Anda di halaman 1dari 39

Bab I

Latar Belakang
Kesehatan lingkungan diperuntukan untuk semua faktor eksternal baik fisik, kimia,
biologis dan semua faktor terkait yang mempengaruhi perilaku. Ini meliputi penilaian dan
pengendalian faktor-faktor lingkungan yang berpotensi dapat mempengaruhi kesehatan. Hal
ini ditargetkan untuk mencegah penyakit dan menciptakan lingkungan yang mendukung
kesehatan.
Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang terdiri dari 10 indikator merupakan faktor
penting dalam masalah kesehatan lingkungan, terutama penyakit-penyakit yang menular
secara feco-oral.
Jamban merupakan sanitasi dasar penting yang harus dimiliki setiap masyarakat. Di
suatu wilayah ada rumah yang sudah memiliki jamban, ada yang belum memiliki jamban.
Bila rumah yang memiliki jamban melebihi 80% dari jumlah rumah yang ada, berarti wilayah
tersebut termasuk wilayah yang cukup baik dalam hal pembuangan kotoran manusia. Alasan
utama yang selalu diungkapkan masyarakat mengapa sampai saat ini belum memiliki jamban
keluarga adalah tidak mempunyai uang. Sebenarnya tidak adanya jamban di setiap rumah
tangga bukan semata faktor ekonomi, tetapi lebih kepada belum adanya kesadaran
masyarakat untuk menerapkan PHBS, jamban pun tidak harus mewah dengan biaya yang
mahal. Cukup yang sederhana saja disesuaikan dengan kemampuan ekonomi rumah tangga.
Bagi rumah yang belum memiliki jamban, sudah dipastikan mereka memanfaatkan sungai,
kebun, kolam, atau tempat lainnya untuk buang air besar (BAB). Dengan masih adanya
masyarakat di suatu wilayah yang BAB sembarangan, maka wilayah tersebut terancam
beberapa penyakit menular yang berbasis lingkungan diantaranya penyakit cacingan, kolera,
diare, demam tifoid, disentri, dan masih banyak penyakit lainnya. Selain jamban sehat,
indikator PHBS lainnya seperti mencuci tangan dengan sabun dan mengkonsumsi air bersih
juga mempunyai pengaruh besar terhadap penyakit-penyakit tersebut.
Disentri adalah peradangan usus besar yang ditandai dengan sakit perut dan buang air
besar encer dan berdarah. Buang air besar ini berulang-ulang yang menyebabkan penderita
kehilangan banyak cairan dan darah . Penyebab umum disentri adalah infeksi parasit
Entamoeba histolytica yang menyebabkan disentri amuba dan infeksi bakteri golongan
Shigella yang menjadi penyebab disentri basiler. Penyakit ini merupakan salah satu penyakit
menular feco-oral yang diakibatkan kurangnya kebersihan lingkungan, makanan dan
1

kesadaran mencuci tangan sebelum makan. Apabila tidak ditangani dengan tepat, maka
disentri dapat menimbulkan komplikasi seperti dehidrasi, gangguan elektrolit, toxic
megacolon, peritonitis dan berbagai komplikasi berbahaya lainnya.

BAB II
Tinjauan Pustaka dan Permasalahan
2.1 Kesehatan Lingkungan
Definisi
Kesehatan lingkungan adalah Ilmu dan seni untuk mencegah pengganggu,menanggulangi
kerusakan dan meningkatkan/memulihkan fungsi lingkunganmelalui pengelolaan unsurunsur/faktor-faktor lingkungan yang berisiko terhadap kesehatan manusia dengan cara
identifikasi, analisis, intervensi/rekayasa lingkungan, sehingga tersedianya lingkungan yang menjamin
bagi derajat kesehatan manusia secara optimal.(Tri Cahyono, 2000)

Ruang Lingkup Kesehatan Lingkungan dan Sanitasi


Kesehatan lingkungan adalah suatu keseimbangan ekologis yang harus ada antara manusia
dengan lingkungannya agar dapat menjamin keadaan sehatdari manusia.
Ruang lingkup:
1. Penyediaan air minum
2. Pengolahan air buangan dan pengendalian pencemaran
3. Pengelolaan sampah padat
4. Pengendalian vector
5. Pencegahan dan pengendalian pencemaran tanah dan ekskreta manusia
6. Hygiene makanan
7. Pengendalian pencemaran udara
8. Pengendalian radiasi
9. Kesehatan kerja
10. Pengendalian kebisingan

11. Perumahan dan permukiman


12. Perencanaan daerah perkotaan
13. Kesehatan lingkungan transportasi udara, laut dan darat
14. Pencegahan kecelakaan
15. Rekreasi umum dan pariwisata
16. Tindakan sanitasi yang berhubungan dengan epidemic, bencana,kedaruratan
17. Tindakan pencegahan agar lingkungan bebas dari risiko gangguankesehatan(WHO, 1979)

Sanitasi adalah usaha pengendalian faktor-faktor lingkungan fisik manusiayang mungkin


menimbulkan atau dapat menimbulkan hal-hal yang merugikanbagi perkembangan fisik,
kesehatan dan daya tahan hidup manusia.
Ruang lingkup :
a. cara pembuangan ekskreta, air buangan dan sampah
b. penyediaan air bersih
c. perumahan
d. makanan
e. individu dan masyarakat agar berperilaku sehat (personal hygiene)
f. arthropoda, mollusca, binatang pengerat serta pejamu lainnya
g. kondisi udarah. pabrik, perkantoran, permukiman, jalan umum dan lingkungan umumnya.(WHO).

Peraturan Pemerintah tentang Kesehatan Lingkungan


UU No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan
Pasal 162
Upaya kesehatan lingkungan ditujukan untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat,
baik fisik, kimia, biologi, maupun sosial yang memungkinkan setiap orang mencapai derajat
kesehatan yang setinggi-tingginya.
Pasal 163
(1) Pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat menjamin ketersediaan lingkungan yang sehat dan
tidak mempunyai risiko buruk bagi kesehatan.
(2) Lingkungan sehat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup lingkungan permukiman, tempat kerja,
tempat rekreasi, serta tempat danfasilitas umum.
(3) Lingkungan sehat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) bebas dari unsur-unsur yang menimbulkan
gangguan kesehatan, antara lain: a. limbah cair; b. limbah padat; c. limbah gas; d. sampah yang
tidak diproses sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan pemerintah; e. binatang pembawa
penyakit; f. zat kimia yang berbahaya; g. kebisingan yang melebihi ambang batas; h. radiasi sinar
pengion dan non pengion; i. air yang tercemar; j. udara yang tercemar; dan makanan yang
terkontaminasi.
(4) Ketentuan mengenai standar baku mutu kesehatan lingkungan dan proses pengolahan
limbah sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dan ayat (3), ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

2.2 Jamban
Definisi
Pembuangan tinja atau buang air besar disebut secara eksplisit dalam dokumen
Millenium Development Goals (MDGs). Dalam nomenklatur ini buang air besar disebut
sebagai sanitasi yang antara lain meliputi jenis pemakaian atau penggunaan tempat buang air
besar, jenis kloset yang digunakan dan jenis tempat pembuangan akhir tinja. Dalam laporan
MDGs 2010, kriteria akses terhadap sanitasi layak adalah bila penggunaan fasilitas tempat
BAB milik sendiri atau bersama, jenis kloset yang digunakan jenis latrine dan tempat
5

pembuangan akhir tinjanya menggunakan tangki septik atau sarana pembuangan air limbah
atau SPAL. Sedangkan kriteria yang digunakan Joint Monitoring Program (JMP) WHOUNICEF 2008, sanitasi terbagi dalam empat kriteria, yaitu improved, shared,
unimproved dan open defecation. Dikategorikan sebagai improved bila penggunaan
sarana pembuangan kotoran nya sendiri, jenis kloset latrine dan tempat pembuangan akhir
tinjanya tangki septik atau SPAL.
Pengertian lain terkait jamban menyebutkan bahwa jamban keluarga adalah suatu
bangunan yang digunakan untuk tempat membuang dan mengumpulkan kotoran/najis
manusia yang lazim disebut kakus atau WC, sehingga kotoran tersebut disimpan dalam suatu
tempat tertentu dan tidak menjadi penyebab atau penyebar penyakit dan mengotori
lingkungan pemukiman. Kotoran manusia yang dibuang dalam praktek sehari-hari bercampur
dengan air, maka pengolahan kotoran manusia tersebut pada dasarnya sama dengan
pengolahan air limbah. Oleh sebab itu pengolahan kotoran manusia, demikian pula syaratsyarat yang dibutuhkan pada dasarnya sama dengan syarat pembuangan air limbah.

Jenis-jenis Jamban
Terdapat beberapa jenis jamban sesuai bentuk dan namanya, antara lain Azwar (1983 :

1. Jamban cubluk (pit privy)


Kakus ini dibuat dengan jalan membuat lubang ke dalam tanah sedalam 2,5 sampai 8 meter
dengan diameter 80-120 cm. Dindingnya diperkuat dari batu bata ataupun tidak. Sesuai
dengan daerah pedesaan maka rumah kakus tersebut dapat dibuat dari bambu, dinding bambu
dan atap daun kelapa. Jarak dari sumber air minum sekurang-kurangnya 15 meter.

Gambar 1. Jamban cubluk

2. Jamban cemplung berventilasi (ventilasi improved pit latrine)


Jamban ini hampir sama dengan jamban cubluk, bedanya menggunakan ventilasi pipa. Untuk
daerah pedesaan pipa ventilasi ini dapat dibuat dari bambu.

Gambar 2. Jamban cubluk berventilasi

3. Jamban empang (fish pond latrine)


Merupakan jamban ini dibangun di atas empang ikan. Sistem jamban empang memungkinkan
terjadi daur ulang (recycling) yaitu tinja dapat langsung dimakan ikan, ikan dimakan orang,
dan selanjutnya orang mengeluarkan tinja, demikian seterusnya.

Gambar 3. Jamban empang


4. Jamban pupuk (the compost privy)
Secara prinsip jamban ini seperti kakus cemplung, hanya lebih dangkal galiannya, di dalam
jamban ini juga untuk membuang kotoran binatang dan sampah, daun-daunan.
5. Septic tank
Jamban jenis septic tank merupakan jamban yang paling memenuhi syarat. Septic tank
merupakan cara yang memuaskan dalam pembuangan ekskreta untuk kelompok kecil yaitu
rumah tangga dan lembaga yang memiliki persediaan air yang mencukupi, tetapi tidak
memiliki hubungan dengan sistem penyaluran limbah masyarakat (Chandra, 2007). Septic
tank merupakan cara yang terbaik yang dianjurkan oleh WHO tapi memerlukan biaya mahal,
tekniknya sukar dan memerlukan tanah yang luas (Entjang, 2000).
Untuk mencegah penularan penyakit yang berbasis lingkungan, kita semua harus buang air
besar (BAB) di jamban. Ada 3 jenis jamban :
1. Jamban Leher Angsa
Jamban ini, perlu air untuk menggelontor kotoran. Air yang terdapat pada leher angsa adalah
untuk menghindarkan bau dan mencegah masuknya lalat dan kecoa.
8

2. Jamban Cemplung
Jamban ini, tidak memerlukan air untuk menggelontor kotoran. Untuk mengurangi bau serta
agar lalat dan kecoa tidak masuk, lubang jamban perlu ditutup.
3. Jamban Plengsengan
Jamban ini, perlu air untuk menggelontor kotoran. Lubang jamban perlu juga ditutup

Gambar . Jenis-jenis jamban

Cara Memilih Jenis Jamban


Jamban cemplung digunakan untuk daerah yang sulit air

Jamban tangki septik/leher angsa digunakan untuk daerah yang cukup air dan daerah
padat penduduk, karena dapat menggunakan multiple latrine yaitu satu lubang
penampungan tinja/tangki septik digunakan oleh beberapa jamban (satu lubang dapat
menampung kotoran/tinja dari 3-5 jamban)

Daerah pasang surut, tempat penampungan kotoran/tinja hendaknya ditinggikan kurang


lebih 60 cm dari permukaan air pasang.

Alasan Menggunakan Jamban


1. Menjaga lingkungan bersih, sehat dan tidak berbau
2. Tidak mencemari sumber air yang ada di sekitamya.
9

3. Tidak mengundang datangnya lalat atau serangga yang dapat menjadi penular penyakit
Diare, Kolera Disentri, Thypus, cacingan, penyakit saluran pencernaan, penyakit kulit
dan keracunan.

Manfaat dan Fungsi Jamban Keluarga


Jamban berfungsi sebagai pengisolasi tinja dari lingkungan. Jamban yang baik dan memenuhi
syarat kesehatan akan menjamin beberapa hal, yaitu :
1. Melindungi kesehatan masyarakat dari penyakit
2. Melindungi dari gangguan estetika, bau dan penggunaan sarana yang aman
3. Bukan tempat berkembangnya serangga sebagai vektor penyakit
4. Melindungi pencemaran pada penyediaan air bersih dan lingkungan

Lokasi
Dengan memperhatikan pola pencemaran tanah dan air tanah, maka hal-hal berikut harus
diperhatikan untuk memilih lokasi penempatan sarana pembuangan tinja (Soeparman, 2002):
1. Pada dasarnya tidak ada aturan pasti yang dapat dijadikan sebagai patokan untuk
menentukan jarak yang aman antara jamban dan sumber air. Banyak faktor yang
mempengaruhi perpindahan bakteri melalui air tanah, seperti tingkat kemiringan,
tinggi permukaan air tanah, serta permeabilitas tanah. Yang terpenting harus
diperhatikan adalah bahwa jamban atau kolam pembuangan (cesspool) harus
ditempatkan lebih rendah, atau sekurang-kurangnya sama tinggi dengan sumber air
bersih. Apabila memungkinka, harus dihindari penempatan langsung di bagian yang
lebih tinggi dari sumur. Jika penempatan di bagian yang lebih tinggi tidak dapat
dihindarkan, jarak 15 m akan mencegah pencemaran bakteriologis ke sumur.
Penempatan jamban di sebelah kanan atau kiri akan mengurangi kemungkinan
kontaminasi air tanah yang mencapai sumur. Pada tanah pasir, jamban dapat
ditempatkan pada jarak 7,5 m dari sumur apabila tidak ada kemungkinan untuk
menempatkannya pada jarak yang lebih jauh.

10

2. Pada tanah yang homogen, kemungkinan pencemaran air tanah sebenarnya nol
apabila dasar lubang jamban berjarak lebih dari 1,5 m di atas permukaan air tanah,
atau apabila dasar kolam pembuangan berjarak lebih dari 3 m di atas permukaan air
tanah.
3. Penyelidikan yang seksama harus dilakukan sebelum membuat jamban cubluk (pit
privy), kakus bor (bored-hole latrine), kolam pembuangan, dan sumur resapan di
daerah yang mengandung lapisan batu karang atau batu kapur. Hal ini dikarenakan
pencemaan dapat terjadi secara langsung melalui saluran dalam tanah tanpa filtrasi
alami ke sumur yang jauh atau sumber penyediaan air minum lainnya

Kriteria Jamban Sehat


Menurut WSP (2008) kriterian Jamban Sehat (improved latrine), merupakan fasilitas
pembuangan tinja yang memenuhi syarat :

Tidak mengkontaminasi badan air.

Menjaga agar tidak kontak antara manusia dan tinja.

Membuang tinja manusia yang aman sehingga tidak dihinggapi lalat atau serangga
vektor lainnya termasuk binatang.

Menjaga buangan tidak menimbulkan bau

Konstruksi dudukan jamban dibuat dengan baik dan aman bagi pengguna

Menurut kriterian Depkes RI (1985), syarat sebuah jamban keluarga dikatagorikan jamban
sehat, jika memenuhi persyaratan sebagai berikut :
1. Tidak mencemari sumber air minum, untuk itu letak lubang penampungan kotoran
paling sedikit berjarak 10 meter dari sumur (SPT SGL maupun jenis sumur lainnya).
Perkecualian jarak ini menjadi lebih jauh pada kondisi tanah liat atau berkapur yang
terkait dengan porositas tanah. Juga akan berbeda pada kondisi topografi yang
menjadikan posisi jamban diatas muka dan arah aliran air tanah.

11

2. Tidak berbau serta tidak memungkinkan serangga dapat masuk ke penampungan tinja.
Hal ini misalnya dapat dilakukan dengan menutup lubang jamban atau dengan sistem
leher angsa.
3. Air seni, air pembersih dan air penggelontor tidak mencemari tanah di sekitarnya. Hal
ini dapat dilakukan dengan membuat lantai jamban dengan luas minimal 1x1 meter,
dengan sudut kemiringan yang cukup kearah lubang jamban.
4. Mudah dibersihkan, aman digunakan, untuk itu harus dibuat dari bahan-bahan yang
kuat dan tahan lama dan agar tidak mahal hendaknya dipergunakan bahan-bahan yang
ada setempat;
5. Dilengkapi dinding dan atap pelindung, dinding kedap air dan berwarna terang;
6. Cukup penerangan;
7. Lantai kedap air;
8. Luas ruangan cukup, atau tidak terlalu rendah;
9. Ventilasi cukup baik, dan
10. Tersedia air dan alat pembersih.

SEPTIC TANK
Mekanisme Kerja Septic Tank
Septic tank terdiri dari tangki sedimentasi yang kedap air, sebagai tempat tinja dan air
buangan masuk dan mengalami dekomposisi. Di dalam tangki ini tinja akan berada selama
beberapa hari. Selama waktu tersebut tinja akan mengalami 2 proses (Notoatmodjo, 2003):
a. Proses kimiawi
Akibat penghancuran tinja akan direduksi dan sebagian besar (60-70%) zat-zat padat akan
mengendap di dalam tangki sebagai sludge. Zat-zat yang tidak dapat hancur bersama-sama
dengan lemak dan busa akan mengapung dan membentuk lapisan yang menutup permukaan
air dalam tangki tersebut. lapisan ini disebut scum yang berfungsi mempertahankan suasana
anaerob dari cairan di bawahnya, yang memungkinkan bakteri-bakteri anaerob dapat tumbuh
subur, yang akan berfungsi pada proses berikutnya.

12

b. Proses biologis
Dalam proses ini terjadi dekomposisi melalui aktivitas bakteri anaerob dan fakultatif anaerob
yang memakan zat-zat organik dalam sludge dan scum. Hasilnya, selain terbentuknya gas dan
zat cair lainnya, adalah juga pengurangan volume sludge, sehingga memungkinkan septic
tank tidak cepat penuh. Kemudian cairan enfluent sudah tidak mengandung bagian-bagian
tinja dan mempunyai BOD yang relatif rendah. Cairan enfluent ini akhirnya dialirkan keluar
melalui pipa dan masuk ke dalam tempat perembesan.
Desain Septic Tank
Secara teknis desain atau konstruksi utama septic tank sebagai berikut :
a. Pipa ventilasi. Pipa ventilasi secara fungsi dan teknis dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Mikroorganisme dapat terjamin kelangsungan hidupnya dengan adanya pipa ventilasi
ini, karena oksigen yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidupnya dapat masuk ke
dalam bak pembusuk, selain itu juga berguna untuk mengalirkan gas yang terjadi
karena adanya proses pembusukan. Untuk menghindari bau gas dari septick tank
maka sebaiknya pipa pelepas dipasang lebih tinggi agar bau gas dapat langsung
terlepas di udara bebas (Daryanto, 2005).
2. Panjang pipa ventilasi 2 meter dengan diameter pipa 175 mm dan pada lubang
hawanya diberi kawat kasa (Machfoedz, 2004).
b. Dinding septic tank:
1. Dinding septic tank dapat terbuat dari batu bata dengan plesteran semen
(Machfoedz,2004)
2. Dinding septic tank harus dibuat rapat air (Daryanto, 2005)
3. Pelapis septic tank terbuat dari papan yang kuat dengan tebal yang sama (Chandra,
2007).
c. Pipa penghubung:
1. Septic tank harus mempunyai pipa tempat masuk dan keluarnya air (Chandra, 2007).

13

2. Pipa penghubung terbuat dari pipa PVC dengan diameter 10 atau 15 cm (Daryanto,
2005)
d. Tutup septic tank:
1. Tepi atas dari tutup septic tank harus terletak paling sedikit 0,3 meter di bawah
permukaan tanah halaman, agar keadaan temperatur di dalam septic tank selalu hangat
dan

konstan

sehingga

kelangsungan

hidup

bakteri

dapat

lebih

terjamin

(Daryanto,2005).
2. Tutup septic tank harus terbuat dari beton (kedap air) (Machfoedz, 2004).

Gambar 4. Desain septic tank

Cara Memelihara Jamban Sehat


Lantai jamban selalu bersih dan tidak ada genangan air
Bersihkan jamban secara teratur sehingga ruang jamban dalam keadaan bersih
Di dalam jamban tidak ada kotoran yang terlihat
14

Tidak ada serangga (kecoa, lalat) dan tikus yang berkeliaran


Tersedia alat pembersih (sabun, sikat dan air bersih)
Bila ada kerusakan segera diperbaiki.

Persyaratan Pembuangan Tinja


Menurut Kumoro (1998), terdapat beberapa bagian sanitasi pembuangan tinja, antara lain :

Rumah Kakus: Berfungsi sebagai tempat berlindung dari lingkunagn sekitar, harus
memenuhi syarat ditinjau dari segi kenyamanan maupun estetika. Konstruksi disesuaikan
dengan keadaan tingkat ekonomi rumah tangga.
Lantai Kakus: Berfungsi sebagai sarana penahan atau tempat pemakai yang sifatnya harus
baik, kuat dan mudah dibersihkan serta tidak menyerap air. Konstruksinya juga disesuaikan
dengan bentuk rumah kakus.
Tempat Duduk Kakus: Fungsi tempat duduk kakus merupakan tempat penampungan tinja,
harus kuat, mudah dibersihkan, berbentuk leher angsa atau memakai tutup yang mudah
diangkat.

Kecukupan Air Bersih: Jamban hendaklah disiram minimal 4-5 gayung, bertujuan
menghindari penyebaran bau tinja dan menjaga kondisi jamban tetap bersih. Juga agar
menghindari kotoran tidak dihinggapi serangga sehingga dapat mencegah penularan penyakit.
Tersedia Alat Pembersih: Tujuan pemakaian alat pembersih, agar jamban tetap bersih setelah
jamban disiram air. Pembersihan dilakukan minimal 2-3 hari sekali meliputi kebersihan lantai
agar tidak berlumut dan licin. Sedangkan peralatan pembersih merupakan bahan yang ada di
rumah kakus didekat jamban.
Tempat Penampungan Tinja: Adalah rangkaian dari sarana pembuangan tinja yang
berfungsi sebagai tempat mengumpulkan kotoran/tinja. Konstruksi lubang harus kedap air
dapat terbuat dari pasangan batu bata dan semen, sehingga menghindari pencemaran
lingkungan.

15

Saluran Peresapan: Merupakan sarana terakhir dari suatu sistem pembuangan tinja yang
lengkap, berfungsi mengalirkan dan meresapkan cairan yang bercampur tinja.

2.3 Disentri
I. Definisi
Disentri berasal dari bahasa Yunani, yaitu dys (gangguan) dan enteron (usus),
yang berarti radang usus yang menimbulkan gejala meluas dengan gejala buang air
besar dengan tinja berdarah, diare encer dengan volume sedikit, buang air besar
dengan tinja bercampur lender (mucus) dan nyeri saat buang air besar (tenesmus).

Disentri merupakan peradangan pada usus besar yang ditandai dengan sakit
perut dan buang air besar yang encer secara terus menerus (diare) yang bercampur
lendir dan darah.
Disentri merupakan suatu infeksi yang menimbulkan luka yang menyebabkan
tukak terbatas di colon yang ditandai dengan gejala khas yang disebut sebagai
sindroma disentri, yakni: 1) sakit di perut yang sering disertai dengan tenesmus, 2)
berak-berak, dan 3) tinja mengandung darah dan lendir.
II. Epidemiologi
Di Amerika Serikat, insidensi penyakit ini rendah. Setiap tahunnya kurang dari
500.000 kasus yang dilaporkan ke Centers for Disease Control (CDC). Di Bagian
Penyakit Dalam RSUP Palembang selama 3 tahun (1990-1992) tercatat di catatan
medis, dari 748 kasus yang dirawat karena diare ada 16 kasus yang 3 disebabkan
oleh disentri basiler. Sedangkan hasil penelitian yang dilakukan di beberapa rumah
sakit di Indonesia dari Juni 1998 sampai dengan Nopember 1999, dari 3848 orang
penderita diare berat, ditemukan 5% shigella.

16

Prevalensi amebiasis sangat bervariasi, diperkirakan 10 persen populasi


terinfeksi. Prevalensi tertinggi di daerah tropis (50-80%). Manusia merupakan host
dan reservoir utama. Penularannya lewat kontaminasi tinja ke makanan dan
minuman, dengan perantara lalat, kecoak, kontak interpersonal, atau lewat
hubungan seksual anal-oral. Sanitasi lingkungan yang jelek, penduduk yang padat
dan kurangnya sanitasi individual mempermudah penularannya.
III. Etiologi
Etiologi dari disentri ada 2, yaitu Disentri basiler, disebabkan oleh Shigella,sp.
Shigella adalah basil non motil, gram negatif, family enterobacteriaceae. Ada 4
spesies Shigella, yaitu S.dysentriae, S.flexneri, S.bondii dan S.sonnei. Terdapat 43
serotipe O dari shigella. S.sonnei adalah satu-satunya yang mempunyai serotipe
tunggal. Karena kekebalan tubuh yang didapat bersifat serotipe spesifik, maka
seseorang dapat terinfeksi beberapa kali oleh tipe yang berbeda. Genus ini memiliki
kemampuan menginvasi sel epitel intestinal dan menyebabkan infeksi dalam jumlah
102-103 organisme. Penyakit ini kadang-kadang bersifat ringan dan kadang-kadang
berat. Suatu keadaan lingkungan yang jelek akan menyebabkan mudahnya
penularan penyakit. Secara klinis mempunyai tanda-tanda berupa diare, adanya
lendir dan darah dalam tinja, perut terasa sakit dan tenesmus.
Amoeba (Disentri amoeba), disebabkan Entamoeba hystolitica. E.histolytica
merupakan protozoa usus, sering hidup sebagai mikroorganisme komensal
(apatogen) di usus besar manusia. Apabila kondisi mengijinkan dapat berubah
menjadi patogen dengan cara membentuk koloni di dinding usus dan menembus
dinding usus sehingga menimbulkan ulserasi. Siklus hidup amoeba ada 2 bentuk,
yaitu bentuk trofozoit yang dapat bergerak dan bentuk kista.

17

Bentuk trofozoit ada 2 macam, yaitu trofozoit komensal (berukuran < 10 mm)
dan trofozoit patogen (berukuran > 10 mm). Trofozoit komensal
dapat dijumpai di lumen usus tanpa menyebabkan gejala penyakit. Bila pasien
mengalami diare, maka trofozoit akan keluar bersama tinja. Sementara trofozoit
patogen yang dapat dijumpai di lumen dan dinding usus (intraintestinal) maupun luar
usus (ekstraintestinal) dapat mengakibatkan gejala disentri. Diameternya lebih besar
dari trofozoit komensal (dapat sampai 50 mm) dan mengandung beberapa eritrosit di
dalamnya.

Hal ini

dikarenakan

trofozoit patogen

sering menelan

eritrosit

(haematophagous trophozoite). Bentuk trofozoit ini bertanggung jawab terhadap


terjadinya gejala penyakit namun cepat mati apabila berada di luar tubuh manusia.
Bentuk kista juga ada 2 macam, yaitu kista muda dan kista dewasa. Bentuk
kista hanya dijumpai di lumen usus. Bentuk kista bertanggung jawab terhadap
terjadinya penularan penyakit dan dapat hidup lama di luar tubuh manusia serta
tahan terhadap asam lambung dan kadar klor standard di dalam sistem air minum.
Diduga kekeringan akibat penyerapan air di sepanjang usus besar menyebabkan
trofozoit berubah menjadi kista.
IV. Patogenesis dan Patofisiologi
a. Disentri basiler
Semua strain kuman Shigella menyebabkan disentri, yaitu suatu keadaan
yang ditandai dengan diare, dengan konsistensi tinja biasanya lunak, disertai
eksudat inflamasi yang mengandung leukosit polymorfonuclear (PMN) dan darah.
Kuman Shigella secara genetik bertahan terhadap pH yang rendah, maka dapat
melewati barrier asam lambung. Ditularkan secara oral melalui air, makanan, dan
lalat yang tercemar oleh ekskreta pasien. Setelah melewati lambung dan usus halus,
kuman ini menginvasi sel epitel mukosa kolon dan berkembang biak didalamnya.

18

Kolon merupakan tempat utama yang diserang Shigella namun ileum


terminalis dapat juga terserang. Kelainan yang terberat biasanya di daerah sigmoid,
sedang pada ilium hanya hiperemik saja. Pada keadaan akut dan fatal ditemukan
mukosa usus hiperemik, lebam dan tebal, nekrosis superfisial, tapi biasanya tanpa
ulkus. Pada keadaan subakut terbentuk ulkus pada daerah folikel limfoid, dan pada
selaput lendir lipatan transversum didapatkan ulkus yang dangkal dan kecil, tepi
ulkus menebal dan infiltrat tetapi tidak berbentuk ulkus bergaung.
S.dysentriae, S.flexeneri, dan S.sonei menghasilkan eksotoksin antara lain
ShET1, ShET2, dan toksin Shiga, yang mempunyai sifat enterotoksik, sitotoksik, dan
neurotoksik. Enterotoksin tersebut merupakan salah satu faktor virulen sehingga
kuman lebih mampu menginvasi sel eptitel mukosa kolon dan menyebabkan
kelainan pada selaput lendir yang mempunyai warna hijau yang khas. Pada infeksi
yang menahun akan terbentuk selaput yang tebalnya sampai 1,5 cm sehingga
dinding usus menjadi kaku, tidak rata dan lumen usus mengecil. Dapat terjadi
perlekatan dengan peritoneum.
b. Disentri Amuba
Trofozoit yang mula-mula hidup sebagai komensal di lumen usus besar dapat
berubah

menjadi patogen

sehingga

dapat menembus mukosa

usus dan

menimbulkan ulkus. Akan tetapi faktor yang menyebabkan perubahan ini sampai
saat ini belum diketahui secara pasti. Diduga baik faktor kerentanan tubuh pasien,
sifat keganasan (virulensi) amoeba, maupun lingkungannya mempunyai peran.
Amoeba yang ganas dapat memproduksi enzim fosfoglukomutase dan lisozim yang
dapat mengakibatkan kerusakan dan nekrosis jaringan dinding usus. Bentuk ulkus
amoeba sangat khas yaitu di lapisan mukosa berbentuk kecil, tetapi di lapisan
submukosa dan muskularis melebar (menggaung). Akibatnya terjadi ulkus di

19

permukaan mukosa usus menonjol dan hanya terjadi reaksi radang yang minimal.
Mukosa usus antara ulkus-ulkus tampak normal. Ulkus dapat terjadi di semua
bagian usus besar, tetapi berdasarkan frekuensi dan urut-urutan tempatnya adalah
sekum, kolon asenden, rektum, sigmoid, apendiks dan ileum terminalis.
V. Gejala Klinis
a. Disentri Basiler
Masa tunas berkisar antara 7 jam sampai 7 hari. Lama gejala rerata 7 hari
sampai 4 minggu. Pada fase awal pasien mengeluh nyeri perut bawah, diare disertai
demam yang mencapai 400C. Selanjutnya diare berkurang tetapi tinja masih
mengandung darah dan lendir, tenesmus, dan nafsu makan menurun. Bentuk klinis
dapat bermacam-macam dari yang ringan, sedang sampai yang berat. Sakit perut
terutama di bagian sebelah kiri, terasa melilit diikuti pengeluaran tinja sehingga
mengakibatkan perut menjadi cekung. Bentuk yang berat (fulminating cases)
biasanya disebabkan oleh S. dysentriae. Gejalanya timbul mendadak dan berat,
berjangkitnya cepat, berak-berak seperti air dengan lendir dan darah, muntahmuntah, suhu badan subnormal, cepat terjadi dehidrasi, renjatan septik dan dapat
meninggal bila tidak cepat ditolong. Akibatnya timbul rasa haus, kulit kering dan
dingin, turgor kulit berkurang karena dehidrasi. Muka menjadi berwarna kebiruan,
ekstremitas dingin dan viskositas darah meningkat (hemokonsentrasi). Kadangkadang gejalanya tidak khas, dapat berupa seperti gejala kolera atau keracunan
makanan. Kematian biasanya terjadi karena gangguan sirkulasi perifer, anuria dan
koma uremik. Angka kematian bergantung pada keadaan dan tindakan pengobatan.
Angka ini bertambah pada keadaan malnutrisi dan keadaan darurat misalnya
kelaparan. Perkembangan penyakit ini selanjutnya dapat membaik secara perlahanlahan tetapi memerlukan waktu penyembuhan yang lama. Pada kasus yang sedang

20

keluhan dan gejalanya bervariasi, tinja biasanya lebih berbentuk, mungkin dapat
mengandung

sedikit

darah/lendir.

Sedangkan

pada

kasus

yang

ringan,

keluhan/gejala tersebut di atas lebih ringan. Berbeda dengan kasus yang menahun,
terdapat serangan seperti kasus akut secara menahun. Kejadian ini jarang sekali
bila mendapat pengobatan yang baik.
b. Disentri Amuba
Carrier (Cyst Passer)
Pasien ini tidak menunjukkan gejala klinis sama sekali. Hal ini disebabkan
karena amoeba yang berada dalam lumen usus besar tidak mengadakan invasi ke
dinding usus.
Disentri amoeba ringan
Timbulnya penyakit (onset penyakit) perlahan-lahan. Penderita biasanya
mengeluh perut kembung, kadang nyeri perut ringan yang bersifat kejang. Dapat
timbul diare ringan, 4-5 kali sehari, dengan tinja berbau busuk. Kadang juga tinja
bercampur darah dan lendir. Terdapat sedikit nyeri tekan di daerah sigmoid, jarang
nyeri di daerah epigastrium. Keadaan tersebut bergantung pada lokasi ulkusnya.
Keadaan umum pasien biasanya baik, tanpa atau sedikit demam ringan (subfebris).
Kadang dijumpai hepatomegali yang tidak atau sedikit nyeri tekan.
Disentri amoeba sedang
Keluhan pasien dan gejala klinis lebih berta dibanding disentri ringan, tetapi
pasien masih mampu melakukan aktivitas sehari-hari. Tinja biasanya disertai lendir
dan darah. Pasien mengeluh perut kram, demam dan lemah badan disertai
hepatomegali yang nyeri ringan.
Disentri amoeba berat

21

Keluhan dan gejala klinis lebih berta lagi. Penderita mengalami diare disertai
darah yang banyak, lebih dari 15 kali sehari. Demam tinggi (40 0C-40,50C) disertai
mual dan anemia.
Disentri amoeba kronik
Gejalanya menyerupai disentri amoeba ringan, serangan-serangan diare
diselingi dengan periode normal atau tanpa gejala. Keadaan ini dapat berjalan
berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Pasien biasanya menunjukkan gejala
neurastenia. Serangan diare yang terjadi biasanya dikarenakan kelelahan, demam
atau makanan yang sulit dicerna.

VI. Pemeriksaan Penunjang


Disentri amoeba
Pemeriksaan tinja
Pemeriksaan tinja ini merupakan pemeriksaan laboratorium yang sangat
penting. Biasanya tinja berbau busuk, bercampur darah dan lendir. Untuk
pemeriksaan

mikroskopik

diperlukan

tinja

yang

segar.

Kadang

diperlukan

pemeriksaan berulang-ulang, minimal 3 kali seminggu dan sebaiknya dilakukan


sebelum pasien mendapat pengobatan. Pada pemeriksaan tinja yang berbentuk
(pasien tidak diare), perlu dicari bentuk kista karena bentuk trofozoit tidak akan
dapat ditemukan. Dengan sediaan langsung tampak kista berbentuk bulat dan
berkilau seperti mutiara. Di dalamnya terdapat badan-badan kromatoid yang
berbentuk batang dengan ujung tumpul, sedangkan inti tidak tampak. Untuk dapat
melihat intinya, dapat digunakan larutan lugol. Akan tetapi dengan larutan lugol ini

22

badan-badan kromatoid tidak tampak. Bila jumlah kista sedikit, dapat dilakukan
pemeriksaan menggunakan metode konsentrasi dengan larutan seng sulfat dan
eterformalin. Dengan larutan seng sulfat kista akan terapung di permukaan
sedangkan dengan larutan eterformalin kista akan mengendap. Dalam tinja pasien
juga dapat ditemukan trofozoit. Untuk itu diperlukan tinja yang masih segar dan
sebaiknya diambil bahan dari bagian tinja yang mengandung darah dan lendir. Pada
sediaan langsung dapat dilihat trofozoit yang masih bergerak aktif seperti keong
dengan menggunakan pseudopodinya yang seperti kaca. Jika tinja berdarah, akan
tampak amoeba dengan eritrosit di dalamnya. Bentik inti akan nampak jelas bila
dibuat sediaan dengan larutan eosin.
Pemeriksaan sigmoidoskopi dan kolonoskopi
Pemeriksaan ini berguna untuk membantu diagnosis penderita dengan gejala
disentri, terutama apabila pada pemeriksaan tinja tidak ditemukan amoeba. Akan
tetapi pemeriksaan ini tidak berguna untuk carrier. Pada pemeriksaan ini akan
didapatkan ulkus yang khas dengan tepi menonjol, tertutup eksudat kekuningan,
mukosa usus antara ulkus-ulkus tampak normal.
Foto rontgen kolon
Pemeriksaan rontgen kolon tidak banyak membantu karena seringkali ulkus
tidak tampak. Kadang pada kasus amoebiasis kronis, foto rontgen kolon dengan
barium enema tampak ulkus disertai spasme otot. Pada ameboma Nampak filling
defect yang mirip karsinoma.
Pemeriksaan uji serologi
Uji serologi banyak digunakan sebagai uji bantu diagnosis abses hati amebik
dan epidemiologis. Uji serologis positif bila amoeba menembus jaringan (invasif).
Oleh karena itu uji ini akan positif pada pasien abses hati dan disentri amoeba dan

23

negatif pada carrier. Hasil uji serologis positif belum tentu menderita amebiasis aktif,
tetapi bila negatif pasti bukan amebiasis.
Disentri basiler
Pemeriksaan tinja. Pemeriksaan tinja secara langsung terhadap kuman
penyebab serta biakan hapusan (rectal swab). Untuk menemukan carrier diperlukan
pemeriksaan biakan tinja yang seksama dan teliti karena basil shigela mudah mati .
Untuk itu diperlukan tinja yang baru. Polymerase Chain Reaction (PCR).
Pemeriksaan ini spesifik dan sensitif, tetapi belum dipakai secara luas. Enzim
immunoassay. Hal ini dapat mendeteksi toksin di tinja pada sebagian besar
penderita yang terinfeksi S.dysentriae tipe 1 atau toksin yang dihasilkan E.coli.
Sigmoidoskopi. Sebelum pemeriksaan sitologi ini, dilakukan pengerokan daerah
sigmoid. Pemeriksaan ini biasanya dilakukan pada stadium lanjut. Aglutinasi. Hal ini
terjadi karena aglutinin terbentuk pada hari kedua, maksimum pada hari keenam.
Pada S.dysentriae aglutinasi dinyatakan positif pada pengenceran 1/50 dan pada
S.flexneri aglutinasi antibody sangat kompleks, dan oleh karena adanya banyak
strain maka jarang dipakai. Gambaran endoskopi memperlihatkan mukosa
hemoragik yang terlepas dan ulserasi. Kadang-kadang tertutup dengan eksudat.
Sebagian besar lesi berada di bagian distal kolon dan secara progresif berkurang di
segmen proksimal usus besar.
VII. Diagnosis Banding
Diagnosis banding untuk diare darah adalah :
Disentri amuba
Timbulnya penyakit biasanya perlahan-lahan, diare awal tidak ada/jarang.
Toksemia ringan dapat terjadi, tenesmus jarang dan sakit berbatas. Tinja biasanya
besar, terus menerus, asam, berdarah, bila berbentuk biasanya tercampur lendir.

24

Lokasi tersering daerah sekum dan kolon asendens, jarang mengenai ileum. Ulkus
yang ditimbulkan dengan gaung yang khas seperti botol. Disentri basiler Penyakit ini
biasanya timbul secara akut, sering disertai adanya toksemia, tenesmus akan tetapi
sakit biasanya sifatnya umum. Tinja biasanya kecil-kecil, banyak, tak berbau, alkalis,
berlendir, nanah dan berdarah, bila tinja berbentuk dilapisi lendir. Daerah yang
terserang biasanya sigmoid dan dapat juga menyerang ileum. Biasanya daerah yang
terserang akan mengalami hiperemia superfisial ulseratif dan selaput lendir akan
menebal. Eschericiae coli
Escherichia coli Enteroinvasive (EIEC)
Patogenesisnya seperti Shigelosis yaitu melekat dan menginvasi epitel usus
sehingga menyebabkan kematian seldan respon radang cepat (secara klinis dikenal
sebagai kolitis). Serogroup ini menyebabkan lesi seperti disentri basiller, ulserasi
atau perdarahan dan infiltrasi leukosit polimorfonuklear dengan khas edem mukosa
dan submukosa. Manifestasi klinis berupa demam, toksisitas sistemik, nyeri kejang
abdomen, tenesmus, dan diare cair atau darah. Escherichia coli Enterohemoragik
(EHEC) Manifestasi klinis dari EHEC dapat menyebabkan penyakit diare sendiri atau
dengan nyeri abdomen. Diare pada mulanya cair tapi beberapa hari menjadi
berdarah (colitis hemoragik). Meskipun gambarannya sama dengan Shigelosis yang
membedakan adalah terjadinya demam yang merupakan manifestasi yang tidak
lazim. Beberapa infeksi disertai dengan sindrom hemolitik uremik.
VIII. Diagnosis
Disentri basiler
Perlu dicurigai adanya Shigellosis pada pasien yang datang dengan keluhan
nyeri abdomen bawah, dan diare. Pemeriksaan mikroskopik tinja menunjukkan
adanya eritrosit dan leukosit PMN. Untuk memastikan diagnosis dilakukan kultur dari

25

bahan tinja segar atau hapus rektal. Pada fase akut infeksi Shigella, tes serologi tidak
bermanfaat. Pada disentri subakut gejala klinisnya serupa dengan colitis ulserosa.
Perbedaan utama adalah kultur Shigella yang positif dan perbaikan klinis yang
bermakna setelah pengobatan dengan antibiotic yang adekuat.
Disentri amuba
Pemeriksaan tinja sangat penting di mana tinja penderita amebiasis tidak
banyak mengandung leukosit tetapi banyak mengandung bakteri. Diagnosis pasti
baru dapat ditegakkan bila ditemukan amoeba (trofozoit). Akan tetapi ditemukannya
amoeba bukan berarti meyingkirkan kemungkinan penyakit lain karena amebiasis
dapat terjadi bersamaan dengan penyakit lain. Oleh karena itu, apabila penderita
amebiasis yang telah menjalani pengobatan spesifik masih tetap mengeluh nyeri
perut, perlu dilakukan pemeriksaan lain, misalnya endoskopi, foto kolon dengan
barium enema atau biakan tinja. Abses hati ameba sukar dibedakan dengan abses
piogenik dan neoplasma. Pemeriksaan ultrasonografi dapat membedakannya
dengan neoplasma, sedang ditemukannya echinococcus dapat membedakannya
dengan abses piogenik. Salah satu caranya yaitu dengan dilakukannya pungsi
abses.

IX. Komplikasi
Disentri amoeba
Beberapa penyulit dapat terjadi pada disentri amoeba, baik berat maupun
ringan. Berdasarkan lokasinya, komplikasi tersebut dapat dibagi menjadi :
X. Komplikasi intestinal
Perdarahan usus.

26

Terjadi apabila amoeba mengadakan invasi ke dinding usus besar

dan

merusak pembuluh darah.


Perforasi usus.
Hal ini dapat terjadi bila abses menembus lapisan muscular dinding usus
besar. Sering mengakibatkan peritonitis yang mortalitasnya tinggi. Peritonitis juga
dapat disebabkan akibat pecahnya abses hati amoeba.
Ameboma.
Peristiwa ini terjadi akibat infeksi kronis yang mengakibatkan reaksi
terbentuknya massa jaringan granulasi. Biasanya terjadi di daerah sekum dan
rektosigmoid. Sering mengakibatkan ileus obstruktif atau penyempitan usus.
Intususepsi. Sering terjadi di daerah sekum (caeca-colic) yang memerlukan tindakan
operasi segera. Penyempitan usus (striktura). Dapat terjadi pada disentri kronik akibat
terbentuknya jaringan ikat atau akibat ameboma.
XI. Komplikasi ekstraintestinal
Amebiasis hati.
Abses hati merupakan komplikasi ekstraintestinal yang paling sering terjadi.
Abses dapat timbul dari beberapa minggu, bulan atau tahun sesudah infeksi amoeba
sebelumnya. Infeksi di hati terjadi akibat embolisasi ameba dan dinding usus besar
lewat vena porta, jarang lewat pembuluh getah bening. Mula-mula terjadi hepatitis
ameba yang merupakan stadium dini abses hati kemudian timbul nekrosis fokal
kecil-kecil (mikro abses), yang akan bergabung menjadi satu, membentuk abses
tunggal yang besar. Sesuai dengan aliran darah vena porta, maka abses hati ameba
terutama banyak terdapat di lobus kanan. Abses berisi nanah kental yang steril,
tidak berbau, berwarna kecoklatan (chocolate paste) yang terdiri atas jaringan sel

27

hati yang rusak bercampur darah. Kadang-kadang dapat berwarna kuning kehijauan
karena bercampur dengan cairan empedu.
Abses pleuropulmonal.
Abses ini dapat terjadi akibat ekspansi langsung abses hati. Kurang lebih 1020% abses hati ameba dapat mengakibatkan penyulit ini. Abses paru juga dapat
terjadi akibat embolisasi ameba langsung dari dinding usus besar. Dapat pula terjadi
hiliran (fistel) hepatobronkhial sehingga penderita batukbatuk dengan sputum
berwarna kecoklatan yang rasanya seperti hati. Abses otak, limpa dan organ lain.
Keadaan ini dapat terjadi akibat embolisasi ameba langsung dari dinding usus besar
maupun dari abses hati walaupun sangat jarang terjadi.
Amebiasis kulit.
Terjadi akibat invasi ameba langsung dari dinding usus besar dengan
membentuk hiliran (fistel). Sering terjadi di daerah perianal atau dinding perut. Dapat
pula terjadi di daerah vulvovaginal akibat invasi ameba yang berasal dari anus.
Disentri basiler
Beberapa komplikasi ekstra intestinal disentri basiler terjadi pada pasien yang
berada di negara yang masih berkembang dan seringnya kejadian ini dihubungkan
dengan infeksi S.dysentriae tipe 1 dan S.flexneri pada pasien dengan status gizi
uruk. Komplikasi lain akibat infeksi S.dysentriae tipe 1 adalah haemolytic uremic
syndrome (HUS). SHU diduga akibat adanya penyerapan enterotoksin yang
diproduksi oleh Shigella. Biasanya HUS ini timbul pada akhir minggu pertama disentri
basiler, yaitu pada saat disentri basiler mulai membaik. Tanda-tanda HUS dapat
berupa oliguria, penurunan hematokrit (sampai 10% dalam 24 jam) dan secara
progresif timbul anuria dan gagal ginjal atau anemia berat dengan gagal jantung.
Dapat pula terjadi reaksi leukemoid (leukosit lebih dari 50.000/mikro liter),

28

trombositopenia (30.000-100.000/mikro liter), hiponatremia, hipoglikemia berat


bahkan gejala susunan saraf pusat seperti ensefalopati, perubahan kesadaran dan
sikap yang aneh. Artritis juga dapat terjadi akibat infeksi S.flexneri yang biasanya
muncul pada masa penyembuhan dan mengenai sendi-sendi besar terutama lutut.
Hal ini dapat terjadi pada kasus yang ringan dimana cairan sinovial sendi
mengandung leukosit polimorfonuklear. Penyembuhan dapat sempurna, akan tetapi
keluhan artsitis dapat berlangsung selama berbulan-bulan. Bersamaan dengan
artritis dapat pula terjadi iritis atau iridosiklitis. Sedangkan stenosis terjadi bila ulkus
sirkular pada usus menyembuh, bahkan dapat pula terjadi obstruksi usus, walaupun
hal ini jarang terjadi. Neuritis perifer dapat terjadi setelah serangan S.dysentriae
yang toksik namun hal ini jarang sekali terjadi. Komplikasi intestinal seperti toksik
megakolon, prolaps rectal dan perforasi juga dapat muncul. Akan tetapi peritonitis
karena perforasi jarang terjadi. Kalaupun terjadi biasanya pada stadium akhir atau
setelah serangan berat. Peritonitis dengan perlekatan yang terbatas mungkin pula
terjadi pada beberapa tempat yang mempunyai angka kematian tinggi. Komplikasi
lain yang dapat timbul adalah bisul dan hemoroid.
XII. Pengobatan
Disentri basiler
Prinsip dalam melakukan tindakan pengobatan adalah istirahat, mencegah
atau memperbaiki dehidrasi dan pada kasus yang berat diberikan antibiotika. Cairan
dan elektrolit Dehidrasi ringan sampai sedang dapat dikoreksi dengan cairan
rehidrasi oral. Jika frekuensi buang air besar terlalu sering, dehidrasi akan terjadi
dan berat badan penderita turun. Dalam keadaan ini perlu diberikan cairan melalui
infus untuk menggantikan cairan yang hilang. Akan tetapi jika penderita tidak
muntah, cairan dapat diberikan melalui minuman atau pemberian air kaldu atau

29

oralit. Bila penderita berangsur sembuh, susu tanpa gula mulai dapat diberikan. Diet
Diberikan makanan lunak sampai frekuensi berak kurang dari 5 kali/hari, kemudian
diberikan makanan ringan biasa bila ada kemajuan. Pengobatan spesifik Menurut
pedoman WHO, bila telah terdiagnosis shigelosis pasien diobati dengan antibiotika.
Jika setelah 2 hari pengobatan menunjukkan perbaikan, terapi diteruskan selama 5
hari. Bila tidak ada perbaikan, antibiotika diganti dengan jenis yang lain. Resistensi
terhadap sulfonamid, streptomisin, kloramfenikol dan tetrasiklin hampir universal
terjadi. Kuman Shigella biasanya resisten terhadap ampisilin, namun apabila
ternyata dalam uji resistensi kuman terhadap ampisilin masih peka, maka masih
dapat digunakan dengan dosis 4 x 500 mg/hari selama 5 hari. Begitu pula dengan
trimetoprimsulfametoksazol, dosis yang diberikan 2 x 960 mg/hari selama 3-5 hari.
Amoksisilin tidak dianjurkan dalam pengobatan disentri basiler karena tidak efektif.
Pemakaian

jangka

pendek

dengan

dosis

tunggal

fluorokuinolon

seperti

siprofloksasin atau makrolide azithromisin ternyata berhasil baik untuk pengobatan


disentri basiler. Dosis siprofloksasin yang dipakai adalah 2 x 500 mg/hari selama 3
hari sedangkan azithromisin diberikan 1 gram dosis tunggal dan sefiksim 400
mg/hari selama 5 hari. Pemberian siprofloksasin merupakan kontraindikasi terhadap
anak-anak dan wanita hamil. Di negara-negara berkembang di mana terdapat
kuman S.dysentriae tipe 1 yang multiresisten terhadap obat-obat, diberikan asam
nalidiksik dengan dosis 3 x 1 gram/hari selama 5 hari. Tidak ada antibiotika yang
dianjurkan dalam pengobatan stadium carrier disentri basiler.
Disentri amuba
Asimtomatik atau carrier : Iodoquinol (diidohydroxiquin) 650 mg tiga kali perhari
selama 20 hari. Amebiasis intestinal ringan atau sedang : tetrasiklin 500 mg empat
kali selama 5 hari. Amebiasis intestinal berat, menggunakan 3 obat : Metronidazol

30

750 mg tiga kali sehari selama 5-10 hari, tetrasiklin 500 mg empat kali selama 5 hari,
dan emetin 1 mg/kgBB/hari/IM selama 10 hari. Amebiasis ektraintestinal,
menggunakan 3 obat : Metonidazol 750 mg tiga kali sehari selama 5-10 hari,
kloroquin fosfat 1 gram perhari selama 2 hari dilanjutkan 500 mg/hari selama 4
minggu, dan emetin 1 mg/kgBB/hari/IM selama 10 hari.
XIII. Prognosis
Prognosis

ditentukan

dari

berat

ringannya

penyakit,

diagnosis

dan

pengobatan dini yang tepat serta kepekaan ameba terhadap obat yang diberikan.
Pada umumnya prognosis amebiasis adalah baik terutama pada kasus tanpa
komplikasi. Prognosis yang kurang baik adalah abses otak ameba. Pada bentuk
yang berat, angka kematian tinggi kecuali bila mendapatkan pengobatan dini. Tetapi
pada bentuk yang sedang, biasanya angka kematian rendah; bentuk dysentriae
biasanya berat dan masa penyembuhan lama meskipun dalam bentuk yang ringan.
Bentuk flexneri mempunyai angka kematian yang rendah.
XIV. Pencegahan
Disentri amoeba
Makanan, minuman dan keadaan lingkungan hidup yang memenuhi syarat
kesehatan merupakan sarana pencegahan penyakit yang sangat penting. Air minum
sebaiknya dimasak dahulu karena kista akan binasa bila air dipanaskan 50 0C
selama 5 menit. Penting sekali adanya jamban keluarga, isolasi dan pengobatan
carrier. Carrier dilarang bekerja sebagai juru masak atau segala pekerjaan yang
berhubungan dengan makanan. Sampai saat ini belum ada vaksin khusus untuk
pencegahan. Pemberian kemoprofilaksis bagi wisatawan yang akan mengunjungi
daerah endemis tidak dianjurkan.
Disentri basiler

31

Belum ada rekomendasi pemakaian vaksin untuk Shigella. Penularan disentri


basiler dapat dicegah dan dikurangi dengan kondisi lingkungan dan diri yang bersih
seperti membersihkan tangan dengan sabun, suplai air yang tidak terkontaminasi,
penggunaan jamban yang bersih.

2.4 Ilustrasi Kasus


Data Administrasi Pasien
a. Nama / Umur

: Ny.S / 31 tahun

b. Status kepegawaian : c. Status sosial

: Menengah ke bawah

Data Demografis
a. Alamat

: Purwodadi

b. Agama

: Islam

c. Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

d. Bahasa Ibu

: Indonesia

e. Jenis Kelamin

: Perempuan

f .Kondisi rumah

- Rumah semi- permanen, 2 kamar tidur, 1 kamar mandi, lantai rumah dari
semen, ventilasi udara dan sirkulasi udara kurang, pencahayaan kurang,
pekarangan sempit
- WC dalam rumah, jarak septic tank ke sumur kurang dari 10 meter
- Listrik ada
- Sumber air : air sumur untuk mencuci, mandi dan masak, dan

minum

Data Biologik
a. Tinggi Badan

: 157 cm

b. Berat Badan

: 58 kg

c. Habitus

: pasien tidak merokok, makan kurang, kebiasaan mencuci

tangan dengan sabun dan air mengalir kurang


Data Klinis
a. Anamnesis

Keluhan Utama : berak-berak encer sejak 1 hari yang lalu

32

Riwayat Penyakit Sekarang :


-

Berak-berak encer 1 hari yang lalu, frekuensi lebih dari 10x/hari, terakhir
tadi pagi 5x, awalnya hanya berak-berak encer kemudian bercampur lendir
dan berdarah, bau amis.

Demam sejak 1 hari yang lalu, tidak menggigil, kejang tidak ada.

Mual ada, muntah ada 2 kali

Nyeri perut ada, terasa melilit, setiap nyeri perut muncul rasa ingin
mengedan

Badan terasa lemas ada, rasa haus ada, ujung-ujung jari terasa dingin ada,
kebiruan tidak ada

Sesak nafas tidak ada

Buang air kecil tidak ada kelainan.

Riwayat mengkonsumsi makanan yang kemungkinan tidak higienis ada,


dimana pasien mengkonsumsi lotek yang dibeli di warung 2 hari yang lalu.

Riwayat Penyakit Dahulu :


Tidak pernah menderita gejala penyakit yang sama sebelumnya

Riwayat Penyakit Keluarga :


Tidak ada anggota keluarga yang menderita gejala penyakit yang sama

b. Pemeriksaan Jasmani
Tanda Vital :
- Keadaan umum : tampak sakit sedang
- Kesadaran

: compos mentis cooperative

- TD

: 100/60 mmHg

- Nadi

: 91 x/menit

- Nafas

: 22 x/menit

- Suhu

: subfebris

Status Generalisata :
- Mata

: Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, mata cekung (-

)
- Leher

: JVP 5 2 cmH2O, kelenjer tiroid tidak membesar

- Thorax

: Jantung dan Paru dalam batas normal

- Abdomen

: BU + meningkat, turgor normal

- Genitalia

: dalam batas normal


33

- Ekstremitas

: akral dingin (-) , edema -/- , reflek fisiologis ++/++ , reflek

patologis -/-

Skor Daldiyono
Haus/Muntah

(1)

TD Sistolik 60-90 mmHg

(-)

TD Diastolik <60

(-)

Frekuensi Nadi >120x

(-)

Kesadaran Apatis

(-)

Somnolen/sopor/koma

(-)

Frekuensi nafas >30x/menit

(-)

Facies Cholerica

(-)

Vox Cholerica

(-)

Turgor kulit menurun

(-)

"Washer Woman Hand"

(-)

Ekstremitas dingin

(-)

Sianosis

(-)

Umur 50-60 tahun

(-)

Umur >60 tahun

(-)

Defisit cairan = 1/15x58kgx100cc = 390cc

Pemeriksaan Penunjang
Tidak dilakukan
Anjuran Pemeriksaan Penunjang :
-

Laboratorium darah rutin

Pemeriksaan Tinja Makroskopis dan Mikroskopis

Kultur tinja

Diagnosis
Disentri basiler
DD/ Disentri Amuba

34

BAB III
Perencanaan dan Intervensi Masalah
3.1 Perencanaan
Perencanaan intervensi dilakukan dengan metode penyuluhan perorangan dibalai
pengobatan dengan sasaran utama pasien itu sendiri dan keluarganya

3.2 Intervensi
Menjelaskan tentang kemungkinan penyebab penyakit dan akibat yang dapat
ditimbulkannya
- Memberikan terapi pengobatan yang sesuai berdasarkan terapi empirik

35

BAB IV
Pelaksanaan Intervensi

4.1 Upaya Promotif


- Memberikan informasi mengenai PHBS
- Memberikan informasi mengenai penyebab penyakit, pencegahan dan komplikasi
yang bisa terjadi
4.2 Upaya Preventif
- Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum dan sesudah makan, setelah
BAK dan BAB serta setelah beraktivitas
- Mencuci bahan makanan dengan air bersih dan memasak hingga matang
- Menutup makanan yang tersaji agar tidak dihinggapi lalat
- Membangun jamban sehat
- Mengkonsumsi air minum yang bersih dan sehat
4.3 Upaya Kuratif
- Oralit sebagai pengganti cairan yang hilang. Untuk terapi inisial sebanyak 775 cc,
setelah itu dilanjutkan dengan 250cc tiap BAB encer
- PCT 3x500 mg
- Kotrimoxazol 2x960 mg
- Loperamid 2-1-1
- B6 3x1 tablet
4.4 Upaya Rehabilitatif
-

Kontrol diare, jika diare semakin sering atau disertai tanda dehidrasi berat

(penurunan kesadaran/letargi, tidak mau minum, turgor kembali lambat, mata cekung, sesak
nafas, ujung-ujung jari dingin dan biru) segera bawa ke IGD RS.

36

BAB V
Monitoring dan Evaluasi
-

Monitoring dan evaluasi keadaan pasien dilakukan dengan mengikutsertakan peran


keluarga dan jika ditemukan gejala-gejala yang menyebabkan kondisi pasien makin
menurun, maka secepatnya dibawa ke pelayanan kesehatan terdekat

Untuk evaluasi terapi kuratif, pasien dianjurkan untuk datang 3 hari lagi untuk
memeriksakan kesehatannya agar dapat diberikan pengobatan sampai tuntas

Penerapan PHBS oleh keluarga pasien dan pasien sendiri sebaiknya juga dievaluasi
dengan mengadakan kunjungan rumah untuk menilai kesehatan lingkungan tempat
tinggal pasien

37

DAFTAR PUSTAKA
1. Anonim, 2008, Emergence of Resistant Shigella dysentriae in the IDP camps,
http://www.who.int/disasters/repo/5830.doc, diakses tanggal 20 Desember 2013
2. Anonim,

2008,

Shigellosis,

http://fkuii.org/tiki-

download_wiki_attachment.php?attId=971&page=Haji%20Dadang%20Erianto,
diakses tanggal 20 Desember 2013
3. Anonim, 2008, Shigella dysentriae, http://en.wikipedia.org/wiki/Shigella_dysenteriae,
diakses tanggal 20 Desember 2013
4. Ayuw, 2006, Shigellosis, http://fkuii.org/tiki-index.php?page=Shigellosis9, diakses
tanggal 20 Desember 2013
5. Hiswani, 2003, Diare Merupakan Salah Satu Masalah Kesehatan Masyarakat yang
Kejadiannya

Sangat

Erat

dengan

Keadaan

Sanitasi

Lingkungan,

http://library.usu.ac.id/download/fkm/fkm-hiswani7.pdf, diakses tanggal 20 Desember


2013
6. Simanjuntak, C.H., Epidemiologi Disentri,
http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/08_EpidemiologiDisentri.pdf/08_Epidemiologi
Disentri.html, diakses tanggal 20 Desember 2013
7. Jawetz, E., 1995, Mikrobiologi untuk Profesi Kesehatan, edisi 16, 303-306, EGC,
Jakarta
8. Sudoyo, Aru. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi V. interna Publishing.
Jakarta: 2009.
9. Sulaiman , H. Ali dkk, GASTROENTEROLOGI HEPATOLOGI, C.V Infomedika,
Jakarta

38

39