Anda di halaman 1dari 15

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Bayi Berat Lahir Rendah


2.1.1

Definisi
Bayi berat lahir rendah adalah bayi yang lahir dengan berat di
bawah 2500 gram. Berat badan merupakan salah satu indicator
kesehatan bayi baru lahir. Rata rata berat bayi normal (usia gestasi 37
41 minggu ) adalah 3200 gram. Secara umum bayi berat lahir rendah
(< 2500 gram) dan bayi dengan berat yang berlebih ( > 3800 gram)
lebih besar resikonya untuk mengalami masalah. Masa gestasi juga
merupakan indikasi kesejahteraan bayi baru lahir, karena semakin
cukup masa gestasi, semakin baik kesejahteraan bayi.
Konsep berat bayi lahir rendah tidak sama dengan prematuritas. Tidak semua bayi baru lahir memiliki berat lahir kurang dari 2500
gram lahir kurang bulan. Hubungan antara umur kehamilan dengan berat lahir mencerminkan kecukupan pertumbuhan intrauterine. Penentuan hubungan ini akan mempermudah antisipasi morbiditas dan mortilitas selanjutnya. Hubungan antara berat lahir atau umur kehamilan juga
sangat membantu dalam meramalkan masalah klinis berat bayi lahir,
sehingga American Academy of Pediatrics, Committee on Fetus and
Newborn menyarankan agar semua bayi diklasifikasikan. Identifikasi

antenatal terhadap penyimpangan pertumbuhan intrauterine mempermudah perencanaan persalinan dan resusitasi neonatal jika diperlukan.
Kepentingan klinis klasifikasi BBL menurut umur kehamilan
dan berat bayi berawal dari fakta bahwa baik bayi yang mengalami gagal tumbuh maupun makrosomia dengan umur kehamilan dan berat lahirnya berbeda, mempunyai masalah klinis yang serupa yaitu, gangguan
perkembangan fisik, gangguan perkembangan mental dan neurologis,
peningkatan insiden kelainan kongenital, serta gangguan beberapa parameter metabolic, terutama keseimbangan glukosa (Ikatan Dokter
Anak Indonesia, 2010).
2.1.2 Potensi Bayi Berat Lahir Rendah
Status gizi ibu hamil di pengaruhi terhadap faktor resiko, diet,
pengukuran antropometrik dan biokimia. Penilaian tentang asupan pangan dapat di peroleh melalui ingatan 24 jam. Maka gizi ibu yang kurang
baik perlu di perbaiki keadaan gizinya atau yang obesitas mendekati
yang normal, yang di lakukan sebelum hamil. Sehingga mereka
mempunyai kesempatan lebih besar untuk mendapatkan bayi yang
sehat, serta untuk mempertahankan kesehatannya sendiri. Berat badan
bayi baru lahir ditentukan oleh (disamping faktor genetis) status gizi
janin. Status gizi janin ditentukan antara lain oleh status gizi ibu pada
waktu melahirkan dan keadaan ini dipengaruhi pula oleh status gizi ibu
pada waktu konsepsi. Status gizi ibu sewaktu konsepsi dipengaruhi
oleh:

1) Keadaan sosial dan ekonomi ibu sebelum hamil.


2) Keadaan kesehatan dan gizi ibu.
3) Jarak kelahiran jika yang dikandung bukan anak yang
pertama.
4) Paritas dan usia kehamilan pertama.
Status gizi pada waktu melahirkan ditentukan berdasarkan
kesehatan dan status gizi waktu konsepsi, juga berdasarkan keadaan sosial dan ekonomi waktu hamil, derajat pekerjaan fisik, asupan pangan,
dan pemah tidaknya terjangkit penyakit infeksi. Status gizi ibu akan
mempengaruhi status gizi janin dan berat lahir. Penilaian status gizi dan
perubahan fisiologis selama hamil dapat digunakan untuk memperkirakan laju pertumbuhan janin, misalnya berat badan rendah sebelum konsepsi serta pertambahan berat badan
yang tidak adekuat (.)
2.1.3 Faktor Resiko Bayi Berat Lahir Rendah
Terdapat banyak penyebab gangguan pertumbuhan intrauterin, yang disebut juga Intra Uterine Growth Retardation (IUGR) dan
efeknya terhadap janin bervariasi sesuai dengan cara dan lama terpapar
serta tahap pertumbuhan janin saat penyebab tersebut terjadi. Walaupun
setiap organ dapat dipengaruhi oleh gangguan pertumbuhan intraute rin, efeknya pada tiap organ tidak sama. Jika gangguan pertumbuhan
terjadi pada akhir kehamilan, pertumbuhan jantung, otak, dan tulang
rangka tampak paling terpengaruh, sedangkan ukuran hati, limpa, dan

timus sangat berkurang. Keadaan klinis ini disebut dengan gangguan


pertumbuhan asimetri dan biasa terjadi pada bayi bayi yang dilahirkan
oleh wanita penderita hipertensi kehamilan. Sebaliknya, jika gangguan
terjadi pada awal kehamilan akan tampak pertumbuhan otak dan tulang
dan rangka pun terganggu. Keadaan klinis ini disebut gangguan pertumbuhan simetri dan seringkali berkaitan dengan hasil akhir perkembangan syaraf yang buruk. Banyak hal dan factor yang bisa dinilai sebagai indikator apakah janin atau bayi tersebut sebelumnya dalam proses kehamilan mengalami gangguan perkembangan dan pertumbuhan.
2.1.2.1 Plasenta
Pada pertumbuhan intrauterine normal, pertambahan
berat plasenta sejalan sengan pertambahan berat janin, tetapi
walaupun untuk terjadinya berat bayi besar dibutuhkan plasenta
yang besar, tidak demikian sebaliknya. Namun demikian, berat
lahir memiliki hubungan yang berarti dengan berat plasenta.
Aliran darah uterus, juga transfer oksigen dan nutrisi plasenta
dapat beruhbah pada berbagai penyakit vascular yang di derita
ibu. Disfungsi plasenta yang sering berakibat gangguan pertumbuhan janin. Dua puluh lima sampai tiga puluh persen kasus
gangguan pertumbuhan janin dianggap sebagai hasil penurunan
aliran darah uteroplasenta pada kehamilan dengan komplikasi
penyakit vascular ibu. Keadaan klinis yang melibatkan aliran
darah plasenta yang buruk meliputi kehamlan ganda, penya-

lahgunaan obat, penyakit vascular(hipertensi dalam kehamilan),


penyakit ginjal penyakit infeksi, insersi plasenta umbilicus yang
abnormal dan tumor vaskular.
2.1.2.2 Malnutrisi
Ada dua variable bebas yang diketahui memengaruhi
pertumbuhan janin, yaitu berat ibu sebelum hamil dan pertambahan berat ibu selama hamil. Ibu dengan berat badan kurang seringkali melahirkan bayi yang berukuran lebih kecil daripada yang dilahirkan ibu dengan berat normal atau berlebihan.
Selama embriogenesis status nutrisi ibu memiliki efek kecil terhadap pertumbuhan janin. Hal ini karena kebanyakan wanita
memiliki cukup simpanan nutrisi untuk embrio yang tumbuh
lambat. Meskipun demikian, pada fase pertumbuhan trimester
ketiga saat hipertrofi seluler janin dimulai, kebutuhan nutrisi
janin dapat melebihi persediaan ibu jika masukan nutrisi ibu
rendah. Data upaya menekan kelahiran bayi berat lahir rendah
dengan pemberian tambahan makanan kepada populasi beresiko
tinggi (riwayat nutrisi buruk) menunjukan bahwa kalori tambahn lebih berpengaruh terhadap peningkatan berat jnin dibanding penambahan protein.
2.1.2.3 Infeksi
Infeksi virus tertentu berhubungan dengan gangguan
pertumbuhan janin. Wanita wanita dengan status so-

sioekonomi lebih rendah diketahui melahirkan bayi dengan


gangguan pertumbuhan maupun bayi kecil disamping memiliki
insidensi perinatal yang lebih tinggi. Bayi bayi yang menderita
infeksi rubella congenital dan sitomegalovirus (CMV) umumnya
terjadi gangguan pertumbuhan janin, tidak tergantung pada
umur kehamilan saat mereka dilahirkan.
Namun demikian hubungan gangguan mental dengan
infeksi tidak meunjukan sebab dan akibat yang jelas.
2.1.2.4 Genetik
Diperkirakan 40% dari seluruh variasi berat lahir
berkaitan dengan kontribusi genetic ibu dan janin. Wanita normal tentu memiliki kecenderungan untuk melahirkan bayi kecil
masa kehamilan (tingkat pengulangan 25-50%). Demikian juga,
wanita yang pernah melahirkan bayi besar memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk kembali melahirkan bayi besar, dan
mereka sendiri cenderung berukuran besar pada saat lahir. Hubungan yang berarti antar berat lahir ibu dan janin berlaku pada
semua ras.

2.1.4 Resiko atau Dampak Bayi Berat Lahir Rendah


Di Indonesia batas ambang lingkar lengan atas dengan resiko kurang energy kronis (KEK) adalah 23,5 cm hal ini berarti ibu hamil
dengan resiko KEK diperkirakan akan melahirkan bayi BBLR. Bila ba-

yi lahir dengan berat badan rendah (BBLR) akan mempunyai risiko


kematian, gizi kurang, gangguan pertumbuhan dan gangguan perkembangan anak. Untuk mencegah risiko KEK pada ibu hamil sebelum kehamilan wanita usia subur sudah harus mempunyai gizi yang baik,
misalnya dengan LILA tidak kurang dari 23,5 cm. Apabila LILA ibu
sebelum hamil kurang dari angka ini, sebaiknya kehamilan ditunda sehingga tidak berisiko melahirkan BBLR.

2.2 Status Gizi Ibu hamil


Status gizi sebelum dan selama hamil dapat memengaruhi pertumbuhan janin yang sedang di kandung. Bila status gizi ibu normal pada masa
sebelum dan selama hamil kemungkinan besar akan melahirkan bayi yang
sehat, cukup bulan dan berat badan normal. Dengan kata lain kualitas bayi
yang dilahirkan sangat tergantung pada keadaan gizi ibu sebelum dan selama
hamil.
Salah satu cara amenilai kualitas bayi adalah engan mengukur berat
bayi pada saat lahir. Seorang ibu hamil akan melahirkan bayi yang sehat bila
tingkat kesehatan dan gizinya berada pada kondisi yang baik. Namun sampai
saat ini masih banyak ibu hamil yang mengalami masalah gizi khususnya gizi
kurang seoerti Kurang Energi Kronis (KEK) dan anemia gizi (Depkes RI,
1996).
Ibu hamil yang menderita KEK dan anemia mempunyai resiko
kesakitan yang lebih besar terutama pada trimester III kehamilan dibanding-

kan dengan ibu hamil normal. Akibatnya mereka mempunyai risiko yang
lebih besar untuk melahirkan bayi BBLR, kematian saat persalinan, perdarahan, dan pasca-persalinan yang sulit karena lemah dan mudah mengalami
gangguan kesehatan. Bayi yang dilahirkan dengan BBLR umumnya kurang
mampu meredam tekanan lingkungan yang baru, sehingga dapat berakibt pada terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan, bahkan dapat mengganggu
kelangsungan hidupnya,
Selain itu juga akan meningkatkan risiko kesakitan dan kematian
bayi karena rentan terhadap infeksi saluran pernapasan bagian bawah,
gangguan belajarm masalah perilaku, dan lain sebagainya.

2.2.1 Kebutuhan Gizi Ibu Hamil


Gizi yang dibutuhkan oleh ibu hamil tergantung pada aktivitas ibu
tersebut. Bersasarkan pada beberapa teori mengenai prinsip diet pada ibu
hamil, di perlukan tambahan sebanyak 2132,1 kalori agar protein tidak
dipecah menjadi energy. Tambahan kalori bisa didapat dari nasi, roti mie, jagung, ubi, kentang, dan sebagainya.
Protein diberikan tinggi sebesar 90 gram. Protein yang dikonsumsi
sebaiknya mempunyai nilai biologis tinggi, misalnya: daging, susu, telur, keju, produk susu dan ikan. Tambahan proteon diperlukan untuk pertumbuhan
janin, yaitu untuk membentuk otot, kulit, rambut dan kuku.
Lemak diperlukan cukup sebesar 59,2 gram berfungsi sebagai
pembawa vitamin yang larut dalam lemak, serta fungsi fungsi lainya. Khu-

sus mengenai konsumsi lemak, harus dipilih lemak yang banyak mengandung
asam lemak esensial yang sangat diperlukan oleh tubuh selama kehamilan.
Karbohidrat diperlukan cukup sebesar 320 gram, adanya hidrat
arang diperlukan guna mencegah terjadinya ketosis.
Tambahan vitamin dan mineral terutama tambahan zat besi diperlukan untuk menambahn jatah darah untuk keperluan ibu dan janin. Besi banyak terdapat dalam daging, hati dan sayuran hijau, seperti bayam, kangkung,
daun singkong, daun papaya dan sebagainya. Tambahan zat kapur diperlukan
untuk membentuk tulang dan persendian untuk membentuk gigi nanti setelah
bayi dilahirkan. Kapur banyak terdapat dalam susu, ikan teri kering dan
sayuran hijau.
Tambahan vitamin diperlukan untuk melancarkan pekerjaan dalam
tubuh ibu dan bayi. Beberapa vitamin sisimpan untuk keperluan bayi pada bulan bulan pertama, pada waktu dimana ia baru minum susu saja. Vitamin B
kompleks terdapat banyak dalam beras tumbuk, kacang kacangan kering.
Vitamin A banyak terdapat dalam kuning telur, hati, sayuran dan buah
buahan berwarna hijau dan kuning kemerahan. Vitamin C banyak terdapat
dalam sayur dan buah buahan.

2.2.2 Zat Gizi Penunjang Kehamilan


2.2.2.1 Zat Gizi Makro
2.2.2.1.1 Energi

Kalori yang dibutuhkan tergantung aktivitasnya


ibu dan peningkatan BMR. Untuk ibu hamil ditambahkan 300 kalori/ hari dari kebutuhan waktu tidak
hamil. Energy yang diberikan tinggi berfungsi untuk
menyediakan energy yang cukup agar protein tidak
dipecah menjadi energy. Tambahan kalori bisa
didapat dari nasi, roti, mie, jagung, ubi, kentang, dan
sebagainya,
2.2.2.1.2 Protein
Protein diberikan tinggi untuk menunjang pembentukan sel sel baru bagi ibu dan bayi. Penambahan protein sebesar 10 gram/kg BB/ hari. Protein yang
dikonsumsi sebaiknya yang mempunyai nilai biologis
tinggi misalnya: daging, susu, keju, prosuk susu, dan
ikan. Tambahan protein diperlukan untuk pertumbuhan janin, yaitu untuk membentuk otot, kulit dan
kuku.
2.2.2.1.3 Lemak
Akumulasi lemak pada jaringan ibu terutama
diperlukan sebagai cadangan energy ibu. Lemak juga
dapat berfungsi lain, sebagai pembawa vitamin yang
larut lemak, serta fungsi fungsi lainnya. Khusus
mengenai konsumsi lemak, harus dipilih lemak yang

banyak mengandung asam lemak esensial yang sangat


diperlukan oleh tubuh selama kehamilan.

2.2.2.1.4 Karbohidrat
akumulasi hidrat arang tidak banyak terjadi,
kecuali dalam bentuk jaringan hidrat arang structural
yang ada pada otak, tulang rawan, dan jaringan ikat.
Adanya hidrat arang diperlukan guna mencegah terjadinya ketosis.

2.2.2.2 Zat Gizi Mikro


2.2.2.2.1 Kalsium, Fosfor dan Vitamin D
Kalsium adalah zat gizi yang penting untuk ibu
hamil, di samping fosfor dan vitamin D. Ketiga zat ini
dibutuhkan untuk pembentukan tulang dan gigi pada
janin. Apabila konsumsi ketiga zat gizi ini tidak
mencukupi untuk ibu hamil melalui fetus, melalui
plasenta akan mengambil ketiga zat gizi tersebut dari
ibu secara maksimal untuk pertumbuhan tulang dan
gigi.
2.2.2.2.2 Fe (Zat Besi)
Kebutuhan zat besi untuk ibu hamil meningkat
untuk pertumbuhan janin. Zat besi akan disimpan oleh

janin dihati selama bulan pertama sampai dengan bulan keenam hidupannya untuk ibu hamil pada trimester ketiga harus meningkatkan zat besi untuk
kepentingan kadar Hb dalam darah untuk transfer pada plasenta, janin dan persiapan kelahiran. Sumber zat
besi yang baik untuk dikonsumsi ibu hamil adalah
dari sumber hewani Karena bernilai biologis tinggi.
Besi banyak terdapat pada daging, hati, sayuran hijau
seperti: bayam, kangkung, daun singkong, dan sebagainya.
2.2.2.2.3 Yodium
Yodium merupakan salah satu mineral untuk
pembentukan hormone tiroksin yang dibutuhkan untuk pertumbuhan janin, serta untuk mengatasi kekurangan yodium selama kehamilan yang hilang melalui
urin. Untuk ibu hamil kebutuhan yodium adalah 125
mikogram/hari, apabila kekurangan yodium, janin besar kemungkinan menjadi kretin.
2.2.2.2.4 Zink
Zink berperan pada pembentukan retinol bin ding protein sehingga Vitamin A dapat ditransfer ke
fetus.
2.2.2.2.5 Magnesium

Magnesium berperan untuk pertumbuhan tulang.


2.2.2.2.6 Mangan
Magnesium berperan sebagai pembentuk tulang.
2.2.2.2.7 Asam folat
Asam folat dibutuhkan selama kehamilan untuk pemecahan sel dan sintesis DNA. Selain itu, asam
folat dibutuhkan untuk menghindari terjadinya anemia
megaloblastis pada ibu hamil. Kebutuhan asam folat
400-800 mikrogram/hari.
2.2.2.2.8 Vitamin E
Dibutuhkan untuk pertumbuhan bayi ibu dan janinnya saja, karena Vitamin E terdapat pada asam lemak esensial yaitu: asam lemak linoleate.
2.2.2.2.9 Vitamin A, K, C, B
Vitamin A diperlukan untuk peralatan atau organ reproduksi ibu dan perkembangan janin dan fetus.
Vitamin K diberikan untuk menghindari terjadinya
kelainan darah pada janin. Vitamin C dibutuhkan 60
mg/ hari untuk ibu hamil, Vitamin C dibutuhkan untuk pembentukan substansi ekstraseluler jaringan pada
janin. Vitamin B diperlukan untuk ibu hamil cukup

tinggi, karena berperan sebagai koenzim agar zat gizi


kalori protein dapat diganti sebagai energi.

2.2.3 Dampak Kekurangan Gizi bagi Ibu Hamil


Bila ibu mengalami kekurangan gizi selama hamil, akan menimbulkan masalah, baik pada ibu maupun janin. Gizi kurang pada ibu
hail dapat menyebabkan risiko dan komplikasi pada ibu antara lain:
anemia, perdarahan, berat badan ibu tidak bertambah secara normal,
dan terkena penyakit infeksi. Pengaruh gizi kurang terhadap proses
persalinan dapat mengakibatkan persalinan sulit dan lama, persalinan
sebelum waktunya(premature), perdarahan setelah persalinan, serta
persalinan dengan operasi cenderung meningkat.
Terhadap janin, kekurangan gizi pada ibu hamil dapat
digunakan untuk mengetahui proses pertumbuhan janin dan dapat
menimbulkan keguguran, abortus, bayi lahir mati, kematian neonatal,
cacat bawaan, anemia pada bayi, kematian dalam kandungan , dan lahir dengan berat badan yang rendah.
Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengetahui
status gizi ibu hamil antara lain memantau pertambahan berat badan
selama hamil, mengukur lingkan lengan atas (LILA), dan mengukur
kadar Hb. Pertambahan berat badan selama kehamilan sekirar 10-12
kg, dimana pada trimester I pertambahan kurnag dari 1 kg, trimester II

sekitar 3 kg, dan trimester III sekitar 6 kg. pertambahan berat badan
ini juga sekaligus untuk memantau pertumbuhan janin. Pengukuran
LILA dimaksudkan untuk mengetahui apakah seseorang menderita
kurang energy kronis (KEK), sedangkan pengukuran kadar Hb untuk
mengetahui kondisi ibu apakah menderita anemia gizi.
Gizi yang baik diperlukan seorang ibu hamil agar tidak mengalami hambatan, dan selanjutnya akan melahirkan bayi dengan berat
normal. Dengan kondisi kesehatan yang baik, kondisi kesehatan yang
normal, tidak menderita sakit, dan tidak ada gangguan gizi pada masa
kehamilan dan masa prahamil, ibu akan melahirkan bayi lebih besar
dan lebih sehat daripada ibu dengan kondisi kehamilan yang sebaliknya. Ibu dengan kondisi kurang gizi kronis pada masa hamil, sering melahirkan bayi BBLR, vitalitas yang rendah dan kematian yang
tinggi, terlebih lagi bila ibu menderita anemia.