Anda di halaman 1dari 36

Tugas : MK.

Manajemen Produksi dan Operasi


Dosen : Prof. Dr. Ir. Marimin, MSc

Waktu Penyerahan : 4 Juni 2008


Batas Penyerahan : 4 Juni 2008

STRATEGI PENGEMBANGAN AGRIBISNIS EKSPOR BIJI METE


DAN PRODUK OLAHAN JAMBU METE

OLEH :
ACHMAD FARIZ SAHLY
P 056070831.38

PROGRAM STUDI MANAJEMEN DAN BISNIS


SEKOLAH PASCA SARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sektor pertanian cukup strategis dalam pertumbuhan Produk Domestik Bruto
(PDB). Selama sepuluh tahun terakhir, peranan sektor ini terhadap PDB menunjukkan
pertumbuhan yang cukup baik, yaitu rata-rata sekitar 4% per tahun. Selain dituntut
mampu menciptakan swasembada pangan, sektor ini diharapkan mampu menyediakan
lapangan dan kesempatan kerja serta pengadaan bahan baku bagi industri hasil
pertanian. Sektor pertanian juga dituntut untuk meningkatkan perolehan devisa negara
dengan jalan meningkatkan volume dan nilai ekspor hasil pertanian.

Salah satu sub sektor di sektor pertanian adalah sub sektor perkebunan. Sub
sektor ini semakin penting dalam meningkatkan pertumbuhan perekonomian nasional,
mengingat makin terbatasnya peranan minyak bumi yang selama ini merupakan
sumber utama devisa negara. Dalam tahun 1994/1995 sub sektor perkebunan
menyumbang sekitar 12,7% dari perolehan devisa yang dihasilkan dari sektor nonmigas.
Keunggulan komparatif sub sektor perkebunan dibandingkan dengan sub
sektor lain dalam sektor non migas antara lain tersedianya lahan yang belum
dimanfaatkan secara optimal dan berada di kawasan dengan iklim menunjang, serta
ketersediaan tenaga kerja, sehingga bisa secara kompetitif dimanfaatkan. Kondisi
tersebut merupakan hal yang dapat memperkuat daya saing harga produk perkebunan
Indonesia di pasaran dunia.
Salah satu komoditas perkebunan yang cukup penting dalam menyumbang
perolehan devisa negara adalah biji jambu mete (cashew nut). Di Indonesia, biji jambu
merupakan salah satu komoditas yang tidak diatur tata niaganya oleh pemerintah,
sehingga harga biji jambu mete di tingkat petani ditentukan mekanisme pasar bebas.
Petani juga bebas menjual hasil panennya kepada para pedagang pengumpul, baik
berupa biji berkulit (gelondong) maupun biji tanpa kulit (kacang mete). Hal ini
sebenarnya merupakan salah satu kendala dalam penerapan pola kemitraan terpadu
untuk meningkatkan produksi komoditas biji jambu mete. Namun demikian sudah ada
beberapa pengusaha (eksportir) jambu mete yang telah berhasil menerapkan kemitraan
dengan petani, khususnya dalam hal pembelian hasil panen jambu mete untuk di
ekspor. Kemitraan tersebut sangat diperlukan mengingat hampir seluruh produksi
jambu mete di Indonesia merupakan produksi perkebunan rakyat yang memerlukan
penanganan khusus (ekstensifikasi/ intesifikasi) agar selain kuantitas produksi, juga
kualitas produk (pengolahan) ekspornya meningkat. Tingginya potensi agribisnis
jambu mete tersebut maka diperlukan strategi pengembangan agribisnis ekspor biji
mete dan produk olahan jambu mete yang tepat serta terpadu.
B. Tujuan
Penulisan makalah ini adalah untuk memberikan prioritas dan memutuskan
strategi pengembangan agribisnis jambu mete menggunakan aplikasi model AHP
(Analytical Hierarchy Process).

AGRIBISNIS JAMBU METE


A. Budidaya Jambu Mete
Tanaman jambu mete (Anacardium occidentale Linn) berasal dari Brazil dan
termasuk dalam familia Anacardiaceasae yang meliputi 60 genus dan 400 spesies baik
dalam bentuk pohon maupun tanaman perdu. Jambu mete termasuk tanaman yang
cepat tumbuh dan tahan kering karena mempunyai perakaran yang dalam sehingga
banyak digunakan sebagai tanaman untuk rehabilitasi lahan kritis sebagai tanaman
penghijauan atau pencegah erosi. Selain itu tanaman ini mempunyai nilai ekonomis
yang cukup tinggi karena hampir semua bagian tanaman dapat dimanfaatkan. Bagianbagian tanaman tersebut yang dapat dimanfaatkan antara lain adalah biji mete (cashew
nut), buah semu (cashew apple), kulit biji, batang serta daun.
Kelas kesesuaian lahan adalah pembagian lebih lanjut dari Ordo dan
menggambarkan tingkat-tingkat kesesuaian lahan dalam Ordo, yaitu :
Kelas S1 (Kelas 1). Sangat Sesuai
Lahan tidak mempunyai pembatas yang berat untuk penggunaan secara lestari
atau hanya mempunyai pembatas yang tidak berarti dan tidak terpengaruh secara
nyata terhadap produksinya, serta tidak akan menaikkan masukan dari apa yang

telah biasa diberikan.


Kelas S2 (Kelas 2). Cukup Sesuai

Lahan mempunyai faktor pembatas agak berat untuk penggunaan lestari.


Pembatas akan mengurangi produktivitas dan keuntungan, serta meningkatkan

masukan.
Kelas S3 (Kelas 3). Hampir Sesuai atau Sesuai Marginal
Lahan mempunyai faktor pembatas yang berat untuk penggunaan yang lestari.
Pembatas akan mengurangi produktivitas atau keuntungan, dan perlu menaikkan

masukan yang diperlukan.


Kelas N (Kelas 4). Tidak sesuai Pada Saat Ini.
Lahan mempunyai pembatas yang sangat berat, tetapi masih mungkin diatasi,
hanya tidak dapat diperbaiki dengan tingkat pengetahuan sekarang ini dengan
biaya yang rasional.

Tabel 1. Kesesuaian Lahan Untuk Tanaman Jambu Mete


KARAKTERISTIK KELAS
LAHAN
I. Altitude (m dpl)
II. Iklim
1. Bulan Kering (bln)
2. Bulan Basah (bln)
3. CH Tahunan (mm)

S1
0 - 600
45
57
1000 - 2000

4. Hari hujan tahunan (hr)


5. Kelembaban Udara (%)

100 - 150
70 - 80

6. Suhu Rata2 Harian (0C)

25 - 26

KESESUAIAN LAHAN
S2
S3
600 - 700
700 - 1200
56
45
500 - 1000
2000 - 3000
150 - 180
60 - 70
24 - 25
26 - 27

2-4&6-7
3-4&8-9
3000 - 4000
80 - 100
50 - 60
23 - 24

N
> 1200
>7&2<
<3
< 500
< 4000
>4000
> 210
< 50
> 27

III. Tanah
1. Jenis Tanah
2. Kelas Drainase

3. Tekstur Tanah

4. Kedalaman Air tanah (m)


IV. Sifat Kimia
1. KTK
2. Ph 6,3 7,3
3. C Organik
V. Ketersedian Hara
1. N- total (%)
2. P2O5 (ppm)
3. K2 O (me/100g)
4. Ca O (me/100 g)
VI. Racun
1. Salinitas (mm.hos/cm)
VII. Lapangan
1. Lereng (%)
2. Batu permukaan (%)

Mediteran,
Latosal, Podsolik
Baik
Liat Berpasir,
lempung liat
Berpasir,

Organosal
Sedang

Agak terhambat

Lempung
Berdebu, pasir
berliat, berdebu Berlempung
Liat , lempung

Terhambat

Lainnya.

lempung pasir
>3

23

12

<1

> 17
> 5,5 - 6,3
>3-5

5 16
4,5 5,5
24

<5
> 7,3
46

<7

0,51 - 0,75
25 - 40
> 0,1
0,1 - 8,0

0,21 - 0,5
16 - 25
0,6 1,0
1,1 - 2,0

0,1 0,2
10 15
0,1 0,5
0,4 - 1,0

< 0,1
< 10 & >40
< 0,1
< 0,4

<2

24

4-6

>5

38

0-3 & 8-15

15 - 45

> 45

<3

3 - 15

15 - 40

> 40

Sumber : Rosman, R dan Y Lubis, 1996 "Aspek Lahan dan Iklim Pengembangan Tanaman Jambu
Mete dalam Prosiding Forum Komunikasi Jambu Mete , Balitan Rempah dan Obat

Persiapan Lahan
Lahan yang digunakan untuk penanaman mete dapat berasal dari lahan alangalang, semak belukar, lahan primer atau lahan konversi. Pada lahan alang-alang dan
semak belukar cara pembukaan lahan dilakukan dengan pembabatan secara manual
atau menggunakan herbisida. Pada lahan primer dilakukan dengan cara menebang
pohon-pohon, sedangkan yang dari konversi dilakukan dengan menebang atau
membersihkan tanaman yang terdahulu.

Penanaman
Bibit tanaman jambu mete harus bermutu baik agar mempunyai produktivitas
yang tinggi dan menghasilkan buah bermutu baik. Perbanyakan bibit jambu mete
dapat dilakukan secara generatif (dengan biji mete) dan vegetatif (dengan cara
pencangkokan, okulasi, atau penyambungan). Umumnya petani menanam dari bijibijinya. Sebelum ditanam, biji mete harus disemaikan dulu. Penyemaian dapat
dilakukan di bedengan atau di dalam kantong plastik (polybag). Setelah bibit berumur
3-4 bulan, bibit siap dipindahkan ke kebun. Sebelum bibit tanaman dipindahkan ke
kebun, dibuat dahulu lubang tanaman dengan ukuran 30 x 30 x 30 cm kemudian
dibiarkan selama 4 - 6 minggu, sebelum bibit tanaman di lubang tersebut.
Untuk tanaman mete monokultur, jarak tanam yang dianjurkan adalan 10 x 10
m atau 8 x 8 m atau dapat juga dilakukan dengan jarak tanam yang lebih rapat 6 x 6 m
untuk tanaman muda. Kemudian secara bertahap dilakukan penjarangan pohon
sehingga jarak tanaman menjadi 12 x 12 m. Dengan jarak 6 x 6 m, jumlah tanaman
mete adalah 272 pohon/ha. Kemudian ketika tanaman berumur 7 - 8 tahun dilakukan
penjarangan pohon, sedemikian rupa sehingga jarak tanaman menjadi 6 x 12 m dan
jumlah tanaman menjadi 207 pohon/ha. Ketika tanaman berumur 9 - 10 tahun
dilakukan penjarangan lagi sehingga jumlah tanaman tinggal 138 pohon/ha.
Penjarangan tanaman dilakukan karena tajuk tanaman pada umur tersebut sudah saling
bersentuhan.

Pemupukan
Tanaman mete dapat dipupuk dengan pupuk organik dan anorganik. Pupuk
organik, terutama pupuk kandang diberikan pada saat penanaman bibit dengan dosis
sekitar 20 kg/pohon. Pemupukan berikutnya dilakukan dengan menggunakan pupuk

anorganik. Dosis yang diberikan tergantung dari umur tanaman seperti terlihat pada
Tabel 2. berikut ini.
Tabel 2. Dosis Pemupukan Tanaman Mete
P2O2 (TSP)
K2O (KCl)
Gram/Pohon/Tahun
I
120 (267)
80 (174)
II
200 (444) 80 (174)
60 (120)
III
300 (667)
120 (261)
90 (180)
IV - VII
350 (778)
130 (283)
130 (260)
VIII - X 450 (1.000)
200 (435)
330 (660)
Tahun

N (Urea)

Urea
74
123
184
215
207

TSP
KCl
Kg/Ha/Tahun
48
48
33
72
50
78
72
90
137

Diolah dari Lubis dan Mansur, 1996" Penelitian Terpadu untuk Peningkatan Produktivitas Jambu
Mete'" dalam Prosiding Forum Komunikasi Jambu Mete, Balitan Rempah dan Obat 1995
Keterangan : Jumlah tanaman : Tahun I -VII = 278 pohon/ha Tahun VII - X = 207 pohon/ha, Tahun
XI dst = 138 pohon/ha ]

Pemberantasan Hama dan Penyakit Tanaman


Hama utama tanaman mete adalah ulat kipat (Cricula sp). Hama ini dapat
menyerang tanaman dengan memakan daunnya sampai tanaman menjadi gundul
dalam waktu singkat. Dengan demikian tanaman tidak dapat berproduksi sama sekali.
Awalnya, ulat kipat akan memakan daun muda, kemudian ke daun tua. Bila tanaman
sudah gundul, ulat tersebut akan menyerang tanaman lainnya seperti mangga,
kedondong dan beringin. Pengendalian hama ini dapat dilakukan secara terpadu
dengan cara mekanis dan kimiawi. Cara mekanis dilakukan jika serangan ulat masih
rendah, yaitu dengan jalan mamatikan setiap ulat dan kupu-kupu yang ditemukan di
pohon. Tetapi, bila serangan sudah cukup kuat berat, dilakukan cara kimiawi, yaitu
dengan menggunakan insektisida, yang umumnya berbahan aktif sipermetrin seperti
ripcord 5EC dengan konsentrasi 1,5 - 2 cc/ liter air atau berbahan aktif diklorvos,
seperti Nogos dengan dosis 3 - 5 cc/liter air.
Penyakit tanaman yang sering menyerang tanaman jambu mete adalah
penyakit layu tanaman yang disebabkan oleh jamur Phytophtora palmivora, Fusarium
sp dan Phylium sp, penyakit layu daun yang disebabkan oleh bakteri Phytopthora
solanacearum dan penyakit yang menyebabkan bunga rontok atau buah busuk akibat
serangan dari Colletotrichum sp, Botryodiplodia sp dan Pestalotipsis sp. Untuk
memberantas penyakit tersebut, beberapa fungisida yang umum digunakan antara lain
adalah Dithane M-45, Delsene MX 200, Difolatan 4F dan Cuporxy Chloride.

Panen dan Pasca Panen


Tanaman mete mulai dipanen saat tanaman berumur 3-4 tahun. Buah mete
menjadi masak sesudah berumur 60-70 hari sejak munculnya bunga. Di Indonesia,
masa panen buah pala umumnya berlangsung dari bulan Agustus sampai dengan

Desember. Pengolahan pasca panen jambu mete meliputi pengolahan gelondong


jambu mete dan pengolahan kacang mete.
Tahapan pengolahan gelondong mete dimulai melalui tahapan pemisahan
gelondong dengan buah semu, pencucian, sortasi dan pengelasan mutu, pengeringan,
serta penyimpanan. Untuk urutan pengolahan kacang mete adalah pelembaban
gelondong mete, penyangraian gelondong mete, pengupasan kulit gelondong mete,
pelepasan kulit ari, sortasi dan pengelasan mutu, serta pengemasan.

Pengemasan
Pengemasan tidak ditujukan untuk meningkatkan atau memperbaiki mutu,
tetapi hanya mempertahankan atau melindungi mutu produk yang dikemas. Melalui
pengemasan maka kontaminasi dan infeksi bagi produk dapat dihindarkan. Sebagai
contoh adalah kacang mete yang diekspor biasanya dalam bentuk mentah dengan
kadar air antara 4-6%, yang dikemas dalam kaleng hampa udara dan diisi dengan
karbondioksida. Kaleng kemasan yang digunakan harus dalam keadaan baru, bersih,
kering, kedap udara dan tidak bocor, serta harus bebas dari infeksi serangga dan jamur
serta tidak karatan.

B. Industri Biji Mete


Dalam perdagangan dunia, kacang mete termasuk salah satu produk kacangkacangan (nuts) yang paling banyak diperdagangkan dan termasuk komoditi "mewah"
(luxury) dibandingkan dengan kacang tanah atau almond. Kegunaan utama dari
kacang mete adalah kudapan (snacks) dan juga sebagai campuran pada industri gulagula (confectionary) atau industri roti (baking industry).
Pasaran utama kacang mete adalah benua Amerika dan Eropa. Negara
pengimpor kacang mete terbesar di dunia adalah Amerika Serikat yang pada tahun
1984 volume impornya mencapai 61.714 ton dengan nilai US$ 283,1 juta. Negara lain
yang mengimpor kacang mete adalah negara-negara Eropa Barat seperti Belanda,
Jerman dan Inggris. Pada tahun 1994, Belanda mengimpor kacang mete sebanyak
16.901 ton dengan nilai US $ 65,4 juta, sedangkan Jerman dan Inggris masing-masing
mengimpor 10.008 ton dengan nilai US $ 42,7 juta dan 7.280 dengan nilai US $ 29,3
juta.
Tabel 3. Realisasi Impor dan Ekspor Mete Indonesia

Tahun
1975

EKSPOR
Volume
Nilai (ribu
(ton)
US$)
-

IMPOR
Volume
Nilai (ribu
(ton)
US$)
-

1976
1977
1978
1979
1980
1981
1982
1983
1984
1985
1986
1987
1988
1989
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005

23
55
87
367
779
1.626
1.806
2.209
3.800
7.590
7.001
8.384
1.206
3.218
1.460
19.278
18.155
38.620
28.105
27.886
29.666
30.287
34.520
27.619
41.313
51.717
60.429
59.372
69.415

90
205
245
1.673
1.736
995
1.784
2.296
4.104
6.732
8.444
11.516
4.191
8.243
24.561
24.854
23.144
43.401
21.308
23.751
19.152
34.998
43.507
31.502
28.929
34.810
43.534
58.187
68.972

1
94
75
424
203
162
197
5
16
669
212
50

2
194
147
293
157
414
168
13
72
435
353
165
-

8
202
112

25
594
83

Diolah dari Direktorat Jenderal Perkebunan : www.ditjenbun.deptan.go.id, Statistik Volume dan


Nilai Ekspor-Impor Jambu Mete Indonesia 1975-2005

Sementara itu Indonesia juga mengimpor mete gelondong dari luar negeri dan
terbanyak dari Amerika Serikat, sedangkan impor kacang mete yang terbesar adalah
dari Australia. Pada Tabel 4 dapat dilihat negara-negara tujuan ekspor mete gelondong
dan kacang mete, serta negara asal impor mete Indonesia pada tahun 1997. Dari Tabel
3 terlihat bahwa Indonesia juga mengimpor mete dari luar. Jika pada tahun 1990,
volume impor hanya mencapai 1 ton dengan nilai US$ 2.000 maka pada tahun 1996,
volumenya meningkat cukup tajam menjadi 200 ton dengan nilai US$ 170.000. Impor
tertinggi mete terjadi pada tahun 1993. Waktu itu volumenya mencapai 424 ton

dengan nilai US$ 293.000 dan sejak itu volume dan nilai impor mete cenderung
berkurang.
Tabel 4. Negara Tujuan Ekspor Mete dan Negara Asal Impor Mete
Negara
Tujuan Ekspor

Volume
(Ton)

Nilai
Negara
Volume
Nilai
(000 US $) Asal Impor
(Ton)
(000 US $)
METE GELONDONG
Taiwan
336
1.360,9 China
1,05
2,56
India
14.405
10.655,4 USA
1,33
5,96
New Zealand
121
510,9 France
1,06
2,33
USA
299
1.561,5 Australia
0,85
1,00
Hongkong
63
347,8
U. Emirat Arab
29
181,7
Australia
15
82,1
Libanon
56
256,4
Malaysia
6
3,1
Singapore
0,5
0,5
Philipines
14
49,6
Netherland
14
64,5
KACANG METE
Australia
105
471.8 Australia
0,41
1.06
Canada
1.499
207,8 India
0,04
0,20
Germany
181
882,9 Vietnam
0.08
0,17
Italy
124
447,8
Jepang
169
755,5
Netherland
45
45
New Zealand
13
13
United Kingdom
30
30
USA
14
14
Rusia
30
30
Sumber : Diolah dari buku tahunan 1990 - 1998 : Statistik Perdagangan LN, Ekspor, BPS

Harga pasaran biji mete di Indonesia tergantung dari lokasinya, bahwa harga
biji mete gelondong di beberapa daerah penghasil mete cenderung stabil, tetapi harga
kacang metenya cenderung meningkat. Hasil pantauan harga mete di beberapa lokasi
penghasil mete oleh Lembaga Agribisnis Indonesia dapat dilihat pada Tabel 5 berikut
ini.
Tabel 5. Perkembangan Harga Mete di Beberapa Kota Penghasil Mete
Kota

1997
Des

1998
Apr
Mei
Juni
Juli
Agust
Jan
Biji Mete Gelondong Basah (Rp/kg)
Semarang 2.800 2.800 2.800 2.800 2.800 2.800 2.800 2.800
2.800
Makassar 2.000 2.025 4.000 4.000 4.000 4.625 6.000 6.750
7.000
Kendari
1.800 1.950 3.000 3.500 3.500 3.500 3.500 3.500
4.000
Biji Kacang Mete (Rp/kg)
Semarang 12.500 13.625 17.000 17.000 17.000 22.000 20.000 20.000 41.750
Yogya
12.875 15.104 13.500 17.083 17.000 20.333 20.750 18.500 39.750
Kendari 12.500 12.750 16.000 16.000 20.000 20.000 20.000 20.000 33.000
Makassar 12.575 12.875 25.000 25.000 30.000 29.950 30.000 30.000 29.781
Sumber : Diolah Indonesia Agribussines On Line : www.fintrac.com/indoag/
Jan

Mar

1999
Feb

Mar

April

2.800
7.000
3.000

2.800
7.000
3.000

2.800
7.000
3.000

39.167
37.500
45.667
30.000

40.000
39.505
45.000
30.505

40.000
36.000
45.000
32.500

Harga kacang mete di pasar luar negeri cenderung stabil sepanjang tahun 1991
- 1996, yang terlihat pada Tabel 6; sedangkan di pasaran dalam negeri cenderung
meningkat, hal ini disebabkan antara lain oleh meningkatnya nilai tukar rupiah
terhadap dollar AS.
Tabel 6. Perkembangan Harga Mete Gelondongan Dan Kacang Mete di Pasar Dalam
Negeri dan London
Tahun
Mete Gelondong

1991
1,200

1992
1,200

1993
1,300

1994
1,400

1995
1,400

1996
1,500

1997
2,000

1998
6,500

(Rp/kg)*
Kacang Mete

7,960

8,140

9,100

9,900

10,070

11,390

14,000

35,000

5.92

50.6

4.93

5.06

5.06

5.28

NA

NA

(Rp/kg)**
Kacang Mete di
Pasar London

W320 ( US $/kg)
Sumber : * 1991 - 1995 Dirjenbun dan untuk tahun 1996 - 1998 PT. Sedar Alam, Surabaya
** Asosiasi Industri Mete Indonesia

Produksi
Lebih dari 93% tanaman mete di Indonesia berada di Propinsi Jawa Tengah,
Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan dan
Sulawesi Tenggara. Di propinsi-propinsi tersebut dan beberapa propinsi lain masih ada
lahan sekitar 541,19 ha yang memungkinkan untuk dikembangkan sebagai perkebunan
mete.
Produksi mete di Indonesia cenderung meningkat setiap tahunnya. Pada Tabel
8. dapat dilihat luas lahan dan produksi perkebunan mete di Indonesia. Dari Tabel
tersebut terlihat bahwa luas areal sebagian besar berstatus perkebunan rakyat.
Rendahnya rata-rata produktivitas lahan mete di Indonesia antara lain karena pada
umumnya tanaman mete adalah tanaman penghijauan yang ditanam di lahan kritis dan
kurang mendapat perawatan dari pemiliknya yang lebih dari 98% adalah milik rakyat
(lihat Tabel 7). Namun demikian pada dasarnya tanaman mete jika dikelola secara
intensif akan mampu menghasilkan biji mete gelondongan lebih dari 2.000
kg/ha/tahun. Pada tahun 1997, produktivitas lahan mete di Indonesia rata-rata hanya
166 kg/ha/tahun. Dengan meningkatkan intensifikasi lahan, yaitu dengan pemberian
pupuk, pemangkasan dan penjarangan tanaman, tanaman mete masih dapat
ditingkatkan produktivitasnya.
Tabel 7. Status Perusahaan Perkebunan Mete di Indonesia
Tahun
Perkebunan
Rakyat

Status Perusahaan
Perkebunan
Negara

Jumlah
Perkebunan
Swasta

Luas
Produksi Luas Produksi
(Ha)
(Ton)
(Ha)
(Ton)
1996
384.357
67.079
0
0
1997
490.074
73.158
0
0
1998*
494.676
75.445
0
0
1999** 490.750
76.040
0
0
Keterangan : * Data Sementara, ** Data Estimasi
Sumber

Luas
(Ha)
8.593
9.205
9.204
9.209

Produksi
(Ton)
597
574
602
616

Luas
(Ha)
493
499.276
503.878
499.959

Produksi
(Ton)
67.676
73.732
76.047
76.656

: Diolah dari Dep. Kehutanan & Perkebunan : http://www.mofrinet.cbn.net.id/ dan


Statistik Perkebunan 1997 -1999 Dephut bun.

Tabel 8. Luas dan Produksi Perkebunan Mete di Indonesia.


LUAS AREAL / Area ( Ha )
Tahun

PR /
PBN /
PBS /
Smallholders Government Private

1975

56.643

1976
1977
1978
1979
1980
1981
1982
1983
1984
1985
1986
1987
1988
1989
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003

68.504
71.238
81.878
85.478
114.934
136.631
185.192
187.535
195.789
197.563
223.270
213.045
252.245
268.222
273.293
352.735
374.605
394.522
409.755
455.920
484.357
490.074
521.695
547.724
551.442
558.784
568.796
565.446

1.696
8.798
687
570
628
679
637
1.152
4.630
-

PRODUKSI / Production ( Ton)


Jumlah
PR /
PBN /
Total Smallholders Government

52

58391

9.109

14

52

77354
71925
82511
87541
116808
138463
187542
193563
196504
197678
224415
214246
253777
269638
275221
354873
378289
400593
418625
464824
492950
499279
530990
557582
561310
568912
578924
573281

7.101
7.360
8.795
9.762
9.070
11.441
16.830
18.040
19.395
21.091
22.454
23.975
23.231
27.912
29.825
57.175
62.121
69.671
71.953
74.616
67.079
73.158
86.924
89.530
69.488
91.220
109.945
106.698

5
10
5
2
4
3

63
1.435
1.195
1.195
1.198
1.398
715
115
1.145
1.201
1.532
1.416
1.928
2.138
3.684
6.071
8.870
8.904
8.593
9.205
9.295
9.858
9.868
10.128
10.128
7.835

1
-

PBS / Jumlah /
Private Total
-

9.123
70

6
16
23
61
67
74
78
82
72
96
80
124
379
597
574
772
774
439
366
287
234

7.176
7.370
8.800
9.764
9.074
11.444
16.830
18.047
19.411
21.114
22.515
24.042
23.305
27.990
29.907
57.247
62.217
69.751
72.077
74.995
67.676
73.732
87.696
90.304
69.927
91.586
110.232
106.932

2004
559.633
6.676 566309
130.768
252 131.020
2005
572.959
6.691 579650
134.808
262 135.070
2006
588.429
6.682 595111
140.307
266 140.573
2007
603.790
6.773 610563
146.130
282 146.412
2008
619.242
6.773 626015
151.970
282 152.252
**)
2009
634.694
6.773 641467
157.809
282 158.091
**)
Diolah dari Direktorat Jenderal Perkebunan : www.ditjenbun.deptan.go.id, Statistik Luas Areal dan
Produksi Perkebunan Jambu Mete Seluruh Indonesia Menurut Pengusahaan 1975-2005

Persaingan Usaha
India adalah negara Penghasil dan eksportir terbesar kacang mete dunia. Pada
tahun 1994, diperkirakan telah ada perkebunan mete seluas 500.000 ha dengan
produksi 385.000 ton. Dari bulan April 1994 sampai dengan Maret 1995, India
mengekspor kacang mete sebanyak 76.900 ton dengan nilai lebih dari US $ 400 juta.
Pasaran utama produk kacang mete India adalah Amerika Serikat, Negara-negara
Eropa Barat, Timur Tengah, Rusia, Eropa Timur, Australia dan Jepang. Namun
demikian untuk mempertahankan kedudukannya sebagai eksportir kacang mete
terbesar dunia, India juga banyak mengimpor mete gelondong dari beberapa negara
seperti Mozambique, Tanzania, Nigeria, Benin, Brazil, Vietnam dan Indonesia. Negara
kedua pengekspor mete terbesar dunia adalah Brazil yang pada tahun 1994
mengekspor mete sebanyak 23.079 ton dengan nilai lebih dari US $ 109 juta.
Di kawasan Asia, produsen dan eksportir mete pesaing Indonesia adalah
Vietnam. Ekspor kacang mete dari Vietnam setiap tahun cenderung meningkat. Hal ini
disebabkan oleh kebijaksanaan pemerintah Vietnam yang memberlakukan pajak
ekspor yang tinggi bagi perdagangan mete gelondong, sehingga para eksportir
cenderung mengolah mete gelondongnya menjadi kacang mete. Pada tahun 1995, nilai
ekspor mete Vietnam mencapai US $ 100 juta, sementara produksi metenya mencapai
100.000 ton. Nilai tersebut cukup tinggi dibandingkan dengan Indonesia, pada tahun
yang sama nilai ekspor mete Indonesia hanya US $ 21,3 juta dan produksinya hanya
28.105 ton.

J
A
M
B
U
M
E
T
E

Sari Buah
Aneka minuman segar
Alkohol, Anggur
Rujak/Lutis
Minuman beralkohol Produk sari
buah
Acar
Sirup
Asinan
Lemonade
Manisan
Cuka makanan/Vinegar
Obat Sariawan
Bahan baku obat-obatan
Obat gangguan jiwa (hilang ingatan,
Selai/Jeli
kelelahan kerja, gangguan seks)
Jam (bubur buah)
BUAH SEMU
Buah Kalengan
Enzim pengempuk
Abon
daging
Dendeng
Lauk Pauk
Campuran
Pepesan
Protein sel tunggal
pembuatan
Sayur
Pakan ternak
Spiritus
kopling
Sambal
Pupuk pertanian
Ampas
Pelat rem
Hardboard
Cangkang
yang
sudah
diambil
BUAH
Obat Borok, kutil
minyaknya (ampas cangkang)
Kulit
Menciutkan pembuluh
Karbon aktif
darah
(cangkang) Bahan obat-obatan (tinktur/obat
Obat cacing
bubuk)
Obat darah tinggi
CNSL (Cashew Nut Shell Liquid)/
Minyak
Laka
BUAH BATU
Bahan baku industri
Pupuk Organik

Kacang
Mete

Ramuan obat penyakit kulit


Bahan minyak rambut/cat
rambut
Makanan

Gambar 1. Skema Pohon Industri

Tanin

Kulit
ari/testa

Pakan ternak

Penyamakan kulit

Mete goring asin


Aneka kue dan roti
Coklat mete
Buah
Es krim
Mete
Kembang gula mete
Pasta (metega)
Sup
Saus biji mete panggang
Pudding
Minyak nabati

Cajuda
Cajuada
Cajuina
Cajuvita
Caju aperativo
Cashota
Cat
Tinta
Lak
Resin/karet sintetis
Tutup botol
Vernis
Isolator
Pelitur
Kampas rem,
Minyak pelumas rem
kopling
Kosmetik
Plasticizer karet
Pengawet kayu
Pelapis tangki
Detergent kalsium
kayu
Pestisida
Insectisida
Resin
Fungisida
Bahan anti karat
Pemecah emulsi
Industri Minyak bumi
Damar
Perekat
Bahan starting untuk
lasiodiplodin
Enamel
Pelapis rem
Isolator
Bahan bakar
Pembuatan kertas
Tekstil
Plastik
Campuran perekat kayu lapis
Bahan pencelup untuk
transformator dan magnet
Bahan pengikat cairan
Anti oksidan bensin dan minyak
Developer fotografi
Rol mesin tik
Bahan pelindung badan
pesawat ruang angkasa dan
bahan pembuatan ujung roket
Bahan pembakar ujung roket
Pembuatan malam

PERMASALAHAN
Masyarakat Indonesia

terdiri dari sebagian besar adalah petani agribisnis

( petani, peternak, nelayan, bidang penunjang pertanian, jasa bidang pertanian dll. ) dan
sektor agribisnis merupakan sektor yang dapat capable pada keadaan krisis multi
dimensi yang melanda Indonesia. Dengan demikian kami mencoba menyoroti prioritasprioritas apa saja yang dapat dilakukan oleh para pengusaha sebagai strategi untuk
mengembangkan agribisnis ekspor biji mete dan produk olahan jambu mete. Oleh karena
itu kami mencoba untuk memecahkan permasalahan tersebut melalui pendekatan Proses
Analisis Hirarki.

A. Proses Hirarki Analitik


AHP (Analitycal Hierarchy Process) merupakan suatu model yang luwes yang
mampu memberikan kesempatan bagi perorangan atau organisasi atau perusahaan
untuk membangun gagasan-gagasan dan mendefinisikan persoalan dengan cara
membuat asumsi sendiri dan memperoleh pemecahan yang diinginkan. AHP
memasukkan pertimbangan dan nilai-nilai pribadi secara logis. Proses ini berlangsung
pada imajinasi, pengalaman, dan pengetahuan untuk menyusun hirarki suatu masalah
pada logika, intuisi, dan pengalaman untuk memberikan pertimbangan. Proses AHP
juga memberikan suatu kerangka bagi partisipasi kelompok dalam pengambilan
keputusan atau pemecahan persoalan (Maarif dan Tanjung, 2003).
Priatmono dalam INSAHP (2000) juga mengemukakan bahwa metode AHP
ini telah banyak digunakan, hal ini dikarenakan metode AHP telah mampu
mengembangkan dan membangun kemampuan seseorang untuk menggunakan
logikanya terutama dalam memecahkan permasalahan yang kompleks dan rumit
tersebut. Jadi proses pemecahan masalah dengan metode AHP pada dasarnya sangat
bergantung kepada imajinasi, pengalaman, pengetahuan dan intuisi dari masingmasing individu.
AHP dikembangkan pertama kali oleh Thomas L. Saaty yang ditujukan untuk
membuat model permasalahan yang tidak terstruktur dan biasanya diterapkan untuk
memecahkan masalah-masalah terukur maupun masalah-masalah yang memerlukan
pendapat. Maarif dan Tanjung (2003) menyebutkan beberapa prinsip yang perlu
dipahami dalam menyelesaikan persoalan dengan menggunakan AHP, yaitu:
1.
Decomposition, yaitu memecah persoalan yang utuh menjadi unsur2.

unsur yang tersusun dalam sebuah hirarki.


Comparatif Judgement, yaitu penilaian tentang kepentingan relatif
dua elemen pada suatu tingkat tertentu dalam kaitannya dengan tingkat di

atasnya. Penilaian ini disajikan dalam bentuk matriks yang dinamakan matriks
3.

pairwise comparison.
Syntesis of Priority, matriks pairwise comparison yang telah tersusun
kemudian dicari eigen vector-nya untuk mendapatkan local priority. Selanjutnya
untuk mendapatkan global proirity pada setiap tingkat harus dilakukan sintesis

diantara lokal priority.


4.
Logical consistency, yaitu konsistensi yang memiliki dua makna.
Pertama adalah bahwa objek-objek yang serupa dapat dikelompokan sesuai
dengan keseragaman dan relevansi. Kedua adalah menyangkut tingkat hubungan
antara objek-objek yang didasarkan pada kriteria tertentu.
Langkah-langkah penggunaan AHP menurut Maarif dan Tanjung (2003)
adalah :
1. Identifikasi sistem
2. Penyusunan hirarki
3. Penyusunan matriks gabungan
4. Pengolahan vertikal
5. Perhitungan vektor prioritas
Secara umum struktur hirarki terdiri atas lima komponen (Maarif, 2004)
sebagai berikut :
1. Fokus, yaitu tujuan akhir yang ingin dicapai.
2. Faktor, yaitu hal-hal yang mempengaruhi fokus.
3. Aktor, yaitu pelaku yang berperan mempengaruhi faktor.
4. Objektif, yaitu tujuan dari setiap faktor.
5. Alternatif strategi.

METODOLOGI
A. Metode, Jenis, dan Sumber Data
Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah metode deskriptif
dengan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan pengisian kuesioner
oleh dua orang responden. Jenis data yang digunakan dalam penulisan makalah ini
adalah data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh
dari hasil pengisian kuisioner oleh responden, sedangkan data sekunder diperoleh dari
studi literatur dan Internet.

B. Analisis Data

Data yang terkumpul dianalisis menggunakan AHP (Analytical Hierarchy


Process). Proses pengolahan data dilakukan dengan bantuan program komputer, yaitu
Expert Choice. Tahapan proses dalam penggunaan AHP adalah sebagai berikut :
1. Melakukan dekomposisi untuk memecah persoalan yang telah didefinisikan
menjadi unsur-unsurnya menjadi beberapa tingkatan atau hirarki.
2. Menyusun comparative judgement , yaitu penilaian kepentingan relatif dua elemen
pada suatu tingkat dalam konteks tingkat di atasnya sehingga dihasilkan matriks
pairwise comparison. Langkah selanjutnya adalah penyusunan skala kepentingan
yang terdiri dari elemen mana yang lebih (penting/disukai/mungkin/) dan berapa
kali lebih (penting/disukai/mungkin/). Dalam pengisian skala kepentingan perlu
pengertian menyeluruh mengenai elemen-elemen yang dibandingkan dan relevansi
terhadap kriteria atau tujuan studi. Skala dasar tingkat kepentingan menurut T.L
Saaty dapat dilihat pada Tabel 9.
3. Melakukan sintesa prioritas. Sintesa dari prioritas lokal menjadi prioritas lokal
untuk setiap tingkatan dengan menggunakan tingkat kepentingan.
Tabel 9. Skala dasar tingkat kepentingan menurut T.L Saaty (Maarif, 2003)
Tingkat Kepentingan
1
3
5
7
9
2,4,6,8
Reciprocal

Definisi
Sama pentingnya dibanding yang lain
Moderat pentingnya dibanding yang lain
Kuat pentingnya dibanding yang lain
Sangat kuat pentingnya dibanding yang lain
Ekstrem pentingnya dibanding yang lain
Nilai antara dua penilaian yang berdekatan
Jika elemen i memiliki salah satu nilai di atas ketika
dibandingkan dengan Mulai
elemen j,maka j memiliki nilai

kebalikkannya dibanding elemen i


4. Membuat logical consistency. ObjekIdentifikasi
yang serupa
sistemdikelompokkan berdasarkan
keseragaman dan relevansi, kemudian menentukan tingkat hubungan antara objek
dengan kriteria tertentu. Diagram alir Penyusunan
penggunaanhirarki
AHP dapat dilihat pada Gambar
1 di bawah ini.
Pengisian matriks pendapat individu

Revisi

Tidak
CR memenuhi

Ya
Penyusunan matriks

gabungan
Pengolahan vertikal

Menghitung prioritas

Selesai

Gambar 2. Diagram Alir Penggunaan AHP (Maarif, 2003)

HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Pembuatan Hirarki
Berdasarkan studi literatur maka diperoleh lima tingkat (level) hirarki untuk
masalah tersebut dengan elemen-elemen untuk setiap level seperti yang diuraikan
berikut ini:
a. Fokus atau tujuan yang hendak dicapai, yaitu:
Strategi Pengembangan Agribisnis Ekspor Biji Mete dan Produk Olahan Jambu
Mete.
b. Faktor-faktor yang mempengaruhi fokus, yaitu:
1) Budidaya
2) Aspek pasar dan pemasaran
3) Kualitas produk yang dihasilkan
4) Kualitas sumber daya manusia
5) Jaringan usaha
c. Aktor yang terlibat dalam Pengembangan Agribisnis Ekspor Biji Mete dan
Produk Olahan Jambu Mete, yaitu:
1) Pengusaha
2) Para petani
3) Pemerintah
d. Tujuan Pengembangan Agribisnis Ekspor Biji Mete dan Produk Olahan Jambu
Mete, yaitu:
1) Akses pasar global
2) Penyerapan tenaga kerja
3) Produktivitas dan profitabilitas
4) Meningkatkan devisa negara
e. Alternatif strategi Pengembangan Agribisnis Ekspor Biji Mete dan Produk
Olahan Jambu Mete, yaitu:
1) Pengembangan Teknologi
2) Standarisasi kualitas produk
3) Peningkatan kualitas manajemen
4) Pemberdayaan petani
5) Peningkatan kerjasama investor

Untuk lebih jelasnya mengenai hirarki strategi Pengembangan Agribisnis Ekspor Biji Mete dan Produk Olahan Jambu Mete dapat dilihat pada Gambar 2.
Strategi Pengembangan Agribisnis Ekspor Biji Mete dan Produk
Olahan Jambu Mete (1,00)

Budidaya

Aspek Pasar dan


Pemasaran

Pengusaha

Akses Pasar Global

Kualitas Produk

Kualitas SDM

Petani

Pemerintah

Produktivitas dan
Profitabilitas

Penyerapan Tenaga
Kerja

Jaringan Usaha

Meningkatkan Devisa
Negara

Gambar 3. Hierarki Strategi Pengembangan Agribisnis Ekspor Biji Mete dan Produk Olahan Jambu Mete

Pengembangan
Teknologi

Standarisasi
Kualitas Produk

Peningkatan
Kualitas
Manajemen

Pemberdayaan
Petani

Peningkatan
Kerjasama
dengan Investor

B. Penyusunan Kuesioner
Berdasarkan hirarki yang telah disusun, maka tahapan selanjutnya adalah
menyusun kuesioner yang bertujuan untuk membuat penilaian mengenai kepentingan
relatif dua elemen pada satu tingkat tertentu dalam kaitannya dengan tingkat di
atasnya. Dalam melakukan pengisian kuesioner, responden diminta membandingkan
tingkat pengaruh setiap faktor pada tabel kuesioner secara vertikal dan horizontal
terhadap fokus yang ingin dicapai.

C. Pengisian Kuesioner
Pada kuesioner ini terdapat bagian yang diarsir, dan bagian ini tidak perlu diisi
karena bersifat resiprokal dengan bagian yang tidak diarsir. Dengan demikian, proses
pengolahan data primer hanya memperhatikan sel-sel yang berada pada sisi tabel yang
berlawanan dengan sel-sel yang diarsir. Dalam mengisi tabel-tabel pada kuesioner ini,
apabila tingkat kepentingan faktor pada lajur kolom lebih penting, maka pengisian
skala dasar menggunakan inverse (kebalikannya).

D. Penentuan Prioritas Menggunakan Software Expert Choice


Data primer yang diperoleh dari seluruh responden diolah dengan
menggunakan

bantuan

software Expert

Choice.

Hasil

perhitungan

dengan

menggunakan metode AHP adalah urutan prioritas dari tiap elemen dari tiap level.
Strategi dan alternatif Pengembangan Agribisnis Ekspor Biji Mete dan Produk Olahan
Jambu Mete mempertimbangkan faktor-faktor penting baik terkait secara langsung
maupun sebagai penunjang. Analisis ini menggunakan 2 responden yaitu responden 1
dan responden 2. Data yang ditampilkan pada pembahasan ini merupakan data
gabungan antara responden 1 dan responden 2.
Hasil analisis gabungan menunjukkan bahwa faktor yang paling berpengaruh
dalam strategi Pengembangan Agribisnis Ekspor Biji Mete dan Produk Olahan Jambu
Mete adalah kualitas produk dengan bobot sebesar 0,339. Faktor ini menjadi prioritas
utama di antara kelima faktor lainnya. Hasil penilaian selengkapnya disajikan pada
Tabel 11. di bawah ini

Tabel 11. Bobot dan Prioritas Faktor pada Strategi Pengembangan Agribisnis Ekspor
Biji Mete dan Produk Olahan Jambu Mete.
Faktor
Budidaya

Bobot AHP (%)


0,166

Prioritas
3

Aspek Pasar dan pemasaran


Kualitas SDM
Kualitas Produk
Jaringan Usaha

0,163
0,228
0,339
0,105

4
2
1
5

Tabel 12. Bobot dan Prioritas terhadap aktor pada Strategi Pengembangan Agribisnis
Ekspor Biji Mete dan Produk Olahan Jambu Mete.
Faktor

Budidaya
(0.166)

Aktor

Nilai

Pemerint
ah
Pengusa
ha

0.20
7
0.65
2
0.14
2

Petani

Hasi
l
0.03
4
0.10
8
0.02
4

Pasar dan
Pemasaran
(0.163)
Nilai

Hasil

0.165

0.027

0.621

0.101

0.214

0.035

Kualitas
SDM
(0.228)
Hasi
Nilai
l
0.20 0.04
9
8
0.65 0.15
7
0
0.13 0.03
3
0

Kualitas
Produk
(0.339)
Nilai
0.15
4
0.26
4
0.58
3

Hasil
0.052
0.089
0.198

Jaringan
Usaha
(0.105)
Hasi
Nilai
l
0.27 0.02
4
9
0.45 0.04
7
8
0.26 0.02
9
8

Berdasarkan Tabel 12. diketahui bahwa aktor yang menduduki prioritas utama
adalah Pengusaha sebagai pelaku industri, sedangkan prioritas kedua adalah Petani,
dan prioritas selanjutnya adalah Pemerintah. Aktor merupakan salah satu penentu
keberhasilan dalam strategi Pengembangan Agribisnis Ekspor Biji Mete dan Produk
Olahan Jambu Mete. Hasil analisis dapat dilihat pada Tabel 12. dengan bobot untuk
Pengusaha yaitu 0,497; Petani 0,315; dan Pemerintah 0,190.
Tabel 13. menunjukkan bahwa meningkatkan produktivitas dan profitabilitas
menjadi tujuan utama yang mempunyai bobot dan prioritas tertinggi dalam strategi
Pengembangan Agribisnis Ekspor Biji Mete dan Produk Olahan Jambu Mete yaitu
sebesar 0,380. Pada kenyataannya dengan lahan yang luas ternyata produktivitasnya
belum cukup tinggi sehingga perlu ditingkatkan lebih baik. Jika produktivitas sudah
meningkat maka juga akan berdampak pada meningkatknya profitabilitas agribisnis
jambu mete ini. Dengan langkah awal meningkatkan produktivitas dan profitabilitas
maka diharapkan dapat mendorong tercapainya tujuan yang lain mengikuti prioritas
yaitu penyerapan tenaga kerja (0,259), memperoleh akses pasar global (0,208) serta
meningkatkan devisa negara (0,154).
Tabel 13. Bobot dan Prioritas Tujuan pada Strategi Pengembangan Agribisnis Ekspor
Biji Mete dan Produk Olahan Jambu Mete.
No
1
2
3
4

Sub Kriteria (Tujuan)


Akses Pasar Global
Meningkatkan Devisa
Produktivitas dan Profitabilitas
Penyerapan Tenaga Kerja

Bobot AHP
0,208
0,154
0,380
0,259

Prioritas
3
4
1
2

Tota
l
0.19
0
0.49
7
0.31
5

Pengembangan perkebunan jambu mete rakyat dalam skala besar akan lebih
efisien dan efektif dari segi biaya produksi ataupun skala ekonomi sehingga
diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan profitabilitas. Dengan demikian,
pembangunan perkebunan ini akan berdampak positif bagi sistem usaha tani yang
intensif dan lebih maju kepada masyarakat, yang bersifat praktis yaitu melalui
learning by doing dan seeing is be leaving. Sektor perkebunan jambu mete rakyat juga
dapat meningkatkan penyerapan tenaga kerja, berupa tenaga kerja buruh dan atau
tenaga kerja keluarga petani di wilayah perkebunan jambu mete, baik untuk kegiatan
budidaya (menghasilkan gelondongan mete) maupun pengolahannya (menghasilkan
kacang mete). Meskipun demikian karena masa panen hanya berlangsung empat
bulan, maka perlu dilakukan diversifikasi kegiatan dengan mengembangkan
komoditas lain seperti yang selama ini telah banyak dilakukan para petani. Hal ini
sekaligus dapat meratakan dan meningkatkan penghasilan sepanjang waktu dari
diversifikasi produk tersebut. Sebelum mencapai umur tujuh tahun, tanaman sela yang
bisa dikembangkan usaha ternak, seperti sapi potong dan kambing. Pada gilirannya
sampah tanaman ataupun kotoran ternak, dapat digunakan sebagai pupuk organik.
Selain itu, buah semunya dapat dijadikan sumber bahan makanan, antara lain diolah
menjadi dodol, selai, sale dan bahan minuman.
Secara lebih luas sektor perkebunan ini akan memberikan dampak positif
terhadap peningkatan aktivitas perekonomian daerah setempat, bagi pengusaha hulu
dan hilir serta penduduk sekitarnya, antara lain usaha angkutan barang dan
penumpang, pedagang pengumpul, warung atau toko bahan makanan dan pakaian. Di
samping itu, juga meningkatkan devisa negara, karena komoditas ini adalah salah satu
komoditas ekspor.
Pada strategi Pengembangan Agribisnis Ekspor Biji Mete dan Produk Olahan
Jambu Mete. terdapat lima strategi agar tujuan dapat tercapai. Penentuan strategi
merupakan hal sangat penting berhubungan dengan kelangsungan agribisnis tersebut.
Selain itu, dalam pengembangan agribisnis terdapat beberapa kendala dan
6/1/2008 1:51:45 PM

Page 1 of 1

permasalahan sehingga perlu digunakan strategi yang tepat untuk mengatasi kendala
dan permasalahan yang ada. Penilaian pendapat gabungan menghasilkan konsistensi
Model
Name:
Jambu Mete
ratio analisis faktor sebesar
0,04.
Alternatif
yang dipilih ditentukan dengan
memperhatikan bobot faktor yang terbesar. Hasil analisis alternatif dalam strategi
pengembangan agribisnis eksporSynthesis:
biji meteSummary
dan produk olahan jambu mete ini dapat
dilihat pada Gambar 4.

Synthesis with respect to:


Goal: Strategi Pengembangan Agribisnis J ambu Mete

Overall Inconsistency =.04


Standarisasi Kualitas Produk
Peningkatan Kerjasama dengan Investor
Pemberdayaan Petani
Pengembangan Teknologi
Peningkatan Kualitas Manajemen

.211
.119
.222
.266
.182

Gambar 4. Diagram batang hasil penilaian terhadap alternatif berdasarkan pendapat


gabungan responden 1 dan responden 2
Dari perhitungan tersebut dihasilkan alternatif terpilih adalah pengembangan
teknologi dengan bobot faktor sebesar 0,266, sedangkan strategi yang menjadi
prioritas kedua adalah pemberdayaan petani dengan bobot prioritas 0,222. Strategi
selanjutnya adalah melakukan standarisasi kualitas produk dengan prioritas 0,211,
kemudian memberdayakan para petani dengan prioritas 0,182 serta meningkatkan
kerjasama dengan investor dengan prioritas 0,119.

KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil perhitungan AHP (Analytical Hierarchy Process), faktor
yang paling berpengaruh dalam strategi Pengembangan Agribisnis Ekspor Biji Mete
dan Produk Olahan Jambu Mete adalah lebih memprioritaskan pada faktor
peningkatan kualitas produk, sedangkan aktor yang paling berpengaruh adalah
dukungan pengusaha sebagai pelaku industri. Peningkatan produktivitas dan
profitabilitas menjadi tujuan yang lebih diutamakan dalam Strategi Pengembangan
Agribisnis Ekspor Biji Mete dan Produk Olahan Jambu Mete. Berdasarkan tingkat
prioritas pada faktor, aktor, dan tujuan maka strategi yang paling tepat untuk dipilih
dalam Pengembangan Agribisnis Ekspor Biji Mete dan Produk Olahan Jambu Mete ini
adalah pengembangan atau inovasi teknologi yang akan mampu menghasilkan produk
unggulan biji jambu mete dan produk olahan jambu mete yang mampu bersaing di
pasar global.
B. Saran

Rancangan implementasi dari industri yang terpilih perlu dikaji secara lebih
mendalam dan mendetail serta dihubungkan dengan aspek manajemen produksi dan
operasi, termasuk teknologi yang terlibat di dalamnya, serta dilakukan studi kelayakan
atau pengkajian yang lebih lanjut berhubungan dengan usaha agribisnis biji jambu
mete dan strategi pengembangannya. Pengkajian strategi pengembangan agribisnis
yang lebih mendalam akan memberikan gambaran yang lebih mendetail sehingga akan
lebih mudah untuk diaplikasikan.
Dalam mencapai Pengembangan Agribisnis Ekspor Biji Mete dan Produk
Olahan Jambu Mete yang dapat bersaing dalam pasar global, maka strategi
pengembangan dan inovasi dalam teknologi dan kualitas produk yang telah ditetapkan
harus mendapat dukungan dari seluruh pihak yang terkait di dalamnya. Tanpa
dukungan optimal dari seluruh pihak, maka strategi yang telah direncanakan akan sulit
untuk terealisasi, meskipun dari hasil analisa pihak utama yang akan berperan adalah
pengusaha. Pemerintah selaku pengambil kebijakan juga perlu memberikan perhatian
yang besar terhadap pengembangan sektor ini dan perlu memberikan iklim yang
kondusif bagi berkembangnya agribisnis dan agroindustri.

DAFTAR PUSTAKA
BPS. Statistik Perdagangan LN, ekspor. 1990-1998.
http://www.ditjenbun.deptan.go.id. Diakses 26 Mei 2008. Statistik Luas Areal dan
Produksi Perkebunan Jambu Mete Seluruh Indonesia Menurut Pengusahaan
1975-2005.
http://www.ditjenbun.deptan.go.id. Diakses 26 Mei 2008. Statistik Volume dan
Nilai Ekspor-Impor Jambu Mete Indonesia 1975-2005.
http://www.fintrac.com/indoag. Diakses 26 Mei 2008. Perkembangan Harga Mete di
Beberapa Kota Penghasil Mete.

http://www.mofrinet.cbn.net.id. Diakses 26 Mei 2008. Status Perusahaan


Perkebunan Mete di Indonesia.
INSAHP. 2000. Proceedings of The Indonesian Symposium on The Analytic
Hierarchy Process. Lembaga Manajemen PPM, Jakarta.
Lubis dan Mansur, 1996. Penelitian Terpadu untuk Peningkatan Produktivitas
Jambu Mete. dalam Prosiding Forum Komunikasi Jambu Mete, Balitan
Rempah dan Obat 1995.
Maarif, M.S. dan H. Tanjung. 2003. Teknik-Teknik Kuantitatif untuk Manajemen.
PT Grasindo. Jakarta.

Marimin. 2004. Teknik dan Aplikasi Pengambilan Keputusan Kriteria Majemuk.


PT. Gramedia Widiasarana Indonesia. Jakarta.
Marimin. 2008. The Analytic Hierarchy Process (AHP) for Decision Making.
Bahan Kuliah Manajemen Produksi dan Operasi
Mulyono, S. 1996. Teori Pengambilan Keputusan. Lembaga Penerbit Fakultas
Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta.
Rosman, R dan Y Lubis. 1996. Aspek Lahan dan Iklim Pengembangan Tanaman
Jambu Mete dalam Prosiding Forum Komunikasi Jambu Mete. Balai
Penelitian Rempah dan Obat. Bogor.
Setiadi, H. 2004. Sistem Penunjang Kepututsan Investasi Agroindustri Berbasis
Daging Sapi di Kabupaten Boyolali Jawa Tengah. Skripsi. Jurusan
Teknologi Industri Pertanian. Fakultas Teknologi Pertanian. Institut
Pertanian Bogor. Bogor.

Lampiran 1. Kuesioner Individu


ANALITYCAL HIERARCHY PROCESS (AHP)
STRATEGI PENGEMBANGAN AGRIBISNIS EKSPOR BIJI METE
DAN PRODUK OLAHAN JAMBU METE
Identitas Responden
Nama
:
Untuk menentukan bobot dari masing-masing kriteria akan digunakan metod
AHP. Oleh karena itu, dimohon untuk melakukan perbandingan secara
berpasangan terhadap kriteria-kriteria dibawah ini dengan penilaian sebagai
berikut :
Tingkat
Kepentingan
1
3
5
7
9
2,4,6,8
Reciprocal

Definisi
Sama pentingnya dibanding yang lain
Moderat pentingnya dibanding yang lain
Kuat pentingnya dibanding yang lain
Sangat kuat pentingnya dibanding yang lain
Ekstrem pentingnya dibanding yang lain
Nilai antara dua penilaian yang berdekatan
Jika elemen i memiliki salah satu nilai di atas ketika
dibandingkan dengan elemen j,maka j memiliki nilai
kebalikkannya dibanding elemen i

Contoh :
Pengembangan Agribisnis Ekspor
biji dan Olahan Jambu Mete
A
B
C

3
1/5

Keterangan : - Angka 3 menunjukkan kriteria A (vertikal) moderat pentingnya


dari kriteria B(horizontal)
- Angka 1/5 menunjukkan kriteria C (horizontal) kuat pentingnya
dari kriteria B (vertikal)
Tabel pengisian 1.
Dalam strategi pengembangan agribisnis ekspor biji mete dan produk olahan
jambu mete, maka kriteria yang digunakan sebagai syarat penentu adalah :
1. Budidaya (B)
2. Pasar dan pemasaran (P)
3. Kualitas SDM (SDM)
4. Kualitas Produk yang dihasilkan (KP)
5. Jaringan Usaha (JU)
Oleh karenanya dimohon untuk melakukan perbandingan secara berpasangan
terhadap kriteria-kriteria tersebut :
Fokus : strategi pengembangan agribisnis ekspor biji mete dan produk olahan
jambu mete
Pengembangan Agribisnis
B
Ekspor biji dan Olahan Jambu
Mete
Budidaya (B)
Pasar dan pemasaran (P)
Kualitas SDM (SDM)
Kualitas Produk (KP)
Jaringan Usaha (JU)

SDM KP

JU

Tabel Pengisian 2.
Dalam rangka memenuhi syarat penentu budidaya untuk strategi pengembangan
agribisnis ekspor biji mete dan produk olahan jambu mete, maka untuk
menentukan aktor/pelaku, pihak yang berperan adalah :
1. Pemerintah (PMR)
2. Pengusaha (PSH)
3. Jaringan Usaha (JU)
Oleh karenanya dimohon untuk melakukan perbandingan secara berpasangan
terhadap kriteria-kriteria tersebut :
Budidaya (B )
Pemerintah (PMR)
Pengusaha (PSH)

PMR

PSH

JU

Jaringan Usaha (JU)


Tabel Pengisian 3.
Pelaku/aktor yang terlibat dalam mengakses pasar dan pemasaran untuk strategi
pengembangan agribisnis ekspor biji mete dan produk olahan jambu mete adalah
sebagai berikut
1, Pemerintah (PMR)
2. Pengusaha (PSH)
3. Jaringan Usaha (JU)
Oleh karenanya dimohon untuk melakukan perbandingan secara berpasangan
terhadap kriteria-kriteria tersebut :
Pasar dan Pemasaran
Pemerintah (PMR)
Pengusaha (PSH)
Jaringan Usaha (JU)

PMR

PSH

JU

Tabel Pengisian 4.
Dalam rangka meningkatkan kualitas sumberdaya manusia (SDM) untuk strategi
pengembangan agribisnis ekspor biji mete dan produk olahan jambu mete untuk
meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan, Pelaku/aktor yang paling berperan
adalah :
1. Pemerintah (PMR)
2. Pengusaha (PSH)
3. Jaringan Usaha (JU
Oleh karenanya dimohon untuk melakukan perbandingan secara berpasangan
terhadap kriteria-kriteria tersebut :
Kualitas SDM (SDM)
Pemerintah (PMR
Pengusaha (PSH)
Jaringan Usaha (JU)

PMR

PSH

JU

Tabel Pengisian 5.
Dalam rangka meningkatkan kualitas produk dalam strategi pengembangan
agribisnis ekspor biji mete dan produk olahan jambu mete untuk meningkatkan
kualitas produk yang dihasilkan, Pelaku/aktor yang paling berperan adalah :
1. Pemerintah (PMR)
4. Pengusaha (PSH)
5. Jaringan Usaha (JU
Oleh karenanya dimohon untuk melakukan perbandingan secara berpasangan
terhadap kriteria-kriteria tersebut :
Kualitas Produk (KP)
Pemerintah (PMR)
Pengusaha (PSH)
Jaringan Usaha (JU)

PMRB PSH

JU

Tabel Pengisian 6.
Aktor/pelaku, pihak yang paling terlibat dalam jaringan usaha dalam
memperlancar strategi pengembangan agribisnis ekspor biji mete dan produk
olahan jambu mete adalah :
1. Pemerintah (PMR)
2. Pengusaha (PSH)
3. Jaringan Usaha (JU)
Oleh karenanya dimohon untuk melakukan perbandingan secara berpasangan
terhadap kriteria-kriteria tersebut :
Jaringan Usaha (JU )
Pemerintah (PMR
Pengusaha (PSH)
Jaringan Usaha (JU)

PMRB PSH

JU

Tabel Pengisian 7.
Dalam rangka meningkatkan peranan pemerintah untuk menunjang strategi
pengembangan agribisnis ekspor biji mete dan produk olahan jambu mete. kriteria
yang dibutuhkan untuk mendukung peranan pemerintah tersebut adalah :
1. Akses pasar Global (APG
2. Peningkatan devisa negara(DN)
3. Produktifitas profitabilitas (PP)
4. Penyerapan Tenaga Kerja (TK).
Oleh karenanya dimohon untuk melakukan perbandingan secara berpasangan
terhadap kriteria-kriteria tersebut :
PEMERINTAH (PMR)
Akses pasar Global (APG)
Peningkatan devisa negara(DN)
Produktifitas profitabilitas (PP)
Penyerapan Tenaga Kerja (TK)

APGH

DN

PP

TK

Tabel Pengisian 8.
Dalam rangka meningkatkan peranan pengusaha dalam menunjang strategi
pengembangan agribisnis ekspor biji mete dan produk olahan jambu mete. kriteria
yang dibutuhkan untuk mendukung peningkatan peranan pihak pengusaha
tersebut adalah :
1. Akses pasar Global (APG
2. Peningkatan devisa negara(DN)
3. Produktifitas profitabilitas (PP)
4. Penyerapan Tenaga Kerja (TK).
Oleh karenanya dimohon untuk melakukan perbandingan secara berpasangan
terhadap kriteria-kriteria tersebut :
PENGUSAHA (PSH)
Akses pasar Global (APG)
Peningkatan devisa negara(DN)

APGH

DN

PP

TK

Produktifitas profitabilitas (PP)


Penyerapan Tenaga Kerja (TK)
Tabel Pengisian 9.
Dalam rangka meningkatkan peranan petani untuk menunjang strategi
pengembangan agribisnis ekspor biji mete dan produk olahan jambu mete. kriteria
yang dibutuhkan untuk mendukung peranan pemerintah tersebut adalah :
1. Akses pasar Global (APG
2. Peningkatan devisa negara(DN)
3. Produktifitas profitabilitas (PP)
4. Penyerapan Tenaga Kerja (TK).
Oleh karenanya dimohon untuk melakukan perbandingan secara berpasangan
terhadap kriteria-kriteria tersebut :
PETANI (PET)
Akses pasar Global (APG)
Peningkatan devisa negara(DN)
Produktifitas profitabilitas (PP)
Penyerapan Tenaga Kerja (TK)

APGH

DN

PP

TK

Tabel Pengisian 10.


Untuk mengakses pasar global sebagai salah satu tujuan pengembangan agribisnis
ekspor biji mete dan produk olahan jambu mete, maka alternatif strategi yang
digunakan untuk mendukung hal tersebut adalah :
1. Standarisasi Kualitas Produk (SKP)
2. Peningkatan kerjasama investor (PKI)
3. Pemberdayaan Petani (PP)
4. Pengembangan Teknologi (PT
5. Peningkatan Kualitas Manajemen Usaha (PKM)
Oleh karenanya dimohon untuk melakukan perbandingan secara berpasangan
terhadap kriteria-kriteria tersebut :
Akses pasar Global (APG
Standarisasi Kualitas Produk (SKP)
Peningkatan kerjasama investor (PKI)
Pemberdayaan Petani (PP)
Pengembangan Teknologi (PT)
Peningkatan Kualitas Manajemen Usaha (PKM)

SKP

PKI

PP

PT

Tabel Pengisian 11.


Untuk penyerapan tenaga kerja sebagai salah satu tujuan pengembangan
agribisnis ekspor biji mete dan produk olahan jambu mete, maka alternatif strategi
yang digunakan untuk mendukung hal tersebut adalah :
1. Standarisasi Kualitas Produk (SKP)
2. Peningkatan kerjasama investor (PKI)
3. Pemberdayaan Petani (PP)
4. Pengembangan Teknologi (PT
5. Peningkatan Kualitas Manajemen Usaha (PKM)

PKM

Oleh karenanya dimohon untuk melakukan perbandingan secara berpasangan


terhadap kriteria-kriteria tersebut :
Penyerapan Tenaga Kerja (TK)
Standarisasi Kualitas Produk (SKP)
Peningkatan kerjasama investor (PKI)
Pemberdayaan Petani (PP)
Pengembangan Teknologi (PT)
Peningkatan Kualitas Manajemen Usaha (PKM)

SKP

PKI

PP

PT

PKM

Tabel Pengisian 12.


Untuk meningkatkan produktifitas dan profitabilitas sebagai salah satu tujuan
pengembangan agribisnis ekspor biji mete dan produk olahan jambu mete, maka
alternatif strategi yang digunakan untuk mendukung hal tersebut adalah :
1. Standarisasi Kualitas Produk (SKP)
2. Peningkatan kerjasama investor (PKI)
3. Pemberdayaan Petani (PP)
4. Pengembangan Teknologi (PT
5. Peningkatan Kualitas Manajemen Usaha (PKM)
Oleh karenanya dimohon untuk melakukan perbandingan secara berpasangan
terhadap kriteria-kriteria tersebut :
Produktifitas dan profitabilitas (PP)
Standarisasi Kualitas Produk (SKP)
Peningkatan kerjasama investor (PKI)
Pemberdayaan Petani (PP)
Pengembangan Teknologi (PT)
Peningkatan Kualitas Manajemen Usaha (PKM)

SKP

PKI

PP

PT

PKM

Tabel Pengisian 13.


Untuk meningkatkan devisa negara sebagai salah satu tujuan pengembangan
agribisnis ekspor biji mete dan produk olahan jambu mete, maka alternatif strategi
yang digunakan untuk mendukung hal tersebut adalah :
1. Standarisasi Kualitas Produk (SKP)
2. Peningkatan kerjasama investor (PKI)
3. Pemberdayaan Petani (PP)
4. Pengembangan Teknologi (PT
5. Peningkatan Kualitas Manajemen Usaha (PKM)
Oleh karenanya dimohon untuk melakukan perbandingan secara berpasangan
terhadap kriteria-kriteria tersebut :
Meningkatkan Devisa Negara (DN)
Standarisasi Kualitas Produk (SKP)
Peningkatan kerjasama investor (PKI)
Pemberdayaan Petani (PP)
Pengembangan Teknologi (PT)
Peningkatan Kualitas Manajemen Usaha (PKM)

SKP

PKI

PP

PT

PKM

Level 1
Percent Budidaya (L: .166)

Level 2

Level 3

Alts

Percent ...
Percent ...

Prty
16.9
3.6
1.3

Standaris...

.003

Akses P a... Pemberd...


Pengemb...
Peningkat...
Percent ...

.004
.002
.002
1.2

Standaris...
Peningkat...
Meningka... Pemberd...
Pengemb...
Peningkat...
Pemerint...
Percent ...

.002
.002
.003
.002
.003
0.7

Lampiran 2. Hasil perhitungan bobot dan prioritas berdasarkan pendapat gabungan


menggunakan
Peningkat...
.002
software Expert Choice

6/1/2008 1:52:08 PM
Level 1

Level 2

Produktivi...
Level 3
Percent ...
Percent ...

Pengusah...
Budidaya (L: .166)

Penyerap...
Penyerap...

Percent ...
Percent ...

Percent ...
Percent ...
Akses P a...
Akses P a...
Percent ...
Percent ...

Budidaya (L: .166)

Meningka...
Pengusah...
Petani (L:...

Meningka...
Percent ...
Percent ...
Produktivi...
Produktivi...
Percent ...

Penyerap...

Percent Pasar dan Pemasaran (L: .163)

Ayiz Sahly
Percent ...
Percent ...

Pasar dan Pemasaran (L: .163)

Page 2 .001
of 8
Standaris...
Peningkat...
.001
Pemberd...
.001
Alts
Prty
Pengemb...
.002
3.6
Peningkat...
.002
Standaris...
.007
0.4
Peningkat...
.005
Standaris...
.001
Pemberd...
.007
Peningkat...
.001
Pengemb...
.012
Pemberd...
.001
Peningkat...
.005
Pengemb...
.001
2.6
Peningkat...
.000
0.5
10.8
Standaris...
.001
1.6
Peningkat...
.001
Standaris...
.004
Pemberd...
.001
Peningkat...
.002
Pengemb...
.001
Pemberd...
.005
Peningkat...
.001
Pengemb...
.002
0.5
Peningkat...
.003
Standaris...
.001
1.3
Peningkat...
.001
Standaris...
.003
Pemberd...
.001
Peningkat...
.002
Pengemb...
.001
Pemberd...
.003
Peningkat...
.001
Pengemb...
.002
1.0
Peningkat...
.003
Standaris...
.002
4.3
Peningkat...
.001
Standaris...
.009
Pemberd...
.002
Peningkat...
.004
Pengemb...
.003
Pemberd...
.007
Peningkat...
.002
Pengemb...
.014
0.6
Peningkat...
.009
Standaris...
.001
Peningkat...
.001
Pemberd...
.001
Pengemb...
.002
Peningkat...
.001
16.0
2.9
1.0

Standaris...
Peningkat...
Akses P a... Pemberd...
Pengemb...
Peningkat...
Percent ...

.002
.001
.003
.002
.002
0.9

Standaris...
Peningkat...
Pemerint... Meningka... Pemberd...
Pengemb...
Peningkat...
Percent ...

.002
.001
.002
.002
.002
0.7

Standaris...
Peningkat...
Produktivi... Pemberd...
Pengemb...
Peningkat...
Percent ...

.001
.001
.001
.002
.002
0.3

6/1/2008 1:52:08 PM
Level 1

Page 3 of 8
Level 2

Level 3

Alts
Prty
Standaris...
.001
Peningkat...
.000
Pemerint... Penyerap... Pemberd...
.001
Pengemb...
.001
Peningkat...
.000
Percent ...
9.7
Percent ...
1.4
Standaris...
Peningkat...
Akses P a... Pemberd...
Pengemb...
Peningkat...
Percent ...

.003
.002
.005
.002
.002
1.0

Standaris...
Peningkat...
Meningka... Pemberd...
Pengemb...
Peningkat...
Pengusah...
Percent ...

.002
.001
.003
.002
.002
3.9

Standaris...
Peningkat...
Produktivi... Pemberd...
Pengemb...
Peningkat...
Percent ...

.008
.003
.007
.013
.008
3.4

Standaris...
Peningkat...
Penyerap... Pemberd...
Pengemb...
Peningkat...
Percent ...

.007
.005
.007
.011
.004
3.5
0.6

Standaris...
Peningkat...
Akses P a... Pemberd...
Pengemb...
Peningkat...
Percent ...

.001
.001
.002
.001
.001
0.9

Standaris...
Peningkat...
Meningka... Pemberd...
Petani (L:...
Pengemb...
Peningkat...
Percent ...

.002
.001
.002
.002
.002
1.4

Standaris...
Peningkat...
Produktivi... Pemberd...
Pengemb...
Peningkat...
Percent ...

.003
.001
.002
.005
.003
0.6

Standaris...
Peningkat...

.001
.001

Pasar dan Pemasaran (L: .163)

Percent ...

Penyerap...

6/1/2008 1:52:08 PM

Page 4 of 8

Level 1

Alts
Prty
Pemberd...
.001
Petani (L:... Penyerap... Pengemb...
.002
Peningkat...
.001
22.7
Percent ...
5.0
Percent ...
1.8

Pasar dan Pemasaran (L: .163)


Percent Kualitas SDM (L: .228)

Level 2

Level 3

Level 2

Standaris...
.004
Peningkat...
.002
Akses P a... Pemberd...
.006
Page 5 of 8
Pengemb...
.003
Peningkat...
.003
Percent
Level 3 ... Alts
Prty 1.6

6/1/2008 1:52:08 PM
Level 1

Standaris...
Pengemb...
Peningkat...
Meningka...
Pemberd...
Percent ...
Percent ... Pengemb...
Peningkat...
Standaris...
Pemerint...
Percent ... Peningkat...

.003
.017
.002
.006
.004
3.3
.003
0.6
.004
.001
1.0
.001

Standaris...
Akses P a... Pemberd...
Peningkat...
Pengemb...
Produktivi... Pemberd...
Peningkat...
Percent ... Pengemb...
Peningkat...
Standaris...
Percent ... Peningkat...

.002
.001
.002
.001
.003
0.8
.002
0.6
.001

Meningka... Standaris...
Pemberd...
Peningkat...
Pengemb...
Penyerap... Pemberd...
Peningkat...
Petani (L:...
Percent ... Pengemb...
Peningkat...
Standaris...
Percent ...
Peningkat...
Percent ... Pemberd...
Produktivi...

.001
.002
.001
.001
.002
.002
1.3
.001
.003
14.4
.001
2.1
.002

Standaris...
Pengemb...
Peningkat...
Akses P a...
Percent
... Pemberd...
Pengemb...
Standaris...
Peningkat...
Percent
...
Penyerap... Pemberd...

.005
.004
.003
.007
0.6
.003
.001
.003
.001
1.6
.001

Standaris...
Pengemb...
Peningkat...
Meningka... Pemberd...
Pengemb...
Percent ...
Pengusah...
Percent ... Peningkat...
Percent ... Standaris...

.003
.002
.002
.001
.004
33.7
.003
5.3
.004
1.9
5.8
.004

Standaris...
Peningkat...
Peningkat...
Akses P a... Pemberd...
Produktivi... Pemberd...
Pengemb...
Pengemb...
Peningkat...
Percent ... Peningkat...
Percent ... Standaris...

.012
.003
.005
.006
.010
.003
.019
.003
.012
1.7
5.0
.004

Standaris...
Peningkat...
Penyerap... Peningkat...
Meningka...
Pemberd...
Pemberd...
Pengemb...

.010
.002
.007
.004
.010
.003

Peningkat...
Percent ...

.004
1.1

Standaris...
Peningkat...
Produktivi... Pemberd...
Pengemb...
Peningkat...
Percent ...

.002
.001
.002
.004
.002
0.6

Standaris...
Peningkat...
Penyerap...
Pemberd...
Pengemb...

.001
.001
.001
.002

Pengusah... Penyerap...

Kualitas SDM (L: .228)


Kualitas SDM (L: .228)

Percent Kualitas Produk (L: .339)

Kualitas Produk (L: .339)

Pemerint...

Ayiz Sahly

6/1/2008 1:52:08 PM
Level 1

Page 6 of 8
Level 2
Level 3
Alts
Prty
Pemerint... Penyerap... Peningkat...
.001
Percent ...
8.6
Percent ...
1.3
Standaris...
Peningkat...
Akses P a... Pemberd...
Pengemb...
Peningkat...
Percent ...

.003
.002
.004
.002
.002
0.9

Standaris...
Peningkat...
Meningka... Pemberd...
Pengemb...
Peningkat...
Pengusah...
Percent ...

.002
.001
.002
.002
.002
3.4

Standaris...
Peningkat...
Produktivi... Pemberd...
Pengemb...
Peningkat...
Percent ...

.007
.003
.006
.011
.007
3.0

Standaris...
Peningkat...
Penyerap... Pemberd...
Pengemb...
Peningkat...
Percent ...

.006
.004
.006
.010
.004
19.8
3.3

Standaris...
Peningkat...
Akses P a... Pemberd...
Pengemb...
Peningkat...
Percent ...

.008
.004
.011
.005
.005
5.0

Standaris...
Peningkat...
Meningka... Pemberd...
Pengemb...
Peningkat...
Petani (L:...
Percent ...

.011
.007
.012
.009
.011
8.3

Standaris...
Peningkat...
Produktivi... Pemberd...
Pengemb...
Peningkat...
Percent ...

.017
.007
.014
.027
.018
3.3

Standaris...
Peningkat...
Penyerap... Pemberd...
Pengemb...
Peningkat...

.007
.005
.006
.011
.004
10.7

Kualitas Produk (L: .339)


Percent ...

Percent J aringan Usaha (L: .105)

6/1/2008 1:52:08 PM

Page 7 of 8

Level 1

Level 2
Level 3
Alts
Percent ...
Percent ...

6/1/2008 1:52:08 PM
Level 1

J aringan Usaha (L: .105)

Ayiz Sahly

2.9
1.1

Standaris...
Peningkat...
Akses P a... Pemberd...
Pengemb...
Peningkat...
Percent ...

.002
.001
.004
.002
.002
0.9

Standaris...
Peningkat...
Meningka... Pemberd...
Pengemb...
Peningkat...
Pemerint...
Percent ...

.002
.001
.002
.002
.002
0.6

Standaris...
Peningkat...
Produktivi... Pemberd...
Pengemb...
Peningkat...
Percent ...

.001
.001
.001
.002
.001
0.3

Standaris...
Peningkat...
Penyerap... Pemberd...
Pengemb...
Peningkat...
Percent ...

.001
.000
.001
.001
.000
4.6
0.7

Standaris...
Peningkat...
Akses P a... Pemberd...
Pengemb...
Peningkat...
Percent ...

.002
.001
.002
.001
.001
0.5

Percent ...

J aringan Usaha (L: .105)

Prty

Standaris...
.001
Peningkat...
.001
Meningka... Pemberd...
.001
Page 8 of
8
Pengemb...
.001
Peningkat...
.001
Pengusah...
Percent ...
1.9
Level 2
Level 3
Alts
Prty
Standaris...
.004
Standaris...
.001
Peningkat...
.002
Peningkat...
.001
Produktivi...
Pemberd...
.003
Akses P a... Pemberd...
.002
Pengemb...
.006
Pengemb...
.001
Peningkat...
.004
Peningkat...
.001
Percent...
...
1.5
Percent
0.8
Standaris...
.003
Standaris...
.002
Peningkat...
.002
Peningkat...
.001
Penyerap...
Pemberd...
.003
Meningka... Pemberd...
.002
Pengemb...
.005
Pengemb...
.001
Peningkat...
.002
Peningkat...
.002
Percent ... Percent ...
3.2
1.2
Petani (L:...
0.6
Petani (L:... Percent ... Standaris...
.002
Peningkat...
.001
Produktivi... Pemberd...
.002
Pengemb...
.004
Peningkat...
.003
Percent ...
0.6
Standaris...
Peningkat...
Penyerap... Pemberd...
Pengemb...
Peningkat...

.001
.001
.001
.002
.001