Anda di halaman 1dari 25

Telaah Staff

Penekanan Losses Dengan Pemerataan Beban pada


trafo distribusi
Studi Kasus UPJ Benjeng Area Pelayanan Dan Jaringan
Gresik
(okahadisasmita@pln.co.id / 085273253532)

I. PENDAHULUAN

Selain sebagai sebuah Perusahaan yang bertujuan untuk


memberikan pelayanan terbaik bagi konsumen listrik, PT PLN Persero
dalam kapasitas nya sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
merupakan sebuah perusahaan yang berorientasi Profit. Tetapi pada
kenyataannya, Intervensi pemerintah dalam penetapan TDL (Tarif
Dasar Listrik) Menyebabkan PT PLN Persero tidak mampu menjalankan
fungsi bisnis semestinya. Tentu terlalu kompleks untuk membahas
bagaimana meningkatkan TDL, aspek yang melingkupinya terlalu
rumit, ini terkait aspek politis dan seluruh makna yang mengalir
didalamnya.

Sehingga satu-satunya jalan untuk menyelamatkan pendapatan PT


PLN Persero adalah mengurangi semaksimal mungkin potensi yang
dapat menyebabkan berkurangnya pendapatan dari penjualan listrik
dan hal itu adalah menekan susut / Losses. Losses sendiri
sederhananya dapat diartikan Listrik (KWH) yang tidak menjadi rupiah,
pengertian ini membawa kita pada kesimpulan bahwa penekanan
losses dapat menyebabkan profit PT PLN Persero Meningkat, dan –
paling tidak- dapat mengurangi beban pemerintah dalam mensubsidi
PLN.

II. PERMASALAHAN

Area Pelayanan dan Jaringan Gresik sebagai salah satu bagian dari
PT PLN Persero juga harus dapat mengambil peran dalam proses

1
Telaah Staff

penurunan Losses ini. Ada banyak hal yang dapat menyebabkan timbul
losses, salah satu diantara nya adalah Akibat dari Ketidakseimbangan
beban pada transformator distribusi yang menyebabkan arus mengalir
pada penghantar netral trafo dan menyebabkan losses, tentu saja
keseimbangan sempurna tidak dapat dilakukan, karena –tentu- tidak
memungkinkan pengguna listrik menghidupkan peralatan yang sama
dan dalam waktu bersamaan. Yang bisa kita lakukan adalah membuat
kondisi pemerataan yang maksimal.

Permasalahan ini muncul acap kali disebabkan kurangnya


pengawasan terhadap pihak ketiga mengenai pemasangan beban,
sehingga yang terjadi adalah kondisi dimana salah satu fasa
dibebankan jauh melebihi fasa yang lain dan hal inilah yang
menyebabkan arus yang mengalir pada penghantar netral semakin
besar. Adapun penulisan telaah staf ini mengambil sample UPJ Benjeng
dikarenakan, pada pelaporan susut (RB-12), UPJ benjeng
menyumbangkan susut yang relatif besar.

III. PRA ANGGAPAN

1. Karena kurang nya pengawasan kepada pihak rekanan terkait


masalah pemasangan beban pada phasa tertentu

2. Kondisi kurang nya pengawasan yang terjadi cukup lama, sehingga


kemungkinan terjadinya ketidakseimbangan beban semakin besar

3. Besarnya losses di UPJ benjeng, sehingga diperlukan sebuah


program untuk menurunkan losses

IV. DASAR TEORI

4.1. Losses

2
Telaah Staff

Losses pada jaringan distribusi dalam sistem ketenagalistrikan


merupakan kehilangan kwh energi yang tidak dapat dimanfaatkan,
sehingga hal ini merupakan salah satu bentuk pemborosan energi
serta menurunkan efisiensi.

Pada dasarnya susut jaringan distribusi dapat dibedakan menjadi dua


bagian yaitu :

1. Susut teknis

2. Susut non teknis

SUSUT TEKNIS akan memunculkan alternatif penanganan energi yang


hilang pada sistem jaringan distribusi karena faktor karakteristik dan
kondisi teknis

SUSUT NON TEKNIS, adalah energi yang hilang bukan karena sebab
teknis, diantaranya karena salah pengukuran, salah perhitungan, salah
catat, salah baca, salah data entri baik disengaja maupun tidak
disengaja

Pendistribusian Neraca KWH di elemen jaringan

SUSU
T

NON
TEKNI
S

SUSUT = I2 x R x Jam x Rp

SUSUT TOTAL = kWh beli – kWh jual TT – kWh jual TM – kWh jual TR –
kWh PS

3
Telaah Staff

SUSUT TEKNIK = I2 R JTM + TRAFO + I2 R JTR

SUSUT NON TEKNIS = SUSUT TOTAL – SUSUT TEKNIS

Pengendalian & penanggulangan susut/losses teknis

a) Pembebanan trafo yang tidak seimbang antar fasanya

b) Pembebanan trafo melebihi kapasitas dalam waktu yang lama (over


load)

c) Loss contact pada peralatan listrik

d) Pemasangan trafo arus (ct) terlalu besar tidak sesuai dengan daya
yang diukur

e) Akurasi alat ukur ( kwh meter )

4.2. Transformator

Transformator adalah suatu alat listrik yang digunakan untuk


mentransformasikan daya atau energi listrik dari tegangan tinggi ke
tegangan rendah atau sebaliknya, melalui suatu gandengan magnet
dan berdasarkan prinsip induksi-elektromagnet. Transformator
digunakan secara luas, baik dalam bidang tenaga listrik maupun
elektronika

Perhitungan Arus Beban Penuh (Ifl) Transformator


Daya transformator bila ditinjau dari sisi tegangan tinggi (primer) dapat
dirumuskan sebagai berikut:
S = 3Vll I

Dimana:
S = Daya transformator (kVA)
Vll = Tegangan antar fase sisi primer (V)
I = Arus jala-jala (A)

Sehingga untuk menghitung arus beban penuh (full load current, Ifl)
dapat menggunakan rumus:

4
Telaah Staff

S
I fl =
3Vll

Dimana:
Ifl = Arus beban penuh (A)
S = Daya transformator (kVA)
Vll = Tegangan antar fase sisi sekunder (V)

4.3. Rugi-rugi Akibat Adanya Arus Netral Pada Penghantar


Netral Transformator
Sebagai akibat dari ketidakseimbangan beban antara tiap-tiap fase
pada sisi sekunder transformator (fase R, fase S, fase T) mengalirlah
arus di netral transformator. Arus yang mengalir pada penghantar
netral transformator ini menyebabkan rugi-rugi. Rugi-rugi pada
penghantar netral transformator ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

2
Pn = I n x R n
Dimana:
Pn = Rugi-rugi pada penghantar netral transformator (Watt)
In = Arus yang mengalir pada netral transformator (A)
Rn = Tahanan penghantar netral transformator (Ω)

4.4. Ketidakseimbangan Beban

Yang dimaksud dengan keadaan seimbang adalah suatu keadaan di


mana:
• Ketiga vektor arus / tegangan sama besar.
• Ketiga vektor saling membentuk sudut 120o satu sama lain.
Sedangkan yang dimaksud dengan keadaan tidak seimbang adalah
keadaan di mana salah satu atau kedua syarat keadaan seimbang
tidak terpenuhi. Kemungkinan keadaan tidak seimbang ada 3 yaitu :
• Ketiga vektor sama besar tetapi tidak membentuk sudut 120o satu
sama lain.

5
Telaah Staff

• Ketiga vektor tidak sama besar tetapi membentuk sudut 120o satu
sama lain.
• Ketiga vektor tidak sama besar dan tidak membentuk sudut 120 o
satu sama lain.

IS IT IS
o
12 0
1 35o
IT

12 0o 12 0o 1 20o
10 5o

`
IN

`
IR + IT

IR IR

(a) (b)

Gambar 4.1. Vektor Diagram Arus

Gambar 4.1(a) menunjukkan vektor diagram arus dalam keadaan


seimbang. Di sini terlihat bahwa penjumlahan ketiga vektor arusnya (IR,
IS, IT) adalah sama dengan nol sehingga tidak muncul arus netral (IN).
Sedangkan pada Gambar 4.1(b) menunjukkan vektor diagram arus
yang tidak seimbang. Di sini terlihat bahwa penjumlahan ketiga vektor
arusnya (IR, IS, IT) tidak sama dengan nol sehingga muncul sebuah
besaran yaitu arus netral (IN) yang besarnya bergantung dari seberapa
besar faktor ketidakseimbangannya.

4.5. Penyaluran Dan Susut Daya

Misalnya daya sebesar P disalurkan melalui suatu saluran


dengan penghantar netral. Apabila pada penyaluran daya ini arus-arus
fasa dalam keadaan seimbang, maka besarnya daya dapat dinyatakan
sebagai berikut:

P = 3 . [V] . [I] . cos ϕ

6
Telaah Staff

Dengan :
P : Daya pada ujung kirim (Watt)
V : Tegangan fasa – netral pada ujung kirim (V)
cos ϕ : Faktor daya

Daya yang sampai ujung terima akan lebih kecil dari P karena
terjadi penyusutan dalam saluran.

Jika [I] adalah besaran arus fasa dalam penyaluran daya sebesar
P pada keadaan seimbang, maka pada penyaluran daya yang sama
tetapi dengan keadaan tak seimbang besarnya arus-arus fasa dapat
dinyatakan dengan koefisien a, b dan c sebagai berikut:

[ IR ] = a [ I ] 

[ IS ] = b [ I ] 
[ IT ] = c [ I ] 

dengan IR , IS dan IT berturut-turut adalah arus di fasa R, S dan T.

Bila faktor daya di ketiga fasa dianggap sama walaupun besarnya


arus berbeda, besarnya daya yang disalurkan dapat dinyatakan
sebagai:

P = (a + b + c) . [V] . [I] . cos ϕ

Apabila persamaan-persamaan di atas menyatakan daya yang


besarnya sama, maka dari kedua persamaan itu dapat diperoleh
persyaratan untuk koefisien a, b, dan c yaitu:

a+b+c = 3

dimana pada keadaan seimbang, nilai a = b = c = 1.

V. PEMBAHASAN

7
Telaah Staff

Langkah Pertama dari dari pembahasan telaah staff ini adalah


pengumpulan data.

Data-data yang diperlukan ;

1. Data pengukuran GTT UPJ Benjeng. Data didapat dari Rekanan CV


Tiga Putra Jaya yang ditunjuk sebagai pelaksana Pengukuran GTT UPJ
Benjeng Catur Wulan IV (Okt-Des 08)

2. Data impedansi kawat/SPLN 64 tahun 1985

3. Data panjang penghantar netral/line (jurusan) setiap trafo. Data


didapat dari Mapping APJ Gresik

4. Data susut kumulatif UPJ Benjeng tahun 2008 (laporan RB-12)

5. Data mengenai harga/kwh beli (transfer Pricing)

7. Data Beban penyulang Morowudi dan Ngabetan UPJ Benjeng

6. Data Harga Prakiraan Sendiri (HPS) metropolis 2008

5.1. Pembebanan Trafo

Sample perhitungan di ambil dari data Trafo

• No Gardu : T 04

• Penyulang : Morowudi

• Merk : TRAFINDO

• Seri/Tahun : SERI No. 32535/1985

• Daya Trafo : 100 KVA

Phas Tegangan
a (V) Beban (Ampere)
Line Line Line Line
P-P 381 A B C D
R 217 23 75
S 219 58 54

8
Telaah Staff

T 215 68 62
N 29 23
Tabel 5.1. Hasil Pengukuran Trafo 04 Penyulang Morowudi

S Total = SLINEB + SLINED

SLINE B = SR line B + SS Line B + ST Line B

SLINE B = ( 217 x 23 ) +( 219 x 58 ) + ( 215 x 68 )

= 32.313 KVA

SLINE D = SR line D + SS Line D + ST Line D

SLINE D = ( 217 x 75 ) +( 219 x 54 ) + ( 215 x 62 )

= 41.431 KVA

S Total = 32.313 + 41.431 = 73.744 KVA

S total 73.744
= 100% = 74 %
S 100

Ketidakseimbangan pada Transformator Line B

I R + IS + IT 23 + 58 + 68
I rata - rata = = = 49,67 Ampere
3 3
IR 23
IR = a * I maka: a = = = 0,46
I 49,67
IS 58
IS = b * I maka: b = = = 1,17
I 49,67
IT 68
IT = c * I maka: c = = = 1,37
I 49 ,67
Rata-rata ketidakseimbangan beban (%) adalah:
| a −1 | + | b −1 | + | c −1 |
= *100%
3
| 0,46 −1 | + | 1,17 −1 | + | 1,37 −1 |
= *100%
3
= 35,79 %

Sehingga diketahui ketidakseimbangan beban pada T 04 sebesar


35,79 %

9
Telaah Staff

5.2. Losses Akibat adanya Arus Netral

Losses Akibat adanya arus netral pada Trafo 04 penyulang morowudi

Data R Penghantar ;

• Netral AAAC 1 x 50 mm2 : 0,6452 Ω/km ( Data Impedansi Kawat


/ SPLN 64 Tahun 1985 )

Panjang Penghantar Netral ;

• Line B : 892 Meter, sehingga R = 0,892 x 0,6452 = 0,5755 Ω

• Line D : 873 Meter, sehingga R = 0,873 x 0.6452 = 0,5633 Ω

P N LINE B = IN LINE B 2 X R N LINE B

P N LINE B = 292 X 0,5755 = 0,484 KW

P N LINE D = IN LINE D 2 X R N LINE D

P N LINE D = 232 X 0,5633 = 0,298 KW

P N TOTAL =P N LINE B +P N LINE D

P N TOTAL = 0,484 + 0,298 = 0,782 KW

Dimana daya aktif trafo adalah sebesar:


P = S x cos ϕ = 100 kVA x 0,85 = 85 kW

Persentase losses akibat adanya arus netral pada penghantar netral


transformator adalah:
PN 0,782
%PN = x 100% = x100% = 0,92%
P 85

Perhitungan Di atas dilakukan untuk seluruh Gardu Di UPJ Benjeng Area

Pelayanan Dan Jaringan Gresik (Berdasarkan Laporan Pengukuran).

Dengan Menggunakan Excell di dapat data sebagai berikut (terlampir).

DAYA (KVA) 25 50 75 100 150 160 200 250 Total


Jumlah Gardu 9 38 16 85 9 67 9 1 234

10
Telaah Staff

Beban < 60 % 3 20 2 58 5 48 1 0 137


Beban 60 % -
80 % 2 10 7 22 4 14 1 1 61
Beban > 80 % 4 8 7 5 0 5 7 0 36
35.94 25.62 89.89 7.74 61.50 7.83 1.69 236,8
PN (Kw) 6.563 9 1 4 4 4 5 5 05
Tabel 5.2. Hasil perhitungan Losses akibat arus pada penghantar netral

Dari data diatas, dapat terlihat bahwa losses yang diakibatkan

ketidakseimbangan beban untuk UPJ Benjeng adalah 236,805 kW

Losses WBP

Melihat data beban penyulang, penulis berkesimpulan karakteristik

WBP benjeng terjadi pada pukul 18.00 WIB – 22.00 WIB (6 Jam)

Sehingga :

N
P WBP = 236,805 kW x 6 h (hour) x 365 hari

= 518.602,95 kWh

Losses LWBP

Karena pengukuran dilakukan pada malam hari, maka untuk

perhitungan losses LWBP dilakukan dengan faktor kali (FK) yang

merupakan perbandingan beban rata-rata LWBP dibagi beban rata-rata

11
Telaah Staff

WBP. Faktor kali didapat dari data yang beban penyulang yang

mensupply UPJ benjeng dengan acuan beban perbulan.

Sehingga :

Faktor Kali 7426,499


= 2690,283 kW

Faktor Kali = 0,362

Sehingga Losses LWBP :

N
P LWBP = 236,805 x 0,362 x 18 h x 365

= 563.202,804 kWh

Maka Losses total akibat ketidakseimbangan pada UPJ benjeng

N N N
P Total = P WBP + P LWBP

= 518.602,95 kWh + 563.202,804 kWh

= 1.081.805,754 kwh

12
Telaah Staff

Dari data 12-RB, diketahui bahwa kWh tersalur untuk upj benjeng

sebesar 82.410.672 kWh, sehingga dapat diketahui sumbangan losses

kerena ketidakseimbangan beban, yaitu :

1.081.805, 754
%P N = x 100% = 1,31 %
82.410.672

Jika dirupiahkan dengan mengacu pada harga rata-rata transfer pricing

tahun 2008 (857,42/kWh), maka kerugian akibat arus mengalir pada

penghantar netral sebesar :

Losses dalam Rupiah =1.081.805,754 kWh x Rp857,42 = Rp

927.561.889

5.3. Perhitungan Losses setelah pemerataan beban

Untuk melakukan perhitungan pemerataan losses setelah dilakukan

pemerataan beban, penulis melakukan observasi, diskusi dan data-

data mengenai program pemerataan beban, sehingga diperoleh

beberapa asumsi untuk perhitungan, diantaranya:

13
Telaah Staff

• Keseimbangan trafo telah dianggap baik, apabila

ketidakseimbangan arus phasa R, S dan T, lebih kecil atau sama

dengan 20 % hasil perhitungan (terlampir)

• Arus Netral telah dianggap baik, apabila Arus netral lebih kecil

atau sama dengan 10 % dari nilai rata-rata arus yang mengalir

pada phasa R, S dan T


Perhitungan dilakukan dengan Logika IF – AND, dengan

pengertian bahwa trafo yang yang masuk dalam program

pemerataan beban adalah trafo yang tidak memenuhi 2 syarat

diatas, (di anggap tidak dalam kondisi baik)

• Pemerataan beban akan mengurangi 40 % dari nilai arus yang

mengalir pada penghantar netral

Dari asumsi tersebut, dilakukan perhitungan dengan program excell

(hasil perhitungan terlampir). Dan dari 234 trafo di UPJ benjeng, hanya

154 trafo yang perlu diseimbangkan bebannya.

14
Telaah Staff

losses akibat penghantar netral setelah pemerataan adalah sebesar :

46,323 kW

Dari perhitungan tersebut kita dapat menghitung nilai losses yang

diselamatkan dengan program pemerataan beban;

N
P setelah pemerataan beban :

N N
= P 154 Trafo setelah penyeimbangan + P 80 Trafo yang tidak

diseimbangkan bebannya

= 46,323 kW + 55,2545 kW

= 101,578 kW

N N N
P terselamatkan = P sebelum pemerataan beban - P setelah

pemerataan beban

= 236,805 kW – 101,578 kW

= 135,227 kW

Losses WBP

15
Telaah Staff

N
P WBP = 135,227 kW x 6 h (hour) x 365 hari

= 296.147,13 kWh

Losses LWBP

N
P LWBP = 135,227 x 0,362 x 18 h x 365

= 321.615,78 kWh

Maka Losses total terselamatkan akibat pemerataan beban ;

N N N
P Total = P WBP + P LWBP

= 296.147,13 kWh + 321.615,78 kWh

= 617.762,91 kwh

Dari data 12-RB, diketahui bahwa losses upj benjeng sebesar 9.182.348

kWh, sehingga dapat diketahui penekanan losses akibat pemerataan

beban pada UPJ benjeng :

9.182.348 kWh – 617.762,91 kWh = 8.564.585,1 kWh

Losses kumulatif
% Losses Benjeng Kumulatif = x 100%
kWh beli benjeng

8.564.585, 1
% Losses Benjeng Kumulatif = x 100% = 10 .39 %
82.410.672

16
Telaah Staff

Losses benjeng pada Laporan RB-12 sebesar 11,14 %, dan pada

perhitungan diatas menjadi 10,39 %, sehingga dapat diketahui, bahwa

pemerataan beban memungkinkan menurunkan losses sebesar :

Penurunan Losses benjeng = Losses sebelum pemerataan – Losses

setelah pemerataan

= 11,14 % - 10,39

= 0.75 %

5.4. Cost Benefit

Muara akhir dari seluruh program penekanan Losses adalah

pendapatan yang diperoleh PT PLN Persero sebagai perusahaan

dengan orientasi keuntungan.

Perhitungan Cost benefit diperoleh dari :

Rupiah Losses yang diselamatkan akibat pemerataan beban ;

N
= P setelah pemerataan beban x Rp. 857,42 (asumsi harga

/kwh)

17
Telaah Staff

= 617.762,91 kWh x Rp 857,42

= Rp. 529.682.274

Perhitungan Kebutuhan Material

No Gardu : T 04

Penyulang : Morowudi

Daya Trafo : 100 KVA

Phas
Teganga
a n Beban
Line Line
P-P 381 Line A B C Line D
R 217 23 75
S 219 58 54
T 215 68 62
N 29 23
Tabel 5.3. Hasil Pengukuran Trafo 04 Penyulang Morowudi

Material Untuk Line B

IR + IS + IT 23 + 58 + 68
Titik kesimbanga n fasa (Rata - rata) = = = 49 .66 ≈ 50
3 3

Perhitungan per phasa :

R
I =23–50 = -27 (Phasa R mengambil beban 27 Ampere untuk

menuju keseimbangan)
S
I = 58 – 50 = 8 ( Phasa S Melepaskan beban 8 Ampere untuk

menuju keseimbangan)

18
Telaah Staff

T
I = 68 – 50 = 18 ( Phasa T melepaskan 18 Ampere untuk menuju

keseimbangan)

Sehingga kita memindahkan 8 Ampere Phasa S ke Phasa R, dan 18 A

Phasa T ke Phasa R

Perhitungan Material dan Jasa

Pelanggan 900 VA adalah pelanggan 4 Ampere, tapi dengan asumsi

pelanggan hanya menggunakan 50% dari daya terpasang sehingga

pemindahan pelanggan 900 VA dapat diartikan pemindahan 2 Ampere

ke phasa lain. Pemindahan phasa membutuhkan material Line Tap


2.

35/16 mm

Sehingga dengan asumsi kita merencanakan


26 pemindahan 900 VA,
= 13 bh
2

kita membutuhkan material sebanyak :

Perhitungan diatas dilakukan keseluruh Trafo/line dengan Microsoft

Excell sehingga diperoleh kebutuhan material sebagai berikut :

19
Telaah Staff

Tabel 5.4. Data perhitungan kebutuhan material untuk pemerataan beban UPJ

VOL Harga Satuan


No SA
Nama Material Materi Pasan TOTAL
. T TUNAI
al g

Line Tap Connector Type G 35-


1 Bh 2334 5,300 35,710,200
16 mm2 10,000

3,571,0
PPN 10 % 20

TOTAL 39,281,000

benjeng

Gambar 5.1 aktivitas pemindahan phasa

20
Telaah Staff

Perhitungan harga patokan standard untuk jasa pengukuran dan

penyeimbangan beban

I. Pelaksanaaan Pengukuran & Penyeimbangan Beban Gardu


Trafo Distribusi

Untuk 1 regu pelaksana penyeimbangan dibutuhkan = 4


orang

Untuk 1 regu pelaksana pengukuran dibutuhkan = 2 orang

Peralata pekerjaan yang dibutuhkan = 1 lot

Kendaraan yang dibutuhkan :

- Mobil pick up untuk penyeimbangan beban gardu trafo distribusi

= 1 pick up

- Mobtor untuk pengukuran gardu trafo distribusi

= 1 motor

Rata-rata BBM yang dibutuhkan untuk 1 hari :

- Rata-rata BBM mobil pick up = 6 liter

- Rata-rata BBM motor = 3 liter

Tenaga kerja per hari = Rp Rp


2,550,000 : 22 x 4 463,636
Tenaga kerja per hari = Rp Rp
2,550,000 : 22 x 2 231,818
Biaya peralatan kerja = Rp Rp
4,000,000 : 22 x 1 181,818
Sewa mobil per hari = Rp Rp
3,500,000 : 22 x 1 159,091
Swa motor per hari = Rp 550,000 Rp
: 22 x 1 25,000
BBM per hari = Rp Rp
4,500 x 6 27,000
BBM per hari = Rp Rp
4,500 x 3 13,500
Jumlah Biaya Per Hari Rp

21
Telaah Staff

1,101,864

II. Penyeimbang Beban Gardu Trafo Distribusi per hari

Waktu kerja per hari 8 jam


Waktu untuk perjalanan kelokasi 1 jam
Waktu untuk istirahat / sholat / makan siang 30
menit
Waktu untuk efektif untuk pelaksanaan 6.5 jam
penyeimbangan beban
gardu trafo distribusi
Waktu penyeimbangan beban gardu trafo 195
distribusi menit
Jumlah Penyeimbangan beban gardu trafo 2 gardu
distribusi per hari trafo

III. Pengukuran Gardu Trafo Distribusi per hari

Waktu kerja per hari 5 jam


Waktu untuk perjalanan ke lokasi 1 jam
Waktu untuk efektif untuk pelaksanaan pengukuran 4 jam
gardu trafo distribusi
Waktu untuk pengukuran gardu trafo distribusi 48 menit
Jumlah pengukuran gardu trafo distribusi per 5 gardu
hari trafo
JASA PEKERJAAN PENGUKURAN BEBAN DAN PENYEIMBANGAN
GARDU DISTRIBUSI

Biaya penyeimbangan beban dan


pengukuran Rp.
Rp.1,101,864 :7
gardu trafo distribusi / gardu 157,409

ROK (10 %) Rp.


15,741
JUMLAH BIAYA UNTUK JASA
Rp. 173,000
PENGUKURAN DAN PENYEIMBANGAN/GTT

Biaya Jasa untuk 154 Pengukuran dan penyeimbangan daya adalah:

Rp. 173.000 x 154 = Rp. 26.642.000

22
Telaah Staff

Sehingga didapatlah perhitungan cost benefit :

= Rp. 529.682.274 – (Rp. 26.642.000 + 39.281.000)

= Rp. 529.682.274 – 65.923.000

= Rp. 463.759.274

Keuntungan yang dapat diperoleh dari program pemerataan beban

pada UPj benjeng dalam setahun, sekitar Rp. 463.759.274

VI. KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. KESIMPULAN

1. Semakin tidak seimbang beban antar phasa, semakin besar arus


yang mengalir di penghantar netral

2. Ketidakseimbangan beban menyumbang losses yang cukup tinggi


sekitar 1,31 % pada UPJ Benjeng

3. Pemerataan beban cukup efektif dalam menekan losses sampai


0,75 % pada UPJ benjeng

4. Pemerataan beban menguntungkan secara financial sekitar


Rp.463.759.274 pada UPJ benjeng

23
Telaah Staff

6.2. SARAN

1. diupayakan melakukan program pemerataan beban ke seluruh Area


Pelayanan Dan Jaringan Gresik, terkhusus UPJ Benjeng

2. Memperbesar ukuran penghantar netral untuk mengurangi Losses di


penghantar netral, karena semakin besar Ukuran penghantar akan
semakin kecil hambatan (R), tetapi penggantian ukuran penghantar
netral harus dilakukan kajian terlebih dahulu mengenai cost benefit
nya

3. Dari data pengukuran kita dapat mengetahui trafo overload, karena


trafo overload akan mengurangi efisiensi dan menyebabkan susut
trafo, maka disarankan untuk segera melakukan penyisipan trafo
(trafo sisipan)

4. Menganalisa data untuk memperoleh kemungkinan untuk


melakukan manajemen trafo, misalnya trafo trafo 100 KVA dengan
beban 30 % dapat di relokasi dengan trafo 50 KVA dengan beban 90
%.

5. Memperbaiki sistem pengawasan pada saat pasang baru/tambah


daya agar pembebanan pada phasa/phasa pada trafo diusahakan
mencapai ke-seimbangan yang maksimal.

REFERENSI

1. Teori penurunan losses SDM DJBB

2. Teori perencanaan konstruksi udiklat Bogor

3. Teori Transformator ; Jasa Pendidikan Dan Pelatihan PT PLN Persero

4. Data impedansi kawat / SPLN 64 tahun 1985

5. Jurnal Teknik Elektro Vol 6, No.1 Maret 2006 : 68-73

6. Zuhal, Dasar Tenaga Listrik, Bandung: ITB,1991

24
Telaah Staff

25