Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Korupsi, kini sudah menjadi permasalahan serius di negeri ini. Kasus
korupsi sudah tidak terhitung lagi jumlahnya. Meskipun sudah ada Komisi
Pemberantasan Korupsi(KPK) dan beberapa Instansi anti korupsi lainnya. Namun
faktanya negeri ini masih menduduki rangking atas sebagai Negara terkorup
didunia. Karena dari itu, korupsi patut menjadi perhatian serius bagi kita semua.
Pendidikan anti korupsi sesungguhnya sangat penting guna mencegah
tindak pidana korupsi. Jika KPK dan beberapa instansi anti korupsi lainnya
menangkapai para koruptor, maka Pendidikan anti korupsi juga penting guna
mencegah adanya koruptor. Seperti pentingnya pelajaran akhlak, moral dan
sebagainya. Pelajaran akhlak penting guna mencegah terjadinya kriminalitas.
Begitu halnya pendidikan anti korupsi itu penting guna mencegah aksi korupsi.
Maka dari itu, pada makalah ini kami akan membahas tentang Pendidikan anti
Korupsi Perspektif Islam, dan Pendidikan anti Korupsi menurut beberapa ulama
dan para pakar Dan disusunnya makalah ini adalah bertujuan agar Kita memahami
Justifikasi yang diberikan Islam dalam pelaksanaan Pendidikan anti Korupsi

2. Tujuan
Makalah ini disusun bertujuan untuk:
a. Memahami pengertian korupsi dalam perspektif Islam
b. Memahami dampak sistemik korupsi dalam perspektif Islam
c. Memahami ancaman dan hukuman bagi pelaku korupsi dalam perspektif Islam
d. Memahami langkah-langkah pemberantasan korupsi dalam perspektif Islam

3. Rumusan Masalah
a. Apa pengertian korupsi dalam perspektif Islam?
b. Apa dampak sistemik korupsi dalam perspektif Islam?
c. Apa ancaman dan hukuman bagi pelaku korupsi dalam perspektif Islam?
d. Bagaimana langkah-langkah pemberantasan korupsi dalam perspektif Islam?

BAB II
PEMBAHASAN

1. Definisi dan Ruang Lingkup Korupsi dalam Perspektif Islam


Kata korupsi berasal dari bahasa Latin corruptio (Fockema Andrea : 1951)
atau corruptus (Webster Student Dictionary: 1960). Selanjutnya dikatakan bahwa
corruptio berasal dari kata corrumpere,suatu bahasa Latin yang lebih tua. Dari
bahasa Latin tersebut kemudian dikenal istilah corruption, corrupt (Inggris),
corruption (Perancis) dan corruptie/korruptie(Belanda). Arti kata korupsi secara
harfiah adalah kebusukan, keburukan, kebejatan, ketidakjujuran, dapat disuap, tidak
bermoral, penyimpangan dari kesucian.
Dalam khazanah hukum Islam, tidak ditemukan istilah korupsi. Namun,
hukum yang mengarah pada tindakan korupsi seperti dalam pengertian di atas dapat
dilihat pada unsur berikut ini :

a. Ghull
Ghull adalah isim masdar dari kata ghalla, yaghullu, ghallan, wa ghullan,
wa ghullan (Ibnu Manzur, Lisnul Arab) yang secara leksikal dimaknai
akhadza al-syaia fi khufyatin wa dassahu fi matth (mengambil sesuatu secara
sembunyi-sembunyi dan memasukkan ke dalam hartanya) (M. Rawwas, Mujam
Lught al-Fuqah) dan khna (khianat atau curang).
Rasulullah Saw menjelaskan kata ghulul dalam hadis riwayat Adi bin
Amirah al-Kindi, Rasulullah Saw bersabda, Barangsiapa di antara kalian yang
kami tugaskan untuk suatu pekerjaan (urusan), lalu dia menyembunyikan dari
kami sebatang jarum atau lebih dari itu, maka itu adalah ghull (harta korupsi)
yang akan dia bawa pada hari kiamat.
Kemudian ada seorang lelaki hitam dari Anshar berdiri menghadap Nabi
Saw, lalu berkata, Wahai Rasulullah, copotlah jabatanku yang engkau tugaskan.
Nabi Saw bertanya, Ada apa gerangan? Dia menjawab, Saya mendengar
engkau berkata demikian dan demikian, Beliau Saw pun bersabda, Aku katakan
sekarang, bahwa barangsiapa di antara kalian yang kami tugaskan untuk suatu
pekerjaan (urusan), hendaklah dia membawa (seluruh hasilnya), sedikit ataupun
2

banyak.

Kemudian,

apa

yang

diberikan

kepadanya,

maka

dia

boleh

mengambilnya (halal). Sedangkan apa yang dilarang, maka tidak boleh. (HR.
Muslim)
Dalam riwayat Buraidah, Rasulullah juga menegaskan makna ghull, beliau
bersabda, Barangsiapa yang kami tugaskan dengan suatu pekerjaan, lalu kami
tetapkan imbalan (gaji) untuknya, maka apa yang dia ambil di luar itu adalah
harta ghull (korupsi). (HR. Abu Daud)

b. Hadiah atau Gratifikasi


Kata hadiah berasal dari bahasa Arab, hadiyyah, yang berarti hadiah. Dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hadiah adalah pemberian (kenangkenangan, penghargaan, penghormatan), ganjaran (karena memenangkan suatu
perlombaan), tanda kenang-kenangan. Hadiah dapat juga disebut hibah.
Pada dasarnya hadiah merupakan hal yang diperbolehkan, bahkan
dianjurkan untuk saling memberi hadiah. Suatu pemberian dengan tujuan
mengharapkan ridha Allah Swt untuk memperkuat tali silaturahmi atau menjalin
ukhuwah Islamiah. Nabi Saw bersabda, Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya
kalian saling mencinta. (HR. Imam Malik)
Adapun jika memberi hadiah untuk kepentingan tertentu, seperti memberi
hadiah kepada orang yang memiliki suatu jabatan, kekuasaan atau wewenang,
maka pemberian hadiah tersebut terlarang. Hadiah seperti ini disebut juga dengan
gratifikasi, yaitu uang hadiah kepada pegawai di luar gaji yang telah ditentukan.
Rasulullah Saw melarang jenis hadiah (gratifikasi) seperti ini, beliau bersabda,
Hadiah bagi para pekerja adalah ghulul (korupsi). (HR. Ahmad)
Imam Syafii (w. 820 M), dalam kitabnya Al-Umm, menyatakan bahwa
apabila seorang warga masyarakat memberikan hadiah kepada seorang pejabat,
maka bilamana hadiah itu dimaksudkan untuk memperolehmelalui atau dari
pejabat itusuatu hak, maka haram atas pejabat bersangkutan untuk menerima
hadiah tersebut.

c. Risywah
Istilah lain yang juga merupakan salah satu bentuk korupsi adalah risywah,
yang berasal dari kata rasya, yarsyu, rasywan wa rasywah wa risywah wa rusywah
yang berarti memberi suap atau sogok kepadanya. Orang yang menyuap disebut al3

rusyi yaitu orang yang memberikan sesuatu kepada seseorang yang bisa
membantunya atas dasar kebatilan. Adapun orang yang mengambil atau menerima
pemberian itu disebut al-murtasyi. Sementara orang yang menjadi perantara antara
pemberi dan penerimanya dengan menambahi di suatu sisi dan mengurangi di sisi
lain disebut al-raisy.
Umar bin Khaththab mendefinisikan bahwa risywah adalah sesuatu yang
diberikan/disampaikan oleh seseorang kepada orang yang mempunyai kekuasaan
(jabatan, wewenang) agar ia memberikan kepada si pemberi sesuatu yang bukan
haknya). Risywah (suap) merupakan perbuatan yang dilarang oleh Al-Quran, AsSunnah dan Ijma Ulama. Larangan tersebut berlaku bagi yang memberi, menerima
dan yang menjadi penghubung di antara keduanya.
Di dalam Al-Quran, Allah Swt berfirman, Dan janganlah sebagian kamu
memakan harta sebagian lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan
(janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat
memakan sebagian dari harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa,
padahal kamu mengetahui. (Al-Baqarah [2]: 188)

d. Suht
Suht secara bahasa berasal dari kata kerja sahata yashatu suhtan wa
suhutan yang berarti memperoleh harta haram. Ibnu Manzur menjelaskan arti suht,
yaitu semua yang haram. Suht juga diartikan sesuatu yang terlarang, yang tidak
halal dilakukan karena akan merusak atau menghilangkan keberkahan. Bukhari
mengutip pendapat Ibnu Sirin bahwa suht adalah risywah (suap menyuap) dalam
perkara hukum atau kebijakan. Malik juga meriwayatkan bahwa orang-orang
Yahudi di Khaibar pernah akan menyuap Abdullah bin Rawahah r.a dengan
sejumlah perhiasan agar memberikan keringanan atau keuntungan tertentu bagi
mereka, tetapi Ibnu Rawahah berkata, Apa pun yang kamu sodorkan dari suap,
maka hal itu adalah suht (yang haram) dan kami tidak akan memakannya.

e. Khna
Khna berarti ghadara (berkhianat, tidak jujur), naqadha, khlafa
(melanggar dan merusak). Ar-Raqib al-Isfahani, seorang pakar bahasa Arab,
berpendapat bahwa khianat adalah sikap tidak memenuhi suatu janji atau suatu
amanah yang dipercayakan kepadanya. Ungkapan khianat juga digunakan bagi
4

seseorang yang melanggar atau mengambil hak-hak orang lain, dapat dalam bentuk
pembatalan sepihak perjanjian yang dibuatnya, khususnya dalam masalah
muamalah. Khianat juga digunakan kepada orang yang mengingkari amanat
politik, ekonomi, bisnis (muamalah), sosial dan pergaulan.
Khianat adalah tidak menepati amanah. Oleh karena itu, Allah Swt sangat
membenci dan melarang berkhianat. Allah berfirman, Hai orang-orang yang
beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga)
janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu,
sedang kamu mengetahui. (QS. Al-Anfal: 27)
Khianat yang semakna dengan pengertian korupsi, yaitu pengkhianatan
terhadap amanah dan sumpah jabatan. Rasulullah Saw menggambarkan orang yang
berbaiat tidak berdasarkan pada kebenaran dan ketakwaan, beliau bersabda, Ada
tiga kelompok manusia yang Allah Swt tidak mau berbicara kepada mereka di Hari
Kiamat dan tidak mau menyucikan (dosa atau kesalahan) mereka dan bagi mereka
siksa yang pedih, yaitu pertama, orang yang memiliki kelebihan air di perjalanan
tetapi ia menghalangi Ibnu Sabil (para pejalan, musafir) untuk mendapatkannya.
Kedua, orang yang memberikat baiat kepada seorang pemimpin hanya karena
kepentingan duniawi. Jika ia diberi sesuai keinginannya, ia akan memenuhi baiat
itu dan jika tidak diberikan, ia tidak memenuhi baiatnya. Dan ketiga, orang yang
menjual dagangan kepada seseorang di sore hari sesudah Asar, lalu ia bersumpah
kepada Allah bahwa barang tersebut telah ia berikan (tawaran) dengan harga
sekian dan sekian (untuk mengecoh pembeli) lalu ia membenarkannya, kemudian si
pembeli jadi membelinya, padahal si penjual tidak memberikan (tawaran) dengan
harga sekian atau sekian. (HR. Bukhari).

f. Sariqah
Sariqah berasal dari kata saraqa yasriqu sarqan wa sariqah yang secara
leksikal bermakna akhadza m lighairi khufyatan, yang berarti mencuri. Sariqah
juga bermakna nahab (merampok), syahshan (menculik), syaian qallan (mencuri
barang kecil, mencopet), dan muallafan (menjiplak, melakukan plagiat).
Para koruptor telah mencuri harta negara yang diperuntukkan bagi
kesejahteraan rakyat, sedangkan dalam Islam sendiri berkeyakinan bahwa orang
yang melakukan pencurian bukalah orang yang beriman, karena seorang yang
beriman, ia tidak mungkin akan melakukan korupsi atau pencurian sebagaimana
5

sabda Rasulullah Saw, Pencuri tidak akan mencuri ketika ia dalam keadaan
beriman. (HR. Bukhari)
Allah SWT melarang Korupsi karena korupsi adalah salah satu bentuk
penghianatan. Bahkan Rosulluloh menerangkan lebih rinci dalam hal ini. Beliau
bersabda: Terlaknatlah orang yang disuap dan yang menyuap (HR. Ahmad)
:
:
: ,


,
Artinya: Dari Abu Hirairah ra., ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda:
Jika amanah disia-siakan, maka tunggulah kehancuran. Kemudian dinyatakan:
bagaimana maksud amanah disia-siakan itu? Rasul menjawab: Jika suatu perkara
(amanat/ pekerjaan) diserahkan pada orang yang tidak ahli (profesional), maka
tunggulah saat kehancuran (HR. Bukhori).
Korupsi, selain diartikan sebagai khianat, suap dan sebagainya. Juga dapat
diartikan memakan harta sebagian yang lain dengan jalan bathil. Dengan bathil karena
korupsi adalah menghabiskan milik Negara yang harusnya untuk kebutuhan umum
dan untuk memfasilitasi rakyat. Maka dari itu jelas jika hal tersebut dilarang.
Berkenaan tentang Pendidikan anti korupsi, maka kita patut menganalogikan
hal tersebut. Jika Allah mewajibkan sholat misalkan, maka kita harus belajar ilmuilmu sholat. Jika kita tidak belajar ilmu-ilmu sholat, mustahil kita bisa sholat dengan
baik. Begitu pula ketika Allah menyuruh umatnya untuk amanat. Maka kitapun arus
belajar tentang amanat tersebut agar manusia senantiasa wara dalam hidupnya.
Jadi, jika Allah telah memberikan lampu merah pada perbuatan korupsi. Maka
jelas ini adalah lampu hijau untuk menjalankan pendidikan anti korupsi. Seperti
halnya pendidikan Islam yang didalamnya mengkaji segala kewajiban-kewajiban dan
larangan manusia, maka jelas pendidikan anti korupsi perlu guna memberikan
pemahaman lebih matang kepada umat manusia dalam bertndak amanah dan menjauhi
khianat yang salah satu didalamnya adalah korupsi. Karena bukan tidak mungkin jika
orang yang korupsi itu karena serakah, melainkan karena tidak memahami bentukbentuk dari korupsi itu sendiri.
2. Dampak Sistemik Korupsi dan Ancaman Bagi Pelakunya dalam Perspektif Islam
Dampak negatif yang ditimbulkan dari peraktek korupsi itu sangat banyak dan
luar biasa, antara lain adalah :
6

a. Hilangnya modal finansial


Hal ini disebabkan karena korupsi telah menguapkan pendapatan resmi negara
dari sektor pajak, keuntungan BUMN dan sumber-sumber lainnya. Sementara
harapan untuk masuknya investasi dan modal asing menjadi sulit dikarenakan
situasi dan iklim keuangan tidak sehat yang ditandai dengan maraknya pungli dan
peraktek korup lainnya. Akibatnya segala biaya akan menjadi tinggi, karena
banyak hal-hal yang harus dibayar yang seharusnya tidak perlu dibayar.
b. Hilangnya modal sosial
Hilangnya modal sosial yang merupakan jaringan hubungan dan kepercayaan
yang penting artinya bagi berjalannya roda pemerintahan negara dan keadilan
bagi masyarakat. Maraknya demo dalam masyarakat untuk memperotes kebijakan
publik tertentu merupakan indikasi hilangnya atau paling tidak melemahnya
kepercayaan masyarakat terhadap pemangku jabatan publik.
c. Hilangnya modal insani
Hilangnya modal insani ini akibat pembangunan manusia yang tidak sukses
karena kekurangan biaya finansial. Pendidikan semakin mahal karena negara
tidak mempunyai biaya yang cukup untuk mendanai pendidikan. Pelayanan
kesehatan selain karena kualitasnya yang buruk, juga tidak dapat dijangkau oleh
lapisan masyarakat bawah, sementara pemerintah tidak mempunyai dana yang
cukup untuk meningkatkan taraf kesehatan masyarakat.
3. Ancaman dan Hukuman bagi Pelaku Korupsi dalam Perspektif Islam
Filsafat hukum Islam dalam bidang pidana, khususnya dalam perbuatan korupsi
dan juga pemberian hukumanya, seperti disebutkan diatas telah terbagi dalam beberapa
dimensi. Islam membagi istilah korupsi kedalam beberapa dimensi, yaitu risywah
(suap), saraqah (pencurian) al gasysy (penipuan) dan khianat (penghianatan). Yang
pertama, korupsi dalam dimensi suap (risywah) dalam pandangan hukum Islam
merupakan perbuatan yang tercela dan juga merupakan dosa besar serta Allah sangat
melaknatnya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hukuman terhadap koruptor
masuk kedalam hukuman Tazier. Hanya dalam dimensi mencuri saja yang berupa

hukuman hudud. Hukuman tazier adalah kejahatan yang ancaman hukumanya tidak
terdapat didalam Nash sehingga diserahkan kepada penguasa secara penuh. Namun
dalam menjatuhkan hukuman yang tidak terdapat didalam nash harus didasarkan
kepada pertimbangan akal sehat dan keyakinan hakim untuk mewujudkan maslahat
dan menimbulkan rasa keadilan.
Ulama sepakat bahwa tazier dapat diterapkan pada setiap maksiat pelanggaran
yang tidak ada hukum haddnya. Adanya tazier dalam hukum Islam menjamin rasa
keadilan masyarakat untuk mewujudkan maslahat. Yang sifat dan bentuk hukuman
tazir deserahkan kepada kebbijaksanaan akal sehat, keyakinan dan rasa keadilan
hakim yang didasarkan keadilan masyarakat. Prisip-prinsip dalam pidana Islam ada 3
macam, yaitu:
a. Hukumanya hanya ditimpakan kepada orang yang berbuat jarimah atau pidana,
tidak boleh orang yang tidak berbuat jahat dikenai hukuman. Hal ini sesuai
dengan Firman Allah Surat Al-anam, ayat 164

Katakanlah: "Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal Dia
adalah Tuhan bagi segala sesuatu. Dan tidaklah seorang membuat dosa
melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang
berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah
kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu
perselisihkan"
b. Adanya kesengajaan. Seseorang dihukum karena kejahatan apabila ada unsur
kesengajaan untuk berbuat itu, tidak ada kesengajaan berarti ada kelalaian,
tersalah, atau keliru atau terlupa. Walaupun tersalah, atau keliru atau terlupa
ada hukumanya, namun bukan hukuman karena kejahatan, melainkan untuk
kemaslahatan dan bersifat mendidik. Hal ini sesuai dengan firman Allah Surat
An-Nisa ayat 92

Artinya: Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin
(yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja), dan barangsiapa
membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan
seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan
kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh)
bersedekah. Jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai)
antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat
yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba
sahaya yang beriman. Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka
hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut untuk
penerimaan taubat dari pada Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi
Maha Bijaksana.
c. Hukuman hanya dijatuhkan apabila kejahatan itu secara meyakinkan telah
diperbuat.

4. Langkah-Langkah Pemberantasan Korupsi dalam Perspektif Islam


Berdasarkan kajian terhadap berbagai sumber, didapatkan sejumlah cara atau
langkah dalam memberantas korupsi sebagaimana ditunjukkan oleh syariat Islam.
a. Meningkatkan Penghayatan Ajaran Agama
Meningkatkan pengetahuan, pengamalan dan penghayatan ajaran agama
kepada para pemeluknya, sehingga ummat beragama dapat menangkap intisari
daripada ajaran agama itu dan dampak positif dari ajaran agama itu dapat diresapi
hingga melekat pada tindak tanduk serta perilaku masyarakat. Dengan demikian
maka ibadah yang dilakukan oleh seseorang bukan hanya bersifat ritual ceremonial
belaka, akan tetapi ibadah itu dilaksanakan bersifat ritual aktual.
b. Meluruskan Pemahaman Keagamaan
Meluruskan pemahaman keagamaan yang dimaksudkan di sini adalah
meluruskan pemahaman keagamaan bahwa memberikan sesuatu infaq/shodaqah
kepada siapa sajapun itu akan mendapatkan pahala manakala uang ataupun harta
yang diinfakkan/disedekahkan itu berasal dari yang halal dan bukan berasal dari
yang haram. Apaabila uang / harta itu berasal dari yang halal maka barulah satu
kebaikan mendapatkan pahala tujuh ratus kali lipat, sebagaimana tercermin dalam
9

Firman Allah SWT : Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang


yang menafkahkan hartanya di Jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih
yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus biji. Allah melipat
gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha luas
(kurniaNya) lagi Maha Mengetahui. Dan apabila sebaliknya (berasal dari yang
haram) maka infaq/shodaqahnya itu tidak akan mendapatkan ganjaran apa-apa
kecuali ganjaran kejahatan/dosa, sebagaimana hadis Nabi : Tidak diterima sholat
seseorang kecuali dalam keadaan suci dan tidak diterima sedekah seseorang yang
bersumber dari penipuan.
c. Merubah Sistem
Sebagaimana disebutkan di muka bahwa seseorang melakukan tindak pidana
korupsi salah satunya adalah disebabkan adanya kesempatan dan peluang yang
didukung oleh sistem yang sangat kondusif untuk berbuat korupsi. Untuk itu maka
sistem itu harus dirubah dan diperbaiki sehingga setiap orang tidak mempunyai
kesempatan dan peluang untuk berbuat korupsi. Salah satu bentuik yang harus
diperbaiki adalah adanya pengawasan melekat dari atasannya, tidak adanya uang
pelicin, uang setoran dan lain sebagainya.
d. Meningkatkan Mentalitas
Merubah dan meningkatkan mentalitas bangsa Indonesia dari mentalitas yang
rapuh menjadi mentalitas yang kuat dan tahan banting. Untuk meningkatkan
mentalitas ini dapat dilakukan melalui peningkatan pengetahuan dan pengamalan
agama, sebab apabila pengetahuan dan pengamalan agama seseorang baik, maka
dapat dipastikan bahwa sikap mental orang tersebut akan baik, namun demikian
tidak semua yang bermental baik berarti memiliki pengetahuan dan pengamalan
agama yang baik, sebab masih banyak penyebab-penyebab lainnya yang
menyebabkan seseorang bermental baik.
e. Meningkatkan Penghasilan
Meningkatkan perekonomian dan atau gaji pegawai sesuai dengan kebutuhan
hidup di masyarakat adalah merupakan salah satu langkah penting yang harus
dilakukan dalam rangka menghilangkan perilaku korupsi sebab harus diakui bahwa
gaji pegawai saat ini tidak mencukupi untuk hidup layak. Gaji yang diterima itu
hanya cukup untuk satu atau dua minggu, makanya para pegawai berusaha untuk
mendapatkan tambahan yang salah satunya melalui korupsi. Gaji pegawai ini
seharusnya diberikan sampai dia bisa mampu menyekolahkan anaknya dan juga
10

bisa menyimpan / menabung untuk keperluan hari tuanya. Dan bahkan pegawai
negeri itu harus diberikan gaji sehingga dia bisa hidup layak sebagaimana yang
lainnya dengan fasilitas yang memadai.
f. Merubah Budaya yang Mendorong Korupsi
Adalah sebuah kebiasaan bagi kita orang Indonesia bahwa setiap seseorang
menjadi pejabat tinggi dalam sebuah pemerintahan, maka yang bersangkutan akan
menjadi sandaran dan tempat bergantung bagi keluarganya, akibatnya dia
diharuskan melakukan perbuatan korupsi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan
keluarganya tersebut, apalagi permintaan akan kebutuhan itu datang dari orang
yang sangat berpengaruh bagi dirinya seperti mamak umpamanya. Selain daripada
itu dalam budaya kita akan dianggap bodoh seseorang manakala dia tidak
mempunyai apa-apa di luar penghasilannya, sementara dia menduduki suatu
jabatan penting, akibatnya dipaksa untuk melakukan korupsi. Budaya ini harus
dirubah dan dijadikan menjadi keluarga akan merasa malu manakala seseorang dari
keluarganya membantu keluarga yang lainnya dengan uang hasil korupsi sekalipun
dia pejabat tinggi. Oleh karena itu maka yang bersangkutan lebih baik tidak
membantu keluarganya, kalau uang bantuan itu berasal dari hasil korupsi.
g. Menghilangkan Kebiasaan dan Kebersamaan
Menghilangkan kebiasaan dan kebersamaan dalam melakukan korupsi, sebab
dalam kenyataannya Peraktek korupsi sudah menjadi sebuah kebiasaan bagi yang
mempunyai peluang dan kesempatan melakukannya, ditambah lagi peraktek
korupsi ini telah dilakukan oleh banyak orang, dan bahkan dilakukan secara
berjamaah. Untuk itu maka kebiasaan ini harus dicegah dan dibasmi sampai ke
akar-akarnya, sehingga hilang sama sekali dari bumi Indonesia.
h. Meningkatkan Penegakan Hukum
Penegakan hukum kita memang sangat lemah padahal aturan-aturannya sudah
sangat lengkap, makanya orang tidak kapok melakukan korupsi secara berulangulang. Oleh karena itu maka penegakan hukum ini harus dilaksanakan tanpa
pandang bulu dan tanpa pilih kasih dengan hukuman yang berat dan tegas
sebagaimana yang disebutkan oleh Nabi Muhammad SAW: Sekiranya anakKu
Fatimah mencuri maka pasti akan saya potong tangannya. Penegakan hukum ini
dapat juga dilakukan oleh masyarakat dengan cara mengasingkan atau memboikot
si koruptor dari pergaulan umum sebagai contoh, apabila si koruptor mengundang
untuk menghadiri pesta pernikahan anaknya umpamanya, maka masyarakat
11

bersepakatn untuk tidak menghadiri pestanya. Atau dapat juga dalam bentuk tidak
melibatkannya dalam kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan. Dan apabila
dipandang perlu dapat juga dilakukan dengan memboikat si koruptor dari jual beli
kebutuhan sehari-hari. Bila dia menjual sesuatu maka tidak dibeli jualannya dan
bila dia hendak membeli sesuatu maka tidak dijual padanya.
i. Menumbuhkan rasa bersalah dan rasa malu
Hal ini dirasakan sangat penting sebab para koruptor dan sebahagian penduduk
bangsa Indonesia telah hilang rasa bersalah dan apalagi rasa malunya. Oleh karena
itu maka perlu dilakukan upaya-upaya untuk menumbuhkan rasa bersalah dan rasa
malu ini. Hal ini dapat dilakukan dengan pendekatan agama.
j. Menumbuhkan sifat Kejujuran dalam diri
Hal ini dirasakan sangat urgent sebab kejujuran adalah merupakan satu asset
yang sangat berharga bagi seseorang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah
SWT, sebab kejujuran akan mampu menjadi benteng bagi seseorang untuk
menghindari perbuatan-perbuatan munkar seperti perbuatan korupsi ini. Oleh
karena itulah maka sejak kecil dalam rumah tangga kejujuran sudah harus
ditanamkan kepada anak-anak, begitu juga di sekolah-sekolah, pembinaan dan
penerapan sifat kejujuran haruslan mendapat prioritas utama dari para guru dan ibu
guru.
k. Menghilangkan Sikap Tamak dan Serakah
Menghilangkan Sikap tamak dan serakah adalah merupakan hal yang sangat
penting dalam pemberantasan korupsi sebab kedua sifat ini menjerumuskan ummat
manusia ke jurang kehinaan dan kehancuran sebab kedua sikap ini mengantar
manusia kepada sikap tidak pernah merasa puas dan tidak pernah merasa cukup
sekalipun harta yang telah dimilikinya sudah melimpah ruah. Hal ini antara lain
dapat dilakukan dengan pendalaman, pengamalan dan penghayatan ajaran agama.
l. Menumbuhkan budaya kerja keras
Menumbuhkan budaya kerja keras haruslah dijadikan menjadi prioritas utama
dalam pencegahan korupsi sebab sikap ini akan dapat membentengi orang dari sifat
ingin cepat kaya, tanpa usaha dan tanpa kerja keras. Dalam ajaran agama
disebutkan bahwa bekerja adalah merupakan suatu kewajiban yang harus dilakukan
oleh ummat.
m. Menghilangkan Sifat Materialistik, Kapitalistik dan Hedonistik

12

Ketiga sifat ini sangat rentan menjerumuskan seseorang untuk terjerumus


dalam melakukan perilaku korupsi. Orang yang memiliki ketiga sifat ini tidak akan
pernah merasa puasa dan cukup dalam hal harta, selalu kehausan dan kekurangan
setiap saat. Oleh karena itulah maka ketiga sifat ini harus dikikis habis dari
penduduk negeri ini.
Menindak Korupsi Menurut Syariah Islam kalau memang korupsi telah
terjadi, Syariah Islam mengatasinya dengan langkah kuratif dan tindakan represif
yang tegas, yakni memberikan hukuman yang tegas dan setimpal. Hukuman untuk
koruptor masuk kategori tazir, yaitu hukuman yang jenis dan kadarnya ditentukan
oleh hakim. Bentuknya mulai dari yang paling ringan, seperti nasehat atau teguran,
sampai yang paling tegas, yaitu hukuman mati. Berat ringannya hukuman disesuaikan
dengan berat ringannya kejahatan. (Abdurrahman Al Maliki, Nizhamul Uqubat, hlm.
78-89).
Dari sini terlihat dengan jelas bahwa Islam melalui syariatnya telah
memberikan jalan yang sangat gamblang mengenai pemberantasan korupsi dalam
mewujudkan pemerintahan yang bersih. Semoga cara ini bisa menjadi masukan
dalam meminimalisir tindak korupsi di Indonesia.

13

BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Korupsi adalah merupakan perbuatan yang dilarang dalam ajaran agama Islam
yang hukumnya adalah HARAM. Keharamannya ini bisa dicari dalil-dalilnya dalam
ajaran agama Islam seperti Risywah (Suap), Saraqah (Pencurian), al-Gasysy
(Penipuan), dan Khiyanah (Penghianatan). Dari perbuatan korupsi terdapat ancaman
dan hukuman bagi para pelaku korupsi. Korupsi menimbulkan dampak negatif yang
sangat besar bagi suatu bangsa dan negara, oleh karena itu maka pencegahan dan
penanggulangannyapun harus dilakukan secara sungguh-sungguh dan terpadu antara
seluruh komponen bangsa.

2. Saran
Bagi para pemimpin bangsa seharusnya mempunyai bekal ilmu agama yang kuat
agar tidak mudah terjerumus kepada hal-hal yang tidak baik dan dapat menjadi sosok
yang benar-benar dapat mensejahterakan rakyatnya bukan menyengsarakan dengan
perbuatan-perbuatan yang sangat dilarang oleh agama.

14

DAFTAR RUJUKAN

http://riau1.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id=327
http://dennymilanisty.blogspot.com/2013/01/korupsi-dalam-prespektif-islam.html
http://gusirul.blogspot.com/2013/02/memberantas-korupsi-dalam-perspektif.html
http://genofs-one.blogspot.com/2012/12/makalah-hukum-korupsi-menurut-islam.html
http://seratanabqon.blogspot.com/2013/01/makalah-pendidikan-anti-korupsi.html
http://si-fahri.blogspot.com/p/pendidikan-anti-korupsi.html
http://hukum.kompasiana.com/2012/04/23/filsafat-pemidanaan-islam-dalam-pemberianhukuman-bagi-koruptor-457575.html

15

Anda mungkin juga menyukai