Anda di halaman 1dari 3

GRASS TETANY

Grass tetani sering dikenal pula sebagai tetani hipomagnesemik, tetani laktasi, grass
staggres maupun tetani padang rumput (pasture tatani). Nama penyakit tersebut
memperlihatkan bahwa penderitanya mengalamin gangguan metabolik pada saaat sedang
laktasi dan memperoleh bahan hijauan yang mengandung kadar air tinggi (lush,succulent)
yang diperoleh dipadang rumput.
Grass tetani ditandai dengan eksitasi yang berlebihan yang bersifat neuromuskuler
dan timbul secara ,mendadak meskipun kejadiannya yang terbanayak adaalh pada sapi
pedaging yang masi menyusui anaknya dan pada sapi perah yang sedang berlaktasi ,kadangkadang kejadian juga ditemukan pada sapi-sapi yang dikandangkan terus-menerus yang
dineri pakan dengan kadar magnesium maupun kandungan energi rendah.Selain sapi sindrom
grass tetani juga sering ditemukan pada domba yang sedang bunting sarat maupun yangb
sedang menyusui.
1) PATOGENESIS
Grass Tetani ditemukan pada hewan yang secara mendadak memerlukan mineral magnesium
dalam jumlah tinggi,atau pada hewan yang memperoleh pakan yang rendah kandungan
magnesiumnyan,atau penderitanya yang mengalami secara serentak kedua faktor yang telah
disebutkan.
Rumput muda yang memperoleh cukup air dan pupuk tumbuh dengan cepat di padangana
dan biaanaya mengandung kadar magnesium rendah.Hewan-hewa yang digembalakn
dipangonan yang secara masif dipupuk dengan kalium atau nirogen,cenderung mudah
menderita grass tetany. Hewan yang bunting atau yang sedang laktasi memerlukan
magnesium dalam jumlah yang tinggi. Kadar normal magnesium di dalam serum sapi normal
adalah 2-3 mg/dl. Bila kadar mineral tersebut turun sampai kurang dari mg/dl akan terjadi
grass tetany.
Kadang-kadang kadar magnesium dalam serum penderita tidak mengalami perubahan yaitu
tetap 2-3 mg/dl. Penelitian lebih lanjut memperlihatkan bahwa kadar Mg di dalam cairan
cerebrospinal ternyata lebih pengting daripada kadar di dalam serum. Meskipun kadar
magnesium di dalam cairan cerebrospinal berada dalam keseimbangan dengan kadarnya di
dalam plasma rupanya keseimbangan tersebut tidak cukuptercapai untuk menghindarkan
kekurangan Mg di dalam sambungan neuromuskuler. Kelambatan masuknya ion Mg dari
plasma ke dalam cairan serebrospinal juga didukung dengan kenyataan apabila kepada
penderita grass tetany diberikan larutan magnesium, respon yang berlangsung relatif lebih
lambat, tidak seperti penyubtikan kalsium pada kasus milk fever. Faktor lain yang juga
berpengaruh dalam transfer ion magnesium adalah kadar kalsium di dalam seerum. Pada
seekor penderita mungkin terjadi milk fever dan grass tetany secara bersamaan. Kadangkadang gejala tetany neuromuskuler ditemukan pada sapi pedaging yang kadar kalsiumnya
sangat rendah, hingga pengobatan dengan magnesium saja tidak akan mampu memperbaiki
kondisi sapi yang demikian.
2) GEJALA GEJALA
Penderita grass tetany memperlihatkan gejala tidak tenang, tampak selalu curiga, dan otototot perifer meningkat tonusnya, kaku yang me ngarah kepada kekejangan. Kadang-kadanng
penderita bersifat beringas dan bahkan tampak liar. Penderita yang tidak mampu bangun dan
masih kelihatan normal ekspresi mukanya, pada waktu mendapatkan rangsangan, misalnya

karena didekati atau karena diikat, segera terjadi gejala klinis yang lebih berat, yang
ditunjukkan dengan usaha bangun atau menghindar secara tidak terkoordinasi sampai
timbulnya kejang neuromuskuler.
Oleh karena meningkatnya kerja otot akan terjadi kenaikan suhu tubuh sampai 400-42 oC.
Pulsus dan respirasi juga mengalami kenaikan konpensatorik. Kenaikan tonus otot polos
dapat menyebabkan diare maupun peningkatan frekuensi urinasi. Penderita yang ambruk
sternal (lateral recumbency) dapat diikuti opisthotonus dan gerak mengayuh dari kaki.
Rangsangan yang berlangsung terus-menerus hingga terjadi kejang oto yang berlangsung
lama menyebabkan kelelahan dan akhirnya kematian. Penderita yang memperlihatkan gejala
klinis berat biasanya mengalami kematian, sedangkan yang ringan mungkin dapat sembuh
secara spontan.
3) PEMERIKSAAN PATOLOGI KLINIS
Kadar magnesium kurang dari 1 mg/dl, kalsium kurang dari 7 mg/dl, dan kalium yang tinggi
di dalam serum paling banyak ditemukan dalam pemeriksaan darah penderita. Seringkali
terjadi hasil laboratorium tidak mendukung sepenuhnya, meskipun gejala klinis dan riwayat
kejadian penyakit cukup beralasan untuk menegakkan diagnosis grass tetany. Dalam hal
demikian rupanya kadar magnesium dan kalsium di dalam cairan cerebrospinal lebih
memiliki arti penting daripada di dalam serum dalam menghasilkan gejala klinis. Meskipun
demikian pemeriksaan darah tetap memiliki arti penting terutama bila grass tetany terjadi
berulang kali dalam satu kelompok sapi.
Dalam pemeriksaan patologi anatomi grass tetani yang murni tidak ditemukan lesi jaringan
yang tersifat dalam bedah bangkai. Karena gerak yang tidak terkendali waktu sakit dan
sebelumpenderita mati dapat terjadi luka abrasi pada kulit. Komplikasi yang sering
ditemukan berupa kembung rumen pnemonia aspirasi.
4) DIAGNOSA
Diagnosa di lapangan banyak didasarkan atas gejala hiperestesi sampai tetani, dan pada
riwayat dalam pemberian pakan. Hasil pemeriksaan laboratorik terhadap serum mungkin
dapat membantu dalam peneguhan diagnosis. Sebagai diagnosis banding perlu
dipertimbangkan paresis puerperalis, keracunan Pb, rabies, meningitis septis, dan ketosis
bentuk syarafi. Untuk menentukannya diperlukan anamnesi yang lengkap, penelusuran atas
kejadian penyakit, dan hasil pemeriksaan fisik, maupun pemeriksaan laboratori yang khusus
untuk penyakit-penyakit yang telah disebutkan. Hasil pengobatan dengan larutan magnesium
dapat pula digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis.
5) PROGNOSIS
Prognosis ditentukan oleh lemahnya proses tetany, derajat gejala klinis yang terlihat, dan
lamanya penderita mengalami kekurangan magnesium. Juga kecepatan pemberian obat yang
mengandung magnesium serta reaksi yang ditimbulkan oleh pendertia dapat digunakan untuk
membantu dalam menentukan prognosis.
6) TERAPI
Pengobatan ditujukan untuk memperbaiki ketimpangan ion-ion yang menyebabkan gejala
hiperestesi, serta menambahkan mineral magnesium ke dalam ransum penderita. Banyak

larutan garam yang mengandung kalsium, magnesium dan pospor yang dipersiapkan untuk
pengobatan grass tetany. Untuk mengembalikan magnesium darah ke kadar normlanya dapat
digunakan larutan MgSO4 20% dengan dosis 0, 44 mg/kg, disuntikkan secara intravena atau
subkutan. Larutan magnesium laktat 3,3 % dengan dosis 2,2 mg/kg dan magnesium glukonat
15% dengan dosis 4,4 ml/kb yang disuntikkan, dapatmenghasilkan kadar magnesium plasma
2-3 mg/dl dengan efek yang lebih lama. Larutan enemaMgCl2.6H2O sebanyak 60 gr yang
dilarutkan ke dalam 200 ml air dapat menaikkan kadar magnesium darah dalam waktu 20
menit.
Efek pengobatan biasanya terjadi dalam waktu 1 jam dalam bentuk menurunnya hiperestesi,
penderita jadi lebih tenang dan kembalinya fungsi neuromuskuler secra normal. Efek
samping dapat terjadi bila pemberian larutan magnesium diberiukan secara intravena dengan
cepat yang berupa meningkatnya debar jantung (bradikardi) dan debar jantung yang tidak
teratur. Penyuntikan intravena larutan magnesium secar lambat yang diberikan bersama
larutan kalsium dapat mengurangi efek samping terhadap jantung. Efek magnesium terhadap
pusat syaraf hingga terjadi anasthesi juga akan berkurang bila dibarengi dengan pemberian
larutan kalsium.
Koreksi mineral secara oral dapat dilakukan dengan senyawa MgO , dengan dosis 1g/45kg
pakan dicampur tetes atau suplemen protein kadang kadang senyawa MgO atau senyawa
magnesium lainnya diberikan secara top dressing kepada pakan,atau langsung diseprotkan
dalam bentuk larutan di padang rumput.
7) PENCEGAHAN
Pencegahan dilakukan dengan cara pengembalaan yang tercana atau secara rotasi, hingga sapi
tidak memperoleh tanaman muda yang mengandung air secara berlebihan bila perlu
suplementasi dengan senyawa magnesium diberikan secra langsung di padang rumput.
Garam blok yang mengandung garam dapur tetes yang dikeringkan, MgO dan tyepung biji
kapas dengan perbandingan 1:1:1:4 yang diberika secara ad libitum telah digunakan secara
efektif untuk mencegah grass tetani. Senyawa MgCl2 yang diberikan bersama tetes yang
mengndung urea juga dianjurkan diberikan ke dalam pakan di padang gembala.
http://ariputuamijaya.wordpress.com/2012/06/23/syndrom-tetany-grass-tetanywheat-pasture-poisoning-milk-tetani-dan-transit-tetani/