Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN DAN KONSEP DASAR KEPERAWATAN

PENYAKIT APPENDIKSITIS AKUT

A. MASALAH KESEHATAN (DIAGNOSA PASIEN)


Masalah kesehatan : Appendiksitis akut

B. DEFINISI/PENGERTIAN
Appendiks adalah ujung seperti jari yang kecil panjangnya kirakira 10 cm (94 inci) melekat pada sekum tepat dibawah katup ileosekal.
Appendiks berisi makanan danmengosongkan diri secara teratur ke dalam
sekum. Karena pengosongannya tidak efektif danlumennya kecil,
appendiks cenderung menjadi tersumbat dan rentan terhadap infeksi.
Apendisitis adalah dari apendiks oleh hyperplasia folikel limpiod,
fekalit, benda asing, striktur karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya
atau neoplasma. (Arief Mansjoer, dkk. 2009)
Apendisitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus buntu atau
umbai cacing (apendiks). Infeksi ini bisa mengakibatkan pernanahan. Bila
infeksi bertambah parah, usus buntu itu bisa pecah. Usus buntu merupakan
saluran usus yang ujungnya buntu dan menonjol dari bagian awal usus
besar atau sekum (cecum). Usus buntu besarnya sekitar kelingking tangan
dan terletak di perut kanan bawah. Strukturnya seperti bagian usus lainnya.
Namun, lendirnya banyak mengandung kelenjar yang senantiasa
mengeluarkan lendir.(Anonim, Apendisitis, 2007)
Apendisitis adalah inflamasi vermiformis (umbai cacing) paling
sering pada penyakit bedah abdomen mayor dan fatal bila tidak ditangani
akan timbul gangren dan perforasi dalam 36 jam (Kimberly, 2007).

Apendisitis akut adalah penyebab paling umum inflamasi akut


pada kuadran bawah kanan rongga abdomen, penyebab paling umum
untuk bedah abdomen darurat (Brunner dan Suddarth, 2001).
Apendisitis akut adalah penyebab paling umum inflamasi akut
pada kuadran bawah kanan rongga abdomen, penyebab paling umum
untuk bedah abdomen darurat (Smeltzer, 2001).

C. ETIOLOGI
Appendiksitis akut disebabkan oleh proses radang bakteria yang
dicetuskan oleh beberapa faktor pencetus. Ada beberapa faktor yang
mempermudah terjadinya radang apendiks, diantaranya :

1) Faktor Obstruksi
Sekitar 60% obstruksi disebabkan oleh hyperplasia jaringan lymphoid
submukosa, 35% karena stasis fekal, 4% karena benda asing dan sebab
lainnya 1% diantaranya sumbatan oleh parasit dan cacing.

2) Faktor Bakteri
Infeksi enterogen merupakan faktor pathogenesis primer pada
appendiksitis

akut.

Bakteri

yang

ditemukan

biasanya

E.coli,

Bacteriodes fragililis, Splanchicus, Lacto-bacilus, Pseudomonas,


Bacteriodes splanicus.

3) Kecenderungan Familiar
Hal ini dihubungkan dengan terdapatnya malformasi yang herediter
dari organ apendiks yang terlalu panjang, vaskularisasi yang tidak baik
dan letaknya yang memudahkan terjadi appendiksitis.

4) Faktor Ras dan Diet


Faktor ras berhubungan dengan kebiasaan dan pola makanan
sehari hari.

5) Faktor Infeksi Saluran Pernapasan


Setelah mendapat penyakit saluran pernapasan akut terutama epidemi
influenza dan pneumonitis, jumlah kasus appendiksitis ini meningkat.
Namun, hati hati karena penyakit infeksi saluran pernapasan dapat
menimbulkan seperti gejala permulaan appendiksitis.

Appendiksitis belum ada penyebab yang pasti atau spesifik tetapi ada
faktor predisposisi yaitu :
a. Menurut kapita selekta kedokteran bahwa faktor yang tersering adalah
obstruksi lumen. Pada umumnya obstruksi ini terjadi oleh karena :
1. Hiperplasia dari folikel limpoid, ini merupakan penyebab yang
terbanyak.
2. Adanya faekolit dalam lumen appendiks.
3. Adanya benda asing yang keras seperti biji bijian.
4. Striktura lumen karena fibrosa akibat peradangan sebelumnya.
b. Infeksi kuman dari kolon yang paling sering adalah E. Coli dan
Streptokokus.
c. Faktor Sex
Laki laki lebih banyak dari wanita. Yang terbanyak pada umur
15 30 tahun (remaja dan dewasa). Ini disebabklan oleh karena
peningkatan jaringan limpoid pada masa tersebut.
d. Tergantung pada bentuk appendiks.
1. Appendiks yang terlalu panjang.
2. Messo appendiks yang pendek.
3. Penonjolan jaringan limpoid dalam lumen apendiks.
4. Kelainan katup di pangkal apendiks.

D. PATHOFISIOLOGI

Apendisitis biasanya disebaban oleh penyumbatan lumen apendiks


oleh hiperplasia folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena
fibrosis akibat peradangan sebelumnya, atau neoplasma.
Obstruksi tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa
mengalami bendungan. Makin lama mukus tersebut makin banyak, namun
elastisitas

dinding

apendiks

mempunyai

keterbatasan

sehingga

menyebabkan penekanan tekanan intralumen. Tekanan yang meningkat


tersebut akan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema,
diapedesis bakteri, dan ulserasi mukosa. Pada saat inilah terjadi terjadi
apendisitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri epigastrium.
Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat.
Hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah, dan
bakteri akan menembus dinding. Peradangan yang timbul meluas dan
mengenai peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri di daerah
kanan bawah. Keadaan ini disebut dengan apendisitis supuratif akut.
Bila kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark dinding
apendiks yang diikuti dengan gangren. Stadium ini disebut dengan
apendisitis gangrenosa. Bila dinding yang telah rapuh itu pecah, akan
terjadi apendisitis perforasi.
Bila semua proses di atas berjalan lambat, omentum dan usus yang
berdekatan akan bergerak ke arah apendiks hingga timbul suatu massa
lokal yang disebut infiltrat apendikularis. Peradangan apendiks tersebut
dapat menjadi abses atau menghilang. Pada anak-anak, karena omentum
lebih pendek dan apediks lebih panjang, dinding apendiks lebih tipis.
Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih kurang
memudahkan terjadinya perforasi. Sedangkan pada orang tua perforasi
mudah terjadi karena telah ada gangguan pembuluh darah.

E. GEJALA KLINIS
Menurut Betz, Cecily, 2000 :
a. Sakit, kram di daerah periumbilikus menjalar ke kuadran kana
bawah.
b. Anoreksia.
c. Mual.
d. Muntah (tanda awal yang umum, kurang umum pada anak yang
lebih besar).
e. Demam ringan di awal penyakit dapat naik tajam pada peritonotis.
f. Nyeri lepas.
g. Bising usus menurun atau tidak ada sama sekali.
h. Konstipasi.
i. Diare.
j. Disuria.
k. Iritabilitas.
l. Gejala berkembang cepat, kondisi dapat didiagnosis dalam 4
sampai 6 jam setelah munculnya gejala pertama.

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Untuk menegakkan diagnosa pada appendicitis didasarkan atas anamnesa
ditambah dengan pemeriksaan laboratorium serta pemeriksaan penunjang
lainnya.
1) Gejala appendicitis ditegakkan dengan anamnesa, ada 4 hal yang
penting adalah :
1. Nyeri mula mula di epigastrium (nyeri visceral) yang beberapa
waktu kemudian menjalar ke perut kanan bawah.
2. Muntah oleh karena nyeri visceral.
3. Panas (karena kuman yang menetap di dinding usus).
4. Gejala lain adalah badan lemah dan kurang nafsu makan, penderita
nampak sakit, menghindarkan pergerakan di perut terasa nyeri.

2) Pemeriksaan yang Lain


1. Lokalisasi
Jika sudah terjadi perforasi, nyeri akan terjadi pada seluruh perut,
tetapi paling terasa nyeri pada titik Mc Burney. Jika sudah infiltrat,
insfeksi juga terjadi jika orang dapat menahan sakit, dan kita akan
merasakan seperti ada tumor di titik Mc. Burney.
2. Test Rectal
Pada pemeriksaan rectal toucher akan teraba benjolan dan
penderita merasa nyeri pada daerah prolitotomi.

3) Laboratorium
a. Pemeriksaan darah
1) Leukositosis pada kebanyakan kasus appendisitis akut terutama
pada kasus dengan komplikasi.
2) Pada appendicular infiltrat, LED akan meningkat.
b. Pemeriksaan urin untuk melihat adanya eritrosit, leukosit dan
bakteri di dalam urin. Pemeriksaan ini sangat membantu dalam
menyingkirkan diagnosis banding seperti, infeksi saluran kemih
atau batu ginjal yang mempunyai gejala klinis yang hampir sama
dengan appendicitis.

4) Radiologis
a. Foto polos abdomen
Pada appendicitis akut yang terjadi lambat dan telah terjadi
komplikasi (misalnya peritonitis) tampak :
1)

Scoliosis ke kanan.

2)

Psoas shadow tak tampak.

3)

Bayangan gas usus kanan bawah tak tampak.

4)

Garis retroperitoneal fat sisi kanan tubuh tak tampak.

5)

5% dari penderita menunjukkan fecalith radio-opak.

b. USG
Bila hasil pemeriksaan fisik meragukan, dapat dilakukan
pemeriksaan USG, terutama pada wanita, juga bila dicurigai
adanya abses. Dengan USG dapat dipakai untuk menyingkirkan
diagnosis banding seperti kehamilan ektopik, adnecitis dan
sebagainya.
c. Barium enema
Yaitu suatu pemeriksaan X-Ray dengan memasukkan barium ke
colon

melalui

anus.

Pemeriksaan ini

dapat

menunjukkan

komplikasi komplikasi dari appendicitis pada jaringan sekitarnya


dan juga untuk menyingkirkan diagnosis banding.
d. CT-Scan
Dapat menunjukkan tanda tanda dari appendicitis. Selain itu,
juga dapat menunjukkan komplikasi dari appendicitis seperti bila
terjadi abses.
e. Laparoscopi
Yaitu suatu tindakan dengan menggunakan kamera fiberoptic yang
dimasukkan dalam abdomen, appendix dapat divisualisasikan
secara langsung. Teknik ini dilakukan di bawah pengaruh anestesi
umum. Bila pada saat melakukan tindakan ini didapatkan
peradangan pada appendix maka pada saat itu juga dapat langsung
dilakukan pengangkatan appendix (appendectomy).

G. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan apendiksitis menurur Mansjoer, 2000 :
1. Pre Operatif
a) Pemasangan sonde lambung untuk dekompresi.
b) Pemasangan kateter untuk control produksi urin.
c) Rehidrasi.
d) Antibiotic dengan spectrum luas, dosis tinggi dan diberikan secara
intravena.

e) Obat obatan penurun panas, phenergan sebagai anti menggigil,


largaktil untuk membuka pembuluh pembuluh darah perifer
diberikan setelah rehidrasi tercapai.
f) Bila demam, harus diturunkan sebelum diberi anestesi.

2. Intra Operatif
a) Apendiktomi.
b) Apendiks dibuang, jika apendiks mengalami perforasi bebas, maka
abdomen dicuci dengan garam fisiologis dan antibiotika.
c) Abses apendiks diobati dengan antibiotika IV, massanya mungkin
mengecil atau abses mungkin memerlukan drainase dalam jangka
waktu beberapa hari. Apendiktomi dilakukan bila abses dilakukan
operasi elektif sesudah 6 minggu sampai 3 bulan.

3. Post Operatif
a) Observasi TTV.
b) Angkat sonde lambung bila pasien telah sadar, sehingga aspirasi
cairan lambung dapat dicegah.
c) Baringkan pasien dalam posisi semi fowler.
d) Pasien dikatakan baik bila dalam 12 jam tidak terjadi gangguan,
selama pasien dipuasakan.
e) Bila tindakan operasi lebih besar, misalnya pada perforasi, puasa
dilanjutkan sampai fungsi usus kembali normal.
f) Berikan minum mulai15 ml/jam selama 4 5 jam lalu naikkan
menjadi 30 ml/jam. Keesokan harinya berikan makanan saring dan
hari berikutnya diberikan makanan lunak.
g) Satu hari pasca operasi pasien dianjurkan untuk duduk tegak di
tempat tidur selama 230 menit.
h) Pada hari kedua pasien dapat berdiri dan duduk di luar kamar.
i) Hari ke-7 jahitan dapat diangkat dan pasien diperbolehkan pulang.

H. PENGKAJAN

1. DATA FOKUS
A. Data Subyektif
a. Pre Operatif
1) Rasa sakit di epigastrium atau daerah periumbilikalis kemudian
menjalar ke bagian perut kanan bawah.
2) Rasa sakit hilang timbul.
3) Mual dan muntah.
4) Diare atau konstipasi.
5) Tungkai kanan tidak dapat diluruskan.
6) Rewel dan menangis.
7) Lemah dan lesu.
8) Suhu tubuh meningkat.

b. Post Operatif
1) Mengeluh sakit pada daerah luka operasi terutama bila
digerakkan.
2) Haus dan lapar.
3) Takut melakukan aktivitas.
4) Pendarahan.

B. Data Obyektif
a. Pre Operatif
1. Nyeri tekan titik Mc. Burney.
2. Bising usus meningkat, perut kembung.
3. Suhu tubuh meningkat, nadi cepat.
4. Hasil lekosit meningkat 10.000 - 12.000 dan 13.000 UI bila
sudah terjadi perforasi.
5. Obstipasi.

b. Post Operatif
1. Luka operasi di kuadran kanan bawah abdomen.
2. Bed rest / aktivitas terbatas.
3. Puasa dan infus.
4. Bising usus berkurang.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
A. Pre Operatif
1) Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi dan infeksi.
2) Ketidakseimbangan

nutrisi

kurang

dari

kebutuhan

tubuh

berhubungan dengan ketidakmampuan mencerna makanan, mual,


muntah, anoreksia.
3) Hipertermi berhubungan dengan respon sistemik dari inflamasi
gastrointestinal.
4) Ansietas

berhubungan

pembedahan.

dengan

proknosis

penyakit

rencana

B. Intra Operatif
1) Risiko hipotermi berhubungan dengan suhu ruangan yang dingin.
2) Risiko perdarahan berhubungan dengan proses pembedahan.

C. Post Operatif
1) Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan.
2) Risiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan asupan
cairan yang tidak adekuat.
3) Risiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif.
4) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.

3. INTERVENSI KEPERAWATAN
A. Pre Operasi
Diagnosa
1) Nyeri

NOC
akut Tujuan :

berhubungan dengan Nyeri


inflamasi
infeksi.

NIC
1. Lakukan
berkurang

dan dengan

sampai

hilang

secara

pengkajian nyeri
secara

bertahap.

komprehensif

Kriteria Hasil :

termasuk lokasi,

1. Mampu
nyeri

mengontrol
(tahu

penyebab

karakteristik,
durasi, frekuensi,

nyeri,mampu

kualitas

menggunakan teknik non

faktor

farmakologi

presipitasi.

untuk

mengurangi nyeri)

2. Kaji kultur yang

2. Melaporkan bahwa nyeri


berkurang

dengan

menggunakan

respon nyeri.

lingkungan yang

3. Mampu mengenali nyeri


(skala,intensitas,
dan

mempengaruhi

3. Kontrol

manajemen nyeri

frekuensi,

dan

dapat
menpengaruhi

tanda

nyeri

seperti

nyeri)

suhu

4. Menyatakan rasa nyaman


setelah nyeri berkurang

ruangan,

pencahayaan dan
kebisingan.
4. Kurangi

faktor

presipitasi nyeri.
5. Kaji

tipe

dan

sumber

nyeri

untuk
menentukan
intervensi.
6. Berikan
analgetik untuk
mengurangi
nyeri.
2) Ketidakseimbangan

Setelah dilakukan tindakan 1. Tentukan

nutrisi kurang dari keperawatan


kebutuhan

diharapkan

tubuh nutrisi pasien adekuat.

kemampuan
pasien

untuk

berhubungan dengan NOC : Status Gizi, kriteria

memenuhi

ketidakmampuan

kebutuhan

hasil :

mencerna makanan, 1. Mempertahankan


mual,
anoreksia.

muntah,

berat

badan.

nutrisi.
2. Pantau

2. Toleransi terhadap diet


yang dianjurkan.

kandungan
nutrisi dan kalori

3. Menunjukan

tingkat

pada

keadekuatan

tingkat

asupan.

energi.
4. Turgor kulit baik.

catatan

3. Berikan
informasi
tepat

yang
tentang

kebutuhan nutrisi
dan

bagaimana

memenuhinya.
4. Minimalkan

faktor yang dapat


menimbulkan
mual

dan

muntah.
5. Pertahankan
higiene

mulut

sebelum

dan

sesudah makan.

3) Ansietas

Setelah dilakukan tindakan 1. Jelaskan

berhubungan dengan keperawatan


proknosis

diharapkan

penyakit kecemasan

rencana

berkurang.

pembedahan.

1. Klien

pasien

semua

prosedur dan apa


yang

dirasakan

selama prosedur.
mampu 2. Temani

mengidentifikasi

dan

mengungkapkan

gejala

cemas

pasien

untuk
memberikan
keamanandan

2. Vital sign dalam batas


normal

mengurangi
takut.

3. Ekspresi wajah, bahasa 3. Identifikasi


tubuh,

dan

aktivitas

menunjukan

berkurangnya
kecemasan.

tingkat

tingkat
kecemasan
4. Observasi

vital

sign.
5. Berikan
untuk
mengurangi
kecemasan.

obat

B. Post Operasi
Diagnosa
1) Nyeri
dengan

NIC

NOC

berhubungan Tujuan :

1. Lakukan pengkajian

terputusnya Nyeri berkurang sampai

kontinuitas jaringan.

dengan

hilang

secara

nyeri

secara

komprehensif

bertahap.

termasuk

Kriteria Hasil :

karakteristik, durasi,

1. Mampu

mengontrol

lokasi,

frekuensi,

kualitas

nyeri (tahu penyebab

dan

nyeri,mampu

presipitasi.

menggunakan

teknik

2. Kaji

faktor

kultur

non farmakologi untuk

mempengaruhi

mengurangi nyeri)

respon nyeri.

2. Melaporkan
nyeri

bahwa
berkurang

3. Kontrol

yang

lingkungan

yang

dapat

dengan menggunakan

menpengaruhi nyeri

manajemen nyeri

seperti suhu ruangan,

3. Mampu

mengenali

nyeri

dan

kebisingan.

(skala,intensitas,freku
ensi, dan tanda nyeri)
4. Menyatakan

pencahayaan

rasa

4. Kurangi

faktor

presipitasi nyeri.
5. Kaji tipe dan sumber

nyaman setelah nyeri

nyeri

untuk

berkurang

menentukan
intervensi.
6. Berikan
untuk
nyeri.

analgetik
mengurangi

2) Risiko

kekurangan Setelah

volume

dilakukan 1. Pertahankan catatan

cairan tindakan

keperawatan

berhubungan dengan diharapkan keseimbangan

intake

dan

output

yang akurat.

asupan cairan yang cairan pasien normal dan 2. Monitor vital sign
tidak adekuat

dapat

mempertahankan

hidrasi yang adekuat.


Kriteria hasil :

3. Monitor

status

nutrisi.

1. Mempertahankan
urine

dan status hidrasi.

output

sesuai

4. Awasi

nilai

laboratorium, seperti
Na+albumin

dengan usia dan BB,

Hb/Ht,

BJ urine normal, HT

dan

normal.

pembekuan.

waktu

2. Tekanan darah, nadi, 5. Kolaborasikan


suhu

tubuh

dalam

batas normal.
3. Tidak ada tanda
tanda

cairan

intravena

sesuai

terapi.

dehidrasi, 6. Atur

elastisitas,
kulit,

pemberian

turgor

kemungkinan

transfusi darah

membran

mukosa lembab.
4. Tidak ada rasa haus
yang berlebihan.

3) Risiko

infeksi Setelah

dilakukan 1. Pantau

berhubungan dengan tindakan


prosedur invasif.

keperawatan

tanda

dan

gejala infeksi (suhu,

diharapkan tidak terjadi

denyut

infeksi pada luka bedah.

penampilan luka).

NOC

Pengendalian 2. Amati

Risiko, kriteria hasil :


1. Bebas dari tanda dan
gejala infeksi.
2. Higiene pribadi yang

jantung,

penampilan

praktik

higiene

pribadi

untuk

perlindungan
terhadap infeksi.

adekuat.

3. Instruksikan

3. Mengikuti

prosedur

dan pemantauan

untuk

menjaga

higiene

pribadi

untuk

melindungi

tubuh

terhadap infeksi.
4. Lindungi

pasien

terhadap kontaminasi
silang

dengan

pemakaian set ganti


balut yang steril.
5. Bersihkan
lingkungan

dengan

benar setelah.

4) Intoleran Aktivitas

Setelah
tindakan

dilakukan 1. Kaji tanda dan gejala


keperawatan

diharapkan

dapat

melakukan

aktivitas

yang

menunjukkan

ketidaktoleransi
terhadap

aktivitas

mandiri.

dan

Kriteria Hasil :

pelaporan

1. Berpartisipasi dalam

memerlukan
terhadap

perawat dan dokter

aktivitas fisik tanpa 2. Buat jadawal latihan


disertai

peningkatan

aktivitas

secara

tekanan darah, nadi

bertahap

untuk

dan RR

pasien dan berikan

2. Mampu
aktivitas

melakukan

periode istirahat

sehari-hari 3. Berkan suport dan

secara mandiri
3. Tanda-tanda

libatkan
vital

normal.

keluarga

dalam program terapi


4. Bantu

dengan

4. Energy psikomotor

aktivitas fisik teratur

5. Level kelemahan

( misalnya ambulasi,

6. Mampu
dengan

berpindah
atau

tanpa

bantuan alat.
7. Status
kardiopulmonari
adekuat.
8. Sirkulasi status baik.
Status respirasi adekuat

transfer,

perubahan

posisi,

perawatan

personal)

sesuai

kebutuhan
5. Batasi

rangsangan

lingkungan
(kebisingan

dan

cahaya)

untuk

meningkatkan
relaksasi
6. Bantu

pasien untuk

memonitor

diri

dengan
mengembangkan dan
menggunakan
dokumetasi

tertulis

tentang intake kalori


dan

energi

sesuai

kebutuhan.
7. Tentukan

faktor

penyebab kelelahan,
monitor

respon

kardiorespiratory
(tacikardi, dypsneu,
pucat),
respon
aktivitas,

monitor
O2

thd

monitor

intake nutrisi)

DAFTAR PUSTAKA

Betz, Cecily L, dkk. 2002. Buku Saku Keperawatan Pediatri, Edisi 3. Jakarta :
EGC.
Catzel, Pincus. 1995. Kapita Selekta Pediatri. Jakarta : EGC.
Dongoes, Marilyn. E.dkk. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk
Perencana Pendokumentasian Perawatan Klien. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Johnson, Marion, dkk. Nursing Outcome Classification (NOC). St. Louis,
Missouri : Mosby Yearbook, Inc.
Markum.1991.Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : FKUI.
Mansjoer. A. Dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2. Edisi 3. Jakarta :
Media Aesculapius.
Mc. Closkey, Joanne. 1996. Nursing Intervention Classsification (NIC). St. Louis,
Missouri : Mosby Yearbook, Inc.
Nelson. 1994. Ilmu Kesehatan Anak.Vol 2. Jakarta : EGC.
Sabiston, D.C. 1995. Buku Ajar Bedah. Jakarta : EGC.
Syamsuhidayat. R & De Jong W. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2 .Jakarta :
EGC.
Wong, Donna L. 2003. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik, Edisi 4. Jakarta :
EGC.

Gianyar, 01 November 2014


Mengetahui,
Pembimbing Praktek Ruang Bima

Mahasiswa

(Ni Ketut Dwi Korawati, A.Md. Kep)

(Ni Ketut Ayu Suwiandani)

NIP. 196510071986032019

NIM. P07120012026

Mengetahui
Pembimbing Akademik

(I Made Mertha, S.Kp, M.kep)


NIP. 196910151993031015

Anda mungkin juga menyukai