Anda di halaman 1dari 12

Perspektif Eropa terhadap Pembesaran NATO:

Studi Kebijakan Luar Negeri Negara-negara Besar Eropa

Disusun sebagai Persyaratan dalam


Mata Kuliah Dinamika Kawasan Eropa

oleh:
Tangguh (0706291426)

Departemen Ilmu Hubungan Internasional


Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Indonesia
2009

0
BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang


North Atlantic Treaty Organization (NATO) adalah suatu aliansi militer antarpemerintah yang
merupakan sistem collective security1 di mana negara-negara anggotanya setuju untuk melakukan
pertahanan bersama sebagai respon terhadap serangan dari pihak eksternal. Ancaman eksternal dalam
hal ini adalah agresi Uni Soviet dan Pakta Warsawa. Setelah kolapsnya Uni Soviet, tak terdapat lagi
ancaman terhadap negara-negara anggota NATO sehingga NATO tak lagi relevan. Namun, NATO
justru makin mengadopsi suatu agenda global dan berekspansi hingga mungkin akan memasukkan
negara-negara demokratik lainnya. Sebagian ahli berspekulasi bahwa hal ini dapat menjadi prekursor
bagi Eropa dan Amerika Serikat (AS) sebagai negara-negara anggota NATO untuk mulai berpisah,
karena Eropa dan AS jarang saling sependapat dan memahami, sehingga tidak mengherankan apabila
Amerika tidak lagi serius memandang Eropa sebagai partner strategis. Apalagi, terdapat keinginan
dari Eropa, terutama negara-negara kontinental, untuk melepaskan diri dari pengaruh AS,
sebagaimana kemandirian Eropa merupakan salah satu tujuan kebijakan luar negeri. Hal ini
menimbulkan pertanyaan tentang perspektif Eropa terhadap gagasan pembesaran NATO.

I.2. Rumusan Masalah


“Bagaimanakah perspektif Eropa terhadap gagasan pembesaran NATO dan konformitasnya
terhadap kebijakan luar negeri masing-masing negara Eropa, dengan studi kasus tiga negara besar
Eropa (Inggris, Prancis, Jerman)?”

1Collective security adalah suatu bentuk pengaturan sosial keamanan global di mana negara-negara
anggotanya setuju untuk melakukan pertahanan bersama sebagai respon terhadap serangan dari
pihak eksternal. Peraturan fundamental yang mengatur tindakan collective security adalah 1) identitas
sebagai sesama anggota, 2) otonomi yang dibatasi kewajiban untuk mengikuti dan menjalankan
peraturan aliansi, 3) sifat keamanan didasarkan atas komitmen multilateral untuk menggunakan
kapabilitas militer, 4) deterrence dilakukan dengan mengakui otonomi anggota lain yang tak
melanggar peraturan aliansi, 5) pelaksanaan retaliasi apabila terjadi pelanggaran terhadap peraturan,
serta 6) penggunaan force terkadang dianggap perlu. (Lihat Brian Frederking, “Constructing Post-Cold
War Collective Security”, The American Political Science Review, Vol. 97, No. 3 (Agustus, 2003), h.363-378)

1
BAB II

TELAAH PUSTAKA

II.1. Kebijakan Luar Negeri dan Perspektif Keamanan (Negara


Besar) Eropa
II.1.1. Kebijakan Luar Negeri Inggris di bawah Pemerintahan Buruh, 1997-2005

Pemerintahan Partai Buruh Tony Blair antara Mei 1997 dan Mei 2005 menekankan radikalisme dan
sifat baru, namun kebijakan luar negerinya didasarkan atas empat komitmen tradisional sebagai
berikut. 1) Multilateralisme. Blair khususnya makin menekankan kebutuhan akan multilateralisme
efektif dan ide partnership yang terinstitusionalisasi lebih longgar dalam kebijakan luar negeri. 2)
Hasrat untuk menjadi sekutu terdekat AS (Atlantisisme). Pemerintahan Blair memutuskan bahwa
kepentingan Inggris dapat paling terpenuhi dengan tetap menjadi sekutu terdekat Amerika dan
mendorong „kepemimpinan AS yang efektif‟ untuk memperkuat institusi-institusi internasional. 3)
Dukungan terhadap prinsip-prinsip neoliberal ekonomi politik. Pemerintahan Buruh mendukung
neoliberalisme terkait dengan konsensus post-Washington. 4) Komitmen eksplisit untuk mengubah
fondasi etis kebijakan luar negeri Inggris dari pragmatisme Inggris tradisional dan realpolitik menjadi
moralisme yang menekankan dimensi etik.2

II.1.2. Teori Eropanisasi dan Kebijakan Luar Negeri Prancis

“Eropanisasi” seringkali merujuk kepada perubahan-perubahan politik dan kebijakan yang


disebabkan pengaruh keanggotaan dalam Uni Eropa atas para Negara Anggota. Teoritikus
Eropanisasi menarik gagasan yang ditemukan dalam institusionalisme (institusi-institusi internasional
memiliki “kumpulan peraturan yang tetap dan terhubung yang menentukan peran-peran behavioral,
memaksa aktivitas, dan membentuk ekspektasi”) dan teori-teori rasionalisasi dan globalisasi. Berbagai
ahli Eropanisasi berargumen bahwa keanggotaan yang berkelanjutan dan partisipasi dalam Uni Eropa
akan membawa kepada konvergensi pembuatan kebijakan nasional, baik dalam gaya maupun isi. 3

2 Paul D. Williams, British Foreign Policy under New Labour, 1997–2005 (Hampshire: Palgrave
Macmillan, 2005), h.28-31
3 Reuben Y. Wong, The Europeanization of French Foreign Policy France and the EU in East Asia

(Hampshire: Palgrave Macmillan, 2006), h.6-10

2
Kebijakan luar negeri Prancis berdiri atas tradisi diplomatik yang telah berakar dan beberapa
prinsip fundamental: hak asasi manusia untuk menentukan sendiri (self-determination), penghormatan
terhadap hak asasi manusia dan prinsip-prinsip demokratik, serta penghormatan terhadap rule of law
dan kerjasama antarnegara. Dalam framework ini, perhatian Prancis adalah untuk mempertahankan
kemerdekaan nasionalnya sementara berusaha untuk mengembangkan konstruksi Eropa sebagaimana
solidaritas regional dan internasional. 4 Dengan studi kasus kebijakan Prancis di Asia Timur, Reuben Y.
Wong (2006) menyimpulkan bahwa kebijakan Prancis telah mengalami konvergensi signifikan dengan
kebijakan Negara Anggota Uni Eropa lainnya dan Komisi Eropa, serta beberapa konvergensi
kepentingan dan identitas.5 Prancis memiliki ambisi akan „une Europe puissance‟ (satu tentara Eropa); ia
ingin mendirikan lagi peran tradisionalnya sebagai negara besar dalam politik internasional, namun
menyadari bahwa usaha mencapai tujuan tersebut sendiri tak realistis, sehingga membelokkan ambisi
ini melalui integrasi Eropa. Prancis menarik diri dari struktur militer terintegrasi NATO pada 1966
sebagai reaksi terhadap dominasi AS dalam aliansi tersebut dan pada 1995 membuka kembali
reintegrasi terhadap struktur tersebut karena beberapa perubahan dalam NATO dan kemungkinan
mencapai aliansi dengan dua partner yang sederajat, yaitu Uni Eropa dan AS. 6

II.1.3. Kebijakan Luar Negeri Jerman

Tata konstitusional Jerman sebagaimana diabadikan dalam Grundgesetz (Hukum Dasar) berisi
beberapa prinsip kunci hubungan luar Jerman, dengan empat prinsip utama: 1) pemeliharaan
perdamaian internasional dalam hubungan dengan negara-negara lain dalam seluruh keadaan
(Hukum Dasar Pasal 26); 2) internasionalisme kooperatif dengan kemungkinan transfer kekuasaan
berdaulat ke dalam institusi-institusi antarpemerintahan; prinsip yang sering diinterpretasikan sebagai
tugas konstitusional untuk mengejar kebijakan Eropa yang aktif (Hukum Dasar Pasal 24 mengatur
integrasi Jerman ke dalam NATO); serta 3) penghormatan terhadap hak asasi manusia. 7 Kultur
kebijakan luar negeri Jerman didasarkan atas penolakan terhadap kebijakan-kebijakan Nasional
Sosialis; terkait dengan masa lalu Jerman; dan atas komitmen terhadap Barat penolakan terhadap
Sonderweg (jalur khusus) Jerman, sehingga Jerman berakar dengan kuat dalam “komunitas demokrasi
Barat”; memajukan integrasi dan transfer sebagian kedaulatan kepada Uni Eropa, mengejar

4 “ue2008.fr – Foreign policy”,


http://www.eu2008.fr/PFUE/lang/en/accueil/Bienvenue_en_France/la_france_dans_le_monde/la
_politique_etrangere.html
5 Reuben Y. Wong, op. cit., h.193-195
6 Pernille Rieker, “From Common Defence to Comprehensive Security Towards the Europeanisation of French

Foreign and Security policy?” Norwegian Institute of International Affairs (NUPI), 2005
7 August Pradetto, “The Polity of German Foreign Policy: Changes since Unification” dalam Hanns W.

Maull, Germany’s Uncertain Power: Foreign Policy of the Berlin Republic (Hampshire: Palgrave
Macmillan, 2006), h.15-16

3
pertumbuhan ekonomi, serta terdiri dari premis-premis normatif kebijakan luar negeri dalam Hukum
Dasar. Pelaksanaan kebijakan luar negeri Jerman pun bercirikan “multilateralisme berprinsip”.
Kebijakan luar negeri Jerman juga telah mengalami Eropanisasi sejak 1970-an sebagai konsekuensi
kedaulatan baru Jerman dan reposisi berturut-turut politiknya dalam lingkungan yang berubah secara
cepat, dengan peningkatan kepercayaan diri secara terus-menerus. Ekspresi dari kepercayaan diri baru
ini adalah peran kepemimpinan yang kuat di Eropa serta penerimaan secara simultan suatu peran
yang lebih aktif dalam isu-isu dunia.8

8 Augusto Pradetto, ibid., h.21-26

4
BAB III

PEMBAHASAN

III.1. Pembesaran NATO


North Atlantic Treaty Organization (NATO) adalah suatu aliansi militer antarpemerintah yang
merupakan sistem collective security di mana negara-negara anggotanya setuju untuk melakukan
pertahanan bersama sebagai respon terhadap serangan dari pihak eksternal. Sekretaris Jenderal NATO
pertama, Lord Ismay, menyatakan bahwa tujuan NATO adalah “to keep the Russians out, the Americans
in, and the Germans down”. Bagi perspektif Eropa, tujuan original NATO adalah memang untuk
memasukkan Amerika sebagai negara besar untuk memulihkan kepercayaan Eropa pasca-Perang (to
keep the Americans in). Bagi AS, fokusnya adalah untuk menghalangi agresi Soviet, atau menjaga Rusia
tetap di luar (to keep the Russians out). Tujuan ketiga, untuk menjaga Jerman tak bangkit kembali secara
militer (to keep the Germans down) diinterpretasikan secara bertahap; tak dilakukan dengan menekan
Jerman selamanya, namun dengan menghubungkannya dalam suatu institusi multilateral Eropa serta
membantu pemulihannya.9

Setelah kolapsnya Uni Soviet, terdapat suatu perkembangan di Eropa yang menghasilkan suatu
tata geopolitik dan militer baru di Eropa. Perkembangan ini dicirikan a) reunifikasi Jerman, b) reduksi
dan pembatasan peralatan perang strategis dan persenjataan konvensional di Eropa, serta c) revisi
signifikan atas doktrin dan strategi militer NATO. Perubahan doktrin dan strategi militer NATO
merupakan yang paling signifikan, di mana doktrin yang sebelumnya terletak pada dua pilar “forward
defense” dan “flexible response”. Namun, pertahanan konvensional front sentral akan menjadi sulit
karena letak geografis Jerman tak memungkinkannya mundur, sehingga NATO mengadopsi doktrin
flexible response, yaitu penggunaan persenjataan nuklir. Untuk menenangkan Gorbachev atas tujuan
NATO, doktrin-doktrin tersebut diubah secara radikal dalam konferensi NATO pada Juli 1990 dan
November 1991, mengubah konsep forward defense menjadi “reduced forward presence” dan flexible
response menjadi “reduced reliance on nuclear weapons”, yang kemudian menjadi “truly weapons of last
resort”. Ketika Pakta Warsawa dan Uni Soviet lenyap, NATO telah mereduksi kekuatan

9 William G. Hyland, “NATO’s Incredible Shrinking Defense” dalam Ted Carpenter dan Barbara Conry
(ed.), NATO Enlargement: Illusiona and Reality (Washington: Cato Institute, 1998), h.31

5
pertahanannya, membatasi alat-alat perangnya, dan mencairkan doktrin pertahanannya.10 Walaupun
begitu, dalam NATO berkembang keputusan untuk memperbesar NATO, hingga akhirnya
keanggotaan NATO dimasuki oleh negara-negara Eropa Tengah dan Timur mantan anggota Pakta
Warsawa. Penelaahan Wallander dan Keohane (1999) terhadap NATO menunjukkan adanya
perubahan dari format rezim, yaitu dari rezim yang menekakan fungsi collective defense menjadi
sebagian collective security, dengan kata lain dari threat management menjadi risk management. Relevansi
NATO pada masa pasca-Perang Dingin tidak bisa dilepaskan dari peningkatan kemampuan Uni
Eropa untuk melakukan operasi militer di luar pertahanan kolektif.

Pada perkembangan selanjutnya, NATO telah makin mengadopsi suatu agenda global dengan
karakter transatlantiknya, serta melakukan ekspansi yang mungkin akan memasukkan negara-negara
demokratik lainnya di luar kawasan Atlantik Utara. Isu pembesaran NATO global bersandar pada
argumen bahwa negara-negara demokratik, di luar zona Eropa Atlantik, juga memiliki komitmen
utama NATO terhadap nilai-nilai dan cita-cita demokratik. AS pun mendukung perubahan NATO
menjadi suatu aliansi global, karena dari perspektif mereka, hal tersebut akan memperkuat kapabilitas
militer NATO untuk menjalankan tujuan-tujuan Amerika. Menurut Ellen Hallams (2009), 11
memperbesar NATO dengan memasukkan negara-negara di luar zona Eropa-Atlantik berisiko
mendilusi karakter transatlantik NATO. Akhir Perang Dingin membawa debat tentang apakan NATO
akan bertahan dengan tidak adanya ancaman Soviet. Kaum realis memprediksi kematian NATO
dengan tidak adanya ancaman keamanan terhadap kepentingan para anggotanya, 12 sementara kaum
konstruktivis dan institusionalis menekankan bahwa identitas bersama NATO juga penting, dan
banyak tindakan NATO dalam Perang Dingin dilihat sebagai “retorika identitas” yang membantu
menopang NATO melalui periode krisis dan ketegangan. 13 Debat lainnya adalah tentang apakah AS
dan Eropa mulai berpisah. Robert Kagan (2003) menganggap bahwa Amerika dan Eropa jarang saling
sependapat dan memahami,14 dan hal ini membuat Dana H. Allin (2004) dan para penulis lainnya
berargumen bahwa tidak mengherankan apabila Amerika tidak lagi serius memandang Eropa sebagai

10 William G. Hyland, ibid., h.33-35


11 Ellen Hallams, “NATO at 60: Going global?” dalam International Journal, (Spring, 2009), hlm. 423-450
12 Dikutip oleh Ellen Hallams, ibid., lihat Kenneth Waltz, “The emerging structure of international

politics”, International Security 18, no. 2 (1993): 75; John J. Mearsheimer, “The false promise of international
institutions”, International Security 19, no. 3 (1994-95): 5-49; Waltz dikutip oleh Gunther Hellmann dan
Reinhard Wolf, “Neorealism, neoliberal institutionalism and the future of NATO”, Security Studies 3, no. 1
(1993): 17; serta John Mearsheimer, “Back to the future: Instability in Europe after the Cold War”,
International Security 15, no. 1 (summer 1990): 5
13 Robert B. McCalla, “NATO and the end of the Cold War”, www.nato.int dikutip oleh Ellen Hallams,

ibid.
14 Robert Kagan, Paradise and Power: America and Europe in the New World Order (London: Atlantic

Books, 2003) dikutip oleh Ellen Hallams, ibid.

6
partner strategis.15 Para penulis lain menganggap bahwa NATO hanya melakukan penyegaran
berdasarkan pemahaman baru atas nilai-nilai dan kepentingan bersama, bahwa pembesaran NATO
adalah bukti “logika institusional”. 16

Hallams mengungkapkan bahwa menjadikan NATO suatu aliansi demokrasi global juga
menciptakan ancaman suatu klub eksklusif yang mengasingkan negara-negara nonanggota dan
menciptakan pembagian dan kebencian lebih lanjut. Terdapat juga pandangan bahwa hasrat AS atas
NATO global adalah usaha untuk menjadikan NATO suatu pax Americana global, suatu klub elit
demokrasi dengan AS sebagai kekuatan pendorong. Sikap para anggotanya juga terbagi: beberapa
menganggap NATO global tidak diinginkan, yang lainnya berargumen bahwa NATO global tidak
realistis. Terdapat juga kekhawatiran tentang apakah aliansi yang diperluas akan meningkatkan atau
malah mengganggu efektivitas militer NATO.17

III.2. Perspektif Kawasan Eropa terhadap Pembesaran NATO


III.2.1. Sikap Eropa Menghadapi Negara-negara Nonanggota NATO, Khususnya Rusia

Jonathan Eyal (1997) menyebutkan bahwa dalam menghadapi pembesaran NATO, kawasan Eropa
sendiri pun akan terdapat kesulitan dengan dua kategori negara. Pertama, negara nonanggota NATO
maupun Uni Eropa (UE) yang terus menekan hak masuk kepada keduanya (Romania, Slovakia,
Slovenia, dan negara-negara Baltik). Romania dan Slovakia adalah negara-negara besar dengan
perekonomian yang masih berkembang dengan populasi minoritas etnik Hungaria yang besar, yang
merupakan potensi sumber masalah bagi NATO maupun Uni Eropa. 18

Kedua, negara yang dilarang masuk baik NATO maupun UE, namun tahu bahwa eksklusi ini
memberi mereka keuntungan (Ukraina dan Rusia). Ukraina telah menentang pembesaran NATO
terutama karena ia khawatir terhadap potensi efek serangan balasan Rusia. Yang paling berbahaya
adalah Rusia, karena Rusia memiliki aspirasi politik dan teritorial yang dapat terganggu dengan
pembesaran NATO yang memasukkan negara-negara bekas Uni Soviet dan mantan anggota Pakta

15 Dikutip oleh Ellen Hallams, ibid., lihat Dana H. Allin, “The Atlantic crisis of confidence”, International
Affairs 80, no. 4 (2004): 649-63; James B. Steinberg, “An elective partnership: Salvaging transatlantic
relations”, Survival 45, no. 2 (summer 2003): 113-46; Ivo Daalder dan Robert Kagan, “The allies must step
up”, Washington Post, 20 Juni 2004.
16 Ellen Hallams, ibid.
17 Ibid.
18 Jonathan Eyal, "NATO's Enlargement: Anatomy of a Decision”, International Affairs (Royal Institute of

International Affairs 1944-), Vol. 73, No. 4 (Okt., 1997), h.715

7
Warsawa.19 Ekspansi NATO akan mengantagonisasi Rusia, memperburuk kecurigaannya terhadap
Barat, dan memperkuat unsur-unsur anti-Barat dalam sistem politik Rusia, sehingga mengurangi
tingkat kerjasama antara Rusia dan Barat. 20 Efek provokatif ekspansi ini dapat dimitigasi dengan
restriksi dalam kriteria keanggotaan yang digunakan. Kecurigaan Rusia dapat diredakan lebih jauh
dengan lebih banyak jaminan dari Barat, namun kecurigaan malah akan melambung apabila NATO
terus berekspansi ke wilayah eks-Uni Soviet. Tentu saja, negara yang paling berkeberatan dengan
suatu agresi Rusia adalah Jerman. Dari sudut pandang idealis, hal tersebut bertentangan dengan
Hukum Dasar yang mempromosikan pemeliharaan perdamaian internasional dalam hubungan
dengan negara-negara lain dalam seluruh keadaan. Dari sudut pandang realis, Jerman adalah negara
perbatasan dengan Eropa Timur yang secara geopolitik paling vulnerabel terhadap agresi Rusia dari
timur.

III.2.2. Hubungan Amerika Serikat dan Eropa

Ivo H. Daalder (2001) mengungkapkan bahwa terdapat banyak hal yang dapat dikeluhkan Eropa
terkait kebijakan-kebijakan AS, seperti mengumumkan bahwa konvensi Kyoto tentang iklim global
telah „mati‟, retorika mirip Perang Dingin yang menandai seluruh pernyataan resmi kebijakan AS
terhadap China, dan denunsiasi rezim pengendalian persenjataan nuklir internasional dalam usaha
meyakinkan dunia akan kebutuhan terhadap pertahanan rudal. Daalder memprediksi bahwa ke
depannya, hubungan AS-Eropa tidak akan mengalami perpisahan, namun juga takkan mengalami
pembaharuan partnership, karena penyesuaian besar untuk mencocokkan hubungan tersebut pada sisi
AS dan Eropa sangat sulit untuk dicapai. Daalder mengungkapkan bahwa AS dan Eropa akan
mengalami drift tanpa tujuan dan di luar pengawasan, sehingga banyak peluang kerjasama akan
hilang, tindakan bersama yang terlambat, serta penurunan rasa hormat satu sama lain. 21

Dalam hal ini, Inggris akan terus berusaha menjadi sekutu terdekat AS karena merasa bahwa
kepentingan Inggris dapat paling terpenuhi dengan tetap menjadi sekutu terdekat Amerika dan
mendorong kepemimpinan AS yang efektif untuk memperkuat NATO. Prancis adalah negara yang
paling mungkin akan menarik NATO keluar dari dominasi AS, karena tujuan Prancis adalah untuk
mengembangkan konstruksi Eropa, terutama dengan kebijakan Prancis yang telah ter-Eropanisasi.

19 Jonathan Eyal, ibid., h.715-719


20 Andrew Kydd, “Trust Building, Trust Breaking: The Dilemma of NATO Enlargement”, International
Organization, Vol. 55, No. 4, The Rational Design of International Institutions (Autumn, 2001), hlm. 802
21 Ivo H. Daalder, “Are the United States and Europe Heading for Divorce?” International Affairs (Royal

Institute of International Affairs 1944-), Vol. 77, No. 3, Changing Patterns of European Security and Defence
(Jul., 2001), hlm. 563-567

8
Jerman takkan terlalu terganggu dengan isu pecahnya hubungan AS dengan Eropa, karena Jerman
memiliki peran kepemimpinan yang kuat di Eropa serta penerimaan secara simultan suatu peran yang
lebih aktif dalam isu-isu dunia, dan prioritas utamanya adalah mengejar pertumbuhan ekonomi
domestik.

9
BAB IV

SIMPULAN

Ada dua skenario yang mungkin terjadi sebagai efek pembesaran NATO, yaitu sebagai berikut. 1)
Ekspansi NATO akan mengantagonisasi Rusia, memperburuk kecurigaannya terhadap Barat, dan
memperkuat unsur-unsur anti-Barat dalam sistem politik Rusia, sehingga mengurangi tingkat
kerjasama antara Rusia dan Barat. Dalam hal ini, Jerman akan berkeberatan dengan suatu agresi Rusia
adalah Jerman karena bertentangan dengan Hukum Dasar yang mempromosikan pemeliharaan
perdamaian internasional dalam hubungan dengan negara-negara lain dalam seluruh keadaan, serta
karena Jerman adalah negara perbatasan dengan Eropa Timur yang secara geopolitik paling
vulnerabel terhadap agresi Rusia dari timur.

2) Hubungan AS-Eropa akan makin menjauh. Dalam hal ini, Inggris akan terus berusaha menjadi
sekutu terdekat AS karena merasa bahwa kepentingan Inggris dapat paling terpenuhi dengan tetap
menjadi sekutu terdekat Amerika dan mendorong kepemimpinan AS yang efektif untuk memperkuat
NATO. Prancis adalah negara yang paling mungkin akan menarik NATO keluar dari dominasi AS,
karena tujuan Prancis adalah untuk mengembangkan konstruksi Eropa, terutama dengan kebijakan
Prancis yang telah ter-Eropanisasi. Jerman takkan terlalu terganggu dengan isu pecahnya hubungan
AS dengan Eropa, karena Jerman memiliki peran kepemimpinan yang kuat di Eropa serta penerimaan
secara simultan suatu peran yang lebih aktif dalam isu-isu dunia, dan prioritas utamanya adalah
mengejar pertumbuhan ekonomi domestik.

10
DAFTAR PUSTAKA

Sumber Buku
Carpenter, Ted dan Barbara Conry (ed.). NATO Enlargement: Illusiona and Reality. Washington: Cato
Institute, 1998
Maull, Hanns W. Germany’s Uncertain Power: Foreign Policy of the Berlin Republic. Hampshire: Palgrave
Macmillan, 2006
Williams, Paul D. British Foreign Policy under New Labour, 1997–2005. Hampshire: Palgrave Macmillan,
2005
Wong, Reuben Y. The Europeanization of French Foreign Policy France and the EU in East Asia. Hampshire:
Palgrave Macmillan, 2006

Sumber Internet
“ue2008.fr – Foreign policy”,
http://www.eu2008.fr/PFUE/lang/en/accueil/Bienvenue_en_France/la_france_dans_le_monde
/la_politique_etrangere.html

Sumber Jurnal
Daalder, Ivo H. “Are the United States and Europe Heading for Divorce?” International Affairs (Royal
Institute of International Affairs 1944-), Vol. 77, No. 3, Changing Patterns of European Security and
Defence (Jul., 2001)
Eyal, Jonathan. "NATO's Enlargement: Anatomy of a Decision”, International Affairs (Royal Institute of
International Affairs 1944-), Vol. 73, No. 4 (Okt., 1997)
Frederking, Brian. “Constructing Post-Cold War Collective Security”, The American Political Science Review,
Vol. 97, No. 3 (Agustus, 2003)
Hallams, Ellen. “NATO at 60: Going global?” dalam International Journal, (Spring, 2009)
Kydd, Andrew. “Trust Building, Trust Breaking: The Dilemma of NATO Enlargement”, International
Organization, Vol. 55, No. 4, The Rational Design of International Institutions (Autumn, 2001)
Rieker, Pernille. “From Common Defence to Comprehensive Security Towards the Europeanisation of French
Foreign and Security policy?” Norwegian Institute of International Affairs (NUPI), 2005

11