Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH KESEHATAN REPRODUKSI

PELECEHAN SEKSUAL
Dosen Pengajar : Nanik Setiyawati, SST

Oleh:
1.
2.
3.
4.

ARLINA AZKA
CHUSNUL KHOTIMAH
JATI SETYARINI
YUNI WULANSARI

P07124112047
P07124112050
P07124112058
P07124112078

KELOMPOK 2

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA
2013
1

LEMBAR PENGESAHAN

Telah disahkan/disetujui Makalah Kesehatan Reproduksi Pelecehan Seksual sebagai


pemenuhan tugas mata kuliah Kesehatan Reproduksi.
Tanggal

April 2013

Pembimbing : Nanik Setiyawati, SST.

Yogyakarta, 11 April 2013

Mengetahui,

Nanik Setiyawati, SST.


NIP: 198010282006042002

KATA PENGANTAR
2

Bismillah, puji syukur penyusun panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan
kesempatan waktu dan sehat bagi penyusun untuk menyelesaikan makalah ini. Shalawat serta
salam juga penyusun panjatkan untuk Nabi Muhammad SAW sebagai teladan dan inspirator
utama, semoga kesejahteraan serta syafaat senantiasa tercurah bagi sahabat dan seluruh
pengikutnya.
Terselesaikannya penulisan makalah ini tidak luput dari bantuan banyak pihak. Untuk
itulah penulis menyampaikan terimakasih kepada :
1. Ketua Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Heni Puji Wahyuningsih,
M.Keb.
2. Dosen pengajar mata kuliah Kesehatan Reproduksi Yuliasti Eka, SST, MPH.
3. Dosen Pembimbing kami, Nanik Setiyawati, SST.
4. Kedua orang tua kami, atas segala cinta dukungannya.
5. Dan seluruh pihak yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu.
Demikian makalah ini kami ajukan. Tiada gading yang tak retak, demikian pula apa
yan terdapat dalam makalah ini. Untuk itu penyusun mengaharapkan kritik dan saran yang
membangun dari pembaca demi perbaikan makalah ini. Semoga makalah ini dapat berguna
bagi masyarakat Indonesia, semoga dapat memberikan manfaat bagi agama, bagi penulis
sendiri, bagi dunia pendidikan Indonesia, bagi seluruh masyarakat dan bagi Negara kita,
Indonesia tercinta. Amin.

Yogyakarta, 11 April 2013


Penulis

DAFTAR ISI

Halaman Judul .................................................................................................................... 1


Lembar Pengesahan ............................................................................................................ 2
Kata Pengantar .................................................................................................................... 3
Daftar Isi ............................................................................................................................. 4
Isi
A. Pengertian Pelecehan Seksual ................................................................................. 5
B. Penyebab Pelecehan Seksual .................................................................................. 7
C...Gambaran Pelecehan Seksual ................................................................................. 7
D. Permasalahan Pelecehan Seksual berkaitan dengan Kesehatan Reproduksi .......... 8
E. Penanganan ............................................................................................................. 9
F. Kasus Nyata Pelecehan Seksual .............................................................................10
G. Pembahasan Kasus ..................................................................................................12
Kesimpulan .........................................................................................................................13
Daftar Pustaka .....................................................................................................................15

ISI

A. Pengertian Pelecehan Seksual


4

1. Pelecehan
Kata pelecahan berasal dari kata leceh yang mengalami perkembangan
makna. Semula kata leceh berarti (1) meleleh dan melekat pada tempat yang
dilalui (seperti lilin cair, air gula pada bibir) (Alwi dkk; 2002: 650). Namun, kata
itu mengalami perkembangan makna. Makna aslinya sangat jarang kita temukan.
Kata leceh lazim dipahami dalam makna kiasannya, yaitu (2) remeh, tidak
berharga; (3) rendah sekali mutunya; (4) buruk kelakuan; hina.
Dalam konteks ini pelecehan adalah segala hal yang merendahkan harga diri
atau menghinakan orang lain dari segi seksual. Pelecehan dalam makna ini
termasuk mencolek atau memegang anggota badan perempuan yang berakibat
dirinya merasa terhina, apalagi penyiksaan, pemerkosaan, dan biadab lain. dengan
kata lain, pelecehan merupakan tindakan tidak manusiawi. (Ghafar; 2007)
2. Seksual
Defenisi seksualitas yang dihasilkan dari Konferensi APNET (Asia Pasific
Network For Social Health) di Cebu, Filipina 1996 mengatakan seksualitas adalah
ekpresi seksual seseorang yang secara sosial dianggap dapat diterima serta
mengandung aspek-aspek kepribadian yang luas dan mendalam.
Seksualitas merupakan gabungan dari perasaan dan perilaku seseorang yang
tidak hanya didasarkan pada ciri seks secara biologis, tetapi juga merupakan suatu
aspek kehidupan manusia yang tidak dapat dipisahkan dari aspek kehidupan yang
lain (Semaoen, 2000).
3. Pelecehan Seksual
Pelecehan seksual adalah bentuk perilaku yang mengandung muatan seksual.
Perilaku itu dilakukan seseorang atau sejimlah orang,yang tidak disukai dan tidak
diharapkan oleh orang yang menjadi sasaran. Perilaku tersebut menimbulkan
akibat negatif seperti rasa malu, tersinggung, terhina, marah, kehilangan harga
diri, kehilangan kesucian dan sebagaianya. (Gayatri; 2007). Pelecehan seksual
adalah segala bentuk perilaku maupun perkataaan pemaksaan seksual yang
berefek merendahkan orang yang menjadi sasaran (Yani; 2009).

Pelecehan seksual bisa terjadi dimana saja dan kapan saja, seperti di bus,
pabrik, supermaket, bioskop, kantor, hotel, trotoar, baik siang maupun malam.
Pelecahan seksual ditempat kerja seringkali disertai dengan janji imbalan
pekerjaan atau kenaikan jabatan. Bahkan bisa disertai ancaman, baik secara
terang-terangan maupun tidak. Kalau janji atau ajakan tidak diterima bisa
kehilangan pekerjaan, tidak dipromosikan atau dimutasi. Pelecehan seksual bisa
juga terjadi tanpa ada janji atau ancaman namun dapat membuat tempat kerja
menjadi tidak tenang, ada permusuhan, penuh tekanan (Anonim, 2008)
Pemaksaan berhubungan seksual dengan iming-iming atau ancaman kekerasan
atau ancaman lainnya agar korban bersedia melakukan hubungan seksual, dan
sebagainya. Perkosaan adalah pelecehan seksual paling ekstrem (Anonim, 2008).
4. Bentuk Pelecehan Seksual
Meski berbagai kalangan berbeda pendapat dan pandangan mengenai
pelecehan seksual, namun secara umum kriteria pelecehan seksual yang dapat
diterima akal sehat, antara lain memiliki bentuk-bentuk pelecehan seksual seperti :
a.
Main mata atau pandangan yang menyapu tubuh, biasanya dari atas
b.
c.
d.

kebawah bak mata keranjang penuh nafsu.


Siulan nakal dari orang yang dikenal atau tidak dikenal.
Bahasa tubuh yang dirasakan melecehkan, merendahkan dan menghina.
Komentar yang berkonotasi seks. Atau kata-kata yang melecehkan harga

e.

diri, nama baik, reputasi atau pencemaran nama baik.


Mengungkapkan gurauan-gurauan bernada porno (humor porno) atau

f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.
n.
o.
p.

lelucon-lelucon cabul.
Bisikan bernada seksual.
Menggoda dengan ungkapan-ungkapan bernada penuh hasrat.
Komentar/perlakuan negatif yang berdasar pada gender.
Perilaku meraba-raba tubuh korban dengan tujuan seksual.
Cubitan, colekan, tepukan atau sentuhan di bagian tubuh tertentu.
Meraba tubuh atau bagian tubuh sensitif.
Menyentuh tangan ke paha.
Menyentuh tangan dengan nafsu seksual pada wanita
Memegang lutut tanpa alasan yang jelas
Menyenderkan tubuh ke wanita
Memegang tubuh, atau bagian tubuh lain dan dirasakan sangat tidak

q.
r.
s.
t.
u.
v.

nyaman bagi korban.


Menepuk-nepuk bokong perempuan
Berusaha mencium atau mengajak berhubungan seksual.
Mencuri cium dan kabur
Gerakan tertentu atau isyarat yang bersifat seksual
Ajakan berkencan dengan iming-iming
Ajakan melakukan hubungan seksual
6

B. Penyebab Pelecehan Seksual


Pelecehan seksual dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu faktor internal
dan eksternal. Yang termasuk faktor internal misalnya si wanita memakai pakaian
yang memperlihatkan bagian tubuhnya (seperti: rok mini, tank top, baju ketat)
atau bertindak yang menyebabkan lawan jenisnya terangsang sehingga memicu
timbulnya pelecehan seksual. Seseorang melakukan pelecehan seksual juga dapat
disebabkan karena orang tersebut pernah mengalami pelecehan seksual.
Pendidikan juga dapat menjadi penyebab terjadinya pelecehan seksual karena
pendidikan mempengaruhi sikap dan tingkah laku manusia (Notoatmodjo, 2005).
Yang termasuk faktor eksternal misalnya teknologi. Sekarang ini teknologi
berkembang dengan sangat pesat dan memungkinkan terjadinya penyalahgunaan
teknologi tersebut untuk mengakses informasi yang membuat masyarakat menjadi
jahat. Misalnya mengakses informasi yang mengandung unsur pornografi di
dalamnya.

C. Gambaran Pelecehan Seksual


Menurut data WHO 2006 ditemukan adanya seorang perempuan dilecehkan,
diperkosa dan dipukuli setap hari di seluruh dunia. Paling tidak setengah dari
penduduk dunia berjenis kelamin perempuan telah mengalami kekerasan secara
fisik. Studi tentang kekerasan terhadap perempuan yang dilakukan organisasi ini
di 10 negara (Bangladesh, Brazil, Eth iophia, Jepang, Namibia, Peru, Samoa,
Serbia dan Montenegro, Thailand dan Tanzania) menunjukan bahwa kekerasan
dalam rumah tangga yang dialami perempuan lebih sering dilakukan oleh orang
-orang terdekat, misalnya suami, pacar, kenalan dekat. Demikian pula halnya
dalam kasus pelecehan seksual dan pemerkosaan, orang-orang di sekitar
perempuan (memangsa) mereka. Sebanyak 24.000 perempuan diwawancarai dan
didengarkan keluhan mereka, 20% diantara mereka mengatakan bahwa kekerasan
yang mereka alami tidak pernah di ceritakan kepada siapapun karena malu, tabu
dan takut. Sebanyak 4% hingga 12% pernah mengalami penonjokan dan
penendangan di perut perempuan. (Ruwaida; 2012)

Hasil dokumentasi Komnas Perempuan di Indonesia sejak tahun 1998 hingga


2010 menunjukkan hampir sepertiga kasus kekerasan terhadap perempuan adalah
kasus kekerasan seksual, yaitu 91.311 kasus dari total kasus 295.836 kasus
kekerasan terhadap perempuan. Dari 91.311 total kasus kekerasan seksual, hanya
8.326 kasus yang datanya terpilah. Sementara sisanya 82.985 kasus adalah
gabungan dari kasus perkosaan, pelecehan seksual dan eksploitasi seksual. Kasus
terbanyak adalah perkosaan yaitu 4.391 kasus. Kasus terbanyak kedua adalah
perdagangan perempuan untuk tujuan seksual (1.359) dan pelecehan seksual
(1.049). (Anonim: 2011)
D. Permasalahan Pelecehan Seksual Berkaitan dengan Kesehatan Reproduksi
a. Anak-anak
1. Psikologis
Efek kekerasan seksual terhadap anak antara lain depresi, gangguan
stres pascatrauma, kegelisahan, kecenderungan untuk menjadi korban lebih
lanjut pada masa dewasa, dan cedera fisik untuk anak di antara masalah
lainnya. Pelecehan seksual oleh anggota keluarga adalah bentuk inses, dan
dapat

menghasilkan

dampak

yang

lebih

serius

dan trauma

psikologis jangka panjang, terutama dalam kasus inses orangtua.


2. Kesehatan Reproduksi
Cedera akibat pelecehan seksual tergantung pada umur, ukuran anak,
dan tingkat kekuatan yang digunakan. pelecehan seksual anak dapat
menyebabkan luka internal, pendarahan, infeksi dan penyakit menular
seksual. Tergantung pada umur anak, karena kurangnya cairan vagina yang
cukup, kemungkinan infeksi lebih tinggi. Vaginitis juga telah dilaporkan.
3. Kerusakan Neurologis
Penelitian telah menunjukkan bahwa stres traumatis, termasuk stres
yang disebabkan oleh pelecehan seksual menyebabkan perubahan penting
dalam fungsi dan perkembangan otak
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pelecehan seksual anak yang
parah mungkin memiliki efek yang merusak pada perkembangan otak. Ito
et al. (1998) menemukan "perbedaan besaran otak sebelah kiri dan kanan
secara asimetris dan otak kiri lebih besar terjadi pada subyek yang
mengalami pelecehan;" Teicher et al. (1993) menemukan bahwa
kemungkinan peningkatan "gejala seperti epilepsi lobus temporal" pada
subyek yang mengalami pelecehan; Anderson et all. (2002) mencatat
8

perbedaan relaksasi yang tidak normal sewaktu pemeriksaan NMR


(Nuclear magnetic resonance) cerebellar vermis pada otak orang dewasa
yang mengalami pelecehan seksual masa kecil. Teicher et al. (1993)
menemukan bahwa anak pelecehan seksual dapat dikaitkan dengan
berkurangnya luas corpus callosum; berbagai studi telah menemukan
hubungan berkurangnya volume dari hippocampus kiri dengan pelecehan
seksual anak; dan Ito et al. (1993) menemukan kelainan elektrofisiologi
meningkat pada anak-anak mengalami pelecehan seksual.
Beberapa studi menunjukkan bahwa pelecehan seksual atau fisik pada
anak-anak

dapat

mengarah

pada

eksitasi

berlebihan

dari

perkembangan sistem limbikal. Teicher et. (1993) menggunakan "Sistem


limbik Checklist-33" untuk mengukur gejala epilepsi lobus temporal ictal
seperti pada 253 orang dewasa. Laporan tentang pelecehan seksual anak
dikaitkan dengan peningkatan 49% menjadi skor LSCL-33, 11% lebih
tinggi dibandingkan dengan kenaikan terkait kekerasan fisik yang
dilaporkan sendiri. Laporan dari kedua kekerasan yaitu kekerasan fisik dan
seksual dikaitkan dengan peningkatan sebesar 113%. Korban laki-laki dan
perempuan sama-sama terpengaruh.
Navalta et al. (2006) menemukan bahwa dari Scholastic Aptitude
Test matematika yang dilaporkan sendiri dari puluhan sampel perempuan
dengan riwayat pelecehan seksual anak-anak berulang-ulang secara
signifikan mendapatkan nilai matematika yang lebih rendah daripada yang
dilaporkan sendiri dengan menggunakan nilai SAT dengan sampel yang
tidak pernah dilecehkan. Karena subyek pelecehan verbal mendapatkan
nilai SAT yang tinggi, mereka berhipotesis bahwa nilai matematika yang
rendah dari SAT bisa "berasal dari sebuah cacat dalam integrasi belahan
otak." Mereka juga menemukan hubungan kuat antara gangguan memori
jangka pendek untuk semua kategori diuji (verbal, visual, dan global) dan
durasi dari pelecehan.
b. Dewasa
1. Depresi
Korban pelecehan seksual dapat mengalami depresi untuk jangka
panjang", kata Blackstone. Dalam sebuah penelitian terbaru terhadap 1.000
orang remaja, Blackstone menemukan bahwa seseorang yang dilecehkan
9

secara seksual pada usia remaja dan usia awal 20-an dapat mengalami
gejala depresi saat berusia 30-an tahun.
Korban pelecehan seksual kebanyakan memiliki perasaan ragu-ragu
terhadap diri sendiri. Pada beberapa orang, keraguan diri berubah menjadi
tindakan

menyalahkan

diri

sendiri,"

kata

Blackstone.

Tindakan

menyalahkan diri sendiri akan memiliki efek negatif bagi kesehatan


mental, termasuk memicu depresi.
2. Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD)
Banyak penelitian telah menemukan hubungan antara pelecehan seksual
dan gejala pasca-traumatic stress disorder (PTSD), seperti mengalami
trauma dan menghindari orang atau hal-hal yang mengingatkan korban
pada peristiwa pelecehan.
Menurut sebuah penelitian tahun 2009 yang dimuat di jurnal Law and
Human Behavior, perempuan di lingkungan militer yang dilecehkan secara
seksual sampai 4 kali lebih berisiko mengalami PTSD sama seperti
mengalami peristiwa traumatis dalam perang. Peneliti menemukan bahwa
pelecehan seksual secara signifikan berkorelasi dengan gejala PSTD pada
450 orang perempuan yang diteliti.
3. Menaikkan tekanan darah
Pelecehan seksual meningkatkan tekanan darah. Sebuah penelitian
tahun 2008 melibatkan sekitar 1.200 orang anggota serikat pekerja dari
Boston yang disurvei tentang pelecehan di tempat kerja dan diberikan
ujian kesehatan. Hasilnya, sekitar 23 persen pekerja perempuan
melaporkan setidaknya mengalami satu insiden pelecehan seksual.
Para peneliti menemukan hubungan yang nyata antara pelecehan seksual
dan tekanan darah tinggi pada perempuan. Pelecehan seksual dapat
memicu reaksi fisiologis yang sama seperti stres dan diduga meningkatkan
risiko penyakit jantung dan pembuluh darah.
4. Gangguan tidur
Pelecehan seksual diketahui berhubungan dengan gangguan tidur, kata
Debra Borys, psikolog yang membuka praktik pribadi di Westwood
Village, California. Menurutnya hal itu bisa disebabkan karena stres dan
kecemasan mempengaruhi kebiasaan tidur. Korban pelecehan terkadang
terbangun di malam hari merenungkan kejadian atau peristiwa yang dapat
menjadi sumber mimpi buruk.
5. Bunuh diri
10

Sebuah penelitian di tahun 1997 terhadap lebih dari 1.000 orang siswi
sekolah di Kanada menunjukkan bahwa pelecehan seksual dapat
menyebabkan perilaku bunuh diri. Penelitian ini menemukan bahwa 23
persen siswi pernah mengalami setidaknya satu peristiwa seksual yang
tidak diinginkan berupa disentuh, mendapat komentar dan ancaman
seksual, atau mengalami tindakan tak senonoh dalam enam bulan terakhir.
Paling banyak korban yang mengalami tindakan sentuhan seksual yang
tidak diinginkan. 15 persen di antaranya mengatakan bahwa mereka sering
berupaya melakukan tindakan bunuh diri dalam enam bulan terakhir.
6. Nyeri Leher
Menurut sebuah penelitian di Kanada yang diterbitkan tahun ini dan
melibatkan hampir 4.000 orang perempuan, pelecehan seksual dapat
menyebabkan sakit fisik.
Dalam penelitian tersebut, perempuan yang mengalami nyeri leher 1,6
kali lebih mungkin melaporkan mengalami perhatian seksual yang tidak
diinginkan. Temuan ini menunjukkan bahwa mencegah pelecehan seksual
di tempat kerja dapat mengurangi gangguan otot dan tulang pada
karyawan.
E. Penanganan
Mengenai masalah pelecehan seksual secara umum diatur dalam KUHP yaitu
dalam Buku Kedua tentang Kejahatan, Bab XIV tentang Kejahatan Kesusilaan
(Pasal 281 s/d 303 bis; 506), sedangkan secara khusus (yang berkaitan dengan
rumah tangga) diatur secara khusus dalam UU No. 23 tahun 2004 tentang
penghapusan kekerasan dalam rumah tangga.
Pelecehan seksual secara umum diatur di dalam KUHP Pasal 281 dan 282;
Pelecehan Seksual yang dilakukan oleh laki-laki atau perempuan yang telah kawin
(zinah) diatur dalam Pasal 284 KUHP; Perkosaan (Pasal 285 KUHP);
Menyetubuhi wanita yang sedang pingsan atau tidak berdaya (Pasal 286 KUHP);
Bersetubuh dengan wanita di bawah umur (Pasal 287 dan 288 KUHP); Berbuat
cabul (Pasal 289 KUHP); Berbuat cabul dengan orang yang pingsan, di bawah
umur (Pasal 290 KUHP); Berbuat cabul dengan sesama jenis kelamin yang masih
11

di bawah umur (Pasal 292 KUHP); Membujuk untuk berbuat cabul pada orang
yang masih belum dewasa (Pasal 293 KUHP); Berbuat cabul dengan anaknya,
anak tirinya, anak angkatnya, anak di bawah pengawasan yang belum dewasa
(Pasal 294 KUHP); Pegawai Negeri, Dokter, Guru, Pegawai, Pengurus, Pengawas
atau Pesuruh dalam penjara, tempat pendidikan, rumah sakit, lembaga sosial yang
melakukan perbuatan cabul dengan orang yang dimasukkan ke dalamnya (Pasal
294 KUHP); Perdagangan wanita dan perdagangan anak laki-laki yang belum
dewasa (Pasal 297 KUHP); Menarik keuntungan dari perbuatan cabul seorang
wanita dan menjadikannya sebagai pencaharian (Pasal 506 KUHP).
Dalam KUHP, berat atau ringannya tindak pelecehan seksual yang dilakukan,
dapat dilihat dari anca-man hukuman yang dapat dijatuhkan kepada pelaku.
Sebagai contoh dalam Pasal 285 KUHP ditentukan bahwa Barang siapa dengan
kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh dengan
dia di luar perkawinan, diancam karena melakukan perkosaan dengan pidana
penjara paling lama 12 tahun.
Sedangkan dalam Pasal 289 KUHP ditentukan bahwa Barang siapa dengan
kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seseorang untuk melakukan atau
membiarkan dilakukan perbuatan cabul, diancam karena melakukan perbuatan
yang menyerang kehormatan kesusilaan, dengan pidana penjara paling lama 9
tahun. Dengan demikian ketentuan Pasal 285 lebih berat dari ketentuan Pasal
289, namun ada persamaan unsur yang harus dipenuhi yaitu adanya kekerasan
atau ancaman kekerasan.
Dalam UU No. 23 tahun 2004, pelecehan seksual diatur dalam Pasal 8 yang
berbunyi sebagai berikut Kekerasan seksual sebagaimana diatur dalam pasal 5
huruf c meliputi: (a). Pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap
orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut; (b). Pemaksaan
hubungan seksual terhadap seorang dalam lingkup rumah tangganya dengan orang
lain untuk tujuan komersial dan/atau tujuan tertentu. Sedangkan ancaman
hukuman pidananya adalah 12 tahun penjara atau denda paling banyak Rp 36 juta
(untuk Pasal 8 huruf a); 15 tahun penjara dan denda paling sedikit Rp 12 juta
(untuk Pasal 8 huruf b). Berdasarkan ketentuan Pasal 184 KUHAP, alat bukti yang
12

sah adalah : (a). Keterangan Saksi; (b). Keterangan Ahli; (c). Surat; (d). Petunjuk;
(e).Keterangan Terdakwa.
Dalam Pasal 185 ayat 2 KUHAP ditentukan bahwa keterangan seorang saksi
saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa terdakwa bersalah terhadap perbuatan
yang didakwakan kepadanya, sedangkan dalam ayat 3 dikatakan ketentuan
tersebut tidak berlaku apabila disertai dengan suatu alat bukti yang sah lainnya
(unus testis nullus testis). Saksi korban juga berkualitas sebagai saksi, sehingga
apabila terdapat alat bukti yang lain seba-gaimana dimaksud dalam ayat 3, maka
hal itu cukup untuk menuntut si pelaku. Kecukupan bukti permulaan (minimal 2
alat bukti terpenuhi), cukup bagi penyidik untuk melakukan penyidikan tindak
pidana dimaksud.

F. Kasus Nyata Pelecehan Seksual


Bertemu Wakepsek, Siswi Korban Seks Oral Histeris
Penulis : Robertus Belarminus | Rabu, 6 Maret 2013 | 01:31 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com Siswi SMA negeri Jakarta Timur berinisial
MA yang menjadi korban pelecehan seksual sempat histeris saat bertemu wakil
kepala sekolahnya (wakepsek), T, dalam pemeriksaan di Ditreskrimum Polda
Metro Jaya. Lantaran keadaan yang tidak kondusif tersebut, pemeriksaan terhadap
MA tidak berlangsung lama.
"Tidak lama karena di dalam ada terlapor, dan pada saat ditemukan (MA)
sempat histeris. Tadi bisa kita katakan kondisi korban belum kondusif," kata kuasa
hukum MA, Hepakta Berliana, kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Selasa
(5/3/2013).
Oleh karenanya, lanjut Hepakta, siswi kelas III SMA itu kemudian dibawa
menuju tempat lain. Pemeriksaan terhadap MA juga berlangsung tak lama.
Namun, Hepakta mengatakan bahwa pihaknya bersedia untuk memenuhi
panggilan kembali menjalani pemeriksaan berikutnya. "Nanti kalau diperlukan
lagi akan dipanggil," ujar Hepakta.
13

Pihaknya mengucapkan terima kasih atas respons cepat dari kepolisian


mengenai kasus itu. Dia berharap pihak kepolisian bisa memproses kasus tersebut
dengan segera dan menentukan status terlapor.
MA menjadi korban pelecehan seksual setelah dipaksa melakukan seks oral
sebanyak empat kali oleh T. Aksi itu kali pertama dilakukan satu kali di bulan Juni
2012 di salah satu tempat wisata besar di Jakarta Utara; dan tiga kali dilakukan
pada Juli 2012, masing-masing di tempat yang sama saat kali pertama, di Bogor,
dan di rumah T di Bekasi.
Sang guru, kata MA, selalu menyertai aksi bejat dengan sejumlah ancaman,
antara lain akses mendapat ijazah dipersulit dan nilai jelek untuk ujian nasional. T
memperlakukan MA layaknya wanita bayaran.
Seusai memaksa seks oral, pelaku menurunkan korban di tepi jalan dekat
rumah dan memberi uang Rp 50.000 untuk ongkos pulang. MA yang tak bisa
berbuat banyak terpaksa menerima dan memilih memendamnya dalam hati.
Terungkapnya kasus tersebut bermula saat MA sudah tak tahan lagi untuk
menceritakan aibnya. Seorang guru berinisial Y pun menjadi tempat curhat
pertamanya. Y kemudian berkoordinasi dengan keluarga korban dan akhirnya
mereka memberanikan diri melaporkan aksi amoral pelaku ke Polda Metro Jaya, 9
Februari 2013.
Editor :
A. Wisnubrata

G. Pembahasan Kasus
Kasus yang diuraiakan sebelumnya merupakan satu dari sekian banyak kasus
pelecehan seksual yang ada di Indonesia. Bobroknya mentalitas warga Indonesia
menjadi faktor pemicu maraknya kasus kasus ini. Hanya ada segelintir kasus yang
menyeruak ke permukaan sisanya hanya membekas dalam kebisuan. Takut
terhadap ancaman yang diberikan oleh tersangka, merasa malu berkepanjangan

14

sehingga menyebabkan keengganan korban untuk melaporkan kasus yang


dialaminya. Hal inilah membuat para tersangka tidak jera dan bahkan merajalela.
Padahal efek yang diakibatkan begitu mendalam bagi korban baik fisik
maupun psikisnya. Ditinjau dari segi kesehatan pelecehan seksual dapat
menimbulkan infeksi bagian genetalia. Sedangkan secara psikis trauma, depresi,
stress bahkan akbiat paling fatal yakni bunuh diri. Jelas ini merugikan korban.
Kedekatan terhadap orang tua serta sikap terbuka atas setiap permasalahan
yang dialami wajib di tanamkan sedari dini. Meningkatkan nilai religius berdasar
iman dan taqwa dapat menjadi pondasi kuat akan kekuatan iman seseorang
sehingga masing masing dapat membentengi diri terhadap hawa nafsu yang tak
terkendali.
Lingkungan juga berperan besar terhadap pola pikir dan tingkah laku
seseorang. Sehingga kita harus pandai pandai dalam bergaul dan memilih teman.
Ciptakan lingkungan yang positif dan kompetitif.
Apabila pelecehan telah terjadi maka, korban jangan takut lapor kepada pihak
yang berwajib. Minimal korban melapor kepada orang terdekat, misalnya dengan
orang tua. Dari pihak berwajib juga wajib melakukan tindak tegas kepada para
tersangka sehingga nantinya memberikan efek jera.
Jika didapati korban mengalami trauma psikis maka keluarga wajib membawa
korban kepada psikolog agar korban lekas pulih. Selain keluarga masyarakat juga
berperan serta dengan tidak mengucilkan korban. Justru korban membutuhkan
perhatian penuh agar stabilitas mentalnya kembali pulih.
Pelecehan seksual adalah masalah serius namun dapat kita cegah dengan
kerjasama semua pihak sedini mungkin.
H. Kesimpulan
Pelecehan berasal dari kata leceh. Kata leceh lazim dipahami dalam makna
kiasannya, yaitu remeh, tidak berharga; rendah sekali mutunya; buruk kelakuan;
hina. Seksualitas merupakan gabungan dari perasaan dan perilaku seseorang yang
tidak hanya didasarkan pada ciri seks secara biologis, tetapi juga merupakan
suatu aspek kehidupan manusia yang tidak dapat dipisahkan dari aspek kehidupan
yang lain dan mengandung aspek kepribadian yang luas dan mendalam. Jadi
Pelecehan seksual adalah segala bentuk perilaku maupun perkataaan bermakna
seksual yang berefek merendahkan orang yang menjadi sasaran.

15

Bentuk bentuk pelecehan seksual misalnya main mata, siulan nakal, bahasa
tubuh

yang

dirasakan

melecehkan,

komentar

yang

berkonotasi

seks,

mengungkapkan gurauan-gurauan bernada porno, bisikan bernada seksual,


menggoda dengan ungkapan, bernada penuh hasrat, komentar/perlakuan negatif
yang berdasar pada gender, perilaku meraba-raba tubuh korban dengan tujuan
seksual, pemaksaan berhubungan seksual dengan iming-iming atau ancaman
kekerasan atau ancaman lainnya agar korban bersedia melakukan hubungan
seksual, dan sebagainya. Perkosaan adalah pelecehan paling ekstrem.
Banyak korban pelecehan seksual malu mengungkapkan apa yang dialaminya
kepada pihak terkait. Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab kasus
pelecehan seksual belum tertangani secara tuntas.
Pandai menjaga diri, memilih teman yang baik, memperkuat keimanan adalah
beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk menjauhkan diri dari kasus pelecehan
seksual. Tak lupa kerjasama dari berbagai pihak turut memberikan andil besar
dalam terselesaikannya kasus ini.

16

DAFTAR PUSTAKA

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/25743/4/Chapter%20II.pdf
(diakses pada Senin, 11 Maret 2013)
http://reformata.com/news/view/519/hukuman-bagi-pelecehan-seksual
(diakses pada Senin, 11 Maret 2013)
Gayatri. 2007. Buku Pintar Cewek Pintar. Tangerang:Gagas Media
Ghafar, Abdul. 2007. Kompas Bahasa Indonesia .Jakarta:Grasindo
Murdiyatmoko, Janu.2007.Sosiologi Memahami dan Mengkaji
Masyarakat.Bandung:PT Grafindo Media Pratama.
Widyatuti, Yani dkk.2009.Kesehatan Reproduksi.Yogyakarta:Fitramaya.
http://id.wikipedia.org/wiki/Pelecehan_seksual_terhadap_anak
http://health.detik.com

17