Anda di halaman 1dari 13

Perdarahan Pervaginam

Pada Kehamilan Muda


William Tenjaya
102009054
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara/6 Jakarta Barat
Email: avei_ro@yahoo.com

I. Pendahuluan
Perdarahan trimester I kehamilan disebut juga perdarahan kehamilan muda adalah
perdarahan pervaginam pada kehamilan kurang dari 22 minggu. Perdarahan pervaginam pada
wanita hamil terjadi karena beberapa sebab. Terdapat tiga penyebab penting perdarahan pada
awal kehamilan yaitu abortus, kehamilan ektopik, dan mola hidatidosa. Kebanyakan wanita
yang mengalami perdarahan terjadi pada 12 minggu pertama kehamilan.
II. Anamnesis
Secara umum anamnesa pada pasien hamil sama dengan anamnesa lain dalam ilmu
kedokteran. Pertama tanyakan identitas: nama pasien, nama suami atau keluarga terdekat,
alamat, agama, pendidikan terakhir, suku bangsa. Lalu dapat diajukan pertanyaan yang
mengarah pada keluhan utama pasien, seperti:1
Kapan hari pertama haid terakhir?
Menarche umur berapa?
Haid teratur?
Berapa lama siklus haid berlangsung?
Adakah rasa nyeri waktu haid?
Pernah menikah? Berapa kali? Sudah berapa lama umur pernikahan?
Apakah pernah hamil?
Berapa kali melahirkan?
Persalinan sectio caesarea atau pervaginam?
Adakah komplikasi pada kehamilan terdahulu?
Pernah keguguran? Berapa kali? Umur kehamilan?
III. Pemeriksaan Fisik

Pengamatan dilakukan sejak pasien masuk keruang pemeriksaan. Keadaan umum, sikap
dan kesadaran pasien harus diamati dengan cermat. Pemeriksaan umum dilakukan untuk
mendapatkan tanda vital, keadaan alat-alat vital, tanda-tanda yang berhubungan dengan
anemia, dan kelainan alat-alat lain dari kepala sampai kaki.1
Perhatian lebih seksama ditujukan terhadap tanda-tanda yang berhubungan dengan
obstetric. Pemeriksaan obstetric terdiri dari:
Inspeksi
o Bentuk perut
o Bekas luka/operasi
o Perubahan warna: linea nigra, striae gravidarum
o Tumor
Palpasi
o Leopold 1

Pasien tidur terlentang dengan lutut ditekuk.

Pemeriksa berdiri disebelah kanan pasien menghadap kearah kepala

pasien.
Uterus dibawa ketengah.
Dengan kedua tangan tentukan tinggi fundus.
Dengan satu tangan tentukan bagian apa dari anak yang terlektak

dalam fundus.
o Leopold 2

Posisi pasien dan pemeriksa tetap..

Kedua tangan pidah kesamping uterus.

Dengan kedua belah jari-jari uterus ditekan ketengah untuk

menentukan dimana letak punggung anak: kanan atau kiri.


Pada letak lintang dipinggir kanan kiri uterus terdapat kepala atau

bokong.
o Leopold 3

Posisi pasien dan pemeriksa tetap.

Pemeriksa memakai satu tangan menentukan apa yang menjadi bagian

bawah (kepala atau bokong).


Bagian bawah coba digoyangkan, apabila masih bisa, berarti bagian

tersebut belum terpegang oleh panggul.


o Leopold 4

Posisi pasien tetap, pemeriksa menghadap kearah kaki pasien.

Dengan kedua belah tangan ditentukan sebarapa jauh kepala masuk


dalam panggul.

Bila posisi tangan konvergen, berarti baru sebagian kecil kepala


masuk panggul.
Bila posisi tangan sejajar, berarti separuh dari kepala masuk kedalam
rongga panggul.
Bila posisi tangan divergen, berarti sudah sebagian besar kepala
masuk panggul.1,2

Auskultasi
o Bisa dilakukan dengan stetoskop kebidanan pada umur kehamilan 26 minggu
o

o
o
o

atau dengan fetal heart detector (Doppler) pada umur kehamilan 12 minggu.
Pada auskultasi bisa didengar bermacam bunyi:

Dari anak: bunyi jantung, bising tali pusat, gerakan anak

Dari ibu: bising a.uterina, bising aorta, bising usus.


Frekuensi bunyi jantung anak antara 120-160/menit
Frekuensi jantung orang dewasa antara 60-80/menit
Karena letak janin normal dalam posisi kipose, dan didepan dada terdapat
tangan, maka bunyi jantung janin paling jelas didengar didaerah punggung
anak dekat kepala. Pada persentasi kepala tempatnya ialah dikiri atau dikanan
sedikit dibawah pusat. Bila janin masih kecil, bunyi jantung anak dicari
dengan Doppler digaris tengah diatas simpisis. Bunyi jantung anak dihitung
frekuensi dan keteraturannya.

IV. Pemeriksaan Penunjang


V. Abortus
Definisi
Adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar
kandungan. Sebagai batasan, kehamilan < 20 minggu atau berat janin < 500 gram.2
Etiologi
1. Faktor genetik
2. Kelainan kongenital uterus
3. Autoimun
4. Defek fase luteal
5. Infeksi
6. Hematologik
7. Lingkungan
Patologi Abortus6

Macam-Macam Abortus
1. Abortus Iminens
Abortus tingkat permulaan atau ancaman terjadinya abortus yang ditandai perdarahan
pervaginam. 2
Diawali keluhan perdarahan pervaginam pada umur kehamilan < 20 minggu, mulas atau
tidak ada keluhan selain perdarahan pervaginam. Ostium uteri masih tertutup, besarnya
uterus masih sesuai usia kehamilan, dan tes kehamilan urin masih positif.2
Tata Laksana
- Tirah baring sampai perdarahan berhenti
- Spasmolitik agar uterus tidak berkontraksi
- Hormon progesteron atau derivatnya untuk mencegah abortus
- Jika perdarahan setelah beberapa minggu masih berlangsung, maka perlu ditentukan
apakah kehamilan masih baik
2. Abortus Insipiens
Abortus yang sedang mengancam, ditandai dengan serviks telah mendatar dan ostium
uteri telah membuka, tetapi hasil konsepsi masih di dalam kavum uteri dan dalam proses
pengeluaran.2
Penderita mulas karena kontraksi yang sering dan kuat, perdarahan bertambah sesuai
pembukaan serviks uterus dan umur kehamilan. Besar uterus masih sesuai umur
kehamilan dengan tes urin kehamilan masih positif. Pada pemeriksaan USG didapati
pembesaran uterus masih sesuai umur kehamilan, gerak janin dan gerak jantung janin
masih jelas, dan terlihat penipisan serviks uterus atau pembukaannya. 2
Tata Laksana
Bila ada tanda syok, atasi dengan pemberian cairan dan transfusi darah, lalu segera
lakukan tindakan evakuasi disusul kuretase bila perdarahan banyak. Pada umur
kehamilan > 12 minggu, evakuasi dengan cara digital disusukl kuretase dan pemberian
uterotonika untuk mencegah terjadinya perforasi pada dinding uterus. Pasca tindakan,
perbaiki keadaan umum, pemberian uterotonika, dan antibiotika profilaksis.2
4

3. Abortus Kompletus
Seluruh hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri, sehingga rongga rahim kosong.
Semua hasil konsepsi telah keluar, ostium uteri telah menutup, uterus sudah mengecil
sehingga perdarahan sedikit. Besar uterus tidak sesuai umur kehamilan. Tes urin masih
positif sampai 7-10 hari setelah abortus. 2
Tata Laksana
Tidak ada pengobatan khusus, hanya roboransia atau hematenik bila keadaan pasien
memerlukan.
4. Abortus Inkompletus
Sebagian hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri, namun masih ada yang tertinggal.
Kanalis servikalis masih terbuka dan teraba jaringan pada kavum uteri atau menonjol
pada ostium uteri eksternum. Besar uterus lebih kecil dari usia kehamilan. Jumlah
perdarahan tergantung pada jaringan yang tersisa. Pasien dapat mengalami anemia atau
syok hemoragik.
Tata Laksana
Bila ada tanda syok maka atasi dulu dengan pemberian cairan atau transfusi darah. Bila
perdarahan hebat, segera evakuasi secara manual agar kontraksi uterus baik dan
perdarahan berhenti, lalu segera lakukan kuretase. Pasca tindakan, berikan uterotonika
(parenteral atau per oral), dan antibiotik. 2
5. Missed Abortion
Abortus yang ditandai dengan embrio atau fetus telah meninggal sebelum usia kehamilan
20 minggu dan hasil konsepsi masih tertahan dalam kandungan.
Pasien tidak ada keluhan kecuali merasakan pertumbuhan kehamilannya tidak seperti
harapan. Bila kehamilan 14-20 minggu, pasien merasa rahim semakin mengecil dan
tanda-tanda kehamilan sekunder pada payudara mulai menghilang. Pada pemeriksaan
USG didapatkan uterus mengecil, kantong gestasi mengecil, dan bentuknya tidak
beraturan disertai gambaran fetus dengan tidak adanya tanda kehidupan. Pada
pemeriksaan tes urin, hasilnya negatif setelah 1 minggu dari terhentinya pertumbuhan
kehamilan. 2
Tata Laksana
Pada umur kehamilan < 12 minggu, evakuasi secara langsung dengan melakukan dilatasi
dan kuretase bila serviks uterus memungkinkan. Bila umur kehamilan 12-20 minggu
dengan serviks uterus yang masih kaku, lakukan induksi (oksitosin i.v atau mesoprostol
400mg sublingual) atau mematangkan kanalis servikalis. Setelah janin keluar dengan
induksi, lakukan kuretase. Pasca tindakan, bila perlu, berikan oksitosin i.v dan
antibiotika. 2
5

6. Abortus Habitualis
Abortus spontan yang terjadi 3 kali atau lebih berturut-turut.
Etiologi
- Kelainan pada zigot
- Malfungsi Endometrium
- Kelainan hormonal
- Serviks inkompeten
- Gangguan nutrisi
- Penyakit infeksi
- Kelainan imunologik
- Faktor psikologis3
Tata Laksana
- Terapi bersifat kausal , artinya dilakukan pemeriksaan lengkap untuk mencari etiologi
penyebab abortus habitualis tersebut, yakni disamping pemeriksaan umum yang
memperhatikan gizi dan bentuk badan penderita, dilakukan pemeriksaan suami-isteri ,
antara lain pemeriksaan darah dan urin rutin, pemeriksaan golongan darah dan faktor
Rh, tes terhadap sifilis.
- Pada serviks inkompeten, apabila penderita telah hamil maka operasi untuk
menguatkan ostium uteri internum sebaiknya dilakukan pada kehamilan 12 minggu.
Dasar operasi ialah memperkuat jaringan serviks yang lemah dengan melingkari
daerah ostium uteri internum dengan benang sutra atau dakron yang tebal. Bila terjadi
gejala dan tanda abortus insipien, maka benang harus segera diputuskan, agar
pengeluaran janin tidak terhalang. Tindakan untuk mengatasi inkompetensi serviks
yaitu dengan penjahitan mulut rahim yang dikenal dengan teknik Shirodkar Suture
atau dikenal juga dengan cervical cerclage atau pengikatan mulut lahir. Cara ini bisa
menghindari ancaman janin lahir prematur. Faktor keberhasilannya hingga 85 - 90
persen. Tindakan ini biasanya dilakukan sebelum kehamilan mencapai usia 20 minggu
dengan mengikat mulut rahim agar tertutup kembali sampai masa kehamilan berakhir
dan janin siap untuk dilahirkan .Tindakan pengikatan mulut rahim dilakukan dengan
pembiusan lokal dan menggunakan benang berdiameter 0,5 cm, yang bersifat tidak
dapat diserap oleh tubuh. Jahitan ini akan dilepas pada saat kehamilan mencapai usia
36-37 minggu, atau saat bayi sudah siap dilahirkan. Agar tindakan pengikatan
berfungsi optimal. Pasien tidak boleh berhubungan seksual dengan pasangan selama 12 minggu sampai ikatan cukup stabil.

- Dilakukan operasi plastik pada uterus menurut Strassman jika pada penderita
ditemukan kelainan bawaan seperti uterus bikornis dan keyakinan bahwa tidak ada
faktor lain yang menyebabkannya.3
7. Abortus Infeksious, Abortus Septik
Abortus infeksius adalah yang disertai infeksi pada alat genitalia. Abortus septik adalah
abortus yang disertai penyebaran infeksi pada peredaran darah tubuh atau peritoneum
(septikemia atau peritonitis).
Anamnesis yang cermat tentang upaya tindakan abortus yang tidak menggunakan
peralatan yang asepsis dengan didapat gejala dan tanda panas yang tinggi, tampak sakit
dan lelah, takikardia, perdarahan pervaginam yang berbau, uterus yang membesar dan
lembut, serta nyeri tekan. Bila sampai terjadi sepsis dan syok, pasien akan tampak lelah,
panas tinggi, menggigil, dan tekanan darah turun. Pada laboratorium didapatkan
leukositosis. 2
Tata Laksana
- Pengelolaan mempertimbangkan keseimbangan cairan tubuh
- Antibiotika sesuai hasil kultur sampai 2 hari bebas demam
- Kuretase bila keadaan umum sudah baik minimal 6 jam setelah antibiotika diberikan
- Injeksi ATS dan irigasi kanalis vagina dengan larutan peroksida bila ditakutkan terjadi
tetanus. Jika perlu, segera histerektomi total. 2
VI. Mola Hidatidosa
Definisi
Adalah kelainan vili korionik yang terdiri dari proliferasi trofoblas dengan derajat bervariasi
dan edema vilus.3
Macam-Macam Mola hidatidosa
Mola hidatidosa terbagi menjadi dua yaitu:
1. Mola hidatidosa sempurna (klasik)
Jika tidak ditemukan janin. Villi korealis diubah menjadi masa gelembung-gelembung
bening yang besarnya berbeda-beda. Masa tersebut dapat tumbuh membesar sampai
mengisi uterus yang besarnya sama dengan kehamilan normal lanjut.
Struktur histologinya mempunyai sifat:
a. Degenerasi hidrofik dan pembengkakan stroma villi
b. Tidak terdapat pembuluh darah di dalam villi yang bengkak
c. Proliferasi sel epitel trofoblas dengan derajat yang beragam
d. Tidak terdapat janin dan amnion4
2. Mola hidatidosa partialis
Bila perubahan mola hanya lokal dan tidak berlanjut dan terdapat janin atau setidaknya
kantung amnion, keadaan tersebut digolongkan mola hidatidosa partialis. Terdapat

pembengkakan villi yang kemajuannya lambat, sedangkan villi yang mengandung


pembuluh darah yang lain yang berperan dalam sirkulasi fito placenta, jarang. Hiperflasi
trofoplas hanya lokal tidak menyeluruh.4
Etiologi

Faktor ovum
Spermatozoon memasuki ovum yang telah kehilangan nukleusnya atau dua serum
memasuki ovum tersebut sehingga akan terjadi kelainan atau gangguan dalam

pembuahan.
Keadaan sosial ekonomi yang rendah
Dalam masa kehamilan keperluan akan zat-zat gizi meningkat. Hal ini diperlukan
untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan janin, dengan keadaan
sosial ekonomi yang rendah maka untuk memenuhi zat-zat gizi yang diperlukan
tubuh kurang sehingga mengakibatkan gangguan dalam pertumbuhan dan

perkembangan janinnya.
Paritas tinggi
Ibu multipara cenderung beresiko terjadi kehamilan mola hidatidosa karena trauma
kelahiran atau penyimpangan tranmisi secara genetik yang dapat diidentifikasikan

dan penggunaan stimulan drulasi seperti klomifen atau menotropiris (pergonal).


Kekurangan protein
Protein adalah zat untuk membangun jaringan-jaringan bagian tubuh sehubungan
dengan pertumbuhan janin, pertumbuhan rahim, dan buah dada ibu, keperluan akan
zat protein pada waktu hamil sangat meningkat apabila kekurangan protein dalam

makanan mengakibatkan bayi akan lahir lebih kecil dari normal.


Infeksi virus
Infeksi mikroba dapat mengenai semua orang termasuk wanita hamil. Masuk atau
adanya mikroba dalam tubuh manusia tidak selalu akan menimbulkan penyakit
(desease). Hal ini sangat tergantung dari jumlah mikroba (kuman atau virus) yang
masuk virulensinya serta daya tahan tubuh.

Patologi Mola Hidatidosa


1. Perdarahan
Perdarahan uterus merupakan gejala yang mencolok dan bervariasi mulai dari spoting
sampai perdarahan yang banyak. Perdarahan ini dapat dimulai sesaat sebelum abortus
atau yang lebih sering lagi timbul secara intermiten selama berminggu-minggu atau
setiap bulan. Sebagai akibat perdarahan tersebut gejala anemia ringan sering dijumpai.
Anemia defisiensi besi merupakan gejala yang sering dijumpai.
8

2. Ukuran uterus
Uterus yang lebih sering tumbuh lebih besar dari usia kehamilan yang sebenarnya.
Mungkin uterus lewat palpasi sulit dikenali dengan tepat pada wanita nullipara, khusus
karena konsistensi tumor yang lunak di bawah abdomen yang kenyal. Ovarium
kemungkinan mempunyai konsistensi yang lebih lunak.4
3. Aktivitas janin
Meskipun uterus cukup membesar mencapai bagian atas sympisis, secara khas tidak akan
ditemukan aktivitas janin, sekalipun dilakukan test dengan alat yang sensitive sekalipun.
Kadang-kadang terdapat plasenta kembar pada kehamilan mola hidatidosa komplit. Pada
salah satu plasentanya sementara plasenta yang lainnya dan janinnya sendiri terlihat
normal. Demikian pula sangat jarang ditemukan perubahan mola inkomplit yang luas
pada plasenta dengan disertai dengan janin yang hidup.
4. Embolisasi
Trofoblas dengan jumlah yang bervariasi dengan atau tanpa stroma villus dapat keluar
dari dalam uterus dan masuk ke dalam aliran darah vena. Jumlah tersebut dapat
sedemikian banyak sehingga menimbulkan gejala serta tanda emboli pulmoner akut
bahkan kematian. Keadaan fatal ini jarang terjadi. Meskipun jumlah trofoblas dengan
atau tanpa stroma villus yang menimbulkan embolisasi ke dalam paru-paru terlalu kecil
untuk menghasilkan penyumbatan pembuluh darah pulmoner namun lebih lanjut
trofoblas ini dapat menginfasi parenkim paru. Sehingga terjadi metastase yang terbukti
lewat pemeriksaan radiografi. Lesi tersebut dapat terdiri dari trofoblas saja (corio
carsinoma metastasik) atau trofoblas dengan stroma villus (mola hidatidosa metastasik).
Perjalanan selanjutnya lesi tersebut bisa diramalkan dan sebagian terlihat menghilang
spontan yang dapat terjadi segera setelah evakuasi atau bahkan beberapa minggu atau
bulan kemudian. Sementara sebagian lainnya mengalami proloferasi dan menimbulkan
kematian wanita tersebut bila tidak mendapatkan pengobatan yang efektif. 4
5. Disfungsi thyroid
Kadar tiroksin plasma pada wanita dengan kehamilan mola biasanya mengalami kenaikan
yang cukup tinggi, namun gambaran hipertiroidisme yang tampak secara klinik tidak
begitu sering dijumpai. Amir dkk (1984) dan Curry dkk (1975) menemukan
hipertiroidisme pada sekitar 2% kasus kenaikan kadar tiroksin plasma, bisa merupakan
efek primer estrogen seperti halnya pada kehamilan normal dimana tidak terjadi
peningkatan kadar estrogen bebas dan presentasi trioditironim yang terikat oleh resin

mengalami peningkatan. Apakah hormon tiroksin bebas dapat meninggi akibat efek mirip
tirotropin yang ditimbulkan oleh orionik gonadotropin atau apakah varian hormon inikah
yang menimbulkan semua efek tersebut masih merupakan masalah yang controversial.
6. Ekspulsi spontan
Kadang-kadang gelembung-gelembung hidatidosa sudah keluar sebelum mola tersebut
keluar spontan atau dikosongkan dari dalam uterus lewat tindakan. Ekspulsi spontan
paling besar kemungkinannya pada kehamilan sekitar 16 minggu. Dan jarang lebih dari
28 minggu.
Diagnosis
- Amenorea
- Perdarahan pervaginam
- Uterus lebih besar dari usia kehamilan, dan tidak ditemukan tanda kehamilan pasti, seperti
-

balotement dan detak jantung janin


Peninggian kadar hCG
Gambaran khas USG berupa badai salju atau sarang lebah
Keluarnya gelembung mola (diagnosa paling tepat)
Pemeriksaan histologik : vili edema dengan sel trofoblas yang tidak begitu berproliferasi,
sedangkan di tempat lain tampak vili normal

Penatalaksanaan Mola Hidatidosa


Mola hidatidosa diobati dengan 4 tahap sebagai berikut:
1. Perbaikan umum
Pengeluaran gelembung mola yang disertai pendarahan memerlukan transfusi sehingga
penderita tidak jatuh syok. Disamping itu setiap evakuasi jaringan mola dapat diikuti
pendarahan. Hingga persiapan darah menjadi program vital pada waktu mengeluarkan
mola dengan kuretase dipasang infus dan uteronika dulu sehingga pengecilan rahim dapat
mengurangi perdarahan.2
2. Pengeluaran jaringan mola hidatidosa
a. Evakuasi jaringan mola hidatidosa
Dilakukan dengan vakum curettage yaitu alat penghisap listrik yang kuat hingga
dapat menghisap jaringan mola yang cepat. Penggunaan alat listrik mempunyai
keuntungan cepat menghisap dan mengurangi perdarahan. Evakuasi jaringan
mola hidatidosa dilakukan dua kali dengan interval satu minggu.
b. Histerektomi
Dengan pertimbangan umur (diatas 35 tahun) paritas diatas 3 maka penderita
mola hidatidosa dilakukan tindakan radikal histerektomi.
3. Pengobatan profilaksis dengan sitostatika

10

Mola hidatidosa merupakan penyulut trofoblas yang berkelanjutan menjadi korio


korsinoma. Untuk menghindari terjadinya degenerasi ganas diberikan profilaksis dengan
sitostatika metotrexate atau aktinomicyn D. Pengobatan profilaksis sitostatika
memerlukan perawatan rumah sakit.
4. Pengawasan lanjut
Pengawasan lanjutan pada wanita dengan mola hidatidosa yang uterusnya dikosongkan
sangat penting karena mungkin timbul tumor ganas. Penentuan kadar kuantitatif HCG
sub unit beta dilakukan tiap minggu.2,3
VII.Kehamilan Ektopik
Definisi
Adalah suatu kehamilan dimana pertumbuhan sel telur yang telah dibuahi tidak menempel
pada dinding endometrium kavum uteri.
Klasifikasi
Berdasarkan lokasi terjadinya, dibagi menjadi :

Kehamilan tuba ( >95%), paling banyak di pars ampularis (55%).

Kehamilan ektopik lain (<5%), antara lain terjadi di serviks uteri, ovarium, atau abdominal.

Kehamilan intraligamenter

Kehamilan heterotopik

Kehamilan ektopik bilateral5


Kehamilan Tuba
Sebagian besar kehamilan tuba akan terganggu pada umur 6-10 minggu kemudian, dan nasib
hasil konsepsi :

Mati dan lalu diresorbsi

Terjadi abortus tuba (65%), hasil konsepsi terlepas dari tuba, dan terjadi perdarahan,
sedikit maupun banyak. Hasil konsepsi dan perdarahan bisa keluar ke arah kavum uteri
dan dikeluarkan pervaginam, atau keluar ke arah kavum abdominal sehingga bertumpuk

di belakang rahim, disebut hematoma retrouterina.


Terjadi ruptur tuba (35%), bila robekan kecil maka hasil konsepsi tetap tinggal di dalam
tuba,namun terjadi perdarahan banyak. Bila robekan besar, maka hasil konsepsi keluar
lalu masuk rongga perut, hasil konsepsi mati dan berkumpul di retrouterina bersama
darah.Bila janin agak besar, akan menjadi litopedion. Jika janin keluar diselubungi
kantong amnion dan plasenta yang utuh, plasenta akan mencari kebutuhan makanan janin
pada usus, lig.latum, dan organ disekitarnya, janin akan tumbuh bahkan sampai aterm,
terjadi kehamilan abdominal sekunder.2,4

11

Gambaran Klinik dan Diagnosa


1. Kehamilan tuba yang belum terganggu
Tidak khas, tanda-tanda hamil muda, sedikit nyeri pada perut, pada pemeriksaan vaginal,
uterus membesar dan lembek sehingga sukar diraba pada pemeriksaan bimanual, USG
sangat membantu menegakkan diagnosis, dengan didapatkan uterus tanpa kantong
gestasi, gambaran kantong gestasi berisi mudigah di luar uterus.
2. Kehamilan tuba terganggu
Amenore, timbul nyeri perut bagian bawah mendadak disertai perdarahan pervaginam
mendadak sehingga pasien pingsan atau syok. Darah dapat merangsang diafragma,
sehingga menyebabkan nyeri bahu dan bila membentuk hematokel retrouterina
menyebabkan nyeri defekasi.5
Diagnosis

Pemeriksaan laboratorium : pemeriksaan hemoglobin dan hematokrit serial setiap 1 jam

selama 3 kali berturut-turut, pemeriksaan leukosit menunjukkan leukositosis.


Pemeriksaan vaginal :
o nyeri goyang (+) dengan menggerakkan serviks menimbulkan nyeri
o kavum douglasi menonjol dan nyeri pada perabaan karena terisi darah
o teraba tumor di samping uterus denganm konsistensi lunak pada abortus tuba
Pada palpasi perut dan pada perkusi ada tanda perdarahan intraabdominal (shifting
dullness).
Pemeriksaan USG bila sudah terganggu (ruptur): kantong gestasi tidak jelas, massa
hiperekoik tidak beraturan, tidak berbatas tegas, dan di sekitarnya didapati cairan bebas

(gambaran darah intraabdominal).


Kuldosentesis (douglas pungsi) untuk mengetahui adakah darah dalam kavum douglasi
Laparoskopi merupakan alat bantu diagnostik pilihan terakhir jira yang lain meragukan.2,4

Pengelolaan
Rawat inap.
Pemberian cairan pada pasien yang mengalami syok.
Laparatomi atau salpingektomi.
Kemoterapi dengan metotreksat 1mg/kg i.v dan factor sitrovorum 0,1 mg/kg i.m
-

berselang seling tiap hari selama 8 hari.2


Indikasi tindakan
1) Kehamilan di pars ampularis tuba.
2) Diameter kantong gestasi 4cm.
3) Perdarahan dalam rongga perut 100 ml.
4) Tanda vital baik dan stabil.2

12

VIII. Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA
1. Naylor SC. Obstetri-ginekologi referensi ringkas. Jakarta: EGC; 2005.h.62-5.
2. Sarwono P. Ilmu kebidanan. Perdarahan pada kehamilan muda. Jakarta: EGC; 2011.h.459-90.
3. Sarwono P.Ilmu kandungan. Mola hidatidosa. Jakarta: EGC; 2011.h.246-50.
4. Cunningham FG. Williams Obstetri Edisi 21 vol 2. Jakarta; 2006; 930-8.
5. Mola hidatidosa. Diunduh dari : http://rentalhikari.wordpress.com/2009/11/06/kti-molahidatidosa/. Diakses pada 27 Mei 2012.
6. Patologi abortus. Diunduh dari : http://respository.usu.ac.id. Diakses pada 27 Mei 2012.

13