Anda di halaman 1dari 9

SASBEL

LO.1 Memahami & menjelaskan General Medical Check up


1.1
Defini GMC
1.2
Prosedur GMC
1.3
Tujuan GMC
1.4
Kekurangan & kerugian GMC
1.5
Jenis GMC
LO.2 Memahami & menjelaskan lipid
2.1
Definisi lipid
2.2
Metabolisme Lipid
2.3
Struktur dan Pembagian Lipid
2.4
Fungsi lipid
2.5
Nilai Profil Lipid
LO.3 Memahami & menjelaskan hubungan olahraga dan kesehatan
LO.4 Memahami & menjelaskan makanan yang halal dan toyyibah

LO 1 Memahami dan Menjelaskan GMC


LI 1.1 Definisi GMC
General Medical check up adalah proses yang dilakukan oleh seorang dokter dalam
pemeriksaan pada tubuh pasien untuk mencari adanya kejanggalan atau gejala dari suatu
penyakit yang biasanya dilakukan secara rutin satu tahun sekali.
http://www.mitrakeluarga.com/bekasibarat/seputar-medical-check-up/
Medical check up adalah pemeriksaan kesehatan lengkap untuk mengetahui kesehatan seseorang.
http://droenska.com/rawat-jalan/general-check-up

LI 1.2 Prosedur GMC


1. Anamnesa
Disini pentingnya kepercayaan pasien terhadap dokter. Pada bagian ini dokter akan
menanyakan:
1. Keluhan saat ini yang mengganggu
2. Riwayat penyakit sekarang. Dibagian ini dokter akan menanyakan mulai kapan
gejala penyakit di derita, bagaimana intensitasnya, kapan timbul gejala tersebut,
adakah penjalaran, adakah gejala tambahan, adakah susah tidur, bagaimana
dengan buang air kecil dan air besarnya, riwayat alergi yang diderita (alergi obat
atau makanan).
3. Riwayat penyakit dahulu. Disini dokter menanyakan
Riwayat penyakit yang pernah diderita pada waktu masih anak-anak
seperti asma, bronkitis, TBC paru, sakit kuning, dll.
Penyakit lain yang diderita seperti hipertensi, kencing manis, cholesterol
atau asam urat tinggi, dsb.

4.

5.

6.
7.

Riwayat kecelakaan yang pernah dialami, seperti menimbulkan patah


tulang, pingsan atau muntah.
Riwayat operasi yang pernah dialami seperti amandel, usus buntu, hernia,
dsb
Pengobatan yang dijalani
Riwayat penyakit keluarga yang dialami oleh orang tuanya, kakek dan neneknya,
paman atau bibinya seperti hipertensi, kencing manis, jantung, ginjal, kanker,
asma, liver, atau penyakit kejiwaan.
Riwayat penyakit apakah bekerja di kantor atau di lapangan . karena ada penyakit
yang berhubungan dengan lingkungan kerja, misalnya karena lingkungan bising
atau berdebu dll.
Riwayat merokok, berapa banyak dan sejak kapan. Minum alkohol atau tidak dan
olahraga dalam seminggu berapa kali.
Apakah ada perubahan berat badan dalam 1 tahun.

2. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan tekanan darah salah satu pemeriksaan tanda vital setelah anamnesa,
dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik secara menyeluruh dari kepala sampai kaki. Dicari
adakah kelainan pada bagian tubuh pasien, mulai dari pemeriksaan tekanan darah,nadi,
frekuensi nafas, dan suhu. Dari keempat komponen ini dapat diketahui apakah ada
tekanan darah tinggi, gangguan irama jantung, denyut jantung yang cepat atau lambat,
frekuensi nafas yang cepat, gangguan paru, adanya infeksi. Setelah itu dilakukan
pemeriksaan secara menyeluruh pada pasien, mulai dari bentuk tubuh, keadaan kulit,
adanya benjolan pada leher (baik adanya pembesaran kelenjar getah bening atau tiroid
atau gondok, bagaimana reflek cahaya terhadap mata, apakah pupil ditengah atau tidak,
adakah kelainan pada scelera/conjunctiva mata untuk melihat adanya penebalan selaput
mata atau anemia, pemeriksaan gendang telinga dan liang telinga dilanjutkan dengan
pemeriksaan dada, perut, pinggang adakah pembengkakan atau varises di kaki sampai
reflek saraf pasien tersebut.
Pemeriksaan dilakukan melalui:
1. Melihat keadaan pasien (inspeksi). Jika ada pakaian yang menutupi tubuh tidak akan
terlihat jika ada organ tubuh pada dada atau perut yang tidak normal. Dari inspeksi
dapat diketahui pasien menderita suatu penyakit tertentu, seperti penyakit kuning,
penyakit paru kronik bahkan penyakit jantung.
2. Meraba bagian tubuh pasien (palpasi). Dengan perabaan dapat diketahui apakah ada
pembesaran hati atau limpa, adanya nyeri pada bagian perut atau tumor pada jaringan
payudara wanita. Tetapi untuk wanita dapat menolak jika memang tidak ingin
diperiksa payudaranya hanya saja menandatangani surat penolakan.
3. Mengetuk bagian tubuh (perkusi). Berdasarkan suatu prinsip adanya perbedaan bunyi
pada organ-organ tubuh. Bunyi paru berbeda dengan bunyi jantung jika diketuk.
Begitu uga dengan bunyi usus dan bunyi hati. Karena itu, jika bunyi yang dihasilkan
berbeda, bisa saja ada sesuatu yang tidak normal pada organ tersebut. Selain itu,
pengetukan dapat digunakan untuk mendeteksi adanya pembesaran jantung atau

adanya cairan di paru atau perut (yang merupakan hal yang tidak normal). Dalam
praktek sehari-hari, tiga pemeriksaan di atas tidak terlalu familier untuk dilakukan
karena banyak membuang waktu dan menyebabkan ketidaknyamanan bagi pasien.
Pemeriksaan yang paling sering dilakukan adalah dengan menggunakan stetoskop
dengan cara auskultasi.
4. Mendengar suara di dalam tubuh pasien (Auskultasi) dengan menggunakan stetoskop
tujuannya untuk mendengar suara nafas pada paru, denyut jantung, maupun bunyi
usus yang sedang berkontraksi. Perbedaan bunyi pada organ tersebut pun menandakan
adanya gangguan pada organ seperti adanya suara bising jantung, adanya suara nafas
yang berlebih atau suara ngik ngik pada paru, bahkan suara usus yang dapat
menghilang dapat menandakan adanya sumbatan pada usus. Terkadang keempat jenis
pemeriksaan diatas dapat dilakukan bersama bila pada salah satu jenis pemeriksaan di
atas ditemukan adanya kelainan supaya hasilnya lebih akurat.
5. Menggunakan alat bantu. Pada saat dilakukan inspeksi ataupun perkusi dengan
bantuan alat. Untuk pemeriksaan saraf dilakukan dengan menggunakan palu reflek.
Dapat diketahui jika ada gerakan yang tidak normal setelah dirangsang dengan palu
reflek yang menandakan adanya gangguan pada otak. Selain itu, pemeriksaan saraf
juga menggunakan kapas, air dingin, jarum untuk mendeteksi adanya gangguan pada
saraf otak. Pada pemeriksaan telinga digunakan alat otoskop untuk melihat keadaan
liang telinga, keutuhan selaput gendang telinga, adanya iritasi pada telinga, adanya
kotoran dalam telinga. Untuk memeriksa tenggorongan menggunakan lampu kepala
dan tongue spatel. Untuk pemriksaan hidung dengan menggunakan speculum hidung.
Pemeriksaan mata pun mempunyai alat bantu sendiri. Ada alat berupa slit lamp dan
funduskopi yang dapat digunakan untuk melihat keadaan retina mata.
3. Pemeriksaan Penunjang
Setelah dilakukan pemeriksaan fisik, dilakukan pemeriksaan darah lengkap, urine
lengkap, rontgen torax, rekam jantung (EKG)/Treatmill test. Kadang juga dilakukan
pemeriksaan USG. Untuk pemeriksaan USG terbagi menjadi dua yaitu USG abdomen
untuk melihat keadaan organ di dalam perut atau USG payudara atau mamografi
untuk melihat jaringan payudara wanita.
Pemeriksaan darah dan urine lengkap memiliki banyak kegunaan, mulai mengetahui
adanya infeksi (bakteri, virus, jamur), adanya dugaan kencing manis, gagal ginjal
sampai pada kelainan darah.
Rontgen torax dapat digunakan untuk mengetahui gangguan pada paru secara spesifik
dan pembengkakan jantung.
EKG dapat digunakan untuk mengetahui adanya kemungkinan kearah gagal jantung,
pembesaran jantung sampai penyakit jantung koroner.
MCU yang diselenggarakan di rumah sakit atau laboratorium terkadang menawarkan
paket yang berbeda beda sesuai kebutuhan. Dari paket standard hingga paket yang
paling lengkap. Untuk anamnesa dan pemeriksaan fisik pada dasarnya sama yang
berbeda pada pemeriksaan laboratorium. Untuk dugaan kencing manis selain
pemeriksaan dasar (darah lengkap, urine lengkap, rontgen toraks dan EKG), tentunya
diperlukan pemeriksaan gula darah sewaktu puasa, 2 jam setelah puasa, bahkan

HBA1C. Pemeriksaan HBA1C menggambarkan keadaan gula darah untuk rentang


waktu yang lebih panjang yaitu 1 hingga 3 bulan. Juga untuk memberikan gambaran
keberhasilan terapi glukosa yang sedang dilakukan dengan memperhitungkan dosis
obat yang lebih tepat. Pemeriksaan ini tidak dipengaruhi oleh asupan makanan
sehingga pasien tidak perlu melakukan puasa sebelumnya. Kadar normal yang harus
dicapai adalah kurang dari 6,5 % terkadang gula darah puasa pasien kencing manis
bisa normal, tetapi gejala kencing di malam hari, kesemutan, dll tidak berkurang
malah semakin parah. Nah, karena itu kita perlu mengetahui apakah pasien meminum
obat secara teratur. HBA1C lah jawabannya. Sedangkan untuk pasien yang hasil
pemeriksaan gula darah puasa 100-125 mg/dl atau gula darah sewaktu 140-199 mg/dl
maka dilanjutkan dengan pemeriksaan glukosa toleransi test yang akan diambil darah
puasa dan 2 jam setelah pemberian glukosa 75 mg. Hasil yang didapatkan pasien
tersebut bisa normal, prediabetes (toleransi glukosa terganggu) dan sudah menderita
diabetes melitus.
Untuk pemeriksaan keadaan hati dilakukan pemeriksaan fungsi hati seperti SGOT,
SGPT, HbsAg, anti HBs dan USG abdomen. Untuk pemeriksaan asam urat, maka
diperiksa kadar asam urat dalam darah. Dan untuk pemeriksaan fungsi ginjal diperiksa
kadar ureum dan kreatinin dalam darah. Sedangkan pemeriksaan profil lemak meliputi
pemeriksaan kolesterol total, LDL kolesterol, HDL kolesterol dan trigliserida.
Setelah selesai semua hasil pemeriksaan dirangkum dalam kesimpulan dan dibuat
buku laporan hasil medical check up yang akan diserahkan pasien dan salinan hasil
MCU disimpan di bagian rekam medis.
LI 1.3 Tujuan GMC
1. Mengetahui penyakit sedini mungkin.
2. Mengatasi secepat mungkin
3. Mencegah agar penyakit yang telah dideteksi secara dini tidak berlanjut.
LI 1.4 Keuntungan dan Kerugian GMC
Keuntungan:
Dapat mencegah berkembangnya suatu penyakit
Dapat melakukan pengobatan secara segera, sehingga bisa mencegah atau

menunda komplikasi
Memperpanjang usia hidup produktif
Meningkatkan kualitas hidup
Memperpanjang usia harapan hidup
Menghemat biaya pengobatan

http://gunungsahari.com/medicalchekup.php
Kerugian
Kelainan yang ada tidak dapat diketahui secara dini.
Saat muncul keluhan, penyakit telah mencapai tahap lanjut, pengobatan sulit dan
perlu biaya lebih tinggi.

LI 1.5 Jenis GMC


a. Paket basic
1.
2.
3.
4.

Pemeriksaan laboratorium
Foto thorax
Pemeriksaan fisik oleh dokter umum
Resume & konsultasi hasil mcu
Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan

Jenis pemeriksaan

Darah lengkap

Hemoglobin, hematokrit, eritrosit, lekosit,


hitung jenis lekosit, laju endap darah, trombosit

Urine lengkap

Warna, ph, bj, protein, glukosa, keton,


billirubin, sedimen

b. Paket deluxe
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Pemeriksaan laboratorium
Foto thorax
Makan pagi / sarapan
Ekg
Pemeriksaan gigi oleh dokter gigi
Pemeriksaan berkualitas berkemih (uroflowmetri)
Pemeriksaan fisik oleh dokter spesialis penyakit dalam
Resume & konsultasi hasil mcu
Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan

Jenis pemeriksaan

Darah lengkap

Hemoglobin, hematokrit, eritrosit, lekosit,


hitung jenis lekosit, laju endap darah, trombosit

Urine lengkap

Warna, ph, bj, protein, glukosa, keton,


billirubin, sedimen

Fungsi hati

Sgot, sgpt

Fungsi ginjal

Ureum, kreatinin, asam urat

Fungsi lemak

Cholesterol, hdl, ldl, trigliserid

Gula darah

Puasa & 2 jam sesudah makan

c. Paket executive
1. Pemeriksaan laboratorium
2. Foto horax
3. Usg abdomen & organ ginekologi

4. Makan pagi / sarapan


5. Pemeriksaan gigi oleh dokter gigi
6. Pemeriksaan mata oleh dokter spesialis mata (visus, refraksi, test buta warna,
tonometri)
7. Pemeriksaan tht & audiometri oleh dokter spesialis tht
8. Pemeriksaan kualitas berkemih (uroflowmetri)
9. Pemeriksaan dokter kebidanan & paps smear
10. Pemeriksaan fungsi paru (spirometri)
11. Ekg & treadmill
12. Pemeriksaan fisik oleh dokter spesialis penyakit dalam
13. Resume & konsultasi hasil mcu
Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan

Jenis pemeriksaan

Darah lengkap

Hemoglobin, hematokrit, eritrosit, lekosit,


hitung jenis lekosit, laju endap darah, trombosit

Urine lengkap

Warna, ph, bj, protein, glukosa, keton,


billirubin, sedimen

Fungsi hati

Sgot, sgpt

Fungsi ginjal

Ureum, kreatinin, asam urat

Fungsi lemak

Cholesterol, hdl, ldl, trigliserid

Gula darah

Puasa & 2 jam sesudah makan

LO.2 Memahami & menjelaskan lipid


LI 2.1 Definisi lipid
Lipid adalah suatu senyawaan heterogen yang saling berikatan (lebih
disebabkan oleh pengaruh sifat fisikanya).
LI 2.2 Struktur dan pembagian
a. lipid sederhana
ester dari asam-asam lemak dengan berbagai jenis alkohol
b. lipid kompleks: ester asam-asam lemak yang mengandung gugus lain selain
alkohol
dan asam lemak
ex: fosfolipid, serebrosid (glikolipid)
c. turunan lipid: meliputi asam lemak, gliserol, steroid yang berupa hasil
hidrolisis dari kedua kelas diatas
Struktur lipid:

LI 2.3 Metabolisme Lipid

Lipid yang kita peroleh sebagai sumber energi utamanya adalah dari lipid netral, yaitu trigliserid
(ester antara gliserol dengan 3 asam lemak). Secara ringkas, hasil dari pencernaan lipid adalah asam
lemak dan gliserol, selain itu ada juga yang masih berupa monogliserid. Karena larut dalam air,
gliserol masuk sirkulasi portal (vena porta) menuju hati. Asam-asam lemak rantai pendek juga dapat
melalui
jalur
ini.

Sebagian besar asam lemak dan monogliserida karena tidak larut dalam air, maka diangkut
oleh miselus (dalam bentuk besar disebut emulsi) dan dilepaskan ke dalam sel epitel usus
(enterosit). Di dalam sel ini asam lemak dan monogliserida segera dibentuk menjadi
trigliserida (lipid) dan berkumpul berbentuk gelembung yang disebut kilomikron. Selanjutnya
kilomikron ditransportasikan melalui pembuluh limfe dan bermuara pada vena kava,
sehingga bersatu dengan sirkulasi darah. Kilomikron ini kemudian ditransportasikan menuju
hati dan jaringan adiposa.

Di dalam sel-sel hati dan jaringan adiposa, kilomikron segera dipecah menjadi asam-asam lemak dan
gliserol. Selanjutnya asam-asam lemak dan gliserol tersebut, dibentuk kembali menjadi simpanan
trigliserida. Proses pembentukan trigliserida ini dinamakan esterifikasi. Sewaktu-waktu jika kita
membutuhkan energi dari lipid, trigliserida dipecah menjadi asam lemak dan gliserol, untuk
ditransportasikan menuju sel-sel untuk dioksidasi menjadi energi. Proses pemecahan lemak jaringan
ini dinamakan lipolisis. Asam lemak tersebut ditransportasikan oleh albumin ke jaringan yang
memerlukan dan disebut sebagai asam lemak bebas (free fatty acid/FFA). Secara ringkas, hasil

akhir dari pemecahan lipid dari makanan adalah asam lemak dan gliserol. Jika sumber energi
dari karbohidrat telah mencukupi, maka asam lemak mengalami esterifikasi yaitu membentuk
ester dengan gliserol menjadi trigliserida sebagai cadangan energi jangka panjang. Jika
sewaktu-waktu tak tersedia sumber energi dari karbohidrat barulah asam lemak dioksidasi,
baik asam lemak dari diet maupun jika harus memecah cadangan trigliserida jaringan. Proses
pemecahan
trigliserida
ini
dinamakan
lipolisis.
Proses oksidasi asam lemak dinamakan oksidasi beta dan menghasilkan asetil KoA.
Selanjutnya sebagaimana asetil KoA dari hasil metabolisme karbohidrat dan protein, asetil
KoA dari jalur inipun akan masuk ke dalam siklus asam sitrat sehingga dihasilkan energi. Di
sisi lain, jika kebutuhan energi sudah mencukupi, asetil KoA dapat mengalami lipogenesis
menjadi asam lemak dan selanjutnya dapat disimpan sebagai trigliserida.
Beberapa lipid non gliserida disintesis dari asetil KoA. Asetil KoA mengalami
kolesterogenesis menjadi kolesterol. Selanjutnya kolesterol mengalami steroidogenesis
membentuk steroid. Asetil KoA sebagai hasil oksidasi asam lemak juga berpotensi
menghasilkan badan-badan keton (aseto asetat, hidroksi butirat dan aseton). Proses ini
dinamakan ketogenesis. Badan-badan keton dapat menyebabkan gangguan keseimbangan

asambasa yang dinamakan asidosis metabolik. Keadaan ini dapat menyebabkan kematian.