Anda di halaman 1dari 28

MATA KULIAH PROSES INDUSTRI KIMIA

SENYAWA ETIL BENZENA

Disusun Oleh :
Prana Mahisa

: 21030113120008

Erdita Aprillia Yuga Pamujo

: 2 1030113120018

Susilowati

: 21030113120031

Shelma Karami

: 21030113140127

Rizky Adhi Prabowo

: 21030113130113

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2014

BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Sejarah Etil Benzene


Etil benzena merupakan senyawa kimia organik yang merupakan
hidrokarbon aromatik. Penggunaan utama adalah dalam industri petrokimia
sebagai senyawa intermediate untuk produksi stirena, yang pada gilirannya
digunakan untuk membuat polistiren, bahan plastik yang umum digunakan.
Meskipun sering hadir dalam jumlah kecil dalam minyak mentah, etil benzena
diproduksi dalam jumlah massal dengan menggabungkan benzena petrokimia
dan etilena dalam asam katalis reaksi kimia. Hidrogenasi katalitik dari etil
benzena kemudian diberi gas hidrogen dan stirena, yang menghasilkanvinil
benzena. Etil benzena juga merupakan bahan dalam cat.
Etil Benzena pertama kali diproduksi secara skala komersial pada
tahun 1930 oleh Dow Chemical di US dan oleh BASF di Republik Federal
Jerman. Hingga tahun 1980, hampir semua etil benzena diproduksi dengan
katalis Alumunium Klorida menggunakan mekanisme reaksi Fridal Crafts.
Beberapa etil benzena diproduksi dengan katalis Boron Trifluorida. Sedikitnya
etil benzena diproduksi dari campuran xylene dengan menggunakan proses
distilasi sangat intensif. Pada tahun 1980, fasilitas pertama menggunakan
proses berbasis zeolit yang didasarkan pada reaktor fasa uap pada suhu lebih
dari 400oC, pada suhu ini reaksi seperti isomerisasi dan transfer hydrogen
mencemari produk etil benzena. Upaya mengurangi pencemaran produk
dengan mengubah kondisi operasi pada temperatur lebih rendah dari 270oC
didapat etil benzena kemurnian tinggi.Zeolit kemurnian tinggi pertama
berbasis teknologi dikembangkan oleh UOP dan ABB Lummus Global
dimulai pada tahun 1990.
Hingga saat ini di Indonesia baru terdapat satu industry yang
memproduksi etil benzena yaitu PT. Styrindo Mono Indonesia (PT. SMI) yang
sudah mulai berproduksi secara komersial sejak awal tahun 1996 dengan

kapasitas produksi 110.000 ton per tahun. Pertumbuhan industry hilir yang
menggunakan etil benzena sebagai bahan baku menunjukkan permintaan akan
etil benzena semakin meningkat dari tahun ke tahun sehingga pendirian pabrik
etil benzene ini perlu didukung dan dipercepat agar kapasitas produksi dan
kapasitas konsumsi dapat berjalan secara bahkan kalau perlu dapat melakukan
ekspor.
Etil benzene sering disebut peniletana atau etil benzoate dengan rumus
molekul C6H5C2H5 adalah salah satu senyawa kimia berupa cairan tidak
berwarna, berbau khas dan mudah mengiritasi kulit dengan titik didih 13oC
yang mempunyai peranan penting dalam industry kimia seperti dalam stiren
monomer, etil antraquinon, asam benzoate, dan industry pembuatan cat.
Adapun ketiga jenis produk tersebut masing masing styrene
monomer untuk bahan baku pembuatan polystyrene, styrene butadiene rubber
(SBR),unsaturated polyester resin (UPR), dan styrene acrilonitril polimer
(SAP). Sedangkan etil antraquinon digunakan untuk bahan baku pemutih dan
pelumas. Kemudian benzoate digunakan untuk bahan baku pembuatan
parfum, phenol dan barang barang dari plastic.
Konsumsi etil benzene yang potensial adalah untuk bahan baku
industry styrene monomer. Sedikitnya 90% produk etil benzene digunakan
untuk industry tersebut. Sehingga kebutuhan etil benzene berkaitan langsung
dengan kebutuhan styrene monomer.
Bahan baku pembuat etil benzene adalah benzene yang mengalami
proses alkilasi dengan menggunakan etilen, AlCl3 , atau BF3 dipakai sebagai
katalisator, sedangkan senyawa dari klorida, biasanyadari HCl atau HF dapat
digunakan sebagai promoter reaksi.
I.2. Spesifikasi Bahan Baku
a. Benzena

Bentuk (30 C, 1 atm)

: Cairan

Warna

: Tidak berwarna

Bau

: Khas

Densitas (25 C), kg/m3

: 0,8737

Titik didih (1 atm), C

: 80,100 C

Kemurnian, min

: 99 % (mol)

Impuritas, maks

: Toluen 1 % (mol)

b. Etilen (Etena)

Bentuk (-99 C, 3 atm)

: Cairan

Warna

: Tidak berwarna

Bau

: Khas

Densitas (25 C), kg/m3

: 20,270

Titik didih (1 atm), C

: -103,71 C

Kemurnian, min

: 99,5 % (mol)

Impuritas, maks

: Etana 0,20 % (mol)


Metana 0,30 % (mol)

c. Spesifikasi Bahan Pembantu/Katalis


Jenis

: Zeolit

Bentuk

: Spherical

Diameter, mm

:3

Bulk Densitas, kg/m3

: 990

Porositas

: 0,34

Umur, tahun

:2

I.3. Spesifikasi Produk


Etilbenzena

Bentuk (30 C, 1 atm)

: Cairan

Warna

: Tidak berwarna

Bau

: Khas

Densitas (25 C), kg/m3

: 0,8626

Kemurnian, min

: 99,90 % (berat)

Impuritas, maks

: Benzen 0,01 % (berat)


Toluen 0,09 % (berat)

I.4. Penggunaan Produk


Etil benzena merupakan senyawa kimia yang mempunyai peranan
penting dalam industri monomer stirena, dimana selanjutnya stirena monomer
digunakan sebagai bahan baku pembuatan plastik (polistirena). Selain itu, etil
benzena juga dimanfaatkan untuk pembuatan bahan pewarna dan deterjen. Etil
benzena juga banyak digunakan sebagai pelarut (solvent) dalam berbagai
industri.

BAB II
RANCANGAN PROSES
II. 1. Macam Macam Proses Pembuatan Etilbenzena
a. Proses Pembuatan Etilbenzena dengan Fase Cair
Proses pembuatan Etilbenzena fase cair telah dikembangkan oleh
perusahaan-perusahaan Badger Company, Dow Chemical, BASF, Shell
Chemical, Monsanto, Societe Chimique Des Cahrbonnages,Cosden Oil
and Gas Company, and Union Carbide. Union Carbide beroperasi pada
tekanan diatas 125 psig dan temperature 80 sampai 1300C. Tetapi proses
Monsanto merupakan proses yang paling komersial dan paling modern.
Katalis yang digunakan dapat berupa AlCl3, Etilchloride atau HCl. Tetapi
yang paling umum digunakan adalah AlCl3, pada suhu 40 sampai 1000C.
Alkilasi benzena dengan katalis AlCl3 merupakan reaksi eksotermis ( H =
-114 kJ/mol ) dan berlangsung sangat cepat. Katalis promoter yang berupa
Etilchloride atau HCl akan dapat mengurangi konsumsi AlCl3.
Reaksi yang terjadi pada proses fase cair menurut Kirk Othmer (1981)
sebagai berikut :
C6H6 + C2H4C6H5CH2CH3
Pada proses Monsanto yang telah dikembangkan menggunakan dua
reaktor. Pada reaktor pertama terjadi reaksi alkilasi antara benzena dengan
Etilen pada tekanan lebih rendah dibandingkan pada proses fase gas, yaitu
70-150 psig dan temperature 300-3500F. Perbandingan mol benzena dan
Etilen dalam reaktor adalah 3:1 sampai 5:1. Perbandingan AlCl3 dan C2H4
adalah 0,001-0,0025 : 1. (Speight, James G. 2002) Pada reaktor
transalkilasi terjadi reaksi antara benzena sisa dan polyEtillbenzena yang
direcycle. Produk keluar reaktor transalkilasi selanjutnya dikirim ke
neutralizer untuk menghilangkan HCl dan katalis yang terdapat didalam
produk reaktor. Setelah produk yang keluar bebas dari impuritas, produk
dipisahkan dengan tiga menara distilasi. Pada kolom pertama benzena di
recycle untuk dikembalikan ke reaktor alkilasi. Pada kolom kedua
menghasilkan produk Etilbenzena. Produk atas dari kolom ketiga adalah

polyEtillbenzena dan tars, yang dapat digunakan sebagai bahan bakar.


Karena kebutuhan katalis sangat sedikit, maka tidak dibutuhkan regenerasi
katalis. Jadi garam-garam yang dihasilkan dari neutralizer sistem bisa
langsung dibuang dan dikirim ke sistem pengolahan limbah. Produk keluar
kolom distilasi kemurniannya minimum 99,7% berat.
(Srivastava, Rahul. 2009)

b. Proses Pembuatan Etilbenzena dengan Fase Gas


Proses ini menggunakan bahan baku benzena yang dialkilasi
dengan Etilen menggunakan katalis BF3, ZMS-5 atau bisa juga
menggunakan silika alumina. Tekanan dalam rektor sangat tinggi, yaitu
sekitar 6000 kPa (870 psi) dan temperatur lebih dari 3000C. Dengan
menggunakan rasio benzena terhadap Etilen yang cukup besar dapat
meminimumkan terbentuknya polyEtilbenzena. Konversi terhadap Etilen
di reaktor alkilasi antara 98-99%.
Pembuatan Etilbenzena pada fase gas mulai dikenal sejak tahun
1940. Sampai saat ini dikenal dua macam proses dalam alkilasi fase gas,
yaitu :
1) Proses Alkar
Proses Alkar merupakan proses yang dikembangkan oleh
Universal Oil Product ( UOP ) pada tahun 1958. Proses ini dapat

menghasilkan Etilbenzena dengan kemurnian tinggi. Katalis yang


digunakan adalah BF3 (boron trifluoride). Katalis ini sangat sensitif
terhadap air, senyawa sulfur dan oksigen. Bahkan dengan adanya
jumlah air kurang dari 1 mg/kg reaktan akan menghidrolisa BF3.
Karena itu, baik Etilen maupun benzena yang masuk reaktor harus
dengan kondisi anhidrous. Reaksi alkylasi terjadi pada tekanan tinggi
(2,5-3,5 MPa : 25-35 bar) dan temperatur rendah (100-1500C). Umpan
masuk

reaktor

biasanya

menggunakan

rasio

molar

antara

Etilen:benzena adalah 0,15 : 0,2. Suhu masuk reaktor dikontrol oleh


recycle masuk reaktor. Produk dari reaktor tersebut dipisahkan dengan
separator.Hasil

bawah

dimasukkan

ke

benzenacolumn

untuk

memisahkan benzena dan produk Etilbenzena.Hasil atas direcycle dan


dicampur dengan umpan benzena.Hasil bawah diumpankan kedalam
Etilbenzena column.Cairan jenuh dari benzena column dipisahkan di
Etilbenzena column menjadi Etilbenzena sebagai hasil atas dan
diEtilbenzena

sebagai

hasil

bawah.PoliEtilbenzena

selanjutnya

dipurging untuk mengurangi tumpukan atau impurities. Keuntungan


dari proses ini adalah sedikit menimbulkan korosi dari pada proses fase
cair dan kemurniannya bisa mencapai 99,9%. Proses alkar dapat
dioperasikan dengan konsentrasi Etilen pada umpan sebesar 8-10% mol
Etilen, tetapi karena katalisnya sangat sensitif, maka perlu dilakukan
pemurnian bahan baku terlebih dahulu sebelum masuk reaktor untuk
menghilangkan senyawa sulfur, oksigen dan air.
Reaksi yang terjadi pada proses Alkar menurut Kirk Othmer
(1981) sebagai berikut :
C6H6 + C2H4C6H5C2H5
C6H6 + C2H4 C6H4 ( C2H5)2

2) Proses Mobil Badger


Proses ini dikembangkan sejak tahun 1970-an oleh Mobile Oil
Corporation dengan menggunakan katalis zeolit sintetis (ZMS-5).
Sama seperti proses alkar, proses ini terdiri dari dua proses utama
yaitu reaksi dan distilasi. Pada bagian reaksi, fresh dan recycle
benzena dipreheater dan kemudian diuapkan untuk selanjutnya
bersama-sama dengan recycle alkyl aromatis dan Etilen segar
dimasukkan ke dalam reactor fixed bed. Produk reaktor selanjutnya
dikirim ke bagian distilasi. Pada bagian distilasi prosesnya hampir
sama dengan proses fase cair, yaitu terdiri dari kolom recovery
benzena dan kolom pemurnian Etilbenzena. Benzena yang tidak
bereaksi dan diEtilbenzena yang terbentuk dikembalikan lagi ke
reaktor. Katalis ZMS-5 berisi silica-alumina bersifat tidak korosif dan
tidak

mencemari

lingkungan

karena

silica-alumina

inert

di

lingkungan.
Reaksi yang terjadi pada proses Mobil Badger adalah sebagai
berikut :
C6H6 + C2H4C6H5CH2CH3
C6H5CH2CH3 + C2H4C6H4(C2H5)2

C6H4(C2H5)2 + C6H6 2C6H5CH2CH3


Proses reaksi berjalan pada tekanan 20-30 bar, temperatur 3005000C dan rasio antara benzena dan Etilen sebesar 8:1.Konversinya
bisa mencapai 85-90%. (Nunulasa : 2011)

c. Proses Lumnus/UOP/Unical
Proses ini merupakan proses baru yang dikembangkan oleh
Lumnus/Unical/UOP dan merupakan modifikasi dari proses AlCl3. Proses
ini tidak memerlukan sistem recovery katalis yang sangat aman bagi
lingkungan. Proses alkilasi berlangsung pada reaktor dengan suhu100
200oC dan tekanan 35 atm. Umur katalis yang digunakan dapat mencapai
12 24 bulan. Produk yang dihasilkan mempunyai kemurnian yang cukup
tinggi yaitu 99,2% dan merupakan bahan baku yang sangat baik untuk
produksi styrene.
d. Proses CD Tech
Proses ini adalah yang paling baru, CD Tech dikembangkan oleh
Chemical Research and Licensing Company. Proses Alkilasi dan
transalkilasi berlangsung pada reactor fixed bed dengan kondisi reactor 50
30 oC dan tekanan 0,5 50 atm. Produk dari proses ini mempunyai
kemurnian yang tinggi (99.9)%, merupakan bahan baku yang sangat baik
untuk pabrik Styrene. Yield yang didapatkan 99,5 %.
II.2. Reaksi Pada Etilbenzena
a. Reaksi Hidrogenasi

Reaksi paling penting dari alkilbenzena diuraikan di bawah ini, dengan


toluena dan etilbenzena sebagai contoh-contoh spesifik. Pada dasarnya hasil yang
sama ditunjukkan oleh bantalan senyawa pada rantai sisi yang lain. Kecuali untuk

10

hidrogenasi dan oksidasi, reaksi-reaksi ini melibatkan substitusi elektrofilik dalam


cincin aromatik atau substitusi radikal bebas dalam alifatik rantai samping.
b. Reaksi Oksidasi

Meskipun benzena dan alkana tidak cukup reaktif terhadap oksidator yang
umum seperti KMnO4, K2Cr2O7, dll, tetapi cincin benzena membuat rantai sisi
alifatik cukup reaktif terhadap oksidasi.Rantai sisi teroksidasi ke ring, dengan
hanya gugus karboksil (COOH) yang tersisa untuk menunjukkan posisi rantai
samping asli.
c. Reaksi dengan Bromin

Perlakuan dengan bromin dengan adanya cahaya membuat atom bromin


menjadi berada pada rantai sisi.Dikarenakan oleh cincin, brominasi berlangsung
lebih mudah daripada dengan etana, dan terjadi secara eksklusif pada atom karbon
yang berada lebih dekat dengan cincin.
(http://chemstone.net/O_Chem/Arenes_1.htm)
II. 3. Mekanisme Reaksi
Proses pembuatan Etilbenzena merupakan proses alkilasi benzena pada
fase cair atau gas dengan bahan baku benzena dan Etilene. Proses pembuatan

11

yang dipilih adalah proses Mobil Badger yang menghasilkan konversi antara
85% - 90%. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :
Reaksi utama : C2H4 + C6H6

C6H5C2H5

Reaksi samping : 2 C2H4 + C6H6

C6H4(C2H5)2

Selain reaksi samping di atas juga terjadi reaksi samping membentuk


polyEtilbenzena lainnya, namun polyEtilbenzena yang dominan dihasilkan
pada reaksi samping adalah diEtilbenzena.
Reaksi transalkilasi :
C6H6 + C6H4(C2H5)2

2 C6H5C2H5

Apabila reaksi alkilasi benzena menggunakan katalis zeolite, maka Etilene


yang diadsorbsi diprotonasi pada letak asam Bronstead pada permukaan
katalis sehingga membentuk ion Etil carbonium. Ion Etil carbonium
selanjutnya menumbuk / menempel pada cincin

benzena sehingga

menghasilkan Etilbenzena, sedangkan proton ditangkap kembali oleh zeolite.


Mekanisme reaksinya adalah sebagai berikut :
ZeolOH+ + CH2=CH2

CH3CH2+ + ZeolO

CH3CH2+ + ZeolO + C6H6

C6H5C2H5 + ZeolOH+
(Narwastu : 2010)

II. 4. Tinjauan Termodinamika


Pada reaktor alkilasi, terjadi reaksi antara etilen dengan benzena menghasilkan
etil benzena. Untuk mengetahui reaksi tersebut ekotermis atau endotermis dapat
diketahui dari perhitungan H298.
Reaksi Alkilasi :
C2H4(g) + C6H6(g) C6H5C2H5(g)
Pada 298C,

Hf C2H4(g)

= 52,283 kJ/gmol

Hf C6H6(g)

= 82,927 kJ/gmol

Hf C6H5C2H5(g)= 29,790 kJ/gmol


H298

= HfC6H5C2H5 (HfC6H6 + HfC2H4)


= 29,790 (82,927 + 52,283)
= - 105,42 kJ/gmol

Karena H yang dihasilkan negatif, maka reaksi diatas merupakan reaksi


eksotermis

12

Sifat reaksi yang reversible atau irreversible dapat dikethui dari harga
konstanta keseimbangan
Pada 298K, Gf C2H4(g)

= 68,125 kJ/gmol

Gf C6H6(g)

= 129,451 kJ/gmol

Gf C6H5C2H5(g)

= 130,577 kJ/gmol

G298 = Gf C6H5C2H5 (Gf C6H6 + Gf C2H4)


= 130,577 (129,451 + 68,125)
= - 66,999 kJ/gmol
= - 16.063 kal/gmol
G = -R T ln K
K

= e-G/RT
= e-(-16.063/1,987x298)
= 6,045 . 1011

Karena harga konstanta keseimbangan >>1, maka reaksi antara etilen


dengan benzena bersifat irreversible.
Perhitungan Konversi vs Suhu
Tinjauan Termodinamika
(

)
(Levenspiel :

1957)

Pada Suhu 100 K


Menentukan Konstanta Kesetimbangan (K)
(

Menentukan Konversi

(
2.53971

13

Pada Suhu 200 K


Menentukan Konstanta Kesetimbangan (K)
(

Menentukan Konversi

7.20862

Pada Suhu 300 K


Menentukan Konstanta Kesetimbangan (K)
(

Menentukan Konversi

4.73742

Pada Suhu 400 K


Menentukan Konstanta Kesetimbangan (K)
(

Menentukan Konversi

(
12144680.25

Pada Suhu 500 K

14

)
0.999999918

Menentukan Konstanta Kesetimbangan (K)


(

Menentukan Konversi

)
0.999953196

21364.50606

Pada Suhu 600 K


Menentukan Konstanta Kesetimbangan (K)
(

Menentukan Konversi

0.99679833

311.3369768

Pada Suhu 700 K


Menentukan Konstanta Kesetimbangan (K)
(

Menentukan Konversi

(
15.18700107

Pada Suhu 800 K

15

0.938222034

Menentukan Konstanta Kesetimbangan (K)


(

Menentukan Konversi

0.611854178

1.576351315

Pada Suhu 900 K


Menentukan Konstanta Kesetimbangan (K)
(

Menentukan Konversi

0.213021453

)
0.270682669

Pada Suhu 1000 K


Menentukan Konstanta Kesetimbangan (K)
(

Menentukan Konversi

(
)
0.066115974

Pada Suhu 1100 K

16

0.062015743

Menentukan Konstanta Kesetimbangan (K)


(

Menentukan Konversi

0.020440149

)
0.020866667

Pada Suhu 1200 K


Menentukan Konstanta Kesetimbangan (K)
(

Menentukan Konversi

(
)
0.007981331

Tabel Konversi vs Suhu Tinjauan Thermodinamika


Suhu (K)

Konversi (%)

100

100

200

100

300

100

400

99.9999918

17

0.007918134

500

99.9953196

600

99.679833

700

93.8222034

800

61.1854178

900

21.3021453

1000

6.2015743

1100

2.0440149

1200

0.7918134

Grafik Konversi vs Suhu Tinjauan Thermodinamika

Tinjauan Termodinamika
1.2
1
konversi

0.8
0.6
0.4
0.2
0
0

200

400

600

800

1000

1200

1400

Suhu (K)

II. 5. Tinjauan Kinetika


Reaksi pembentukan etil benzena merupakan reaksi eksotermis sehingga
selama reaksi berlangsung reaksi akan terjadi pelepasan panas dan ini akan
mempengaruhi kecepatan reaksi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan reaksi adalah:


- Temperature

18

Jika temperature operasi dalam reaktor naik maka harga k (konstanta


kecepatan reaksi) akan semakin besar sehingga reaksi berjalan semakin
cepat.

- Katalis
Adanya katalis di dalam reaksi maka akan menurunkan energy aktifasi.
Dengan turunnya harga energi aktifasi (Ea) maka harga k (konstanta
kecepatan reaksi) akan naik sehingga reaksi bertambah cepat dan untuk
mengarahkan reaksi terbentuknya etil benzena.
(Levenspiel : 1957)

Perhitungan Konversi vs Suhu

k = A e Ea/RT
k = 5160,7724

m3/ kmol.kg katalis.jam

Persamaan diatas dapat disederhanakan menjadi dengan asumsi waktu 1 jam


(3600 detik)

(Levenspiel : 1957)
Pada Suhu 100 K
Menentukan Konstanta Kecepatan Reaksi (k)

Penentuan Konversi

k = 5160,7724
k = 5160,7724
k = 7.88079
7.88079

19

Pada Suhu 200 K


Menentukan Konstanta Kecepatan Reaksi (k)

Penentuan Konversi

k = 5160,7724
k = 5160,7724
k = 0.000637738
0.000637331

Pada Suhu 300 K


Menentukan Konstanta Kecepatan Reaksi (k)

Penentuan Konversi

k = 5160,7724
k = 5160,7724
k = 0.128036257
0.113503672

Pada Suhu 400 K


Menentukan Konstanta Kecepatan Reaksi (k)

Penentuan Konversi

k = 5160,7724
k = 5160,7724
k = 1.814171768
0.644655663

Pada Suhu 500 K

20

Menentukan Konstanta Kecepatan Reaksi (k)

Penentuan Konversi

k = 5160,7724
k = 5160,7724
k = 8.901960535
0.899009898

Pada Suhu 600 K


Menentukan Konstanta Kecepatan Reaksi (k)

Penentuan Konversi

k = 5160,7724
k = 5160,7724
k = 25.70536874
0.962554346

Pada Suhu 700 K


Menentukan Konstanta Kecepatan Reaksi (k)

Penentuan Konversi

k = 5160,7724
k = 5160,7724
k = 54.8251308
0.982086921

Pada Suhu 800 K

21

Menentukan Konstanta Kecepatan Reaksi (k)

Penentuan Konversi

k = 5160,7724
k = 5160,7724
k = 96.76015496
0.989770884

Pada Suhu 900 K


Menentukan Konstanta Kecepatan Reaksi (k)

Penentuan Konversi

k = 5160,7724
k = 5160,7724
k = 150.517661
0.993400109
Pada Suhu 1000 K
Menentukan Konstanta Kecepatan Reaksi (k)

Penentuan Konversi

k = 5160,7724
k = 5160,7724
k = 214.3384992
0.995356149

Pada Suhu 1100 K


Menentukan Konstanta Kecepatan Reaksi (k)

Penentuan Konversi

k = 5160,7724
k = 5160,7724
k = 286.2210071
0.996518361

22

Pada Suhu 1200 K


Menentukan Konstanta Kecepatan Reaksi (k)

Penentuan Konversi

k = 5160,7724
k = 5160,7724
k = 364.2245977
0.997261959

Tabel Konversi vs Suhu Tinjauan Kinetika


Suhu (K)
100
200
300
400
500
600
700
800
900
1000
1100
1200

Konversi (%)
7.88079
0.0637331
11.3503672
64.4655663
89.9009898
96.2554346
98.2086921
98.9770884
99.3400109
99.5356149
99.6518361
99.7261959

Grafik Konversi vs Suhu Tinjauan Kinetika

Tinjauan Kinetika
1.2
1
konversi

0.8
0.6
0.4
0.2
0
0

200

400

600

800

Suhu (K)

23

1000

1200

1400

Suhu Optimum dapat didapatkan dari perpotongan grafik tinjauan termodinamika


dan kinetika

konversi Vs Suhu
1.2
1
tinjauan
termodina
mika

konversi

0.8
0.6
0.4

tinjauan
kinetika

0.2
0
0

200

400

600

-0.2

800

1000

1200

1400

Suhu (K)

Persen error
Suhu teoritis : 623 643 K 633 K
Suhu Praktis : 630 650 K 640 K

Konversi teoritis : 0,8 0,9


Konversi Praktis : 0,95

Pada perhitungan tinjauan kinetika, didapatkan konversi yang lebih besar daripada
konversi teoritis yang diperoleh dari referensi.
II. 6. Kondisi Operasi

24

Proses alkilasi benzena menjadi etil benzena dilakukan pada fase gas dengan
tekanan 4 atm dan suhu reaksi dijaga pada 350-370 oC atau sekitar 623K 643K.
dengan pertimbangan bahwa semakin tinggi temperatur akan menyebabkan
kecepatan reaksi bertambah cepat, namun pada temperature lebih besar akan
meningkatkan terjadinya reaksi samping.
Dengan melihat kondisi operasi tersebut maka dipilih jenis reaktor fixed bed
multi tube yang dilengkapi dengan pendingin untuk pencegah kenaikan
temperature yang terlalu tinggi dan untuk menekan terjadinya reaksi samping.
Sedangkan proses transalkilasi dijalankan pada fase cair dengan suhu 170225.3 oC atau 443 K 498,3 K dan tekanan 23 atm. Alasan pemilihan kondisi
operasi ini adalah didasrkan pada pertimbangan bahwa pada suhu rendah akan
mencegah terjadinya reaksi samping. Melihat kondisi operasi yang terjadi dalam
reaktor, maka digunakan reaktor jenis fixed bed single bed untuk menjalankan
reaksi di atas.
(Narwastu : 2010)
II. 7. Diagram Alir
.

25

26

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Kesimpulan
1. Etil benzena dimanfaatkan dalam industrimonomer stirena, dimana
selanjutnya stirena monomer digunakan sebagai bahan baku pembuatan
plastik

(polistirena),

dimanfaatkan

bahan

pewarna

dan

deterjen,

sertasebagai pelarut (solvent) dalam berbagai industri.


2. Proses pembuatan etil benzena dibedakan berdasarkan dua fase yakni fase
cair dan fase gas (Proses Alkar, Proses Mobil Badger, Proses Lumnus/
UOP, serta Proses CD-Tech.
3.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan reaksi pada proses


pembuatan etil benzena adalah temperature dan katalis.

27

DAFTAR PUSTAKA

Asriningsih dan Khoirun Nisa Dwi Atmani. Prarancangan Pabrik Etilbenzen


dengan Proses Alkar Kapasitas : 150.000 Ton/Tahun. Jurusan Teknik
Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang.
Levenspiel, O. 1957. Chemical Reaction Engineering. New York: Mc Graw Hill
Book Co.
Lim, Noni. 1999. Production Of Etilbenzena From Benzena And Etilene By
Liquid-Phase Alkylation Using Zeolite Catalysts : Aspen Model
Documentation. PEP Process Module, SRI Consulting.
Luyben, William L. 2011. Principles and Case Studies of Simultaneous Design.
John Wiley & Sons, Inc.
Sahoo, Prasanna Kumar. 2011. Production of Etilbenzena by Liquid-Phase
Benzena Alkylation. Department of Chemical Engineering National
Institute of Technology Rourkela.
Smith, J.M and M. Vannes. 2001.

Introduction to Chemical Engineering

Thermodynamics sixth ed. Mc-GrawHill Book Companies,Inc


Speight, James G. 2002. Chemical and Process Design Handbook. The McGrawHill Companies, Inc.
Srivastava, Rahul. 2009. Etil Benzena Project Report http:// www.scribd.com
/doc/ 24119 003/Etil-Benzena-Project-Report, diakses pada 16 Oktober
2014

28