Anda di halaman 1dari 16

1.

MM articulasio coxae
1.1 MM makroskopik
1.2 MM mikroskopik
1.3 MM kinesiology
2. MM fraktur femoris
2.1 MM definisi
2.2 MM etiologi
2.3 MM klasifikasi
2.4 MM patofisiologi
2.5 MM manifestasi klinik
2.6 MM pemeriksaan
2.7 MM diagnosis & diagnosis banding
2.8 MM komolikasi
2.9 MM penatalaksanaan
2.10 MM prognosis

1. MM articulation caxae
1.1 MM makroskopis
Articulatio Coxae merupakan persendian antara caput femoris dan acetabulum pada os coxae.
Jenis sendi pada articulatio ini adalah enarthrosis spheroidea. Terdapat tulang rawan pada facies
lunata sebagai penguat sendi, kelenjar havers juga dapat ditemukan pada acetabuli. Penguat sendi
lainnya adalah

(Gambar 1.1 Letak art.coxae, tampak ventral cranial)


Ligamentum iliofemorale
Ligamentum ischiofemorale
Ligamentum pubofemorale
Ligamentum transversum acetabuli
Ligamentum capitisfemoris
Capsula articularis dari sendi ini sendiri berjalan dari pinggir acetabulum menyebar ke lateroinferior mengelilingi colum femoris untuk melekat pada linea introchanterica bagian depan dan
meliputi pertengahan bagian posterior colum femoris kira-kira sebesar jari diatas crista
introchanterica. Oleh karena itu bagian lateral dan distal belakang collum femoris adalah diluar
capsula articularis. Sehubungan dengan itu fraktur femoris dapat extracapsular dan dapat pula
intracapsular.
Vaskularisasi
Pada orang dewasa, A. circumflexa femoris medialis adalah pembuluh utama yang menyediakan
darah bagi caput femoris. Pada anak bayi, R.acetabularis (dari A. obturatoria dan A. circumflexa
femoris medialis), yang berjalan bersama Lig. capitis femoris, menjadi tempat utama penyediaan
darah ke caput femoralis. Namun, pada orang dewasa hanya disediakan seperlima atau sepertiga
dari proksimal epifisis. A. circumflexa femoris medialis menyuplai kepala femoral dan lehernya
melalui beberapa cabang kecil yang melewati sisi posterior bersama dengan kapsula sendi.
A.circumflexa femoris lateralis menyuplai sebagian besar collum femoris pada bagian anterior.
Acetabulum mendapat suplai dari vetral dan dorsal oleh A.obturatoria dan dari kranial oleh
A.glutea superior.

A.circumflexa
Femoris medialis

A.circumflexa
femoris lateralis

A.circumflexa
femoris medialis

R.acetabularis

A.profunda
femoris

A.circumflexa
Femoris medialis
A.circumflexa
Femoris lateralis

(Gambar vaskularisasi ventral)

(Gambar vaskularisasi ventral)

1.2 MM mikroskopik
Coxae termasuk tulang pipih, sedangkan femur termasuk tulang panjang. Tulang terdiri
atas daerah yang kompak pada bagian luar yang disebut korteks dan bagian dalam yang
bersifat spongiosa berbentuk trabekula dan diluarnya dilapisi oleh periosteum.
Periosteum pada anak lebih tebal daripada orang dewasa, memungkinkan penyembuhan
tulang pada anak lebih cepat daripada orang dewasa. Berdasarkan histologisnya, maka
dikenal dengan
a. Tulang immature : Tulang yang pertama-tama terbentuk dari ossifikasi endokondral
pada perkembangan embrional dan kemudian perlahan-lahan
menjadi tulang yang mature. Tulang immature mengandung
kolagen dengan substansi semen dan mineral yang lebih sedikit
dibanding tulang mature.
b. Tulang mature : Memiliki system havers/osteon yang memberikan kemudahan
sirkulasi darah melalui korteks yang tebal. Tulang mature kurang
mengandung sel dan lebih banyak substansi semen dan mineral
dibanding tulang immature. Contohnya: tulang kortikal dan
trabekuler.
Osteoblas dapat memproduksi substansi organic intraseluler atau matrix
dimana kalsifikasi terjadi di kemudian hari. Jaringan yang tidak mengandung kalsium
disebut osteoid. Apabila kalsifikasi terjadi pada matrix maka jaringan tersebut disebut
tulang. Sesaat setelah osteoblast dikelilingi substansi organic intrasluler disebut osteosit
yang terjadi dalam lakuna.
Sel yang multinukleus tidak ditutupi permukaan tulang dengan sifat dan fungsi
resorpsi serta mengeluarkan tulang yang disebut osteoklas. Kalsium hanya dapat
dikeluarkan dari tulang melalui proses aktifitas osteoklasis yang menghilangkan matrix
organic dan kalsium secara bersamaan disebut deossifikasi.

Sumber : Rasjad, Chairuddin.2007. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi Edisi 3. Jakarta : Yarsif
Watampone.
1.3 MM kinesiology
Ligamentum serta musculi memiliki peran besar dalam pergerakan articulatio coxae,
dimana ligamen berfungsi untuk mempertahankan gerak serta otot yang menggerakan tulang.
Ligamentum
Lig.pubofemorale
Lig.iliofemorale

Lig. iliofemorale
Pars descendens
Pars transversa

Lig.ischiofemor
ale

(Gambar art.coxae ventral dextra)

Lig.capitis
femoris

(Gambar art.coxae dorsal dextra)

Lig.pubofe
morale
Lig.transversum
acetabuli

(Gambar art.coxae ventral)

(Gambar art.coxae)

Ligamentum iliofemorale
Berfungsi mempertahankan art.coxae tetap ekstensi, menghambat rotasi femur, mencegah
batang badan berputar ke belakang pada waktu berdiri sehingga mengurangi kebutuhan
kontraksi otot untuk mempertahankan posisi tegak
Ligamentum ischiofemorale
Berfungsi mencegah rotasi interna
Ligamentum pubofemorale
Berfungsi mencegah abduksi, ekstensi dan rotasi externa

Otot yang Berperan dalam Gerak Sendi


- Fleksi: M.iliopsoas, M.pectineus, M.rectus femoris, M.adductor longus, M.adductor
brevis, M.adductor magnus pars anterior fascia lata
- Ekstensi: M.gluteus maximus, M.semitendinosis, M.semimembranosus, M.biceps
femoris caput longum, M.adductor magnus pars posterior
- Abduksi: M.gluteus medius, M.gluteus minimus, M.piriformis, M.sartorius, M.tensor
fasciae lata
- Adduksi : M.adductor magnus, M.adductor longus, M.adductor brevis, M.gracilis,
M.pectineus
- Rotasi medialis : M.gluteus maedius, M.gluteus minimus, M.tensor fasciae latae,
M.adductor magnus (pars posterior)
- Rotasi lateralis : M.piriformis, M.obturator internus, Mm.gamelli, M.obturator externus,
M.quadratus femoris, M.gluteus maximus dan Mm.adductores
2. MM fraktur femoris
2.1 MM definisi
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jarongan tulang dan atau tulang rawan yang umumnya
disebabkan oleh rudapaksa. (Kapita Selekta Kedokteran; 2000)

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan atau tulang rawan yang umumnya disebabkan
oleh trauma, baik langsung maupun tidak langsung pada daerah femur.
Fraktur collum femur merupakan fraktur intraskapular yang terjadi pada bagian proksimal femur,
yang termasuk collum femur adalah mulai dari bagian distal permukaan collum femoris sampai
dengan bagian proksimal dari intertrokanter.

2.2 MM etiologi
Trauma Langsung

Benturan pada tulang yang mengakibatkan fraktur di tempat tersebut. Contoh : benturan pada
lengan bawah menyebabkan patah tulang radius dan ulna.

Trauma Tidak Langsung

Tulang mengalami fraktur pada tempat yang jauh dari area benturan. Contoh : jatuh bertumpu
pada tangan yang menyebabkan tulang klavikula/ radius distal patah.

Fraktur Patologis

Fraktur yang disebabkan oleh trauma yang sedikit atau tanpa trauma. Contoh : pada orang
dengan osteoporosis, penyakit metabolik, infeksi tulang, dan tumor tulang.
(Rasjad, Chairudin. 1998. Ilmu Bedah Orthopedi. Ujung Pandang : Bintang Lamupate)
2.3 MM klasifikasi
a. Fraktur komplit adalah patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami
pergeseran. (bergeser dari posisi normal).
b. Fraktur tidak komplit adalah patah hanya terjadi pada sebagian dari garis tengah tulang.
c. Fraktur tertutup tidak menyebabkan robeknya kulit.
d. Fraktur terbuka merupakan fraktur dengan luka pada kulit atau membrana mukosa sampai
kepatahan tulang, fraktur terbuka digradasi menjadi:
1) Grade 1 dengan luka bersih panjangnya kurang dari 1 cm
2) Grade II luka lebih luas tanpa kerusakan jaringan lunak yang ekstensif
3) Grade III luka yang sangat terkontaminasi dan mengalami kerusakan jaringan lunak
ekstensif, merupakan yang paling berat
e. Fraktur juga digolongkan sesuai pergeseran anatomis fragmen tulang:
1) Greenstick: fraktur dimana salah satu sisi tulang patah sedang sisi lainnya membengkok
2) Transversal: fraktur sepanjang garis tengah tulang

3) Obllik: fraktur membentuk sudut dengan garis tengah tulang (lebih tidak stabil dibanding
transversal)
4) Spiral: fraktur memuntir sepanjang batang tulang
5) Komunitif: fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa fragmen
6) Depresi: fraktur dengan pragmen patahan terdorong kedalam (sering terjadi pada tulang
tengkorak dan tulang wajah)
7) Kompresi: fraktur dimana tulang mengalami kompresi (terjadi pada tulang belakang)
8) Patologik: fraktur yang terjadi pada daerah tulang berpenyakit (kista tulang, penyakit
paget, metastasis tulang, tumor)
9) Avulsi: tertariknya fragmen tulang oleh ligamen atau tendo pada perlakatannya
10) Epifiseal: fraktur melalui epifisis
11) Impaksi: fraktur dimana fragmen tulang terdorong ke fragmen tulang yang lainnya.
a. FRAKTUR COLLUM FEMUR:
Fraktur collum femur dapat disebabkan oleh trauma langsung yaitu misalnya
penderita jatuh dengan posisi miring dimana daerah trochanter mayor langsung
terbentur dengan benda keras (jalanan) ataupun disebabkan oleh trauma tidak
langsung yaitu karena gerakan exorotasi yang mendadak dari tungkai bawah, dibagi
dalam :
Fraktur intrakapsuler (Fraktur collum femur)
Fraktur extrakapsuler (Fraktur intertrochanter femur)
Klasifikasi fraktur collum femur :
a. Berdasarkan lokasi anatomi
-

Fraktur subcapital

Fraktur transervical

Fraktur bassis collum femur

b. Berdasarkan arah sudut garis patah dibagi menurut Pauwel


-

Tipe I : sudut 30 derajat

Tipe II : sudut 50 derajat

Tipe III : sudut 70 derajat

c. Berdasarkan dislokasi atau tidak fragment dibagi menurut Garden

Garden I : incomplete (impacted)

Garden II : fractur collum femur tanpa dislokasi

Garden III : fraktur collum femur dengan sebagian dislokasi

Garden IV : frakur collum femur dan dislokasi total

b. FRAKTUR SUBTROCHANTER FEMUR


Ialah fraktur dimana garis patahnya berada 5 cm distal dari trochanter minor, dibagi
dalam beberapa klasifikasi tetapi yang lebih sederhana dan mudah dipahami adalah
klasifikasi Fielding & Magliato, yaitu :
tipe 1 : garis fraktur satu level dengan trochanter minor
tipe 2 : garis patah berada 1 -2 inch di bawah dari batas atas trochanter minor
tipe 3 : garis patah berada 2 -3 inch di distal dari batas atas trochanterminor
c. FRAKTUR BATANG FEMUR (dewasa)
Fraktur batang femur biasanya terjadi karena trauma langsung akibat kecelakaan lalu
lintas dikota kota besar atau jatuh dari ketinggian, patah pada daerah ini dapat
menimbulkan perdarahan yang cukup banyak, mengakibatkan penderita jatuh dalam
shock, salah satu klasifikasi fraktur batang femur dibagi berdasarkan adanya luka
yang berhubungan dengan daerah yang patah. Dibagi menjadi :
- tertutup
- terbuka:
1. Ketentuan fraktur femur terbuka bila terdapat hubungan antara tulang patah
dengan dunia luar dibagi dalam tiga derajat, yaitu ;
a) Derajat I : Bila terdapat hubungan dengan dunia luar timbul luka kecil,
biasanya diakibatkan tusukan fragmen tulang dari dalam menembus
keluar.
b) Derajat II : Lukanya lebih besar (>1cm) luka ini disebabkan karena
benturan dari luar.
c) Derajat III : Lukanya lebih luas dari derajat II, lebih kotor, jaringan
lunak banyak yang ikut rusak (otot, saraf, pembuluh darah)
2. Klasifikasi open fraktur mkenutut gustillo/Anderson
a) Grade I: Patah tulang terbuka dengan luka < 1 cm, relatif bersih,
kerusakan
jaringan
lunak
minimal,
bentuk
patahan
simple/transversal/oblik.
b) Grade II: Patahan tulang terbuka dengan luka > 1 cm, kerusakan
jaringan lunak tidak luas, bentuk patahan simple.
c) Grade III: Patahan tulang terbuka dengan luka > 10 cm, kerusakan
jaringan lunak yang luas, kotor dan disertai kerusakan pembuluh darah
dan syaraf.
1. III A: Patah tulang terbuka dengan kerusakan jaringan luas,
tetapi masih bisa menutupi patahan tulang waktu dilakukan
perbaikan.
2. III B: Patahan tulang terbuka dengan kerusakan jaringan lunak
hebat dan atau hilang (soft tissue loss) sehingga tampak tulang
(bone-exposs).

3. III C: Patahan tulang terbuka dengan kerusakan pembuluh darah


atau syaraf yang hebat.
2.4 MM patofisiologi
Ketika terjadi patah tulang yang diakibatkan oleh truma, peristiwa tekanan ataupun patah tulang
patologik karena kelemahan tulang, akan terjadi kerusakan di korteks, pembuluh darah, sumsum
tulang dan jaringan lunak. Akibat dari hal tersebut adalah terjadi perdarahan, kerusakan tulang
dan jaringan sekitarnya.. Keadaan ini menimbulkan hematom pada kanal medulla antara tepi
tulang dibawah periostium dengan jaringan tulang yang mengatasi fraktur. Terjadinya respon
inflamsi akibat sirkulasi jaringan nekrotik adalah ditandai dengan vasodilatasi dari plasma dan
leukosit. Ketika terjadi kerusakan tulang, tubuh mulai melakukan proses penyembuhan untuk
memperbaiki cidera, tahap ini menunjukkan tahap awal penyembuhan tulang. Hematon yang
terbentuk bisa menyebabkan peningkatan tekanan dalam sumsum tulang yang kemudian
merangsang pembebasan lemak dan gumpalan lemak tersebut masuk kedalam pembuluh darah
yang mensuplai organ-organ yang lain. Hematon menyebabkn dilatasi kapiler di otot, sehingga
meningkatkan tekanan kapiler, kemudian menstimulasi histamin pada otot yang iskhemik dan
menyebabkan protein plasma hilang dan masuk ke interstitial. Hal ini menyebabkan terjadinya
edema. Edema yang terbentuk akan menekan ujung syaraf, yang bila berlangsung lama bisa
menyebabkan syndroma compartement
2.5 MM manifestasi klinik
Gambaran klinis yang terlihat adalah
a. Nyeri biasanya menyertai patah tulang traumatik dan cedera jaringan lunak. Spasme otot
dapat terjadi setelah patah tulang dan menimbulkan nyeri. Sedangkan pada fraktur stres nyeri
biasanya menyertai aktivitas dan berkurang dengan istirahat. Sedangkan fraktur patologis
mungkin tidak disertai nyeri.
b. Posisi tulang atau ekstremitas yang tidak alami mungkin tampak jelas.
c. Pembengkakan di sekitar tempat fraktur akan menyertai proses inflamasi.
d. Gangguan sensasi atau kesemutan dapat terjadi, yang menandakan kerusakan syaraf. Denyut
nadi bagian distal fraktur harus utuh dan sama dengan bagian nonfraktur. Hilangnya denyut
nadi di sebelah distal dapat menandakan sindrom komparrtemen walaupun adanya denyut
nadi tidak menyingkirkan gangguan ini.
e. Krepitus (suara gemeretak) dapat terdengar saat tulang digerakkan karena ujung patahan
tulang bergeser satu sama lain.
Sumber : Corwin, Elizabeth J. 2007. Buku Saku Patofisiologi Edisi 3. Jakarta : EGC.
2.6 MM pemeriksaan
Anamnesis
Anamnesis harus dilakukan dengan cermat, karena fraktur tidak selamanya terjadi di daerah
trauma dan mungkin fraktur terjadi pada daerah lain. Penderita biasanya dating karena adanya
nyeri, pembengkakan, gangguan fungsi anggota gerak, deformitas, kelainan gerak, krepitasi atau
dengan gejala-gejala lain.

Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan awal penderita perlu diperhatikan
1. Shock, anemia atau pendarahan
2. Kerusakan pada organ-organ lain
3. Factor predisposisi
Pemeriksaan local
1. Inspeksi (look)
Pada inspeksi secara umum perlu diperhatikan raut muka penderita, apakah terlihat
kesakitan. Cara berjalan sekurang-kurangnya 20 lamgkah, cara duduk dan cara tidur.
Inspeksi dilakukan secara sistemik dan terutama ditujukan pada:
a. Kulit (warna dan tekstur)
b. Jaringan lunak (pembuluh darah, syaraf, otot, dll)
c. Tulang dan sendi
d. Sinus dan jaringan parut
2. Palpasi (feel)
Yang perlu diperhatikan adalah:
a. Suhu kulit, apakah lebih panas atau dingin dari biasanya, apakah denyutan arteri
dapat diraba atau tidak
b. Jaringan lunak, dipalpasi untuk mengetahui adanya splasme otot, atrofi aotot,
keadaan membrane synovia, penebalan membrane jaringan synovia, adanya tumor
dan sifat-sifatnya, adanya cairan di dalam atau di luar sendi atau adnya pebengkakan
c. Nyeri tekan, perlu diketahui lokasi yang tepat dari nyeri
d. Tulang, diperhatikan bentuk, permukaan, keteblan, penonjolan dari tulang atau
adanya gangguan di dalam hubungan antar tulang
e. Pengukuran anggota gerak, terutama anggota gerak bawah. Pengukuran juga
berguna untuk mengetahui adanya atrofi atau pembengkakan otot dengan
dibandingkan dengan anggota gerak yang sehat
f. Penilaian deformitas yang menetap
Palpasi dilakukan secara hati-hati karena penderita biasanya mengeluh sangat nyeri.
3. Pergerakan (move)
Dikenal 2 istilah yaitu pergerkan aktif yang merupakan pergerakan sendi yang dilakukan
oleh penderita sendiri. Lalu, pergerakan pasif yaitu pergerakan sendi dengan bantuan
pemeriksa. Pada pergerakan dapat diperoleh informasi
a. Evaluasi gerakan sendi aktif dan pasif
b. Stabilitas sendi
c. Pemeriksaan batas gerak sendi (range of movement), harus dicatat setiap pe,eriksaan
ortopedi yang meliputi batas gerak aktif dan gerak pasif.
Pada penderita denga fraktur uji dilakukan tidak boleh dilakukan secara kasar karena
dapat menyebabkan nyeri hebat, kerusakan pada jaringa lunak.
Pemeriksaan penunjang
1. Radiologi foto polos

Pemeriksaan radiologis diperlukan untuk menentukan keadaan, lokasi serta ekstensi


fraktur. Tujuan pemeriksaan radiologis:
Mempelajari gambar normal tulang dan sendi
Konfirmasi adanya fraktur
Melihat sejauh mana pergerakan dan konfigurasi fragmen
Menentukan teknik pengobatan
Menentukan fraktur itu baru atau tidak
Menentukan apakah fraktur intra-artikuler atau ekstra-artikuler
Melihat adanya keadaan patologis lain pada tulang
Melihat adanya benda asing
Pemeriksaan radiologis dilakukan dengan beberapa prinsip 2:

2.
3.
4.
5.

2 posisi proyeksi, antero-posterior dan lateral


2 sendi pada anggot gerak atau tungkai yang harus difoto
2 anggota gerak
2 taruma
2 kali dilakukan foto

Tomografi
CT-scan
MRI
Radioisotope scanning

2.7 MM diagnosis & diagnosis banding


DIAGNOSIS
Penegakan diagnosis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang
didapatkan : adanya riwayat trauama/ jatuh yang diikuti nyeri pinggul, pada pemerikasaan
didapatkan posisi panggul dalam keadaan fleksi, eksorotasi dan abduksi, dari pemeriksaan
penunjang didaptkan.
Diagnosis biasanya ditegakkan melalui pemeriksaan X-ray. Jika pada X-ray tidak terdapat
gambaran fraktur, maka dilakukan MRI atau CT untuk melihat fraktur yang sangat kecil.
Fraktur femur biasanya terdapat pada dua lokasi yaitu
a. Leher femur (femoral neck) yang terletak di bagian atas femur, dibawah caput femur. Tempat
ball pada bagian ball-and-socket joint.
b. Regio intertrochanteria. Regio ini terletak di bawah sendi panggul di bagian atas femur yang
menonjol keluar.
Sumber:http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hip-fracture/basics/treatment/con20021033
Mendiagnosis fraktur tidaklah cukup, ahli bedah
menguraikannya) bersama dengan semua kompleksitasnya.
a) Anamnesis ada trauma atau tidak, kapan terjadinya ?

harus

menggambarkannya

(dan

b)
c)
d)
e)
f)
g)

Fraktur itu terbuka atau tertutup ?


Nama tulang, Tulang mana yang patah, dan patah dimana ?
Apakah melibatkan permukaan sendi ?
Bagaimana bentuk patahnya ?
Displaced/undisplaced ?
Grade (I,II,III A, B,C) ?

DIAGNOSIS BANDING
a. Osteitis Pubis
Peradangan dari simfisis pubis - sendi dari dua tulang panggul besar di bagian
depan panggul. Osteitis pubis merupakan radang simfisis pubis dan daerah insersi
otot disekitarnya. Nyeri pada adductor dan nyeri abdominal yang kemudian
terlokalisasi pada pubis (sering secara unilateral)

b. Slipped Capital Femoral Epiphysis


Patah tulang yang melewati fisis (plat tempat tumbuh pada tulang), yang
menyebabkan selipan terjadi diatas epifisis. SCFE merupakan gangguan panggul pada
anak-anak dan remaja. Penyakit ini jarang ditemukan, namun harus didiagnosis secara
akurat dan perawatan sangat diperlukan. SCFE menunjukan adanya ketidak
seimbangan pada plate pertumbuhan femoralproximal. Pasien akan mengeluh sakit
panggul, kehilangan flexibilitas panggul, sakit pada lutut. Pada pemeriksaan radiologi
terlihat bagian kepala femur terdislokasi. Diatasi untuk menghindari komplikasi
seperti avaskular nekrosis.

c. Snapping Hip Syndrome


Kondisi medis yang ditandai oleh sensasi gertakan terasa saat pinggul yang
tertekuk dan diperpanjang. Hal ini dapat disertai oleh gertakan terdengar atau muncul
kebisingan dan rasa sakit atau ketidak nyamanan. Dinamakan demikian karena suara
retak yang berbeda yang berasal dari seluruh daerah pinggul ketika sendi melewati
dari yang tertekuk untuk menjadi diperpanjang. Secara medis dikenal sebagai
iliopsoas tendinitis, mereka yang sering terkena adalah atlet, seperti angkat besi,
pesenam, pelari dan penari balet, yang secara rutin menerapkan kekuatan yang
berlebihan atau melakukan gerakan sulit yang melibatkan sendi panggul.
Sumber: http://emedicine.medscape.com/article/86659-differential
Gerard A Malanga, MD, Sep 6, 2013, akses: 25 sep 2014
2.8 MM komplikasi
Komplikasi awal
a. Syok: Syok hipovolemik atau traumatik akibat pendarahan (baik kehilangan darah eksterna
maupun yang tidak kelihatan) dan kehilangan cairan eksternal kejaringan yang rusak.
b. Sindrom emboli lemak: Pada saat terjadi fraktur globula lemak dapat masuk kedalam
pembuluh darah karena tekanan sumsum tulang lebih tinggi dari tekanan kapiler atau karena
katekolamin yang dilepaskan oleh reaksi stres pasien akan memobilisasi asam lemak dan
memudahkan terjadinya globula lemak dalam aliran darah.
c. Sindrom kompartemen: merupakan masalah yang terjadi saat perfusi jaringan dalam otot
kurang dari yang dibutuhkan untuk kehidupan jaringan. Ini bisa disebabkan karena penurunan
ukuran kompartemen otot karena fasia yang membungkus otot terlalu ketat, penggunaan gips
atau balutan yang menjerat ataupun peningkatan isi kompartemen otot karena edema atau
perdarahan sehubungan dengan berbagai masalah (misal : iskemi, cidera remuk). Sindrom ini
dapat ditangani dengan fascioctomi untuk tindakan operatif dan hindari elevasi.
d. Trombo-emboli: obtruksi pembuluh darah karena tirah baring yang terlalu lama. Misalnya
dengan di traksi di tempat tidur yang lama.
e. Infeksi: pada fraktur terbuka akibat kontaminasi luka, dan dapat terjadi setelah tindakan
operasi.
f. Osteonekrosis (avakular): tulang kehilangan suplai darah untuk waktu yang lama (jaringan
tulang mati dan nekrotik)
g. Osteoatritis: terjadi karena faktor umur dan bisa juga karena terlalu gemuk
h. Koksavara: berkurangnya sudut leher femur.
i. Anggota gerak memendek (ektrimitas).
Komplikasi lambat
a. Delayed union: proses penyembuhan tulang yang berjalan dalam waktu yang lebih lama dari
perkiraan (tidak sembuh setelah 3-5 bulan).

b. Non union: kegagalan penyambungan tulang setelah 6-9 bulan.


c. Mal union: proses penyembuhan tulang berjalan normal terjadi dalam waktu semestinya,
namun tidak dengan bentuk aslinya atau abnormal.
d. Kekakuan pada sendi.
e. Refraktur: terjadi apabila mobilisasi dilakukan sebelum terbentuk union yang solid.
2.9 MM penatalaksanaan
Proses penyembuhan fraktur terdiri dari 5 fase, yaitu:

Fase hematoma
Pembuluh darah kecil dalam system havers robek hematoma hematoma diliputi
periosteum periosteum robek karena tekanan hematoma ekstravasasi darah dalam
jaringan lunak osteosit disekitarnya mati timbul daerah cincin avaskuler tulang
yang mati
Fase proliverasi seluler subperiosteal dan endosteal
Sel-sel osteogenik berproliverasi dari osteum dan endosteum membentuk kalus
eksterna dan interna kalus membentuk suatu masa meliputi jaringan osteogenik
Fase pembentukan kalus (Fase union secara klinis)
Sel dasar dari osteoblast diduduki oleh matriks interseluler kolagen dan perlekatan
polisakarida oleh garam-garam kalsium membentuk tulang yang immature (woven bone).
Merupakan indikasi radiologic pertama terjadinya penyembuhan fraktur
Fase konsolidasi (fase union secara radiologic)
Woven bone kalus primer tulang lebih matang untuk menjadi struktur lamellar
Fase remodeling
Union lengkap tulang baru membentuk bagian menyerupai bulbus meliputi tulang
tetapi tanpa kanalis medularis kalus eksterna perlahan-lahan hilang kalus
intermedia menjadi tulang kompak kalus interna mengalami peronggan pembentuk
ruang sum-sum

Prinsip umum pengobatan fraktur yaitu:


1. Jangan membuat keadaan lebih jelek
Beberapa komplikasi yang bersifai iatrogenic, dapat dihindarkan dengan melakukan
tidakan yang memadai seperti mecegah kerusakan jaringan lunak pada saat transportasi
penderita, serta luka terbuka dengan perawatan yang tepat.
2. Pengobatan berdasarkan atas diagnosis dan prognosis yang akurat. Dengan melakukan
diagnosis yang tepat, kita dapat menentukan prognosis trauma yang dialami sehingga
dapat dipilih pengobatan yang tepat
3. Seleksi pengobatan dengan tujuan khusus
Menghilangkan nyeri dengan imobilisasi fraktur dan pemberian analgesic
Memperoleh posisi yang baik dari fragmen
Mengusahakan terjadinya penyambungan tulang
Mengembalikan fungsi secara optimal dengan latihan yang bersifat aktif dinamik
4. Mengingat hokum-hukum penyembuhan secara alami
5. Bersifat realistic dan praktis dalam memilih pengobatan

6. Seleksi pengobatan sesuai dengan penderida secara individual


Prinsip pengobatan fraktur sebelum melakukan pengobatan definitive yaitu:
1. Recognition (diagnosis dan penilaian fraktur)
Lokalisasi fraktur
Bentuk fraktur
Menentukan teknik yang sesuai dengan untuk pengobatan
Komplikasi yang mungkin terjadi
2. Reduction (reduksi fraktur apabila perlu)
Dilakukan untuk mendapatkan posisi yang dapat diterima. Posisi yang baik adalah:
Alignment yang sempurna
Aposisi yang sempurna
3. Retention (imobilisasi fraktur)
4. Rehabilitation (pengembalian aktivitas fungsional)
Pada prinsipnya penangganan fraktur meliputi reduksi, imobilisasi dan pengembalian
fungsi dan kekuatan normal dengan rehabilitasi.
a. Reduksi fraktur berarti mengembalikan fragmen tulang pada kesejajarannya dan
rotasi anatomis. Metode dalam reduksi adalah reduksi tertutup, traksi dan reduksi
terbuka, yang masing-masing di pilih bergantung sifat fraktur
1. Reduksi tertutup dilakukan untuk mengembalikan fragmen tulang ke
posisinya (ujung-ujung saling behubungan) dengan manipulasi dan traksi
manual.
2. Traksi, dapat digunakan untuk mendapatkan efek reduksi dan imobilisasi.
Beratnya traksi disesuaikan dengan spasme otot yang terjadi.
3. Reduksi terbuka , dengan pendekatan pembedahan, fragmen tulang direduksi.
Alat fiksasi internal dalam bentuk pin, kawat, sekrup, plat, paku atau batangan
logam dapat digunakan untuk mempertahankan fragmen tulang dalam
posisinya sampai penyembuhan tulang yang solid terjadi.
b. Imobilisai fraktur, setelah fraktur di reduksi fragmen tulang harus di imobilisasi atau
di pertahankan dalam posisi dan kesejajaran yang benar sampai terjadi penyatuan.
Immobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi eksternal atau inernal.
1. Fiksasi eksternal meliputi pembalutan, gips, bidai, traksi kontinu, pin dan
teknik gips atau fiksator eksternal.
2. Fiksasi internal dapat dilakukan implan logam yang berperan sebagai bidai
inerna untuk mengimobilisasi fraktur. Pada fraktur femur imobilisasi di
butuhkan sesuai lokasi fraktur yaitu intrakapsuler 24 minggu, intra trohanterik
10-12 minggu, batang 18 minggu dan supra kondiler 12-15 minggu.
c. Mempertahankan dan mengembalikan fungsi, segala upaya diarahkan pada
penyembuhan tulang dan jaringan lunak, yaitu ;
(2) Mempertahankan reduksi dan imobilisasi
(3) Meninggikan untuk meminimalkan pembengkakan
(4) Memantau status neurologi.
(5) Mengontrol kecemasan dan nyeri
(6) Latihan isometrik dan setting otot

(7) Berpartisipasi dalam aktivitas hidup sehari-hari


(8) Kembali keaktivitas secara bertahap.
Farmakologi
Obat-obatan seperti biphosphonates dapat meningkatkan densitas tulang sehingga mengurangi
resiko re-fractur. Kebanyakan obat-obatan ini diminum.
Efek samping : nausea, nyeri abdominal, dan inflamasi pada esofagus.
Farmakokinetik : oral, jika intoleran dapat digunakan IV tubing.
Sumber:
20021033

http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hip-fracture/basics/treatment/con-

2.9 MM prognosis
Untuk fraktur femur, hasil yang baik diperoleh dengan melakukan traksi-suspendi pada kedua
tungkai bawah bahkan pada fraktur unilateral. Penyembuhan biasanya disertai dengan
pembentukan kalus berlebihan. Prognosis sangat baik untuk fraktur ekstremitas.
Sumber : Nelson, Arvin et al. 1996. Ilmu Kesehatan Anak Nelson Vol I. Edisi 15. Jakarta :
EGC.