Anda di halaman 1dari 14

PENDAHULUAN

DHF adalah suatu infeksi arbovirus akut yang masuk dalam tubuh melalui
gigitan nyamuk spesies aides. P enyakit ini menyerang anak,remaja, dan dewasa yang
ditandai dengan demam ,nyeri otot dan sendi.Demam Berdarah Dengue sering
disebut juga Dengue Haemoragik Fever ( DHF). Demam berdarah merupakan
penyakit yang sangat membahayakan ,banyak sekali kasus yang mengakibatkan
kematian.Demam Berdarah muncul seiring dengan datangnya musim hujan dan bisa
juga terjadi secara endemis.
Kebersihan lingkungan sekitar, dapat membantu memutuskan rantai
berkembangbiaknya nyamuk aides aigepty yang menjadi penyebab penyakit Demam
Berdarah.Kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan dari kaleng-kaleng atau
benda-benda

yang

dapat

digenangi

air

.Benda-benda

tersebut

sebaiknya

ditimbun,selain itu menguras bak mandi,tempat air bersih atau air minum 1 minggu
sekali dapat mematikan jentik jentik nyamuk.Ada cara lain yang juga merupakan
usaha untuk tidak digigit nyamuk seperti tidur menggunakan kelambu,atau
menggunakan obat gosok.
Masyarakat perlu diberikan informasi tentang cara mencegah atu melakukan
pertolongan pertama sampai hal-hal yang harus dilakukan bila ada anggota keluarga
,tetangga atau masyarakat sekitar yang terkena demam berdarah. Gejala demam
berdarah sangat mirip dengan batuk,filek atu flu biasa,tetapi kita harus
menginformasikan kepada masyarakat bahwa apabila ada anggota keluarga yang
panas 3 hari sdah minum obat tapi keluhan tetap,kita harus waspada pada kasus
demam berdarah dan diperlukan pemeriksaan lebih lanjut,seperti pemeriksaan
laboratorium.
Kata kunci yang harus dipahami bahwa demam berdarah dapat dicegah dan
mencegah lebih baik daripada mengobati.
TUJUAN :
1. Untuk mempelajari suatu landasan teori asuhan keperawatan yang
berhubungan dengan anak DHF.
2. Dapat merumuskan pengkajian focus dan membuat serta melaksanakan
asuhan keperawatan yang perlu dilakukan berdasarkan teori yang ada.
3. Dapat menyikapi kasus kasus DHF secara maksimal sehingga komplikasi
atau akibat buruk yan terjadi dapat dihindari.

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK


PADA PASIEN DENGAN DEMAM BERDARAH DENGUE

I.

PENGERTIAN
DHF adalah suatu infeksi arbovirus akut yang masuk ke dalam tubuh melalui
gigitan nyamuk spesies aides. Penyakit ini sering menyerang anak, remaja, dan
dewasa yang ditandai dengan demam, nyeri otot dan sendi. Demam Berdarah
Dengue sering disebut pula Dengue Haemoragic Fever ( DHF ).

II. PATOFISIOLOGI
Setelah virus dengue masuk ke dalam tubuh, pasien akan mengalami
keluhan dan gejala karena viremia, seperti demam, sakit kepala, mual, nyeri otot,
pegal seluruh badan, hiperemi ditenggorokan, timbulnya ruam dan kelainan yang
mungkin muncul pada system retikuloendotelial seperti pembesaran kelenjarkelenjar getah bening, hati dan limpa. Ruam pada DHF disebabkan karena
kongesti pembuluh darah dibawah kulit.
Fenomena patofisiologi utama yang menentukan berat penyakit dan
membedakan DF dan DHF ialah meningginya permeabilitas dinding kapiler
karena pelepasan zat anafilaktosin, histamin dan serotonin serta aktivasi system
kalikreain yang berakibat ekstravasasi cairan intravaskuler. Hal ini berakibat
berkurangnya

volume

plama,

terjadinya

hipotensi,

hemokonsentrasi,

hipoproteinemia, efusi dan renjatan.


Adanya kebocoran plasma ke daerah ekstravaskuler dibuktikan dengan
ditemukannya cairan dalam rongga serosa, yaitu dalam rongga peritoneum, pleura
dan perikard. Renjatan hipovolemik yang terjadi sebagai akibat kehilangan
plasma, bila tidak segera teratasi akan terjadi anoxia jaringan, asidosis metabolic
dan kematian. Sebab lain kematian pada DHF adalah perdarahan hebat.
Perdarahan umumnya dihubungkan dengan trombositopenia, gangguan fungsi
trombosit dan kelainan fungsi trombosit.
Fungsi agregasi trombosit menurun mungkin disebabkan proses
imunologis terbukti dengan terdapatnya kompleks imun dalam peredaran darah.
Kelainan system koagulasi disebabkan diantaranya oleh kerusakan hati yang
fungsinya memang tebukti terganggu oleh aktifasi system koagulasi.

WOC
Virus dengue
Proliferasi dan transformasilimfosit imun dalam tubuh
Replikasi virus dalam limfosit
Aktifasi sistem komplemen
Sel fagosit
mononukleus
Makrofag, histiosit, sel
Cutfer tempat tjd
infeksi virus
fakt XII

Non neutralizing
antibody virus dengue
melekat pd sel fagosit
mono nuklues

virus bereplikasi dalam


se fagosit mono
nucleus

aktifasi Fakt.XII
fungsi agregasi trombosit
menurun

pelepasan anafilaktoxin histamin


serotonin
sist.kinin terangsanng

megakariosit meningkat

permeabilitas kapiler meningkat

umur trombosit menurun

ekstravasasi cairan intravaskuler


ke ektravaskuler

trombositopeni

volume plasma menurun

pedarahan
PK syok hipovolemi

hipotensi,hemokonsentrasi,hipo
proteinemia,efusi dan renjatan
anoksia jaringan ,asidosis metb

Sistm Cardiovaskuler Sistm perkemihan Sistm pencernaan


Mual, nafsu
makan menurun

kebutuhan nutrisi

III.

KLASIFIKASI DHF
WHO, 1986 mengklasifikasikan DHF menurut derajat penyakitnya menjadi 4
golongan, yaitu :
Derajat I
Demam disertai gejala klinis lain, tanpa perdarahan spontan. Panas 2-7 hari, Uji
tourniquet positif, trombositipenia, dan hemokonsentrasi.
Derajat II
Sama dengan derajat I, ditambah dengan gejala-gejala perdarahan spontan seperti
petekie, ekimosis, hematemesis, melena, perdarahan gusi.
Derajat III
Ditandai oleh gejala kegagalan peredaran darah seperti nadi lemah dan cepat
(>120x/mnt ) tekanan nadi sempit ( 120 mmHg ), tekanan darah menurun,
(120/80 120/100 120/110 90/70 80/70 80/0 0/0 )
Derajat IV
Nadi tidak teaba, tekanan darah tidak teatur (denyut jantung 140x/mnt) anggota
gerak teraba dingin, berkeringat dan kulit tampak biru.

IV.

TANDA DAN GEJALA


Selain tanda dan gejala yang ditampilkan berdasarkan derajat penyakitnya, tanda
dangejala lain adalah :
-

Hati membesar, nyeri spontan yang diperkuat dengan reaksi perabaan.

Asites

Cairan dalam rongga pleura ( kanan )

Ensephalopati : kejang, gelisah, sopor koma.

V.

PEMERIKSAAN DAN DIGNOSIS


-

Trombositopeni ( 100.000/mm3)

Hb dan PCV meningkat ( 20% )

Leukopeni ( mungkin normal atau lekositosis )

Isolasi virus

Serologi ( Uji H ): respon antibody sekunder

Pada renjatan yang berat, periksa : Hb, PCV berulang kali ( setiap jam
atau 4-6 jam apabila sudah menunjukkan tanda perbaikan ), Faal hemostasis,
FDP, EKG, Foto dada, BUN, creatinin serum.

VI.

PENATALAKSANAAN
Indikasi rawat tinggal pada dugaan infeksi virus dengue :
-

Panas 1-2 hari disertai dehidrasi ( karena panas, muntah, masukan


kurang ) atau kejang-kejang.

Panas 3-5 hari disertai nyeri perut, pembesaran hati, uji tourniquet
positif / negatif, kesan sakit keras ( tidak mau bermain ), Hb dan PCV
meningkat.

Panas disertai perdarahan

Panas disertai renjatan.

Belum atau tanpa renjatan


Grade I dan II

Oral ad Libitum

BB < 10 kg : infuse RL 75 ml/kgBB/hari


BB > 10 kg : infuse RL 50 ml/kgBB/hari ditambah
minuman oralit, air buah/susu secukupnya

Bila anak tidak suka minum, pemberian cairan sesuai


dengan kebutuhan pasien dalam waktu 24 jam :
BB < 25 kg : 100 ml/kgBB/24 jam
BB 26 30 kg : 75 ml/kgBB/24 jam
BB 31 40 kg : 60 ml/kgBB/24 jam
BB 41 50 kg : 59 ml/kgBB/24 jam

obat obatan :
Antibiotika: bila ada infeksi
Antipiretik : bila panas
Darah 15cc/kg BB/hari : bila
ada perdarahan hebat

Dengan Renjatan
Grade III
Infus RL 20 ml/ kgBB/1 jam

Tensi > 80 mmHg (sistolik)


Nadi < 120 x/mnt (teraba)
Akral hangat

RL 10 ml/kgBB/1 jam

Tensi < 80 mmHg (sistolik)


Nadi > 120 x/mnt (teraba)
Akral dingin

Plasma expander 10ml/kgBB/1 jam


(max : 30ml/kgBB/24 jam)

Tensi dan nadi stabil

Cairan infuse sesuai kebutuhan


Keadaan umum blm
Cairan dalam 24 jam dikurangi
membaik (tensi <
Cairan yang sudah masuk (24 jam
80 mmHg) nadi cepat,
dikurangi waktu yang dipakai untuk
lemah
dan
akral
mengatasi renjatan) yaitu :
dingin

100 mil/kgBB/24 jam : untuk BB < 25 kg

75 ml/kgBB/24 jam : untuk 26-30 kg

60 ml/kgBB/24 jam : untuk 31-40 kg

50 ml/kgBB/24 jam : untuk 41-50 kg


Plasma
expander
10
ml/kgBB/1 jam
(max30ml/kgBB/24jam)

Keadaan
membaik

umum

Cairan RL sesuai
kebutuhan selama 24
jam dikurangi cairan
yang sudah masuk
selama
mengatasi
renjatan

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DHF


A.Pengkajian
1.Identitas
Nama, umur (pada DHF paling sering menyerang anak-anak dengan usia
kurang dari 15 tahun ), jenis kelamin, alamat, pendidikan, nama orang tua,
pendidikan orang tua.
2.Keluhan utama
Pasien mengeluh panas, sakit kepala, lemah, nyeri ulu hati, mual dan nafsu
makan menurun
3.Riwayat penyakit sekarang
Riwayat kesehatan menunjukkan adanya sakit kepala, nyeri otot, pegal
seluruh tubuh, sakit pada waktu menelan, lemah, panas, mual, dan nafsu makan
menurun.
4.Riwayat penyakit terdahulu
Tidak ada penyakit yang diderita secara specific.
5.Riwayat penyakit keluarga
Riwayat adanya penyakit pada anggota keluarga yang lain sangat
menentukan, karena penyakit DHF adalah penyakit yang bisa ditularkan melalui
gigitan nyamuk aides aigepti.
6.Riwayat Kesehatan Lingkungan.
Biasanya lingkungan kurang bersih, banyak genangan air bersih seperti
kaleng bekas, ban bekas, tempat air minum burung yang jarang diganti airnya,
bak mandi jarang dibersihkan.
7.Riwayat Tumbuh Kembang
8.Pengkajian Per Sistem
8.1 Sistem Pernafasan
Sesak, perdarahan melalui hidung, pernafasan dangkal,
epistaksis,pergerakan dada simetris,perkusi sonor,pada auskultasi terdengar
ronchi, krekles.
8.2 Sistem persyarafan
Pada grade III ; kesadaran apatis, somnolen,keadaan umum lemah, serta

pada grade IV kesadaran koma, kejang..


8.3 Sistem Cardiovaskuler.
Pada grade I dapat terjadi hemokonsentrasi, uji torniquet positif,
trombositopeni, pada grade II nadi lemah, kecil dan tidak teratur, ada
perdarahan spontan petekie, perdarahan gusi, pada grade III dapat terjadi
kegagalan sirkulasi,nadi cepat, lemah, hipotensi, cyanosis sekitar mulut,
hidung dan jari-jari, pada grade IV nadi tidak teraba dan tekanan darah tak
dapat diukur.
8.4 Sistem Pencernaan
Selaput

mukosa

kering,

epigastrik,pembesaran

kesulitan

limpa,

menelan,

pembesaran

hati,

nyeri

tekan

abdomen

pada

teregang,

penurunan nafsu makan, mual, muntah, nyeri saat menelan, dapat


hematemesis, melena.
8.5 Sistem Perkemihan
Produksi urine menurun, kadang kurang dari 30 cc/ jam, akan
mengungkapkan nyeri saat kencing, kencing berwarna merah.
8.6 Sistem integumen.
Terjadi peningkatan suhu tubuh, kulit kering, pada grade I terdapat positif
pada uji torniquet, pada grade II terjadi perdarahan spontan petekie, pada
grade IV ekstrimitas teraba dingin, berkeringat, dan kulit tampak biru.
B. Diagnosa keperawatan
1 Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus.
2 Resiko defisit cairan berhubungan dengan pindahnya cairan intravaskuler ke
ekstravaskuler.
3. Resiko syok hipovolemik berhubungan dengan perdarahan yang berlebihan,
pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler.
4 Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan deangan intake nutrisi yang tidak adekuat akibat mual dan nafsu
makan menurun.
5 Resiko terjadinya perdarahan berhubungan dengan faktor-faktor pembekuan
darah (thrombositopeni )
6

Kecemasan berhubungan dengan kondisi pasien yang memburuk dan

perdarahan.
7 Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi
C. Rencana Asuhan Keperawatan

1 DP :Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus dengue.


Tujuan : Suhu tubuh normal
Kriteria hasil : Suhu tubuh antara 36 0 C 37 0 C
Nadi antara 60 -- 100 X / menit
Akral teraba hangat.
Intervensi :
a. Beri kompres dingin
Rasional : Kompres dingin akan terjadi pemindahan panas secara
konduksi.
b. Berikan/ anjurkan pasien pada grade I & II untuk minum banyak 15002000 cc/ hari ( sesuai toleransi ), Infus cairan ringer laktat dosis 75 ml /
Kg BB / hari untuk anak dengan BB > 10 kg atau 50 ml / Kg BB / hari
untuk anak dengan BB < 10 kg ( kolaborasi ).
Rasional :Untuk mengganti cairan tubuh yang hilang akibat evaporasi.
c. Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang tipis dan mudah
menyerap keringat.
Rasional :Memberikan rasa nyaman dan pakaian yang tipis mudah
menyerap keringat dan tidak merangsang peningkatan suhu tubuh.
d. Observasi intake dan output, tanda vital ( suhu, nadi, tekanan darah )
tiap 3 jam.
Rasional : mendeteksi dini kekurangan cairan serta mengetahui
keseimbangan cairan dan elektrolit , tanda vital merupakan acuan untuk
mengetahui keadaan umum pasien.
e Kolaborasi : pemberian cairan intra vena dan obat sesuai program.
Rasional : Pemberian cairan sangat penting bagi pasien dengan suhu
tubuh yang tinggi. Obat khususnya untuk menurunkan suhu tubuh
pasien
2

DP :Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan pindahnya cairan


intra vaskuler ke ekstravaskuler.
Tujuan : Tidak terjadi devisit volume cairan.
Kriteria : Input dan output seimbang
Akral hangat.
Nadi : 60 100 X / menit
Tekanan darah : 100 / 60 mm Hg 120 / 80 mm Hg.
Intervensi.

a Awasi vital sign tiap 3 jam / lebih sering .


Rasional : Vital sign membantu mengidentifikasi fluktuasi cairan
intravaskuler.
b. Observasi capillary refill.
Rasional : Indikasi keadekuatan sirkulasi perifer.
c. Observasi intake dan output. Catat warna urine / konsentrasi, BJ.
Rasional : Penurunan haluaran urine pekat dengan peningkatan BJ diduga
dehidrasi
d. Anjurkan untuk minum 1500-2000 cc/ hari (sesuai toleransi ).
Rasional : Untuk memenuhi cairan tubuh peroral
e Kolaborasi : Pemberian cairan intravena.
Rasional : Dapat meningkatkan jumlah cairan tubuh, untuk mencegah
terjadinya hipovolemik syok.
.
3. DP : Resiko syok hipovolemik berhubungan dengan perdarahan yang
berlebihan,pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler.
Tujuan : Tidak terjadi syok hipovolumik.
Kriteria : Tanda vital dalam batas normal.
Nadi : 60 100 X / menit
Tekanan darah : 100 / 60 mm Hg 120 / 80 mm Hg.
Intervensi :
a. .Monitor Keadaan umum pasien
Rasional : Untuk memonitor kondisi pasien selama perawatan terutama
saat terjadi perdarahan. Perawat segera mengetahui tanda-tanda presyok.
b. Observasi vital sign setiap 3 jam atau lebih.
Rasional :Perawat perlu terus mengobservasi vital sign untuk
memastikan tidak terjadi presyok/ syok.
c. Jelaskan pada pasien

dan keluarga tanda perdarahan, dan segera

laporkan jika terjadi perdarahan.


Rasional : Dengan melibatkan pasien dan keluarga maka tanda-tanda
perdarahan dapat segera diketahui dan tindakan yang cepat dan tepat
dapat segera diberikan.
d. Kolaborasi : Pemberian cairan intravena.
Rasional : Cairan intravena diperlukan untuk mengatasi kehilangan
cairan tubuh secara hebat.
e.Kolaborasi : Pemeriksaan : HB, PCV, Trombo
Rasional : Untuk mengetahui tingkat kebocoran pembuluh darah yang

dialami

pasien dan untuk acuan melakukan tindakan lebih lanjut.

4. DP: Resiko pemenuhan gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh


berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat akibat mual dan
nafsu makan menurun.
Tujuan : Tidak terjadi gangguan kebutuhan nutrisi.
Kriteria : Tidak ada tanda-tanda malnutrisi :
Berat Badan naik / tetap
Intervensi :
a. Kaji riwayat nutrisi, termasuk makanan yang disukai.
Rasional :Mengidentifikasi defisiensi, menduga kemungkinan
intervensi.
b. Observasi dan catat masukan pasien.
Rasional : Mengawasi masukan kalori / kualitas kekurangan konsumsi
makanan.
c. Timbang BB tiap hari (bila memungkinkan )
Rasional : Mengawasi penurunan BB / mengawasi efektifitas intervensi.
d Berikan makanan sedikit namun sering dan atau makan diantara waktu
makan.
Rasional : Makanan sedikit dapat menurunkan kelemahan dan
meningkatkan masukan, juga mencegah distensi gaster.
e. Berikan dan bantu oral hygiene.
Rasional : Meningkatkan nafsu makan dan masukan peroral.
f. Hindari makanan yang merangsang dan mengandung gas.
Rasional : Menurunkan distensi dan iritasi gaster.
5. DP :Resiko terjadi perdarahan berhubungan dengan penurunan faktor-faktor
pembekuan darah ( thrombositopeni )
Tujuan : Tidak terjadi perdarahan.
Kriteria : Tidak ada tanda perdarahan lebih lanjut, thrombosit meningkat
TD 100 / 60 mm Hg, N : 80- 100 x / menit reguler, pulsasi kuat.
Intervensi :
a. Monitor tanda- tanda penurunan thrombosit yang disertai dengan tanda-tanda
klinis.
Rasional : penurunan thrombosit merupakan tanda-tanda adanya kebocoran
pembuluh darah yang pada tahap tertentu dapat menimbulkan tanda tanda

klinis
berupa perdarahan (nyata ) seperti epistaksis, petikie,dll.
b. Memberikan penjelasan tentang pengaruh thrombositopenia pada pasien.
Rasional : Agar pasien / keluarga mengetahui hal-hal yang mungkin terjadi
pada pasien dan dapat membantu mengantipasi terjadinya perdarahan karena
thrombositopeni.
c. Memonitor jumlah thrombosit tiap hari.
Rasional : Dengan jumlah thrombosit yang dipantau setiap hari,dapat
diketahui tingkat kebocoran pembuluh darah dan kemungkinan perdarahan
yang dialami pasien.
d Menganjurkan pasien untuk banyak istirahat.
Rasional : aktifitas yang tidak terkontrol dapat menyebabkan terjadinya
perdarahan
6. DP : Kecemasan berhubungan dengan kondisi pasien yang memburuk dan
perdarahan
Tujuan : Tidak mengalami kecemasan.
Kriteria hasil : Wajah tampak tenang
Tidak selalu bertanya kepada petugas.
Intervensi :
a. Kaji rasa cemas yang dialami psien / keluarga.
Rasional : Menetapkan tingkat kecemasan yang dialami pasien / keluarga
b. Menjalin hubungan saling percaya dengan pasien dan keluarga.
Rasional : Agar pasien / keluarga bersikap terbuka dengan perawat.
c. Menunjukkan sikap empati.
Rasional:Sikap empati akan membuat pasien / keluarga merasa diperhatikan
dengan sungguh-sungguh
d.Berikan kesempatan kepada pasien / keluarga untuk mengungkapan rasa
cemasnya.
e. Gunakan komunikasi terapeutik.
Rasional : Agar segala sesuatu yang disampaikan, diajarkan pada pasien /
keluarga memberikan hasil yang efektif.
f. Menjawab semua pertanyaan pasien / keluarga dengan jujur dan benar.
Rasional :jawaban yang jujur dan benar akan mempertahankan kepercayaan
pasien pada perawat. Ini sangat penting agar pasien / keluarga tetap bersikap
terbuka pada perawat.

g. Berikan penjelasan tiap prosedur / tindakan yang akan dilakukan terhadap


pasien dan manfaatnya bagi pasien.
Rasional : Memberikan penjelasan tentang proses penyakit ( kolaborasi
dokter ). Menjelaskan tentang kemungkinan pemberian perawatan intensif
jika memang diperlukan oleh pasien untuk mendapatkan perawatan yang
lebih optimal.
h.Berikan kesempatan pada keluarga untuk mendampingi pasien secara
bergantian
Rasional : Pasien akan merasa lebih tenang jika ada anggota keluarga yang
menemani
.
7. DP : Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi.
Tujuan : Pasien mengerti tentang informasi yang diberikan.
Kriteria hasil : Pasien / keluarga dapat menjelaskan kembali tentang ( proses
penyakit, diet, perawatan dan obat-obatan bagi penderita DHF ).
Intervensi :
a. Kaji tingkat pengetahuan pasien / keluarga tentang penyakit DHF.
Rasional : Untuk memberikan informasi pada pasien / keluarga, perawat
perlu mengetahui sejauh mana informasi atau pengetahuan tentang penyakit
yang diketahui pasien serta kebenaran informasi yang telah didapatkan
sebelumnya.
b. Kaji latar belakang pendidikan pasien / keluarga.
Rasional : Agar perawat dapat memberikan penjelasan sesuai dengan tingkat
pendidikan mereka sehingga penjelasan dapat dipahami dan tujuan yang
direncanakan berhasil.
c. Jelaskan tentang proses penyakit, diet, perawatan dan obat-obatan pada
pasien dengan bahasa dan kata-kata yang mudah dipahami.
Rasional : Agar informasi dapat diterima dengan mudah dan tepat sehingga
tidak menimbulkan kesalahpahaman.
d. Jelaskan semua prosedur yang akan dilakukan dan manfaatnya bagi pasien.
Rasional : Dengan mengetahui prosedur atau tindakan yang akan dialami,
pasien akan lebih kooperatif dan kecemasannya menurun.
e.Berikan kesempatan pada pasien / keluarga untuk menanyakan hal-hal yang
ingin diketahui sehubungan dengan penyakit yang dialami pasien.
Rasional : Mengurangi kecemasan dan memotivasi pasien untuk kooperatif
selama masa perawatan atau penyembuhan.