Anda di halaman 1dari 14

TUGAS BAHASA INDONESIA

KALIMAT EFEKTIF

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Disusun Oleh :
Kelompok 3
Nafira A. Marafa
Nursena Magista A.
Ratna Mutu M.M
Rhiski Aprilianto
Risma Gian Kamila
Suci Magfiroh F
Taqwa Fabriano
Yahdie Khoirul R.
Zuhrotur Rosyidah
Kelas :

(17)
(18)
(19)
(20)
(21)
(22)
(23)
(24)
(25)

1B / 09
TEKNIK SIPIL

TAHUN AJARAN 2014/2015

KATA PENGANTAR
Assalamualaikm Wr. Wb.
Alhamdulillah dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah swt yang maha
pengasih dan penyayang yang telah memberikan rahmat, hidayah dan inayahnya kepada
kami, sehingga dapat menyelesaikan makalah tentang KALIMAT EFEKTIF ini.
Makalah ini merupakan salah satu tugas yang di berikan kepada kami dalam rangka
pengembangan dasar ilmu bahasa Indonesia yang berkaitan dengan kalimat efektif. Selain itu
tujuan dari penyusunan makalah ini juga untuk menambah wawasan tentang pengetahuan
Bahasa secara meluas. Sehingga besar harapan kami, makalah yang kami sajikan dapat
menjadi konstribusi positif bagi pengembang wawasan pembaca.
Akhirnya kami menyadari dalam penulisan makalah ini jauh dari kesempurnaan. Oleh
karena itu, dengan segala kerendahan hati kami menerima kritik dan saran agar penyusunan
makalah selanjutnya menjadi lebih baik. Semoga makalah ini memberi manfaat bagi banyak
pihak. Amin.
Wassalamualaikum Wr. Wb.

Malang, Oktober 2014

ii

iii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Sebagai mahasiswa, kita tidak asing lagi dengan menulis laporan maupun proposal.

Tentu saja kita berharap agar pembaca dapat memahami secara jelas gagasan yang kita
sampaikan. Namun, terkadang pembaca tidak dapat memahami gagasan yang kita tulis.
Mustakim (dalam Wahyudi 2013:1) mengatakan,
Supaya kalimat yang dibuat dapat mengungkapkan gagasan pemakainya secara tepat,
unsur kalimat-kalimat yang digunakan harus lengkap dan eksplisit. Artinya, unsur-unsur
kalimat seharusnya ada yang tidak boleh dihilangkan. Sebaliknya, unsur-unsur yang
seharusnya tidak ada tidak perlu dimunculkan. Kelengkapan dan keeksplisitan semacam
itu dapat diukur berdasarkan keperluan komunikasi dan kesesuaiannya dengan kaidah.

Dalam laporan kita sering menjumpai kalimat yang tidak memenuhi syarat sebagai
bahasa ilmiah, seperti, kalimat yang dituliskan bertele-tele, tidak logi, tidak baku. Hal seperti
inilah yang menyebabkan gagasan yang kita sampaikan sulit untuk dipahami oleh pembaca.
Oleh karena itu, hendaknya kita menggunakan kalimat yang dapat menyampaikan gagasan
yang kita tulis dapat dipahami dengan jelas oleh pembaca.
Kalimat yang dapat menyampaikan apa yang kita maksud atau yang kita pikirkan
disebut kalimat efektif, yang menurut Rahayu (dalam Rhidamalia:2013), Kalimat efektif
adalah kalimat yang bukan hanya memenuhi syarat-syarat komunikatif, gramatikal, dan
sintaksis saja, tetapi juga harus hidup, segar, mudah dipahami, serta sanggup menimbulkan
daya khayal pada diri pembaca.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa yang dimaksud dengan kalimat efektif?
1.2.2 Bagaimana ciri-ciri kalimat efektif?
1.2.3 Apa syarat yang mendasari kalimat efektif?
1.2.4 Bagaimana struktur kalimat efektif?
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan ini adalah
1.3.1 Agar tidak terjadi kesalahan dalam penggunakan bahasa Indonesia, sehingga
1.3.2

menjadi baik dan benar,


Mengetahui cara memggunakan kalimat efektif dalam berbahasa,

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Kalimat Efektif

Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan penutur/penulisnya


secara tepat sehingga dapat dipahami oleh pendengar/pembaca secara tepat pula. Efektif
dalam hal ini adalah ukuran kalimat yang memiliki kemampuan menimbulkan gagasan atau
pikiran pada pendengar atau pembaca. Dengan kata lain, kalimat efektif adalah kalimat yang
dapat mewakili pikiran penulis atau pembicara secara tepat sehingga pendengar/pembaca
dapat memahami pikiran tersebut dengan mudah, jelas dan lengkap seperti apa yang
dimaksud oleh penulis atau pembicaranya.
Efektif mengandung pengertian tepat guna, artinya sesuatu akan berguna jika dipakai
pada sasaran yang tepat. Pengertian efektif dalam kalimat adalah dan ketepatan penggunaan
kalimat dan ragam bahasa tertentu dalam situasi kebahasaan tertentu pula. Beberapa definisi
kalimat efektif menurut beberapa ahli bahasa :
a. Kalimat efektif adalah kalimat yang bukan hanya memenuhi syarat-syarat
komunikatif, gramatikal, dan sintaksis saja, tetapi juga harus hidup, segar, mudah
dipahami, serta sanggup menimbulkan daya khayal pada diri pembaca. (Rahayu:
2007)
b. Kalimat efektif adalah kalimat yang benar dan jelas sehingga dengan mudah dipahami
orang lain secara tepat. (Akhadiah, Arsjad, dan Ridwan:2001)
c. Kalimat efektif adalah kalimat yang memenuhi kriteria jelas, sesuai dengan kaidah,
ringkas, dan enak dibaca. (Arifin: 1989)
d. Kalimat efektif dipahami sebagai kalimat yang dapat menyampaikan informasi dan
informasi tersebut mudah dipahami oleh pembaca. (Nasucha, Rohmadi, dan Wahyudi:
2009)
e. Kalimat efektif di pahami sebagai sebuah kalimat yang dapat membantu menjelaskan

sesuatu persoalan secara lebih singkat jelas padat dan mudah di mengerti serta di
artikan. (Arif: 2013)

Dari beberapa uraian di atas dapat diambil kata kunci dari definisi kalimat efektif yaitu
sesuai kaidah bahasa, jelas, dan mudah dipahami. Jadi, kalimat efektif adalah kalimat yang
sesuai dengan kaidah bahasa, jelas, dan mudah dipahami oleh pendengar atau pembaca.
Kalimat efektif syarat-syarat sebagai berikut:
a. Secara tepat mewakili pikiran pembicara atau penulisnya.
b. Mengemukakan pemahaman yang sama tepatnya antara pikiran pendengar atau
pembaca dengan yang dipikirkan pembaca atau penulisnya.
2.2 Ciri-Ciri Kalimat Efektif
2.2.1 Kesejajaran
Memiliki kesamaan bentukan/imbuhan. Jika bagian kalimat itu menggunakan
kata kerja berimbuhan di-, bagian kalimat yang lainnya pun harus menggunakan dipula.
Kakak menolong anak itu dengan dipapahnya ke pinggir jalan.
Kalimat tersebut tidak memiliki kesejajaran antara predikat-predikatnya. Yang
satu menggunakan predikat aktif, yakni imbuhan me-, sedang yang satu lagi
menggunakan predikat pasif, yakni menggunakan imbuhan di-.
Kalimat itu harus diubah :
a. Kakak menolong anak itu dengan memapahnya ke pinggir jalan
b. Anak itu ditolong kakak dengan dipapahnya ke pinggir jalan.
2.2.2 Kehematan
Kalimat efektif tidak boleh menggunakan kata-kata yang tidak perlu. Kata-kata
yang berlebih. Penggunaan kata yang berlebih hanya akan mengaburkan maksud
kalimat.
Bunga-bunga mawar, anyelir, dan melati sangat disukainya.
Pemakaian kata bunga-bunga dalam kalimat di atas tidak perlu. Dalam kata
mawar,anyelir,dan melati terkandung makna bunga.
Kalimat yang benar adalah:
Mawar,anyelir, dan melati sangat disukainya.
2.2.3

Penekanan
Kalimat yang dipentingkan harus diberi penekanan.
Caranya:
2.2.3.1 Mengubah posisi dalam kalimat, yakni dengan cara meletakkan bagian
yang penting di depan kalimat.
Contoh :

a. Harapan kami adalah agar soal ini dapat kita bicarakan lagi pada
kesempatan lain
b. Pada kesempatan lain, kami berharap kita dapat membicarakan lagi
soal ini.
2.2.3.2 Menggunakan partikel; penekanan bagian kalimat dapat menggunakan
partikel lah, -pun, dan kah.
Contoh :
a. Saudaralah yang harus bertanggung jawab dalam soal itu.
b. Kami pun turut dalam kegiatan itu.
c. Bisakah dia menyelesaikannya?
2.2.3.3 Menggunakan repetisi, yakni dengan mengulang-ulang kata yang
dianggap penting.
Contoh :
Dalam membina hubungan antara suami istri, antara guru dan
murid, antara orang tua dan anak, antara pemerintah dan rakyat,
diperlukan adanya komunikasi dan sikap saling memahami antara
satu dan lainnya.
2.2.3.4 Menggunakan

pertentangan,

yakni

menggunakan

kata

yang

bertentangan atau berlawanan makna/maksud dalam bagian kalimat


yang ingin ditegaskan.
Contoh :
a. Anak itu tidak malas, tetapi rajin.
b. Ia tidak menghendaki perbaikan yang sifatnya parsial, tetapi total
dan menyeluruh.
2.2.4

Kelogisan
Kalimat efektif harus mudah dipahami. Dalam hal ini hubungan unsur-unsur

dalam kalimat harus memiliki hubungan yang logis/masuk akal.


Contoh :
a. Waktu dan tempat saya persilakan.
Kalimat ini tidak logis/tidak masuk akal karena waktu dan tempat adalah
benda mati yang tidak dapat dipersilakan. Kalimat tersebut harus diubah
misalnya ;
2.2.5

b. Bapak penceramah, saya persilakan untuk naik ke podium.


Kesepadanan

Yang dimaksud dengan kesepadanan ialah keseimbangan antara pikiran


(gagasan) dan struktur bahasa yang dipakai. Kesepadanan kalimat ini diperlihatkan oleh
kesatuan gagasan yang kompak dan kepaduan pikiran yang baik.
Kesepadanan kalimat itu memiliki beberapa ciri, seperti tercantum di bawah ini:
2.2.5.1 Kalimat itu mempunyai subjek dan predikat dengan jelas.
Ketidakjelasan subjek atau predikat suatu kalimat tentu saja membuat
kalimat itu tidak efektif. Kejelasan subjek dan predikat suatu kalimat dapat
dilakukan dengan menghindarkan pemakaian kata depan di, dalam bagi untuk,
pada, sebagai, tentang, mengenai, menurut, dan sebagainya di depan subjek.
Contoh:
a. Bagi semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang
kuliah. (Salah)
b. Semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang
kuliah. (Benar)
2.2.5.2 Tidak terdapat subjek yang ganda.
Contoh:
a. Penyusunan laporan itu saya dibantu oleh para dosen.
b. Saat itu saya kurang jelas.
2.2.5.3 Kalimat-kalimat itu dapat diperbaiki dengan cara berikut :
a. Dalam menyusun laporan itu, saya dibantu oleh para dosen.
b. Saat itu bagi saya kurang jelas.
2.2.5.4 Kalimat penghubung intrakalimat tidak dipakai pada kalimat tunggal.
Contoh:
a. Kami datang agak terlambat. Sehingga kami tidak dapat mengikuti
acara pertama.
b. Kakaknya membeli sepeda motor Honda. Sedangkan dia membeli
sepeda motor Suzuki.
Perbaikan kalimat-kalimat ini dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama,
ubahlah kalimat itu menjadi kalimat majemuk dan kedua gantilah ungkapan
penghubung intrakalimat menjadi ungkapan penghubung antarkalimat, sebagai
berikut:
a. Kami datang agak terlambat sehingga kami tidak dapat mengikuti

acara pertama. Atau


Kami datang terlambat. Oleh karena itu, kami tidak dapat
mengikuti acara pertama.
b. Kakaknya membeli sepeda motor Honda, sedangkan dia membeli

sepeda motor Suzuki. Atau


6

Kakaknya membeli sepeda motor Honda. Akan tetapi, dia membeli


sepeda motor Suzuki.
2.2.5.5 Predikat kalimat tidak didahului oleh kata yang.
Contoh:
a. Bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu.
b. Sekolah kami yang terletak di depan bioskop Gunting.
Perbaikannya adalah sebagai berikut:
a. Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu.
b. Sekolah kami terletak di depan bioskop Gunting.
2.2.6

Keparalelan
Yang dimaksud dengan keparalelan adalah kesamaan bentuk kata yang

digunakan dalam kalimat itu. Artinya, kalau bentuk pertama menggunakan nomina.
Kalau bentuk pertama menggunakan verba, bentuk kedua juga menggunakan verba.
Contoh:
a. Harga minyak dibekukan atau kenaikan secara luwes.
b. Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok,
memasang penerangan, pengujian sistem pembagian air, dan pengaturan tata
ruang.
Kalimat (a) tidak mempunyai kesejajaran karena dua bentuk kata yang mewakili
predikat terdiri dari bentuk yang berbeda, yaitu dibekukan dan kenaikan. Kalimat itu
dapat diperbaiki dengan cara menyejajarkan kedua bentuk itu.
Harga minyak dibekukan atau dinaikkan secara luwes.
Kalimat (b) tidak memiliki kesejajaran karena kata yang menduduki predikat
tidak sama bentuknya, yaitu kata pengecatan, memasang,pengujian, dan pengaturan.
Kalimat itu akan baik kalau diubah menjadi predikat yang nomial, sebagai berikut:
Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok,
pemasangan penerangan, pengujian sistem pembagian air, dan pengaturan tata ruang.
2.2.7

Ketegasan
Yang dimaksud dengan ketegasan atau penekanan ialah suatu perlakuan

penonjolan pada ide pokok kalimat. Dalam sebuah kalimat ada ide yang perlu
ditonjolkan. Kalimat itu memberi penekanan atau penegasan pada penonjolan itu. Ada
berbagai cara untuk membentuk penekanan dalam kalimat.
2.2.7.1 Meletakkan kata yang ditonjolkan itu di depan kalimat (di awal kalimat).
Contoh:

Presiden mengharapkan agar rakyat membangun bangsa dan negara ini


dengan kemampuan yang ada pada dirinya.
Penekanannya ialah presiden mengharapkan.
Contoh:
Harapan presiden ialah agar rakyat membangun bangsa dan negaranya.
Penekanannya Harapan presiden.
Jadi, penekanan kalimat dapat dilakukan dengan mengubah posisi
kalimat.
2.2.7.2 Membuat urutan kata yang bertahap
Contoh:
Bukan seribu, sejuta, atau seratus, tetapi berjuta-juta rupiah, telah
disumbangkan kepada anak-anak terlantar.
Seharusnya:
Bukan seratus, seribu, atau sejuta, tetapi berjuta-juta rupiah, telah
disumbangkan kepada anak-anak terlantar.
2.2.7.3 Melakukan pengulangan kata (repetisi).
Contoh:
Saya suka kecantikan mereka, saya suka akan kelembutan mereka.
2.2.7.4 Melakukan pertentangan terhadap ide yang ditonjolkan
Contoh:
Anak itu tidak malas dan curang, tetapi rajin dan jujur.
2.2.7.5 Mempergunakan partikel penekanan (penegasan).
Contoh:
Saudaralah yang bertanggung jawab.
2.2.8

Kecermatan dalam Pemilihan dan Penggunaan Kata


Yang dimaksud dengan cermat adalah bahwa kalimat itu tidak menimbulkan

tafsiran ganda.
Dan tepat dalam pilihan kata. Perhatikan kalimat berikut.
a. Mahasiswa perguruan tinggi yang terkenal itu menerima hadiah.
b. Dia menerima uang sebanyak dua puluh lima ribuan.
Kalimat (a) memilikimakna ganda, yaitu siapa yang terkenal, mahasiswa atau
perguran tinggi.
Kalimat (b) memiliki makna ganda, yaitu berapa jumlah uang, seratus ribu
rupiah atau dua puluh lima ribu rupiah.
8

2.2.9

Kepaduan
Yang dimaksud dengan kepaduan ialah kepaduan ialah kepaduan pernyataan

dalam kalimat itu sehingga informasi yang disampaikannya tidak terpecah-pecah.


2.2.9.1 Kalimat yang padu tidak bertele-tele dan tidak mencerminkan cara

berpikir yang tidak simetris.


Contoh:
Kita harus dapat mengembalikan kepada kepribadian kita orangorang kota yang telah terlanjur meninggalkan rasa kemanusiaan itu
dan yang secara tidak sadar bertindak keluar dari kepribadian
manusia Indonesia dari sudut kemanusiaan yang adil dan beradab
2.2.9.2 Kalimat yang padu mempergunakan pola aspek + agen + verbal secara

tertib dalam kalimat-kalimat yang berpredikat pasif persona.


Contoh:
a. Mereka membicarakan daripada kehendak rakyat.
b. Makalah ini akan membahas tentang desain interior pada
rumah-rumah adat.
Seharusnya:
a. Mereka membicarakan kehendak rakyat.
b. Makalah ini akan membahas desain interior pada rumah-rumah
adat.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.1.1 Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mewakili pikiran penulis atau
pembicara secara tepat sehingga pndengar/pembaca dapat memahami pikiran
tersebut dengan mudah, jelas dan lengkap seperti apa yang dimasud oleh penulis
3.1.2

atau pembicaranya.
Unsur-unsur dalam kalimat meliputi : subjek (S), prediket (P), objek (O),

3.1.3

pelengkap (Pel), dan keterangan (Ket).


Ciri-ciri kalimat efektif yaitu : Kesepadanan, keparalelan, ketegasan,
kehematan, kecermatan, kepaduan, kelogisan.

3.2 Saran
Pada kenyataannya, pembuatan makalah ini masih bersifat sangat sederhana dan
simpel. Serta dalam Penyusunan makalah inipun masih memerlukan kritikan dan saran bagi
pembahasan materi tersebut.

Daftar Pustaka
Ali, Lukman dkk. 1991. Petunjuk Praktis Berbahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Pembinaan
dan Pengembangan Bahasa.
Badudu, J.S. 1983. Membina Bahasa Indonesia baku. Bandung: Pustaka Prima.
4

Finoza, Lamuddin. 2002. Komposisi Bahasa Indonesia. Jakarta: Insan Mulia.


Razak, Abdul. 1985. Kalimat Efektif. Jakarta: Gramedia.
http://pengertian, Ciri, dan Penggunaan Kalimat Efektif.html. (diakses pada 2 Oktober 2014
pukul 20.00)
http://dayintapinasthika.wordpress.com/2013/01/02/contoh-kalimat-efektif-dan-kalimattidak-efektif/ (diakses pada 2 Oktober 2014 pukul 20.00)
http://arifharypurnomo.blogspot.com/2013/10/kalimat-efektif-ciri-ciri-dan-contoh.html
(diakses pada 2 Oktober 2014 pukul 20.00)