Anda di halaman 1dari 13

A.

Pengertian HIV/AIDS

AIDS atau Sindrom Kehilangan Kekebalan tubuh adalah sekumpulan gejala penyakit yang
menyerang tubuh manusia seesudah system kekebalannya dirusak oleh virus HIV. Akibat
kehilangan kekebalan tubuh, penderita AIDS mudah terkena bebrbagai jenis infeksi bakteri,
jamur, parasit, dan virus tertentu yang bersifat oportunistik. Selain itu penderita AIDS sering
kali menderita keganasan,khususnya sarcoma Kaposi dan imfoma yang hanya menyerang
otak. Virus HIV adalah retrovirus yang termasuk dalam family lentivirus. Retrovirus
mempunyai kemampuan menggunakan RNA-nya dan DNA pejamu untuk membentuk virus
DNA dan dikenali selam periode inkubasi yang panjang. Seperti retrovirus yang lain, HIV
menginfeksi tubuh dengan periode imkubasi yang panjang (klinik-laten), dan utamanya
menyebabkan munculnya tanda dan gejala AIDS. HIV menyebabkan beberapa kerusakan
system imun dan menghancurkannya. Hal tersebut terjadi dengan menggunakan DNA dari
CD4+ dan limfosit untuk mereplikasi diri. Dalam prose itu, virus tersebut menghancurkan
CD4+ dan limfosit.
Secara structural morfologinya, bentuk HIV terdiri atas sebuah silinder yang
dikelilingi pembungkus lemak yang melingkar-melebar. Pada pusat lingkaran terdapat
untaian RNA. HIV mempunyai 3 gen yang merupakan komponen funsional dan structural.
Tiga

gen

polymerase,

tersebut

yaitugag, pol,

dan env adalah

dan env. Gag berarti

kepanjangan

group

antigen, pol mewakili

dari envelope (Hoffmann,

Rockhstroh,

Kamps,2006). Gen gag mengode protein inti. Gen pol mengode enzim reverse transcriptase,
protease, integrase. Gen env mengode komponen structural HIV yang dikenal dengan
glikoprotein. Gen lain yang ada dan juga penting dalam replikasi virus, yaitu : rev, nef, vif,
vpu, dan vpr.

Siklus Hidup HIV


Sel pejamu yang terinfeksi oleh HIV memiliki waktu hidup sangat pendek; hal ini
berarti HIV secara terus-menerus menggunakan sel pejamu baru untuk mereplikasi diri.
Sebanyak 10 milyar virus dihasilkan setiap harinya. Serangan pertama HIV akan tertangkap
oleh sel dendrite pada membrane mukosa dan kulit pada 24 jam pertama setelah paparan. Sel
yang terinfeksi tersebut akan membuat jalur ke nodus limfa dan kadang-kadang ke pembuluh
darah perifer selama 5 hari setelah papran, dimana replikasi virus menjadi semakin cepat.
Siklus hidup HIV dapat dibagi menjadi 5 fase, yaitu :

Masuk dan mengikat

Reverse transkripstase

Replikasi

Budding

Maturasi

Tipe HIV
Ada 2 tipe HIV yang menyebabkan AIDS: HIV-1 dan HIV-2.
HIV-1 bermutasi lebih cepat karena reflikasi lebih cepat. Berbagai macam
subtype dari HIV-1 telah d temukan dalam daerah geografis yang spesifik dan
kelompok spesifik resiko tinggi
Individu dapat terinfeksi oleh subtipe yang berbeda. Berikut adalah subtipe
HIV-1 dan distribusi geografisnya:
Sub tipe A: Afrika tengah
Sub tipe B: Amerika selatan,brasil,rusia,Thailand
Sub tipe C: Brasil,india,afrika selatan
Sub tipe D: Afrika tengah
Sub tipe E:Thailand,afrika tengah
Sub tipe F: Brasil,Rumania,Zaire
Sub tipe G: Zaire,gabon,Thailand
Sub tipe H: Zaire,gabon
Sub tipe O: Kamerun,gabon
Sub tipe C sekarang ini terhitung lebih dari separuh dari semua infeksi HIV
baru d seluruh dunia

B.

Etiologi
HIV ialah retrovirus yang di sebut lymphadenopathy Associated virus (LAV)
atau human T-cell leukemia virus 111 (HTLV-111) yang juga di sebut human T-cell
lymphotrophic virus (retrovirus) LAV di temukan oleh montagnier dkk. Pada tahun
1983 di prancis, sedangkan HTLV-111 di temukan oleh Gallo di amerika serikat pada
tahun berikutnya. Virus yang sama ini ternyata banyak di temukan di afrika tengah.
Sebuah penelitian pada 200 monyet hijau afrika,70% dalam darahnya mengandung
virus tersebut tampa menimbulkan penyakit. Nama lain virus tersebut ialah HIV.

Hiv TERDIRI ATAS hiv-1 DAN hiv-2 terbanyak karena HIV-1 terdiri atas
dua untaian RNA dalam inti protein yang di lindungi envelop lipid asal sel hospes.
Virus AIDS bersifat limpotropik khas dan mempunyai kemampuan untuk
merusak sel darah putih spesifik yang di sebut limposit T-helper atau limposit pembawa
factor T4 (CD4). Virus ini dapat mengakibatkan penurunan jumlah limposit T-helper
secara progresif dan menimbulkan imunodefisiensi serta untuk selanjut terjadi infeksi
sekunder atau oportunistik oleh kuman,jamur, virus dan parasit serta neoplasma. Sekali
virus AIDS menginfeksi seseorang, maka virus tersebut akan berada dalam tubuh
korban untuk seumur hidup. Badan penderita akan mengadakan reaksi terhapat invasi
virus AIDS dengan jalan membentuk antibodi spesifik, yaitu antibodi HIV, yang
agaknya tidak dapat menetralisasi virus tersebut dengan cara-cara yang biasa sehingga
penderita tetap akan merupakan individu yang infektif dan merupakan bahaya yang
dapat menularkan virusnya pada orang lain di sekelilingnya. Kebanyakan orang yang
terinfeksi oleh virus AIDS hanya sedikit yang menderita sakit atau sama sekali tidak
sakit, akan tetapi pada beberapa orang perjalanan sakit dapat berlangsung dan
berkembang menjadi AIDS yang full-blown.

C.

Patofisiologi Virus HIV/AIDS


1.

Mekanisme system imun yang normal

Sistem imun melindungi tubuh dengan cara mengenali bakteri atau virus yang
masuk ke dalam tubuh, dan bereaksi terhadapnya. Ketika system imun melemah
atau rusak oleh virus seperti virus HIV, tubuh akan lebih mudah terkena infeksi
oportunistik. System imun terdiri atas organ dan jaringan limfoid, termasuk di
dalamnya sumsum tulang, thymus, nodus limfa, limfa, tonsil, adenoid, appendix,
darah, dan limfa.
o Sel B
Fungsi utama sel B adalah sebagai imunitas antobodi humoral.
Masing-masing sel B mampu mengenali antigen spesifik dan
mempunyai kemampuan untuk mensekresi antibodi spesifik.
Antibody bekerja dengan cara membungkus antigen, membuat
antigen lebih mudah untuk difagositosis (proses penelanan dan
pencernaan antigen oleh leukosit dan makrofag. Atau dengan

membungkus antigen dan memicu system komplemen (yang


berhubungan dengan respon inflamasi).
o Limfosit T
Limfosit T atau sel T mempunyai 2 fungsi utama yaitu :
a.

Regulasi sitem imun

b.

Membunuh sel yang menghasilkan antigen

target khusus.
Masing-masing sel T mempunyai marker permukaan seperti
CD4+, CD8+, dan CD3+, yang membedakannya dengan sel
lain. Sel CD4+ adalah sel yang membantu mengaktivasi sel B,
killer sel dan makrofag saat terdapat antigen target khusus. Sel
CD8+membunuh sel yang terinfeksi oleh virus atau bakteri
seperti sel kanker.
o Fagosit
o Komplemen

2.

Penjelasan dan komponen utama dari siklus hidup virus HIV

Secara structural morfologinya, bentuk HIV terdiri atas sebuah silinder yang
dikelilingi pembungkus lemak yang melingkar-melebar. Pada pusat lingkaran terdapat
untaian RNA. HIV mempunyai 3 gen yang merupakan komponen funsional dan structural.
Tiga

gen

polymerase,

tersebut

yaitugag, pol,

dan env adalah

dan env. Gag berarti

kepanjangan

group

antigen, pol mewakili

dari envelope (Hoffmann,

Rockhstroh,

Kamps,2006). Gen gag mengode protein inti. Gen pol mengode enzim reverse transcriptase,
protease, integrase. Gen env mengode komponen structural HIV yang dikenal dengan
glikoprotein. Gen lain yang ada dan juga penting dalam replikasi virus, yaitu : rev, nef, vif,
vpu, dan vpr.
Siklus Hidup HIV
Sel pejamu yang terinfeksi oleh HIV memiliki waktu hidup sangat pendek; hal ini
berarti HIV secara terus-menerus menggunakan sel pejamu beru untuk mereplikasi diri.
Sebanyak 10 milyar virus dihasilkan setiap harinya. Serangan pertama HIV akan tertangkap
oleh sel dendrite pada membrane mukosa dan kulit pada 24 jam pertama setelah paparan. Sel
yang terinfeksi tersebut akan membuat jalur ke nodus limfa dan kadang-kadang ke pembuluh
darah perifer selama 5 hari setelah papran, dimana replikasi virus menjadi semakin cepat.
Siklus hidup HIV dapat dibagi menjadi 5 fase, yaitu :

3.

Masuk dan mengikat

Reverse transkripstase

Replikasi

Budding

Maturasi

Tipe dan sub-tipe dari virus HIV.

Ada 2 tipe HIV yang menyebabk


an AIDS: HIV-1 yang HIV-2. HIV-1 bermutasi lebih cepat karena reflikasi lebih
cepat. Berbagai macam subtype dari HIV-1 telah d temukan dalam daerah geografis
yang spesifik dan kelompok spesifik resiko tinggi
Individu dapat terinfeksi oleh subtipe yang berbeda. Berikut adalah subtipe HIV-1
dan distribusi geografisnya:
Sub tipe A: Afrika tengah
Sub tipe B: Amerika selatan,brasil,rusia,Thailand
Sub tipe C: Brasil,india,afrika selatan
Sub tipe D: Afrika tengah
Sub tipe E:Thailand,afrika tengah
Sub tipe F: Brasil,Rumania,Zaire
Sub tipe G: Zaire,gabon,Thailand
Sub tipe H: Zaire,gabon
Sub tipe O: Kamerun,gabon
Sub tipe C sekarang ini terhitung lebih dari separuh dari semua infeksi HIV baru d
seluruh dunia.

4.

Efek dari virus HIV terhadap system imun

Infeksi Primer atau Sindrom Retroviral Akut (Kategori Klinis A)


Infeksi primer berkaitan dengan periode waktu di mana HIV

pertama kali masuk ke dalam tubuh. Pada waktu terjadi infeksi primer,
darah pasien menunjukkan jumlah virus yang sangat tinggi, ini berarti
banyak virus lain di dalam darah.
Sejumlah virus dalam darah atau plasma per millimeter mencapai
1 juta. Orang dewasa yang baru terinfeksi sering menunjukkan sindrom
retroviral akut. Tanda dan gejala dari sindrom retrovirol akut ini

meliputi : panas, nyeri otot, sakit kepala, mual, muntah, diare,


berkeringat di malam hari, kehilangan berat badan, dan timbul ruam.
Tanda dan gejala tersebut biasanya muncul dan terjadi 2-4 minggu
setelah infeksi, kemudian hilang atau menurun setelah beberapa hari
dan

sering

salah

terdeteksi

sebagai

influenza

atau

infeksi

mononucleosis.
Selama imfeksi primer jumlah limfosit CD4+ dalam darah
menurun dengan cepat. Target virus ini adalah limfosit CD4+ yang ada
di nodus limfa dan thymus. Keadaan tersebut membuat individu yang
terinfeksi HIV rentan terkena infeksi oportunistik dan membatasi
kemampuanthymus untuk memproduksi limfosit T. Tes antibody HIV
dengan menggunakan enzyme linked imunoabsorbent assay (EIA) akan
menunjukkan hasil positif.

5.

Cara penularan HIV/AIDS

Virus HIV menular melalui enam cara penularan, yaitu :


1.

Hubungan seksual dengan pengidap HIV/AIDS

Hubungan seksual secara vaginal, anal, dan oral dengan penderita HIV
tanpa perlindungan bisa menularkan HIV. Selama hubungan seksual
berlangsung, air mani, cairan vagina, dan darah dapat mengenai selaput
lender vagina, penis, dubur, atau mulut sehingga HIV yang terdapat dalam
cairan tersebut masuk ke aliran darah (PELKESI, 1995). Selama
berhubungan juga bisa terjadi lesi mikro pada dinding vagina, dubur, dan
mulut yang bisa menjadi jalan HIV untuk masuk ke aliran darah pasangan
seksual (Syaiful, 2000).
2.

Ibu pada bayinya

Penularan HIV dari ibu pada saat kehamilan (in utero). Berdasarkan
laporan CDC Amerika, prevalensi HIV dari ibu ke bayi adalah 0,01%
sampai 0,7%. Bila ibu baru terinfeksi HIV dan belum ada gejala AIDS,
kemungkinan bayi terinfeksi sebanyak 20% sampai 35%, sedangkan kalau
gejala AIDS sudah jelas pada ibu kemungkinannya mencapai 50%
(PELKESI, 1995). Penularan juga terjadi selama proses persalinan melalui
transfuse fetomaternal atau kontak antara kulit atau membrane mukosa
bayi dengan darah atau sekresi maternal saat melahirkan (Lily V, 2004).

3.

Darah dan produk darah yang tercemar HIV/AIDS

Sangat cepat menularkan HIV karena virus langsung masuk ke pembuluh


darah dan menyebar ke seluruh tubuh.
4.

Pemakaian alat kesehatan yang tidak steril

Alat pemeriksaan kandungan seperti speculum,tenakulum, dan alat-alat


lain yang darah,cairan vagina atau air mani yang terinfeksi HIV,dan
langsung di gunakan untuk orang lain yang tidak terinfeksi bisa
menularkan HIV.(PELKESI,1995).
5.

Alat-alat untuk menoleh kulit

Alat tajam dan runcing seperti jarum,pisau,silet,menyunat seseorang,


membuat tato,memotong rambut,dan sebagainya bisa menularkan HIV
sebab alat tersebut mungkin di pakai tampa disterilkan terlebih dahulu.
6.

Menggunakan jarum suntik secara bergantian

Jarum suntik yang di gunakan di fasilitas kesehatan,maupun yang di


gunakan oleh parah pengguna narkoba (injecting drug user-IDU) sangat
berpotensi menularkan HIV. Selain jarum suntik, pada para pemakai IDU
secara bersama-sama juga mengguna tempat penyampur, pengaduk,dan
gelas pengoplos obat,sehingga berpotensi tinggi untuk menularkan
HIV

tidak

tangan,toilet

menular
yang

melalui
di

pakai

peralatan
secara

makan,pakaian,handuk,sapu
bersama-sama,berpelukan

di

pipi,berjabat tangan,hidup serumah dengan penderita HIV/AIDS, gigitan


nyamuk,dan hubungan social yang lain.

D.

Manifestasi Klinis
Gejala dini yang sering dijumpai berupa eksantem, malaise, demam yang menyerupai
flu biasa sebelum tes serologi positif. Gejala dini lainnya berupa penurunan berat
badan lebih dari 10% dari berat badan semula, berkeringat malam, diare kronik,
kelelahan, limfadenopati. Beberapa ahli klinik telah membagi beberapa fase infeksi
HIV yaitu :
1.Infeksi HIV Stadium Pertama
Pada fase pertama terjadi pembentukan antibodi dan memungkinkan juga terjadi
gejala-gejala yang mirip influenza atau terjadi pembengkakan kelenjar getah bening.

2.Persisten Generalized Limfadenopati


Terjadi pembengkakan kelenjar limfe di leher, ketiak, inguinal, keringat pada waktu
malam atau kehilangan berat badan tanpa penyebab yang jelas dan sariawan oleh
jamur kandida di mulut.
3.AIDS Relative Complex (ARC)
Virus sudah menimbulkan kemunduran pada sistem kekebalan sehingga mulai terjadi
berbagai jenis infeksi yang seharusnya dapat dicegah oleh kekebalan tubuh. Disini
penderita menunjukkan gejala lemah, lesu, demam, diare, yang tidak dapat dijelaskan
penyebabnya dan berlangsung lama, kadang-kadang lebih dari satu tahun, ditambah
dengan gejala yang sudah timbul pada fase kedua.
4.Full Blown AIDS.
Pada fase ini sistem kekebalan tubuh sudah rusak, penderita sangat rentan terhadap
infeksi sehingga dapat meninggal sewaktu-waktu. Sering terjadi radang paru
pneumocytik, sarcoma kaposi, herpes yang meluas, tuberculosis oleh kuman
opportunistik, gangguan pada sistem saraf pusat, sehingga penderita pikun sebelum
saatnya. Jarang penderita bertahan lebih dari 3-4 tahun, biasanya meninggal sebelum
waktunya.

E.

Komplikasi
a.

Oral Lesi

Karena kandidia, herpes simplek, sarcoma Kaposi, HPV oral, gingivitis,


peridonitis

Human

Immunodeficiency

Virus

(HIV),

leukoplakia

oral, nutrisi,dehidrasi, penurunan berat badan, keletihan dan cacat.


b.

Neurologik

1.

kompleks

dimensia

AIDS

karena

serangan

langsung

Human

Immunodeficiency Virus (HIV) pada sel saraf, berefek perubahan


kepribadian, kerusakan kemampuan motorik, kelemahan, disfasia, dan
isolasi social.
2.

Enselophaty akut, karena reaksi terapeutik, hipoksia, hipoglikemia,


ketidakseimbangan elektrolit, meningitis / ensefalitis. Dengan efek : sakit
kepala, malaise, demam, paralise, total / parsial.

3.

Infark serebral kornea sifilis meningovaskuler,hipotensi sistemik, dan


maranik endokarditis.

4.

Neuropati karena imflamasi demielinasi oleh serangan Human


Immunodeficienci Virus (HIV)

c.
1.

Gastrointestinal
Diare karena bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora normal,
limpoma, dan sarcoma

Kaposi. Dengan efek, penurunan berat

badan,anoreksia,demam,malabsorbsi, dan dehidrasi.


2.

Hepatitis karena bakteri dan virus, limpoma,sarcoma Kaposi, obat


illegal, alkoholik. Dengan anoreksia, mual muntah, nyeri abdomen,
ikterik,demam atritis.

3.

Penyakit Anorektal karena abses dan fistula, ulkus dan inflamasi perianal
yang sebagai akibat infeksi, dengan efek inflamasi sulit dan sakit, nyeri
rectal, gatal-gatal dan siare.

d.

Respirasi

Infeksi karena Pneumocystic Carinii, cytomegalovirus, virus influenza,


pneumococcus,

dan

strongyloides

dengan

efek

nafas

pendek ,batuk, nyeri,hipoksia, keletihan, dan gagal nafas.


e.

Dermatologik

Lesi kulit stafilokokus : virus herpes simpleks dan zoster, dermatitis karena
xerosis, reaksi otot, lesi scabies/tuma, dan dekobitus dengan efek
nyeri,gatal,rasa terbakar,infeksi skunder dan sepsis.
f.

Sensorik

Pandangan : Sarkoma Kaposi pada konjungtiva berefek kebutaan

Pendengaran : otitis eksternal akut dan otitis media, kehilangan


pendengaran dengan efek nyeri.

F.

Pemeriksaan Penunjang
1.

Konfirmasi diagnosis dilakukan dengan uji antibody terhadap antigen virus

structural. Hasil positif palsu dan negative palsu jarang terjadi.


2.

Untuk transmisi vertical (antibody HIV positif) dan serokonversi (antibody

HIV negative), serologi tidak berguna dan RNA HIV harus diperiksa. Diagnosis
berdasarkan pada amflikasi asam nukleat.

3.

Untuk memantau progresi penyakit, viral load (VL) dan hitung DC4

diperiksa secara teratur (setiap8=12 minggu). Pemeriksaan VL sebelum


pengobatan menentukan kecepatan penurunan CD4, dan pemeriksaan
pascapengobatan (didefinisikan sebagai VL <50 kopi/mL). menghitung CD4
menetukan

kemungkinan

komplikasi,

dan

menghitung

CD4

>200

sel/mm3 menggambarkan resiko yang terbatas. Adapun pemeriksaan penunjang


dasar yang diindikasikan adalah sebagai berikut :
CD4 <200 sel/mm3

Semua pasien
Antigen permukaan HBV*
Antibody inti HBV

Rontgen toraks

RNA HCV

Antibody HCV

Antigen kriptokukus

Antibody IgG HAV

OCP tinja

Antibody Toxoplasma
Antibody IgG sitomegalovirus

CD4 <100 sel/mm3

Serologi Treponema

PCR sitomegalovirus

Rontgen toraks

Funduskopi dilatasi

Skrining GUM

EKG

Sitologi serviks (wanita)

Kultur darah mikrobakterium

HAV, hepatitis A, HBV, hepatitis B, HCV, hepatitis C

*Antigen/antibody e HBV dan DNA HBV bila positif.

+ Antibodi permukaan HBV bila negative dan riwayat imunisasi

Bila terdapat kontak/riwayat tuberculosis sebelumnya, pengguna

obat suntik dan pasien dari daerah endemic tuberculosis.


4.

ELISA (Enzyme-Linked ImmunoSorbent Assay) adalah metode yang

digunakan menegakkan diagnosis HIV dengan sensitivitasnya yang tinggi yaitu


sebesar 98,1-100%. Biasanya tes ini memberikan hasil positif 2-3 bulan setelah
infeksi.
5.

WESTERN blot adalah metode yang digunakan menegakkan diagnosis

HIV

dengan

sensitivitasnya

yang

tinggi

yaitu

sebesar

99,6-100%.

Pemeriksaanya cukup sulit, mahal, dan membutuhkan waktu sekitar 24 jam.


6.

PCR (polymerase Chain Reaction), digunakan untuk :


a.

Tes HIV pada bayi, karena zat antimaternal masih ada pada bayi yang

dapat menghambat pemeriksaan secara serologis. Seorang ibu yan menderita


HIV akan membentuk zat kekebalan untuk melawan penyakit tersebut. Zat

kekbalan itulah yang diturunkan pada bayi melalui plasenta yang akan
mengaburkan hasil pemeriksaan, seolah-olah sudah ada infeksi pada bayi
tersebut. (catatan : HIV sering merupakan deteksi dari zat anti-HIV bukan
HIV-nya sendiri).
b.

Menetapakan status infeksi individu yang seronegatif pada kelompok

berisiko tinggi.
c.

Tes pada kelompok berisiko tinggi sebelum terjadi serokonversi.

d.

Tes konfirmasi untuk HIV-2, sebab ELISA mempunyai sensitivitas

rendah untuk HIV-2.


7.

Serosurvei, untuk mengetahui prevalensi pada kelompok berisiko,

dilaksanakan 2 kali pengujian dengan reagen yang berbeda.


8.

G.

Pemeriksaan dengan rapid test (dipstick).

Tata Laksana HIV


Belum ada penyembuhan untuk AIDS, jadi perlu dilakukan pencegahan Human
Immunodeficiency

Virus

(HIV)

untuk

mencegah

terpajannya

Human

Immunodeficiency Virus (HIV), bisa dilakukan dengan :


1.

Melakukan abstinensi seks / melakukan hubungan kelamin dengan pasangan


yang tidak terinfeksi.

2.

Memeriksa adanya virus paling lambat 6 bulan setelah hubungan seks terakhir
yang tidak terlindungi.

3.

Menggunakan pelindung jika berhubungan dengan orang yang tidak jelas status
Human Immunodeficiency Virus (HIV) nya.

4.

Tidak bertukar jarum suntik,jarum tato, dan sebagainya.

5.

Mencegah infeksi kejanin / bayi baru lahir.

Apabila terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), maka pengendaliannya


yaitu :
1.

Pengendalian Infeksi Opurtunistik

Bertujuan

menghilangkan,

mengendalikan,

dan

pemulihan

infeksi

opurtunistik, nasokomial, atau sepsis. Tidakan pengendalian infeksi yang aman untuk
mencegah kontaminasi bakteri dan komplikasi penyebab sepsis harus dipertahankan
bagi pasien dilingkungan perawatan kritis.
1.

Terapi AZT (Azidotimidin)

Disetujui FDA (1987) untuk penggunaan obat antiviral AZT yang efektif terhadap
AIDS, obat ini menghambat replikasi antiviral Human Immunodeficiency Virus
(HIV) dengan menghambat enzim pembalik traskriptase. AZT tersedia untuk pasien
AIDS yang jumlah sel T4 nya <>3 . Sekarang, AZT tersedia untuk pasien dengan
Human Immunodeficiency Virus (HIV) positif asimptomatik dan sel T4 > 500 mm3
1.

Terapi Antiviral Baru

Beberapa antiviral baru yang meningkatkan aktivitas system imun dengan


menghambat replikasi virus / memutuskan rantai reproduksi virus pada prosesnya.
Obat-obat ini adalah :

1.

1.

Didanosine

2.

Ribavirin

3.

Diedoxycytidine

4.

Recombinant CD 4 dapat larut

Vaksin dan Rekonstruksi Virus


Upaya rekonstruksi imun dan vaksin dengan agen tersebut seperti interferon,
maka perawat unit khusus perawatan kritis dapat menggunakan keahlian
dibidang proses keperawatan dan penelitian untuk menunjang pemahaman
dan keberhasilan terapi AIDS.

1.

Pendidikan untuk menghindari alcohol dan obat terlarang, makan-makanan


sehat,hindari

stress,gizi

yang

kurang,alcohol

dan

obat-obatan

yang

mengganggu fungsi imun.


2.

Menghindari infeksi lain, karena infeksi itu dapat mengaktifkan sel T dan
mempercepat reflikasi Human Immunodeficiency Virus (HIV).

DAFTAR PUSTAKA

Widoyono.

2005.

Penyakit

Tropis: Epidomologi,

penularan,

pencegahan,

dan

pemberantasannya.. Jakarta: Erlangga Medical Series

Muhajir. 2007. Pendidkan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Bandung: Erlangga

Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 1993. Mikrobiolog Kedokteran.


Jakarta Barat: Binarupa Aksara

Djuanda, adhi. 2007. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: Balai Penerbit FKUI

Mandal,dkk. 2008. Penyakit Infeksi. Jakarta: Erlangga Medical Series

Anda mungkin juga menyukai