Anda di halaman 1dari 3

Kewaspadaan Universal bagi Tenaga Kesehatan dan Pasien

Sari Rahmawati, 1306415945


Universal Precaution atau Kewaspadaan Universal adalah penanganan yang
dilakukan tenaga kesehatan pada pasien termasuk terhadap darah dan cairan tubuh
dari pasien selama kontak berlangsung (Sumawinata, 2004). Menurut Departemen
Kesehatan RI (2003), kewaspadaan universal meliputi perlindungan individu dari
kotak dengan darah atau cairan infeksius, pengelolaan alat kesehatan, dan pengelolaan
lombah. Berdasarkan pengertian diatas, kewaspadaan universal dapat ditinjau dalam
tiga aspek, yakni :
1. Perlindungan Individu
Perlindungan individu pada universal precaution ditunjang oleh Personal
Protective Equipment (PPE), diantaranya:
a. Sarung Tangan
Sarung tangan digunakan ketika tenaga kesehatan akan melakukan kontak
dengan darah, cairan tubuh, peristiwa sekresi, ekskresi dan benda-benda
yang mempunyai potensi tempat berkumpulnya mikroorganisme. Fungsi
lain dari sarung tangan adalah sebagai benteng dari kontaminasi yang
mungkin terjadi, mengurangi mikrorganisme yang tertular dari tangan
tenaga kesehatan ke pasien (begitu juga sebaliknya), dan melindungi kulit
dari bahan kimia berbahaya. Menurut Damani (2004), terdapat dua jenis
sarung tangan sekali pakai, yakni:
1) Sarung Tangan Steril
Sarung tangan steril adalah sarung tangan sekali pakai yang digunakan
untuk prosedur aseptis dalam mencegah pasien mengalami infeksi.
2) Sarung Tangan Non-steril
Sarung tangan non-steril adalah sarung tangan yang digunakan dalam
prosedur yang melibatkan kontak dengan darah, cairan tubuh, eksresi.
Setelah menggunakan sarung tangan dalam menjalankan prosedur
perawatan, tangan wajib dicuci bersih setelah sarung tangan dilepas.
Karena mungkin saat pelaksanaan sarung tangan robek sehingga tangan
terkena kontaminasi darah atau cairan tubuh pasien.
b. Gaun Kedap Air dan Apron
Pemakaian gaun dianjurkan jika perawatan pada klien menyebabkan darah
atau cairan tubuh terpercik ke tenaga kesehatan. Menurut Damani (2004),
gaun juga berfungsi mengantisipasi berpindahnya mikroorganisme dari
baju tenaga kesehatan ke pasien. Sedangkan, apron adalah plastic tahan air

sekali pakai yang dipakai saat ada risiko baju atau seragam tenaga
kesehatan terkenan cipratan darah, cairan tubuh, sekresi, dan eksresi.
Setelah melakukan prosedur, gaun dan apron yang telah dipakai harus
dilepas sebelum tenaga kesehatan pergi ke luar ruangan. Setelah itu,
tangan harus segera dicuci setelah gaun atau apron ditempatkan pada
tempatnya.
c. Kacamata
Tidak berbeda dengan gaun kedap air, kacamata juga digunakan untuk
menjaga membrane mukosa mata dari darah atau cairan tubuh pasien yang
mungkin terpercik selama kontak atau proses klinis berlangsung (Kozier,
2009).
d. Masker
Selama aktivitas perawatan klien mungkin menimbulkan semburan atau
ciprata darah klien. Tenaga kesehatan harus memakai masker agar dapat
mencegah kontaminasi darah pada membrane mukosa mulut dan hidung.
Dalam memakai masker, masker harus dipasang sesuai prosedur. Masker
tidak boleh dipegang saat pemakaian, tidak diregangkan ke leher setelah
dipakai, lepas masker dengan melepas ikatannya (bukan dengan
memegang maskernya) (Damani, 2004).
2. Eliminasi Agen Infeksi
Eliminasi agen infeksi dilakukan untuk meminimalisasi tertularnya tenaga
kesehatan atau masyarakat oleh mikroorganisme yang masih berada pada
peralatan kesehatan. Eliminasi agen infeksi menurut DeLaune dan Ladner
(2002), yakni:
a. Cleansing
Cleansing adalah proses membersihkan alat-alat dan keperluan yang
digunakan untuk perawatan klien. Cleansing dilakukan sebelum disinfeksi
atau sterilisasi dilakukan. Dalam melaksanakan cleansing terhadap
peralatan yang digunakan , dilakukan proses mekanis layaknya mencuci
peralatan biasa menggunakan air dan sikat. Setelah dicuci, peralatan
dikeringkan dan siap masuk ke tahap disinfeksi atau sterilisasi. Perlu
diingat bahwa dalam cleansing, tubuh harus memakai sarung tangan,
masker, dan kacamata.
b. Disinfeksi
Disinfeksi adalah usaha eliminasi pathogen kecuali spora menggunakan
bahan kimia seperti alcohol, glutaraldehyde, dan natrium hipoklorit.

Disinfeksi biasa dilakukan pada linen, stetoskop, thermometer, dan


peralatan endoskopi.
c. Sterilisasi
Sterilisasi adalah usaha eliminasi seluruh mikroorganisme. Metode
sterilisasi

yang

digunakan

tergantung

tipe

kontaminasi,

jumlah

kontaminasi, dan objek yang akan disterilisasi


3. Manajemen Pembuangan Limbah Klinis (Clinical Waste Management)
Limbah klinis adalah limbah yang berasal dari praktik medis, perawatan, di
rumah sakit selama perawatan terhadap klien (Damani, 2004). Dalam
membuang limbah klinis yang berpotensi menularkan penyakit, hal-hal yang
perlu diperhatikan diantaranya:
a. Gunakan sarung tangan
b. Siapkan container atau tempat yang sesuai dengan standar yang berlaku
c. Pastikan limbah memiliki label yang sesuai
d. Hati-hati dalam membawa limbah yang akan dibuang
e. Buang limbah di tempat yang telah ditentukan
f. Cuci tangan setelah membuang limbah.
DAFTAR PUSTAKA
Damani, N., N. (2004). Manual of infection control procedures. New York:
Cambridge University Press
DeLaune S., C., & Ladner, P., K. (2002). Fundamentals of nursing: Standards &
practice. New York: Thomson Learning
Departemen Kesehatan RI. (2003). Pedoman pelaksanaan kewaspadaan universal di
pelayanan kesehatan. Jakarta: Depkes RI
Kozier, B., Erb, G., Berman, A., & Snyder, S., J. (2009). Buku ajar praktik
keperawatan klinis Kozier & Erb (Terj. Fruriolina Ariani). Jakarta: EGC
Sumawinata, N. (2004). Seranai istilah kedokteran gigi. Jakarta: EGC