Anda di halaman 1dari 11

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
Teori Umum
Mikrobiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari kehidupan makhluk yang bersifat
mikroskopik yang disebut mikroorganisme atau jasad renik, yaitu makhluk yang mempunyai
ukuran sel sangat kecil dimana setiap selnya hanya dapat dilihat dengan pertolongan
mikroskop. Dalam teknologi pangan, mikrobiologi merupakan ilmu yang sangat penting,
misalnya dalam hubungannya dengan kerusakan atau kebusukan makanan sehingga dapat
diketahui tindakan pencegahan atau pengawetan yang paling tepat untuk menghindari
terjadinya kerusakan tersebut. Di samping itu, mikrobiologi juga penting dalam fermentasi
makanan, sanitasi, pengawasan mutu pangan, dan sebagainya. Adanya jasad renik di dalam
makanan mungkin tidak diinginkan jika jasad renik tersebut dapat menyebabkan kerusakan
dan kebusukan makanan, atau menyebabkan keracunan bagi yang mengkonsumsinya. Tetapi
dalam fermentasi makanan dan minuman, pertumbuhan jasad renik justru dirangsang untuk
mengubah komponen-komponen di dalam bahan pangan tersebut menjadi produk-produk
yang diinginkan

Di dalam pekerjaan mikrobiologi seringkali kita tidak terlepas dari alat-alat yang berada
dalam laboratorium. Untuk itu diperlukan pemahaman tentang fungsi dan sifat-sifat dari alat
yang digunakan. Peralatan yang digunakan pada laboratorium mikrobiologi hampir sama
dengan peralatan-peralatan yang umumnya digunakan di laboratorium kimia yaitu berupa
alat-alat gelas antara lain : tabung reaksi, cawan petri, pipet ukur dan pipet volumetrik, labu
ukur (tentukur), labu erlenmeyer, gelas piala, pH meter, gelas arloji, termometer, botol tetes,
pembakar spiritus, kaki tiga dengan kawat asbes dan rak tabung.

Di samping peralatan gelas tersebut pada laboratorium mikrobiologi masih ada sejumlah alat
yang khusus antara lain: otoklaf, oven, mikroskop, jarum ose (inokulasi), jarum preparat,
gelas objek, kaca penutup, keranjang kawat untuk sterilisasi, inkubator untuk membiakkan
mikroorganisme dengan suhu yang konstan, spektrofotometer untuk mengukur kepekatan
suspensi atau larutan. Penangas air untuk mencairkan medium, maknetik stirrer untuk
mengaduk dan tabung durham untuk penelitian fermentasi.

Di dalam pekerjaan mikrobiologi dibutuhkan alat yang khusus untuk melihat


mikroorganisme. Salah satu alat yang sering digunakan adalah mikroskop. Mikroskop
merupakan alat bantu yang memungkinkan kita dapat mengamati objek yang berukuran kecil.
Mikroskop dalam bahasa Yunani dari micron yaitu kecil dan scopos yaitu tujuan. Jadi,
mikroskop adalah sebuah alat untuk melihat objek yang terlalu kecil. Ilmu yang mempelajari
benda kecil dengan menggunakan alat ini disebut mikroskopi, dan kata mikroskopik berarti

sangat kecil, tidak mudah terlihat oleh mata. Daya pembesaran mikroskop menyebabkan kita
dapat melihat struktur mikroorganisme yang tidak dapat terlihat dengan mata telanjang.
Pembesaran yang dapat mikroskop adalah sekitar 100 kali sampai 400.000 kali. Ada dua jenis
mikroskop berdasarkan pada kenampakan objek yang diamati, yaitu mikroskop dua dimensi
(mikroskop cahaya) dan mikroskop tiga dimensi (mikroskop stereo). Sedangkan berdasarkan
sumber cahayanya, mikroskop dibedakan menjadi mikroskop cahaya dan mikroskop electron
(3).
Perbesaran yang dicapai oleh suatu mikroskop adalah hasil kerja dua sistem lensa yaitu lensa
objektif dan lensa okuler. Lensa objektif yang terdekat dengan spesimen, dan lensa okuler,
terletak pada ujung atas mikroskop, terdekat dengan mata. Sistem lensa objektif memberikan
perbesaran mula-mula dan menghasilkan bayangan nyata yang kemudian diproyeksikan ke
atas lensa okuler. Bayangan nyata tersebut, pada gilirannya, diperbesar oleh okuler untuk
menghasilkan bayangan pada mikroskop (2, hal 6).
Pada pengerjaan mikrobiologi, diperlukan suatu kondisi yang benar-benar aseptik dimana alat
penunjang serta nutrient dan substrat harus benar-benar steril. Hal ini berarti mikroba
kontaminan harus dimatikan. Sterilisasi dilakukan pada suhu 121 oC selama 30 menit, yaitu
agar spora atau mikroba dapat dimatikan. Spora adalah sel istirahat yang resisitan terhadap
panas dan lingkungan yang berfungsi sebagai tunas untuk berkembang biak selanjutnya.
Udara tekan yang digunakan juga harus dalam kondisi steril. Substrat yang berisi nutrien
tidak peka terhadap suhu, maka sterilisasi media substrat dilakukan pada 138 oC selama 5
menit. Pada substrat yang berisi nutrien tetapi peka terhadap suhu, maka sterilisasi media
substrat dilakukan dengan penyaringan bertekanan melalui saringan milipore diameter 0,22
m (5, hal 11).

Yang dimaksud sterilisasi dalam mikrobiologi adalah suatu proses untuk mematikan semua
organisme yang terdapat pada atau di dalam suatu benda. Ketika untuk pertama kalinya
melakukan pemindahan biakan bakteri secara aseptic, sesungguhnya hal itu telah
menggunakan salah satu cara sterilisasi, yaitu pembakaran. Namun, kebanyakan peralatan
dan media yang umum dipakai di dalam pekerjaan mikrobiologi akan menjadi rusak bila
dibakar. Untungnya tersedia berbagai metode lain yang efektif (2, hal 55).

Sterilisasi diperlakukan pada :

1. Sterilisasi produk pangan dalam kaleng, botol, dan kemasan lain.

2. Sterilisasi media cair dan nutrien untuk industry bioteknologi misalnya, obat-obatan dan
enzim.

3. Sterilisasi bioreaktor dengan alat pengendali dan pemonitor.

(5, hal 194)

Jenis-jenis sterilisasi berdasarkan cara sterilisasi dapat dibedakan atas:

1. Sterilisasi secara fisik

2. Sterilisasi secara kimia

3. Sterilisasi secara mekanik

4. Sterilisasi secara gas mikroksidal

5. Sterilisasi dengan saringan membrane

(5, hal 195)

Ada tiga cara utama yang umum dipakai dalam sterilisasi yaitu penggunaan panas, bahan
kimia, dan penyaringan (filtrasi). Bila panas digunakan bersama-sama dengan uap air maka
disebut sterilisasi panas lembab atau sterilisasi basah, bila tanpa kelembaban maka disebut
sterilisasi panas kering atau sterilisasi panas kering. Di pihak lain, sterilisasi kimiawi dapat
dilakukan dengan menggunakan gas atau radiasi. Pemilihan metode didasarkan pada sifat
bahan yang akan disterilkan. Metode sterilisasi yang umum digunakan secara rutin di
laboratorium mikrobiologi adalah yang menggunakan panas (2, hal 55).

Sterilisasi basah biasanya dilakukan di dalam autoklaf atau sterilisator uap yang mudah
diangkat (portable) dengan menggunkan uap air jenuh bertekanan pada suhu 121 oC selama
15 menit. Karena titik didih air menjadi 121 oC itu disebabkan oleh tekanan 1 atmosfer pada
ketinggian permukaan laut, maka daur sterilisasi tersebut seringkali juga dinyatakan sebagai :
1 atm 15 menit. Pada tempat-tempat yang lebih tingginya diperlukan tekanan lebih besar
untuk mencapai suhu 121 oC. Karena itu daripada menyatakan besarnya tekanan, lebih baik
menyatakan bahwa keadaan steril dicapai dengan cara mempertahankan suhu 121 oC selama
15 menit (2, hal 55).

Sterilisasi basah dapat digunakan untuk mensterilkan bahan apa saja yang dapat ditembus uap
air dan tidak rusak bila dipanaskan dengan suhu yang berkisar antara 110 oC dan 121 oC.
Bahan-bahan yang biasa disterilkan dengan cara ini antara lain medium biakan yang umum,
air suling,peralatan laboratorium, biakan yang akan dibuang, medium tercemar, dan bahanbahan dari karet (2, hal 56).

Ada 4 hal utama yang harus diingat bila melakukan sterilisasi basah ;

1. Sterilisasi bergantung pada uap, karena itu udara harus dikosongkan betul-betul dari ruang
sterilisator.

2. Semua bagian bahan yang disterilkan harus terkenai uap, karena itu tabung dan labu
kosonga harus diletakkan dalam posisi tidur agar udara tidak terperangkap di dasarnya.

3. Bahan-bahan yang berpori atau berbentuk cair harus permeabel terhadap uap.

4. Suhu sebagaimana yang terukur oleh thermometer harus mencapai 121 oC dan
dipertahankan stinggi itu 15 menit.

(2, hal 56)

Sterilisasi panas kering dapat diterapkan pada apa saja yang tidak merusak, menyala, hangus,
dan menguap pada suhu setinggi itu. Bahan-bahan yang biasa disterilkan dengan cara ini
antara lain pecah belah seperti pipet, tabung reaksi, cawan petri dari kaca, botol sampel, juga
peralatan seperti jarum suntik, dan bahan-bahan yang tidak tembus uap seperti gliserin,

minyak, vaselin, dan bahan-bahan berupa bubuk. Bahan-bahan yang disterilkan harus
dilindungi dengan cara membungkus, menyumbat atau menaruhnya dalam suatu wadah
tertutup untuk mencegah kontaminasi setelah dikeluarkan dari oven (2, hal 57).

Proses sterilisasi lain yang juga dilakukan pada suhu kamar ialah penyaringan. Dengan cara
ini larutan atau suspensi dibebaskan dari semua organisme hidup dengan cara melakukannya
lewat saringan dengan ukuran pori yang sedemikian kecilnya sehingga bakteri dan sel-sel
yang lebih besar tertahan di atasnya, sedangkan filtratnya ditampung di dalam wadah yang
steril. Beberapa contoh bahan yang biasa disterilkan dengan cara ini ialah serum, larutan
bikarbonat, enzim, toksin bakteri, medium sintetik tertentu, dan antibiotik (2, hal 58).

BAB III

METODE KERJA

Cara Kerja

Mengamati alat-alat yang akan digunakan dalam laboratorium mikrobiologi, serta dapat
memahami prinsip kerja dan fungsi dari masing-masing alat, dan dapat menggambar masingmasing alat yang digunakan.

BAB V

PEMBAHASAN

1. Alat-alat Sterilisasi

Alat-alat sterilisasi meliputi Otoclaf, Oven, Ozonsterilizer, dan Lampu Spritus. Oven
merupakan alat sterilisasi dengan menggunakan udara panas kering, dimana oven berfungsi
mensterilisasi alat-alat gelas yang tidak bersekala. Perinsip dari oven ini sendiri adalah
menghancurkan lisis mikroba menggunakan udara panas kering.

Ozonsterilizer berfungsi mensterilisasikan alat-alat yang tidak bersekala. Ozonsterilizer


terdiri atas dua bagian, yakni bagian atas dan bagian bawah. Bagian atas ozonsterilizer
mempunyai prinsip kerja membunuh mikroba menggunakan ozon (O3), dimana ozon dapat
merusak mekanisme dari mikroba sehingga sel protein pada mikroba mengalami oksidasi
yang mengakibatkan perubahan fungsi dan kematian pada mikroba, dan ozon (O3) itu sendiri
bersifat racun. Bagian bawah dari ozonsterilizer (elektra) berfungsi mensterilisasikan medium
menggunakan sinar lampu dengan panas tinggi, dimana cara kerjanya hampir sama dengan
oven.

Otoclaf berfungsi mensterilisasikan alat-alat bersekala menggunakan uap air panas. Dimana
uap air panas akan merusak protein mikroba hingga mengalami koogulasi, pada saat itu
protein akan mengendap (denaturasi) dan menyebabkan kematian pada mikroba. Saat
penggunaan otoclaf penutupan harus benar-benar rapat agar uap air yang bertekanan tinggi
masuk kedalam atau beruduksi ke alat.

Lampu spritus merupakan alat yang digunakan untuk pemijaran serta untuk mensterilisasikan
mikroba. Lampu spritus juga mempunyai fungsi lain, yakni mengamankan praktikan pada
saat melakukan penanaman medium.

2. Alat-alat perhitungan koloni mikroorganisme.

Alat-alat yang tergolong dari alat perhitungan koloni adalah coloni counter dan cawan petri.
Coloni counter merupakan alat yang berfungsi sebagai penghitung jumlah mikroba pada
cawan petri menggunakan sinar dan luv. Perhitungan mikroba dapat dilakukan dengan
perbesaran menggunakan luv atau dengan menandai beberapa koloni yang terdapat pada
cawan petri menggunakan bulpoint yang terdapat pada coloni counter dan juga menggunakan
tombol check.

Cawan petri berfungsi sebagai tempat pertumbuhan mikroba secara kuantitatif dan sebagai
tempat pengujian sampel.

3. Alat lainnya

Mikroskop berfungsi sebagai alat bantu untuk melihat mikroorganisme yang tak dapat dilihat
oleh mata. Cara penggunaan mikroskop adalah dengan membelakangi bagian belakang
mikroskop. Mikroskop yang digunakan antara lain elektron, mikroskop cahaya, dan
mikroskop kemera. Mikroskop cahaya (Monokoler) berfungsi untuk melihat objek dengan
bantuan cahaya. Mikroskop ini digunakan dengan satu mata, sehingga bayangan yang terlihat
hanya memilki panjang dan lebar, dan memberikan gambaran mengenai tingginya. Prinsip
kerja dari mikroskop ini adalah dengan memantulkan cahaya melalui cermin, lalu diteruskan
hingga lensa objektif. Di lensa objektif bayangan yang dihasilkan adalah maya, terbalik dan
diperbesar. Kemudian bayangan akan diteruskan dan menghasilkan bayangan tegak, nyata
dan diperbesar oleh mata pengamat. Semakin banyak cahaya yang dipantulkan melalui
cermin, maka akan semakin terang pula mikroorganisme yang dilihat. Mikroskop ini
memiliki pembasaran objektif (10x dan 40x) serta pembesaran okuler (10x). Mikroskop
elektron (Biokuler) berfungsi untuk melihat objek dengan bantuan elektron atau cahaya
lampu. terdiri atas empat lensa objektif dengan empat pembesaran, 10x, 25x, 40x dan 100x.
Saat pengunaan menggunakan pembesaran 100x, ditambahkan minyak emersi di atas gelas
objek. Tujuannya adalah untuk mengurangi sudut bias akibat banyaknya cahaya yang
dipantulkan. Tanpa minyak emersi, maka objek yang akan diteliti, tidak akan terllihat.
Mikroskop ini digunakan saat melihat struktur dan melakukan pewarnaan bakteri. Mikroskop
kamera (Triokuler) berfungsi sebagai pengambil gambar (objek). Lensa okuler yang terdapat
dalam mikroskop ini sejumlah tiga lensa okuler. Mikroskop ini dapat mengambil gambar dari
preparat. Maka dari itu, mikroskop ini hanya akan digunakan bila ingin mengambil gambar
objek yang akan diamati. Prinsip kerjanya sama seperti mikroskop cahaya, hanya ada sedikit
perbedaan dalam mengoperasikannya.

Centrifuge merupakan alat yang berfungsi sebagai pemisah zat dalam cairan yang diduga
dapat mengendap dengan cara pemutaran menggunakan kekuatan rotasi. Dengan pemutaran
kecepatan tertentu, zat-zat yang tidak terlarut akan mengendap. Satuaan yang digunakan pada
centrifuge adalah Rpm (Rotation per meter). Perinsip kerja dari alat ini adalah zat yang akan
dipisahkan dimasukkan kedalam tabung yang terdapat pada centrifuge, kemudian menutup
lubang pada centrifuge agar udar yang masuk tidak mempengaruhi zat yang akan dipisah.
Setelah itu tentukan waktu dan rotasi putaran yang diinginkan, dengan memutar tombol
Timer dan Rotation.

Sepektrometri adalah alat yang berfungsi untuk mengukur kepekatan dalam larutan
menggunakan cahaya. Prinsip kerja alat ini adalah membiaskan cahaya kedalam kupet yang
berisi sampel (zat), sebagian sinar akan ada yang diteruskan dan sebagian lagi akan diserap.
Saat pemasangan kupet ke dalam sepektometri tidak boleh menggunakan tangan, karena
minyak yang terdapat pada tangan akan menempel pada kupet dan mempengaruhi hasil
akhirnya.

Pipet volume adalah alat yang berfungsi sebagai pengambil larutan atau sampel sesuai
dengan jumlah yang kita tentukan. Pipet gondok berfungsi sama seperti pipet volum, hanya
saja pengambilan larutan sudah ditentukan. Cara sterilisasinya menggunakan otoklaf.

Lumpang dan Alu berfungsi sebagai tempat menggerus bahan yang akan diuji, disterilisasi
dengan cara dimasukkan alkohol 70%, lalu dimasukkan api sampai padam. Objek gelas
digunakan dalam meneliti kapang dan cover glass berfungsi melindungi sampel.

Tabung reaksi berfungsi sebagai tempat media pertumbuhan mikroba alam bentuk media
tegak atau miring yang disumbat dengan kapas, dibulatkan lalu disterilkan dengan kapas
berada tetap di atasnya dan diikat, sedangkan rak tabung sebagai tempat untuk meletakkan
tabung reaksi.

Tabung Durham berfungsi untuk menangkap gas O2 yang dihasilkan dari hasil fermentasi
mikroorganisme biasa digunakan dalam medium cair. Cara sterilisasinya menggunakan alat
otoklaf.

Ose berfungsi untuk mengambil dan menggores MO, terdiri dari ose lurus untuk menanam
MO dan ose bulat untuk menggores MO yang biasanya berbentuk zig-zag.

Paper Disk merupakan alat yang terbuat dari kertas saring dan dicelupkan ke dalam cairan
antibiotik, disterilisasi dengan oven.

Pinset berfungsi untuk menjepit atau mengambil pencadang, sterilisasinya dapat dilakukan
dengan dibakar menggunakan lampu spiritus. Sedangkan pencadang berfungsi untuk melihat
daerah hambatan atau zona halo yang diisi dengan antibiotik. Ukurannya yaitu diameter luar

= 8 mm, diameter dalam = 6 mm, panjang = 10 mm. Pencadang disterilisasi dengan


dimasukkan ke dalam cawan petri lalu dimasukkan ke dalam oven.

Timbangan Analitik berfungsi untuk menimbang bahan kimia. Timbangan ini memiliki batas
maksimal penimbangan. Jika melewati batas tersebut, maka ketelitian perhitungan akan
berkurang.

Tabung reaksi berfungsi sebagai tempat untuk melarutkan bahan, menampung larutan, dan
tempat untuk mencampurkan bahan lalu dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer. Alat ini
dapat disterilisasikan dengan dibungkus terlebih dahulu dengan kertas saring bagian atasnya
lalu dibungkus dengan kertas dan diikat, lalu dimasukkan ke dalam otoklaf.

Labu erlenmeyer berfungsi sebagai tempat penyimpanan medium, memanaskan larutan, dan
menampung hasil dari penyaringan. Alat ini dapat disterilisasikan dengan ditutup terlebih
dahulu bagian atas dengan kapas, lalu disterilisasi dengan menggunakan otoklaf.

Neraca Ohauss 311 merupakan alat yang digunakan untuk menimbang medium. Pada saat
dilakukan penimbangan, digunakan kertas timbang.

Spoid berfungsi untuk mengambil larutan, zat hasil pengukuran, atau zat yang mau diuji. Alat
ini dapat disterilisasikan dengan menggunakan otoklaf (uap air bertekanan) dimana sebelum
disterilisai dibungkus terlebih dahulu.

Mikrometer skrup berfungsi untuk mengukur tebal dan tipis (diameter) atau luas daerah anti
bakteri. Alat ini memiliki dua skala, sehingga memiliki tingkat ketelitian yang lebih tinggi
dan tidak perlu disterilisasikan.

BAB VI

PENUTUP

I. Kesimpulan

Alat-alat Sterilisasi : Ozontsterilizer, Oven, Otoclaf, Lampu spiritus, Alat-alat Perhitungan


Koloni Mikroorganisme, Coloni counter.

Alat-alat lainnya : Centrifu, Gelas ukur, Gelas kimia, Labu ukur, Labu erlenmeyer, Lumpan
dan alu, Neraca ohauss, Pipet volume, Pipet gondok, Mikropipet, Mukrometr skrub, Pinset,
Spoid, Glass objek, Cover glass, Inkubator, Kulkas, Tabung reaksi,Tabung durham, Ose
lurus, Ose bulat, Peperdisk.
Timbangan analitik : Spektrofotometri, Pencadang, Mikroskop cahaya, Mikroskop elektron,
Mikroskop kamera
II.Saran

Alat yang akan digunakan terlebih dahulu harus disterilisasikan atau benar-benar steril.
Praktikan sudah dapat mengetahui pengelompokkan alat-alat yang akan distrilisasi dan cara
mensterilisasi, seperti perlakuan khusus pada alat-alat berskala maupun lainnya. Saat
memegang alat sebaiknya praktikan menggunakan handspon, agar dipastikan alat benar-benar
steril.

DAFTAR PUSTAKA

1. Gabriel, J.F., 1988, Fisika Kedokteran, EGC; Jakarta, hal.

2. Hadioetomo, Ratna Siri, 1993, Mikrobiologi Dasar dalam Praktek, Gramedia

Pustaka Utama; Jakarta, hal. 6, 9, 55-58.

3. Http://bima.ipb.ac.id/

4. Kardiaz, Srikandi, 1992, Mikrobiologi Pangan I, Gramedia; Jakarta, hal. 3.


5. Suharto, Ign., 1995, Bioteknologi dalam Dunia Industri, Andi Offset;

Yogyakarta, hal. 11, 194-195.