Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

IDENTIFIKASI LARUTAN ASAM BASA DENGAN INDIKATOR ALAMI

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Kimia Dasar


Disusun Oleh:
Adiek Sasmoko
Hasmidar
M. Wahid Ardani B
Nurhayati Yunnar

JURUSAN PETRO & OLEO KIMIA


AKADEMI KOMUNITAS BONTANG
POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA
2014

Abstrak

Indikator alami merupakan bahan alami yang dapat berubah warnanya dalam larutan
yang sifatnya berbeda, asam, basa atau netral. Indikator alami yang biasa digunakan untuk
pengujian asam basa adalah bunga bungaan, umbi, kulit buah dan daun yang berwarna.
Perubahan warna indikator bergantung pada warna jenis tanamannya, misalnya kembang
sepatu merah di dalam asam berwarna merah dan di dalam basa berwarna hijau.
Tujuannya adalah untuk mengetahui perubahan warna pada indikator alami ketika
dicampur dengan larutan asam atau basa.
Karena kami tidak diberi tugas melakukan penelitian ,maka karya ilmiah kami ini
hanya hasil dari studi pustaka. Hasil studi pustaka yang kami peroleh, indikator dari bahan
alami seperti bunga-bungaan, tidak semuanya baik digunakan sebagai indikator.Hanya
ekstrak bunga tertentu yang mempunyai warna yang mencolok yang mampu dijadikan
indikator yang baik karena perubahan warnanya mudah dianalisa.
Ekstrak bunga yang baik digunakan sebagai indikator alami sesuai dengan praktikum
yang kami lakukan adalah bunga sepatu dan kunyit karena perubahan warna pada ekstrak
bunga sepatu dan kunyit sangat kontras saat dicampuri dengan larutan asam. Sedangkan
ekstrak bunga yang kurang baik digunakan adalah ekstrak bunga tapak dara, ekstrak bunga
pacar air, ekstrak bunga bugenvil, ekstrak bunga eforbia, ekstrak bunga ungu telang dan
ekstrak bunga asoka karena tidak memiliki perubahan warna secara kontras saat dicampuri
dengan larutan asam atau basa.

ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami haturkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayahNya kepada kita semua sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini pada
waktunya. Walaupun hasilnya masih jauh dari apa yang menjadi harapan dosen. Namun
sebagai awal pembelajaran dan agar menambah spirit dalam mencari pengetahuan yang
luas dilapangan, bukan sebuah kesalahan jika kami mengucapkan kata syukur.
Terimakasih kami ucapkan kepada Dosen mata kuliah Kimia Dasar yang telah
memberikan tugas kepada kami dengan tema ini.Semoga dalam pembahasan kami ini
dapat menambah pengetahuan kita dan dapat mengaplikasikannya di kehidupan sehari hari.
Demikian, harapan kami semoga hasil pengkajian ini dapat bermanfaat bagi kita
semua. Dan menambah referensi yang baru sekaligus ilmu pengetahuan yang baru pula,
amin. Kami menyadari bahwa tugas ini belum sempurna, oleh karena itu saran dan kritik
yang membangun dari rekan-rekan pembaca sangat dibutuhkan untuk penyempurnaan
tugas ini.

Bontang, November 2014

Penyusun

iii

DAFTAR ISI
Halaman Judul.............................................................................................................................i
Abstrak....... ...........ii
Kata Pengantar.........................iii
Daftar isi........................iv
Bab I Pendahuluan.........................................1
1.1

Latar Belakang........................1

1.2

Rumusan Masalah.......................2

1.3

Tujuan Penelitian.....................2

1.4

Manfaat Penelitian......................2

Bab II Tinjauan Pustaka.................................3


2.1 Indikator Alami.. .....................3
2.2 Bunga Pacar Air.......................3
2.3 Bunga Tapak Dara............................ ...............3
2.4 Bunga Ungu Telang........... ............4
2.5 Bunga Sepatu................................................ ......4
2.6

Bunga Eforbia............................ ............5

2.7 Bunga Bugenvil........................ ..........5


2.8 Bunga Asoka................................. ..........5
2.9 Kunyit...................................... .......6
2.10 Tabel Indikator Alami.......... ..........7
Bab III Metodologi Penelitian........................8
3.1

Alat dan Bahan........................8

3.2

Prosedur Kerja.................................8

3.3

Data Pengamatan....... .................9

Bab IV Pembahasan................................................ ...........10


Bab V Penutup.....................12
5.1

Kesimpulan.............. .....12

5.2

Saran..................12

Daftar Pustaka................................v

iv

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam kehidupan sehari-hari akan ditemukan senyawa dalam tiga keadaan yaitu
asam, basa, dan netral. Ketika mencicipi rasa jeruk maka akan terasa asam karena jeruk
mengandung asam. Sedangkan ketika mencicipi sampo maka akan terasa pahit karena
sampo mengandung basa. Namun sangat tidak baik apabila untuk mengenali sifat asam
atau basa dengan mencicipinya karena mungkin saja zat tersebut mengandung racun
atau zat yang berbahaya.
Sifat asam dan basa suatu zat dapat diketahui menggunakan sebuah indikator.
Indikator yang sering digunakan antara lain kertas lakmus, fenolftalein, metil merah
dan brom timol biru. Indikator tersebut akan memberikan perubahan warna jika
ditambahkan larutan asam atau basa. Indikator ini biasanya dikenal sebagai indikator
sintetis. Dalam pembelajaran kimia khususnya materi asam dan basa indikator derajat
keasaman diperlukan untuk mengetahui pH suatu larutan.Karena itu setiap sekolah
seharusnya menyediakan indikator sintetis untuk percobaan tersebut.Tetapi pada
kenyataannya, tidak semua sekolah mampu menyediakan indikator sintetis. Oleh
karena itu diperlukan alternatif lain sehingga proses pembelajaran tetap berjalan lancar
indikator pH sintetis dapat diganti dengan alternatif lain berupa indikator pH dari
bahan-bahan alam atau tanaman.
Dengan didasari pemikiran bahwa zat warna pada tanaman merupakan senyawa
organik berwarna seperti dimiliki oleh indikator sintetis, selain itu mudah dibuat juga
murah karena bahan-bahannya mudah didapat serta menambah pengetahuan tentang
manfaat bunga tapakdara, bunga pacar air, bunga ungu telang, bunga sepatu, bunga
eforbia, bunga bugenvil, kunyit dan bunga asoka. Karakteristik bunga yang baik
digunakan sebagai indikator pH yaitu bunga yang masih segar berwarna tua digunakan
hanya mahkota bunga sedangkan benang sari dan putik tidak digunakan. Pada
pembuatan indikator cair bunga dicuci dengan air mengalir agar bersih juga
dimaksudkan agar pigmen warna bunga tidak ikut larut dalam air. Bunga yang sudah
dicuci kemudian dipotong kecil-kecil untuk memperluas permukaan bunga sehingga

proses pelarutan bunga lebih efektif. Semakin luas permukaan bunga maka semakin
banyak pigmen warna bunga yang larut pada proses pelarutan
1. 2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dijabarkan di atas, permasalahan yang akan
dibahas pada karya tulis ini adalah :
a. Bagaimana menentukan perubahan warna pada indikator alami ketika dicampur
dengan larutan asam atau basa?

1.3 Tujuan Penelitian


Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan yang akan di capai sebagai berikut :
a. Untuk mengetahui perubahan warna pada indikator alami ketika dicampur dengan
larutan asam atau basa.

1.4 Manfaat Penelitian


Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian pada studi pustaka yang kami
dapatkan di atas, dapat disebutkan beberapa manfaat penelitian dari karya tulis ini,
yaitu :
a. Bagi penulis
Mengetahui perubahan warna yang terjadi pada indikator alami ketika ditetesi
oleh larutan asam dan basa.
b. Bagi pembaca
Dapat menambah wawasan dengan mengetahui perubahan-perubahan yang
terjadi pada percobaan yang menentukan asam dan basa suatu indikator, ketika
indikator alami tersebut ditetesi oleh cuka atau air kapur.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Indikator Alami


Indikator alam merupakan bahan alam yang dapat berubah warnanya dalam larutan
yang sifatnya berbeda, asam, basa atau netral. Indikator alam yang biasa digunakan
untuk pengujian asam basa adalah bunga bungaan, umbi, kulit buah dan daun yang
berwarna. Perubahan warna indikator bergantung pada warna jenis tanamannya,
misalnya kembang sepatu merah di dalam asam berwarna merah dan di dalam basa
berwarna hijau.

2.2

Bunga Pacar Air


Bunga pacar air ini memiliki nama ilmiah Impatiens balsamina Linn. Pacar air
Merupakan terna berbatang basah, bercabang, dengan daun tunggal, bentuk lanset
memanjang pinggir bergerigi warna hijau muda tanpa daun penumpu. Bunga berwarna
cerah, ada beberapa macam warna, seperti merah, oranye, ungu, putih. Buahnya buah
kendaga, bila masak akan membuka menjadi 5 bagian yang terpilin. Biasanya ditanam
sebagai tanaman hias dengan tinggi 30 - 80 cm. Kandungan kimia bunga pacar air ini
adalah anthocyanins, cyanidin, delphinidin, pelargonidin, malvidin, kaempherol,
quercetin. Akar : cyanidin mono-glycoside.

2.3

Bunga Tapak Dara


Tapak dara ini memiliki nama ilmiah Chtarantus roseus (L.) G. Don dan banyak
dipelihara sebagai tanaman hias. Tapak dara sering dibedakan menurut jenis bunganya,
yaitu putih dan merah. Tumbuhan semak tegak yang dapat mencapai ketinggian batang
sampai 100 cm ini, sebenarnya merupakan tumbuhan liar yang biasa tumbuh subur di
padang atau di pedesaan beriklim tropis. Tapak dara memiliki batang yang berbentuk
bulat dengan diameter berukuran kecil, berkayu, beruas dan bercabang serta berambut.
Daunnya berbentuk bulat telur, berwarna hijau dan diklasifikasikan berdaun tunggal.
Bunganya yang indah menyerupai terompet dengan permukaan berbulu halus. Tapak
dara juga memiliki rumah biji yang berbentuk silindris menggantung pada batang.
3

Penyebaran tumbuhan ini melalui biji. Dari akar, batang, daun hingga bunga tapak dara
mengandung vinkristin, vinrosidin, vinblastin dan vinlouresin merupakan kandungan
komposisi zat alkaloid dari tapak dara.

2.4

Bunga Ungu Telang


Bunga Ungu Telang ini memiliki nama ilmiah Clitoria ternatea L. Tumbuhan ini
hidup di semak, menjalar, panjang 3-5 m. Batang: membelit, masif, permukaan beralur,
hijau. Daunnya majemuk, menyirip, lonjong, tepi rata, ujung tumpul, pangkal
meruncing, panjang 4-9 cm, lebar 2-4 cm, tangkai silindris, panjang 4-8 cm,
pertulangan menyirip, permukaan berbulu, hijau. Bunganya majemuk, bentuk tandan,
di ketiak daun, tangkai silindris, berwarna hijau, kelopak bentuk corong, panjang 1,52,5 cm, hijau kekuningan, tangkai benang sari berlekatan membentuk tabung, putih,
kepala sari bulat, kuning, tangkai putik silindris, kepala putik bulat, hijau, mahkota
bentuk kupu-kupu, ungu. Buah berbentuk polong, panjang 7-14 cm, bertangkai pendek,
masih muda hijau setelah tua hitam. Bijinya berbentuk ginjal, masih muda hijau setelah
tua coklat. Akarnya tunggang, putih kotor. Tumbuhan ini mengandung saponin,
flavonoid, alkaloid, caoksalat, dan sulfur. Pada daun terdapat unsur kaempferol-3glukosida, dan triterpenoid. Pada bunga terkandung delphinidi 3,3,5 dan triglukoside
fenol sedangkan akarnya bisa memabukan.

2.5

Bunga Sepatu
Kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.) adalah tanaman semak suku
Malvaceae yang berasal dari Asia Timur dan banyak ditanam sebagai tanaman hias di
daerah tropis dan subtropis. Bunga besar, berwarna merah dan tidak berbau. Bunga dari
berbagai kultivar dan hibrida bisa berupa bunga tunggal (daun mahkota selapis) atau
bunga ganda (daun mahkota berlapis) yang berwarna putih hingga kuning, oranye
hingga merah tua atau merah jambu. Bunga terdiri dari 5 helai daun kelopak yang
dilindungi oleh kelopak tambahan (epicalyx) sehingga terlihat seperti dua lapis kelopak
bunga. Mahkota bunga terdiri dari 5 lembar atau lebih jika merupakan hibrida. Tangkai
putik berbentuk silinder panjang dikelilingi tangkai sari berbentuk oval yang
bertaburan serbuk sari. Biji terdapat di dalam buah berbentuk kapsul berbilik lima.
Kembang sepatu ini memiliki rasa manis dan bersifat netral. Bahan kimia yang
terkandung dalam daun kembang sepatu di antaranya taraxeryl acetat.Selain itu, bunga
kembang sepatu mengandung cyanidin diglucosid, hibisetin, zat pahit, dan lendir.
4

2.6

Bunga Eforbia
Eforbia adalah tanaman dengan batang berduri dan bergetah, dengan bunga yang
menyembul dari ketiak daun berupa gerombol bunga. Sebagian dari jenis euphorbia
tumbuh menyemak, tetapi ada juga jenis-jenis yang tumbuh tinggi dan besar. Bunga
euphorbia yang sempurna selalu berkelipatan 8. Euphorbia dikenal juga sebagai bunga
delapan dewa. Batang euphorbia tidak berkayu, tetapi jika tumbuh membesar akan
mengeras. Bentuk batangnya ada yang bulat, ada pula yang bersudut. Batang ini
ditumbuhi duri, ada yang berduri tunggal, ganda, dan duri yang berkelompok. Daun
yang sehat agak tebal, dengan permukaan halus, dan tulang daun yang menonjol.
Bentuk daun ada yang berujung lancip, oval, ada juga yang membulat, dan ada pula
yang berbentuk hati. Euphorbia juga ada yang berupa species, ada juga yang varietas
(biasa disebut jenis hibrida atau hasil persilangan). Euphorbia berkerabat dekat dengan
kastuba, sehingga euphorbia juga adalah jenis tanaman yang peka terhadap cahaya
pada malam hari. Adanya cahaya malam hari menjadikan tanaman ini tidak mau
berbunga, tetapi akan mempercepat atau memacu tumbuhnya tunas samping.

2.7

Bunga Bugenvil
Kembang kertas atau populer juga dengan nama bugenvil (pengucapan bahasa
Inggris: bougainville; nama ilmiah: Bougainvillea, terutama B. glabra) merupakan
tanaman hias populer. Bentuknya adalah pohon kecil yang sukar tumbuh tegak.
Keindahannya berasal dari seludang bunganya yang berwarna cerah dan menarik
perhatian karena tumbuh dengan rimbunnya. Seludang bunga ini kerap dianggap
sebagai bagian bunga, walaupun bunganya yang benar adalah bunga kecil yang
terlindung oleh seludang. Tanaman bunga kertas atau bougainvillea ini mempunyai
bagian tanaman yang berwarna-warni. Oleh karena itu, tanaman bougainvillea menjadi
tanaman hias yang sangat populer karena kecantikkan warnanya dan cara merawatnya
yang mudah.

2.8

Bunga Asoka
Bunga Asoka memiliki nama ilmiah Asupala. Bunga Asoka merupakan salah satu
pohon suci di India. Bisa ditemukan di seluruh wilayah India. Bunga ini juga bisa
ditemui di banyak tempat di Indonesia. Bunganya memiliki bermacam-macam warna
diantaranya merah, oranye, dan kuning. Banyak disukai sebagai tanaman hias karena
5

daunnya bisa dibentuk dan bunganya indah. Dokumen sejarah menyatakan bahwa
Asoka mengandung hematoksilin. Hasil analisis terbaru menunjukkan bahwa kulit
kayu kering Asoka yang dihaluskan mengandung cukup banyak tannin dan zat organik
yang mengandung besi. Asoka tidak mengandung sifat alkaloid aktif maupun minyak
atsiri. Kulit kayunya mengandung sejumlah tanin dan catachin.

2.9

Kunyit
Kunyit atau kunir, (Curcuma longa Linn. syn.Curcuma domestica Val.), adalah
termasuk salah satu tanaman rempah dan obat asli dari wilayah Asia Tenggara.
Tanaman ini kemudian mengalami penyebaran ke daerah Malaysia, Indonesia,
Australia bahkan Afrika. Hampir setiap orang Indonesia dan India serta bangsa Asia
umumnya pernah mengonsumsi tanaman rempah ini, baik sebagai pelengkap bumbu
masakan, jamu atau untuk menjaga kesehatan dan kecantikan. Dalam bahasa Banjar
kunyit atau kunir ini dinamakan Janar. Kunyit mengandung senyawa yang berkhasiat
obat, yang disebut kurkuminoid yang terdiri dari kurkumin , desmetoksikumin sebanyak
10% dan bisdesmetoksikurkumin sebanyak 1-5% dan zat- zat bermanfaat lainnya
seperti minyak atsiri yang terdiri dari Keton sesquiterpen, turmeron, tumeon 60%,
Zingiberen 25%, felandren , sabinen , borneol dan sineil. Kunyit juga mengandung
Lemak sebanyak 1 -3%, Karbohidrat sebanyak 3%, Protein 30%, Pati 8%, Vitamin C
45-55%, dan garam-garam mineral, yaitu zat besi, fosfor, dan kalsium.

2.10 Tabel Perubahan Warna dengan Indikator Alami

Sebelum
Warna Bunga

Sesudah

Nama

Warna

Bunga

Bunga

Air Warna

Air Warna Air Bunga +

Bunga + Asam Air Kapur


Asetat

Merah

Kembang

Ungu muda

Merah

Hijau tua

Kuning

Emas muda

Emas tua

sepatu
Kuning

Terompet

keemasan
Ungu

Anggrek

Ungu tua

Pink tua

Hijau kemerahan

Merah

Asoka

Coklat muda

Oranye muda

Coklat

Kuning

Kunyit

Oranye

Oranye cerah

Coklat kehitaman

Ungu

Bougenville

Pink tua

Pink muda

Coklat teh

Pink

Euphorbia

Pink keputih- Pink muda

Hijau lumut

putihan
Merah

Kamboja

Coklat tua

Coklat oranye

Tabel 2.1

Coklat kehitaman

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Alat dan Bahan


Bahan :
a.

Ekstrak bunga

b.

Ekstrak bunga

c.

Ekstrak bunga

d.

Ekstrak bunga

e.

Air

f.

Larutan asam (cuka)

g.

Larutan basa (air kapur)

Alat :
a.

Pipet

b. Plat tetes
c.

Gelas ukur

d. Lumpang dan alu

3.2

Prosedur Kerja
1. Haluskan kelopak bunga hingga ekstraknya keluar
2. Campur ekstrak bunga dengan air.
3. Ambil beberapa tetes dari ekstrak bunga menggunakan pipet. Kemudian
meletakkannya di piring tempat percobaan.
4. Ulangii langkah no.1-3 untuk ekstrak bunga atau daun lain.
5. Setelah semua ekstrak telah diletakkan di plat tetes, kemudian teteskan beberapa
tetes larutan asam dan beberapa tetes larutan basa di tempat yang berbeda.
6. Catat dan tulis perubahan-perubahan warna yang terjadi serta pengamatan lainnya.

3.3

No

Data Pengamatan

Warna Ekstrak

Nama Bahan
Asam

Asli

Basa

Bunga Pacar Air

Merah Jambu

Ungu Pekat

Kuning Pekat

Bunga Tapak Dara

Merah Muda

Biru Muda

Kuning

Bunga Ungu Teleng

Merah bella

Biru

Hijau pekat

Bunga Sepatu

Merah

Ungu

Hijau Bening

Bunga Evorbia

Pink Muda

Putih

Hijau pekat

Transparan

muda

Bunga Bugenvil

Pink Pekat

Pink

Hijau Bening

Kunyit

Orange

Merah

Bunga Asoka

Kuning
Transparan
Merah Bata

Tabel 3.1

Coklat Bening

Hijau Pekat
Tua

BAB IV
PEMBAHASAN

Pada pembuatan indikator alami (ekstrak bunga) dimana bunga dicuci dengan air
mengalir agar bersih juga dimaksudkan agar pigmen warna bunga tidak ikut larut
dalam air. Bunga yang sudah dicuci kemudian dipotong kecil-kecil untuk memperluas
permukaan bunga sehingga proses pelarutan bunga lebih efektif. Semakin luas
permukaan bunga maka semakin banyak pigmen warna bunga yang larut pada proses
pelarutan. Pada proses pemotongan bunga tidak dicincang melainkan dipotong kecilkecil. Seperti pada percobaan yang telah di lakukan memperoleh hasil sebagai berikut :
1) Ekstrak Bunga Pacar Air
Sari bunga pacar air memiliki warna ungu pekat, setelah di tetesi larutan asam
menjadi merah jambu dan setelah di tetesi larutan basa menjadi kuning pekat. Hal
ini menunjukkan bahwa bunga pacar air sesuai dengan sifat dari larutan asam dan
basa.
2) Ekstrak Bunga Tapak Dara
Sari bunga tapak dara memiliki warna biru muda, setelah di tetesi larutan asam
menjadi merah muda dan setelah di tetesi larutan basa menjadi kuning. Hal ini
menunjukkan bahwa bunga tapak dara sesuai dengan sifat dari asam.
3) Ekstrak Bunga Ungu Telang
Sari bunga ungu telang memiliki warna biru, setelah di tetesi larutan asam
menjadi merah bella dan setelah di tetesi larutan basa menjadi hijau pekat. Hal ini
menunjukkan bahwa bunga ungu telang sesuai dengan sifat dari asam.
4) Ekstrak Bunga Sepatu
Sari bunga ungu sepatu memiliki warna ungu, setelah di tetesi larutan asam
menjadi merah dan setelah di tetesi larutan basa menjadi hijau bening. Hal ini
menunjukkan bahwa bunga sepatu sesuai dengan sifat dari asam.
5) Ekstrak Bunga Eforbia
Sari bunga ungu eforbia memiliki warna putih transparan, setelah di tetesi
larutan asam menjadi pink muda dan setelah di tetesi larutan basa menjadi hijau
pekat muda. Hal ini menunjukkan bahwa bunga eforbia sesuai dengan sifat dari
asam dan basa.
10

6) Ekstrak Bunga Bugenvil


Sari bunga ungu bugenvil memiliki warna pink , setelah di tetesi larutan asam
menjadi pink pekat dan setelah di tetesi larutan basa menjadi hijau bening. Hal ini
menunjukkan bahwa bunga bugenvil sesuai dengan sifat dari asam.
7) Ekstrak Kunyit
Sari kunyit memiliki warna orange, setelah di tetesi larutan asam menjadi
kuning transparan

dan setelah di tetesi larutan basa menjadi merah. Hal ini

menunjukkan bahwa kunyit sesuai dengan sifat asam dan basa.


8) Ekstrak Bunga Asoka
Sari bunga asoka memiliki warna coklat bening, setelah di tetesi larutan asam
menjadi merah bata dan setelah di tetesi larutan basa menjadi hijau pekat tua. Hal
ini menunjukkan bahwa bunga asoka sesuai dengan sifat dari asam.

11

BAB V
PENUTUP

5.1

Kesimpulan
Berdasarkan studi pustaka yang kami dapatkan bahwa, menurut hasil praktikum
yang dilakukan dengan menggunakan bahan indikator alami, ditemukan bahan
alternatif dalam menggunakan larutan indikator sebagai penentu pH larutan. Selain
bahannya mudah ditemukan juga sangat ramah lingkungan karena tidak menggunakan
bahan kimia yang berbahaya.
Indikator dari bahan alami seperti bunga-bungaan tidak semuanya baik digunakan
sebagai indikator.Hanya ekstrak bunga tertentu yang mempunyai warna yang mencolok
yang mampu dijadikan indikator yang baik karena perubahan warnanya mudah
dianalisa.
Ekstrak bunga yang baik digunakan sebagai indikator alami sesuai dengan
praktikum yang kami lakukan adalah bunga sepatu dan kunyit karena perubahan warna
pada ekstrak bunga sepatu dan kunyit sangat kontras saat dicampuri dengan larutan
asam. Sedangkan ekstrak bunga yang kurang baik digunakan adalah ekstrak bunga
tapak dara, ekstrak bunga pacar air, ekstrak bunga bugenvil, ekstrak bunga eforbia,
ekstrak bunga ungu telang dan ekstrak bunga asoka karena tidak memiliki perubahan
warna secara kontras saat dicampuri dengan larutan asam atau basa.

5.2

Saran
Setelah melakukan praktikum, sebaiknya peralatan yang digunakan dibersihkan
kembali dan disimpan ditempat semula agar tidak mendatangkan dampak buruk yang
tidak terduga dan pada saat peralatan tersebut akan digunakan kembali maka
diharapkan tak ada kotoran yang masih melekat pada peralatan tersebut karena akan
memperhambat proses penelitian berikutnya.

12

DAFTAR PUSTAKA

http://www.zakapedia.com/2013/02/cara-menentukan-asam-basa-dan-garam.html.

Diakses

pada tanggal 29 Oktober 2014


http://rumputobat.blogspot.com/2012/11/tanaman-obat-pacar-air.html. Diakses pada tanggal
29 Oktober 2014
http://rumputobat.blogspot.com/2013/01/tanaman-obat-tapak-dara.html. Diakses pada tanggal
29 Oktober 2014
http://bataviareload.wordpress.com/2012/03/15/kembang-telang/. Diakses pada tanggal 29
Oktober 2014
http://id.wikipedia.org/wiki/Kembang_Sepatu. Diakses pada tanggal 29 Oktober 2014
http://www.togasehat.com/2012/02/khasiat-bunga-sepatu.html. Diakses pada tanggal 29
Oktober 2014
http://tamanku.com/euphorbia-tanaman-asli-madagaskar/. Diakses pada tanggal 29 Oktober
2014
http://rianiflower.wordpress.com/bunga-bougenville/. Diakses pada tanggal 29 Oktober 2014
http://id.wikipedia.org/wiki/Kunyit. Diakses pada tanggal 29 Oktober 2014
http://www.scribd.com/doc/55850911/Manfaat-Bunga-Asoka. Diakses pada tanggal 29
Oktober 2014
http://franfiscompanyandindustries.blogspot.com/2012/10/larutan-asam-basa-dengan
indikator-alami.html. Diakses pada tanggal 29 Oktober 2014.
http://srielfyra.blogspot.com/2013/02/makalah-asam-basa-indikator-alami_2918.html.
Diakses pada tanggal 29 Oktober 2014.
http://titacassie.blogspot.com/2011/10/indikator-asam-basa-alami.html. Diakses pada tanggal
29 Oktober 2014.

Anda mungkin juga menyukai