Anda di halaman 1dari 12

REFERAT

GANGGUAN TIDUR HYPERSOMNIA


GANGGUAN OBSESIF KOMPULSIF
(F42)
Dibawakan Dalam Rangka Tugas Kepaniteraan Klinik Senior

Oleh:
Dia Nopriyana
08310067
Pembimbing:
dr. Ricky W. Tarigan, M.ked(Kj),Sp,Kj
ILMU KEDOKTERAN JIWA
RS JIWA DAERAH PROVINSI SUMATERA UTARA
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MALAHAYATI, BANDAR LAMPUNG
2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Tidur didefinisikan sebagai suatu keadaan bawah sadar saat orang tersebut dapat
dibangunkan dengan pemberian rangsangan sensorik atau rangsangan lainnya.1
Masalah tidur yang menyebabkan stres pribadi yang signifikan atau hendaya
fungsi sosial, pekerjaan atau peran lain diklasifikasikan dalam sistem DSM sebagai
gangguan tidur (sleep disorder). Pada beberapa orang tidur merupakan hal yang sulit
dilakukan karena adanya gangguan tidur. Gangguan tidur yang paling sering dikeluhkan
adalah insomnia.2
Ganguan tidur merupakan salah satu keluhan yang paling sering ditemukan pada
penderita yang berkunjung ke praktek. Gangguan tidur dapat dialami oleh semua lapisan
masyarakat baik kaya, miskin, berpendidikan tinggi dan rendah maupun orang muda,
serta yang paling sering ditemukan pada usia lanjut. Pada orang normal, gangguan tidur
yang berkepanjangan akan mengakibatkan perubahan-perubahan pada siklus tidur
biologiknya, menurun daya tahan tubuh serta menurunkan prestasi kerja, mudah
tersinggung, depresi, kurang konsentrasi, kelelahan, yang pada akhirnya dapat
mempengaruhi keselamatan diri sendiri atau orang lain. Menurut beberapa peneliti
gangguan tidur yang berkepanjangan didapatkan 2,5 kali lebih sering mengalami
kecelakaan mobil dibandingkan pada orang yang tidurnya cukup.3
Diperkirakan jumlah penderita akibat gangguan tidur setiap tahun semakin lama
semakin meningkat sehingga menimbulkan maslah kesehatan. Di dalam praktek seharihari, kecendrungan untuk mempergunakan obat hipnotik, tanpa menentukan lebih dahulu
penyebab yang mendasari penyakitnya, sehingga sering menimbulkan masalah yang baru
akibatpenggunaan obat yang tidak adekuat. Melihat hal diatas, jelas bahwa gangguan
tidur merupakan masalah kesehatan yang akan dihadapkan pada tahun-tahun yang
akan datang.3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi
Menurut berdasaarkan Diagnostic And Statictical Manual of Mental Disorders
edisi ke empat (DSM-IV), ganguan tidur atau sleep disorder adalah masalah tidur yang
menyebabkan stres pribadi yang signifikan atau hendaya sosisla, pekerjaan atau peran
lain.2
Hipersomnia adalah suatu keadaan tidur dan serangan tidur disiang hari yang
berlebih yang terjadi secara teratur atau rekuren untuk waktu singkat dan menyebabkan
gangguan fungsi sosial dan pekerjaan.7
2.2. Klasifikasi Gangguan Tidur
Menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa III (PPDGJ III),
gangguan tidur secara garis besar dibagi dua, yaitu dissomnia dan parasomnia.4
Menurut Diagnostic And Statictical Manual of Mental Disorders edisi ke empat
(DSM-IV) mengklasifikasikan gangguan tidur berdasarkan kriteria diagnostik klinik dan
perkiraan etiologi. Tiga kategori utama gangguan tidur dalam DSM-IV adalah 5
1. Gangguan tidur primer
Gangguan tidur primer terdiri atas dissomnia dan parasomnia.Dissomnia adalah
suatu kelompok gangguan tidur yang heterogen termasuk :
a. Insomnia primer,
b. Hipersomnia primer,
c. Narkolepsi,
d. Gangguan tidur yang berhubungan dengan pernafasan, dan
e. Gangguan tidur irama sirkadian.
Parasomnia adalah suatu kelompok gangguan tidur termasuk :
a. Gangguan mimpi menakutkan (nightmare disorder),
b. Gangguan teror tidur, dan
c. Gangguan tidur berjalan.
2. Gangguan tidur yang berhubungan dengan gangguan mental lain, dan
3. Gangguan tidur lain, khususnya gangguan tidur akibat kondisi medis umum atau yang
disebabkan oleh zat.
Klasifikasi gangguan tidur menurut Internasional Classification of Sleep Disorders
adalah 6
1. Dissomnia

a. Gangguan tidur intrisik


Narkolepsi, gerakan anggota gerak periodik, sindroma kaki gelisah, obstruksi saluran
nafas, hipoventilasi, post traumatik kepala, tidur berlebihan hipersomnia), idiopatik.
b. Gangguan tidur ekstrisik
Tidur yang tidak sehat, lingkungan, perubahan posisi tidur, toksik, ketergantungan
alkohol, obat hipnotik atau stimulant
c. Gangguan tidur irama sirkadian
Jet-lag sindroma, perubahan jadwal kerja, sindroma fase terlambat tidur, sindroma fase
tidur belum waktunya, bangun tidur tidak teratur, tidak tidurselama 24 jam.
2. Parasomnia
a. Gangguan aurosal
Gangguan tidur berjalan, gangguan tidur teror, aurosal konfusional
b. Gangguan antara bangun-tidur
Gerak tiba-tiba, tidur berbicara,kramkaki, gangguan gerak berirama
c. Berhubungan dengan fase REM
Gangguan mimpi buruk, gangguan tingkah laku, gangguan sinus arrest
d. Parasomnia lain-lainnya
Bruxism (otot rahang mengeram), mengompol, sukar menelan, distonia parosismal
3. Gangguan tidur berhubungan dengan gangguan kesehatan/psikiatri
a. Gangguan mental
Psikosis, anxietas, gangguan afektif, panik (nyeri hebat), alkohol
b. Berhubungan dengan kondisi kesehatan
Penyakit degeneratif (demensia, parkinson, multiple sklerosis), epilepsi, status epilepsi,
nyeri kepala, post traumatik kepala, stroke.
4. Gangguan tidur yang tidak terklassifikasi
2.3. Epidemiologi
Gangguan tidur sangat sering terjadi, 40% populasi mempunyai masalah tidur
selama setahun terakhir ini, 10% dapat didiagnosis sebagai insomnia, 3-4% mempunyai
diagnosis hipersomnia.8
Sebanyak 10 orang 132 dilibatkan dalam survei ini. Prevalensi masalah tidur
adalah 56% di Amerika Serikat, 31% di Eropa Barat dan 23% di Jepang. Kebanyakan
individu dengan masalah tidur dianggap ini berdampak pada fungsi mereka sehari-hari,
dengan kehidupan keluarga yang paling terpengaruh dalam sampel Eropa Barat, kegiatan
pribadi dalam sampel AS dan kegiatan profesional dalam sampel Jepang. Hampir
setengah dari individu dengan masalah tidur tidak pernah mengambil langkah apapun
untuk mengatasi mereka, dan mayoritas responden tidak berbicara dengan dokter tentang

masalah mereka. Dari orang-orang yang telah berkonsultasi dokter, resep obat telah
diberikan kepada sekitar 50% di Eropa Barat dan Amerika Serikat dan 90% di Jepang. 9
Hampir semua orang pernah mengalami gangguan tidur selama masa kehidupannya.
Diperkirakan tiap tahun 20%-40% orang dewasa mengalami kesukaran tidur dan 17%
diantaranya mengalami masalah serius.3
Prevalensi gangguan tidur setiap tahun cendrung meningkat, hal ini juga sesuai
dengan peningkatan usia dan berbagai penyebabnya. Kaplan dan Sadock melaporkan
kurang lebih 40-50% dari populasi usia lanjut menderita gangguan tidur. Gangguan tidur
kronik (10-15%) disebabkan oleh gangguan psikiatri, ketergantungan obat dan alkohol.3
Pada kuisoner dan studi laboratorium, hipersomnia di siang hari menynerang 0,34% pupulasi. Suatu studi pada tahun 1981 memperkirakan di Inggris sebesar 4000
penderita hipersomnia idiopatik..7
2.4. Etiologi
Penyebab dari gangguan tidur adalah 10
1. Stres. Kekhawatiran tentang pekerjaan, kesehatan sekolah, atau keluarga dapat
membuat pikiran menjadi aktif di malam hari, sehingga sulit untuk tidur. Peristiwa
kehidupan yang penuh stres, seperti kematian atau penyakit dari orang yang dicintai,
perceraian atau kehilangan pekerjaan, dapat menyebabkan insomnia.
2. Kecemasan dan depresi. Hal ini mungkin disebabkan ketidakseimbangan kimia dalam
otak atau karena kekhawatiran yang menyertai depresi.
3. Obat-obatan. Beberapa resep obat dapat mempengaruhi proses tidur, termasuk
beberapa antidepresan, obat jantung dan tekanan darah, obat alergi, stimulan (seperti
ritalin) dan kortikosteroid.
4. Kafein, nikotin dan alkohol. Kopi, teh, cola dan minuman yang mengandung kafein
adalah stimulan yang terkenal. Nikotin merupakan stimulan yang dapat menyebabkan
insomnia. Alkohol adalah obat penenang yang dapat membantu seseorang jatuh tertidur,
tetapi mencegah tahap lebih dalam tidur dan sering menyebabkan terbangun di tengah
malam.
5. Kondisi Medis. Jika seseorang memiliki gejala nyeri kronis, kesulitan bernapas dan
sering buang air kecil, kemungkinan mereka untuk mengalami insomnia lebih besar
dibandingkan mereka yang tanpa gejala tersebut. Kondisi ini dikaitkan dengan insomnia
akibat artritis, kanker, gagal jantung, penyakit paru-paru, gastroesophageal reflux disease
(GERD), stroke, penyakit Parkinson dan penyakit Alzheimer.
6. Perubahan lingkungan atau jadwal kerja. Kelelahan akibat perjalanan jauh atau
pergeseran waktu kerja dapat menyebabkan terganggunya irama sirkadian tubuh,
sehingga sulit untuk tidur. Ritme sirkadian bertindak sebagai jam internal, mengatur
siklus tidur-bangun, metabolisme, dan suhu tubuh.
Hipersomnia yang berhubungan dengan depresi dicatat dengan baik, meskipun
insomnia lebih sering terjadi. Beberapa pasien melaporkan keterkaitan antara serangan

tidur dan pengalaman siang hari yang tidak menyenangkan atau tidak diinginkan. Pada
beberapa kasus, tidak terdapat faktor emosional, psikologis atau pskiatri spesifik yang
dapat diidentifikasi dan istilah idiopatik lalu digunaka untuk menggambarkan
hipersomnia.7
2.5. Klasifikasi Hipersomnia
Berdasarkan buku PPDGJ-III, terdapat klasifikasi Hipersomnia Non-organik.4
Berdasarkan International Classification Of Sleep Disorders, terdapat reccurent
hypersomnia, idiopatic hypersomnia dan post-trauma hypersomnia sedangkan
berdasaarkan Diagnostic And Statictical Manual of Mental Disorders edisi ke empat
(DSM-IV) terdapat hypersomnia primer.5
2.6. Gambaran Klinis
a. Hipersomnia Non-organik4
1. Gambaran klinis di bawah ini adalah esensial untuk diagnosis pasti :
a. Rasa kantuk pada siang hari yang berlebihan atau adanya serangan tidur/sleep attacks
(tidak disebabkan oleh jumlah tidur yang kurang), dan atau transisi yang memanjang dari
saat mulai bangun tidur sampai sadar sepenuhnya (sleep drunkenness)
b. Gangguan tidur terjadi setiap hari selama lebih dari 1 bulan atau berulang dengan
kurun waktu yang lebih pendek, menyebabkan penderitaan yang cukup berat dan
mempengaruhi fungsi dalam sosial dan pekerjaan
c. Tidak ada gejala tambahan narcolepsy (catapelxy, sleep paralysis, hypnagonic
hallucination) atau bukti klinis untuk sleep apnoe (nocturnal breath cessatin, typical
intermittent snoring sounds,etc)
d. Tidak ada kondisi neurologis atau medis yang menunjukkan gejala rasa kantuk pada
sang hari.
2. Bila hipersomnia hanya merupakan salah satu gejala dari gangguan jiwa lain, misalnya
gangguan afektif, maka diagnosis harus sesuai dengan gangguan yang mendasarinya.
Diagnosis hiersomnia psikogenik harus ditambahkan bila hipersomnia merupakan
keluhan yang dominan dari penderitaan dengan gangguan jiwa lainnya.
b. Hipersomnia Primer
Hipersomnia primer terdapat pada 5% populasi dewasa, pria dan wanita
mempunyai kemungkinan sakit yang sama. Yang dimaksud dengan hipersomnia primer
adalah tidur yang berlebihan atau terjadi serangan tidur ataupun perlambatan waktu
bangun. Hipersomnia mungkin merupakan akibat dari penyakit mental, penyakit organik
(termasuk obat-obatan) atau idiopatik. Gangguan ini merupakan kebalikan dari insomnia.
Seringkali penderita dianggap memiliki gangguan jiwa atau malas. Penderita hipersomnia
membutuhkan waktu tidur lebih dari ukuran normal. Pasien biasanya akan tidur siang
sebanyak 1-2 kali per hari, dimana setiap waktu tidurnya melebihi 1 jam. Meski banyak
tidur, mereka selalu merasa letih dan lesu sepanjang hari. Gangguan ini tidak terlalu

serius dan dapat diatasi sendiri oleh penderita dengan menerapkan prinsip-prinsip
manajemen diri. Polysomnography memperlihatkan penurunan gelombang delta
peningka-tan kesadaran, dan pengurangan masa laten REM pada pasien dengan
hipersomnia primer.11,12
Kriteria Diagnostik untuk Hipersomnia Primer menurur DSM-IV-TR yaitu 12
a) Keluhan yang menonjol adalah mengantuk berlebihan di siang hari selama
sekurangnya satu bulan (atau lebih singkat jika rekuren) seperti yang ditunjukkan
oleh episode tidur yang memanjang atau episode tidur siang hari yang terjadi
hampir setiap hari.
b) Mengantuk berlebihan di siang hari menyebabkan penderitaan yang bermakna
secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting
lain.

c) Mengantuk berlebihan di siang hari tidak dapat diterangkan oleh Insomnia dan
tidak terjadi semata-mata selam perjalan gangguan tidur lain (misalnya,
narkolepsi, gangguan tidur berhubungan pernafasan, gangguan tidur irama
sirkadian, atau parasomnia) dan tidak dapat diterangkan oleh jumlah tidur yang
tidak adekuat.
d) Gangguan tidak terjadi semata-mata selama perjalanan gangguan lain.

e) Gangguan bukan karena efek fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya, obat
yang disalahgunakan, medikasi) atau suatu kondisi medis umum.
2.7. Diagnosis
Sebelum mencari diagnosa penyebab suatu gangguan tidur, sebaiknya ditentukan
terlebih dahulu jenis dan lamanya gangguan tidur (duration of sleep disorder), dengan
mengetahui jenis dan lamanya gangguan tidur, selain untuk membantu mengidentifikasi
penyebabnya, juga dapat memberikan pengobatan yang adekuat.3
Pada saat pemeriksaan pasien mengeluh nyeri kepala di pagi hari, tidak segar saat
bangun, masalah dengan fungsi mental atau emosional, mengantuk berlebihan pada siang
hari, dan kelelahan. Dalam sleep apneu pasangan tidur mungkin melaporkan megapmegap atau mendengkur saat tidur. Dalam narkolepsi, individu dan keluarga mereka
mngeluh tertidur pada waktu yang tidak tepat,cataplex,hypnagogic halusinasi,dan
ketidakmampuan sesaat untuk bergerak atau berbicara saat bangun (kelumpuhan tidur).
Obat dan riwayat pengobatan penting untuk menyingkirkan kantuk di siang hari yang
terkait dengan penggunaan narkoba.13
Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan adalah polysomnography adalah tes semalam
di mana perangkat pemantauan terhubung ke individu untuk menilai berbagai tahapan
tidur untuk aktivitas muatan listrik otak(electroencephalogram, atau EEG), jantung

(elektrokardiogram), gerakan otot-otot (electromyogram) dan mata (elektro-oculogram).


Kadar oksigen dalam darah dan perubahan dalam pernapasan juga dipantau. Beberapa tes
latensi tidur (MSLT) mengukur waktu yang dibutuhkan untuk jatuh tidur siang hari
dalam ruangan yang tenang. Tes-tes lain mungkin termasuk pemeliharaan uji terjaga dan
skala kantuk Epworth.14
Pada tahun 1984, The International Institute of Health membuat suatu konsensus
pengelompokan gangguan tidur berdasarkan lamanya gangguan yang terdiri dari: 3
1. Transient yaitu jika gangguan tidurnya kurang dari 7 hari
2. Short term yaitu jika gangguan tidurnya menetap lebih dari 7 hari dan kurang dari 3
minggu. Kedua gangguan tersebut biasanya berhubungan dengan stress yang akut seperti
perubahan kehidupan sosial, peningkatan emosional, faktor lingkungan, faktor sistemik,
kelainan gangguan kesehatan, desinkronisasi irama sirkadian
3. Long term yaitu jika gangguan tidur menetap lebih dari 3 minggu. Biasanya
berhubungan dengan gangguan tidur primer, gangguan psikiatri, gangguan kesehatan,
gangguan psikologi.
Pada tahun 1990, American Sleep Disorders Association membuat
reklasifikasi untuk mencari kemungkinan penyebab gangguan tidur menjadi 4 kelompok
yaitu:3
1. Dissomnia, misalnya: ganguan intrisik, gangguan ekstrisik,
2. Parasomnia, misalnya: Gangguan aurosal, gangguan bangun-tidur, berhubungan fase
REM
3. Gangguan kesehatan/psikiatri, misalnya: gangguan mental, gangguan neurologi,
gangguan kesehatan
4. Gangguan yang tidak terklasifikasi

2.8. Diferential Diagnosis


Diferential diagnosis untuk gangguan tidur hipersomnia adalah14
1. Kurang tidur; dengan karakteristik utama adalah keterbatasan tidur pada malam hari.
Temuan polisomnografi akan mirip dengan pasien hipersomnia idiopatik, akan tetapi
gejala kantuk berlebih pada siang hari akan membaik saat waktu tidur ditingkatkan.
2. Delayed Sleep Phase Syndrome , pasien akan mengalami kesulitan bangun di pagi hari.
Pasien biasanya tidur terlambat di malam hari, tetapi jika waktu tidurnya cukup, maka
mereka tidak akan merasakan kantuk di siang hari.
3. Long sleeper; mereka memiliki kebutuhan tidur yang lebih banyak dari orang normal,
sehingga jika waktu tidur mereka tidak terpenuhi, maka akan merasa kantuk pada siang
hari. Jika diberikan kesempatan untuk tidur sepanjang yang mereka butuhkan, maka
gejala kantuk berlebih pada siang hari akan menghilang; berbeda dengan hipersomnia
idiopatik.

4. Obstructive Sleep Apnoe (OSA); saat diketahui pasien memiliki kebiasaan mengorok
saat tidur, diagnosis OSA perlu dipertimbangkan. Pemeriksaan yang diperlukan adalah
monitor respirasi saat tidur.
5. Narkolepsi; istilah narkolepsi dahulu merupakan sinonim dari kantuk berlebih disiang
hari, tetapi diketahui belakangan bahwa narkolepsi memiliki kelainan spesifik pada tidur
REM yang memberikan manifestasi bermacam-macam saat tidur maupun bangun. Gejala
utama dari narkolepsi adalah pemanjangan waktu tidur utama, tetapi kelelahan yang
dialami pasien akan berujung pada hiperaktivitas paradoksikal. Pemeriksaan yang
diperlukan adalah HLA, polisomnografi, dan multiple sleep latency test (MLST).

2.9. Penatalaksanaan
a. Pendekatan Non Farmakologi
Pendekatan psikologis memiliki banyak keterbatasan untuk penanganan Insomnia
primer. Secara keseluruhan pendekatan dengan penanganan kognitif-behavioral telah
melaksanakan manfaat yang penting dalam menangani insomnia.2
Teori kognitif-behavioral menekankan pada jangka pendek dan berfokus pada
penurunan kondisi fisiologis yang timbul, memodifikasi kebiasaan tidur yang maladaptif
dan mengubah pemikiran yang disfungsional. Terapi ini biasanya menggunakan
kombinasi dari beberapa teknik, restrukturasi rasional. Kontrol simultan melibatkan
perubahan stimulus lingkungan yang diasosiasikan dengan tidur. Dibawah kondisi
normal, kita belajar untuk mengasosiasikan stimulus menghubungkan berbaring ditempat
tidur dengan tidur, sehingga pemaparan terhadap stimulus ini dapat meningkatkan
perasaan mengantuk. Namun ketika seseorang menggunakan tempat tidur untuk banyak
aktivitas, tempat tidur dapat kehilangan asosiasinya dengan rasa kantuk.2
Teknik kontrol simultan bertujuan untuk memperkuat hubungan tempat tidur dan
tidur dengan sebisa mungkin membatasi aktivitas yang dihabiskan ditempat tidur untuk
dapat tertidur. Biasanya, seseorang diinstruksika dengan membatasi waktu yang
dihabiskan ditempat tidur untuk mencoba tidur dalam waktu 10 atau 20 menit. Jika masih
tidak dapat tidur juga pada waktu yang diperkiran, orang tersebut diinstruksikan untuk
meninggalkan tempat tidur dan pergi keruangan lain untuk membangun kerangka
berpikir yang santai sebelum relaksasi.2
Tindakan sleep hygiene terdiri dari: 3
1. Tidur dan bangunlah secara reguler/kebiasaan
2. Hindari tidur pada siang hari/sambilan
3. Jangan mengkonsumsi kafein pada malam hari
4. Jangan menggunakan obat-obat stimulan seperti decongestan
5. Lakukan latihan/olahraga yang ringan sebelum tidur
6. Hindari makan pada saat mau tidur, tapi jangan tidur dengan perut kosong

7. Segera bangun dari tempat bila tidak dapat tidur (15-30 menit)
8. Hindari rasa cemas atau frustasi
9. Buat suasana ruang tidur yang sejuk, sepi, aman dan enak
b. Pendekatan Farmakologis
Dalam mengobati gejala gangguan tidur, selain dilakukan pengobatan secara
kausal, juga dapat diberikan obat golongan sedatif hipnotik. Pada dasarnya semua obat
yang mempunyai kemampuan hipnotik merupakan enekanan aktifitas dari reticular
activating system (ARAS) diotak.3
Jadi yang terpenting dalam penggunaan obat hipnotik adalah mengidentifikasi
penyebab yang mendasarinya atau obat hipnotik adalah sebagai pengobatan tambahan.
Pemilihan obat hipnotik sebaiknya diberikan jenis obat yang bereaksi cepat (short action)
dgnmembatasi penggunaannya sependek mungkin yang dapat mengembalikan pola tidur
yang normal. 3
Pengobatan dari hipersomnia primer meliputi obat-obat stimulan yang dapat
mempertahankan kesadaran; dextroamphetamine dan methylphenidate keduanya
mempunyai masa paruh yang singkat dan di minum dalam dosis terbagi. Femoline,
stimulan kerja lama, dapat juga digunakan. Modafinil, yang digunakan untuk mengobati
narkolepsi, dapat juga digunakan untuk mengobati hipersomnia primer. Antidepresan
trisiklik (seperti protriptyline) dapat juga digunakan. Karena obat-obatan stimulan dapat
menimbulkan ketergantungan, maka penggunaannya harus benar-benar diawasi.

2.10. Prognosis
Bila hipersomnia disebabkan oleh suatu gangguan mood, perjalanan klinisnya
ditentukan oleh gangguan primer. Hipersomnia idiopatik dapat berubah selama
perkembangan dan dapat membaik seiring pertambahan usia pada beberapa pasien.

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Hipersomnia merupakan gangguan tidur dimana adanya rasa kantuk yang
berlebih sepanjang hari selama sebulan atau lebih. Rasa kantuk yeng berlebih ini dapat
berupa kesulitan untuk bangun setelah periode tidur yang panjang atau mungkin ada pola
episode tidur siang muncul hampir setiap hari dalam bentuk tidur siang yang diharapkan
atau tidak diharapkan.
Edukasi penting diberikan kepada pasien tentang sleep hygiene yang baik dalam
mengatasi berbagai gangguan tidur. Penggunaan obat harus dibatasi dan diawasi dengan
cermat, mengingat efek samping yang dapat ditimbulkannya, oleh karenanya penggunaan
obat tersebut harus benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan individual dari pasien.

DAFTAR PUSTAKA
1. Guyton dan Hall. 1996.Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.Edisi 15.Jakarta:EGC
2. Nevid, Jeffrey S, Spencer A. Rathus, dan Beverley Greene. 2003. Psikologi Abnormal.
Jakarta :Erlangga.
3. Japardi,I. 2002. Gangguan Tidur. Medan: Universitas Sumatera Utara. Diunduh dari:
http://library.usu.ac.id/download/fk/bedah-iskandar%20japardi12.pdf.Diakses:29
Juni
2012).
4. Maslim, Rusdi. 2001. Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas Ppdgj-Iii. Jakarta:
PT.Nuh Jaya. Pp: 93-5
5. American Psychiatric Association. 2000. Diagnostic and Statistical Manual of Mental
Disorders
DSM-IV-TR
Fourth
Edition.
Diunduh
dari:
http://www.book4doc.org/diagnostic-and-statistical-manual-of-mental-disorders-dsm-ivtr-fourth-edition/
6. American Academy of Sleep Medicine. ICS2 - International Classification of Sleep
Disorders. American Academy of Sleep Medicine Diagnostic and Coding Manual .
Diagnostik dan Coding Manual. 2nd. 2. Westchester, Ill: American Academy of Sleep
Medicine; 2001.Diunduh dari: http://www.esst.org/adds/ICSD.pdf.Diakses : 31 Mei 2013
7. Puri B, Laking P, Treasaden.2011. Buku Ajar Psikiatri. Jakarta : EGC
8. Tomb,David A. 2004. Buku Saku Psikiatri.
9. Leger D, Neubauer D, etc. 2008. An International Survey of Sleeping problems in the
General Population. Avaiable in: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/ pubmed/ 18070379.
Accesed: 02 Juni 2013
10. Gelder, Michael G, etc. 2003. New Oxford Textbook of Psychiatry. London: Oxford
University Press.
11. Medical Disability Advisor. Hypersomnia. MDGuidelines.
12. Sadock BJ. Normal sleep and Sleep disorders. Synopsis of Psychiatry, 10th ed,
Lippincott Williams & Wilkins. A Wolters Kluwer Co.; 2007.
13. MDGuidelines.Hypersomnia. Available
hypersomnia. Accesed : 02 Juni 2013

in:

http://www.mdguidelines.com/

14. Adrian Preda,MD.Primary Hypersomnia.Avaiable in: www.medscape.com. Accesed:


02 Juni 2013

Anda mungkin juga menyukai