Anda di halaman 1dari 19

BAB II

TINJAUAN TEORI
2.1 Konsep Lansia
2.1.1 Pengertian Lansia
Lansia adalah tahap akhir siklus hidup manusia, merupakan bagian dari proses
kehidupan yang tak dapat dihindarkan dan akan di alami oleh setiap individu. Pada
tahap ini individu mengalami banyak perubahan baik secara fisik maupun mental,
khususnya kemunduran dalam berbagai fungsi dan kemampuan yang pernah
dimilikinya. Perubahan penampilan fisik sebagian dari proses penuan normal, seperti
rambut yang mulai memutih, kerut-kerut ketuaan di wajah, berkurangnya ketajaman
panca indera, serta kemunduran daya tahan tubuh, merupakan acaman bagi integritas
orang usia lanjut. Belum lagi mereka harus berhadapan dengan kehilangan-kehilangan
peran diri, kedudukan sosial, serta perpisahan dengan orang-orang yang dicintai. Semua
hal tersebut menuntut kemampuan beradaptasi yang cukup besar untuk dapat menyikapi
secara bijak (Soejono, 2000).
2.1.2 Batasan Lansia
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lanjut usia meliputi :
a. Usia pertengahan (middle age): usia 45- 59 tahun.
b. Lanjut usia (elderly): usia 60- 74 tahun.
c. Lanjut usia tua (old): usia 75- 90 tahun.
d. Usia sangat tua (very old) : usia lebih dari 90 tahun.
1.1.3 Teori psikososial dalam penuaan
Menurut Adapun mengenai kelompok teori psikososial, berturut-turut dikemukakan
beberapa di antaranya adalah sebagai berikut.
1. Disengagement theory
Kelompok teori ini dimulai dare University of Chicago, yaitu Disengagement Theory,
yang menyatakan bahwa individu dan masyarakat mengalami disengagement dalam
suatu mutual withdrawl (menarik diri). Memasuki usia tua, individu mulai menarik diri
dari masyarakat, sehingga memungkinkan individu untuk menyimpan lebih banyak
aktivitas-aktivitas yang berfokus pada dirinya dalam memenuhi kestabilan pada stadium
ini.
2. Teori aktivitas
Menekankan pentingnya peran serta dalam kegiatan masyarakat bagi kehidupan seorang
lansia. Dasar teori ini adalah bahwa konsep diri seseorang bergantung pada aktivitasnya
dalam berbagai peran. Apabila hal ini diulang, maka akan berakibat negatif terhadap
kepuasan hidupnya. Ditekankan pula bahwa mutu dan jenis interaksi lebih menentukan
daripada jumlah interaksi. Hasil studi serupa ternyata menggambarkan pula bahwa
aktivitas informal lebih berpengaruh daripada aktivitas formal. Kerja yang menyibukkan
tidaklah meningkatkan self esteem seseorang, tetapi interaksi yang bermakna dengan
orang lainlah yang lebih meningkatkan self esteem.
3. Teori kontinuitas
Berbeda dan kedua teori sebelumnya, di sini ditekankan pentingnya hubungan antara
kepribadian dengan kesuksesan hidup lansia. Menurut teori ini, ciri-ciri kepribadian
individu berikut strategi kopingnya telah terbentuk lama sebelum seseorang memasuki
usia lanjut. Namun, gambaran kepribadian itu juga bersifat dinamis dan berkembang
secara kontinu. Dengan menerapkan teori ini, cara terbaik untuk meramal bagaimana
seseorang dapat berhasil menyesuaikan diri adalah dengan mengetahui bagaimana orang
itu melakukan penyesuaian terhadap perubahan-perubahan selama hidupnya.
4. Teori subkultur
Pada teori subkultur (Rose, 1962) dikatakan bahwa lansia sebagai kelompok yang
memiliki norma, harapan, rasa percaya, dan adat kekhasan tersendiri, sehingga dapat
digolongkan selaku suatu subkultur. Akan tetapi, mereka ini kurang terintegrasi pada
masyarakat luas dan lebih banyak berinteraksi antar sesama mereka sendiri. Di kalangan
lansia, status lebih ditekankan pada bagaimana tingkat kesehatan dan kemampuan
mobilitasnya, bukan pada hasil pekerjaan/pendidikan/ekonomi yang pernah dicapainya.
Kelompok-kelompok lansia seperti ini bila terkoordinasi dengan baik dapat
menyalurkan aspirasinya, di mana secara teoretis oleh Para pakar dikemukakan bahwa
hubungan antar-peer group dapat meningkatkan proses penyesuaian pada masa lansia.
5. Teori stratifikasi usia
Teori ini yang dikemukakan oleh Riley (1972) yang menerangkan adanya saling
ketergantungan antara usia dengan struktur sosial yang dapat dijelaskan sebagai berikut.
(a)Orang-orang tumbuh dewasa bersama masyarakat dalam bentuk kohor dalam artian
sosial, biologis, dan psikologis. (b) Kohor baru terus muncul dan masing-masing kohor
memiliki pengalaman dan selera tersendiri. (c) Suatu masyarakat dapat dibagi ke dalam
beberapa strata sesuai dengan lapisan usia dan peran. (d) Masyarakat sendiri senantiasa
berubah, begitu pula individu dan perannya dalam masing-masing strata. (e) Terdapat
saling keterkaitan antara penuaan individu dengan perubahan sosial. Kesimpulannya
adalah, lansia dan mayoritas masyarakat senantiasa saling memengaruhi dan selalu
terjadi perubahan kohor inaupun perubahan dalam masyarakat.
6. Teori penyesuaian individu dengan lingkungan
Teori ini dikemukakan oleh Lawton (1982). Menurut teori ini, bahwa ada hubungan
antara kompetensi individu dengan lingkungannya. Kompetensi di sini berupa segenap
proses yang merupakan ciri fungsional individu, antara lain: kekuatan ego, keterampilan
inotorik, kesehatan biologik, kapasitas kognitif, dan fungsi sensorik. Adapun
lingkungan yang dimaksud mengenai potensinya untuk menimbulkan respons perilaku
dari seseorang. Bahwa untuk tingkat kompetensi seseorang terdapat suatu tingkatan
suasana/ tekanan lingkungan tertentu yang menguntungkan baginya. Orang yang
berfungsi pada level kompetensi yang rendah hanya mampu bertahan pada level tekanan
lingkungan yang rendah pula, dan sebaliknya. Suatu korelasi yang sering berlaku adalah
semakin terganggu (cacat) seseorang, maka tekanan lingkungan yang dirasakan akan
semakin besar.
7. Teori kultural
Ahli antropologi menjelaskan bahwa tempat kelahiran seseorang berpengaruh pada
budaya yang dianut oleh seseorang. Hal ini juga dipercaya bahwa kaum tua tidak dapat
mengabaikan sosial budaya mereka. Jika hal ini benar maka status tua dalam perbedaan
sosial dapat dijelaskan oleh sejarah kepercayaan dan tradisi.
Budaya adalah attitude, perasaan, nilai , dan kepercayaan yang terdapat pada suatu
daerah atau yang dianut oleh sekelompok orang kaum tua , yang merupakan kelompok
minoritas yang memiliki kekuatan atau pengaruh pada nilai budaya.Sehingga dapat
diambil kesimpulan bahwa budaya yang dimiliki seseorang sejak lahir akan tetap
dipertahankan sampai tua. Bahkan mempengaruhi orang orang disekitaryauntuk
mengikuti budaya tersebut sehingga tercipta kelestarian budaya.
8. Teori spiritual
Pada dasarnya, ketika seseorang menjadi tua akan menjadi :
1. Menjauhkan diri dari hawa nafsu duniawi
2. Melaksanakan amanah agama yang dianut, dengan berdoa demi kententraman
hidup pribadi dan orang lain
3. Menuju penyempurnaan diri dan mengarah pada pencerahan atau pemenuhan diri
untuk dapat mengarah pada kemanunggalan dengan Illahi
Melalui pengalaman hidup, setiap orang akan berupaya menjadi lebih arif dan akan
mengembangkan dirinya ke labih yang berarti : melalui prestasi yang diraihnya di kala
muda, seseorang akan berupaya meraih nilai-nilai luhur di hari tua khususnya
keserasian hidup dengan lingkungannnya.
Kegiatan-kegiatan yang bisa dilakukan oleh usia lanjut sebagai upaya dalam meniti dan
meningkatkan taraf kehidupan spiritual yang baik antara lain :
1. Mendalami kitab suci sesuai agama masing-masing supaya kekurangan dan
kesalahan yang sudah dilakukan dapat diperbaiki
2. Melakukan latihan meditasi
3. Berdoa untuk menjalin hubungan yang lebih dalam dengan Tuhan YME, dengan
berani dan terbuka mengakui kesalahan dan melakukan pertaubatan
4. Kotemplasi, pelibatan diri dalam kondisi dan situasi yang sesuai dengan kitab suci
dan diaplikasikan dalam kehidupan masa kini.
2.1.4 Perubahan psikososial pada lansia
Perubahan-perubahan yang terjadi pada lansia menurut Nugroho (2000 : 27 ) yaitu :
1. Pensiun
Nilai seseoarang sering di ukur oleh produktivitasnya dan identitas di kaitkan
dengan peranan dalam pekerjaan. Bila seorang pensiun (purna tugas) ia akan
mengalami kehilangan-kehilangan sebagai berikut :
1. Kehilangan financial (income berkurang)
2. Kehilangan status (dulu mempunyai jabatan posisi yang cukup tinggi,
lengkap dengan segala finansialnya)
3. Kehilangan teman
4. kehilangan pekerjaan.
2. Merasakan sadar akan kematian
3. Perubahan dalam dalam cara hidup, yaitu memasuki rumah perawatan bergerak
lebih sempit
4. Ekonomi akibat pemberhentian dari jabatan
Meningkatnya biaya hidup pada penghasilan yang sulit, bertambahnya biaya
pengobatan.
5. Penyakit kronis dan ketidakmampuan
6. Gangguan gizi
7. Kehilangan teman dan keluarga.
8. Berkurangnya kekuatan dan fisik : perubahan terhadap gambaran diri
Masalah psikososial yang dialami oleh lansia ini pertama kali mengenai sikap
mereka sendiri terhadap proses menua yang mereka hadapi, antara lain penurunan
badaniah atau dalam kebingungan untuk memikirkannya. Dalam hal ini di kenal apa
yang di sebut disengagement theory, yang berarti ada penarikan diri dari masyarakat
dan diri pribadinya satu sama lain. Pemisahan diri hanya dilakukan baru dilaksanakan
hanya pada masa-masa akhir kehidupan lansia saja. Pada lansia yang realistik dapat
menyesuaikan diri terhadap lingkungan baru. Karena telah lanjut usia mereka sering
dianggap terlalu lamban, dengan gaya reaksi yang lamban dan kesiapan dan kecepatan
bertindak dan berfikir yang menurun. Daya ingat mereka memang banyak yang
menurun dari lupa sampai pikun dan demensia, biasanya mereka masih ingat betul
peristiwa-peristiwa yang telah lama terjadi, malahan lupa mengenal hal-hal yang baru
terjadi.
2.2 PERAN PERAWAT
Peran perawat menurut Kusnanto (2004 : 84-87) :
1. Peran sebagai pemberi asuhan keperawatan ( care giver )
a. Peran sebagai pemberi asuhan keperawatan ini dapat dilakukan perawat dengan
memperhatikan keadaan kebutuhan dasar manusia yang dibutuhkan melalui pemberian
pelayanan keperawatan dengan menggunakan proses keperawatan sehingga dapat
ditentukan diagnosis keperawatan agar bias direncanakan dan dilaksanakan tindakan
yang tepat sesuai dengan tingkat kebutuhan dasar manusia, kemudian dapat dievaluasi
tigkat perkembangannya. Pemberihan asuhan keperawatan ini dilakukan dari yang
sederhana sampai yang komplek.
b. Dalam memberikan pelayanan / asuhan keperawatan, perawat memperhatikan
individu sebagai makhluk yang holistic dan unik.
c. Peran utamanya adalah memberikan asuhan keperawatan kepada klien yang meliputi
intervensi / tindakan keperawatan, observasi, pendidikan kesehatan, dan menjalankan
tindakan medis sesuai dengan pendelegasian yang diberikan.

2. Peran sebagai advokat klien (client advocate )
a. Sebagai advokat klien, perawat berfungsi sebagai penghubung antara klien dengan
tim kesehatan lain dalam upaya pemenuhan kebutuhan klien, membela kepentingan
klien dan membantu klien memahami semua informasi dan upaya kesehatan yang
diberikan oleh tim kesehatan dengan pendekatan tradisional maupun
professional.Sebagai pelindung perawat membantu mempertahankan lingkungan yang
aman bagi klien dan mengambil tindakan untuk mencegah terjadinya kecelakaan dan
melindungi klien dari kemungkinan.
b. efek yang tidak diinginkan dari suatu tindakan diagnostic atau pengobatan.
c. Peran advokasi sekaligus mengharuskan parawat bertindak sebagai narasumber dan
fasilitator dalam tahap pengambilan keputusan terhadap upaya kesehatan yang harus
dijalani oleh klien.
d. Dalam menjalankan peran sebagai advokat, perawat harus dapat melindungi dan
memfasilitasi keluarga dan masyarakat dalam pelayanan keperawatan.
e. Selain itu perawat juga harus dapat mempertahankan dan melindungi hak- hak klien.

3. Peran educator ( educator )
a. Peran ini dilakukan dengan membantu klien dalam meningkatkan tingkat
pengetahuan kesehatan, gejala penyakit bahkan tindakan yang diberikan, sehinga terjadi
perubahan perilaku dari klien setelah dilakukan pendidikan kesehatan. Sebagai
pendidik, perawat juga dapat memberikan pendidikan kesehatan kepada kelompok
keluarga.
b. yang beresiko tinggi, kader kesehatan, dan lain sebagainya.

4. Peran koordinator ( coordinator )
a. Peran ini dilaksanakan dengan mengarahkan, merencanakan serta mengorganisasi
pelayanan kesehatan dari tim kesehatan sehingga pemberian pelayanan kesehatan dapat
terarah serta sesuai dengan kebutuhan klien.
b. Perawat memanfaatkan sumber- sumber dan potensi yang ada, baik materi maupun
kemampuan klien secara terkoordinasi sehingga tidak ada intervensi yang terlewatkan
maupun tumpang tindih.
c. Dalam menjalankan peran sebagai coordinator perawat dapat melakukan hal- hal
berikut ;
1. Mengoordinasi seluruh pelayanan keperawatan
2. Mengatur tenaga keperawatan yang akan bertugas
3. Mengembangkan system pelayanan keperawatan
4. Memberikan informasi tentang hal- hal yang terkait dengan pelayanan
keperawatan pada sarana kesehatan


5. Peran kolaborator ( collaborator )
a. Peran perawat di sini dilakukan karena perawat bekerja melalui tim kesehatan yang
terdiri dari dokter, fisioterapis, ahli gizi, dan lain- lain dengan berupaya
mengidentifikasi pelayanan keperawatan yang diiperlukan termasuk diskusi atau tukar
pendapat dalam penentuan bentuk pelayanan selanjutnya.
b. Perawat bekerja sama dengan tim kesehatan lain dan keluarga dalam menentukan
rencana maupun pelaksanaan asuhan keperawatan demi memenuhi kebutuhhan
kesehatan klien.

6. Peran konsultan ( consultant )
a. Peran di sini adalah sebagai tempat konsultasi terhadap masalah atau tindakan
keperawatan yang tepat untuk diberikan.
b. Peran ini dilakukan atas permiintaan klien terhadap informasi tentang tujuan
pelayanan keperawatan yang diberikan.
c. Dengan peran ini dapat dikatakan, perawat adalah sumber informasi yang berkaitan
dengan kondisi spesifik klien.

7. Peran pembaharu ( change agent )
a. Sebagai pembaharu, perawat mengadakan inovasi dalam cara berpikir, bersikap,
bertingkah laku dan meningkatkan keterampilan klien / keluarga agar menjadi sehat.
b. Elemen ini mencakup perenccanaan, kerja sama, perubahan yang sistematis dalam
berhubungan dengan klien dan cara memberikan perawatan kepada klien.

2.3 Konsep keperawatan lansia
2.3.1 Pengertian Gerontologi dan Geriatri
Gerontologi adalah suatu pendekatan ilmiah dari berbagai aspek proses penuaan
yaitu biologis, psikologis, sosial, ekonomi, kesehatan, lingkungan, dan lain-lain (
Depkes RI, 2001)
Geriatri (Geros = usia lanjut), iatreia = merawat) adalah ilmu tentang merawat orang
yang berusia lanjut terhadap penyakitnya.
2.3.2 tujuan pelayanan geriatri
Tujuan pelayanan geriatri adalah sebagai berikut :
1. Mempertahankan derajat kesehatan setinggi-tingginya sehingga terhindar dari
penyakit atau gangguan/kesehatan .
2. Memelihara kondisi kesehatan dengan aktifitas fisik sesuai kemampuan dan
aktifitas mental yang mendukung
3. Melakukan diagnosis dini secara tepat dan memadai
4. Melakukan pengobatan yang tepat
5. Memelihara kemandirian secara maksimal
6. Tetap memberikan bantuan moril dan perhatian sampai akhir hayatnya agar
kematiannya berlangsung dengan tenang.

2.3.3 Prinsip-prinsip pelayanan geriatri
1. Pendekatan yang menyeluruh (biopsikososialspiritual)
2. Orientasi terhadap kebutuhan klien
3. Diagnosis secara terpadu
4. Team Work ( koordinasi)
5. Melibatkan keluarga dalam pelaksanaannya.
2.3.5 Keperawatan lanjut usia
Keperawatan gerontologi adalah ilmu yang mempelajari keperawatan pada lansia yang
berfokus pada pengkajian kesehatan, status fungsional, perencanaan, perencanaan,
implementasi, serta evaluasi ( Lueckerotte,2000)
Keperawatan geriatri adalah praktik perawatan yang berkaitan dengan penyakit pada
proses menua ( Lueckerotte,2000)
Keperawatan gerontik adalah suatu bentuk pelayanan keperawatan yang profesional
dengan mengunakan ilmu dan kiat keperawatan gerontik, mencakup biopsikososial dan
spiritual dimana klien adalah orang yang berusia > 60 tahun, baik kondisinya sehat
maupun sakit.
Tujuan keperawatan gerontik adalah memenuhi kenyamanan lansia, mempertahankan
fungsi tubuh, serta membantu lansia menghadapi kematian dengan tenang dan damai
melalui ilmu dan teknik keperawatan gerontik.
Lingkup asuhan keperawatan gerontik adalah pencegahan ketidakmampuan sebagai
akibat proses penuaan , perawatan untuk pemenuhan kebutuhan lansia, dan pemulihan
untuk mengatasi keterbatasan lansia.
Sifat asuhan keperawatan gerontik adalah independen(kolaborasi), humanistik, dan
holistik. Peran dan fungsi perawat gerontik adalah sebagai pendidik bagi lansia,
keluarga, dan masyarakat. Perawat juga dapat menjadi motivator dan inovator dalam
memberikan advokasi pada klien serta sebagai konselor. (( Eliopoulous, 2005 dan
Lueckerotte,2000)
Keperawatan kesehatan dasar adalah bantuan, bimbingan, penyuluhan, serta
pengawasan yang diberikan oleh tenaga keperawatan ( perawat, petugas panti terlatih)
untuk memenuhi kebutuhan dasar lansia. Pada lansia secara individu terjadi proses
kemunduran fungsi tubuh, baik secara biologis, psikologis, maupun sosial sehingga
dapat menimbulkan berbagai masalah.
2.3.6 Peran, Fungsi Dan Tugas Perawat Lansia Komunitas
Peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap
seseorang sesuai kedudukannya dalam, suatu system. Peran dipengaruhi oleh keadaan
sosial baik dari dalam maupun dari luar dan bersifat stabil. Peran adalah bentuk dari
perilaku yang diharapkan dari seesorang pada situasi sosial tertentu. (Kozier Barbara,
1995:21).
Peran perawat yang dimaksud adalah cara untuk menyatakan aktifitas perawat dalam
praktik, dimana telah menyelesaikan pendidikan formalnya yang diakui dan diberi
kewenangan oleh pemerintah untuk menjalankan tugas dan tanggung keperawatan
secara professional sesuai dengan kode etik professional.
Dalam Prakteknya Keperawatan Gerontik Meliputi Peran Dan Fungsinya Sebagai
Berikut:
1. Sebagai Care Giver /Pemberi Asuhan Langsung
Memberikan asuhan keperawatan kepada lansia yang meliputi intervensi/tindakan
keperawatan, observasi, pendidikan kesehatan, dan menjalankan tindakan medis sesuai
dengan pendelegasian yang diberikan.
2. Sebagai Pendidik Klien Lansia
Sebagai pendidik, perawat membantu lansia meningkatkan kesehatannya malalui
pemberian pengetahuan yang terkait dengan keperawatan dan tindakan medic yang
diterima sehingga klien/keluarga dapat menerima tanggung jawab terhadap hal-hal yang
diketahuinya. Sebagai pendidik, perawat juga dapat memberikan pendidikan kesehatan
kepada kelompok keluarga yang beresiko tinggi, kadar kesehatan, dan lain sebagainya.
3. Sebagai Motivator
Sebagai motivator,perawat memberikan motivasi kepada lansia.
4. Sebagai Advokasi
Sebagai advokat klien, perawat berfungsi sebagai penghubung antar klien dengan tim
kesehatan lain dalam upaya pemenuhan kebutuhan klien, membela kepentingan klien
dan membantu klien memahami semua informasi dan upeya kesehatan yang diberikan
oleh tim kesehatan dengan pendekatan tradisional maupun professional. Peran advokasi
sekaligus mengharuskan perawat bertindak sebagai narasumber dan fasilitator dalam
tahap pengambilan keputusan terhadap upaya kesehatan yang harus dijalani oleh klien.
Dalam menjalankan peran sebagai advokat, perawat harus dapat melindungi dan
memfasilitasi keluarga dan masyarakat dalam pelayanan keperawatan.
5. Sebagai Konselor
Memberikan konseling/ bimbingan kepada lansia, keluarga dan masyarakat tentang
masalah kesehatan sesuai prioritas. Konseling diberikan kepada individu/keluarga
dalam mengintegrasikan pengalaman kesehatan dengan penglaman yang lalu,
pemecahan masalah difokuskan pada masalah keperawatan, mengubah perilaku hidup
kea rah perilaku hidup sehat.
Menurut Eliopoulous tahun 2005, fungsi perawat gerontik adalah
1. Guide persons of all ages toward a healthy aging process.
(Membimbing orang pada segala usia untuk mencapai masa tua yang sehat.)
2. Eliminate ageism
(Menghilangkan perasaan takut tua)
3. Respect the rights of older adults and ensure others do the same.
(Menghormati hak orang dewasa yang lebih tua dan memastikan yang lain
melakukan hal yang sama
4. Overseeand promote the quality of service delivery
(Memantau dan mendorong kualitas pelayanan)
5. Notice and reduce risks to health and well-being
(Memerhatikan serta mengurangi risiko terhadap kesehatan dan kesejahteraan)
6. Teach and support ceregives
(Mendidik dan mendorong pemberi pelayanan kesehatan)
7. Open channels for continued growth
(Membuka kesempatan untuk pertumbuhan selanjutnya )
8. Listen and Support
(Mendengarkan dan memberi dukungan)
9. Offer optimism, encourgement and hope
(Memberikan semangat, dukungan dan harapan)
10. Generate, support, use, and participate in research
(Menghasilkan, mendukung, menggunakan, dan berpartisipasi dalam penelitian)
11. I mplement restorative and rehabilitative measures.
(Melakukan perawatan restoratif dan rehabilitatif )
12. Coordinate and managed care.
(Mengoordinasi dan mengatur perawatan)
13. Asses, plan, implement, and evaluate care in an individualized, holistic, maner )
(Mengkaji, merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi perawatan individu
dan perawatan secara menyeluruh)
14. Link service with needs.
(Memberikan pelayanan sesuai dengan kebutuhan)
15. Nurture future gerontological nurse for advancement of the specialty.
(Membangun masa depan perawat gerontik untuk menjadi ahli dibidangnya.)
16. Understandthe unique physical. Emotional, social, and spiritual aspects of each
other.
(Saling memahami keunikan pada aspek fisik, emosi, sosial dan spiritual.)
17. Recognice and encourage the appropriate management at ethical concern.
(Mengenal dan mendukung manajemen etika yang sesuai dengan tempatnya
bekerja)
18. Support and comforth throught the dying process
(Memberikan dukungan dan kenyamanan dalam menghadapi proses kematian.)
19. Bducate to promote self care and optimal independence.
(Mengajarkan untuk meningkatkan perawatan mandiri dan kebebasan yang
optimal).
Tugas-Tugas Perawat Dalam Setiap Teori Penuaan
2. Tugas Perawat Dalam Teori Sosial
Perawat sebaiknya memfasilitasi sosialisasi antar lansia dengan mengadakan diskusi
dan tukar pikiran serta bercerita sebagai salah satu upaya pendekatan sosial. Memberi
kesempatan untuk berkumpul bersama berarti menciptakan sosialisasi antar manusia,
yang menjadi pegangan bagi perawat bahwa orang yang dihadapinya adalah mahluk
sosial yang membutuhkan orang lain. Hubungan yang tercipta adalah hubungan sosial
antara werda dengan werda maupun werda dengan perawat sendiri.
Perawat memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada para werda untuk
mengadakan komunikasi, melakukan rekreasi seperti jalan pagi, menonton film atau
hiburan-hiburan lain karena mereka perlu diransang untuk mengetahui dunia luar. Dapat
disadari bahwa pendekatan komunikasi dalam perawatan tidak kalah pentingnya dengan
upaya pengobatan medis dalam proses penyembuhan atau ketenangan para klien lansia.
Menurut Drs H. Mannan dalam bukunya Komunikasi dalam Perawatan mengatakan :
tidak sedikit klien tidak bisa tidur karena stres. Stres memikirkan penyakitnya, biaya
hidup, keluarga yang dirumah, sehingga menimbulkan kekecewaan, rasa ketakutan atau
kekhawatiran, rasa kecemasan dan sebagainya. Untuk menghilangkan rasa jemu dan
menimbulkan perhatian terhadap sekelilingnya perlu diberikan kesempatan kepada
mereka untuk antara lain ikut menikmati keadaan diluar, agar mereka merasa masih ada
hubungan dengan dunia luar.
Tidak jarang terjadi pertengkaran dan perkelahian diantara mereka (terutama bagi yang
tinggal di panti werda ), hal ini dapat diatasi dengan berbagai usaha, antara lain selalu
mengadakan kontak sesama mereka, makan dan duduk nbersama, menanamkan rasa
kesatuan dan persatuan, senasib dan sepenanggungan, mengenai hak dan kewajiban
bersama. Dengan demikian perawat tetap mempunyai hubungan komunikasi baik
sesama mereka maupun terhadap petugas yang secara langsung berkaitan dengan
pelayanan klien lansia di panti werda.
3. Tugas Perawat dalam Teori Psikologi
Perawat mempunyai peranan penting untuk mengadakan pendekatan edukatif pada klien
lansia, perawat dapat berperan sebagai supporter, interpreter terhadap segala sesuatu
yang asing sebagai penampung rahasia yang pribadi dan sebagai sahabat yang akrab.
Perawat hendaknya memiki kesabaran dan ketelitian dalam memberikan kesempatan
dan waktu yang cukup banyak untuk menerima berbagai bentuk keluhan agar mereka
merasa puas.
Pada dasarnya klien lansia membutuhkan rasa aman dan cinta kasih dari lingkungannya
termasuk perawat yang memberikan perawatan. Untuk itu perawat harus menciptakan
suasana yang aman, tidak gaduh, membiarkan mereka melakukan kegiatan dalam batas
kemampuan dan hobby yang dimilikinya.
Perawat harus dapat membangkitkan semangat dan kreasi klien lansia dalam
memecahkan dan mengurangi rasa putus asa, rasa rendah diri, rasa keterbatasan, sebagai
akibat dari ketidakmampuan fisik dan kelainan yang dideritanya, hal ini perlu dilakukan
karena : perubahan psikologi terjadi bersama dengan makin lanjutnya usia. Perubahan-
perubahan ini meliputi gejala-gejala seperti menurunnya dayaingat untuk peristiwa yang
baru terjadi, berkurangnya kegairahan atau keinginan, peningkatan kewaspadaan,
perubahan pola tidur dengan suatu kecenderungan untuk tiduran di waktu siang dan
pergeseran libido.
Perawat harus sabar mendengarkan cerita-cerita yang membosankan, jangan
mentertawakan atau memarahi bila klien lansia lupa atau bila melakukan kesalahan.
Harus diingat, kemunduran ingatan akan mewarnai tingkah laku mereka dan
kemunduran ingatan jangan dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan tertentu.
Bila perawat ingin merubah tingkah laku dan pandangan mereka terhadap kesehatan,
perawatbisa melakukannya secara perlahan-lahan dan bertahap, perawat harus dapat
mendukung mental mereka ke arah pemuasan pribadi sehingga pengalaman yang
dilaluinya tidak menambah beban, bila perlu diusahakan agar di masa lansia ini mereka
tetap merasa puas dan bahagia.



















BAB III
3.1 Peran perawat melalui Pendekatan psikososial
Pendekatan psikososial menurut Wahyudi Nugroho ( 2000 : 61)
1. Pendekatan psikis
Disini perawat mempunyai peranan penting untuk mengadakan pendekatan edukatif
pada klien lanjut usia, perawat dapat berperan sebagai supporter , interpreter terhadap
segala sesuatu yang asing, sebagai penampung rahasia yang pribadi dan sebagai sahabat
yang akrab. Perawat hendaknya memiliki kesabaran dan ketelitian dalam memberikan
kesempatan dan waktu yang cukup banyak untuk menerima berbagai bentuk keluhan
agar para lanjut usia merasa puas. Perawat harus selalu memegang prinsip Tripple,
yaitu sabar, simpatik dan service.
Pada dasarnya klien lanjut usia membutuhkan rasa aman dan cinta kasih sayang dari
lingkungan, termasuk perawat yang memberikan perawatan.. Untuk itu perawat harus
selalu menciptakan suasana yang aman , tidak gaduh, membiarkan mereka melakukan
kegiatan dalam batas kemampuan dan hobi yang dimilikinya.
Perawat harus membangkitkan semangat dan kreasi klien lanjut usia dalam
memecahkan dan mengurangi rasa putus asa , rendah diri, rasa keterbatasan sebagai
akibat dari ketidakmampuan fisik, dan kelainan yang dideritanya.
Hal itu perlu dilakukan karena perubahan psikologi terjadi karena bersama dengan
semakin lanjutnya usia. Perubahan-perubahan ini meliputi gejala-gejala, seperti
menurunnya daya ingat untuk peristiwa yang baru terjadi, berkurangnya kegairahan atau
keinginan, peningkatan kewaspadaan , perubahan pola tidur dengan suatu
kecenderungan untuk tiduran diwaktu siang, dan pergeseran libido.
Perawat harus sabar mendengarkan cerita dari masa lampau yang membosankan, jangan
menertawakan atau memarahi klien lanjut usia bila lupa melakukan kesalahan . Harus
diingat kemunduran ingatan jangan dimanfaatkan untuk tujuan tertentu.
Bila perawat ingin merubah tingkah laku dan pandangan mereka terhadap kesehatan,
perawat bila melakukannya secara perlahan lahan dan bertahap, perawat harus dapat
mendukung mental mereka kearah pemuasan pribadi sehinga seluruh pengalaman yang
dilaluinya tidak menambah beban, bila perlu diusahakan agar di masa lanjut usia ini
mereka puas dan bahagia.
2. Pendekatan sosial
Mengadakan diskusi, tukar pikiran, dan bercerita merupakan salah satu upaya
perawat dalam pendekatan social. Memberi kesempatan untuk berkumpul
bersama dengan sesama klien usia berarti menciptakan sosialisasi mereka. Jadi
pendekatan social ini merupakan suatu pegangan bagi perawat bahwa orang
yang dihadapinya adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain
Penyakit memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada para lanjut usia
untuk mengadakan konunikasi dan melakukan rekreasi, misal jalan pagi, nonton
film, atau hiburan lain. Tidak sedikit klien tidak tidur terasa, stress memikirkan
penyakitnya, biaya hidup, keluarga yang dirumah sehingga menimbulkan
kekecewaan, ketakutan atau kekhawatiran, dan rasa kecemasan.
Tidak jarang terjadi pertengkaran dan perkelahian diantara lanjut usia, hal ini
dapat diatasi dengan berbagai cara yaitu mengadakan hak dan kewajiban
bersama. Dengan demikian perawat tetap mempunyai hubungan komunikasi
baik sesama mereka maupun terhadap petugas yang secara langsung berkaitan
Daftar Pustaka
Kusnanto, 2004. Pengantar Profesi & Praktik Keperawatan Professional. Jakarta :
EGC
Siti, Maryam. Dkk. 2008. Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya. Jakarta : Salemba.
Tamher, S.,Nookasiana.2009. Kesehatan Usia Lanjut Dengan Pendekatan Asuhan
Keperawatan. Jakarta : Salemba.
Lestari, Wenny. Peran Perawat lansia komunitas. URL :
https://id.scribd.com/doc/81026204/Peran-Perawat-Lansia-Komunitas diakses tanggal
30 Oktober 2014

Anda mungkin juga menyukai