Anda di halaman 1dari 19

Resiko Deteksi dan Perancangan Pengujian Substantif

Menentukan Resiko Deteksi :


Pengertian risiko deteksi adalah risiko bahwa auditor tidak akan dapat mendeteksi salah satu
material yang ada dalam suatu asersi.
Pengertian rencana risiko deteksi adalah dasar untuk menetapkan rencana tingkat pengujian
substantif yang ditentukan oleh auditor sebagai komponen ke empat atau terakhir dalam
penetapan strategi audit awal untuk suatu pernyataan/asersi. Merancang pengujian substantif
meliputi :Sifat, Waktu, Luas Pengujian, Penentuan staf audit.
Rencana risiko deteksi ditentukan berdasarkan hubungan yang dinyatakan dengan model sebagai
berikut .
RD = RA/RB x RP
Keterangan :
RA = Risiko Audit
RB = Risiko Bawaan
RP = Risiko Pengendalian
RD = Risiko Deteksi
Rencana risiko deteksi adalah dasar untuk menetapkan rencana tingkat pengujian substantif yang
ditentukan oleh auditor sebagai komponen keempat atau terakhir dalam penetapan strategi audit
awal untuk suatu asersi.
Hubungan antara strategi, resiko deteksi, audit pendahuluan, pengujian substantif
Strategi
Audit Resiko Deteksi yang Memperoleh
Tingkat Pengujian
Pendahuluan
Direncanakan
Keyakinan
yang Substantif
yang
Direncanakan dari : Direncanakan
Pendekatan
Rendah atau sangat Pengujian
rincian Tingkat yang lebih
pengujian substantif rendah
atas transaksi dan tinggi
yang menekankan
saldo
pengujian rincian
Tingkat
resiko Sedang atau tinggi
Pengujian
Tingkat yang lebih
pengendalian yang
pengendalian
rendah
dinilai lebih rendah
Pendekatan
Rendah atau sangat Prosedur analitis
Tingkat yang lebih
pengujian substantif rendah
tinggi
utama
yang
menekankan
prosedur analitis
Penekanan
pada Sedang atau tinggi
Bukti
mengenai Tingkat sedang atau
resiko bawaan dan
resiko bawaan dan rendah
prosedur analitis
prosedur analitis
Risiko deteksi terencana merupakan ukuran risiko bahwa bukti audit atas segmen tertentu akan
gagal mendeteksi keberadaan salah saji yang melebihi suatu nilai salah saji yang masih dapa
ditoleransi. Jika nilai risiko deteksi terencana berkurang, maka auditor harus mengumpulkan
lebih banyak bukti audit untuk mencapai nilai risiko deteksi yang berkurang, risiko ini
menentukan nilai bukti subtantif yang direncanakan oleh auditor untuk dikumpulkan.
EVALUASI ATAS RENCANA TINGKAT PENGUJIAN SUBSTANTIF

Apabila tingkat risiko pengendalian akhir sama dengan tingkat risiko pengendalian awal, auditor bisa
melangkah ke tahap perancangan pengujian substantif spesifik berdasarkan rencana tingkat pengujian
substantif yang telah ditetapkan sebagai komponen ke empat dari strategi audit awal. Namun apabila
tidak, tingkat pengujian substantif harus direvisi sebelum merancang pengujian substantif spesifik untuk
mengakomodasi tingkat risiko deteksi yang bisa diterima setelah direvisi.

MEREVISI RENCANA RISIKO DETEKSI


Apabila memungkinkan, tingkat risiko deteksi yang dapat diterima akhir ( setelah direvisi )
ditetapkan untuk setiap asersi dengan cara yang sama seperti rencana risiko deteksi, kecuali
bahwa penetapannya didasarkan pada risiko pengendalian sesungguhnya atau akhir bukan pada
rencana tingkat risiko pengendalian untuk asersi yang bersangkutan. Apabila auditor
memutuskan untuk mengkuantifikasi penetapan risiko, maka tingkat risiko deteksi setelah
direvisi dapat ditentukan dengan menyelesaikan persamaan dalam model risiko audit untuk
risiko deteksi. Jika risiko tidak dikuantifikasi, risiko deteksi setelah direvisi ditentukan
berdasarkan pertimbangan
PENETAPAN RESIKO DETEKSI UNTUK PENGUJIAN SUBSTANTIF YANG BERBEDA ATAS
ASERSI YANG SAMA

Risiko deteksi menyangkut risiko bahwa semua pengujian substantif yang digunakan untuk
mendapatkan bukti tentang suatu asersi, secara kolektif akan gagal dalam mendeteksi salah saji
material. Dalam merancang pengujian substantif, auditor kadang kadang menginginkan untuk
menetapkan tingkat risiko deteksi berbeda yang akan digunakan dalam pengujian substantif yang
berbeda pula mengenai asersi yang sama. Sebagai contoh, berdasarkan aumsi bahwa bukti yang
diperoleh dari suatu pengujian atau sejumlah pengujian akan mengurangi risiko salah saji
material tetap tak terdeteksi setelah pengujian atau pengujian pengujian dilakukan, maka akan
lebih tepat untuk menggunakan tingkat risiko deteksi lebih tinggi untuk pengujian selebihnya.
PERANCANGAN PENGUJIAN SUBSTANTIF
Untuk mendapatkan dasar yang masuk akal dalam memberi pendapat atas laporan keuangan
kliennya, auditor harus memperoleh bukti kompeten yang cukup seperti disyaratkan oleh standar
pekerjaan lapangan ketiga dalam standar auditing. Pengujian substantif di satu sisi bisa
menghasilkan bukti tentang kewajaran setiap asersi laporan keuangan yang signifikan, dan di sisi
lain pengujian substantif juga bisa menghasilkan bukti yang menunjukkan adanya kekeliruan
jumlah rupiah atau salah saji dalam pencatatan atau pelaporan transaksi dan saldo saldo.
Perancangan pengujian substantif meliputi penentuan sifat, saat, dan luas pengujian yang
diperlukan untuk memenuhi tingkat risiko deteksi yang dapat diterima untuk setiap asersi.
SIFAT PENGUJIAN SUBSTANTIF
Sifat pengujian substantif berhubungan dengan jenis dan keefektivan prosedur pengauditan yang
akan dilakukan. Bila tingkat risiko deteksi yang diterima rendah maka auditor harus
menggunakan prosedur yang lebih efektif dan biasanya lebih mahal. Dan bila risiko deteksi yang
diterima tinggi auditor menggunakan prosedur yang kurang efektif yang biasanya lebih murah.
Pengujian substantif terdiri dari 3 jenis :

Prosedur Analitis Digunakan dalam perencanaan audit untuk mengidentifikasi daerah daerah
atau tempat yang memiliki risiko tinggi terjadinya salah saji.
Pengujian Detail Transaksi Pengujian ini dilakukan auditor terutama untuk menemukan
kesalahan jumlah rupiah bukan atas penyimpangan atas pengendalian.
Pengujian Detail atas Saldo Saldo Dilakukan untuk mendapatkan bukti bukti secara langsung
tentang sebuah saldo rekening dan bukan pada masing masing pendebetan atau pengkreditan
yang telah menghasilkan saldo tersebut.
Prosedur analitis
Fungsi prosedur analisis : Digunakan dalam perencanaan audit untuk mengidentifikasi daerah
daerah atau tempat-tempat yang memiliki risiko lebih tinggi untuk terjadinya salah saji,
Digunakan pada tahap pengujian sebagai pengujian substantif untuk mendapatkan bukti tentang
asersi tertentu, Digunakan sebagai pelengkap atas pengujian detil, tetapi dalm situasi yang lain
prosedur ini justru bisa menjadi pengujian substantif yang utama.
PSA No 22, Prosedur Analitis (SA 329.11), menyatakan bahwa efektivitas dan efisiensi prosedur
analisis tergantung pada : Sifat asersi, Kelayakan dan kemampuan untuk memprediksi suatu
hubungan, Tersedianya dan keandalan data yang digunakan untuk membuat taksiran, Ketepatan
taksira.
Apabila hasil prosedur analisis sesuai dengan taksiran, dan tingkat risiko deteksi yang bisa
diterima untuk asersi tinggi, maka auditor tidak perlu melakukan pengujian detil. Prosedur ini
biasanya tidak begitu mahal biaya pelaksanaannya.Oleh karena itu, auditor dapat
mempertimbangkan penggunaan prosedur ini untuk mencapai tingkat risiko deteksi yang dapat
diterima sebelum memutuskan untuk melakukan pengujian detil.
Pengujian detil transaksi
Pengujian detil transaksi terutama berupa penelusuran (tracing) dan pencocokan ke dokumen
pendukung (voucbing). Pengujian dilakukan auditor terutama untuk menentukan kesalahan
jumlah rupiah, bukan pada penyimpangan atas pengendalian. Penelusuran berguna dalam
pengujian atas pelaporan terlalu
rendah (understatement), sedangkan pencocokan ke dokumen terutama ditunjukkan untuk
menemukan pelaporan terlalu tinggi (overstatement). Hasil pengujian digunakan untuk menarik
kesimpulan tentang saldo rekening yang bersangkutan. Pengujian biasanya dilakukan dengan
menggunakan dokumen-dokumen yang terdapat dalam arsip klien. Efektivitas pengujian
tergantung pada prosedur dan dokumen yang digunakan. Efisiensi biaya akan tercapai bila
auditor melaksanakan pengujian berbarengan dengan pengujian pengendalian yang disebut
pengujian bertujuan ganda. Kekurangan dari pengujian ini adalah banyaknya waktu yang tersita,
lebih mahal bila dibandingkan dengan review analistsis, akan tetapi
metode ini masih lebih murah jika dibandingkan dengan pengujian detil atas saldo saldo.
Pengujian detil saldo-saldo
Pengujian detil atas saldo-saldo dilakukan untuk mendapatkan bukti secara langsung tentang
sebuah saldo rekening, dan bukan pada masing-masing pendebetan atau pengkreditan yang telah
menghasilkan saldo tersebut. Efektivitas pengujian tergantung pada prosedur yang digunakan
dan bukti yang diperoleh.
Penerapan ketiga jenis pengujian substantif dapat digambarkan dalam konteks rekening-rekening
berikut :

Untuk menentukan saldo akhir telah disajikan secara wajar, auditor harus mempertimbangkan
untuk mendapatkan bukti dari berbagai pengujian substantif sebagai berikut :
Prosedur analisis, meliputi:
Perbandingan antara nilai absolute saldo akhir tahun ini dalam rekening kontrol dengan saldo
akhir yang lalu,jumlah menurut anggaran, atau ekspetasi lain.
Menggunakan saldo akhir untuk menentukan persentase piutang dagang terhadap aktiva lancar
untuk dibandingkan dengan persentase tahun lalu, data industri, atau nilai ekspektasi lain.
Menggunakan saldo akhir untuk menghitung rasio perputaran piutang untuk dibandingkan
dengan perputaran piutang tahun lalu, data industri, atau nilai ekspektasi lain.
Pengujian detil transaksi, meliputi:
Suatu sampel pendebetan dan pengkreditan atas rekening-rekening piutang.
Penelusuran data transaksi dari bukti transaksi dan jurnal ke pendebetan dan pengkreditan dalam
rekening-rekening piutang.
Pengujian detil saldo-saldo, meliputi:
Menentukan total semua saldo akhir piutang dagang dalam buku pembantu, sama dengan saldo
piutang dagang di rekening control.
Mengkonfirmasi saldo akhir sejumlah rekening piutang langsung ke debitur atau pelanggan.
Dalam hal piutang dagang, ketiga jenis pengujian subtantif di atas semuanya dapat diterapkan.
Sedangkan untuk rekening rekening yang lain, terkadang yang dapat diterapkan hanya satu
atau dua jenis saja untuk mendapatkan bukti yang cukup untuk memenuhi tingkat risiko deteksi
yang dapat diterima.Untuk
menentukan bahwa rekening penjualan telah dilaporkan dengan jumlah yang wajar, auditor bisa
mendapatkan bukti melalui hal-hal berikut :
Prosedur analisis. Prosedur-prosedur yang dilakukan meliputi:
Perbandingan antara jumlah absolute saldo akhir dengan saldo akhir tahun lalu, jumlah menurut
anggaran, atau nilai ekspetasi lain.
Perbandingan antara saldo akhir dengan saldo akhir menurut estimasi independen.
Pengujian detil transaksi. Prosedur-prosedur audit yang dilakukan meliputi:
Pencocokan ke dokumen pendukung atas setiap pengkreditan dengan pendebetan ke rekening
piutang dagang, bukti pengiriman barang, dan order penjualan.
Menelusur data transaksi dari dokumen dasar.
Pengujian detil saldo-saldo
Mengingat bahwa penjualan memiliki hubungan langsung dengan piutang dagang, maka
berbagai bukti yang diperoleh untuk pengujian detil atas saldo piutang dagang dapat juga
digunakan sebagai bukti untuk saldo rekening penjualan.
SAAT PENGUJIAN SUBSTANTIF
Tingkat risiko deteksi yang dapat diterima bias berpengaruh pula pada saat pengujian substantif.
Bila risiko deteksi tinggi pengujian bisa dilakukan beberapa bulan seblum akhir tahun, apabila
risiko deteksi rendah pengujian substantif akan dilakukan pada tanggal akhir tahun atau
mendekati akhir tahun.
PENGUJIAN SUBSTANTIF SEBELUM TANGGAL NERACA

Auditor bisa melakukan pengujian substantif atas detil suatu rekening pada tanggal interim.
Keputusan untuk melakukan pengujian sebelum tanggal neraca harus didasarkan pada
pertimbangan apakah auditor dapat :
Mengendalikan tambahan risiko.
Mengurangi biaya untuk melaksanakan pengujian substantif pada akhir tahun.
Kondisi-kondisi yang bisa berpengaruh pada pengendalian risiko :
Struktur pengendalian intern selama periode tersisa cukup efektif
Tidak terdapat keadaan atau kondisi yang mempengaruhi manajemen untuk membuat salah saji
dalam laporan keuangan selama periode tersisa.
Saldo rekening akhir tahun yang diperiksa pada tanggal interim bias diprediksi secara masuk
akal, baik mengenai jumlah, hubungan signifikan, maupun komposisinya.
System akuntansi klien akan memberi informasi mengenai transaksi tak biasa yang signifikan
yang mungkin terjadi pada periode tersisa.
Pengujian substantif sebelum tanggal neraca tidak meninggalkan kebutuhan akan pengujian
substantif pada tanggal nereca. Pengujian untuk periode tersisa harus mencakup :
Perbandingan saldo rekening-rekening pada dua tanggal untuk mengidentifikasi jumlah-jumlah
yang nampak tidak biasa dan menyelidiki atas jumlah-jumlah tersebut.
Prosedur analisis lain atau pengujian substantif detil lainnya untuk mendapatkan dasar yang
layak untuk memperluas kesimpulan audit interim ke tanggal neraca.
LUAS PENGUJIAN SUBSTANTIF
Auditor bisa menentukan jumlah bukti yang harus diperoleh dengan mengubah luas pengujian
substantif yang dilakukan. Luas dalam praktik mengandung arti banyaknya item ada besarnya
sampel yang dilakukan pengujian atau diterapkan prosedur tertentu. Penentuan sampel secara
statistik dalam pengujian substantif dapat dilakukan untuk membantu auditor dalam menentukan
ukuran sampel yang diperlukan untuk mencapai suatu tingkat risiko deteksi.
PENGEMBANGAN PROGRAM AUDIT UNTUK PENGUJIAN SUBSTANTIF

Perancangan pengujian substatif meliputi penentuan sifat, saat, dan luasnya pengujian substantif
untuk setiap asersi laporan keuangan yang signifikan. Auditor menghubungkan asersi-asersi,
tujuan, khusus audit,dan pengujian substantif dalam mengembangkan program audit tertulis
untuk pengujian substantif.
Tujuan suatu audit laporan keuangan secara keseluruhan adalah untuk menyatakan pendapat
apakah laporan keuangan klien telah disajikan secara wajar, dalam segala hal yang material,
sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Dalam merancang pengujian subtantif,
auditor harus menenukan bahwa pengujian yang tepat telah diidentifikasi untuk mencapai tujuan
audit spesifik yang berkaitan dengan setiap asersi.

Program Audit Untuk Pengujian Substantif


Program audit adalah daftar prosedur-prosedur audit yang harus dilakukan. Sebagai tambahan
daftar prosedur audit, setiap program audit harus memiliki kolom-kolom untuk :
Suatu referensi silang ke kertas kerja lain yang berisi bukti yang diperoleh dari setiap prosedur
(bila memungkinkan).
Paraf auditor yang malaksanakan masing-masing prosedur.
Tanggal pelaksanaan prosedur diselesaikan.

1.
2.
3.

4.

5.

Dampak praktik, auditor kadang-kadang membuat rincian yang berbeda untuk hal-hal tertentu
dalam program auditnya. Dalam keadaan bagaimanapun program audit hendaknya cukup detil
agar dapat memberikan :
Garis-garis besar pekerjaan yang akan dilakukan.
Dasar untuk koordinasi, supervise, dan pengawasan audit.
Catatan mengenai pekerjaan yang dilakukan.
Rerangka Umum Pengembangan Program Audit Untuk Pengujian Substantif
Apabila program audit dibuat untuk piutang dagang dan investasi jangka pendek, maka langkah
audit yang perlu dilakukan :
Verifikasi kebeneran penjumlahan dan tentukan kecocokan antara rekening control piutang
dagang.
Verifikasi kebenaran penjumlahan dan tentukan kecocokan rekening investasi di buku besar
dengan daftar detil investasi.
Rerangka Umum untuk pengembangan program audit untuk pengujian substantif
Perencanaan Awal
Identifikasi asersi-asersi laporan keuangan yang harus dicakup oleh program audit.
Kembangkan tujuan-tujuan audit spesifik untuk setiap kategori asersi.
Tentukan risiko bawaan dan risiko pengendalian, dan tentukan pula tingkat risiko deteksi akhir
untuk setiap asersi, sejalan dengan tingkat risiko audit keseluruhan dan tingkat materialistas yang
dapat diterima.
Berdasarkan pengetahuan yang diperoleh dari prosedur-prosedur untuk mendapatkan
pemahaman mengenai kebijakan dan prosedur pengendalian intern yang relevan, bayangkan
catatan akuntansi, dokumen pendukung, dan proses akuntansi, dan proses pelaporan keuangan
yang berhubungan dengan asersi-asersi.
Pertimbangkan pilihan-pilihan yang berhubungan dengan perancangan pengujian substantif:
Alternatif untuk mengakomodasi berbagai tingkat resiko deteksi yang dapat diterima:
Sifat :
Prosedur analitis
Pengujian detail transaksi
Pengujian detail saldo-saldo
Saat: Interim atau akhir tahun
Luas: Besarnya sampel
Berbagai tipe bukti pendukung yang mungkin tersedia:
Analisis dokumen
perhitungan fisik
Konfirmasi elektonik pernyataan tertulis lisan
Berbagai tipe prosedur audit yang tersedia.
Prosedur analitis
Konfirmasi
Teknik audit
Perhitungan
Pengajuan
pertanyaan
Pencocokan ke dokumen
Pengerjaan ulang

observasi
Inspeksi
Penelusuran
berbantuan Computer

Pengujian substantif untuk dimasukkan ke dalam program audit

1. Tentukan prosedur awal untuk :


Menelusur saldo awal ke kertas kerja tahun lalu (jika mungkin dilakukan)
Mereview aktivitas dalam rekening buku besar dan menyelediki hal hal yang tidak biasa.
Memeriksa kebenaran penjumlahan pada catatan pendukung atau daftar untuk digunakan pada
pengujian berikutnya, dan memeriksa kecocokannya dengan saldo di buku besar, untuk
meyakinkan adanya kecocokan diantara keduanya.
2. Tentukan prosedur analitis yang akan digunakan
3. Tentukan pengujian detail transaksi yang akan dilakukan
4. Tentukan pengujian detail saldo-saldo yang akan dilakukan (sebagai tambahan atas 1a, b, c
diatas)
5. Pertimbangkan apakah ada ketentuan atau prosedur khusus yang bias diterapkan pada asersi
yang sedang diuji, seperti prosedur-prosedur yang ditetapkan PSA (sebagai contoh, keharusan
untuk melakukan observasi perhitungan fisik persediaan), atau yang ditetapkan oleh instansi lain
yang berwenang yang belum termasuk pada (3) dan (4) diatas.
Tentukan prosedur-prosedur untuk menentukan kesesuain dengan penyajian dan pengungkapan
menurut prinsip-prinsip akuntansi berlaku umum.

Program Audit Dalam Penugasan Pertama


Dua hal yang memerlukan pertimbangan khusus dalam merancang program audit untuk audit
sebagai penugasan pertama :
Penentuan ketetapan saldo-saldo awal rekening pada periode yang diaudit.
Penentuan prinsip-prinsip akuntansi yang digunakan pada periode yang lalu sebagai dasar untuk
menentukan konsistensi penerapan prinsip tersebut pada periode berjalan.
Program Audit Dalam Penugasan Ulang
Dalam penugasan ulang, auditor memiliki akses pada semua program yang digunakan pada
periode yang lalu dan kertas kerja yang berkaitan dengan program tersebut. Setrategi awal
biasanya ditetapkan auditor berdasarkan asumsi bahwa tingkat risiko dan program audit untuk
pengujian substantif yang digunakan pada periode yang lalu akan tetap digunakan pada periode
berjalan. Oleh karena itu, program audit untuk penugasan tahun berjalan sering kali disusun
sebelum auditor menyelesaikan kegiatan mempelajari dan menilai struktur pengendalian intern.

PERTIMBANGAN-PERTIMBANGAN KHUSUS DALAM PERANCANGAN


PENGUJIAN SUBSTANTIF
Rekening-Rekening Laba-Rugi
Secara tradisional pengujian detil saldo rekening lebih difokuskan pada rekening-rekening
laporan keuangan yang disajikan dalam neraca (rekening riil) dibandingkan dengan rekeningrekening laba rugi (rekening nominal).pendekatan ini efisien dan logis karena setiap rekening
laba rugi pasti akan terkait dengan satu atau lebih rekening neraca.
1. Prosedur analisis untuk rekening-rekening laba-rugi
Prosedur analisis bisa menjadi alat auditor dalam mendapatkan bukti tentang saldo-saldo
rekening laba-rugi. Jenis pengujian substantif bias digunakan secara langsung atau tidak
langsung. Pengujian langsung
terjadi bila sebuah rekening pendapatan atau rekening biaya dibandingkan dengan data yang
relevan untuk menentukan kewajaran saldonya.
2. Pengujian detil untuk rekening-rekening laba-rugi

Apabila bukti yang diperoleh dari prosedur analisis dan dari pengujian detil atas rekening neraca
yang berkaitan tidak mengurangi risiko deteksi pada tingkat rendah yang dapat diterima, maka
diperlukan
pengujian detil langsung atas asersi-asersi yang berhubungan dengan rekening-rekening labarugi. Hal ini terjadi apabila :
Risiko bawaan tinggi.
Risiko pengendalian tinggi.
Prosedur analisis menunjukkan adanya hubungan tidak biasa dan fluktuasi tak diharapkan.
Rekening memerlukan analisis.
Rekening-rekening yang biasanya membutuhkan analisis terdiri dari :
Biaya hukum dan honorarium konsultan
Biaya reparasi dan pemeliharaan
Biaya perjalanan dan representasi
Gaji dan biaya direksi
Pajak dan lisensi
Biaya sewa dan loyalitas
Biaya sumbangan
Biaya advertensi

Rekening-Rekening yang Berkaitan dengan Estimasi Akuntansi


Estimasi akuntansi adalah perkiraan mengenai suatu elemen laporan keuangan, pos, atau
rekening yang terjadi bila tidak bisa diukur secara pasti.estimasi akuntansi mempunyai pengaruh
signifikan terhadap laporan keuangan perusahaan. PSA No. 37, Audit atas Estimasi Akuntansi
(SA 342.07) menyatakan bahwa tujuan auditor dalam mengevaluasi estimasi akuntansi adalah
untuk memperoleh bukti audit kompeten yang cukup untuk memberikan keyakinan memadai
bahwa :
Semua estimasi akuntansi yang material bagi laporan keuangan telah ditetapkan.
Estimasi akuntansi tersebut masuk akal dalam kondisi yang bersangkutan.
Estimasi akuntansi disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku dan diungkap secara
memadai.
Untuk mengevaluasi kepantasan suatu taksiran akuntansi, SA 342.09 menjelaskan bahwa auditor
biasanya memusatkan terhadap faktor-faktor asumsi kunci yang :
Signifikan terhadap estimasi akuntansi
Peka terhadap perubahan
Penyimpangan dari pola histories
Subjektif dan rawan terhadap salah saji serta bias
Bukti tentang kepantasan suatu estimasi bisa diperoleh auditor melalui satu atau kombinasidari
pendekatan-pendekatan berikut :
Mereview dan uji proses yang digunakan oleh manajemen dalam menyusun estimasi.
Membuat ekspetasi terpisah tentang estimasi.
Mereview peristiwa atau transaksi kemudian yang terjadi sebelum selesainya pekerjaan
lapangan.
Prosedur-prosedur yang dilakukan meliputi :
Pertimbangan relevansi, keandalan, dan kecukupan data dan faktor faktor lain yang digunakan
manajemen.

Mengevaluasi kepantasan dan konsistensi asumsi-asumsi.


Mengerjakan ulang perhitungan yang telah dilakukan manajemen.
Rekening-Rekening Berkaitan dengan Transaksi dengan Pihak yang Memiliki Hubungan
Istimewa
Tujuan auditor dalam pengauditan atas transaksi-transaksi yang dilakukan dengan pihak-pihak
yang memiliki hubungan istimewa adalah untuk mendapatkan bukti mengenai tujuan, sifat, dan
luasnya transaksi ini serta dampaknya terhadap laporan keuangan. PSA No. 34, Pihak yang
Mamiliki Hubungan Istimewa (SA 334.09) menyatakan bahwa pengujian substantif harus
meliputi hal-hal berikut :
Memahami tujuan transaksi dari usaha.
Memeriksa faktur dan mereview surat perjanjian, kontrak, dan dokumen relevan lainnya.
Menentukan apakah transaksi telah disetujui oleh dewan komisaris, atau direksi atau pejabat
yang berwenang.
Melakukan pengujian kewajaran terhadap jumlah yang diungkapkan, atau yang
dipertimbangkan untuk diungkapkan dalam laporan keuangan.
Mengatur audit atas rekening koran antar perusahaan yang dilaksanakan pada tanggal yang
bersamaan.
Menginspeksi atau mengkonfirmasi dan memperoleh keyakinan atas nilai, dan mudah atau
tidaknya jaminan dialihkan.
PROGRAM AUDIT DALAM PENUGASAN PERTAMA
Dua hal yang memerlukan pertimbangan khusus dalam merancang program audit untuk audit
dalam penugasan pertama adalah :
Penentuan ketepatan saldo saldo awal rekening pada periode yang diaudit
Penentuan prinsip-prinsip akuntansi yang digunakan pada periode yang lalu sebagai dasar untuk
menentukan konsistensi penerapan prinsip tersebut pada periode berjalan.
PROGRAM AUDIT DALAM PENUGASAN ULANGAN
Dalam suatu penugasan ulangan, auditor memiliki akses pada semua program yang digunakan
pada periode yang lalu dan kertas kerja yang berkaitan dengan program tersebut. Dalam situasi
demikian, strategi awal audit biasanya ditetapkan auditor berdasarkan asumsi bahwa tingkat
risiko dan program audit untuk pemgujian substantif yang digunakan pada periode yang lalu
akan tepat digunakan pada periode berjalan.
- See more at: http://markdebie.blogspot.com/2011/04/resiko-deteksi-danperancangan.html#sthash.XUNMFwKS.dpuf
RISIKO DETEKSI DAN RANCANGAN UJI SUBSTANTIF

A. PENENTUAN RISIKO DETEKSI


Risiko deteksi adalah risiko bahwa auditor tidak akan dapat mendeteksi salah saji
material yang ada dalam suatu asersi. Suatu rencana tingkat risiko deteksi yang bisa diterima
harus ditetapkan untuk setiap asersi laporan keuangan yang signifikan. Apapun tingkat risiko

yang digunakan auditor ( cara kualitatif atau cara non-kuantitatif ), rencana risiko deteksi
ditentukan berdasarkan hubungan yang dinyatakan dengan model sebagai berikut :
RA
RD =
RB x RP

Model di atas menunjukkan bahwa pada suatu tingkat risiko audit tertentu (RA) yang
ditetapkan auditor, risiko deteksi (RD) adalah berhubungan terbalik dengan tingkat risiko
bawaan (RB) dan risiko pengendalian (RP) yang ditentukan. Apabila digunakan dalam tahap
perencanaan untuk menetapkan rencana risiko deteksi, maka RP mencerminkan rencana tingkat
risiko pengendalian yang ditetapkan sebagai komponen pertama dari strategi audit awal.
Rencana risiko deteksi adalah dasar untuk menetapkan rencana tingkat pengujian
substantif yang ditentukan oleh auditor sebagai komponen terakhir dalam penetapan strategi
audit awal untuk suatu asersi.
1. Evaluasi Atas Rencana Tingkat Pengujian Substantif
Setelah mendapat pemahaman tentang kebijakan dan prosedur struktur pengendalian
intern yang relevan dan menentukan risiko pengendalian untuk asersi-asersi laporan keuangan,
auditor harus membandingkan antara tingkat risiko pengendalian sesungguhnya dengan rencana
tingkat risiko pengendalian untuk asersi yang bersangkutan. Apabila tingkat risiko pengendalian
akhir sama dengan tingkat risiko pengendalian awal, auditor bisa melangkah ke tahap
perancangan pengujian substantif spesifik berdasarkan rencana tingkat pengujian substantif yang
telah ditetapkan sebagai komponen terakhir dari strategi audit awal. Namun apabila tidak, tingkat
pengujian substantif harus direvisi sebelum merancang pengujian substantif spesifik untuk
mengakomodasi tingkat risiko deteksi yang bisa diterima setelah direvisi.
2. Merevisi Rencana Risiko Deteksi
Apabila memungkinkan, tingkat risiko deteksi yang dapat diterima setelah direvisi
ditetapkan untuk setiap asersi dengan cara yang sama seperti rencana risiko deteksi, kecuali

bahwa penetapannya didasarkan pada risiko pengendalian sesungguhnya bukan pada rencana
tingkat risiko pengendalian untuk asersi yang bersangkutan.

B.

PENETAPAN RISIKO DETEKSI UNTUK PENGUJIAN

SUBSTANTIF YANG

BERBEDA ATAS ASERSI YANG SAMA


Dalam merancang pengujian substantif, auditor kadang kadang menginginkan untuk
menetapkan tingkat risiko deteksi berbeda yang akan digunakan dalam pengujian substantif yang
berbeda pula mengenai asersi yang sama.
1. Perancangan Pengujian Substantif
Pengujian substantif di satu sisi bisa menghasilkan bukti tentang kewajaran setiap asersi
lapoaran keuangan yang signifikan, dan di sisi lain pengujian substantif juga bisa menghasilkan
bukti yang menunjukkan adanya kekeliruan jumlah rupiah atau salah saji dalam pencatatan atau
pelaporan transaksi dan saldo saldo. Perancangan pengujian substantif meliputi penentuan
sifat, saat dan luas pengujian yang diperlukan untuk memenuhi tingkat risiko deteksi yang dapat
diterima untuk setiap asersi.
2. Sifat Pengujian Substantif
Sifat pengujian substantif berhubungan dengan jenis dan efektivitas prosedur pengauditan
yang akan dilakukan. Apabila tingkat risiko deteksi yang dapat diterima rendah, auditor harus
menggunakan prosedur yang lebih efektif yang biasanya lebih mahal. Apabila tingkat risiko
deteksi yang dapat diterima tinggi, auditor dapat menggunakan prosedur yang kurang efektif
yang lebih murah. Pengujian substantif terdiri dari tiga jenis yaitu :

a.

Prosedur Analitis
Prosedur analitis seringkali dipandang kurang efektif bila dibandingkan dengan pengujian
detil. Namun demikian, dalam keadaan tertentu prosedur ini justru dipandang lebih efektif.
Sebagai contoh, perbandingan antara jumlah seluruh pembayaran kepada seorang pemasok
dengan barang yang sesungguhnya diterima, bisa memberi petunjuk tentang adanya kelebihan
pembayaran. Hal ini mungkin tidak terdeteksi pada waktu dilakukan pengujian atas masing
masing transaksi pembayaran kepada pemasok.

Dalam hal tertentu jika prosedur analitis dipandang efektif, pelaksanaan prosedur ini juga
bisa menghemat biaya audit. Hal seperti itu biasanya nampak pada audit atas perusahaan
perusahaan tertentu seperti perusahaan listrik, gas, dan telepon.
PSA No.22, Prosedur Analitis ( SA 329.11 ), menyatakan bahwa efektivitas dan efisiensi
prosedur analitis tergantung pada :

Sifat asersi

Kelayakan dan kemampuan untuk memprediksi suatu hubungan

Tersedianya dan keandalan data yang digunakan untuk membuat taksiran

Ketepatan taksiran

Apabila hasil prosedur analitis sesuai dengan taksiran, dan tingkat risiko deteksi yang
bisa diterima untuk asersi tinggi, maka auditor tidak perlu melakukan pengujian detil. Prosedur
analitis biasanya ,tidak begitu mahal biaya pelaksanaannya. Oleh karena itu, auditor perlu
mempertimbangkan seberapa jauh prosedur ini dapat digunakan untuk mencapai tingkat risiko
deteksi yang dapat diterima sebelum auditor memutuskan untuk melakukan pengujian detil.
b. Pengujian Detil Transaksi
Pengujian detil transaksi terutama berupa penelusuran ( Tracing ) dan pencocokan ke
dokumen pendukung ( vouching ). Sebagai contoh, detil transaksi bisa ditelusur dari dokumen
pendukung. Misalnya faktur penjualan dan voucher ke dalam catatan akuntansi seperti jurnal
penjualan dan dan register voucher.
Dalam pengujian ini auditor memeriksa sebagian ( dengan sampel ) atau seluruh
pendebetan dan pengkreditan atas suatu rekening. Hasil pengujian tersebut digunakan untuk
menarik kesimpulan tentang saldo rekening yang bersangkutan. Pengujian ini biasanya dilakukan
dengan menggunakan dokumen-dokumen yang terdapat dalam arsip klien. Efektivitas pengujian
tergantung pada prosedur dan dokumen yang digunakan.
Pengujian detil transaksi biasanya lebih banyak menyita waktu dan biayanya juga lebih
mahal. Efisiensi biaya akan tercapai bila auditor melaksanakan pengujian berbarengan dengan
pengujian pengendalian yang disebut pengujian bertujuan ganda.
c.

Pengujian Detil Saldo Saldo

Pengujian detil atas saldo saldo dilakukan untuk mendapatkan bukti secara langsung
tentang sebuah saldo rekening, dan bukan pada masing masing pendebetan atau pengkreditan
yang telah menghasilkan saldo tersebut.
Efektifitas pengujian ini juga tergantung pada prosedur yang digunakan dan tipe bukti yang
diperoleh. Berikut adalah contoh bagaimana efektifitas pengujian atas saldo saldo dapat
direncanakan untuk memenuhi berbagai tingkat risiko deteksi untuk asersi penilaian atau
pengalokasian rekening kas di bank.

Risiko Deteksi
Tinggi

Pengujian Detil atas Saldo-Saldo


Periksa sekilas (scan) rekonsiliasi bank
yang dibuat klien dan verifikasi ketelitian
perhitungan dalam rekonsiliasi

Moderat

Review rekonsiliasi bank yang dibuat klien


dan

verifikasi

bagian-bagian

penting

rekonsiliasi serta ketelitian perhitungan


dalam rekonsiliasi
Rendah

Buatlah

rekonsiliasi

bank

dengan

menggunakan laporan bank yang diperoleh


dari klien dan periksa bagian-bagian
penting

rekonsiliasi

serta

ketelitian

perhitungan
Sangat Rendah

Dapatkan laporan bank langsung dari bank,


buatlah rekonsiliasi bank, dan verifikasi
semua

hal

yang

direkonsiliasi

serta

ketelitian perhitungan

Dari ilustrasi di atas dapat disimpulkan bahwa apabila risiko deteksi tinggi, maka auditor
cukup menggunakan dokumen intern dan melakukan hanya sedikit prosedur audit. Apabila risiko
deteksi sangat rendah, auditor akan menggunakan dokumen yang diperoleh langsung dari bank
dan melaksanakan prosedur audit yang ekstensif.

Pengujian detil atas saldo-saldo sering melibatkan dokumen-dokumen ekstern dan


pengetahuan langsumg dari auditor. Oleh karena itu, penggunaan prosedur tersebut akan sangat
efektif, namun di sisi lain akan memakan waktu dan biaya yang relatif mahal.
3. Saat Pengujian Substantif
Tingkat risiko deteksi yang dapat diterima bisa berpengaruh pula pada saat pengujian
substantif. Apabila risiko deteksi tinggi, pengujian bisa dilakukan beberapa bulan sebelum akhir
tahun. Sebaliknya apabila risiko deteksi untuk suatu deteksi rendah, maka pengujian substantif
biasanya akan dilakukan pada tanggal akhir tahun atau mendekati akhir tahun.
Auditor bisa melakukan pengujian substantif atas detil suatu rekening pada tanggal
interim. Keputusan untuk melakukan pengujian sebelum tanggal neraca harus didasarkan pada
pertimbangan apakah auditor dapat :

Mengendalikan tambahan risiko audit bahwa salah saji material yang ada pada saldo rekening
pada tanggal neraca tidak akan terdeteksi oleh auditor.

Mengurangi biaya untuk melaksanakan pengujian substantif pada akhir tahun guna memenuhi
tujuan audit yang direncanakan, sehingga pengujian sebelum tanggal neraca bisa menjadi lebih
murah.

Tambahan risiko audit potensial akan dapat dikendalikan apabila pengujian substantif
pada periode yang tersisa akan dapat memberi dasar yang layak untuk perluasan kesimpulan
audit dari pengujian yang dilakukan pada tanggal interim ke tanggal neraca. Kondisi- kondisi
yang bisa berpengaruh pada pengendalian risiko ini adalah :
1. struktur pengendalian interen selama periode tersisa cukup efektif.
2. tidak terdapat keadaan atau kondisi yang mempengaruhi manajemen untuk membuat salah saji
dalam laporan keuangan selama periode tersisa
3. saldo rekening akhir tahun yang diperiksa pada tanggal interimbisa diprekdisi secara masuk akal,
baik mengenai jumlah , hubungan signifikan ,maupun komposisinya
4. sistem akuntansi klien akan memberi informasi mengenai transaksi tak biasa yang signifikan dan
fluktuasi signifikan yang mungkin terjadi pada periode tersisa.

Pengujian subtantif sebelum tanggal neraca tidak menghilangkan kebutuhan akan


pengujian subtantif pada tanggal neraca. Pengujian untuk periode tersiksa harus mencakup:

perbandingan saldo rekening rekening pada dua tanggal untuk mengidentifikasi jumlah jumlah
yang nampak tidak biasa dan penyelidikan atas jumlah tersebut.

prosedur analitis lain atau pengujian substantive detil lainnya untuk mendapatkan dasar yang
layak untuk memperluas kesimpulan audit interim ke tanggal neraca.

Apabila direncanakan dan dilaksanakan dengan tepat, gabungan pengujian substantif


sebelum tanggal neraca dan pengujian substantif untuk periode tersisa akan menghasilkan bukti
kompeten yang cukup bagi auditor sebagai dasar yang layak untuk memberikan pendapat
mengenai laporan keuangan klien.
4. Luas Pengujian Substantif
Diperlukan bukti yang lebih banyak untuk mencapai tingkat resiko deteksi rendah yang
bisa diterima dibandingkan dengan risiko deteksi tinggi. Auditor bisa menentukan berbagai
jumlah bukti yang harus diperoleh dengan mengubah luas pengujian substantive yang dilakukan.
Luas dalam pratik mengandung arti banyaknya hal ( items) atau besarnya sampel yang
terhadapnya dilakukan pengujian atau diterapkan prosedur tertentu. Besarnya yang akan diuji
membutuhkan pertimbangan professional. Penentuan sample secara statistik dalam pengujian
substantif dapat dilakukan untuk membantu auditor dalam menentukan ukuran sampel yang
diperlukan untuk mencapai suatu tingkat risiko deteksi yang telah ditetapkan.

C. PENGEMBANGAN PROGRAM AUDIT UNTUK PENGUJIAN SUBSTANTIF


Tujuan audit suatu laporan keuangan secara keseluruhan adalah untuk menyatakan
pendapat apakah laporan klien telah disajikan secara wajar dalam segala hal yang material sesuai
dengan prinsip akuntansi yang berlaku. Auditor juga menetapkan berbagai tujuan audit khusus
untuk setiap rekening berdasarkan lima kategori asersi laporan keuangan. Dalam merancang
pengujian substantif, auditor harus menentukan bahwa pengujian yang tepat telah diidentifikasi
untuk mencapai setiap tujuan audit spesifik yang berkaitan dengan setiap asersi. Apabila hal ini
dilakukan untuk setiap rekening, maka tujuan keseluruhan akan tercapai.

D. CONTOH PROGRAM AUDIT UNTUK PENGUJIAN SUBSTANTIF

Keputusan

auditor

sehubungan

dengan

rancangan

pengujian

substantif

harus

didokumentasikan dalam kertas kerja dalam bentuk program audit tertulis (SA 311.09). Program
audit adalah daftar prosedur prosedur audit yang harus dilakukan. Prosedur prosedur
biasanya tidak didaftar menurut asersi atau tujuan khusus audit dengan maksud untuk
menghindari pengulangan prosedur yang diterapkan pada lebih dari satu asersi atau tujuan.
Sebagai tambahan dalam daftar prosedur audit, setiap program audit harus memiliki
kolom kolom untuk suatu referensi silang ke kertas kerja lain yang berisi bukti yang diperoleh
dari setiap prosedur (bila memungkinkan); paraf auditor yang melaksanakan masing masing
prosedur; dan tanggal pelaksanaan prosedur diselesaikan.
Dalam praktik, auditor kadang kadang membuat rincian yang berbeda untuk halhal
tertentu dalam program auditnya. Sebagai contoh ditunjukkan secara lebih rinci tentang rencana
sampel, termasuk besarnya sampel untuk berbagai pengujian dalam program audit itu sendiri.
Namun dalam keadaan bagaimanapun program audit hendaknya cukup detil agar dapat
memberikan :

Garis garis besar pekerjaan yang akan dilakukan

Dasar untuk koordinasi, supervisi, dan pengawasan audit

Catatan mengenai pekerjaan yang dilakukan

E. RERANGKA UMUM PENGEMBANGAN PROGRAM AUDIT UNTUK PENGUJIAN


SUBSTANTIF
Perencanaan Awal
(1) Identifikasi asersi-asersi laporan keuangan yang harus dicakup oleh program audit misalkan
asersi-asersi keberadaan atau keterjadian, kelengkapan hak dan kewajiban, penilaian atas
pengalokasian, dan penyajian atau pengungkapan yang berkaitan dengan saldo akhir persediaan.
(2) Kembangkan tujuan-tujuan audit spesifik untuk setiap kategori asersi
(3) Tentukan risiko bawaan dan risiko pengendalian dan tentukan pula tingkat risiko deteksi akhir
untuk setiap asersi, sejalan dengan tingkat risiko audit keseluruhan dan tingkat materialitas yang
dapat diterima.
(4)

Berdasarkan pengetahuan yang diperoleh dari prosedur-prosedur untuk mendapatkan


pemahaman mengenai kebijakan dan prosedur pengendalian intern yang relevan, catatan

akuntansi, dokumen pendukung dan proses akuntansi (termasuk alur audit) dan proses pelaporan
keuangan yang berhubungan dengan asersi-asersi.
(5) Pertimbangkan pilihan pilihan yang berhubungan dengan perancangan pengujian substantif.
Program Audit dalam Penugasan Pertama
Dalam suatu penugasan pertama, spesifikasi pengujian substantif yang detil dalam
program audit biasanya belum akan disusun secara lengkap hingga selesainya kegiatan
mempelajari dan menilai struktur pengendalian intern dan ditentukannya tingkat risiko deteksi
yang dapat diterima untuk setiap asersi signifikan. Dua hal yang memerlukan pertimbangan
khusus dalam merancang program audit untuk audit sebagai penugasan pertama adalah
penentuan ketepatan saldo-saldo awal rekening pada periode yang diaudit; dan penentuan
prinsip-prinsip akuntansi yang digunakan pada periode yang lalu sebagai dasar untuk
menentukan konsistensi penerapan prinsip tersebut pada periode berjalan.
Program Audit Dalam Penugasan Ulangan
Dalam suatu penugasan ulangan, auditor memiliki akses pada semua program yang
digunakan pada periode yang lalu dan kertas kerja yang berkaitan dengan program tersebut.
Dalam situasi demikian, startegi awal audit biasanya ditetapkan auditor berdasarkan asumsi
bahwqa tingkat risiko dan program audit untuk pengujian substantif yang digunakan pada
periode yang lalu akan tepat digunakan pada periode berjalan. Oleh karena itu, program audit
untuk penugasan tahun berjalan seringkali disusun sebelum auditor menyelesaikan kegiatan
mempelajari dan menilai struktur pengendalian intern.

F. PERTIMBANGAN KHUSUS DALAM PERANCANGAN PENGUJIAN SUBSTANTIF


(1)

REKENING-REKENING LABA RUGI


Secara tradisional pengujian detil saldo rekening lebih difokuskan pada rekeningrekening laporan keuangan yang disajikan dalam neraca (rekening riil) dibandingkan dengan
rekening-rekening laba rugi (rekening nominal). Pendekatan ini efisien dan logis karena setiap
rekening laba rugi pasti akan terkait dengan satu atau lebih rekening neraca. Semua kategori
asersi berlaku pula pada rekening-rekening laba-rugi, kecuali asersi hak dan kewajiban.
Sehubungan dengan adanya keterkaitan ini, maka apabila dibandingkan dengan pengujian
substantif untuk rekening-rekening neraca, pengujian atas rekening-rekening laba rugi lebih
ditekankan pada prosedur analitis dan kurang pada pengujian detil.

Prosedur Analitis untuk Rekening-Rekening Laba Rugi


Prosedur analitis bisa menjadi alat audit yang sangat ampuh dalam mendapatkan bukti
tentang saldo-saldo rekening laba rugi. Jenis pengujian substantif ini bisa digunakan secara
langsung atau tidak langsung. Pengujian langsung terjadi apabila sebuah rekening pendapatan
atau rekening biaya dibandingkan dengan data yang relevan untuk menentukan kewajaran
saldonya. Pengujian tak langsung terjadi apabila bukti mengenai saldo laba rugi berasal dari hasil
prosedur analitis yang diterapkan pada pengujian saldo neraca yang berkaitan. Dalam keadaan
tertentu auditor bisa memilih untuk menggunakan prosedur analitis hanya sebagai pengujian
langsung atas beberapa saldo rekening laba rugi.

Pengujian Detil untuk Rekening-rekening Laba Rugi


Apabila bukti yang diperoleh dari prosedur analitis dan dari pengujian detil atas rekening
neraca yang berkaitan tidak mengurangi risiko deteksi pada tingkat rendah yang dapat diterima,
maka diperlukan pengujian detil langsung atas asersi-asersi yang berhubungan dengan rekening
laba rugi. Hal ini terjadi apabila :

Risiko bawaan tinggi

Risiko pengendalian tinggi

Prosedur analitis menunjukkan adanya hubungan tidak biasa dan fluktuasi tak diharapkan

Rekening memerlukan analisis.

(2)

REKENING-REKENING YANG BERKAITAN DENGAN ESTIMASI AKUNTANSI


Estimasi akuntansi adalah perkiraan mengenai suatu elemen laporan keuangan, pos, atau
rekening yang terjadi bila tidak bisa diukur secara pasti. Estimasi akuntansi mempunyai
pengaruh signifikan terhadap laporan keuangan perusahaan. PSA No. 37, Audit atas Estimasi
Akuntansi (SA 342.07) menyatakan bahwa tujuan auditor dalam mengevaluasi estimasi
akuntansi adalah untuk memperoleh bukti audit kompeten yang cukup untuk memberikan
keyakinan memadai bahwa semua estimasi akuntansi yang material bagi laporan keuangan telah
ditetapkan; estimasi akuntansi tersebut masuk akal dalam kondisi yang bersangkutan; estimasi

akuntansi disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku dan diungkapkan secara
memadai.
Struktur pengendalian intern perusahaan bisa mengurangi kemungkinan terjadinya salah
saji material yang berasal dari estimasi akuntansi dan oleh karenanya mengurangi luasnya
pengujian substantif.

(3)

REKENING-REKENING BERKAITAN DENGAN TRANSAKSI DENGAN PIHAK


YANG MEMILIKI HUBUNGAN ISTIMEWA
Auditor harus mengidentifikasi transaksi dengan pihak yang memiliki hubungan
istimewa, dalam rangka membuat perencaaan audit. Tujuan auditor dalam pengauditan atas
transaksi-transaksi yang dilakukan dengan pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa adalah
untuk mendapatkan bukti mengenai tujuan, sifat dan luasnya transaksi iniserta dampaknya
terhadap laporan keuangan.
Dalam melakukan audit atas transaksi dengan pihak-pihak yang memiliki hubungan
istimewa, auditor tidak diharapkan untuk menentukan apakah suatu transaksi tertentu akan
terjadi, seandainya pihak-pihak yang bersangkutan tidak memiliki hubugan yang istimewa, dan
berapa harga pertukaran dan termin yang seajarnya digunakan. Tujuan auditor dalam hal ini
adalah menentukan substansi transaksi dengan pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa
dan pengaruhnya terhadap laporan keuangan.