Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN AIR

Pengaruh Suhu Terhadap Membuka dan Menutup Operkulum


Ikan Mas
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas matakuliah Fisiologi Hewan Air

Disusun oleh:
Mediana Rahma Putri
Moch. Iqbal Fernanda
Adhardiansyah

230110130123
230110130132
230110130135
Perikanan B

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR

2014

Kata Pengantar
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat ALLAH SWT, atas segala rahmat dan
karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Akhir Praktikum Pengaruh
Perubahan Suhu Terhadap Membuka dan Menutup Operkulum Pada Ikan Mas yang
merupakan bagian dari tugas praktikum mata kuliah Fisiologi Hewan Air. Dalam pembuatan
laporan akhir ini, penulis banyak mendapat kesulitan. Oleh karena itu, penulis ingin
menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan
serta dukungannya dalam pembuatan dan penyusunan laporan ini. Dalam penyusunannya,
penulis menyadari akan segala kekurangan yang ada sehubungan dengan keterbatasan
kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki oleh kami, maka kami mengucapkan maaf yang
sebesar-besarnya apabila baik dalam dalam penulisan maupun penyajian makalah ini terdapat
banyak kesalahan. Dengan tangan terbuka kami akan menerima segala saran dan kritik yang
membangun dari para pembaca.

Penyusun,

Jatinangor,2014

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..............................................................................................i


DAFTAR ISI........................................................................................................... ii
BAB I PEHULUAN ................................................................................................ 1
1.1 LATAR BELAKANG ....................................................................................... 1
1.2 TUJUAN ........................................................................................................ 2
1.3 MANFAAT .................................................................................................... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA .......................................................................... 3
2.1 Ikan Mas ......................................................................................................... 3
2.1.1 Klasifikasi Ikan Mas.................................................................................... 6
2.1.2 Morfologi Ikan Mas ................................................................................... 6
2.2 Sistem Pernfasan ............................................................................................ 8
2.3 Suhu.............................................................................................................. 10
.2.3.1 Suhu Ruang .............................................................................................. 10
2.3.2 Suhu Tinggi ........................................... Error! Bookmark not defined.11
2.3.3 Suhu Rendah ............................................................................................. 11
BAB III BAHAN DAN METODE .................................................................... 13
3.1 Waktu dan Tempat ....................................................................................... 13
3.2 Alat dan Bahan ............................................................................................. 13
3.2.1 Alat ............................................................................................................ 13
3.2.2 Bahan ......................................................................................................... 13
3.3 Prosedur Kerja .............................................................................................. 13
3.3.1 Prosedur Kerja Praktikum 1 ...................................................................... 13
3.3.2 Prosedur Kerja Praktikum 2 ...................................................................... 14
BAB IV HASIL DAN PEMBAHSAN .............................................................. 16
4.1 Hasil ............................................................................................................. 16
4.1.1 Hasil Pengamatan Praktikum Ke 1............................................................ 16
4.1.2 Hasil Pengamatan Praktikum Ke 2............................................................ 16
4.2 Data Kelas .................................................................................................... 17
4.3 Pembahasan .................................................................................................. 18
BAB V PENUTUP ............................................................................................. 21

ii

5.1 Kesimpulan................................................................................................... 21
5.2 Saran ............................................................................................................. 21
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 22
LAMPIRAN ....................................................................................................... 23

iii

Daftar Gambar
No.
1

Tabel
Gambar 1. Ikan Mas (Cyprinus carpio)

Halaman
3

2
3

Gambar. 2 bagian-bagian ikan mas


Gambar 3. Beaker glass digunakan sebagai

8
24

wadah untuk ikan yang akan diamati


4

Gambar 4. Wadah plastic sebagai tempat

24

ikan sebelum dan setelah diamati


5

Gambar 5. Water bath sebagai penangas


air

25

Gambar 6. Termometer Hg / alkohol untuk

25

mengukur suhu air


7

Gambar 7. Hand counter untuk menghitung

25

buka tutupnya operculum


8

26

Gambar 8. Timer / Stopwatch untuk


mengamati waktu

Gambar 9. Freezer sebagai tempat pembuat

26

es batu
10

Gambar 10. Palu untuk memecahkan


bongkahan es batu

iv

26

Daftar Tabel
No.
1.

Tabel

Halaman

Tabel 1. Banyaknya bukaan operculum benih ikan mas Pada suhu


Kamar (26 C)

16

2.

Tabel 2. Banyaknya bukaan operculum benih ikan mas Pada


suhu +3o C di atas Suhu Kamar (29oC)

16

3.

Tabel 3. Banyaknya bukaan operculum benih ikan mas pada suhu

16

-3o dibawah suhu kamar (23 C)

4.

Tabel 4. Data Kelas

17

BAB I
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Ikan merupakan hewan yang bersifat poikilotermik, suhu tubuhnya mengikuti
suhu lingkungan. Bagi hewan akuatik, suhu media air merupakan faktor
pembatas, oleh karena itu perubahan suhu media air akan mempengaruhi
kandungan oksigen terlarut, yang akan berakibat pada laju pernafasan dan laju
metabolisme hewan akuatik tersebut.
Fisiologi ikan mencakup proses osmoregulasi, sistem sirkulasi, sistem
respirasi, bioenergetik dan metabolisme, pencernaan, organ-organ sensor, sistem
saraf, sistem endokrin dan reproduksi (Fujaya,1999).
Insang dimiliki oleh jenis ikan (pisces). Insang berbentuk lembaran-lembaran
tipis berwarna merah muda dan selalu lembap. Bagian terluar dari insang
berhubungan dengan air, sedangkan bagian dalam berhubungan erat dengan
kapiler-kapiler darah. Tiap lembaran insang terdiri dari sepasang filamen, dan tiap
filamen mengandung banyak lapisan tipis (lamela). Pada filamen terdapat
pembuluh darah yang memiliki banyak kapiler sehingga memungkinkan O2
berdifusi masuk dan CO2 berdifusi keluar. Insang pada ikan bertulang sejati
ditutupi oleh tutup insang yang disebut operkulum, sedangkan insang pada ikan
bertulang rawan tidak ditutupi oleh operkulum.
Insang tidak saja berfungsi sebagai alat pernapasan tetapi dapat pula
berfungsi sebagai alat ekskresi garam-garam, penyaring makanan, alat pertukaran
ion, dan osmoregulator. Beberapa jenis ikan mempunyai labirin yang merupakan
perluasan ke atas dari insang dan membentuk lipatan-lipatan sehingga merupakan
rongga-rongga tidak teratur. Labirin ini berfungsi menyimpan cadangan O2
sehingga ikan tahan pada kondisi yang kekurangan O2. Contoh ikan yang
mempunyai labirin adalah ikan gabus dan ikan lele.
Untuk menyimpan cadangan O2, selain dengan labirin, ikan mempunyai
gelembung renang yang terletak di dekat punggung.Stickney (1979) menyatakan

salah satu penyesuaian ikan terhadap lingkungan ialah pengaturan keseimbangan


air dan garam dalam jaringan tubuhnya, karena sebagian hewan vertebrata air
mengandung garam dengan konsentrasi yang berbeda dari media lingkungannya.
Ikan harus mengatur tekanan osmotiknya untuk memelihara keseimbangan cairan
tubuhnya setiap waktu. Mekanisme pernapasan pada ikan melalui 2 tahap, yakni
inspirasi dan ekspirasi. Pada fase inspirasi, O2 dari air masuk ke dalam insang
kemudian O2 diikat oleh kapiler darah untuk dibawa ke jaringan-jaringan yang
membutuhkan. Sebaliknya pada fase ekspirasi, CO2 yang dibawa oleh darah dari
jaringan akan bermuara ke insang dan dari insang diekskresikan keluar tubuh.
1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui perubahan suhu panas media air terhadap membuka
dan menutup operkulum ikan mas yang secara tidak langsung ingin
mengetahui laju pernapasan benih ikan mas tersebut.

2. Untuk mengetahui perubahan suhu dingin media air terhadap membuka


dan menutup operkulum benih ikan mas yang secara tidak langsung ingin
mengetahui laju pernapasan benih ikan mas tersebut.
1.3 Manfaat
Manfaat dari praktikum ini kita bisa mengetahui laju pernapasan benih ikan
mas pada suhu kamar (ruang), suhu tinggi dan suhu rendah. Jadi, pada praktikum
ini kita bisa melihat pengaruh suhu terhadap membuka dan menutup operculum
ikan tersebut.

BAB II
Tinjauan Pustaka
2.1

Ikan Mas (Cyprinus carpio)

Gambar 1. Ikan Mas (Cyprinus carpio)

Pisces adalah sebutan umum yang dipakai untuk ikan atau sebagai nama
superklas. Pada umumnya yang dimaksud ikan adalah ikan-ikan yang masuk kelas
Osteichtyes. Tubuhnya berskeleton tulang keras, terbungkus oleh kulit yang
bersisik, berbentuk seperti torpedo, berenang dengan sirip, bernafas dengan
insang. Bermacam-macam spesies hidup dalam air tawar atau beragam (air laut).
Ikan sebagai salah satu sumber protein bagi manusia dan sebagai salah
satu objek olah raga atau rekreasi memancing. Ikan mas dapat hidup baik di
daerah dengan ketinggian 150-600 meter di atas permukaan laut dan pada suhu
25-30 derajat celsius. Ikan mas menyukai tempat hidup (habitat) di perairan tawar
yang airnya tidak terlalu dalam dan alirannya tidak terlalu deras. Meskipun
tergolong ikan air tawar. Ikan mas terkadang ditemukan di perairan payau, atau
muara sungai yang bersalinitas (kadar garam) 25-30 %. Ikan mas tergolong jenis
omnivora, yakni ikan yang dapat memangsa berbagai jenis makanan, baik yang
berasal dari tumbuhan maupun binatanremik. Namun, makanan utamanya adalah
tumbuhan dan binatang yang terdapat di dasar dan tepian perairan.
Perkembangbiakan ikan mas dimulai dari perkembangan di dalam gonad
(ovarium pada ikan betina yang menghasilkan telur dan testis pada ikan jantan
yang menghasilkan sperma). Pemijahan ikan mas dapat terjadi sepanjang tahun
dan tidak tergantung pada musim. Namun, di habitat aslinya, ikan mas sering

memijah pada awal musim hujan, karena adanya rangsangan dari aroma tanah
kering yang tergenang air. Secara alami, pemijahan terjadi pada tengah malam
sampai akhir fajar. Menjelang memijah, ikan mas aktif mencari tempat yang
rimbun, seperti tanaman air dan rerumputan yang munutup permukaan air.
Substrat inilah yang nantinya akan digunakan sebagai tempat menempel telur
sekaligus membantu perangsangan ketika terjadi pemijahan. Sifat telur ikan
adalah menempel pada substrat. Telur ikan mas berbentuk bulat, berwana kuning,
berdiameter 1,5-1,8 mm, dan berbobot 0,17-0,20 mg. Embrio akan tumbuh di
dalam telur yang telah dibuahi oleh spermatozoa. Antara 2-3 hari kemudian telurtelur akan menetas dan tumbuh menjadi larva. Larva ikan mas mempunyai
kantong kuning telur yang berukuran relatif besar cadangan makanan bagi larva.
Kantong kuning telur tersebut akan habis dalam waktu 2-4 hari.
Larva ikan mas bersifat menempel dan bergerak vertikal. Ukuran larva
antara 0,50-6 mm dan bobotnya antara 18-20 mg. Larva berubah menjadi kebul
(larva stadia akhir) dalam waktu 4-5 hari. Pada stadia kebul ini, ikan mas
memerlukan pasokan makanan dari luar untuk menunjang kehidupannya. Pakan
alami kebul terutama berasal dari zooplankton, seperti rotifera, moina,
dan daphnia. Kebutuhan pakan alami untuk kebul dalam satu hari sekitar 60-70%
dari bobotnya. Setelah 2-3 minggu, kebul tumbuh menjadi burayak yang
berukuran 1-3 cm dan bobotnya 0,1-0,5 gram. Antara 2-3 minggu kemudian
burayak tumbuh menjadi putihan (benih yang siap didederkan) yang berukuran 35 cm dan bobotnya 0,5-2,5 gram. Putihan tersebut akan tumbuh terus, setelah tiga
bulan berubah menjadi gelondongan yang bobot per ekornya 100 gram.
Ada sekitar 50.000 jenis hewan bertulang belakang (vertebrata) yang
diketahui sampai saat ini. Mereka hidup pada semua lingkungan biologi baik di
daratan, air laut, air tawar, maupun udara. Walaupun bentuk dan ukuran tubuhnya
beragam tetapi mempunyai struktur dasar tubuh yang sama. Hewan bertulang
belakang umumnya terdiri dari kepala dan tubuh. Tubuh terdiri dari rongga dada
dan abdomen. Hewan bertulang belakang yang hidup di darat biasanya
mempunyai leher. Kelompok ikan adalah binatang bertulang belakang yang hidup
di air, bernapas dengan insang. Ikan mempunyai sirip yang berfungsi untuk

berenang dan tubuh yang ramping untuk memudahkan bergerak di dalam air
Secara umum ikan dibedakan berdasarkan penyusun rangka tubuhnya menjadi
dua, yaitu ikan berkerangka tulang rawan dan ikan berkerangka tulang sejati.
Kelompok ikan berkerangka tulang rawan kerangkanya tersusundari tulang rawan
yang elastis. Kelompok ikan berkerangka tulang sejati mempunyai tulang
tengkorak dan tulang rangka serta ruas-ruas tulang belakang. Ikan bergerak
dengan bantuan sirip yang diperkuat oleh tulang rusuk. Sirip ikan dibedakan atas
sirip punggung, sirip dada, sirip perut, sirip belakang, dan sirip ekor.
Ciri-ciri khusus :

Kulit banyak mengandung kelenjar mucosa, biasanya diliputi oleh sisik


(sisik ganoid, cycloid atau stenoid). Beberapa spesies tidak bersisik.
Bersirip pada media baik dorsal maupun ventral dan pada sebelah
menyebelah tubuh itu dengan beberapa pengecualian. Sirip biasanya
disokong oleh jari duri tulang rawan atau keras, tidak berkaki.

Mulut terletak diujung dan bergigi rahang tumbuh dengan baik dan
bersendi pada tulang tempurung kepala. Mempunyai dua sacci
olfactorius yang umumnya berhubungan dengan rongga mulut. Bermata
besar yang tidak mempunyai kelopak mata.

Skeleton terutama berupa tulang keras, kecuali beberapa jenis yang


sebagian bertulang rawan. Bentuk vertebrae bermacam-macam, pinnae
caudalis biasanya homocercal. Sisa-sisa notocord masing-masing
tampak.

Cor terdiri atas dua ruang (auriculum dan ventrikulum) dengan sinus
venosus dan conus arteriosus yang berisi darah vena. Terdapat empat
pasang archus aortihus. Sel darah merah berbentuk oval dan berinti.

Pernapasan dilakukan dengan beberapa pasang insang yang terletak


pada archus branchius yang berada dalam ruangan celah insang pada
kedua tepi samping dari pharyax. Tertutup oleh operculum. Biasanya
memiliki vesica pneumatica (gelembung udara) dan memiliki ductus
pneumaticus. Beberapa jenis ikan mempunyai bentuk seperti paru-paru,
misalnya diphnoi.
5

Terdapat 10 pasang nervi cranialis.

Suhu tubuh tergantung pada lingkungan sekitarnya.

Memiliki sepasang gonad, umumnya ovipar (beberapa ada yang ovovivipar


atau vivipar). Fertilisasi terjadi di luar tubuh. Telur kecil berukuran sampai 12
mm, kandungan kuning telurnya bermacam-macam. Segmentasi biasanya secara
meroblastis. Tidak mempunyai membran embrio. Hewan mudanya kadangkadang tidak mirip dengan yang dewasa.
2.1.1 Klasifikasi Ikan Mas
Ikan mas termasuk famili Cyprinidae yang mempunyai ciri-ciri umum,
badan ikan mas berbentuk memanjang dan sedikit pipih ke samping (Compresed)
dan mulutnya terletak di ujung tengah (terminal), dan dapat di sembulka, di
bagian mulut di hiasi dua pasang sungut, yang kadang-kadang satu pasang di
antaranya kurang sempurna dan warna badan sangat beragam (Susanto,2007).
Adapun klasifikasi ilmiah ikan mas adalah sebagai berikut:
Kerajaan

: Animalia

Filum

: Chordata

Kelas

: Actinopterygii

Ordo

: Cypriniformes

Famili

: Cyprinidae

Genus

: Cyprinus

Spesies

: Cyprinus carpio (Linnaeus, 1758)

2.1.2 Morfologi Ikan Mas


Secara morfologi, ikan mas memiliki ciri-ciri bentuk tubuh agak memanjang
dan memipih tegak. Mulut terletak di ujung tengah dan dapat disembulkan.
Bagian anterior mulut terdapat dua pasang sungut berukuran pendek. Hampir
seluruh tubuh ikan mas ditutupi sisik dan hanya sebagian kecil tidak ditutupi sisik.
Sisik ikan mas berukuran relatif besar dan digolongkan ke dalam tipe sisik sikloid
dengan warna yang sangat beragam (Rochdianto 2005). Ikan mas dapat tumbuh
cepat pada suhu lingkungan berkisar antara 20-28C dan akan mengalami

penurunan pertumbuhan bila suhu lingkungan lebih rendah. Pertumbuhan akan


menurun dengan cepat di bawah suhu 13C dan akan berhenti makan apabila suhu
berada di bawah 5 C (Huet 1970 dalam Ariaty 1991). Ikan mas merupakan ikan
air tawar yang memiliki sifat tenang, suka menempati perairan yang tidak terlalu
bergolak dan senang bersembunyi di kedalaman. Ikan mas termasuk omnivora,
biasanya memakan plankton. Larva ikan mas memakan invertebrata air seperti
rotifer, copepoda dan kutu air. Kebiasaan makan ikan mas berubah-ubah dari
hewan pemakan plankton menjadi pemakan dasar. Ikan mas yang sedang tumbuh
memakan organisme bentik dan sedimen organik. Ikan mas jantan akan matang
gonad pada umur dua tahun dan ikan mas betina pada umur tiga tahun. Ikan mas
akan memijah pada suhu lingkungan berkisar antara 18-20 C ( Ikenoue 1982
dalam Ariaty 1991).
Di Indonesia, ikan mas pertama kali berasal dari daratan Eropa dan
Tiongkok yang kemudian berkembang menjadi ikan budidaya yang sangat
penting. Indonesia mengimpor ikan mas ras Taiwan, ras Jerman dan ras fancy
carp masing-masing dari Taiwan, Jerman dan Jepang pada tahun 1974. Indonesia
mengimpor ikan mas ras Yamato dan ras Koi dari Jepang pada sekitar tahun 1977.
Ras-ras ikan yang diimpor tersebut dalam perkembangannya ternyata sulit dijaga
kemurniannya karena berbaur dengan ras-ras ikan yang sudah ada di Indonesia
sebelumnya sehingga terjadi persilangan dan membentuk ras-ras baru (Suseno
2000 dalam Rochdianto 2005).
Tubuh ikan mas digolongkan menjadi tiga bagian yaitu kepala, badan, dan
ekor. Pada kepala terdapat alat-alat seperti sepasang mata, sepasang cekung
hidung yang tidak berhubungan dengan rongga mulut, celah-celah insang,
sepasang tutup insang, alat pendengar dan keseimbangan yang tampak dari luar
(Cahyono, 2000). Jaringan tulang atau tulang rawan yang disebut jari-jari. Siripsirip ikan ada yang berpasangan dan ada yang tunggal, sirip yang tunggal
merupakan anggota gerak yang bebas. Disamping alat-alat yang terdapat dalam,
rongga peritoneum dan pericardium, gelembung renang, ginjal, dan alat
reproduksi pada sistem pernapasan ikan umumnya berupa insang (Bactiar,2002)

Gambar. 2 bagian-bagian ikan mas


2.2

Sistem Pernafasan
Hewan Vertebrata telah memiliki sistem sirkulasi yang fungsinya antara lain

untuk mengangkut gas pernapasan (O2) dari tempat penangkapan gas menuju selsel jaringan. Begitu pula sebaliknya, untuk mengangkut gas buangan (CO2) dari
sel sel jaringan ke tempat pengeluarannya.
Ikan bernapas menggunakan insang. Insang berbentuk lembaran-lembaran
tipis berwarna merah muda dan selalu lembap. Bagian terluar dari insang
berhubungan dengan air, sedang bagian dalam berhubungan erat dengan
kapilerkapiler darah. Tiap lembaran insang terdiri dari sepasang filamen dan tiap
filamen mengandung banyak lapisan tipis (lamela). Pada filamen terdapat
pembuluh darah yang memiliki banyak kapiler, sehingga memungkinkan O2
berdifusi masuk dan CO2 berdifusi keluar.
Pada ikan bertulang sejati (Osteichthyes) insangnya dilengkapi dengan tutup
insang (operkulum), sedangkan pada ikan bertulang rawan (Chondrichthyes)
insangnya tidak mempunyai tutup insang. Selain bernapas dengan insang, ada
pula kelompok ikan yang bernapas dengan gelembung udara (pulmosis), yaitu
ikan paru-paru (Dipnoi). Insang tidak hanya berfungsi sebagai alat pernapasan,
tetapi juga berfungsi sebagai alat ekskresi garam-garam, penyaring makanan, alat
pertukaran ion, dan osmoregulator.
Ikan mas merupakan ikan bertulang sejati. Insang ikan mas tersimpan dalam
rongga insang yang terlindung oleh tutup insang (operkulum). Insang ikan mas
terdiri dari lengkung insang yang tersusun atas tulang rawan berwarna putih, rigirigi insang yang berfungsi untuk enyaring air pernapasan yang melalui insang, dan
8

filamen atau lembaran insang. Filamen insang tersusun atas jaringan lunak,
berbentuk sisir dan berwarna merah muda karena mempunyai banyak pembuluh
kapiler darah dan merupakan cabang dari arteri insang. Di tempat inilah
pertukaran CO2 dan O2 berlangsung.
Oksigen diambil dari oksigen yang terlarut dalam air melalui insang secara
difusi. Dari insang, O2 diangkut darah melalui pembuluh darah ke seluruh
jaringan tubuh. Dari jaringan tubuh, CO2 diangkut darah menuju jantung. Dari
jantung menuju insang untuk melakukan pertukaran gas. Proses ini terjadi secara
terus-menerus dan berulang-ulang.

Gambar 3. Mekanisme pernapasan fase inspirasi dan ekspirasi


Mekanisme pernapasan ikan bertulang sejati dilakukan melalui mekanisme
inspirasi dan ekspirasi.
a.

Fase inspirasi ikan


Gerakan tutup insang ke samping dan selaput tutup insang tetap menempel

pada tubuh mengakibatkan rongga mulut bertambah besar, sebaliknya celah


belakang insang tertutup. Akibatnya, tekanan udara dalam rongga mulut lebih
kecil daripada tekanan udara luar. Celah mulut membuka sehingga terjadi aliran
air ke dalam rongga mulut. Perhatikan gambar di samping.
b.

Fase ekspirasi ikan


Setelah air masuk ke dalam rongga mulut, celah mulut menutup. Insang

kembali ke kedudukan semula diikuti membukanya celah insang. Air dalam mulut
mengalir melalui celah-celah insang dan menyentuh lembaran-lembaran insang.

Pada tempat ini terjadi pertukaran udara pernapasan. Darah melepaskan CO2 ke
dalam air dan mengikat O2 dari air.
Pada fase inspirasi, O2 dan air masuk ke dalam insang, kemudian O2 diikat
oleh kapiler darah untuk dibawa ke jaringan-jaringan yang membutuhkan.
Sebaliknya pada fase ekspirasi, CO2 yang dibawa oleh darah dari jaringan akan
bermuara ke insang, dan dari insang diekskresikan keluar tubuh.
2.3

Suhu
Menurut Kangingan (2007:52-53) suhu merupakan besaran yang menyatakan

ukuran derajat panas atau dinginnya suatu benda. Suhu menunjukan derajat panas
benda, sehingga semakin tinggi suhu suatu benda maka semakin panas pula benda
tersebut. Secara mikroskopis, suhu menunjukkan energi yang dimiliki oleh suatu
benda. Setiap atom dalam suatu benda masing-masing bergerak, baik itu dalam
bentuk perpindahan maupun gerakan di tempat berupa getaran.
Makin tingginya energi atom-atom penyusun benda, makin tinggi suhu
benda tersebut. Secara mikroskopis, suhu menunjukkan energi yang dimiliki oleh
suatu benda. Suhu juga disebut temperatur.Benda yang panas memiliki suhu lebih
tinggi dibandingkan benda yang dingin.
Suhu juga disebut temperatur . Alat yang digunakan untuk mengukur suhu
adalah thermometer. Namun dalam kehidupan sehari-hari, untuk mengukur suhu
masyarakat cenderung menggunakan indera peraba. Tetapi dengan adanya
perkembangan teknologi maka diciptakanlah termometer untuk mengukur suhu
dengan valid. Termometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur suhu
(temperatur), ataupun perubahan suhu. Istilah termometer berasal dari bahasa
Latin thermo yang berarti bahang dan meter yang berarti untuk mengukur. Prinsip
kerja termometer ada bermacam-macam, yang paling umum digunakan adalah
termometer air raksa.
2.3.1 Suhu Ruang
Suhu ruang/kamar, dalam penggunaan ilmiah merupakan satu rentang suhu
yang dianggap biasa/nyaman oleh manusia dalam satu ruang tertutup. Suhu ini
kurang lebih antara (20 - 25 C), (68 - 77 F), (528 - 537 R), atau (293 - 298
K), walaupun nilai tersebut bukanlah suatu nilai yang ditentukan secara persis.

10

Untuk fasilitas perhitungan, sering digunakan angka 20 C atau 300 K.

Suhu

kamar ini merupakan suhu yang dapat diukur dengan termometer yang diambil
dari udara di sekitarnya, sehingga, jika diambil dari berbagai titik di suatu daerah
pada suatu waktu mungkin bervariasi.
Hal ini karena suhu yang diambil itu di lingkungan sedingin Kutub Utara, di
mana suhu akan di bawah titik beku (diukur dalam derajat Fahrenheit atau
Celsius), akan ada yang diambil di tempat sehangat padang pasir di mana suhu
akan jauh di atas nol.
Untuk perhitungan ilmiah, suhu kamar biasanya diambil sebagai 25 Celcius
(293 atau 298 Kelvin, 68 atau 77 Fahrenheit). Untuk kenyamanan, diangkakan,
300,00 K (26,85 C, 80,33 F) digunakan sesekali tanpa ditetapkan sebagai
"suhu kamar". Namun, temperatur lingkungan bukan merupakan istilah ilmiah
seragam didefinisikan, tidak seperti suhu dan tekanan standar, atau TPE, yang
memiliki definisi yang sedikit berbeda.
2.3.2 Suhu Tinggi
Suhu tinggi merupakan suhu yang lebih besar derajatnya dari pada suhu
kamar. Maka dari itu suhu menunjukkan derajat panas benda. Semakin tinggi
suhu suatu benda semakin panas benda tersebut. Secara mikroskopis, suhu
menunjukkan energi yang dimiliki oleh suatu benda. Benda yang panas memiliki
suhu lebih tinggi dibandingkan benda yang dingin. Kenaikan temperatur akan
meningkatkan aktivitas fisiologis organisme. menaiknya temperatur, akan
mengakibatkan kelarutan oksigen menjadi berkurang. Suhu juga mempunyai
pengaruh yang besar terhadap kelarutan oksigen dalam air, apabila suhu naik
maka kelarutan oksigen di dalam air menurun. Semakin panas air maka oksigen
yang terlarut di dalam air lebih rendah, maka gerakan operkulum semakin cepat
dan tingkah laku ikan semakin aktif.
2.3.3 Suhu Rendah
Suhu rendah merupakan suhu yang lebih kecil derajatnya dari pada suhu
kamar. Suhu merupakan faktor lingkungan yang utama pada perairan karena
merupakan faktor pembatas terhadap pertumbuhan dan penyebaran hewan,
termasuk dari jenis ikan. Respon yang diperlihatkan oleh ikan biasanya berupa
perubahan tingkah laku maupun pergerakan ikan. Suhu menurun maka semakin
11

jarang pula ikan itu membuka serta menutup mulutnya karena semakin rendah
suhu air maka semakin menurun jumlah gerakan operkulum. Hal ini disebabkan
ikan mengalami batas stres minimum dengan penurunan suhu. Jika air semakin
dingin maka oksigen yang terlarut di dalam air semakin sedikit, gerak operculum
semakin lambat dan tingkah laku ikan semakin pasif.

12

BAB III
BAHAN dan METODE
3.1 Waktu dan Tempat
Waktu

: 12.30 14.30 WIB

Hari/Tanggal

: Kamis, 9 Oktober 2014

Tempat

: Laboratorium MSP

3.2 Alat dan Bahan


3.2.1 Alat
Beaker Glass

: sebagai wadah/tempat ikan yang akan diamati.

Hand Counter

: untuk menghitung frekuensi buka/tutup


operkulum.

Stopwatch

: sebagai alat penghitung pada saat menghitung


frekuensi buka/tutp operculum.

Thermometer

: untuk mengukur suhu.

Toples

: sebagai tempat/wadah ikan yang telah diamati.

3.2.2 Bahan
Air keran

: sebagai media ikan untuk pengukuran suhu ruang.

Air panas

: sebagai media ikan untuk penambahan suhu +3 C

Air dingin

: sebagai media ikan untuk pengurangan suhu -3 C

Ikan mas

: sebagai objek praktikum.

3.3

Prosedur Kerja

3.3.1 Prosedur Kerja Praktikum ke-1


1. Pertama siapkan alat dan bahan praktikum.
2. Untuk mensterilkan alat, alat yang bisa dicuci seperti beaker glass dan toples
dibersihkan terlebih dahulu.
3. Masukkan air secukupnya ke dalam kedua toples
4. Kemudian masukkan air ke dalam beaker glass sebanyak 500 ml untuk
melakukan perlakuan terhadap ikan yang akan diamati.
13

5. Masukkan 3 ikan ke dalam toples yang kesatu.


6. Ukur telebih dahulu suhu air pada beaker glass dengan menggunakan
thermometer dan suhunya adalah 260C.
7. Masukkan ikan satu per satu selama 3 menit dengan 3x perlakuan (1x
perlakuan 1 menit).
8. Hitung berapa kalikah menutup dan membukanya operkulum ikan setiap satu
menit dengan menggunakan hand counter dan stopwatch.
9. Kemudian setelah selesai ikan yang sudah diamati dimasukkan ke dalam toples
yang kedua.
10. Setelah itu masukkan ikan selanjutnya sampai ketiga ikan tersebut
mendapatkan perlakuan yang sama seperti ikan pertama tadi.
11. Tambahkan suhu air pada beaker glass dengan +30 C ( 260 C + 30 C = 290 C )
dengan air panas.
12. Kemudian lakukan perlakuan yang sama pada setiap ikan seperti yang
dikemukakan tadi sampai dengan selesai apakah lebih banyak atau sedikit
membuka dan menutupnya operkulum setelah suhunya dinaikkan.
13. Dan apakah dengan suhu yang lebih tinggi membuka dan menutupnya
operculum cepat atau lambat.
3.3.2 Prosedur Kerja Praktikum ke-2
1. Pertama persiapkan alat dan bahan praktikum.
2. Untuk mensterilkan alat, alat yang bisa dicuci seperti beaker glass dan toples
dibersihkan terlebih dahulu .
3. Masukkan air ke dalam kedua toples
4. Kemudian masukkan air ke dalam beaker glass sebanyak 500 ml untuk
melakukan perlakuan terhadap ikan yang akan diamati.
5. Masukkan 3 ikan ke dalam toples yang kesatu.
6. Ukur telebih dahulu suhu air pada beaker glass dengan menggunakan
thermometer dan suhunya adalah 260 C.
7. Masukkan ikan satu per satu selama 3 menit dengan 3x perlakuan (1x
perlakuan 1 menit).

14

8. Hitung berapa kalikah menutup dan membukanya operculum ikan setiap satu
menit dengan menggunakan hand counter dan stopwatch.
9. Kemudian setelah selesai, ikan yang sudah diamati masukkan ke dalam toples
yang kedua.
10. Setelah itu, masukkan ikan selanjutnya sampai ketiga ikan tersebut
mendapatkan perlakuan seperti yang telah dijelaskan tadi.
11. Kurangi suhu air pada beaker glass -30 C ( 260 C - 30 C = 230 C) dengan
menambahkan air es.
12. Kemudian lakukan perlakuan yang sama pada setiap ikan seperti yang
dikemukakan tadi sampai dengan selesai apakah lebih banyak atau sedikit
membuka dan menutupnya setelah suhunya diturunkan.
13. Dan apakah dengan suhu yang lebih rendah membuka dan menutupnya
operkulum akan lebih cepat atau lambat.

15

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1

Hasil

4.1.1. Hasil pengamatan praktikum 1


Tabel 1. Banyaknya bukaan operculum benih ikan mas Pada suhu Kamar
(26 C)
Ikan ke :

Ulangan

Rata-rata

II

III

103

127

111

113.7

177

181

180

179.3

168

143

163

153

Total

150.3

Tabel 2. Banyaknya bukaan operculum benih ikan mas Pada suhu +3o C di
atas Suhu Kamar (29oC)
Ulangan

Ikan ke :

Rata-rata

II

III

188

173

175

178.7

191

202

182

191.7

198

190

192

193.3

Total

187.9

4.1.2 Hasil Pengamatan Praktikum ke-2


Tabel 3. Banyaknya bukaan operculum benih ikan mas pada suhu -3o
dibawah suhu kamar (23 C)
Ikan ke :

Ulangan
I

II

III

16

Rata-rata

4.2

131

126

137

131.3

145

129

85

119.7

129

101

122

117.3

Total

122.8

Data Kelas
Tabel 4. Data Kelas
Suhu

Kel.1

Kel.2

Kel.3

Kel.4

Kel.5

Kel.6

Ruang*

170

171.67

152.6

156.3

196.7

153.6

Diatas 3

213.33

195.67

181.03

180.76

233.5

192

Dibawah

152.33

157.67

212.93

146.83

166.3

180

Suhu

Kel.7

Kel.8

Kel.9

Kel.10

Kel.11

Kel.12

Ruang*

137

141.33

182.6

170,73

251

158

Diatas 3

180.33

201.33

186.6

229,4

259

208

Dibawah

139.22

144.55

172.3

149.96

192

101

Kel.14

Kel.15

Kel.16

Kel.17

Kel.18

Suhu

Kel.13

Ruang*

134.33

141

189

204.2

153.3

150.3

Diatas 3

164

167

207

253,6

180.2

187.9

Dibawah

102

114

158

125.6

142.6

122.8

Kel.19

Kel.20

Kel.22

Kel.23

Kel.24

Suhu

Kel.21

17

Ruang*

159.37

150.63

125.1

115.89

124.2

143.1

Diatas 3

221.89

179.93

173.11

154.1

152.16

168.63

Dibawah

144.11

126.53

106.44

86.55

106.44

126.76

Catatan:
Suhu Ruang: 260C
Suhu 24 kelompok 8
suhu 25 kelompo 15
suhu 27 kelompok 4 dan kelompok 23, kelompok 10
suhu 27.5 kelompok 20
suhu 28 kelompok 11
4.3

Pembahasan Data kelompok


Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilaksanakan maka didapatkan

hasil dari pengaruh suhu terhadap aktivitas membuka dan menutupnya operculum
pada benih ikan mas. Dimana aktivitas membuka dan menutupnya operculum
merupakan bagian dari metabolisme khususnya respirasi. Pengaruh suhu panas,
dingin dan suhu ruang mempengaruhi laju metabolisme, dimana ikan mempunyai
batas toleransi terhadap suhu untuk setiap aktivitasnya, dimana aktivitas ikan
berjalan dengan normal pada suhu optimum yaitu pada suhu ruangan sekitar
26oC. Dari data yang kami peroleh dari hasil praktikum menunjukan bahwa
frekuensi membuka dan menutupnya operculum lebih sering terjadi pada suhu
29oC atau +3oC diatas suhu ruangan, hal ini menunjukan bahwa ketika suhu
meningkat maka laju metabolisme pada tubuh ikan juga ikut meningkat hal ini
menyebabkan laju membuka dan menutup operculum pada ikan juga semakin
cepat bila dibandingkan dengan suhu awal. Pada kondisi ini laju metabolisme
ikan meningkat sehingga ikan akan membutuhkan oksigen yang cukup banyak
untuk mengoptimalkan kerja organ dalam tubuhnya agar kembali normal. Karena
kelarutan oksigen pada suhu tinggi rendah, maka ikan akan meningkatkan laju
respirasinya yaitu dengan cara meningkatkan volume aliran air kedalam tubuh
sebanyak-banyaknya untuk memenuhi oksigen pada tubuhnya. Hal inilah yang

18

menyebabkan membuka dan menutupnya operculum pada ikan meningkat pada


suhu tinggi bila dibandingkan dengan membuka dan menutupnya operculum ikan
pada kondisi awal (pada suhu ruang). Membuka dan menutupnya operculum pada
suhu 29oC yaitu sebesar 187.9 kali.
Pada peristiwa temperatur di bawah suhu kamar maka tingkat frekuensi
membuka dan menutupnya operkulum akan semakin lambat dari pada suhu
kamar. Dengan adanya penurunan temperatur, maka terjadi penurunan
metabolisme pada ikan yang mengakibatkan kebutuhan O menurun, sehingga
gerakannya melambat. Penurun O juga dapat menyebabkan kelarutan O di
lingkungannya meningkat. Dalam tubuh ikan suhunya bisa berkisar 1 C
dibandingkan temperatur lingkungannya (Nikolsky, 1927). Maka dari itu,
perubahan yang mendadak dari temperatur lingkungan akan sangat berpengaruh
pada ikan itu sendiri. Kemudian ukuran ikan yang digunakan dalam praktikum ini
yaitu ikan ukuran benih yang sangat rentan dan juga mudah stress sehingga sulit
untuk melihat mekanisme membuka serta menutupnya operkulum ikan tersebut.
Jika dilihat pada data kelas, terdapat beberapa perbedaan, diantaranya
perbedaan suhu, serta perbedaan rata-rata membuka dan menutupnya operculum
pada benih ikan mas. Pada perbedaan suhu hal ini terjadi karena adanya kesalahan
pada praktikan atau human eror. Mungkin pada saat pengukuran suhu,
pemegangan thermometer saat mengukur salah, sehingga panas dari suhu tubuh
praktikan juga ada yg ikut terukur sehingga suhu yang terbaca diatas 26oC. Suhu
dibawah 26oC dikarenakan kesalahan pada saat pengukuran juga, mungkin salah
membaca skala, atau pada pengukuran suhu tidak tepat, ketika suhu masih naik
pada thermometer tapi sudah diangkat, sehingga skala yang terbaca salah. Lalu
perbedaan membuka dan menutupnya operculum, dimana pada kelompok 3
membuka dan meutup operculum pada benih ikan mas lebih cepat dan lebih
banyak bila dibandingkan dengan suhu panas atau tinggu juga pada keadaan
dimana suhu ruangan, hal ini diakibatkan karena ikan yang kita pakai sebagai
bahan untuk praktikum, ikan tersebut sudah dipakai oleh kelas lain sehingga ikan
sudah mengalami stress terlebih dahulu. Juga ukuran ikan yang digunakan pada
saat praktikum, semakin besar benih ikan mas yang kita gunakan, maka membuka

19

dan menutupnya operculum akan semakin lambat bila dibandingkan dengan benih
ikan mas ynag ukurannya lebih kecil.
Dalam hal ini juga tidak mutlak kesalahan dari bahan ataupun alat yang kita
gunakan, praktikan juga dapat menjadi kendala dalam kesalahan, kekurang
ketelitian dalam melihat mekanisme membuka serta menutup operkulum ikan
tersebut karena hal ini juga dapat mempengaruhi ketepatan dalam pengamatan ini.
Waktu penghitungan frekuensi gerakan membuka serta menutupnya operkulum
juga sangat berpengaruh. Hal tersebut yaitu daya adaptasi yang berbeda pada
umur benih ikan mas dengan waktu dimulainya perhitungan sangat berkaitan erat
dalam mempengaruhi hasil pengamatan ini.

20

BAB V
PENUTUP
5.1

KESIMPULAN
Pada praktikum kali ini kita dapat menyimpulkan bahwa suhu optimal yang

sesuai dengan aktivitas ikan terutama metabolisme ikan yaitu pada suhu 26oC.
Apabila suhu meningkat, maka laju metabolisme ikan akan meningkat sehingga
gerakan membuka dan menutupnya operkulum ikan akan lebih cepat dari pada
suhu awal (suhu ruangan), serta sebaliknya pula jika suhu menurun maka semakin
jarang pula ikan itu membuka serta menutup mulutnya. Faktor yang
mempengaruhi terhadap membuka dan menutupnya operculum ikan yaitu
kelarutan oksigen, dimana apabila suhu tinggi maka oksigen rendah, hal inilah
yang menyebabkan tingkat metabolisme pada tubuh ikan meningkat ataupun
menurun sehingga konsumsi oksigennya pun berbeda.
Dengan adanya penurunan temperatur, maka terjadi penurunan metabolisme
pada ikan yang mengakibatkan kebutuhan O menurun, sehingga gerakannya
melambat. Jadi terbukti bahwa suhu berpengaruh terhadap frekuensi membuka
dan menutupnya operkulum.
5.2

SARAN
Saran kami yaitu diadakan penelitian lebih lanjut agar hasil dari praktikum

yang dilakukan oleh praktikan akurat dan dapat dipercaya. Sehingga antara
praktikan yang satu dengan praktikan yang lain didapatkan hasil yang sama dari
praktikum yang sama juga.

21

DAFTAR PUSTAKA
Anonim.2011.KelasPisces

(Cyprinus

carpio).Diambil

dari

http://www.scribd.com/doc/62072788/JURNAL-pisces.
Anonim.

2009.

Operculum

Ikan

Mas.

Diambil

dari

http://www.scribd.com/doc/22590155/Operculum-Ikan-Mas. Diakses
Anonim.

2012.

Pengertian

Suhu

Kamar

(Fisika).

Diambil

dari

http://id.shvoong.com/exact-sciences/physics/2287282-pengertian-suhukamar-fisika/.
Alfiansyah. 2011. Sistem Pernapasan Ikan ( Pisces ). Diambil dari
http://www.sentra-edukasi.com/2011/08/sistem-pernapasan-ikanpisces.html#.UHf4daAp3cI.
Udom, P. Eugene. 1987. Dasar-Dasar Biologi. Yogyakarta: Gajah Mada
University Press.
Achjar, Moch Rismunandar. 1986. Perikanan Darat. Bandung: Sinar Baru

22

LAMPIRAN

23

a. Beaker glass

Gambar 3. Beaker glass digunakan sebagai wadah untuk ikan yang akan diamati
b. Wadah plastic

Gambar 4. Wadah plastic sebagai tempat ikan sebelum dan setelah diamati

c. Water bath

24

Gambar 5. Water bath sebagai penangas air


d. Termometer Hg / alcohol

Gambar 6. Termometer Hg / alkohol untuk mengukur suhu air


e. Hand counter

Gambar 7. Hand counter untuk menghitung buka tutupnya operculum

f. Timer / Stopwatch

25

Gambar 8. Timer / Stopwatch untuk mengamati waktu


g. Freezer

Gambar 9. Freezer sebagai tempat pembuat es batu


h. Palu / martil

SGambar 10. Palu untuk memecahkan bongkahan es batu

26