Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN PRAKTIKUM

UOP I - KONDUKSI

ABI SATRIO PRAMONO/1206261296


GITASHA AFIYAH PUTRI/120629206
RIZKY ANGGRAENI PUTRI/1206239150
USWATUN NUR KHAZANAH/1206201946

DEPATEMEN TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS INDONESIA
10/31/2014

LAPORAN PRAKTIKUM UOP I - KONDUKSI 2014

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI...................................................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................. 3
1.1 Latar Belakang ......................................................................................................... 3
1.1 Tujuan Percobaan ..................................................................................................... 3
1.1 Rumusan Masalah .................................................................................................... 3
1.1 Batasan Masalah....................................................................................................... 4
BAB II TEORI DASAR.................................................................................................... 5
2.1 Konduksi .................................................................................................................. 5
2.2 Konduktivitas Termal............................................................................................... 7
2.3 Tahanan Kontak Termal ........................................................................................... 8
BAB III PERCOBAAN .................................................................................................... 11
3.1 Prosedur Percobaan .................................................................................................. 11
3.2 Data Percobaan......................................................................................................... 11
3.3 Pengolahan Data....................................................................................................... 12
BAB IV ANALISIS ........................................................................................................... 24
4.1 Analisis Percobaan ................................................................................................... 24
4.2 Analisis Hasil ........................................................................................................... 27
4.3 Analisis Grafik ......................................................................................................... 30
4.3 Analisis Kesalahan ................................................................................................... 32
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................................ 33
5.1 Kesimpulan .............................................................................................................. 33
5.2 Saran ......................................................................................................................... 33
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................ 34

LAPORAN PRAKTIKUM UOP I - KONDUKSI 2014

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perpindahan kalor secara konduksi melibatkan transfer energi dengan difusi mikrosopik
dan tumbukan partikel dalam suatu material tanpa gerak materi secara keseluruhan. Tumbukan
dan difusi mikroskopik terjadi pada molekul, elektron, atom, dan foton yang mentransfer energi
kinetik dan potensial mikroskopik sebagai energi internal. Tingkat perpindahan panas tergantung
pada gradien suhu dan konduktivitas termal material. Konduksi hanya dapat terjadi dalam suatu
benda atau materi, atau antara dua objek yang berada dalam kontak langsung atau tidak langsung
dengan satu sama lain. Konduksi terjadi di semua bentuk materi ditimbang, seperti padat, cair,
gas dan plasma, namun perpindahan kalor dengan cara konduksi pada umumnya terjadi pada zat
padat. Suatu zat yang dapat menghantarkan kalor disebut konduktor, seperti berbagai jenis
logam. Konduktor logam yang baik contohnya adalah (dalam urutan menurun) perak, tembaga,
emas, aluminium, berilium, dan tungsten. Sedangkan zat penghantar kalor yang buruk disebut
isolator, pada umumnya benda-benda non logam seperti kayu, plastik, udara, kertas, dan lainlain.
Pada skala mikroskopik, konduksi panas muncul sebagai "rasa panas", atom yang
bergetar atau berpindah sedemikian cepat berinteraksi dengan atom dan molekul sekelilingnya
sehingga memindahkan sejumlah energi mereka ke partikel di sekelilingnya. Dengan kata lain,
panas dipindahkan dengan konduksi ketika atom yang saling berdampingan menggetarkan satu
sama lain, atau ketika elektron berpindah dari satu atom ke atom lain. Konduksi adalah bentuk
perpindahan panas paling umum pada benda padat pada kontak termal. Fluida-terutama gaskurang konduktif. Konduktansi kontak termal adalah studi konduksi panas antara benda padat
yang saling bersentuhan.
Konduksi steady state adalah bentuk konduksi yang terjadi ketika perbedaan temperatur
yang terjadi pada konduksi berlangsung spontan, maka setelah waktu kesetimbangan, distribusi
spasial temperatur pada benda terkonduksi tidak berubah-ubah lagi. Pada konduksi steady state,
jumlah panas yang memasuki suatu bagian sama dengan jumlah panas yang keluar.

LAPORAN PRAKTIKUM UOP I - KONDUKSI 2014


Konduksi transient muncul ketika temperatur objek berubah sebagai fungsi waktu.
Analisis pada sistem transient lebih kompeks dan sering dipakai untuk aplikasi dari analisis
numerik oleh komputer.

1.2 Tujuan Percobaan


Tujuan dari percobaan Konduksi ini adalah sebagai berikut:
a. Menghitung koefisien perpindahan panas logam dan pengaruh suhu terhadap k, dengan
menganalisa mekanisme perpindahan panas konduksi stedi dan tak stedi
b. Menghitung koefisien kontak

1.3 Rumusan Masalah


Masalah utama dalam percobaan ini antara lain:
a. Bagaimana pengaruh perbedaan suhu terhadap koefisien perpindahan panas dan koefisien
kontak logam pada node
b. Bagaimana pengaruh perbedaan suhu terhadap perubahan suhu air yang dialirkan
melewati alat

LAPORAN PRAKTIKUM UOP I - KONDUKSI 2014


BAB II
TEORI DASAR

II.1 Konduksi
Jika pada suatu benda terdapat gradien suhu, akan terjadi perpindahan energi berupa kalor
dari bagian yang bersuhu tinggi ke bagian yang bersuhu rendah. Salah satu cara perpindahan
energi ini melalui mekanisme yang disebut konduksi atau hantaran. Konduksi dapat diartikan
sebagai transmisi energi (panas) dari satu bagian padatan yang bersuhu tinggi ke bagian padatan
lain yang kontak dengannya dan memiliki suhu lebih rendah.
Besarnya perpindahan kalor sebanding dengan gradien suhu yang dinyatakan dalam
persamaan:

q T

A X
Apabila konstanta proporsionalitas dimasukkan dalam persamaan tersebut, didapat:

q k A

T
X

Persamaan di atas disebut hukum Fourier tentang konduksi kalor. Pada persamaan di atas, q
menyatakan laju perpindahan kalor dan T

X merupakan gradien suhu ke arah perpindahan

kalor. Konstanta k melambangkan konduktivitas termal benda, sedangkan tanda minus diberikan
untuk memenuhi hukum kedua termodinamika yaitu kalor berpindah ke tempat yang suhunya
lebih rendah.
Untuk konduksi kalor satu dimensi dapat digunakan persamaan:

kA

T T T
T
T
T
qAdx cA
dx Ak
k
dx k
q c
x

x x x x x

Sedangkan untuk aliran kalor tiga dimensi, kita perlu memperhatikan kalor yang
dihantarkan ke dalam dan ke luar satuan volume dalam tiga arah kordinat. Dengan menggunakan
neraca energi akan didapat persamaan:

T T T
T
k
k
k
q c
x x y y z z

atau dapat ditulis

LAPORAN PRAKTIKUM UOP I - KONDUKSI 2014


2T 2T 2T q 1 T


x 2 y 2 z 2 k
Dalam persamaan di atas, besaran menyatakan difusifitas termal atau kebauran termal
bahan. Makin besar nilai , makin cepat kalor membaur di dalam bahan tersebut. Satuan dari
difusifitas termal adalah m2/s.
Perpindahan kalor konduksi dibagi menjadi dua macam, yaitu konduksi keadaan tunak dan
tak tunak. Pada konduksi keadaan tunak, suhu tidak berubah terhadap waktu. Namun, jika suhu
benda berubah terhadap waktu atau jika ada sumber kalor (heat source) dan sumur kalor (heat
sink), konduksi yang terjadi adalah konduksi tak tunak.

Konduksi keadaan tunak


Apabila tidak ada pembangkitan panas di dalam benda, maka persamaan hukum Fourier
dapat diintegrasikan , sehingga diperoleh:

kA
T2 T1
X

Jika konduktivitas termal merupakan fungsi suhu, dimana k = k0 (1 + T), maka


persamaan aliran kalor menjadi:

k0 A
T2 T1 T2 2 T12

x
2

Gambar 1. Perpindahan kalor satu-dimensi melalui dinding komposit dan analogi listriknya

Pada sistem yang terdiri dari beberapa bahan seperti pada gambar, aliran kalor dapat
dirumuskan sebagai berikut:

LAPORAN PRAKTIKUM UOP I - KONDUKSI 2014


q k A A
q

T T2
T T3
T2 T1
k B A 3
k C A 4
x A
x B
xC

T1 T4
x
x A
x B
C
kAA
kB A
kC A

Konduksi keadan tak tunak


Dalam proses pemanasan atau pendinginan yang bersifat transien, yang berlangsung
sebelum terjadinya kesetimbangan, analisisnya harus menggunakan persamaanpersamaan untuk keadaan tak tunak.
Pada keadaan tak tunak berlaku:
2T 1 T

x 2 x

Sebagai contoh, untuk konduksi keadaan tak tunak pada benda padat semi tak berhingga
dengan fluks kalor tetap berlaku:

T Ti

2q0

exp x
4
kA

q0 x
x

1 erf
2
kA

II.2 Konduktivitas termal


Konduktivitas termal merupakan besaran yang menyatakan kemampuan suatu bahan
dalam menghantarkan kalor secara konduksi di mana perbedaan temperatur menyebabakan
transfer energi termal dari satudaerah benda panas ke daerah yang sama pada temperatur yang
lebih rendah. Pada umumnya, nilai konduktivitas termal ini sangat tergantung pada suhu. Bila
perubahan k merupakan fungsi linier terhadap perubahan suhu, maka hubungan tersebut dapat
ditulis:

k k 0 (1 T )
Satuan dari konduktivitas termal adalah Watt/moC atau BTU/hour.Ft.oF
Koefisien daya hantar panas juga tergantung pada suhu, akan tetapi berlainan dengan
koefisien muai panas. Naiknya suhu yang tinggi terhadap suatu bahan akan mengakibatkan

LAPORAN PRAKTIKUM UOP I - KONDUKSI 2014


perubahan atom yang mengiringi pencairan dan pengaturan kembali susunan atom-atom yang
diakibatkan perubahan suhu akan menyebabkan daya hantar panas terganggu.

II.3 Tahanan kontak termal


Apabila dua benda padat dihubungkan satu sama lain dan perpindahan panas hanya
dalam arah aksial, maka akan terjadi penurunan suhu yang tiba-tiba pada perbatasan kedua bahan
tersebut. Hal ini disebabkan oleh adanya tahanan kontak termal. Tahanan kontak termal
merupakan akibat dari ketidaksempurnaan kontak antara kedua bahan, sehingga terdapat fluida
yang terperangkap di dalamnya.

Gambar 2. Tahanan Kontak Termal

Ada dua faktor yang mempengaruhi perpindahan kalor pada sambungan, yaitu:
-

konduksi antara zat padat dengan zat padat pada titik-titik singgung

konduksi melalui gas yang terkurung pada ruang-ruang kosong yang terbentuk karena
persinggungan tersebut. Hal ini yang merupakan tahanan utama pada aliran kalor,
karena konduktivitas gas sangat kecil bila dibandingkan dengan konduktivitas zat
padat.

Untuk lebih jelas deskrpsi aliran kalor melalui sambungan bisa dilihat pada gambar
berikut:

LAPORAN PRAKTIKUM UOP I - KONDUKSI 2014

Gambar 3. Model kekasaran sambungan untuk analisis tahanan kontak termal

Aliran kalor melintasi sambungan tersebut dapat ditulis dalam bentuk persamaan sebagai
berikut:

T2 A T2 B
T T2 B T2 A T2 B
k f Av 2 A

Lg
Lg
1
Lg

hc A
2k A AC
2k B AC

dimana:
Ac = bidang kontak
Av = bidang lowong
Lg = tebal ruang lowong
kf = konduktivitas termal fluida
hc = tahanan kontak termal
Persamaan umum dengan menerapkan neraca energi pada kedua bahan, karena merupakan
gabungan anatara 2 bahan maka aliran kalor disetiap titik ialah sama maka:

q kA A

T T
T1 T2 A T2 A T2 B

k B A 2B 3
x A
1 / hc A
x B

Dengan melihat kepada sambungan tadi dimana terjadi perpindahan kalor secara konduksi
dapat dinyatakan dalam persamaan perpindahan kalor secara konveksi. Secara matematis
dinyatakan sebagai berikut:
Q konveksi

AB

= Qkonduksi

pada bidang yang kontak +

Q konduksi

gas-gas pada bidag yang tidak kontak

T T2 B
T T2 B
T2 A T2 B
= k gabungan. Ac 2 A
+ k f Ar 2 A
x1
x
1 / hc A
Dimana;

1
k gabungan

1
1

k A kB

LAPORAN PRAKTIKUM UOP I - KONDUKSI 2014


k gabungan

k AkB
k A kB

x = tebal bidang yang kontak, diasumsikan tebal bidang ini adalah dari jarak ruang
yang kosong antara 2 logam tersebut (gambar 2) = Lg/2
x1= tebal bidang kosong = jarak anatara dua logam = Lg
Dengan memberi tanda Ac untuk bidang kontak dan Av untuk bidang lowong maka
persamaan diatas menjadi:

k k
T T2 B
T2 A T2 B
T T2 B
= A B . Ac 2 A
+ k f Ar 2 A
k A kB
Lg / 2
1 / hc A
Lg

1
1
k k
1
= A B . Ac
+ k f Ar
Lg / 2
1 / hc A k A k B
Lg
hc A

1
Lg

2(k A k B ). Ac

k f Ar ,
k AkB

maka didapatkan persamaan koefisien kontak sebagai berikut :

hc

1
Lg

2(k A k B ) Ac
A

.
k f r r
A
A
k AkB

Dengan satuan m2 0C/Watt

10

LAPORAN PRAKTIKUM UOP I - KONDUKSI 2014


BAB III
PERCOBAAN
III.1. PROSEDUR PERCOBAAN
1. Memeriksa aliran air yang masuk dan keluar dari unit konduksi, membuka kran
pengontrol air
2. Mengalirkan air dengan laju yang rendah
3. Memeriksa kabel ke hubungan listrik, memasang voltmeter, DC
4. Menyalakan saklar utama pada Unit 2 dan Unit 3
5. Mengamati suhu setiap node 1 s.d. 10 untuk Unit 2 dan Unit 3
6. Menghentikan pengamatan apabila suhu node 10 telah tidak berubah suhunya pada 3 kali
pengamatan.
III.2. DATA PERCOBAAN
a. Data Percobaan Unit 2
Tabel 1. Data percobaan unit 2

Node

T1 (mV)

T2 (mV)

T1 air (oC)

T2 air (oC)

4,423

4,492

28,0

28,0

2,602

2,639

28,0

28,0

1,194

1,208

28,0

28,0

1,059

1,076

28,0

28,0

0,976

0,948

28,0

28,0

0,821

0,832

28,0

28,0

0,590

0,599

28,0

28,0

0,476

0,481

28,0

28,0

0,365

0,369

28,0

28,0

10

0,263

0,264

28,0

28,0

b. Data Percobaan Unit 3

11

LAPORAN PRAKTIKUM UOP I - KONDUKSI 2014


Tabel 2. Data percobaan unit 3

Node

T1 (mV)

T2 (mV)

T1,out air (0C)

T2,out air (0C)

3.919

3.911

28

28

3.417

3.410

28

28

2.974

2.961

28

28

2.578

2.570

28

28

2.233

2.229

28

28

1.967

1.971

28

28

1.712

1.709

28

28

1.474

1.467

28

28

1.282

1.281

28

28

10

1.111

1.117

28

28

III.3. PENGOLAHAN DATA


Pada bagian ini akan dijelaskan mengenai pengolahan dari data-data yang telah dilakukan
selama percobaan. Metode yang digunakan adalah metode pendekatan linear, sehingga untuk
menentukan T air pada tiap node dibuat grafik antara k vs. T node, kemudian nilai T air pada tiap
node dapat diambil sesuai dengan persamaan garisnya.
a. Pengolahan data unit 2
Pada bagian sebelumnya, yaitu bagian data pengamatan telah dijabarkan data-data yang
didapat dari hasil percobaan. Data yang diperoleh ditampilkan dalam tabel berikut:

12

Node

T1 (mV)

T2 (mV)

T1 air (oC)

T2 air (oC)

4,423

4,492

28,0

28,0

2,602

2,639

28,0

28,0

1,194

1,208

28,0

28,0

1,059

1,076

28,0

28,0

LAPORAN PRAKTIKUM UOP I - KONDUKSI 2014


5

0,976

0,948

28,0

28,0

0,821

0,832

28,0

28,0

0,590

0,599

28,0

28,0

0,476

0,481

28,0

28,0

0,365

0,369

28,0

28,0

10

0,263

0,264

28,0

28,0

Selain itu juga didapatkan data-data lain,yaitu:


Basis

Nilai

Satuan

6,297x106

m3/s

7,94x104

m2

6,297x103

Kg

Cp

4200

J.kg/C

1000

kg/m3

Jenis konduktor yang digunakan pada setiap node sebagai berikut.


Node 1-2

Stainless Steel

Node 3-6

Aluminium

Node 7-10

Magnesium

Basis yang digunakan : 1s


Nilai Q didapatkan dari perhitungan laju air yang keluar dari unit 2, dimana untuk
mencari debit digunakan persamaan umum sebagai berikut.
Q=

V
t

Nilai V dan t didapat pada setiap node yang diukur pada saat percobaan. Nilai Q yang
didapat dgunakan untuk menghitung nilai m
Nilai m didapatkan dari hubungan massa jenis air dan volume air, yaitu:

13

LAPORAN PRAKTIKUM UOP I - KONDUKSI 2014


=

m
V

m = . V
sehingga bila dilakukan perhitungan dengan excel akan didapatkan nilai Q rata-rata
untuk mencari nilai m, yaitu.
m

0,0000290

0,00580

29,000

5,000

0,0000300

0,00600

30,000

5,000

0,0000290

0,00597

29,000

4,860

0,0000310

0,00588

31,000

5,270

0,0000280

0,00549

28,000

5,100

0,0000310

0,00613

31,000

5,060

0,0000290

0,00562

29,000

5,160

0,0000310

0,00604

31,000

5,130

0,0000300

0,00604

30,000

4,970

0,0000330

0,00625

33,000

5,280

0,00592

Nilai A diperoleh dari nilai diameter batang logam yang telah diketahui sebelumnya
(3,18 cm), menggunakan persamaan berikut:
2

3,18x102
A = . r = . (
) = 7,94x104 m2
2
2

Perhitungan
Dengan menggunakan data-data yang telah ada, maka perhitungan dapat dilakukan,
langkah-langkahnya adalah sebagai berikut.
1. Mengubah T1 dan T2 yang memiliki satuan mv menjadi satuan C, dengan menggunakan
persamaan berikut:

14

LAPORAN PRAKTIKUM UOP I - KONDUKSI 2014


T(o C) = (24,82xT(mV)) + 29,74
Kemudian diperoleh hasil sebagai berikut:
Node

dx (m)

T1 (mV)

T2

T1 (0C)

T2 (oC)

(mV)
1

0,183

4,423

4,492

139,519

141,231

0,025

2,602

2,639

94,322

95,240

0,057

1,194

1,208

59,375

59,723

0,045

1,059

1,076

56,024

56,446

0,045

0,976

0,948

53,964

53,269

0,045

0,821

0,832

50,117

50,390

0,035

0,590

0,599

44,384

44,607

0,027

0,476

0,481

41,554

41,678

0,045

0,365

0,369

38,799

38,899

10

0,045

0,263

0,264

36,268

36,292

2. Menghitung Tavg dan Tavg air untuk setiap node, kemudian diperoleh hasil sebagai berikut.
Node

dx (m)

T1

T2 (mV)

T1 (0C)

T2 (oC)

(mV)

T avg

T air

T air

Tair rata-

(oC)

(oC)

(oC)

rata

0,183

4,423

4,492

139,519

141,231

140,375

28,0

28,0

28,00

0,025

2,602

2,639

94,322

95,240

94,781

28,0

28,0

28,00

0,057

1,194

1,208

59,375

59,723

59,549

28,0

28,0

28,00

0,045

1,059

1,076

56,024

56,446

56,235

28,0

28,0

28,00

0,045

0,976

0,948

53,964

53,269

53,617

28,0

28,0

28,00

0,045

0,821

0,832

50,117

50,390

50,254

28,0

28,0

28,00

0,035

0,590

0,599

44,384

44,607

44,495

28,0

28,0

28,00

0,027

0,476

0,481

41,554

41,678

41,616

28,0

28,0

28,00

0,045

0,365

0,369

38,799

38,899

38,849

28,0

28,0

28,00

10

0,045

0,263

0,264

36,268

36,292

36,280

28,0

28,0

28,00

15

LAPORAN PRAKTIKUM UOP I - KONDUKSI 2014


TOTAL

61,605

TOTAL

28,00

3. Menghitung nilai k pada keadaan stedi, untuk setiap daerah antara 2 node. Nilai k dapat
dihitung dnegan mengguankan asas Black, kalor yang diterima (masuk) sama dengan
kalor yang dilepaskan (keluar), asas ini dapat ditunjukkan dengan persamaan berikut.
mair Cpair (Tin air Tout air ) = kA

dT
dx

dimana,
mair

= laju alir massa (5,967x103 kg/s)

Cpair

= konstanta perpindahan panas (4200 J/(kg.C))

Tin air/ Tout air

= temperatur air di tiap node yang dapat diketahui dari metode

linear
A

= luas permukaan logam (7,94x104 m2 )

dT

= beda suhu logam pada tiap node

dx

= jarak antar node

Kemudian nilai k dapat dihitung dengan persamaan:


=

mair Cpair (Tin air Tout air )dx


.

Karena adanya perbedaan jenis bahan setiap nodenya, maka nilai k untuk masingmasing node dapat dihitung dengan menggunakan cara berikut:
a. kavg stainless steel

= k node 1-2

b. kavg alumunium = (k node 3-4 + k node 4-5 + k node 5-6)/3


c. kavg magnesium = (k node 7-8 + k node 8-9 + k node 9-10)/3

16

LAPORAN PRAKTIKUM UOP I - KONDUKSI 2014


4. Menghitung persentase kesalahan literatur dari setiap nilai k yang didapatkan dengan
membandingkan hasil perhitungan dengan hasil literatur. Persentase kesalahan (%KL)
dirumuskan sebagai berikut:

% = |
| 100%

Hasil perhitungan langkah 3 dan 4 dijabarkan dalam tabel berikut.

T node
Selan

dx

dT1

dT2

dT avg

avg

g node

(m)

(oC)

(oC)

(oC)

(oC)

0,02

44,20

45,99

45,098

3,351

3,276

3,313

57,892

213,775

2,060

3,177

2,619

54,926

270,511

3,847

2,879

3,363

51,935

210,619

2,829

2,929

2,879

43,056

147,615

2,755

2,780

2,767

40,233

255,954

2,532

2,606

2,569

37,565

275,738

1-2

k avg

k lit

% KL

8,726

8,726

16

45,463

231,635

204

13,547

226,436

156

45,151

117,82

0,04
3-4

5
0,04

4-5

5
0,04

5-6

5
0,02

7-8

7
0,04

8-9

5
0,04

9-10

17

LAPORAN PRAKTIKUM UOP I - KONDUKSI 2014


Keterangan tabel:
dT1 dan dT2 merupakan selisih dari suhu pada T1 dan T2 pada tiap selang node. Misal
pada selang noded 1-2 untuk dT1 merupakan selisih T1 pada node 1 dan T1 pada node 2
dTavg merupakan rata-rata dari dT1 dan dT2
T node avg merupakan selisih dari suhu pada Tavg pada tiap selang node. Misal pada
selang node 1-2 untuk Tnode avg merupakan selisih Tavg pada node 1 dan Tavg pada node 2
5. Menghitung nilai qair, qbahan, dan qloss
Untuk menghitung qair, qbahan, dan qloss, dapat digunakan rumus berikut:

a. qair mair .Cpair .t mair .Cpair . Tout air avg Tin air avg
b. qbahan

k lit . A.dTavg
dx

c. qloss qbahan qair


Dengan demikian, diperoleh hasil sebagai berikut.
Bahan

Q Air

Q Loss

Bahan
Baja

12,435

22,802

10,366

Alumunium

12,435

11,096

-1,339

Magnesium

12,435

8,654

-3,782

6. Menghitung nilai hc
Untung menghitung nilai hc digunakan asumsi nilai Lg = 5.10-6 m, nilai
Ac/A = 0,5, dan fluida yang terperangkap dalam ruang kosong adalah udara,
sehingga harga kf sangat kecil apabila dibandingkan dengan nilai kA dan kB. Nilai
hc dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut:
hc

dimana,

18

1 Ac 2.k A .k B
Av
.

kf
Lg A k A k B A

LAPORAN PRAKTIKUM UOP I - KONDUKSI 2014


Lg

= tebal ruang kosong antara A dan B (5.10-6 m)

kf

= konduktivitas fluida dalam ruang kosong (kf = 0)

= luas penampang total batang

Ac

= luas penampang batang yang kontak (Ac = 0,5 A)

Av

= luas penampang batang yang tidak kontak

Hasil perhitungan hc untung masing-masing bahan sebagai berikut.


hc percobaan stainless steel dan alumunium

1.681.823,026 m2.C/Watt

hc percobaan alumunium dan magnesium

22.900.590,688m2.C/Watt

hc literatur stainless steel dan alumunium

2.967.272,727 m2.C/Watt

hc literatur alumunium dan baja magnesium 17.680.000,000m2.C/Watt

Dari perhitungan yang telah dilakukan diatas, sudah didapatkan beberapa nilai k. Bila
dibandingkan dengan nilai k yang ada pada literatur, akan didapatkan kesalahan literatur sebagai
berikut.
% KL hc alumunium-stainless steel = 43,321%
% KL hc alumunium-magnesium = 29,528%
7. Menghitung
Untuk menghitung nilai , diperlukan grafik k vs. T node

avg.

Dengan

menggunakan metode least square, maka kita dapat membuat persamaan linear
yang menghubungkan nilai k dan T node
yang digunakan:

k k o 1 T
k ko ko . T

y = a +

19

avg

untuk mendapatkan nilai . Rumus

LAPORAN PRAKTIKUM UOP I - KONDUKSI 2014

T VS K
350.000
300.000
y = 0.5569x + 201.05
R = 0.0024

250.000
200.000

BAJA

ALUMUNIUM
150.000
100.000

MAGNESIUM
y = -23.477x + 1172.2
R = 0.8737

Linear (ALUMUNIUM)
Linear (MAGNESIUM)

50.000
0.000
0.000 20.000 40.000 60.000 80.000 100.000120.000140.000
T

Dari grafik tersebut, didapatkan nilai gradien dan intercept yang digunakan untuk
perhitungan nilai .
Magnesium
k = k0 + k0..T
y=a +b

a = k0 = 1172
b = k0. = -23,47
= -0,0200256
Alumunium
k = k0 + k0..T
y=a +b

a = k0 = 201
b = k0. = 0,556
= 0,00276617
b. Pengolahan data unit 3

20

LAPORAN PRAKTIKUM UOP I - KONDUKSI 2014


Pengolahan data untuk unit 3 sama dengan pengolahan data untuk unit 2 yaitu seperti
berikut.
Merata-ratakan waktu dan volume air yang keluar

t1 (s) V1 (mL) t2 (s) V2 (mL) tavg (s) Vavg (mL)


4.97

5.16

5.065

5.15

5.12

10

5.135

5.16

10

5.31

5.235

9.5

5.07

10

5.06

5.065

9.5

5.06

5.27

10

5.165

9.5

5.10

10

5.03

10.5

5.065

10.25

5.29

5.33

10

5.31

9.5

5.25

5.27

10

5.26

9.5

5.23

10

5.24

5.235

9.5

5.08

5.32

5.2

8.5

Mencari Tavg node dengan mengubah T (mV) ke T (0C)


V

Tout air

(mL)

(0C)

(mV) (mV)

28.0

3.919 3.911 127.0096

28.0

3.417

9.5

28.0

2.974 2.961 103.5547

103.232

9.5

28.0

2.578

93.5274

9.5

Node

T0

Tt

T1

T2

(0C)

(0C)

Q
(m3/s)

m (kg)

Tavg node
(0C)

5.065

1.7769

0.0018

114.5499 114.3762 5.135

1.7527

0.0018 114.46307

5.235

1.8147

0.0018 103.39335

5.065

1.8756

0.0019

93.62668

28.0

2.233 2.229 85.16306 85.06378 5.165

1.8393

0.0018

85.11342

10.25

28.0

1.967 1.971 78.56094 78.66022 5.065

2.0237

0.0020

78.61058

9.5

28.0

1.712 1.709 72.23184 72.15738

5.31

1.7891

0.0018

72.19461

9.5

28.0

1.474 1.467 66.32468 66.15094

5.26

1.8061

0.0018

66.23781

9.5

28.0

1.282 1.281 61.55924 61.53442 5.235

1.8147

0.0018

61.54683

10

8.5

28.0

1.111 1.117 57.31502 57.46394

1.6346

0.0016

57.38948

21

3.41

2.57

93.72596

126.811

T (s)

5.2

126.9103

LAPORAN PRAKTIKUM UOP I - KONDUKSI 2014


Rata-rata

Rata rata

28.0

Tout (0C)

Massa air (kg)

0.0018

Mencari nilai k percobaaan


Selang

dx

Node

dT1

dT2

dTavg

Tavg node
(0C)

0.025 12.460 12.435 12.447 0.00067 11.458 120.686685

0.025 10.995 11.144 11.070 0.00181

4.753

108.92821

0.025

9.829

9.705

9.767

0.00103

9.471

98.510015

0.025

8.563

8.464

8.513

0.00116

9.624

89.37005

0.025

6.602

6.404

6.503

0.00130 11.239

81.862

0.025

6.329

6.503

6.416

0.00145 10.223

75.402595

0.025

5.907

6.006

5.957

0.00161

9.937

69.21621

0.025

4.765

4.617

4.691

0.00177 11.446

63.89232

10

0.025

4.244

4.070

4.157

0.00193 11.889

59.468155

7.725

0.00141 10.004

0.025
Membuat Grafik T Vs K dan A Vs K

T VS K
14.000
12.000
10.000
8.000
6.000
4.000
2.000
0.000

y = -0.0475x + 14.056
R = 0.2115

20

40

60

80

100

T
TEMBAGA

22

Linear (TEMBAGA)

120

140

LAPORAN PRAKTIKUM UOP I - KONDUKSI 2014

A VS K
14.000
12.000

k0

10.000
8.000
y = -1110.9x + 11.575
R = 0.0452

6.000
4.000
2.000
0.000
0.00000

0.00050

0.00100

0.00150

0.00200

Mencari Kesalahan Literatur


=
=

| |
100%

|385 10.004|
100% = 97.4015%
385

Mencari k0 dan
= 0 (1 + )
= 14.056 0.0475
=

23

0.0475
= 0.003793
14.056

0.00250

LAPORAN PRAKTIKUM UOP I - KONDUKSI 2014


BAB IV
ANALISA

IV.1. ANALISA PERCOBAAN


Percobaan konduksi ini memiliki tujuan untuk memahami mekanisme perpindahan panas
secara konduksi. Kita sebelumnya haruslah mengetahui karakteristik dari perpindahan panas
konduksi ini agar kita dapat mempelajari mekanisme perpindahan panas konduksi. Salah satu
karakteristik adalah koefisien perpindahan panas logam, melihat pengaruh koefisien perpindahan
panas logam dengan suhu dan juga koefisien kontak.
Perpindahan kalor konduksi ini adalah peristiwa perpindahan energi yang diakibatkan
adanya interaksi antar molekul. Interaksi pada peristiwa konduksi ini adalah getaran atau vibrasi
dari molekul itu sendiri. Karena suatu molekul bergetar, molekul lainnya yang berjarak sangat
dekat juga ikut bergetar. Hal tersebutlah yang membuat energi berpindah dari satu tempat ke
tempat lainnya. Perpindahan energi dapat terjadi karena adanya perbedaan suhu antara suatu titik
ke titik lainnya. Pada percobaan ini, praktikan hanya melakukan percobaan pada unit dua dan
unit tiga.
Percobaan unit dua ini bertujuan untuk menghitung koefisien perpindahan panas logam,
mengamati pengaruh suhu terhadap k dan menghitung koefisien kontak. Percobaan dilakukan
dengan mengamati setiap node, dimana node yang ada terdiri dari 10 node. Setiap 10 node
tersebut diamati dalam selang waktu satu menit. Hal ini bertujuan untuk meyakinkan bahwa
panas telah berpindah ke node berikutnya. Setiap node dilakukan dalam dua kali pengukuran.
Dengan perlakuan tersebut, kesalahan yang ada dapat diminimalisasi karena pengukuran yang
dilakukan dua kali dapat menghasilkan data yang lebih presisi. Setiap node yang diukur tersebut
akan menghasilkan air keluaran dari selang yang terhubung dengan alat konduksi, dimana air
tersebut diperlukan untuk data debit nantinya. Setiap air yang keluar dari selang dalam setiap
node dilakukan pengukuran suhu. Dengan demikian, bila setiap node dilakukan dua kali
pengukuran, suhu air keluar yang dihitung merupakan suhu rata-ratanya.

24

LAPORAN PRAKTIKUM UOP I - KONDUKSI 2014


Pada unit dua ini, logam yang digunakan terdiri dari tiga jenis, diantaranya adalah
stainless steel, alumunium, dan magnesium. Sepuluh node yang akan diukur tersebut dibuat dari
ketiga jenis logam itu. Untuk lebih jelasnya, sepuluh node tersebut dapat digambarkan sebagai
berikut.

heater

baja

4 5 6

Al

7 8 9 10

Mg

Gambar 4. Logam pada Unit 2


Dari gambar tersebut, terlihat bahwa node 1-2 terbuat dari baja, node 3-5 terbuat dari
alumunium, dan node 7-9 terbuat dari magnesium. Perbedaan jenis bahan dari ketiga node itu
membuat kita dapat lebih mudah mengerti mengenai apa yang disebut tahanan kontak. Seperti
yang telah dijelaskan sebelumnya pada teori dasar, tahanan kontak adalah suatu peristiwa yang
terjadi ketika ada dua logam yang dihubungkan secara kurang sempurna sehingga ada ruang
diantara sambungan tersebut yang terisi oleh udara. Hal ini menyebabkan terjadinya penurunan
suhu pada logam yang bersinggungan. Dari data yang diperoleh akan dihitung koefisien ;
dimana nilai ini dapat digunakan untuk menghitung nilai konduktivitas bahan (k).
Pertama, hal yang harus dilakukan adalah menghubungkan kabel ke sumber listrik (sudah
dilakukan oleh asisten laboratorium), dimana kabel yang dimaksud adalah kabel yang akan
memberikan panas dari listrik ke material pada pipa. Bagian pangkal batang stainless steel
adalah bagian yang langsung berhubungan dengan pemanas listrik yang menggunakan arus
bolak-balik tersebut. Akibatnya, suhu pada pangkal stainless steel akan lebih tinggi
dibandingkan bagian logam lainnya. Perbedaan temperatur antara bagian pangkal stainless steel
dengan bagian-bagian lain merupakan driving force yang memicu perpindahan kalor dari
pangkal stainless steel ke bagian lainnya. Ketika tube furnace memberikan kalor pada salah satu
ujung logam, molekul-molekul dalam logam yang dipanaskan tersebut bergerak lebih cepat,
sementara itu, tumbukan dengan molekul-molekul yang langsung berdekatan lebih lambat.

25

LAPORAN PRAKTIKUM UOP I - KONDUKSI 2014


Molekul-molekul yang bertumbukan ini mentransfer sebagian energi ke molekul-molekul lain
sehingga lajunya mengalami peningkatan. Molekul-molekul ini kemudian juga mentransfer
sebagian energi mereka dengan molekul-molekul lain sepanjang benda tersebut. Dengan
demikian, energi gerak termal ditransfer oleh tumbukan molekul sepanjang benda.
Selanjutnya, langkah yang harus dilakukan adalah memasang milivoltmeter (set mV
meter pada penunjuk mV, DC), dan menghidupkan saklar utama serta unit 2 dan 3. Selain itu,
praktikan juga harus memeriksa selang yang terhubung pada unit 2 dan 3 agar pada waktu
percobaan, tidak terjadi kesalahan dalam penggunaan selang. Selang tersebut bertujuan untuk
mengeluarkan air yang nantinya akan ditampung dalam gelas ukur. Melalui gelas ukur tersebut,
volume air dari setiap unit dengan setiap node dapat diukur sehingga nantinya debit air tersebut
akan didapat. Nilai debit air digunakan untuk perhitungan massa. Hasil yang didapat akan
digunakan untuk perhitungan konduktivitas termal material tersebut.
Pada percobaa di unit 3 ini tujuannya adalah untuk mengetahui pengaruh luas terhadap
perpindahan konduksi yang terjadi. Seperti pada percobaan unit 2, konduksi yang terjadi
merupakan perpindahan energy panas akibat adanya vibrasi olekul yang menghantarkan kalor
dari satu molekul ke molekul lain.
Unit 3 ini terdiri atas plat Cu vertical yang memiliki perbedaan luas di setiap nodenya.
Pada dasar unit, dipasangkan sebuah pemanas listrik sebagai driving force yang membuat
gradient suhu pada unit tersebut.
Pada setiap node dipasang sebuah termokopel yang berfungsi sebagai sensor suhu pada
titik tersebut. Termokopel ini dihubungkan dengan konektor dan voltmeter sehingga pada titik
tersebut dapat dilakukan pembacaan suhu. Karena yang digunakan adalah voltmeter, suhu yang
terbaca ditransformasikan menjadi besaran tegangan atau potensial listrik dengan satuan mV.
Data suhu dapat diperoleh dengan cara mengkonversikan data potensial listrik. Switch pada
voltmeter digunakan untuk mengubah pembacaan suhu dari satu node ke node lainnya di
sepanjang batang. Ilustrasi unit dapat dilihat sebagai berikut :

26

LAPORAN PRAKTIKUM UOP I - KONDUKSI 2014

Gambar 5. Logam pada unit 3


Menurut Hukum Fourier, besarnya kalor yang ditransmisikan ke suatu titik sebanding
dengan konduktivitas termal material, luas penampang, dan gradien suhu serta berbanding
terbalik dengan jaraknya dari sumber kalor.

q k A

T
X

Sehingga pada pengamatan unit 3, vaiabel yang berpengaruh adalah jarak dengan sumber
kalor dan luas penampang. Berdasarkan hukum Fourier, besarnya fluks kalor berbanding terbalik
dengan luas penampang. Pada unit 3 ini, konduktivitas termalnya tidak dipengaruhi oleh jenis
material, melainkan hanya sebagai fungsi suhu.
Pada unit ini juga dialirkan fluida pendingin sebagai heat sinker. Heat sink ini berfungsi
mengatur dan mengukur fluks panas yang melalui terminal sepanjang lintasan batang. Fluida
pendingin yang digunakan adalah air karena sifatnya yang ekonomis, mudah didapat, dan aman
bagi lingkungan. Besarnya laju alir fluida pendingin haruslah cukup kecil agar tidak banyak
kalor yang terbuang melalui konveksi. Suhu keluaran fluida pendingin diukur setelah
dilakukannya pengukuran suhu pada tiap-tiap node. Pengukuran dilakukan setelah selang waktu
tertentu agar suhunya stabil dan didapatkan data yang akurat.
IV.2. ANALISA HASIL
Perhitungan k

27

LAPORAN PRAKTIKUM UOP I - KONDUKSI 2014


Dari percobaan yang dilakukan pada unit 2, dihasilkan nilai konduktivitas termal setiap
logam dimana konduktivitas termal percobaan untuk steel adalah 8,726, konduktivitas termal
percobaan untuk alumunium adalah 231,635, dan konduktivitas termal percobaan untuk
magnesium 226,436. Dengan demikian, konduktivitas termal yang terbesar sampai terkecil
adalah konduktivitas termal alumunium, magnesium, dan steel. Hal ini sesuai dengan nilai
konduktivitas termal literatur. Benda yang memiliki nilai konduktivitas termal yang tinggi
menunjukkan bahwa benda tersebut memiliki kemampuan menghantarkan panas yang tinggi
pula. Konduktivitas termal alumunium yang tinggi disebabkan oleh densitas molekul alumunium
yang lebih rendah dibandingkan magnesium dan steel. Berapa densitasnya? Dengan adanya
densitas alumunium yang rendah, kerapatan alumunium tersebut juga akan rendah sehingga jarak
antar partikel lebih besar dibandingkan magnesium dan steel. Jarak partikel yang lebih besar
tersebut menyebabkan partikel akan bergerak lebih bebas. Selain itu, densitas yang rendah
menandakan jumlah molekul yang lebih sedikit untuk massa yang sama dibandingkan material
yang lain. Artinya, jika sebuah molekul aluminium bervibrasi, ia akan dengan mudah bergerak
dan berkontakan sambil menghantarkan panas ke molekul yang lain, dan hambatan panas akan
kecil karena jumlah molekul yang menghantarkan panas tidak begitu banyak.
Energi termal yang dihasilkan secara teoritis dapat dihantarkan oleh zat padat melalui dua
cara, yaitu dengan adanya perpindahan elektron bebas dan getaran kisi. Dalam hal ini, secara
literatur, jumlah elektron bebas dalam alumunium lebih banyak dibandingkan dengan
magnesium dan steel. Elektron bebas tersebut akan bergerak melalui struktur kisi material
dimana elektron tersebut mengandung muatan listrik dan energi termal yang mengalir atau
berpindah dari suhu yang lebih rendah ke suhu yang lebih tinggi. Getaran kisi juga dapat
menghantarkan energi termal, tetapi jumlahnya tidak sebanyak perpindahan elektron bebas.
Pada unit 3 ini, perhitungan yang dilakukan sama seperti pada unit 2 yakni mengkonversi
suhu lalu mencari nilai konduktivitas termal dan koefisien muai panjang unit. Hanya saja yang
berbeda pada perhitungan di unit ini adalah perhitungan luas yng akan berbeda pada setiap
nodenya saat mencari nilai konduktivitas termalnya

Perhitungan hc

28

LAPORAN PRAKTIKUM UOP I - KONDUKSI 2014


Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, didapatkan bahwa nilai tahanan termal
antara stainless steel dengan alumunium jauh lebih kecil dibandingkan dengan tahanan termal
antara alumunium dengan magnesium. Besarnya tahanan termal tersebut dipengaruhi oleh
beberapa hal seperti ketebalan ruang kosong antara sambungan logam dan perpindahan panas
yang terjadi dalam ruang kosong tersebut.
Apabila ruang kosong diantara sambungan kedua logam semakin besar, kita akan
mendapatkan nilai tahanan termal yang semakin kecil, dan begitu pula sebaliknya. Oleh sebab
itu, dapat disimpulkan bahwa tebalnya ruang kosong pada sambungan stainless steel dengan
alumunium jauh lebih besar dibandingkan dengan pada sambungan alumunium dan magnesium.
Selain itu, hal ini juga membuktikan bahwa kekasaran permukaan antara alumunium dengan
magnesium lebih besar dibandingkan stainless steel dengan alumunium sehingga ketebalan ruang
kosongnya semakin kecil.
Perpindahan panas yang terjadi dalam ruang kosong tersebut dipengaruhi oleh dua hal,
antara lain konduksi antara zat padat dengan zat pada pada titik perpotongan (titik pertemuan dua
logam) dan konduksi melalui fluida gas yang berada pada ruang kosong, dimana gas tersebut
dalam hal ini adalah udara.
Disamping kedua hal tersebut, besarnya tahanan termal juga dipengaruhi oleh
konduktivitas termal material-material yang bersambungan. Dalam percobaan ini, bahan yang
berada di antara kedua zat adalah alumunium sehingga besarnya konduktivitas alumunium bukan
merupakan parameter yang mempengaruhi tahanan termal secara besar sehingga kita perlu
membandingkan konduktivitas termal magnesium dan stainless steel. Dari perhitungan yang
telah dilakukan, besarnya konduktivitas termal magnesium lebih besar dibandingkan stainless
steel. Hal ini mengakibatkan tahanan termal aluminium-magnesium lebih besar dibandingkan
tahanan termal aluminium-stainless steel.
Untuk unit 3 kita tidak mencari hc karena unit 3 hanya terdapat satu logam yaitu tembaga.

Perhitungan

29

LAPORAN PRAKTIKUM UOP I - KONDUKSI 2014


Nilai adalah pengaruh temperatur terhadap nilai k. Berdasarkan perhitungan yang
dilakukan, nilai dihitung dengan menggunakan persamaan garis. Nilai konduktivitas termal
yang ada bergantung pada nilai temperatur. Dari perhitungan yang dilakukan, didapatkan nil ai
untuk magnesium bernilai negatif, sedangkan nilai untuk alumunium bernilai positif.
Seharusnya, kedua nilai tersebut bernilai negatif. Nilai yang negatif menunjukkan bahwa pada
temperatur tertentu nilai konduktivitas termal aluminium dan magnesium akan lebih kecil
dibandingkan nilai k temperatur standar. Nilai yang negatif juga menandakan terjadi
penyusutan luas penampang logam. Hal ini dapat terjadi karena adanya faktor pengotor yang ada
pada permukaan logam tersebut.
Untuk unit 3, Pada perhitungan koefisien muai panjang, sama seperti unit 2, yakni
merepresentasikan terlebih dahulu menjadi grafik antara T dan k, sehingga didapat
persamaan untuk mencari koefisien muai panjang Cu.

IV.3. ANALISA GRAFIK


a. Grafik percobaan unit 2

T VS K
350.000
300.000
250.000

y = 0.5569x + 201.05
R = 0.0024

200.000

BAJA

ALUMUNIUM
150.000
100.000

MAGNESIUM
y = -23.477x + 1172.2
R = 0.8737

Linear (ALUMUNIUM)
Linear (MAGNESIUM)

50.000
0.000
0.000 20.000 40.000 60.000 80.000 100.000120.000140.000
T

Grafik T vs K digunakan untuk melakukan perhitungan nilai . Pada grafik magnesium,


nilai R2 hampir mendekati 1 sehingga nilai yang didapatkan cukup linier, sedangkan pada grafik
alumunium, nilai R2 sangat jauh dari 1 sehingga tidak linier. Grafik yang linier menunjukkan

30

LAPORAN PRAKTIKUM UOP I - KONDUKSI 2014


bahwa semakin besar suhu, nilai k juga akan semakin besar, dan begitu pula sebaliknya. Dengan
demikian, benar adanya bahwa temperatur akan mempngaruhi nilai konduktivitas termal
material.
b. Grafik percobaan unit 3

T VS K
14.000
12.000
10.000
8.000
6.000
4.000
2.000
0.000

y = -0.0475x + 14.056
R = 0.2115

20

40

60

80

100

120

140

T
TEMBAGA

Linear (TEMBAGA)

Pada grafik T Vs K dapat dilihat bahwa semakin tinggi nilai T maka nilai konduktivitas
termalnya semakin menurun. Jika ditinjau dari segi kimia fisika, logam memiliki valance
band yang terisi parsial dan proses perpindahan panas secara konduksi terjadi akibat vibrasi
pada elektron pada valance band. Elektron yang sudah membawa energy karena vibrasinya,
jika ditambahkan suhu maka akan membuat elektron tersebut memiliki energy yang semakin
tinggi, namun elektron tersebut masih berada pada valance band yang sama. Karena energy
yang dimiliki setiap elektron menjadi hamper sama, maka pengaru suhu hanya akan
mempercepat tumbukan antar molekul saja tapi tidak menambah nilai konduktivitasnya.

31

LAPORAN PRAKTIKUM UOP I - KONDUKSI 2014


A VS K
14.000
12.000

k0

10.000
8.000
y = -1110.9x + 11.575
R = 0.0452

6.000
4.000
2.000
0.000
0.00000

0.00050

0.00100

0.00150

0.00200

0.00250

Pada grafik antara luas penampang dengan suhu dapat dilihat bahwa semakin menurun
nilai konduktivitasnya dapat dilihat dari gradiennya yang semakin menurun. Hal ini
dikarenakan semakin luas penampang, maka semakin menambah nilai resistivitas termalnya.
Resistivitas termal adalah hambatan termal yang dipengaruhi oleh ketebalan dan luas
penampang

yang

dialiri

kalor.

Jika

resistivitasnya

semakin

tinggi

maka

nilai

konduktivitasnya semakin menurun.

IV. ANALISA KESALAHAN


Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan kesalahan dalam percobaan ini,
diantaranya adalah:

Kemungkinan terjadi kesalahan pada alat (termocouple) yang digunakan sehingga data
yang diperoleh kurang akurat.

Kurangnya ketepatan praktikan dalam mengalirkan air ke dalam tabung dengan waktu
yang konstan sehingga menyebabkan volume yang didapat sedikit lebih banyak/sedikit
dari yang seharusnya

Kurangnya ketepatan praktikan dalam mengukur suhu air

32

LAPORAN PRAKTIKUM UOP I - KONDUKSI 2014


BAB V
PENUTUP
V.1. KESIMPULAN

Konduksi merupakan perpindahan energi (kalor) dari satu bagian padatan yang
meiliki suhu lebih tinggi ke bagian yang memiliki suhu lebih rendah

Perpindahan pada konduksi dengan kondisi steady-state dan tidak ada pembangkit
panas pada logam maka panas yang berpindah dari ujung logam ke ujung lainnya
adalah sama

Pada logam yang terdiri dari sambungan beberapa logam maka akan terjadi variasi
suhu yang berbeda-beda

Koefisien perpindahan panas logam dapat dihitung dengan menggunakan persamaan


Fourier konduksi yaitu:

q x
A T

dengan data T logam, pada q/A yang sama. Apabila perubahan nilai k merupakan
fungsi linier terhadap perubahan suhu, maka berlaku persamaan

k k o 1 T .
dengan adalah koefisien perpindahan panas. Kemudian dari data percobaan, dapat
pula diperoleh koefisien kontak termal melalui persamaan

hC

1
Lg

AC 2k A k B

V k f
A
A k A kB

V.2. SARAN
Ada beberapa saran yang dapat dilakukan agar percobaan ini berjalan lebih baik
sehingga kesalahan literatur dapat dikurangi yaitu

Termokopel perlu dikalibrasi secara berkala agar keakuratan data lebih baik dan
pemanasan terjadi secara merata.

Menggunakan termometer digital agar suhu keluaran air dapat diperoleh lebih secara
lebih akurat.

33

LAPORAN PRAKTIKUM UOP I - KONDUKSI 2014


DAFTAR PUSTAKA
Anonim.

Thermal

Conductivity.

http://hyperphysics.phy-

astr.gsu.edu/hbase/thermo/thercond.html [elektronik] diakses pada 29 Oktober 2014 pukul


22.51 WIB
Anonim.

How

Does

Temperature

Affect

the

Conductivity

of

Conductor?.

http://fog.ccsf.cc.ca.us/~wkaufmyn/ENGN45/Course%20Handouts/15_ElectricalProps/05_
TemperatureConductivityConductor.html [elektronik] diakses pada 29 Oktober 2014 pukul
21.49 WIB
Anonim. 1989. Petunjuk Praktikum Proses & Operasi Teknik 1. Depok: DTK-FT-UI.

Holman, J.P. 1988. Perpindahan Kalor Edisi Keenam, Alih Bahasa Ir. E. Jasjfi M. Sc. Jakarta:
Erlangga.

34