Anda di halaman 1dari 26

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ekosistem perairan air tawar umumnya di bagi menjadi dua yaitu
perairan mengalir dan perairan menggenang. Perairan mengalir dicirikan dengan
adanya arus yang terus menerus dengan kecepatan yang bervariasi sehingga
perbedaan massa air berlangsung terus menerus, contohnya sungai, parit, dan lainlain. Perairan menggenang atau yang disebut juga perairan tenang yaitu perairan
dimana aliran air lambat atau bahkan tidak ada dan massa air terakumulasi dalam
periode waktu yang lama, contohnya danau, waduk, dan kolam, namun arus tidak
menjadi faktor pembatas utama bagi biota yang hidup didalamnya seperti benthos
(Sumarwoto, 1980).
Benthos merupakan beragam binatang dan tumbuhan yang hidup pada
dasar perairan, misalnya sungai, kolam, danau, dan lautan. Nama benthos
diberikan pada organisme penghuni dasar. Benthos mencakup substrat pada garis
pantai dan kedalaman terbesar dari badan air. Kondisi untuk kehidupan beragam,
tidak hanya pada kedalaman berbeda, namun juga dengan fisik substrat, dan
keragaman (Sumarwoto, 1980).
Keragaman dan keberadaan hewan benthos di suatu perairan dipengaruhi
oleh berbagai faktor lingkungan, baik biotik maupun abiotik. Faktor biotik yang
berpengaruh diantaranya adalah produsen, yang merupakan salah satu sumber
makanan bagi hewan benthos. Adapun faktor abiotik adalah fisika-kimia air yang
diantaranya adalah suhu, arus, oksigen terlarut (DO), kebutuhan oksigen biologi
(BOD) dan kimia (COD), serta kandungan nitrogen (N), kedalaman air, dan
substrat dasar (Sumarwoto, 1980).

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah pada praktikum mempelajari benthos dengan faktor
ekologisnya adalah :
1. Apa metode yang digunakan untuk sampling benthos?

2. Berapa indeks keanekaragaman dan dominansi benthos yang ditemukan


dalam praktikum?
3. Bagaimana kualitas perairan berdasarkan indeks diversitas dan dominansi
benthos?

1.3 Tujuan
Tujuan pada praktikum mempelajari benthos dengan faktor-faktor
ekologisnya adalah :
1. Mengetahui metode yang digunakan untuk sampling benthos.
2. Mengetahui indeks diversitas dan dominansi benthos yang ditemukan dalam
praktikum.
3. Mengetahui kualitas perairan perairan berdasarkan indeks diversitas dan
dominansi benthos.

1.4 Hipotesis
1.4.1 Hipotesis Kerja

Semakin besar indeks keanekaragaman spesies benthos, maka semakin


besar jenis spesies benthos yang dapat ditemukan dan semakin baik pula
kualitas perairan tersebut.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Benthos


Benthos merupakan organisme yang mendiami dasar perairan dan tinggal
di dalam atau pada sedimen dasar perairan. Benthos hidup di pasir, lumpur,
batuan, patahan karang, atau karang yang sudah mati. Beberapa contoh benthos
antara lain kerang, bulu babi, bintang laut, terumbu karang, dan lain-lain (Cole,
1983).
Benthos memegang peranan penting dalam perairan seperti dalam proses
dekomposisi dan mineralisasi material organik yang memasuki perairan, serta
menduduki beberapa tingkatan trofik dalam rantai makanan. Aktifitas manusia
yang mempengaruhi habitat benthos seperti kegiatan pertanian, perkebunan,
pemukiman, industri, dan lain sebagainya secara langsung atau tidak langsung
dapat mengakibatkan perubahan terhadap sifat fisika, kimia, maupun sifat biologi
habitat benthos yang kemudian berpengaruh tehadap organisme bentik. Pengaruh
tersebut antara lain kondisi fisik seperti tipe substrat, kekeruhan, arus, kedalaman,
dan suhu, selain itu juga oleh faktor kimia (pH, oksigen terlarut), dan faktor
biologi (adanya predator dan kompetitor) (Cole, 1983).

2.2 Cara Benthos Memperoleh Makanan


Sumber makanan utama untuk benthos adalah alga dan organik limpahan
dari tanah. Hewan bentik seperti diatom yang mampu berfotosintesis dapat
berkembang biak di perairan pantai dan tempat-tempat lain di mana cahaya
mencapai bagian bawah. Adapun cara dari setiap benthos untuk memperoleh
makanannya adalah sebagai berikut :
a. Filter feeder
Filter feeder adalah hewan yang makan dengan menyaring padatan
tersuspensi dan partikel makanan dari air, biasanya dengan melewatkan air
melalui struktur penyaringan khusus. Contohya seperti spons dan bivalvia yang
memiliki tubuh yang keras. Proses ini dapat terjadi pada daerah yang berpasir
(Syamsurisal, 2011).

b. Deposit feeders
Deposit feeders adalah hewan yang mengkonsumsi sisa-sisa makanan
pada substratum di bagian bawah air. Hewan tersebut seperti polychaetes yang
memiliki permukaan tubuh yang lunak, ikan, bintang laut, siput, cumi, dan
krustasea yang merupakan predator. Organisme bentik seperti bintang laut, tiram,
kima, teripang, bintang rapuh, dan anemon laut, memainkan peran penting sebagai
sumber makanan bagi ikan dan manusia (Syamsurisal, 2011).

2.3 Klasifikasi Jenis-Jenis Benthos


2.3.1 Berdasarkan Sifat Hidupnya
a. Fitobenthos
Fitobenthos yaitu organisme benthos yang bersifat tumbuhan. Sumber
makanan utamanya adalah alga dan organik limpahan dari tanah. Cara hidup
fitobenthos yaitu dengan cara melekatkan diri pada dasar perairan berupa batu
karang mati, pasir, lumpur, kulit kerang, batu kali, dan kayu (Syamsurisal, 2011).
b. Zoobenthos
Zoobenthos merupakan hewan yang sebagian atau seluruh siklus
hidupnya berada di dasar perairan, baik yang sesil, merayap, maupun yang
menggali lubang. Zoobenthos memegang peranan penting dalam perairan seperti
dalam proses dekomposisi, mineralisasi material organik yang memasuki perairan,
dan menduduki tingkatan trofik dalam rantai makanan. Zoobenthos bersifat
herbivor dan detritivor, yaitu dapat menghancurkan makrofit akuatik yang hidup
maupun mati di dalam perairan dengan menjadikan potongan-potongan kecil
sehingga mempermudah mikroba untuk menguraikannya menjadi nutrient bagi
produsen perairan (Odum, 1993).
2.3.2 Berdasarkan Letaknya
a. Infauna
Infauna adalah benthos yang hidupnya terpendam di dalam substrat
perairan. Cara hidupnya yaitu dengan menggali lubang, sebagian besar hewan
tersebut hidup dan tinggal di suatu tempat. Contoh hewan yang termasuk jenis
infauna yaitu cacing, tiram, macoma, dan remis (Barnes, 1994).

b. Epifauna
Epifauna adalah benthos yan hidup di permukaan dasar perairan.
Epifauna bergerak dengan lambat di atas permukaan dari sedimen yang lunak atau
menempel dengan kuat pada substrat padat yang terdapat pada dasar perairan.
Contoh hewan yang termasuk jenis ini yaitu kepiting, siput laut, dan bintang laut
(Barnes, 1994).
2.3.3 Berdasarkan Ukuran tubuhnya
Menurut Lalli & Parsons (1993), berdasarkan ukuran tubuhnya benthos
dapat dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu:
a. Makrobenthos
Makrobenthos adalah kelompok hewan yang ukurannya lebih besar dari
1,0 mm. Kelompok ini adalah hewan benthos yang terbesar. Jenis hewan yang
termasuk kelompok ini adalah molusca, annelida, crustaceae, beberapa insekta
air, larva dari dipteral, odonata, dan lain sebagainya (Syamsurisal, 2011).
b. Mesobenthos
Mesobenthos adalah kelompok benthos yang berukuran antara 0,1 mm
1,0 mm. Kelompok ini adalah hewan kecil yang dapat ditemukan di pasir atau
lumpur. Hewan yang termasuk kelompok ini adalah molusca kecil, cacing kecil,
dan crustaceae kecil (Syamsurisal, 2011).
c. Mikrobenthos
Mikrobenthos adalah kelompok benthos yang berukuran lebih kecil dari
0,1 mm. Kelompok ini merupakan hewan yang terkecil. Hewan yang termasuk
kedalamnya adalah protozoa khususnya ciliata (Syamsurisal, 2011).

2.4 Peranan Benthos


2.4.1 Indikator Pencemaran Perairan
Keberadaan benthos di perairan memiliki peranan yang sangat penting,
karena benthos mempunyai kemampuan dalam mendaur ulang bahan organik dan
membantu proses mineralisasi. Benthos juga sering digunakan untuk menduga
ketidakseimbangan lingkungan fisik kimia dan biologi suatu perairan. Perairan
yang tercemar akan mempengaruhi kelangsungan hidup organisme perairan,
diantaranya adalah makrozoobenthos, karena makrozoobenthos

merupakan

organisme air yang mudah terpengaruh oleh adanya bahan pencemar, baik bahan
pencemar kimia maupun fisik, sehingga benthos dapat digunakan sebagai
indikator pencemaran perairan (Odum, 1994).
2.4.2 Indikator Biologis
Benthos dapat dijadikan sebagai indikator biologis, yang didasarkan
pada mobilitas terbatas sehingga memudahkan dalam pengambilan sampel,
ukuran tubuh relatif besar sehingga memudahkan untuk identifikasi, hidup di
dasar perairan, relatif diam yang menyebabkan benthos secara terus-menerus
terdedah (exposed) oleh air sekitarnya, pendedahan yang terus-menerus
mengakibatkan
perubahan

makrozoobenthos

lingkungan

dipengaruhi

mempengaruhi

oleh

keadaan

keanekaragaman

lingkungan,

makrozoobenthos

(Michael, 1995).

2.5 Metode Pengambilan Benthos


Benthos yang terdapat di dasar perairan dapat disampling dengan
menggunakan alat yaitu ponar grab dan surber net.
2.5.1 Metode Pengambilan Benthos dengan Ponar Grab atau Eckman Grab
Ponar grab adalah alat yang digunakan untuk sampling benthos yang
digunakan untuk sampling benthos di perairan yang berarus deras dan cenderung
dalam. Pengambilan sampel menggunakan ponar grab yaitu ketika hendak
digunakan, ponar grab harus dikunci dengan kunci berpegas, kemudian
diturunkan pelan-pelan sampai dasar perairan dengan posisi vertikal. Ponar grab
yang sampai di dasar perairan, di angkat sedikit dan kemudian dihentakkan
kembali dan diangkat dan isinya di pindahkan ke dalam tempat yang disediakan.
Sedimen yang terambil di letakkan di atas ayakan, kemudian di cuci dengan air
dan benthos yang ada diambil. Benthos yang telah terambil dimasukkan ke dalam
kantong plastik yang kemudian diberi air dan diawetkan dengan formalin 4% serta
kemudian diidentifikasi (Michael, 1995).
2.5.2 Metode Pengambilan Benthos dengan Surber Net
Surber net digunakan pada sampling benthos diperairan yang berarus
tenang dan dangkal. Pengambilan benthos dengan surber net yaitu surber net di
letakkan pada dasar perairan yang relatif tidak bergelombang. Mulut bukaan

surber net menghadap ke arah arus yang mengalir, kemudian dasar perairan di
injak-injak agar benthos yang ada dapat terkena aliran air dan terperangkap di
surber net. Sedimen dan benthos yang terangkap di surber net di pindahkan ke
tempat yang sudah disediakan. Benthos yang ada kemudian di ambil dan di
masukkan ke kantong plastik, dan diisi air. Pengawetan benthos menggunakan
formalin 4%. Benthos kemudian di identifikasi (Michael, 1995).

2.6 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penyebaran Benthos


2.6.1 Faktor Kimia
a. Oksigen
Oksigen adalah gas yang amat penting bagi makhluk hidup seperti
hewan. Perubahan kandungan oksigen terlarut di lingkungan sangat berpengaruh
terhadap hewan air. Kebutuhan oksigen bervariasi, tergantung oleh jenis, stadia,
dan aktivitas. Kandungan oksigen terlarut mempengaruhi jumlah dan jenis
makrobentos di perairan. Semakin tinggi kadar O2 terlarut maka jumlah bentos
semakin besar (Syamsurisal, 2011).
b. pH
Nilai pH menunjukkan derajat keasaman atau kebasaan suatu perairan
yang dapat mempengaruhi kehidupan tumbuhan dan hewan air. pH tanah atau
substrat akan mempengaruhi perkembangan dan aktivitas organisme lain. pH
berpengaruh terhadap organisme benthos di perairan, dan berpengaruh secara
tidak langsung melalui daya racun melalui bahan pencemar. Setiap jenis benthos
atau organisme perairan lainnya mempunyai nilai toleransi yang berbeda-beda
terhadap nilai pH. Kisaran pH biota laut pada umumnya dapat hidup layak yaitu 5
9. Jika perairan mengalami perubahan pH yang mendadak sehingga nilai pH
melampaui kisaran tersebut, akan mengakibatkan tekanan fisiologis biota yang
hidup di dalamnya dan berakhir kematian (Syamsurisal, 2011).
c. Kedalam dan Kekeruhan
Kedalaman perairan mempengaruhi jumlah dan jenis hewan. Secara
teoritis dikatan bahwa perbedaan variasi dari jumlah spesies antara kedalaman 0,2
4 meter adalah kecil. Secara tidak langsung kecerahan perairan juga akan
mempengaruhi komunitas benthos di perairan. Interaksi antara kekeruhan dan

kedalaman akan mempengaruhi penetrasi cahaya matahari sehingga produktivitas


mikroalga bentik yang merupakan salah satu sumber makanan hewan benthos
akan terganggu. Komposisi hewan benthos tergantung pada sumber makanan
yang tersedia. Perairan yang keruh mempengaruhi populasi hewan benthos,
karena partikel suspensi dapat mengganggu sistem pernapasan pada insang
akibatnya akan mengganggu pertumbuhannya (Susanto, 2000).
d. Tipe Substrat
Tipe substrat dasar ikut menentukan jumlah dan jenis hewan bentos
disuatu perairan (Susanto, 2000). Macam dari substrat sangat penting dalam
perkembangan komunitas hewan bentos. Pasir cenderung memudahkan untuk
bergeser dan bergerak ke tempat lain. Substrat berupa lumpur biasanya
mengandung sedikit oksigen dan karena itu organisme yang hidup didalamnya
harus dapat beradaptasi pada keadaan ini (Ramli, 1989).
2.6.2 Faktor Fisika
Perubahan tekanan air ditempat-tempat yang berbeda kedalamannya
sangat berpengaruh bagi kehidupan hewan yang hidup di dalam air. Perubahan
tekanan di dalam air sehubungan dengan perubahan kedalaman adalah sangat
besar. Faktor kedalaman berpengaruh terhadap hewan bentos pada jumlah jenis,
jumlah individu, dan biomasa. Sedangkan faktor fisika yang lain adalah pasang
surut perairan, hal ini berpengaruh pada pola penyebaran hewan bentos (Susanto,
2000).
2.5.3 Faktor Biologi
Faktor biologi perairan juga merupakan faktor penting bagi kelangsungan
hidup hewan seperti benthos. Faktor biologi ini berpengaruh terhadap kelimpahan
benthos. Sehubungan dengan peranannya sebagai organisme kunci dalam jaring
makanan, jika komposisi jenis hewan yang ada dalam suatu perairan seperti
kepiting, udang, dan ikan melalui predasi, akan mempengaruhi kelimpahan
benthos (Susanto, 2000).

2.7 Metode Perhitungan Keanekaragaman Benthos

2.7.1 Indeks Diversitas Benthos


Indeks keanekaragaman (diversitas) benthos dapat diukur menggunakan
formula Shannon-Wiener berikut ini:
H1 = - [(ni/N) x ln (ni/N)]
Keterangan:
H1 = Indeks diversitas Shannon-Wiener.
ni = Jumlah individu spesies i.
N = Jumlah total individu semua spesies (Michael, 1995).
Tabel 1. Tolak Ukur Diversitas
Nilai Tolak Ukur
H1 < 1,0

1,0 < H1 < 3,322

H1 > 3,322

Keterangan
Keanekaragaman rendah,
miskin, produktivitas sangat
rendah sebagai indikasi adanya
tekanan yang berat dan
ekosistem tidak stabil
Keanekaragaman sedang,
produktivitas cukup, kondisi
ekosistem cukup seimbang,
tekanan ekologis sedang
Keanekaragaman tinggi,
stabilitas ekosistem mantap,
produktivitas tinggi, tahan
terhadap tekanan ekologis

2.7.2 Indeks Dominasi (D)


Indeks dominasi benthos dapat dirumuskan sebagai berikut :
D = ni2 / N2 x 100%
Keterangan:
D = Indeks dominasi.
ni = Jumlah individu spesies i.
N = Jumlah total individu semua spesies (Michael, 1995).

(Halaman ini sengaja dikosongkan)

10

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Praktikum


3.1.1 Tempat
Sampel benthos yang digunakan dalam praktikum ini diambil di selokan
depan Student Center (SC) Universitas Airlangga, sedangkan identifikasi benthos
dilakukan di Laboratorium 226 Fakultas Sains dan Teknologi.

Gambar 1. Denah Lokasi Student Center Universitas Airlangga

3.1.2 Waktu
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Kamis, 17 April 2014 pukul 10.50
12.20 WIB, dan diidentifikasi pada hari Kamis, 17 April 2014 pukul 15.00
16.30 WIB dan pada hari Senin, 21 April 2014 pukul 09.30 11.00.
.
3.2

Alat dan Bahan

3.2.1 Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah ponar grab atau van
veen grab, surber net, kantong plastik, ayakan, ember, kunci identifikasi
makroinvertebrata, dan lup.

11

3.2.2 Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah air sampel benthos
dan alkohol atau formalin 4%.

3.3 Cara Kerja


3.3.1 Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel dilakukan menggunakan dua alat, yaitu dengan
ponar grab dan surber net. Cara menggunakan ponar grab yaitu penutup ponar
grab dibuka, kemudian diturunkan perlahan sampai ke dasar perairan, diangkat
sedikit kemudian di hendakkan kembali. Hendaknya saat menurunkan, posisi tali
tegak lurus. Ponar grab kemudian diangkat perlahan dan dipindahkan isinya ke
dalam ember. Sedimen disaring dengan saringan mesh, kemudian sedimen
tersebut dicuci dan hewan-hewan yang ada diambil untuk kemudian dimasukkan
ke dalam kantong plastik yang telah diisi formalin 4% dan air sampel. Plastik
sampel kemudian diberi label di setiap kantong plastik dan dibawa ke
laboratorium. Cara sampling benthos menggunakan ponar grab dapat dilihat pada
lampiran 1 dan 2.
Pengambilan dengan surber net yaitu, surber net diletakkan pada dasar
selokan yang relatif tidak bergelombang. Mulut bukaan surber net menghadap ke
arah arus yang berlawanan, kemudian dasar selokan diaduk-aduk dengan tangan
di depan mulut surber net sehingga benthos dapat masuk ke surber net bersama
aliran air. Sedimen diletakkan diatas ayakan dan dicuci. Hewan-hewan yang ada
diambil lalu dimasukkan ke dalam kantong plastik yang telah diisi formalin 4%
dan air sampel. Label diberikan di setiap kantong plastik dan dibawa ke
laboratorium. Cara sampling benthos menggunakan surber net dapat dilihat pada
lampiran 3 dan 4.
3.3.2 Pengamatan Benthos
Pengamatan dilakukan dengan menggunakan lup atau kaca pembesar.
Sampel yang sudah diambil dan diawetkan, kemudian ditumpahkan ke dalam
ayakan. Sampel diambil secara acak satu per satu dengan tangan dan diletakkan ke
dalam ayakan yang lain. Sampel yang didapatkan dicocokkan dengan buku
panduan. Identifikasi hewan-hewan makroinvertebrata yang didapat dengan

12

menghitung dari setiap jenis dan keseluruhan jenis, sehingga dapat diketahui
jumlah

makroinvertebrata

keseluruhan

dan

masing-masing

jenis.

Cara

pengamatan benthos dapat dilihat pada lampiran 5 dan 6.

13

(Halaman ini sengaja dikosongkan)

14

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan


Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh data sebagai berikut :
Tabel 2. Hasil identifikasi sampling benthos menggunakan surber net
No.

Gambar

Spesies

Jumlah

1.

Melanoides torulosa

2.

Melanoides tubercilata

3.

Faunus ater

15

4.

Stenothyra ventricosa

Tabel 3. Hasil identifikasi sampling benthos menggunakan ponar grab


No.
1.

Gambar

Spesies
Anentome helena

Jumlah
8

2.

Faunus ater

10

3.

Melanoides maculata

16

4.

Melanoides punetata

5.

Sulcospira sulcospira

6.

Syncera hidalgoi

7.

Telecopium
telescopium

8.

Tereblaria palustris

16

17

4.2 Analisis Data


Berikut ini adalah hasil analisis perhitungan dari data yang diperoleh :
4.2.1 Sampling Benthos Menggunakan Surber Net
Tabel 4. Indeks Keanekaragaman Shannon-Wheaver Benthos
No.

Spesies

1.

Melanoides
torulosa
2. Melanoides
tubercilata
3. Faunus ater
4. Stenothyra
ventricosa
Jumlah total
spesies

Jumlah (Ni/N)
(Ni)
7
0.538

H1

In
(Ni/N)
-0.620

D (%)

0.334

28.99

0.308

-1.178

0.363

9.47

1
1

0.077
0.077

-2.564
-2.564

0.197
0.197

0.59
0.59

13

-6.926

1.091

39.64

4.2.2 Sampling Benthos Menggunakan Ponar Grab


Tabel 5. Indeks Keanekaragaman Shannon-Wheaver Benthos
No.
1.
2.

Spesies
Anentome
helena
Faunus ater

Melanoides
maculata
4. Melanoides
punetata
5. Sulcospira
sulcospira
6. Syncera
hidalgoi
7. Telecopium
telescopium
8. Tereblaria
palustris
Jumlah total
spesies
3.

H1

D (%)

0.170

In
(Ni/N)
-1.772

0.301

2.89

10

0.470

-0.755

0.355

4.53

0.106

-0.244

0.026

1.13

0.043

-3.147

0.135

0.18

0.043

-3.147

0.135

0.18

0.043

-3.147

0.135

0.18

0.043

-3.147

0.135

0.18

16

0.340

-1.079

0.367

11.59

47

1.258

-16.438

1.589

20.86

Jumlah
(Ni)
8

(Ni/N)

4.3 Pembahasan
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui metode yang digunakan untuk
sampling benthos, dan mengetahui indeks keanekaragaman dan dominansi benthos yang
ditemukan dalam praktikum. Sampling dilakukan pada dua titik. Titik pertama berada di

18

sungai sebelah Student Center Universitas Airlangga dan titik kedua berada di selokan
depan Student Center Universitas Airlangga. Sampling benthos pada titik pertama
dilakukan dengan menggunakan surber net, pada metode ini surber net diletakkan pada
dasar selokan yang relatif tidak bergelombang. Mulut bukaan surber net menghadap
kearah arus yang berlawanan, kemudian dasar selokan diaduk-aduk dengan tangan di
depan mulut surber net sehingga benthos dapat masuk ke surber net bersama aliran air.
Sedimen diletakkan diatas ayakan dan dicuci. Hewan-hewan yang ada diambil lalu
dimasukkan kedalam kantong plastik yang telah diisi formalin 4% dan air sampel.
Perbandingan antara air sampel dan formalin adalah 9 : 1, yaitu 180 mL air sampel dan 20
mL formalin 4%.
Sampling benthos pada titik kedua, dilakukan dengan menggunakan ponar
grab, pada metode ini pertama-tama penutup ponar grab dibuka, kemudian diturunkan
perlahan sampai ke dasar sungai dengan posisi tali tegak lurus, ponar grab dilepaskan
sehingga alat ini menutup lalu diangkat perlahan dan dipindahkan isinya ke dalam ember.
Sedimen yang terambil disaring dengan saringan mesh, kemudian sedimen tersebut dicuci
dan hewan-hewan yang ada diambil untuk kemudian dimasukkan kedalam kantong
plastik yang telah diisi formalin 4% dan air sampel. Perbandingan antara air sampel dan
formalin adalah 9 : 1, yaitu 180 mL air sampel dan 20 mL formalin 4%. Label diberikan
di setiap kantong plastik dan dibawa ke laboratorium untuk diamati. Label ini berguna
agar benthos yang diambil dengan menggunakan surber net dan ponar grab tidak
tertukar.
Pengamatan dilakukan dengan menggunakan lup atau kaca pembesar. Sampel
yang sudah diambil dan diawetkan, kemudian ditumpahkan kedalam ayakan. Sampel
diambil secara acak satu per satu dengan tangan dan diletakkan kedalam ayakan yang
lain. Sampel yang didapatkan dicocokkan dengan buku panduan. Jika dirasa benthos yang
ada kotor, maka dapat digunaka sikat gigi untuk membersihkannya. Identifikasi hewanhewan benthos yang di dapat dengan menghitung dari setiap jenis dan keseluruhan jenis,
sehingga dapat diketahui jumlah benthos keseluruhan dan masing-masing jenis. Hasilnya
adalah terdapat 4 jenis spesies yang ditemukan dalam sampel pertama dan 8 jenis spesies
pada sampel kedua.
Semua jenis sampel digabung dalam satu tabel, kemudian dihitung
menggunakan perhitungan indeks diversitas Shannon-Wiener. Titik sampel pertama, hasil
indeks diversitas yang paling tinggi dimiliki oleh bentos dengan jenis spesies Melanoides
tuberculata yaitu dengan hasil H1 = 0,363 dengan indeks dominansi sebesar 9,47%.
Melanoides tuberculata merupakan kelompok gastropoda yang umum ditemukan di

19

perairan tawar. Kemampuan adaptasinya yang tinggi, membuatnya terdistribusi secara


luas di berbagai kondisi lingkungan termasuk di daerah kapur. Mengacu pada Tabel 3,
bahwa nilai total H1 pada titik sampel di sungai sebelah Student Center Universitas
Airlangga adalah sebesar 1,091. Hal ini dapat diketahui perairan di sungai sebelah
Student Center Universitas Airlangga memiliki keanekaragaman sedang, produktivitas
cukup, kondisi ekosistem cukup seimbang, dan tekanan ekologis sedang (1,0 < H1 <
3,322).
Titik sampel kedua indeks diversitas tertinggi dimiliki oleh benthos jenis
spesies Tereblaria palustris dengan hasil perhitungan indeks diversitas H1 = 0,367 dan
indeks dominansi sebesar 11,59%. Tidak berbeda dengan hasil di titik sampling pertama,
total H1 pada titik sampling ke dua adalah sebesar 1,589. Hal ini juga berarti bahwa
perairan di selokan depan Student Center Universitas Airlangga juga memiliki
keanekaragaman sedang, produktivitas cukup, kondisi ekosistem cukup seimbang, dan
tekanan ekologis sedang (1,0 < H1< 3,322).

20

DAFTAR PUSTAKA
rd

Barnes RSK, Hughes RN. 2004. An Introduction to Marine Ecology. 3 edition.


Oxford: Blackwell Science Ltd.
Cole, G. A. 1983. Text Book of Limnology Third Edition. Waveland Press Inc.
United States of America.
Michael, P. 1995. Metode Ekologi untuk Penyelidikan Ladang dan Laboratorium.
Jakarta : UI Press.
Odum, E. P. 1993. Dasar-Dasar Ekologi. Edisi Ketiga. Penerjemah T. Samingan.
Jakarta : Gadjah Mada University Press.
Odum, E. P. 1994. Dasar- DasarEkologi. www.academia.edu. Diakses tanggal 12
April 2014.
Ramli, D. 1989. Ekologi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Syamsurisal, 2011. Studi Beberapa Indeks Komunitas Makrozoobenthos Di Hutan
Mangrove Kelurahan Coppo Kabupaten Barru. www.academia.edu.
Diakses pada 20 April 2014.
Sumarwoto, 1980. Ekologi Perairan. Bandung : Universitas Padjajaran.
Susanto, P. 2000. Pengantar Ekologi Hewan. Departemen Pendidikan Nasional.
Jakarta.

21

(Halaman ini sengaja dikosongkan)

22

23

Lampiran 1. Cara Sampling Benthos Menggunakan Ponar Grab


Ponar grab
Penutup ponar grab dibuka
Diturunkan perlahan sampai ke dasar danau dengan posisi tali tegak
lurus
Diangkat perlahan dan dipindahkan isinya ke dalam ember
Sedimen
Disaring dengan saringan mesh dan diletakkan di atas ayakan
Dicuci dan mengambil hewan-hewan yang ada
Dimasukkan ke dalam kantong plastik
Diawetkan dengan formalin 40%
Hasil

Lampiran 2. Cara Sampling Benthos Menggunakan Surber Net


Surber Net
Diletakkan di dasar selokan yang relatif tidak bergelombang.
Mulut bukaan menghadap ke arah arus yang berlawanan
Dasar selokan diinjak-injak dengan kaki menghadap mulut surber
net
Sedimen
Diletakkan di atas ayakan
Dicuci dan mengambil hewan-hewan yang ada
Dimasukkan ke dalam kantong plastik
Diawetkan dengan formalin 4%
Hasil

Lampiran 3. Cara Pengamatan pada Benthos


Sampel
Ditumpahkan ke dalam ayakan
Diambil secara acak satu per satu dengan tangan
Diletakkan ke dalam ayakan yang lain
Dilihat menggunakan lup atau kaca pembesar
Dicocokkan dengan buku panduan
Diidentifikasi hewan-hewan makroinvertebrata yang didapat
Jumlah hewan dari setiap jenis dihitung
Hasil