Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN TETAP PRAKTIKUM

ALIRAN MELALUI UNGGUN DIAM DAN TERFLUIDISASI


MENGGUNAKAN UDARA SEBAGAI FLUIDA

DISUSUN OLEH:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Deviana Aditya Putri


Dimas Agung Budi Setyawan
M. Yuda Pratama
Putri Inggit Istiqomah
Runi Bella Vis Kurnia
Victor Alberto Valentino

KELAS
KELOMPOK
JURUSAN
INSTRUKTUR

:
:
:
:

(061330401054)
(061330401057)
(061330401060)
(061330401064)
(061330401069)
(061330401072)

3 KF
III (TIGA)
TEKNIK KIMIA
Ibnu Hajar, S.T, M.T

Politeknik Negeri Sriwijaya


2014/2015

ALIRAN MELALUI UNGGUN DIAM DAN


TERFLUIDISASI MENGGUNAKAN UDARA
SEBAGAI FLUIDA

A. TUJUAN
1. Menentukan penurunan tekanan (h) pada unggun diam dan
terfluidisasi
2. Membuktikan persamaan CARMAN-KONZENY
3. Mengamati kelakuan fluidisasi

B. ALAT DAN BAHAN YANG DIGUNAKAN


1. Balotini kasar 1 kg
2. Balotini halus 1 kg
3. Neraca Analitik
4. Jangka Sorong
5. Regulator
6. Piknometer 25 ml
7. Corong Plastik
8. Gelas Piala 500 ml
9. Peralatan Fluidisasi

C. DASAR TEORI
Untuk menentukan penurunan tekanan (h) pada unggun diam
(fixed) dapat digunakan persamaan CARMAN-KONZENY sebagai
berikut:

Dimana:
Dp

: Ukuran partikel (mikron)

: Tinggi balotoni dalam kolom (m)

: Viskositas air (10-3 Nsm-2)

vw

: Viskositas Kinematik air (10-6 Nsm-2)

: density air (kgm-3)

: density partikel (kgm-3)

Re

: Bilangan reynold

rata-rata yang dihitung berdasarkan

kecepatan superficial

dan tak berdimensi

Bila laju alir (Q diukur dalam L/s) dan Vsm (kecepatan seperfisial ratarata) dalam /s, maka:

Dimana:
A

: Luas Penampang unggun

Karena penurunan tekanan diukur dalam mmH2O, maka:

Maka persamaan dasar dari CARMAN-KONZENY akan menjadi:


[

penurunan tekanan pada fluidisasi dapat diperkirakan dengan menggunakan


persamaan:

Sehingga didapat:

Nilai w dan Vm diukur dari data I.

TEORI TAMBAHAN
Fluidisasi adalah metode pengontakan butiran-butiran padat dengan
fluida baik cair maupun gas. Dengan metode ini diharapkan butiran-butiran
padat memiliki sifat seperti fluida dengan viskositas tinggi. Sebagai ilustrasi
tinjau suatu kolom berisi sejumlah partikel padat berbentuk bola. Pada laju
alir yang cukup rendah butiran padat akan tetap diam karena gas hanya
mengalir

melalui

ruang

antar partikel tanpa

menyebabkan perubahan

susunan partikel tersebut. Keadaan yang demikian disebut unggun diam atau
fixed bed.
Kalau laju alir kemudian dinaikkan akan sampai pada satu keadaan
dimana unggun padatan akan tersuspensi didalam aliran gas yang

melaluinya. Pada keadaan ini masing-masing butiran akan terpisahkan satu


sama lain sehingga dapat bergerak dengan lebih mudah. Pada kondisi
butiran yang dapat bergerak ini. Sifat unggun akan menyerupai suatu cairan
dengan viskositas tinggi, misalnya adanya kecenderungan untuk mengalir,
mempunyai sifat hidrostatik dan sebagainya.
Dalam dunia industri dapat diaplikasikan dalam banyak hal seperti
transportasi

padatan

(conveyer

solid)

pencampuran

Padatan

halus,

perpindahan permukaan logam, proses drying dan sizing pada pembukaan,


proses pertumbuhan partikel, dan kondensasi bahan yang dapat mengalami
sublimasi,adsorbsi (untuk pengering udara dan adsorben) dan masih banyak
aplikasi lain.

Pressure Drop
Aspek utama yang akan ditinjau dalam percobaan ni adalah mengetahui
besarnya pressure drop di dalam unggun padatan yang terfluidakan. Hal ini
mempunyai arti yang cukup penting karena selain erat sekali hubungannya
dengan besarnya energi yang diperlukan juga bisa memberikan indikasi
tentang kelakuanunggung selama operasi berlangsung.

Pressure Drop damal Unggun Diam


Korelasi matematik yang menggambarkan hubungan antara hilamg tekandan
dengan laju alir fluida dalam suatu sistem unggun diam diperoleh pertamakali
pada tahun 1922 yaitu dengan menggunakan bilangan-bilangan tak
berdimensi. Untuk aliran laminar dengan kehilangan energi terutama
disebabkan oleh gaya viscous.

Kecepatan Minimum Fluidisasi


Yang dimaksud dengan kecepatan minimum fluidisasi (dengan notasi Vnf)
adalahkecepatan

superficial fluida

minimum dimana

fluidisasi

mulai

terjadi. Harganya didapat dengan mengkombinasikan persamaan ergun


dengan neraca massa terfluidisasikan.

Fenomena-fenomena yang dapat terjadi pada proses fluidisasi antara


lain:
1. Fenomena fixed bed yang terjadi ketika laju aliran fluida kurang dari laju
minimum yang dibutuhkan untuk proses awal fluidisasi. Pada kondisi ini
partikel diam atau tidak bergerak.
2. Fenomena minumum atau incipient fluidization yang terjadi ketika laju alir
fluida mencapai laju alir minimum yang dibutuhkan untuk proses
fluidisasi. Pada kondisi ini partikel-partikel padat mulai terekspansi.
3. Fenomena snooth or homogenously fludization terjadi ketika kecepatan
distribusi aliran fluida merata. densitas dan distribusi partikel dalam
unggun sama atau homogen sehingga ekspansi pada setiap partikel
padatan beragam.
4. Fenomena bubling fluidization yang terjadi ketika gelembung-gelembung
pada unggun terbentuk akibat densitas dan distribusi partikel tidak
homogen.
5. Fenomena

sluging

fluidization

yang

terjadi

ketika

yang terjadi ketika gelembung-gelembung besar yang mencapai lebar


dari diameter kolom terbentuk pada partikel-partikel padat. Pada kondisi
ini terjadi penorakan sehingga partikel-partikel padat seperti terangkat.
6. Fenomena chanelling fluidization yang terjadi ketika dalam unggun
partikel padat terbentuk saluran-saluran seperti tebing vertikal.
7. Fenomena disperse fluidization yang terjadi saat kecepatan alir fluida
melampaui

kecepatan maksimal

aliran fliuida.

Pada

fenomena

ini

sebagian partikel akan terbawa aliran fluida dan ekspansi mencapai nilai
maksimum

Fenomena-fenomena fluidisasi tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor:


1. Laju alir fluida dan jenis fluida
2. Ukuran partikel
3. Jenis dan densitas partikel serta faktor interlok antar partikel
4. Porositas unggun
5. Distribusi aliran
6. Distribusi bentuk aliran fluida
7. Diameter kolom
8. Tinggi

D. LANGKAH KERJA
1. Mengisi kolom pengatur ukuran udara.
2. Menutup kran pengatur ukuran udara.
3. Memeriksa apakah pembacaan manometer udara pada posisi nol ()),
bila tidak atur hingga posisi tersebut.
4. Menjalankan pokpa udara dan mengatur aliran udara pada kenaikkan
1 L/min.
5. Mencatat unggun,pembacaan manometer dan jenis unggun.
6. Mentabulasikan pada tabel.
7. Mengulangi percobaan memakai balotini halus.
8. Menentukan density partikel dengan menimbang sejumlah volume
balotini.

E. DATA PENGAMATAN
Percobaan 1
Tinggi Unggun
(mm)

Laju Alir (L/min)

Penurunan Tekanan
(mmH2O)

Jenis Unggun

157

56

Diam

157

70

Diam

157

86

Diam

157

103

Diam

158

114

Terfluidisasi

159

130

Terfluidisasi

162

137

Terfluidisasi

163

149

Terfluidisasi

164

10

157

Terfluidisasi

165

11

163

Terfluidisasi

166

12

170

Terfluidisasi

167

13

178

Terfluidisasi

169

14

183

Terfluidisasi

170

15

185

Terfluidisasi

171

16

185

Terfluidisasi

173

17

185

Terfluidisasi

175

18

187

Terfluidisasi

178

19

187,5

Terfluidisasi

180

20

189

Terfluidisasi

183

21

190

Terfluidisasi

185

22

191

Terfluidisasi

188

23

191

Terfluidisasi

192

24

192

Terfluidisasi

195

25

192

Terfluidisasi

F. PERHITUNGAN
1. Menentukan density pasir

; berat pasir = 1,31 gr ; volume pasir = 1,1404 ml


partikel =

= 1,14851 gr/ml

2. Menghitung massa partikel dalam kolom (bed)


Vbed =

h
-2

) . (157 x 10-3m)

=
=285,14 ml

m = 327,486 gr
= 0,327485 kg

3. Menghitung luas penampang


2

= 18,16 x

= 0,999

4. Menghitung zat padat (density) menggunakan piknometer

Piknometer kosong

= 60,37 gr

Piknometer + aquadest

= 162,48 gr

Berat Jenis air

= 0,972 gr/ml

Volume piknometer

Berat piknometer + pasir

= 61,68 gr

Berat Piknometer + pasir + aquadest

Berat pasir

= 1,02 gr

Berat aquadest

= 101,19 gr

Volume aquadest

Volume Pasir

= 0,9465 ml

pasir

air

= 162,87 gr

Menghitung h pada unggun diam minggu pertama


1.

Laju alir 2 L/min = 0,33 L/s

2. Laju alir 3 L/min = 0,05 L/s

3. Laju alir 4 L/min = 0,066 L/s

4. Laju alir 5 L/min = 0,083 L/s

[
[

]
]

Menghitung h pada unggun terfluidisasi pada minggu pertama


1. Pada unggun 158 mm

2. Pada unggun 159 mm

3. Pada unggun 162 mm

4. Pada unggun 163 mm

5. Pada unggun 164 mm

6. Pada unggun 165 mm

7. Pada unggun 166 mm

8. Pada unggun 167 mm

9. Pada unggun 169 mm

10. Pada unggun 170 mm

11. Pada unggun 171 mm

12. Pada unggun 173 mm

13. Pada unggun 175 mm

14. Pada unggun 178 mm

15. Pada unggun 180 mm

16. Pada unggun 183 mm

17. Pada unggun 185 mm

18. Pada unggun 188 mm

19. Pada unggun 192 mm

20. Pada unggun 195 mm

Percobaan 2
Tinggi Unggun
(mm)

Penurunan
Laju Alir (L/min)

Tekanan

Jenis Unggun

(mmH2O)
156

64

Diam

156

69

Diam

156

90

Diam

156

107

Diam

156

121

Diam

157

135

Terfluidisasi

159

147

Terfluidisasi

160

155

Terfluidisasi

161

10

164

Terfluidisasi

162

11

169

Terfluidisasi

164

12

176

Terfluidisasi

165

13

181

Terfluidisasi

167

14

182

Terfluidisasi

170

15

183

Terfluidisasi

172

16

184

Terfluidisasi

173

17

185

Terfluidisasi

174

18

186

Terfluidisasi

175

19

187

Terfluidisasi

180

20

188

Terfluidisasi

182

21

189

Terfluidisasi

184

22

190

Terfluidisasi

187

23

191

Terfluidisasi

193

24

192

Terfluidisasi

194

25

193

Terfluidisasi

Menghitung h pada unggun diam pada minggu kedua


1. Laju alir 2 L/min = 0,033 L/s

2. Laju alir 3 L/min = 0,05 L/s

3. Laju alir 4 L/min = 0,066 L/s

4. Laju alir 5 L/min = 0,0833 L/s

5. Laju alir 6 L/min = 0,1 L/s

Menghitung h pada unggun terfluidisasi


1. Pada unggun 157 mm

2. Pada unggun 159 mm

3. Pada unggun 160 mm

4. Pada unggun 161 mm

5. Pada unggun 162 mm

6. Pada unggun 164 mm

7. Pada unggun 165 mm

8. Pada unggun 167 mm

9. Pada unggun 170 mm

10. Pada unggun 172 mm

11. Pada unggun 173 mm

12. Pada unggun 174 mm

13. Pada unggun 175 mm

14. Pada unggun 180 mm

15. Pada unggun 182 mm

16. Pada unggun 184 mm

17. Pada unggun 187 mm

18. Pada unggun 193 mm

19. Pada unggun 194 mm

G. PEMBAHASAN
Pada percobaan fluidisasi ini kami menggunakan pasir sebagai bahan
utama dan setelah percobaan yang telah dilakukan, dapat dianalisa bahwa
Fluidisasi adalah metode pengontakan butiran-butiran padat dengan
fluida baik cair maupun gas. Udara diatur dengan cara menutup kran dan
pompa udara dinyalakan serta memeriksa pembacaan manometer dan
apabila tidak di posisi nol maka, kami harus mengaturnya terlebih agar di
posisi nol, dan juga laju aliran udara telah disetting maka butiran-butiran
padatan akan mulai bergerak karena dialiri fluida (udara).
Semakin tinggi laju aliran udara yang diberikan terhadap butiranbutiran padatan di dalam bed, maka pergerakan butiran-butiran padatan
tersebut semakin cepat. Kita dapat melihat kenaikan tinggi butiran padatan
yang terangkat keatas akibat laju aliran udara yang diberikan terhadap
butiran-butiran padat semakin meningkat, sehingga penurunan tekanan
menjadi lebih besar.
Aspek utama yang akan ditinjau dalam percobaan ini adalah
mengetahui besarnya pressure drop (beda tekan) di dalam unggun padatan
yang terfluidakan. Hal ini mempunyai arti yang cukup penting karena selain
erat sekali hubungannya dengan besarnya energi yang diperlukan juga bisa
memberikan

indikasi

tentang

kelakuanunggung

selama

operasi berlangsung. Penentuan besarnya hilang tekan di dalam unggun


terfluidakan. Jenis unggun terbagi menjadi 2, yaitu unggun diam dan unggun
terfluidisasi.
Pada laju alir yang cukup rendah butiran padat akan tetap diam karena
gas

hanya

mengalir

melalui

ruang

antar partikel tanpa

menyebabkan perubahan susunan partikel tersebut. Keadaan yang demikian


disebut unggun diam atau fixed bed sedangkan yang terfluidisai adalah Pada
laju alir yang cukup tinggi butiran padat akan bergerak karena gas mengalir
melalui ruang antar partikel dan menyebabkan perubahan susunan partikel

tersebut. Unggun terfluidisasi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti


Laju alir fluida dan jenis fluida, Ukuran partikel, Jenis dan densitas partikel
serta faktor interlok antar partikel, Porositas unggun, Distribusi aliran,
Distribusi bentuk aliran fluida, Diameter kolom dan Tinggi.

H. KESIMPULAN
Dari hasil praktikum fluidisasi dapat disimpulkan:
1. Fluidisasi adalah peristiwa dimana unggun berisi butiran padat
berkelakuan seperti fluida karena di aliri udara.
2. Semakin besar laju alir udara yang diberikan, maka akan semakin
besar pula penurunan tekanannya.
3. Semakin meningkatnya kecepatan fluida, maka ketinggian unggun
semakin tinggi.

I.

DAFTAR PUSTAKA
1. Jobsheet.2014. Satuan Operasi -1. Politeknik Negeri Sriwijaya.
Palembang
2. http://depisatir.blogspot.com/2013/01/aliran-melalui-unggun-diamdan.html