Anda di halaman 1dari 6

BAB V

KASUS PT ASKRINDO

A. Gambaran Umum Kasus PT Askrindo


Berdiri tanggal 6 April 1971 berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor
1/1971 tanggal 11 Januari 1971, untuk mengemban misi dalam pemberdayaan Usaha Mikro,
Kecil dan Menengah (UMKM) guna menunjang pertumbuhan perekonomian Indonesia. Peran
PT. Askrindo (Persero) dalam pemberdayaan UMKM adalah sebagai lembaga penjamin atas
kredit yang disalurkan oleh perbankan kepada UMKM. Seiring berjalannya waktu kini PT
Askrindo tidak hanya beroperasi di bidang penjaminan kredit tetapi juga beroperasi dalam
bidang usaha Asuransi Kredit Bank, Asuransi Kredit Perdagangan, Surety Bond, dan Customs
Bond, dan Reasuransi.
Dalam menjalankan operasional bisnisnya, PT Askrindo selaku perusahaan asuransi
diperbolehkan untuk melakukan investasi guna meningkatkan nilai aset perusahaan. Jenis
investasi yang dibolehkan bagi perusahaan asuransi telah diatur oleh Bapepam. Pada praktiknya,
PT Askrindo melakukan investasi dalam bentuk repo, kontrak pengelolaan dana (KPD), obligasi
dan reksa dana. Padahal KPD dan repo tidak termasuk jenis investasi bagi Perusahaan Asuransi
bahkan repo termasuk jenis transaksi yang dilarang. PT Askrindo telah melakukan investasi
melalui KPD sejak tahun 2005 sedangkan Repo mulai dilakukan sejak tahun 2008.
Dikutip dari okezone.com, praktik KPD di Askrindo teridentifikasi oleh Bapepam pada tahun
2008 saat Bapepam memerintahkan kepada seluruh perusahaan asuransi untuk melaporkan
keberadaan investasi melalui KPD. Bapepam kemudian memerintahkan PT Askrindo untuk
menghentikan KPD tersebut dan mengeluarkan investasi KPD tersebut dari jenis investasi untuk
perhitungan kesehatan keuangan perusahaan.
Transaksi repo oleh PT Askrindo teridentifikasi pada tahun 2010 berdasarkan laporan keuangan
tahunan 2009 yang diaudit. Bapepam telah mengenakan sanksi peringatan kepada PT Askrindo
dan memintanya untuk menghentikan transaksi repo.
Selain itu, berdasarkan pemeriksaan Bapepam pada awal tahun 2011 atas laporan keuangan
Askrindo tahun 2010 (unaudited) ,PT Askrindo memiliki investasi berupa obligasi dan reksa
dana. Namun, Askrindo tidak dapat membuktikan kepemilikan beberapa obligasi dan reksa
dana.

Berdasarkan hasil pemeriksaan Bapepam terhadap PT Askrindo, praktik investasi yang


bermasalah tersebut berawal dari upaya PT Askrindo sejak tahun 2002 untuk mencegah
pembayaran klaim penjaminan(problem solving). Beberapa nasabah produk penjaminan
diperkirakan tidak mampu memenuhi kewajibannya yang kemudian dapat mengakibatkan PT
Askrindo harus membayar klaim.PT Askrindo menghindari pembayaran klaim kepada Bank
melalui mekanisme dukungan pendanaan kepada Debitur Bank.

Pada tahun 2005 BPK melarang PT ASKRINDO memberikan dukungan pendanaan kepada
debitur secara langsung.Untuk menindaklanjuti temuan BPK tersebut dan menghindari
pembayaran klaim kepada Bank, PT ASKRINDO melakukan kerjasama dengan Perusahaan
Efek (Manajer Investasi dan Perantara Pedagang Efek) dimana PT ASKRINDO seolah-olah
melakukan investasi surat berharga berkualitas baik (KPD, REPO, Reksadana, Obligasi).

B. Pembahasan Kasus PT Askrindo


Dikutip dari kontan.co.id,sengketa ini bermula ketika pada tahun 2002 PT Askrindo
melakukan kerjasama pemberian jaminan Letter of Credit (L/C) dengan Bank Mandiri
dengan nilai Rp435miliar yang tersebar ke beberapa nasabah yaitu PT Tranka Kabel, PT
Multimegah, PT Vitron, Mentari Bahakti Jaya Utama, CV Porintdo qq. Trio Sakti Mitra
Utama, Tri Kemindo Mandiri Pratama, dan Trio Sakti Mitra Abadi.
Dalam perkembangannya nasabah PT Askrindo tersebut mengalami gagal bayar. Untuk itu,
Bank Mandiri mencairkan rekening deposito yang digunakan sebagai jaminan pembiayaan
kewajiban nasabah PT Askrindo.

Namun untuk menjaga kesehatan keuangannya, PT Askrindo melakukan pre-claim treatment


dengan membeli Promissory Note (PN) PT Tranka Kabel senilai 42,7 miliar dan
memberikan dana talangan sebesar 26 miliar untuk biaya operasional. Dengan memberikan
dana ini, diharapkan usaha PT Tranka Kabel dapat bangkit dan mampu membayar
kewajibannya, namun ternyata cara ini tidak berhasil. Setelah kegagalan tersebut, PT
Askrindo kembali memberikan fasilitas berupa pembelian Medium Term Note (MTN) milik
PT Tranka Kabel sebesar Rp 89 miliar. Selain itu, PT Askrindo juga memberikan fasilitas
pinjaman sebesar Rp 140 miliar. Namun setelah diperiksa Badan Pemeriksa Keuangan tahun
2005, disimpulkan terhadap fasilitas yang telah diberikan Askrindo terdapat Rp 173 miliar
tidak didukung jaminan dan terdapat larangan untuk memberikan investasi langsung pada
korporasi lain serta nasabah.

Untuk menindaklanjuti temuan BPK dan tetap berupaya untuk mengembalikan dana klaim ke
kas PT Askrindo, PT Askrindo melakukan kerjasama dengan Perusahaan Efek (Manajer
Investasi dan Perantara Pedagang Efek). PT Askrindo mempromosikan para nasabahnya yang
gagal bayar tersebut sebagai nasabah premium yang layak sebagai pengguna dana investasi
yang ditempatkan di perusahaan manajer investasi. PT Askrindo kemudian menyalurkan dana
kepada nasabah melalui jasa manajer investasi dalam bentuk Repurchase Agreement (Repo),
Kontrak Pengelolaan Dana (KPD), obligasi, dan reksadana. Namun manajer investasi dari lima
perusahaan yakni PT Jakarta Asset Management, PT Jakarta Investment, PT Reliance Asset
Management, PT Jakarta Securities, PT Harvestindo Asset Management, dan PT Batavia malah
tidak dapat mengembalikan dana ke tersebut kepada PT Askrindo.

Selain itu, berdasarkan pemeriksaan Bapepam pada awal tahun 2011 atas laporan keuangan
Askrindo tahun 2010 (unaudited),PT Askrindo memiliki investasi berupa obligasi dan reksa
dana. Namun, Askrindo tidak dapat membuktikan kepemilikan beberapa obligasi dan reksa
dana.Tabel IV.1 merupakan rincian dari jenis investasi bermasalah PT Askrindo.

Tabel V.1
Dalam Jutaan Rupiah
No

Perusahaan Efek

Produk Investasi

(MI)

KPD

Repo

Saldo

Reksadana

Obligasi

1.

PT Harvestindo

65.000,00

15.000,00

2.

PT Reliance

54.000,00

21.500,00

17.822,96

80.000,00

93.322,96
3.

PT

Jakarta

41.000,00

132.750,00

173.750,00

6.500,00

6.500,00

20.000,00

66.115,00

86.115,00

160.000,00

195.750,00

17.822,96

66.115,00

439.687,96

Investment
4.

PT Batavia

5.

PT

Jakarta

Securities
Jumlah

Atas kasus ini, terdapat dugaan korupsi antara manajemen PT Askrindo dengan perusahaan
yang dijaminnya. Terdapat 7 (tujuh) orang terdakwa, terdiri dari Direktur Keuangan dan
Teknologi Informasi PT Askrindo, Kadiv Keuangan dan Akuntansi PT Askrindo, Direksi PT
Tranka Kabel selaku penerima aliran dana, dan 4 (empat) manajer investasi yang masingmasing telah dijatuhkan vonis.

C. Keterkaitan dengan Prinsip OECD ke Enam


Dalam prinsip OECD keenam yang ditekankan adalah tanggung jawab dewan komisaris dan
direksi. Dalam kasus ini, PT Askrindo telah melanggar beberapa poin dalam prinsip nomor 6
yang menyebabkan kerugian bagi stakeholders.

Terkait prinsip OECD nomor 6 poin A, dewan komisaris dan direksi harus bertindak
berdasarkan informasi yang sesuai, dapat dipercaya, beritikad baik demi kepentingan
perusahaan dan pemegang saham. Dan anggota dewan harus bertanggung jawab penuh secara
pribadi apabila lalai dalam menjalankan tugasnya. Dalam kasus ini, hal yang dilakukan Direksi
keuangan PT Askrindo dengan melakukan tindakan tanpa memperhatikan prinsip kehati-hatian
(duty of care). PT Askrindo berupaya untuk menghindari klaim Bank Mandiri dengan cara
memberikan pre-claim treatment dengan Promissory Notes. Padahal PN merupakan bukan
termasuk produk pasar modal terlebih lagi jenis investasi PN adalah investasi berisiko tinggi
apalagi dengan membeli dari nasabah yang telah terbukti gagal bayar. Bahkan menurut laporan
BPK RI, tidak ditemukan dokumen persetujuan Dewan Komisaris dan pemegang saham dalam
RUPS atas pembelian PN PT Tranka.
Selain itu, masih terkait poin yang sama, setelah adanya temuan BPK RI pada tahun 2005, PT
Askrindo masih melakukanpenghindaran claim kepada Bank Mandiri melalui investasi kepada
PT Jakarta Investment selaku perusahaan manajer investasi. Kali ini, PT Askrindo seolah-olah
melakukan investasi surat berharga baik kepada perusahaan manajer investasi yaitu Repurchase
Agreement (Repo), Kontrak Pengelolaan Dana (KPD), Obligasi, dan Reksadana yang dananya
akan

disalurkan

ke

debitur

bank.

Padahal

jelas

dinyatakan

pada

KMK

Nomor

424/KMK.06/2003 dan Peraturan Bapepam V.G.6 Repo dan KPD tidak masuk dalam investasi
yang dibolehkan untuk perusahaan asuransi.Selanjutnya, manajer investasi ternyata gagal
mengembalikan dana investasi PT Askrindo sehingga menyebabkan kerugian negara sebesar Rp
439 miliar.
Terkait prinsip OECD nomor 6 poin D (1), Dewan Komisaris dan Direksi PT Askrindo
seharusnya menelaah dan mengarahkan strategi perusahaan, kebijakan mengenai risiko dan
memantau belanja modal yang besar. Dalam kasus ini, transasksi KPD di Askrindo sebenarnya
sudah teridentifikasi oleh Bapepam pada tahun 2008 saat Bapepam memerintahkan kepada
seluruh perusahaan asuransi untuk melaporkan keberadaan investasi melalui KPD. Bapepam
kemudian memerintahkan PT Askrindo untuk menghentikan KPD tersebut dan mengeluarkan
investasi KPD tersebut dari jenis investasi untuk perhitungan kesehatan keuangan perusahaan.
Sedangkan untuk transaksi repo teridentifikasi pada tahun 2010 berdasarkan laporan keuangan
tahunan 2009 yang diaudit. Bapepam telah mengenakan sanksi peringatan kepada PT Askrindo
dan memintanya untuk menghentikan transaksi repo. Namun meski Dewan Komisaris telah
mengetahui investasi tersebut bermasalah dari tahun ke tahun, Dewan Komisaris tidak

menindaklanjuti perintah Bapepam dengan bertindak tegas kepada manajemen. Sehingga dapat
dikatakan bahwa investasi bermasalah ini tidak mendapat perhatian serius Dewan Komisaris
yang fungsinya sebagai pengarah.
Terkait OECD nomor 6 poin D (7), fungsi utama yang harus dimiliki oleh suatu dewan adalah
memiliki integritas dalam pelaporan akuntansi dan keuangan perusahaan termasuk audit
independen, dan sistem pengendalian yang tepat khususnya mengenai sistem manajemen resiko,
serta pengendalian keuangan dan kinerja perusahaan. Dalam kasus ini, Direktur Keuangan PT
Askrindo melakukan rekayasa laporan keuangan berupa pencatatan investasi fiktif dalam bentuk
reksadana dan obligasi.Sehingga dapat disimpulkan bahwa Direktur Keuangan tersebut tidak
memiliki intergritas dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.
Terkait dengan etika berusaha, PT Askrindo membawa PT Tranka kepada Manajer Investasi
dengan merekomendasikan PT Tranka sebagai nasabah dengan kinerja baik yang layak
mendapatkan dana investasi dari Manajer Investasi. Hal ini bertentangan dengan prinsip OECD
nomor 6 poin C yang menyatakan bahwa dewan harus menetapkan standar etika yang tinggi dan
memperhatikan kepentingan para stakeholder, dalam hal ini adalah perusahaan manajer
investasi. Standar etika yang tinggi diperlukan agar perusahaan mendapatkan kredibilitas dan
kepercayaan atas komitmen jangka panjang yang dibuat perusahaan.Dalam hal ini Direksi
Penjaminan PT Askrindo mengetahui betul bahwa PT Tranka mengalami gagal bayar jaminan
L/C sebanyak 2 (dua) kali namun masih merekomendasikan PT Tranka sebagai nasabah yang
layak. Hal ini menyebabkan pihak manajer investasi selaku stakeholders ikut mengalami
kerugian sehingga menurunkan kredibilitas PT Askrindo di mata manajer investasi.

D. Kesimpulan Kasus PT Askrindo


Dalam kasus PT Askrindo, dapat disimpulkan bahwa PT Aksrindo tidak menerapkan prinsip
OECD ke enam dengan baik. Baik Dewan Komisaris maupun Dewan Direksi tidak sepenuhnya
bertanggung jawab atas tugas dan fungsi masing-masing sehingga mengabaikan transaksi yang
sudah jelas terindikasi adanya penyimpangan. Sehingga kondisi tersebut mengakibatkan
kerugian bagi perusahaan dan stakeholders.