Anda di halaman 1dari 4

DASAR TEORI KONTRAKSI OTOT JANTUNG

Berbeda dengan otot polos dan otot kerangka, jaringan otot jantung terdiri atas
sinsisium serabut-serabut otot yang satu dengan yang lain tidak terpisahkan. Setiap impuls
yang timbul di jantung akan disebar ke seluruh otot jantung, dengan demikian kontraksinya
selalu akan bersifat all-or-none. Disamping itu, kuat kontraksi otot sangat ditentukan oleh
panjang awal dari serabut-serabutnya. Satu sifat utama otot jantung adalah kemampuannya
untuk membangkitkan sendiri impuls irama denyut jantung (otomasi jantung). Jantung yang
dikeluarkan dari tubuh mampu untuk tetap berkontraksi ritmis. Pada amfibia dan reptilia,
irama ditentukan oleh sinus venosus. Aurikel iramanya kurang cepat dan ventrikel paling
rendah tingkat otomasinya. Otot jantung peka terhadap perubahan-perubahan metabolik,
kimia dan suhu. Kenaikan suhu meningkatkan metabolisme dan frekuensi jantung.
Sistem kardiovaskular terdiri dari jantung sebagai pemompa dan pembuluh darah
sebagai saluran. Darah dipompakan oleh jantung ke dalam pembuluh darah dan akan
disebarkan ke seluruh tubuh dan kemudian kembali lagi ke jantung sebagai suatu sirkulasi
(Halwatiah, 2009).
Jantung merupakan suatu organ yang berdenyut dengan irama tertentu(kontraksi
ritmik). Fungsi utama jantung adalah memompa darah ke arah sirkulasisistemik maupun
pulmoner. Jantung terletak dalam mediastinum di rongga dada, yaitudi antara kedua paruparu. Lapisan yang mengitari jantung ( pericardium ) terdiri daridua bagian : lapisan sebelah
dalam atau pericardium visceral dan lapisan sebelah luar atau pericardium parietal.
Kedua lapisan pericardium ini dipisahkan oleh sedikitcairan pelumas, yang berfungsi
mengurangi gesekan pada gerakan memompa dari jantung itu sendiri. Bagian depan dari
pericardium itu melekat pada tulang dada( sternum ) bagian bawahnya melekat pada tulang
punggung, sedang bagian bawah padadiafragma. Perikardium visceral mempunyai hubungan
langsung dengan permukaan jantung. Otot jantung berbeda dari otot kerangka dalam hal
struktur dan fungsinya. Untuk berkontraksi otot jantung tidak memerlukan stimulus sebab
otot jantung memiliki sifat otomatis. Pada sel otot jantung dapat terjadi peristiwa depolarisasi
secara spontan tanpa ada stimulus. Selain itu otot jantung juga memiliki sifat ritmis, peristiwa
depolarisasi dan repolarisasi berjalan menurut irama tertentu (Halwatiah, 2009).
Jantung berongga ditemukan pada vertebrata. Jantung ini merupakan organ berotot
yang mampu mendorong darah ke berbagai bagian tubuh. Jantung bertanggung jawab untuk
mempertahankan aliran darah dengan bantuan sejumlah klep yang melengkapinya. Untuk

menjamin kelangsungan sirkulasi, jantung berkontraksi secara periodik. Apabila cairan tubuh
berhenti bersirkulasi maka hewan mati (Isnaeni, 2006:178-179).
Otot jantung (cardiacmuscle) vertebrata hanya ditemukan pada satu tempat yakni
jantung. Seperti otot rangka, otot jantung berlurik. Perbedaan utama antara otot rangka dan
otot jantung adalah dalam sifat membran dan listriknya. Sel-sel otot jantung mempunyai
daerah khusus yang disebut cakram berinterkalar (intercalateddisc), dimana persambungan
longgar memberikan pengkopelan listrik langsung di antara sel-sel otot jantung. Dengan
demikian suatu potensial aksi yang dibangkitkan pasa satu bagian jantung akan menyebar
keseluruh sel otot jantung. Dengan demikian, suatu potensial aksi yang dibangkitkan pada
satu bagian jantung akan menyebar ke seluruh sel otot jantung. Dan jantung akan
berkontraksi. Sel-sel otot jantung tidak akan berkontraksi kecuali dipicu oleh inpu neuron
motoris yang mengontrolnya. Akan tetapi, sel-sel otot jantung dapat membangkitkan
potensial aksinya sendiri, tanpa suatu input apapun dari sistem saraf. Membran plasma otot
jantung mempunyai ciri pacu jantung yang menyebabkan depolarisasi berirama, yang
memicu potensial aksi dan menyebabkan sel otot jantung tunggal untuk berdenyut bahkan
ketika diisolasi daari jantung dan ditempatkan dalam biakan sel. Potensial aksi sel otot
jantung berbeda dari potensial aksi sel otot rangka, yang bertahan sampai dua puluh kali lebih
lama. Potensial aksi sel otot rangka hanya berfungsi sebagai pemicu kontraksi dan tidak
menguntrol durasi kontraksi tersebut. Pada sel jantung durasi potensial aksi memainkan
peranan penting dalam pengontrolan durasi kontraksi (Campbell, 2004: h. 262).
Katak dan amfibia lainnya mempunyai jantung berbilik tiga, dengan dua atria dan satu
ventrikel. Ventrikel akan memompakan darah ke dalam sebuah arteri bercabang yang
mengarahkan darah melalui dua sirkuit : pulmokutaneuscircuit mengarah ke jaringan
pertukaran gas (dalam paru-paru dan kulit pada katak), dimana darah akan mengambil
oksigen sembari mengalir melalui kapiler. Darah yang kaya oksigen kembali ke atrium kiri
jantung, dan kemudian sebagian besar di antaranya dipompakan ke dalam sirkuit sistematik.
Sirkuit sistemik (systemiccircuit) membawa darah yang kaya oksigen ke seluruh organ tubuh
dan kemudian mengembalikan darah yang miskin oksigen ke atrium kanan melalui vena.
Skema ini,yang disebut sirkulasi ganda (doublecirculation), menjamin aliran darah yang
keluar ke otak, otot, dan organ-organ lain, karena darah itu dipompa untuk kedua kalinya
setelah kehilangan tekanan dalam hamparan kapiler pada paru-paru atau kulit (Campbell,
2004: h. 45).

Kontraksi jantung terdiri dari kontraksi atrium dan kontraksi ventrikel. Kedua macam
kontraksi jantung menunjukkan bahwa siklus jantung terdiri dari systole dan diastole. Systole
merupakan periode kontraksi ventrikel saat jantung memompakan darahnya dari ventrikel ke
sirkulasi pulmonal ( A pulmonalis) dan ke sirkulasi sistemik (aorta). Pada saat systole katubkatubatrioventrikularis

(mitralis

dan bikuspidalis) menutup sedangkan katub-katub

semilunaris (katub aorta dan katub pilmonal) membuka sehingga ventrikel yang berkontraksi
(tekanannya meningkat) memompakan darahnya ke aorta dan A pulmonalis. Sedangkan
diastole menunjukkan periode relaksasi ventrikel (kontraksi atrium) saat ventrikel menerima
darah dari atrium yang sebelumnya telah menerima darah dari paru-paru (V Pulmonalis) dan
dari seluruh tubuh (vena cava). Pada saat distole katub-katub semilunaris(katub aorta dan
katub pulmonal) menutup sedangkan katub-katub atrioventrikularis

(mitralis dan

bikuspidalis) membuka sehingga atrium yang berkontraksi (tekanannya meningkat)


memompakan darahnya ke ventrikel (Supripto ,1998).
Kontraksi atrium terjadi hampir bersamaan dengan relaksasi ventrikel, walaupun pada
saat ventrikel relaksasi, atrium berkontraksi namun besarnya tekanan kedua ruangan ini
hampir sama. Sedangkan pada saat atrium relaksasi juga tak tampak karena tertutup oleh
besarnya tekanan pada ventrikel yang sedang berkontraksi, dimana proses berkontraksi dan
relaksasi (systole dan diastole) dari atrium maupun ventrikel pada keadaan normal akan
terjadi terus menerus. Kontraksi jantung tidak semata-mata tergantung dari impuls yang di
hantarkan oleh syaraf. Jantung mempunyai kemampuan untuk self excitation sehingga dapat
berkontraksi secara otomatis walaupun telah di lepas dari tubuh dan semua syaraf menuju
jantung telah di potong (Supripto ,1998).
Menurut Supripto (1998) bahwa meskipun jantung berkontraksi dengan sendirinya,
namun kuat kontraksi, frekuensi denyut jantung, dan perambatan impuls pada jantung
dipengaruhi oleh saraf otonom, yaitu saraf simpatik dan saraf parasimpatik. Pasangan kedua
saraf ini kerjanya adalah saling berlawanan yaitu saraf simpatik bekerja meningkatkan baik
kuat kontraksi maupun frekuensi denyut jantung dan mempercepat perambatan impuls pada
jantung, sedangkan saraf parasimpatik bekerja menurunkan naik kuat kontraksi maupun
frekuensi denyut jantung dan melambatkan perambatan impuls pada jantung.

Halwatiah, Fisiologi, Makassar: Alauddin press, 2009.


Campbell, Neil A. Jane B. Reece, dan Lawrence G. Mitchell.2004. Biologi Edisi ke 5 Jilid 3.
Jakarta: Erlangga 2004 .
Isnaeni, Wiwi. 2006. Fisiologi Hewan.Yogyakarta : Kanisius.
Supripto. 1998. Fisiologi Hewan. Penerbit ITB. Bandung