilihan siswa atau pilihan guru ?

D. Pembatasan Masalah
Karena begitu luasnya permasalahan yang ada dan waktu penelitian yang terbatas
maka penelitian tindakan kelas ini hanya dibatasi pada masalah : Apakah minat belajar siswa
dapat ditingkatkan dengan memanfaatkan suara dan gambar animasi untuk meningkatkan
minat belajar siswa saat belajar Elektronika Digital dan Komputer?

E. Perumusan Masalah
Sesuai dengan latar belakang masalah, identifikasi masalah, dan pembatasan masalah
maka penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: Bagaimana cara meningkatkan minat
belajar siswa saat belajar teori elektronika Digital dan Komputer dengan menggunakan media
Audio Visual?

F. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menemukan pemecahan masalah atas minat belajar
siswa terhadap pelajaran Elektronika Digital dan Komputer yaitu dengan menggunakan
media Audio Visual pada saat proses pembelajaran.

G. Manfaat Penelitian
Diharapkan dengan penelitian ini akan dapat meningkatkan minat dan hasil belajar
siswa pada mata pelajaran Elektronika Digital dan Komputer.

3
II. KAJIAN PUSTAKA

Penelitian ini memilih media Audio Visual sebagai pemecahan masalah atas minat
belajar siswa pada saat belajar teori Elektronika Digital dan Komputer di kelas. Hubungan
tersebut di dapat dari landasan teori yang ada sebagai berikut :

Minat

Minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktifitas,
tanpa ada yang memerintah. Suatu minat dapat diekspresikan melalui suatu pernyataan yang
menunjukkan bahwa siswa lebih menyukai suatu hal dari pada hal lainnya.

Mengembangkan suatu minat terhadap sesuatu pada dasarnya adalah membantu siswa
melihat bagaimana hubungan antara materi yang diharapkan untuk dipelajari atau dilakukan
dengan dirinya sendiri sebagai dirinya sendiri sebagai individu. Semakin kuat atau dekat
hubungan tersebut, semakin besar minat itu.

Suatu minat dapat diekspresikan melalui suatu persyaratan yang menunjukan bahwa
siswa lebih menyukai suatu hal dari pada hal lainnya.

Di dalam belajar peran minat sangatlah penting. Belajar yang disertai minat akan
mendorong siswa belajar untuk lebih giat dan lebih baik dari pada siswa yang belajar tanpa
disertai minat. Minat timbul pada diri siswa yang belajar tanpa disertai minat. Minat timbul
pada diri siswa karena tertarik akan sesuatu kebutuhan atau merasakanbahwa sesuatu yang
akan dipelajarinya itu dirasakan bermakna bagi dirinya. Namun bila minat itu tidak disertai
dengan usaha yang baik, maka belajar akan sulit berhsil dengan baik.

1. Visual ( belajar dengan cara melihat )

Lirikan keatas bila berbicara, berbicara dengan cepat. Bagi siswa yang bergaya
belajar visual, yang memegang peranan penting adalah mata / penglihatan ( visual ), dalam
hal ini metode pengajaran yang digunakan guru sebaiknya lebih banyak / dititikberatkan pada
peragaan / media, ajak mereka ke obyek - obyek yang berkaitan dengan pelajaran tersebut,

4
atau dengan cara menunjukkan alat peraganya langsung pada siswa atau menggambarkannya
di papan tulis. Anak yang mempunyai gaya belajar visual harus melihat bahasa tubuh dan
ekspresi muka gurunya untuk mengerti materi pelajaran. Mereka cenderung untuk duduk di
depan agar dapat melihat dengan jelas. Mereka berpikir menggunakan gambar-gambar di
otak mereka dan belajar lebih cepat dengan menggunakan tampilan-tampilan visual, seperti
diagram, buku pelajaran bergambar, dan video. Di dalam kelas, anak visual lebih suka
mencatat sampai detil-detilnya untuk mendapatkan informasi.

Ciri - ciri gaya belajar visual :

Bicara agak cepat


Pembaca cepat dan tekun
Lebih suka musik dari pada seni
Tidak mudah terganggu oleh keributan
Lebih suka membaca dari pada dibacakan
Mengingat yang dilihat, dari pada yang didengar
Lebih suka melakukan demonstrasi dari pada pidato
Mementingkan penampilan dalam berpakaian/presentasi
Seringkali mengetahui apa yang harus dikatakan, tapi tidak pandai memilih kata-kata
Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis, dan
seringkali minta bantuan orang untuk mengulanginya

Strategi untuk mempermudah proses belajar anak visual :

a. Gunakan materi visual seperti, gambar-gambar, diagram dan peta.

b. Gunakan warna untuk menghilite hal-hal penting.

c. Ajak anak untuk membaca buku-buku berilustrasi.

d. Gunakan multi-media (contohnya: komputer dan video).

e. Ajak anak untuk mencoba mengilustrasikan ide-idenya ke dalam gambar.

5
2. Auditori ( belajar dengan cara mendengar )

Lirikan kekiri/kekanan mendatar bila berbicara, berbicara sedang - sedang saja.


Siswa yang bertipe auditori mengandalkan kesuksesan belajarnya melalui telinga ( alat
pendengarannya ), untuk itu maka guru sebaiknya harus memperhatikan siswanya hingga ke
alat pendengarannya. Anak yang mempunyai gaya belajar auditori dapat belajar lebih cepat
dengan menggunakan diskusi verbal dan mendengarkan apa yang guru katakan. Anak
auditori dapat mencerna makna yang disampaikan melalui tone suara, pitch ( tinggi
rendahnya ), kecepatan berbicara dan hal-hal auditori lainnya. Informasi tertulis terkadang
mempunyai makna yang minim bagi anak auditori mendengarkannya. Anak-anak seperi ini
biasanya dapat menghafal lebih cepat dengan membaca teks dengan keras dan mendengarkan
kaset.
Ciri-ciri gaya belajar auditori :

Penampilan rapi
Mudah terganggu oleh keributan
Biasanya ia pembicara yang fasih
Berbicara dalam irama yang terpola
Saat bekerja suka bicara kepada diri sendiri
Senang membaca dengan keras dan mendengarkan
Lebih suka gurauan lisan daripada membaca komik
Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya
Mempunyai masalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan Visual
Dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, berirama dan warna suara
Menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca
Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan dari pada yang
dilihat

Strategi untuk mempermudah proses belajar anak auditori :

1. Ajak anak untuk ikut berpartisipasi dalam diskusi baik di dalam kelas maupun di dalam
keluarga.

6
2. Dorong anak untuk membaca materi pelajaran dengan keras.

3. Gunakan suara musik untuk mengajarkan anak.

4. Diskusikan ide dengan anak secara verbal.

5. Biarkan anak merekam materi pelajarannya ke dalam kaset dan dorong dia untuk
mendengarkannya sebelum tidur.

Karena memang belajar adalah proses internal dalam diri manusia maka guru
bukanlah merupakan satu-satunya sumber belajar, namun merupakan salah satu komponen
dari sumber belajar yang disebut orang. AECT (Associationfor Educational Communication
and Technology) membedakan enam jenis sumber belajar yang dapat digunakan dalam
proses belajar, yaitu:

1. Pesan; didalamnya mencakup kurikulum (GBPP) dan mata pelajaran.


2. Orang; didalamnya mencakup guru, orang tua, tenaga ahli, dan sebagainya.
3. Bahan;merupakan suatu format yang digunakan untuk menyimpan pesan
pembelajaran,seperti buku paket, buku teks, modul, program video, cd pembelajaran,
OHT (over head transparency), program slide,alat peraga dan sebagainya (biasa
disebut software).
4. Alat; yang dimaksud di sini adalah sarana (piranti, hardware) untuk menyajikan bahan
pada butir 3 di atas. Di dalamnya mencakup proyektor OHP, slide, dvd, dan
sebagainya.
5. Teknik; yang dimaksud adalah cara (prosedur) yang digunakan orang dalam
membeikan pembelajaran guna tercapai tujuan pembelajaran. Di dalamnya mencakup
ceramah,permainan/simulasi, tanya jawab, sosiodrama (roleplay), dan sebagainya.
6. Latar (setting) atau lingkungan; termasuk didalamnya adalah pengaturan ruang,
pencahayaan, dan sebagainya.

Bahan & alat yang kita kenal sebagai software dan hardware tak lain adalah media
pendidikan.

7
Media Pendidikan
Kata media berasal dari bahasa Latin yang adalah bentuk jamak dari medium batasan
mengenai pengertian media sangat luas, namun kita membatasi pada media pendidikan saja
yakni media yang digunakan sebagai alat dan bahan kegiatan pembelajaran.

Mengapa perlu media dalam pembelajaran? Pertanyaan yang sering muncul


mempertanyakan pentingnya media dalam sebuah pembelajaran.Kita harus mengetahui
dahulu konsep abstrak dan konkrit dalam pembelajaran,karena proses belajar mengajar
hakekatnya adalah proses komunikasi,penyampaian pesan dari pengantar ke penerima. Pesan
berupa isi/ajaran yang dituangkan ke dalam simbol-simbol komunikasi baik verbal (kata-
kata& tulisan) maupun non-verbal, proses ini dinamakan encoding. Penafsiran simbol-simbol
komunikasi tersebut oleh siswa dinamakan decoding.

Ada kalanya penafsiran berhasil, adakalanya tidak. Kegagalan / ketidakberhasilan


dalam memahami apa yang didengar, dibaca,dilihat atau diamati. Kegagalan /
ketidakberhasilan atau penghambat dalam proses komunikasi dikenal dengan istilah barriers
atau noise. Semakin banyak verbalisme semakin abstrak pemahaman yang diterima.

Secara umum media mempunyai kegunaan:

1. memperjelas pesan agar tidak terlalu verbalistis.


2. mengatasi keterbatasan ruang, waktu tenaga dan daya indra.
3. menimbulkan gairah belajar, interaksi lebih langsung antara murid dengan sumber
belajar.
4. memungkinkan anak belajar mandiri sesuai dengan bakat dan kemampuan visual,
auditori & kinestetiknya.
5. memberi rangsangan yang sama, mempersamakan pengalaman & menimbulkan
persepsi yang sama.

Selain itu, kontribusi media pembelajaran menurut Kemp and Dayton, 1985:

1. Penyampaian pesan pembelajaran dapat lebih terstandar


2. Pembelajaran dapat lebih menarik
3. Pembelajaran menjadi lebih interaktif dengan menerapkan teori belajar
4. Waktu pelaksanaan pembelajaran dapat diperpendek
5. Kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan

8
6. Proses pembelajaran dapat berlangsung kapanpun dan dimanapun diperlukan
7. Sikap positif siswa terhadap materi pembelajaran serta proses pembelajaran dapat
ditingkatkan
8. Peran guru berubahan kearah yang positif

Untuk itu perlu dicermarti daftar kelompok media instruksional menurut Anderson,
1976 berikut ini :

KELOMPOK MEDIA MEDIA INSTRUKSIONAL


1. Audio pita audio (rol atau kaset)
piringan audio
radio (rekaman siaran)

2. Cetak buku teks terprogram


buku pegangan/manual
buku tugas

3. Audio – Cetak buku latihan dilengkapi kaset


gambar/poster (dilengkapi audio)

4. Proyek Visual Diam film bingkai (slide)


film rangkai (berisi pesan verbal)

5. Proyek Visual Diam film bingkai (slide) suara


dengan Audio film rangkai suara

6. Visual Gerak film bisu dengan judul (caption)

7. Visual Gerak film suara


dengan Audio video/vcd/dvd

8. Benda benda nyata


model tirual (mock up)

9. Komputer media berbasis komputer; CAI (Computer Assisted


Instructional) & CMI ( Computer Managed Instructional )

Dari teori di atas di dapat bahwa ada tiga ( 3 ) modalitas belajar seseorang yaitu suara,
penglihatan dan gerakan. Yang terkait dengan penelitian ini adalah audio dan visual. Melihat
dua ( 2 ) tipe ini, akan cocok apabila diterapkan pembelajaran dengan menggunakan media
audio visual, oleh karenanya penelitian ini akan menerapkan poin 1 dan 7 pada tabel di atas
yaitu musik sebagai pengiring dan materi pembelajaran dengan gambar animasi diikuti
dengan suara.

9
III. METODOLOGI PENELITIAN

A. Tujuan Operasional

Tujuan penelitian ini untuk menemukan macam-macam suara dan gambar animasi
yang sesuai untuk meningkatkan minat belajar Elektronika Digital dan Komputer.

B. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini akan berlangsung pada bulan September – Desember 2009 di kelas I
Semester 1, Sekolah Menengah Kejuruan Negeri ( SMKN ) 5, Jl. Pisangan Baru Timur VII
Pisangan Baru, Jakarta Timur.

C. Metode Penelitian

Penelitian yang dilakukan bersifat kualitatif dan dilakukan dengan metode Classroom
Action Research. Penelitian akan dilakukan dalam siklus – siklus yang masing – masing
terdiri dari perencanaan tindakan, memonitor pelaksanaan dan peninjauan kembali. Pada
siklus berikutnya dimungkinkan adanya revisi tindakan untuk tujuan yang belum mencapai
indikator.

Siklus ini dijalankan berdasarkan frekuensi pembelajaran, satu siklus terdiri dari dua
pertemuan.

Pengertian PTK atau action research secara singkat dapat didefinisikan sebagai suatu
bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan, yang dilakukan untuk
meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan-tindakan mereka dalam melaksanakan
tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan itu, serta
memperbaiki kondisi dimana praktek-praktek pembelajaran tersebut dilakukan. Untuk
mewujudkan tujuan-tujuan tersebut, PTK itu dilaksanakan berupa proses kajian berdaur yang
terdiri dari 4 tahap.

Secara garis besar terdapat empat tahapan yang lazim dilalui, yaitu :

1. Perencanaan

2. Pelaksanaan

10
3. Pengamatan

4. Refleksi

1) Perencanaan
Bagian ini berisikan perlakuan yang akan diberikan kepada siswa sesuai dengan yang tertulis
pada rencana tindakan. Di luar itu adalah pembelajaran-biasa yang telah Anda lakukan
sehari-hari, tidak perlu dituliskan di sini. Harus dibedakan benar antara pembelajaran biasa
dengan PTK. Yang dituliskan dalam siklus hanyalah bagian yang diteliti saja.

2) Pelaksanaan
Pelaksanaan akan menguraikan apakah hal yang direncanakan dapat direalisasikan secara
penuh. Jika tidak, perlu dilihat polanya dalam periode tertentu; mungkin hanya sebagian yang
dapat dilaksanakan. Tentu saja dapat dielaborasikan pelaksanaan ini secara detail, sampai hal-
hal yang otentik.

3) Pengamatan
Bagian ini berisikan hasil pengamatan menggunakan berbagai instrument Yang perlu
diperhatikan dalam hal ini adalah sifat triangulasi dan saturasi data. Hasil-hasil pekerjaan
siswa yang otentik dapat disajikan di sini.

4) Refleksi
Refleksi berisikan penjelasan tentang keberhasilan atau kegagalan yang terjadi setelah selang
waktu tertentu. Refleksi diakhiri dengan perencanaan kembali untuk siklus berikutnya.

11
Adapun model dan penjelasan untuk masing – masing tahap adalah sebagai berikut :

Siklus I

Permasalahan I Alternatif Pemecahan Pelaksanaan


Masalah I Tindakan I

Refleksi I Analisis Data I Observasi I

Siklus I I

Permasalahan II Alternatif Pemecahan Pelaksanaan


Masalah II Tindakan II

Refleksi II Analisis Data II Observasi II

Belum mencapai Sikus


target selanjutnya

12
Instrumen Penelitian

Data yang akan diambil berupa observasi Kegiatan Belajar Mengajar.

Tabel 1
Observasi Kegiatan Belajar Mengajar

GURU

Keterangan :
a. Tanda persegi panjang mewakili posisi siswa dalam kelas.
b. Pengisian dilakukan setiap 20 menit sekali pada saat kegiatan belajar mengajar. Siswa
yang melakukan tingkah laku di bawah ini akan dinomeri pada peta kelas sesuai
dengan nomor urutan tingkah laku yang telah dibuat sebelumnya. Jika tidak
melakukan tingkah laku yang diamati, maka persegi panjang tetap kosong.

13
TINGKAH LAKU YANG DIAMATI ASPEK MINAT YANG DIAMATI

1. Tidak memperhatikan guru 1. Perhatian, rasa ingin tahu


2. Berbicara dengan teman diluar 2. Perhatian ( negatif )
pelajaran
3. Mengganggu siswa lain 3. Perhatian ( negatif )
4. Izin keluar kelas 4. Perhatian ( negatif )
5. Menyimak dengan seksama 5. Perhatian, rasa ingin tahu, ketekunan
6. Mencatat pelajaran 6. Ketekunan
7. Aktif menjawab pertanyaan guru 7. Keaktifan, motivasi
8. Menjawab pertanyaan guru yang 8. Keaktifan
diajukan padanya
9. Aktif bertanya pada guru 9. Keaktifan, rasa ingin tahu, motivasi
10. Ingin mencoba demonstrasi yang 10. Keaktifan, rasa ingin tahu, motivasi
dilakukan guru

E. Dokumen siswa
Dokumen siswa berupa catatan siswa untuk menunjang lembar observasi
berkurangnya kemalasan maupun kebosanan siswa. Dokumen siswa dilihat dan dicatat
peneliti pada setiap akhir pelajaran.

F. Catatan Lapangan
Catatan – catatan lapangan diperlukan untuk merekam kejadian – kejadian selama
proses pembelajaran berlangsung. Catatan lapangan meliputi perencanaan, tindakan,
observasi dan refleksi. Berdasarkan dari hasil refleksi ini peneliti dapat melakukan perbaikan
– perbaikan terhadap rencana awal.

G. Wawancara dengan siswa


Wawancara dengan siswa dilaksanakan setiap akhir siklus dengan pemilihan siswa
yang diwawancarai secara acak sesuai dengan kebutuhan refleksi untuk perbaikan pada
tindakan siklus berikutnya. Pedoman wawancara dengan siswa menitikberatkan pada
tanggapan dan kesulitan belajar siswa selama proses pembelajaran berikutnya.

14
H. Teknik Analisa Data
Hasil penelitian yang berasal dari lembar observasi kegiatan belajar mengajar akan
ditampilkan dalam bentuk teabel persiklus. Sementara hasil wawancara dengan siswa akan
dijelaskan secara deskriptif.
Data yang diambil dari lembar Observasi Kegiatan Belajar Mengajar yaitu jumlah
siswa yang melakukan kegiatan yang telah disebutkan pada lembar observasi kelas, akan
dibuat tabel sebagai berikut.

Tabel 2
Observasi Kegiatan Belajar Mengajar
Jumlah siswa yang melakukan
No KEGIATAN kegiatan pada 20 menit ke
1 2 3 4 5 6
1 Tidak memperhatikan guru
Berbicara dengan teman diluar
2
pelajaran
3 Mengganggu siswa lain
4 Izin keluar kelas
5 Menyimak dengan seksama
6 Mencatat pelajaran
7 Aktif menjawab pertanyaan guru
Menjawab pertanyaan guru yang
8
diajukan padanya
9 Aktif bertanya pada guru
Ingin mencoba demonstrasi yang
10
dilakukan guru

Setelah diuraikan secara deskriptif, kemudian dari data tersebut akan dibuat perbandingan
dengan indikator yang dimaksudkan.
Tujuan penelitian ini akan tercapai apabila jumlah siswa yang mengikuti kegiatan
belajar dengan baik meningkat dan jumlah siswa yang mengikuti kegiatan belajar dengan
tidak baik menurun.

15
IV. PENUTUP

KESIMPULAN

Untuk meningkatkan minat belajar dan lebih mudah mempelajari konsep-konsep yang
relative sulit dipahami diperlukan model pembelajarn yang menarik seperti model
pembelajaran menggunakan media audio visual. Selain membantu dalam pengembangan
pemahaman konsep, model pembelajaran menggunakan media audio visual semacam ini
akan sangat bermanfaat untuk mengembangkan keterampilan berpikir siswa. Agar proses
belajar dapat berlangsung secara efektif dan berdampak positif diperlukan model
pembelajaran menggunakan media audio visual yang menarik, berkualitas dan mudah
diaplikasikan. Model pembelajaran menggunakan media audio visual ini perlu pula diaplikasi
pada mata pelajaran lainnya agar hasil belajar siswa dapat tercapai secara maksimal.

16
DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi, dkk. 2006. Penelitian Tindakan Kelas.Jakarta: Bumi Aksara.


Bachtiar, Harsja. 2006. Media Pendidikan. Jakarta: Pustaka Teknologi Pendidikan
Depdikbud. 1988. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdikbud
Raka Joni, T. 1999. Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: PCP PPGSM Ditjen Dikti.
Simarta, Janner. 2006. Pengenalan Teknologi Komputer dan Informasi. Yogyakarta: Andi
Supriadi. 2006. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Universitas Terbuka
Suryosubroto,B. 1997. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta
Tim Pelatih PGSM. 1999. Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Jakarta:
DEPDIKBUD
Yasin, Burhanuddin, dkk. 2002. Penelitian Tindakan Kelas (Pendekatan Efektif -Perbaikan
Mutu Pembelajaran dan Prestasi Siswa ).Jakarta: Bumi Aksara.

http://www.e-psikologi.com/anak/index.htm

http://nuritaputranti.wordpress.com/2007/12/28/gaya-belajar-anda-visual-auditori-atau-
kinestetik/

http://teknologipendidikan.wordpress.com/

http://teknologipendidikan.wordpress.com/2006/03/21/prinsip-pengembangan-media-
pendidikan-sebuah-pengantar/

17