Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN KASUS ORAL MEDICINE

ULKUS TRAUMATIKUS



A. Identitas Pasien
Nama : Novita Sari
TTL : Palembang, 15 Mei 1975
Suku : Palembang
Jenis Kelamin : Perempuan
Status Pernikahan : Menikah
Agama : Islam
Alamat : Perumahan Pusri Borang Blok AC-9 Sako- Palembang
Pendidikan Terakhir : SLTA
Pekerjaan : Ibu rumah tangga

B. Anamnesis
Keluhan Utama
Pasien datang dengan keluhan luka pada bibir atas kiri sebelah dalam karena
terbentur kurang lebih 3 hari yang lalu dan terasa sakit bila sedang makan dan berbicara
sejak kurang lebih 2 hari lalu. Pasien ingin lukanya dirawat.


Keluhan Tambahan
Tidak ada
Riwayat perawatan gigi
Belum pernah dirawat gigi
Kebiasaan buruk
Tidak ada
Riwayat penyakit sistemik
Pasien menyangkal pernah mengidap penyakit sistemik
Riwayat Sosial
Pasien memiliki pemahaman kesehatan gigi yang cukup baik, berasal dari keluarga
dg perekonomian cukup baik.
C. Pemeriksaan Ekstra Oral
Wajah : Simetri
Bibir : Sehat
KGB : Kanan tidak teraba, tidak sakit
Kiri tidak teraba, tidak sakit
D. Pemeriksaan Intra Oral
Debris : Ada pada region A dan C
Plak : Ada pada regio A dan C
Kalkulus : Ada pada regio A dan C
Perdarahan Papila Interdental : Ada pada regio A dan C
Gingiva : Free gingiva di regio A dan C berwarna kemerahan, mudah
berdarah saat diperiksa dengan probe. Tidak sakit saat dipalpasi.
Mukosa : terdapat lesi berupa ulcer di mukosa bibir atas kiri, berwarna
Putih dengan batas kemerahan, berbentuk oval dengan diameter
Kurang lebih 1 cm, terasa sakit saat dipalpasi.
Palatum : Sehat
Lidah : Sehat
Dasar Mulut : Sehat
Kelainan gigi geligi : Tidak ada
OHI-S : 0,7 (DI : 0,33 ; CI : 0,33)

E. Pemeriksaan Gigi Geligi dan Jaringan Penyangga
1. Lesi D3 gigi 16
2. Fraktur gigi 11 dan 21
F. Pemeriksaan Penunjang
Tidak dilakukan
G. Diagnosa Sementara
Diagnosa sementara : Ulkus Traumatikus
Diagnosa Banding : Stomatitis Apthousa Recurrent (SAR), Squamous cell carcinoma






H. Tinjauan Pustaka
Ulkus/ulcer traumatikus adalah lesi yang biasa terjadi dalam rongga mulut, dapat
disebabkan oleh trauma kimia, trauma termal, maupun trauma mekanis seperti permukaan
gigi yang patah dan tajam, permukaan tumpatan yang kasar, dental instrument, iritasi oleh
gigi tiruan, tergigit, dll. Gambaran klinis ulkus traumatikus bervariasi, tetapi biasanya
tampak sebagai lesi tunggal yang sakit saat dipalpasi, berwarna merah atau putih
kekuningan dibatasi oleh lingkaran berwarna merah.
1,2

Perawatan ulkus traumatikus relatif sederhana, yaitu dengan menghilangkan faktor
penyebab. Penggunaan obat kumur antiseptic seperti chlorhexidine 0,2% juga cukup
membantu serta penggunaan topical steroid dalam waktu singkat untuk lesi yang rasa
sakitnya mengganggu.
1,2,3
Dalam waktu 6-10 hari setelah faktor penyebab dihilangkan,
biasanya sudah terjadi penyembuhan lesi tanpa terbentuk jaringan parut. Jika dalam waktu
10-12 hari ulkus masih persisten, perlu dilakukan biopsi dan pemeriksaan laboratorium
patologi anatomi untuk melihat kemungkinan terjadinya keganasan.
1,2

I. Pembahasan Kasus dan Penegakan Diagnosa
Penegakan diagnosa pada kasus ini dilakukan dengan memperhatikan pemeriksaan
subjektif (anamnesa) dan pemeriksaan objektif. Pasien mengeluhkan luka pada bibir atas
kiri sebelah dalam karena terbentur kurang lebih 3 hari yang lalu dan terasa sakit bila
sedang makan dan berbicara sejak kurang lebih 2 hari lalu. Dari anamnesa, dapat diketahui
bahwa penyebab ulcer adalah trauma mekanis, dari hal ini diagnosa banding RAS dapat
kita kesampingkan.
Setelah dilakukan pemeriksaan objektif, ditemukan lesi berupa ulcer di mukosa
bibir atas kiri, berwarna putih dengan batas kemerahan, berbentuk oval dengan diameter
kurang lebih 1 cm, terasa sakit saat dipalpasi. Dari hasil pemeriksaan subjektif, dapat
diambil beberapa poin bahwa penyebab ulcer pada mukosa bibir atas kiri tersebut adalah
trauma kurang lebih 3 hari yang lalu, ulcer sakit saat dipalpasi, berwarna putih dengan
batas merah. Diagnosa banding squamous cell carcinoma baru dapat disingkirkan bila
ulcer telah sembuh dalam waktu 6-10 hari. Bila ulcer persisten setelah 10-12 hari,
dilakukan biopsi dan pemeriksaan histopatologi untuk memastikan apakah ulcer tersebut
awal dari lesi squamous cell carcinoma atau bukan. Untuk sementara, diagnosa kerja kasus
ini adalah ulkus/ulcer traumatikus.

J. Rencana Perawatan
Fase I (Etiotropi)
DHE, KP, edukasi pasien untuk menghindari trauma berulang pada tempat yang sama

Fase II (Bedah)
Tidak dilakukan

Fase III (Konservatif)
Tidak dilakukan

Fase IV (Maintenance & Rehabilitatif)
Pemberian resep kenalog in orabase, kontrol penyembuhan luka, DHE, KP




K. Perawatan dan Hasilnya
Pada tanggal 12 Agustus 2014, pasien datang pertama kali, dilakukan perawatan
berupa pemberian resep kenalog in orabase dioleskan 3 kali sehari pada luka. Pasien
diminta kontrol 1 pekan berikutnya.
Pada tanggal 19 Agustus 2014 pasien datang untuk kontrol I. Lesi sudah mengecil,
tetapi warna mukosa di bekas lesi masih berwarna sedikit kemerahan, tidak sakit saat
dipalpasi. Pada kontrol I, diagnosa banding squamous cell carcinoma sudah dapat
disingkirkan. Diberikan DHE dan instruksi KP untuk pasien. Tidak dilakukan lagi
pemberian resep, pasien diminta untuk kontrol II satu pekan kemudian.
Pada tanggal 26 Agustus 2014 pasien datang kembali untuk kontrol II. Lesi sudah
menunjukkan penyembuhan sempurna yang ditandai dengan hilangnya ulcer, warna
mukosa di lokasi bekas lesi berwarna sama dengan warna mukosa sekelilingnya dan tidak
sakit saat dipalpasi. Pasien kembali diberikan DHE dan instruksi kontrol plak.






Lesi Awal Kontrol I

Kontrol II

L. Kesimpulan
Ulkus/ulcer traumatikus adalah lesi yang biasa terjadi dalam rongga mulut, dapat
disebabkan oleh trauma kimia, trauma termal, maupun trauma mekanis seperti permukaan
gigi yang patah dan tajam, permukaan tumpatan yang kasar, dental instrument, iritasi oleh
gigi tiruan, tergigit, dll. Gambaran klinis ulkus traumatikus bervariasi, tetapi biasanya
tampak sebagai lesi tunggal yang sakit saat dipalpasi, berwarna merah atau putih
kekuningan dibatasi oleh lingkaran berwarna merah.
Pada pasien ini diagnosa kerja ulkus/ulcer traumatikus dapat ditegakkan pada
pertemuan pertama, dengan catatan diagnosa banding squamous cell carcinoma belum
dapat disingkirkan hingga kontrol. Setelah kontrol dan terjadi penyembuhan, diagnosa
banding squamous cell carcinoma baru dapat disingkirkan. Perawatan ulcer dinyatakan
selesai setelah kontrol ke II dan ulcer telah sembuh sempurna.

M. Daftar Pustaka
1. Laskaris, G., 2006. Pocket Atlas of Oral Disease 2
nd
Edition. New York: Thieme page
138.
2. Field, A. dkk, 2003. Tyldesleys Oral Medicine 5
th
Edition. London: Oxford
University Press.
3. Regezi, J.A., 2003. Oral Pathology 4
th
Edition. Missouri: Saunders inc. pages 23-26