Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN PRAKTIKUM

LABORATORIUM PILOT PLANT


Screening

DISUSUN OLEH:
NAMA/NIM

: 1. Junedi Bidangan (11 614 029)


2. Namri

(11 614 018)

3. Ria Nurfikasari

(11 614 023)

KELOMPOK

: III (Tiga)

KELAS

: VI B

DOSEN PEMBIMBING

: Mardhiyah Nadir, ST, MT

LABORATORIUM PILOT PLANT


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA
TAHUN 2014
BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Tujuan Percobaaan
1. Menentukan ukuran partikel pada No. Mesh 8, 10,12, 14, 16 dan 18 Mesh

2. Dapat menentukan dan mengetahui nilai TAAD (True Arithmatic Diameter), Dp (Mean Surface Diameter), dan Dv (Mean
Volume Diameter).
3. Evaluasi hasil analisis ayakan (pengaruh amplitudo (getaran) pengayakan terhadap massa oversize hasil ayakan, TAAD, Dp,
dan Dv)
1.2

Dasar Teori

1.2.1 Pengertian Screening


Screening atau penyaringan adalah suatu proses pemisahan secara mekanik berdasarkan perbedaan ukuran partikel suatu
material. Screening sering dipakai dalam skala industri, sedangkan penyaringan (sieving) dipakai untuk skala laboratorium. Dengan
screening, dapat dipisahkan antara partikel lolos ayakan (btir halus) dan yang tertinggal diayakan (butir kasar). Ukuran butiran
tertentu yang masih bisa melintasi ayakan dinyatakan sebagai butiran batas.
Adapun beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengayakan, yaitu :
1. Jenis ayakan
2. Cara pengayakan
3. Kecepatan pengayakan
4. Ukuran ayakan
5. Waktu pengayakan
6. Sifat bahan yang akan diayak

Pengayak terbuat dari kawat dengan ukuran lubang tertentu. Istilah mesh digunakan untuk menyatakan jumlah lubang tiap
inci linear (Parrot,1970). Tabel 1.1 Menggambarkan nomor standar ayakan dan masing-masing lubang ayakan dinyatakan dalam
milimeter dan mikrometer.
Tabel 1.1. Lubang dari Ayakan Standar (sumber: USP XXI-NF XVI)

Salah satu yang harus diperhatikan dalam pengayakan adalah jenis ayakannya. Berdasarkan gerak pengayak, alat ayakan
dibagi menjadi 2 jenis, yaitu stationary screen dan dynamic screen. Beberapa alat ayakan dynamic screen, yaitu:
1.

Vibrating Screen, permukaannya horizontal dan miring digerakkan pada frekuensi tinggi (1000-7000 Hz). Satuan kapasitas
tinggi, dengan efisiensi pemisahan yang baik, yang digunakan untuk range yang luas dari ukuran partikel. Gambar 1.i.
menunjukkan jenis ayakan model vibrating screen.

Gambar 1.1. Ayakan Jenis Vibrating Screen


2.

Occilating Screen, dioperasikan pada frekuensi yang lebih rendah dari vibrating screen (100-400 Hz) dengan waktu yang lebih
lama, lebih linier dan tajam.

3. Reciprocating Screen, dioperasikan dengan gerakan menggoyang, pukulan yang panjang (20-200 Hz). Digunakan untuk
pemindahan dengan pemisahan ukuran. Gambar 1.2. menunjukkan jenis ayakan model reciprocating screen.

Gambar 1.2. Ayakan jenis reciprocating screen


4. Shifting Screen, dioperasikan dengan gerakan dalam bidang permukaan ayakan. Gerakan aktual dapat berupa putaran atau
gerakan memutar. Digunakan untuk pengayakan material basah atau kering.
5. Resolving Screen, ayakan miring berotasi pada kecepatan rendah (910-20 rpm). Digunakan untuk pengayakan basah dari
material-material yang relatif kasar, tetapi memiliki pemindahan yang kasar dengan vibrating screen.
Hasil dari suatu pengayakan adalah produk dengan ukuran-ukuran partikel tertentu. Produk dari proses pengayakan ada dua
macam, yaitu:
1. Ukuran lebih besar daripada ukuran lubang-lubang ayakan (oversize)
2. Ukuran yang lebih kecil daripada ukuran lubang-lubang ayakan (undersize)
Dalam proses industri, biasanya digunakan material yang berukuran tertentu dan seragam. Untuk memperoleh ukuran yang
seragam, maka perlu dilakukan pengayakan. Pada proses pengayakan zat padat itu dijatuhkan atau dilemparkan ke permukaan
pengayak. Partikel yang di bawah ukuran atau yang kecil (undersize), atau halusan (fines), lulus melewati bukaan ayak, sedang yang
di atas ukuran atau yang besar (oversize), atau buntut (tails) tidak lulus. Pengayakan lebih lazim dalam keadaan kering (McCabe,
1999).
1.2.2 Vibrating Screen

Vibrating screen adalah peralatan sieving yang digunakan untuk penyaringan atau memisahkan material padatan berdasarkan
ukuran partikel suatu material. Vibrating sieve disusun seri dimana getarannya ada yang dihasilkan dari getaran mekanis dan eksetris,
yang langsung dihasilkan dari permukaan ayakan. Mekanisme eksetris yaitu semua elektromagnet, seperti berhenti atau meletakkan
unsur ulet untuk memperkuat atau memperhebat getaran efek. Sedangkan getaran mekanis adalah getaran yang disebabkan oleh
pergerakan alat, terdiri dari palu (hammers), cams, eksentrik, shaker, pemutar dan beberapa kombinasi mekanis lainnya
(Brown,1950). Vibrating screen yang biasa digunakan dalam skala laboratorium adalah vibrating screen yang digerakkan secara
mekanis menggunakan shaker atau disebut screen shaker.
Mesin pengayak atau vibrator screen ini terbuat dari plat stainless steel dengan frame berbahan besi. Terdiri dari beberapa
lapisan screen sieve berbahan stainless steel yang disusun seri . Dimana lapisan paling bawah adalah apisan untuk menampung bahan
hasil ayakan, sedangkan lapisan-lapisan diatasnya digunakan untuk menyaring dengan ukuran partikel hasil ayakan yang berbedabeda.
Prinsip kerja mesin ini adalah menyesuaikan amplitudo melalui tube-shaped violent vibration screen. Mesin bergetar dengan
berputar seperti lingkaran sehingga material dapat tersaring.
1.2.3 Tujuan Pengayakan
1. Mempersiapkan produk umpan (feed) yang ukurannya sesuai untuk beberapa proses berikutnya.
2. Mencegah masuknya mineral yang tidak sempurna dalam peremukan (Primary crushing) atau oversize ke dalam proses
pengolahan berikutnya, sehingga dapat dilakukan kembali proses peremukan tahap berikutnya (secondary crushing).
3. Untuk meningkatkan spesifikasi suatu material sebagai produk akhir.

4. Mencegah masuknya undersize ke permukaan. Pengayakan biasanya dilakukan dalam keadaan kering untuk material kasar,
dapat optimal sampai dengan ukuran 10 in (10 mesh). Sedangkan pengayakan dalam keadaan basah biasanya untuk
material yang halus mulai dari ukuran 20 in sampai dengan ukuran 35 in.
1.2.4 Kapasitas Screen
Kapasitas screen secara umum tergantung pada (Kelly, 1982):
1. Luas penampang screen
2. Ukuran bahan
3. Sifat dari umpan seperti: berat jenis, kandungan air, temperatur
4. Tipe mechanical screen yang digunakan
1.2.5 Standar Ukuran Ayakan (screen)
Ukuran yang digunakan bisa dinyatakan dengan mesh maupun mm (metrik). Yang dimaksud mesh adalah jumlah lubang yang
terdapat dalam satu inchi persegi (square inch), sementara jika dinyatakan dalam mm maka angka yang ditunjukkan merupakan besar
material yang diayak.
Perbandingan antara luas lubang bukaan dengan luas permukaan screen disebut prosentase opening. Pelolosan material dalam
ayakan dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu :
1.

Ukuran material yang sesuai dengan lubang ayakan

2.

Ukuran rata-rata material yang menembus lubang ayakan

3.

Sudut yang dibentuk oleh gaya pukulan partikel

4.

Komposisi air dalam material yang akan diayak

5.

Letak perlapisan material pada permukaan sebelum diayak


Dalam pengayakan melewatkan bahan melalui ayakan seri (sieve shaker) yang mempunyai ukuran lubang ayakan semakin

kecil. Setiap pemisahan padatan berdasarkan ukuran diperlukan pengayakan. Screen mampu mengukur partikel dari 76 mm sampai
dengan 38 m.
Operasi screening dilakukan dengan jalan melewatkan material pada suatu permukaan yang banyak lubang atau opening
dengan ukuran yang sesuai. Dari hasil screening akan didapatkan 2 fraksi yaitu yaitu fraksi oversize dan fraksi undersize. Fraksi
oversize adalah padatan yang tertahan diatas ayakan akibat diameter partikel padatan lebih besar daripada diameter lubang yang ada
pada ayakan. Fraksi undersize adalah padatan yang berhasil lolos dari ayakan karena diameter partikel padatan lebih kecil daripada
diameter lubang yang ada pada ayakan. Untuk lebih jelasnya mengenai tinjauan pada sebuah ayakan perhatikan gambar 1.3.

Gambar 1.3. Tinjauan sebuah ayakan


Jika ayakan lebih dari 2 ayakan yang berbeda ukuran lubangnya, maka akan diperoleh fraksi-fraksi padatan dengan ukuran
padatan sesuai dengan ukuran lubang ayakan. Pengayakan biasanya dilakukan dalam keadaan kering untuk material kasar, dapat
optimal sampai dengan ukuran 10 in (10 mesh). Sedangkan pengayakan dalam keadaan basah biasanya untuk material yang halus
mulai dari ukuran 20 in sampai dengan ukuran 35 in.

1.2.6 Analisis Data Ukuran Partikel Menggunakan Vibrating SieveScreen Shaker


1. Penyajian data distribusi ukuran suatu campuran (particle size distribution)
Ditinjau : Sejumlah campuran partikel diayak dalam suatu susunan ayakan, di laboratorium (menggunakan sieve shaker)

Gambar 1.4 Contoh Hasil Pengayakan


a.

Masing-masing padatan yang diperoleh

ditimbang dan dijumlahkan


b.

Setiap ayakan ukuran tertentu dihitung

fraksi massa partikel yang lolos


c.

Fraksi massa yang tertahan

dan

diameter rata-ratanya,
d.

Data

ditabulasikan,
e. Data di atas disajikan dalam gra
Keterangan:
Fraksi massa partikel yang tertahan =
Fraksi massa partikel yang lolos=
Tabel 1.2 Beberapa cara menyebutkan fraksi ukuran

fraksi

massa

dan

diameter

No

Cara I

Cara II

Cara III

Oversize 48 mesh

+48

+48

Through 48 on 65

-48+65

48/65

Through 65 on 100

-65+100

65/100

Undersize 100 in

-100

100/0

2. Average Particle Size


Beberapa karakter padatan yang dapat dianalisis dari data hasil ayakan:
a. Average diamater (Davg)
Diameter yang jika dikalikan dengan jumlah partikel akan memberikan jumlah total diameter dalam campuran itu.
Diameter average x (jumlah partikel) = D total campuran.
b. Average surface
Surface average x (jumlah partikel) = surface total
c. Average volume (Vavg)
Volume average x (jumlah partikel) = surface total
d. verage mass (Mavg)
Mass average x (jumlah partikel) = massa total
Beberapa dimensi atau ukuran yang digunakan untuk menyatakan ukuran suatu campuran antara lain:

1.

True Arithmatic Average Diameter (TAAD)

Misal: Hasil analisis ayakan suatu campuran adalah sebagai berikut:


Mesh

Davg

Fraksi Massa

Jumlah Partikel

D1

X1

N1

D2

X2

N2

....

....

....

....

....

....

....

....

....

Dst
Diameter total = N1.D1 + N2.D2+ N3.D3+..+= (Ni . Di )
Jumlah partikel total = N1 + N2 + N3 +......................= (Ni)
Dalam prakteknya, menghitung jumlah partikel sangatlah sulit, lebih menentukan massa dari masing-masing
ukuran. Oleh karena itu, dicari hubungan antara jumlah partikel dengan massa pada masing-masing ukuran tersebut.
Pendekatan yang diambil sebagai berikut :
Ditinjau untuk partikel berukuran Di:
[massa total partikel] = [jumlah partikel] x [massa sebuah partikel]

Dengan,
[massa sebuah partikel =

x [volum sebuah partikel]

Volum sebuah partikel = c x Di2


Dengan c = untuk partikel berbentuk bola
c = 1 untuk partikel berbentuk kubus
Jika M = massa total campuran, maka:
[massa total partikel berukuran Di] = M x Xi
Persamaan pendekatan menjadi :
(M . Xi) = Ni x ( . c . Di3)
Ni =
Maka jumlah partikel campuran total :

Sehingga:

Keterangan:
M = massa partikel (gram)
= berat jenis partikel (gram/in3)
Xi = fraksi massa partikel
Di = Diameter partikel (in)
2.

Mean Surface Diameter (Dp)


Diameter yang dapat mewakili untuk menghitung luas permukaan total.
(luas permukaan dengan Dp) x (jumlah total partikel) = (luas permukaan total)
Jika bentuk bola, luas permukaan

D2

Sehingga:

Keterangan:
Xi = fraksi massa partikel
Di = Diameter partikel (in)

3. Mean Volume Diameter (Dv)


Diameter yang dapat mewakili untuk menghitung volume total campuran.
[volum partikel dengan Dv] x [jumlah total partikel] = [volum partikel total]
Dengan,
[volum partikel total] = [vol D1 x N1] + [vol D2 x N2] + ....
c . Di3 . Ni]
c . Dv3 .

= c . Di3 . Ni]

Keterangan:
Xi = fraksi massa partikel
Di = Diameter partikel (in)
c = konstanta partikel
1.2.7 Pengukuran Berat Jenis Zat Padat
Massa jenis atau berat jenis adalah pengukuran massa setiap satuan volume benda. Semakin tinggi massa jenis suatu
benda, maka semakin besar pula massa setiap volumenya. Massa jenis rata-rata setiap benda merupakan total massa dibagi dengan
total volumenya. Satuan SI massa jenis adalah kilogram per meter kubik (kg/m3).

Setiap jenis zat padat memiliki massa jenis yang berbeda. Berat jenis zat padat dapat dihitung dengan bantuan piknometer
maupun gelas ukur. Pengukuran berat jenis zat padat menggunakan gelas ukur dapat dilakukan dengan mengisi gelas ukur dengan
beberapa mL air kemudian zat padat yang akan diukur berat jenisnya ditimbang terlebih dahulu agar massa zat tersebut diketahui dan
setelah diketahui massanya dimasukkan ke dalam gelas ukur yang telah diisi dengan air tadi, sehingga volume zat padat tadi dapat
diketahui melalui gelas ukur. Berat jenis zat padat dapat diketahui dengan rumus.

Keterangan:
= massa jenis zat (g/ml)
= massa zat padat (gram)
= volume zat padat (ml)

BAB II
METODOLOGI

2.1 Alat dan Bahan :


Alat Yang Digunakan :
a. Alat Screening
b. Palu
c. Neraca Digital
d. Plastik
Bahan Yang Digunakan :
a. Batubara yang telah dikeringkan dan digerus sebanyak 500 gram

2.2 Prosedur Kerja :


a. Mengecilkan ukuran batubara yang telah dijemur dengan menggunakan palu, hingga ukuran yang lebih kecil (disesuaikan
dengan ukuran ayakan).
b. Menimbang sebanyak 500 g batubara yang telah dikecilkan dengan menggunakan nerca digital.
c. Menyusun alat screening sesuai urutan nomer ayakan.

d. Memasukkan batubara yang telah ditimbang dan diperkecil ke dalam alat screening.
e. Menutup dan merapatkan alat.
f. Mengatur kecepatan amplitudo untuk screening.
g. Menunggu proses screening selama 10 menit.
h. Mengeluarkan dan menimbang jumlah batu bara yang lolos ataupun tertinggal di setiap nomer ayakan.

BAB III
PENGOLAHAN DATA

3.1 Data Pengamatan


Tabel 1. Data Variasi vibrating pada waktu 4 menit dengan massa 500gr

Vibrating (amplitudo)

no ayakan
(mesh)

20

30

40

50

400.9

311.3

232.0

226.7

25.3

27.0

42.1

43.9

10

8.4

8.8

20.9

24.7

12

7.7

9.9

17.1

20.8

14

8.3

19.8

24.6

27.7

16

6.6

4.8

22.9

20.5

18

35.4

27.3

45.7

43.4

Wadah dasar

Tabel 2. Data Variasi Waktu pada Vibrating 50 mesh dengan massa 500gr
Waktu

No Ayakan (mesh)

(menit)
4
8
12
16

10

12

14

16

18

226.7
216.9
212.3
210.2

43.9
48.6
49.5
49.7

24.7
25.9
26.7
26.6

20.8
20.2
19.9
19.2

27.7
26.8
26.0
24.6

20.5
25.2
25.1
26.1

wadah
dasar
43.4
44.2
45.6
46.9

Tabel 3. Hasil Perhitungan

No.
1
2
3
4
5
6
7

Rentang Ukuran
(Nomor Ayakan)
+8
-8+10
-10+12
-12+14
-14+16
-16+18
-18

Rentang
Ukuran
(Mesh)
-7+8
-8+9
-9+10
-10+12
-12+14
-14+16
-16+20

(D -)
(inch)

(D+)
(inch)

0.111
0.0937
0.0787
0.0661
0.0555
0.0469
0.0394

0.0937
0.0787
0.0661
0.0555
0.0469
0.0394
0.0331

DAVG

Massa(gram)

Xi

0.1024
0.0862
0.0724
0.0608
0.0512
0.0432
0.0363
0.4524

220.5
47.1
32.5
39.2
24.3
22.9
113.5
500

0.4410
0.0942
0.0650
0.0784
0.0486
0.0458
0.2270
1.0000

Xi/Di

Xi/Di3

4.3087 411.32
1.0928 147.07
0.8978 171.28
1.2895 348.82
0.9492 362.10
1.0614 570.06
6.2621 4765.43
15.8615 6776.08

Dp
(inch)

0.0484

BAB IV
PEMBAHASAN
Pada praktikum screening ini bertujuan untuk mengetahui cara-cara menetukan ukuran partikel, melakukan analisa data
ukuran partikel menggunakan screen shaker, dan mengevaluasi hasil analisis ayakan. Pada praktikum kali ini cara menentukan
ukuran partikel adalah dengan menggunakan alat screen shaker yaitu merupakan ayakan bertingkat yang digetarkan dengan nomor

ayakan dari atas berturut-turut dari nomor 8,10,12,14,16,18 dan wadah dasar. Dimana partikel yang akan ditentukan ukurannya
adalah batu bara lignite. Proses pengayakan dilakukan selama 4 menit dengan variasi nilai amplitudo 20, 30,40, dan 50.
Dari hasil percobaan dengan pengayakan selama 4 menit, diperoleh fraksi massa oversize pada masing-masing ayakan sebesar
0.4410 untuk no mesh 8, 0.0942 untuk no mesh ayakan 10, 0.0650 untuk ayakan no 12 mesh, 0.0784 untuk ayakan no 14 mesh,
0.0486 umtuk ayakan no 16 mesh, 0.0458 untuk ayakan no 18 mesh dan 0.2270 untuk no ayakan 20 mesh. Sehingga jika ditotal
fraksi massa total sebesar 1 dan dapat dikeahui tidak ada massa yang terjatuh atau hilang. Hasil analisis diperoleh jika semakin besar
no mesh ayakan maka partikel yang tertahan diatasnya (oversize) semakin sedikit. Jumlah partikel oversize pada no mesh kecil (no.8)
semakin sedikit seiring dengan penambahan waktu pengayakan.
Analisis ukuran partikel yang dilakukan adalah TAAD, Dp, Dv, dan total surface diameter. Dari hasil analisis nilai yang
TAAD, Dp, Dv, dan total surface diameter terbesar diperoleh TAAD pada vibrating ayakan 50 sebesar 1.48E-7 in. nilai Dp sebesar
0.0435 in dan nilai Dv sebesar 0.04661 in, serta total surface diameter sebesar 6776.08.
Dp (Mean Surface Diameter), TAAD (True Arithmatic Diameter), dan Dv (Mean Volume Diameter). Dari praktikum ini, nilai
TAAD, Dv dan Dp pada amplitudo 50 lebih besar dibanding amplitudo 40 (dapat dilihat pada tabel 1 dan 2 hasil perhitungan) ini
menunjukkan bahwa partikel pada amplitudo 40 ukurannya lebih kecil dibanding partikel amplitudo 50. Hal ini disebabkan proses
pengecilan ukuran tidak menggunakan crusher namun secara manual.
Pada praktikum ini, hasil ayakan pada amplitudo 40 massa yang lolos sebesar 45,7 gram sedangkan pada amplitudo 50 massa
yang lolos lebih kecil sebesar 43,4 gram dengan waktu tetap yaitu 4 menit. Seharusnya, massa yang lolos pada amplitudo 50 lebih
besar karena getaran yang semakin besar menyebabkan partikel yang lolos akan semakin banyak. Namun, pada praktikum ini hasil
ayakan pada amplitudo 40 lebih besar, hal ini dikarenakan ukuran sampel batubara yang digunakan tidak sama antara proses ayakan
pada amplitudo 40 dan 50. Dimana, partikel sampel batubara pada amplitudo 40 lebih kecil partikelnya dibanding partikel pada

amplitudo 50 tapi dengan variasi waktu hasil ayakan pada amplitude 50 lebih banyak dengan waktu 16 menit, hal ini menunjukkan
semakin lama waktu getaran maka semakin banyak hasil ayakan.

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :
1. Amplitudo getaran yang terbaik adalah pada amplitudo 50 yaitu 46,9 gram
2. Nilai Dp amplitudo 50 yaitu 0,0435 in
3. Nilai TAAD amplitudo 500 yaitu 1.48E-7 in
4. Nilai Dv amplitudo 50 yaitu 0.04661
5. Adanya perbedaan distribusi partikel dan nilai Dp, Dv dan TAAD pada variasi amplitudo disebabkan oleh kurang seragamnya ukuran
partikel pada proses screening.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009.Berat Jenis. Dalam : http://fredi-36a1.blogspot.com/2009/11/berat-jenis.html. diakses pada: 03 April 2013. 21.15
WITA.

Arifin, Z., ST, M.Eng. 2009. Modul Ajar Perlakuan Mekanik Th. 2012-2013. Samarinda : Politeknik Negeri Samarinda

Mahlifati

R.

A,

Hafiidh,

H.S.N,

dan

Purbandari,

P.

2012.

Hubungan

Ukuran

Partikel

dan

Pengayakan.

Dalam:http://tsffarmasiunsoed2012.wordpress.co
m/2012/05/23/hubungan-ukuran-partikel-dan-pengayakan/. Diakses pada: Senin, 1 April 2013 21:04.

McCabe,Warren L,dkk. 1999. Operasi Teknik Kimia. Jilid 2. Edisi keempat. Diterjemahkan oleh: Ir. E.Jasjfi,M.Sc. Jakarta:
Erlangga.

Parrot, L.E. 1970. Pharmaceutical Technologi. Mineapolish: Burgess Publishing Company.


Prabowo, H., 2009. Tugas Perlakuan Mekanik Neraca Bahan Pada Pengayakan. Padang : Akademi Teknologi Industri Padang.

LAMPIRAN

Contoh Perhitungan

Menghitung Diameter rata-rata pada ukuran 8 mesh dan 10 mesh (data diameter 8,10,12,14,16,18 dan 20 mesh dilihat pada tabel
1)

Menghitung fraksi massa partikel yang tertahan

Menggunakan cara yang sama untuk diameter (10 dan 12 mesh), (12 dan 14 mesh), (14 dan 16 mesh), (16 dan 18 mesh) dan (18
dan 20 mesh)

Menghitung Means Surface Diameter (Dp)

Menghitung Dv (Mean Volum Diameter)

Menghitung TAAD Untuk Amplitudo 50 :

Karena

(berat jenis) dari batu bara belum diketahui, maka cara menentukannya adalah dengan pendekatan pada prinsip

Arrhenius :

Diketahui :
Massa batu bara = 3 g
Massa gelas ukur + air 10 ml = 9,56 g
Massa gelas ukur + air 10 ml + massa batu bara = 12,60 g
Volume air pada gelas ukur (a) = 10 ml
Volume air + batu bara 3 g (b) = 12,7 ml
Volume yang naik = b a = 12,7 ml 10 ml = 2,7 ml

Ditanya :

Jawab :

Kurva kesetimbangan
1
0.95
0.9
0.85
0.8
0.75
0.7
0.65
0.6
0.55
0.5
0.45
0.4
0.35
0.3
0.25

0.2
0.15
0.1
0.05
0
0

0.05

0.1

0.15

0.2

0.25

0.3

0.35

0.4

0.45

0.5

0.55

0.6

0.65

0.7

0.75

0.8

0.85

0.9

0.95