Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam sekolah terdapat perencanaan-perencanaan yang dilakukan, salah satunya adalah
melakukan perencanaan keuangan; pembiayaan erat kaitannya dengan administrasi keuangan
karena faktor penentu hidup matinya suatu organisasi; yang menjadi ruang lingkup dalam
adminitrasi keuangan ini meliputi anggaran belanja untuk biaya rutin dan biaya pembangunan.
Biaya rutin adalah biaya yang harus dikeluarkan dari tahun ke tahun, biaya yang disediakan
untuk menggaji para pegawai negeri beserta semua jenis tunjangan-tunjangan, pembelian alat
kantor, biaya perjalanan, pemeliharaan alat-alat/gedung, dan sebagainya. Biaya pembangunan
disediakan untuk membuat gedung-gedung baru, pembelian mesin-mesin, pengeluaran lain-lain
untuk barang-barang yang tidak habis pakai.
Lebih difokuskan dalam proses merencanakan alokasi secara teliti dan penuh
perhitungan, serta mengawasi pelaksanaan penggunaan dana, baik untuk biaya operasional
maupun biaya capital disertai bukti-bukti administrasi dan fisik sesuai dengan dana yang
dikeluarkan.
Dalam pengelolaan keuangan diharapkan dapat berlangsung secara efektif-efisien,
transparan, partisipatif, dan akuntabel. Efektif-efisien penggunaan sumber dana dikelola secara
baik dan tepat untuk mencapai target-taget dan tujuan pendidikan; transparan dengan
menciptakan kepercayaan timbal balik antar stakeholder melalui penyediaan informasi dan
menjamin kemudahan dalam memperoleh informasi secara terbuka agar mendapatkan informasi
yang akurat dan memadai; partisipatif yaitu mendorong dan melibatkan tiap warga sekolah
(Kepala Sekolah, Guru, siswa, orang tua siswa, dan Komite Sekolah) untuk mempergunakan hak
dalam menyampaikan pendapat dalam proses pengambilan keputusan, sehingga mereka merasa
memiliki dan ikut bertanggung jawab terhadap kemajuan sekolah; akuntabel menunjukkan
pengelolaan keuangan dapat dipertanggungjawabkan dihadapan publik dan pihak yang
berwenang.
Ini senada dengan yang diungkapkan oleh Zymelman (1975; dalam Prihatin, 2011),
menjelaskan bahwa pembiayaan pendidikan tidak hanya menyangkut analisis sumber-sumber
dana yang diperoleh, tetapi juga menyangkut penggunaan dana-dana itu secara efisien. Dengan
1

anggaran yang tersedia dapat mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang lebih produktif, efektif,
efisien, dan relevan antara kebutuhan di bidang pendidikan dengan pembangunan dan
masyarakat. Jadi, diperlukan pengelolaan dana secara baik akan membantu meningkatkan
efisiensi penyelenggaraan pendidikan.
Oleh sebab itu, penulis ingin mengetahui lebih dalam mengenai administrasi pendidikan
keuangan yang ada pada sekolah.

B. Rumusan Masalah
a. Pengertian administrasi keuangan?
b. Apa saja proses dari administrasi keuangan?
c. Bagaimana peran guru dalam administrasi keuangan?

C. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui :
a. Pengertian administrasi keuangan.
b. Proses dari administrasi keuangan.
c. Peran guru dalam administrasi keuangan.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Administrasi Keuangan


Administrasi keuangan dalam arti sempit, yang mengandung pengertian segala
pencatatan masuk dan keluarnya uang untuk membiayai kegiatan oganisasi sekolah, berupa tata
usaha dan pembukuan keuangan lainnya.
Administrasi keuangan dalam arti luas adalah penentuan kebijaksanaan dalam pengadaan
dan penggunaan keuangan untuk mewujudkan kegiatan organisasi kerja berupa kegiatan
perencanaan, pengadaan, pertanggung jawaban dan pengawasan keuangan. Dengan demikian
administrasi keuangan menyangkut kegiatan pengelolaan keuangan secara sah dan efisien. secara
sah, berarti kegiatan ini dilakukan sesuai dengan ketentuan atau peraturan yang berlaku. Efisien
berarti kegiatan tersebut dilakukan dengan penghitungan yang teliti / cermat, sehingga jumlah
uang yang disediakan dapat meningkatkan hasil kerja yang maksimal sesuai dengan tujuan yang
hendak dicapai. dengan kata lain hasil yang diperoleh seimbang denga jumlah uang yang
digunakan.

A.1. Tujuan administrasi keuangan


Tujuan administrasi ini adalah untuk mewujudkan suatu tertib administrasi keuangan.
Prihatin (2011), menjelaskan tentang tujuan administrasi keuangan adalah
a. Memungkinkan penyelenggaraan pendidikan dilakukan secara efisien, artinya dengan dana
tertentu diperoleh hasil yang maksimal.
b. Memungkinkan tercapainya kelangsungan hidup lembaga pendidikan sebagai salah satu
tujuan didirikannya, lembaga tersebut.
c. Dapat mencegah adanya kekeliruan, penyimpangan-penyimpangan penggunaan dana dari
rencana semula. Penyimpangan akan dapat dikendalikan apabila pengelolaan berjalan dengan
baik sesuai dengan yang diharapkan.

A.2. Sumber-Sumber Keuangan Sekolah


Sumber-sumber dana dapat diperoleh darimana saja, antara lain diantaranya:
a. Dana dari Pemerintah
Dana ini dikatakan juga dengan dana rutin. Dana dari pemerintah disediakan melalui
jalur Anggaran Rutin dalam Daftar Isian Kegiatan (DIK) yang dialokasikan kepada semua
sekolah untuk setiap tahun ajaran. Dana ini lazim disebut dana rutin. Besarnya dana yang
dialokasikan di dalam DIK biasanya ditentukan berdasarkan jumlah siswa kelas. Mata anggaran
dan besarnya dana untuk masing-masing jenis pengeluaran sudah ditentukan Pemerintah di
dalam DIK. Pengeluaran dan pertanggungjawaban atas pemanfaatan dana rutin (DIK) harus
benarbenar sesuai dengan mata anggara tersebut. Selain DIK, pemerintah sekarang juga
memberikan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Dana ini diberikan secara berkala yang
digunakan untuk membiayai seluruh kegiatan operasional sekolah.
b. Dana dari Orang Tua Siswa
Pendanaan dari masyarakat ini dikenal dengan istilah iuran Komite. Besarnya sumbangan dana
yang harus dibayar oleh orang tua siswa ditentukan oleh rapat Komite sekolah. Pada umumnya
dana Komite terdiri atas :
1.

Dana tetap bulan sebagai uang kontribusi yang harus dibayar oleh orang tua setiap bulan
selama anaknya menjadi siswa di sekolah

2.

Dana incidental yang dibebankan kepada siswa baru yang biasanya hanya satu kali
selama tiga tahun menjadi siswa (pembayarannya dapat diangsur).

3.

Dana sukarela yang biasanya ditawarkan kepada orang tua siswa tertentu yang dermawan
dan bersedia memberikan sumbangannya secara sukarela tanpa suatu ikatan apapun.

c. Dana dari Masyarakat


Dana ini biasanya merupakan sumbangan sukarela yang tidak mengikat dari anggotaanggota masyarakat sekolah yang menaruh perhatian terhadap kegiatan pendidikan di suatu
sekolah. Sumbangan sukarela yang diberikan tersebut merupakan wujud dari kepeduliannya
karena kepedulian untuk turut membantu kemajuan pendidikan. Dana ini ada yang diterima dari
perorangan, dari suatu organisasi, dari yayasan ataupun dari badan usaha baik milik pemerintah
maupun milik swasta.

d. Dana dari Alumni


Bantuan dari para Alumni untuk membantu peningkatan mutu sekolah tidak selalu
dalam bentuk uang (misalnya buku-buku, alat dan perlengkapan belajar). Namun dana yang
dihimpun oleh sekolah dari para alumni merupakan sumbangan sukarela yang tidak mengikat
dari mereka yang memiliki kepedulian untuk turut mendukung kelancaran kegiatan-kegiatan
demi kemajuan dan pengembangan sekolah. Dana ini ada yang diterima langsung dari alumni,
tetapi ada juga yang dihimpun melalui acara reuni atau lustrum sekolah.
e. Dana dari Peserta Kegiatan
Dana ini dipungut dari siswa sendiri atau anggota masyarakat yang menikmati
pelayanan kegiatan pendidikan tambahan atau ekstrakurikuler, seperti pelatihan komputer,
kursus bahasa Inggris atau keterampilan lainnya.
f. Dana dari Kegaitan Wirausaha Sekolah
Ada beberapa sekolah yang mengadakan kegiatan usaha untuk mendapatkan dana. Dana
ini merupakan kumpulan hasil berbagai kegiatan wirausaha sekolah yang pengelolaannya dapatj
dilakukan oleh staf sekolah atau para siswa misalnya koperasi, kantin sekolah, bazaar tahunan,
peminjaman gedung serba guna untuk acara-acara diluar sekolah, usaha fotokopi, dan lain
sebagainya.

B. Proses Administrasi Keuangan

1. Penyusunan RPS
Proses perencanaan merupakan proses penyusunan anggaran mengenai rencana-rencana
kebutuhan lembaga dalam suatu periode. Perencanaan sekolah adalah suatu proses untuk
menentukan tindakan masa depan sekolah yang tepat, melalui urutan pilihan, dengan
memperhitungkan sumber daya yang tersedia. Penyusunan RPS (Rencana Pengembangan
Sekolah) adalah dokumen tentang gambaran kegiatan sekolah di masa depan dalam rangka untuk
mencapai tujuan sekolah yang telah ditetapkan. Ini sebaiknya disusun secara bersama-sama
antara pihak sekolah (Kepala Sekolah dan guru), dengan stakeholder (pihak yang
berkepentingan), contohnya komite sekolah, yayasan, tokoh masyakarakat, pihak lainnya yang
berkaitan.

Rencana Pengembangan Sekolah ini diharapkan kualitas serta mutu pendidikan dapat
dicapai dan berkembang sesuai dengan Sumber Daya Manusia ke arah yang lebih baik, seperti
apa yang diamanatkan dalam UUD 1945 umumnya dan Undang-Undang No. 20 Tahun 2003
Bab II pasal 2 dan 3, serta Standar Nasional Pendidikan pada khususnya. Ini terdiri atas rencana
strategis (Renstra) dan rencana operasional (Renop). Sesuai dengan PP No. 19 tahun 2005
tentang Standar Nasional Pendidikan pada pasal 53 ayat 1, disebutkan bahwa setiap satuan
pendidikan dikelola atas dasar rencana kerja tahunan yang merupakan penjabaran rinci dari
rencana kerja jangka menengah satuan pendidikan yang meliputi masa 4 (empat) tahun.
Rencana kerja tahunan dikategorikan sebagai rencana operasional, sedangkan rencana kerja
jangka menengah berkategori rencana strategis.
Dasar penyusunan RPS berdasarkan pada:
1. Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
2. PP Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
3. Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/U/2005 tentang Dewan
Pendidikan dan Komite Sekolah
4. Permendiknas No. 19 tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan oleh Satuan
Pendidikan Dasar dan Menengah Dirjen PMPTK Depduknas, 2007, Penyusunan Renstra
daan Pengembangan Sekolah Dasar
6. Keputusan

Kepala

Dinas

Pendidikan

Provinsi

Jawa

Tengah

Nomor

420/Kep/2556.Disdik/2002 tentang Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).

2. RKAS (Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah)


RKAS merupakan rencana biaya dan pendanaan program/kegiatan secara rinci untuk
satu tahun anggaran. RKAS adalah dokumen anggaran sekolah resmi yang disetujui kepala
sekolah serta disahkan Dinas Pendidikan setempat (bagi sekolah negeri), atau penyelenggara
pendidikan/yayasan (bagi sekolah swasta). Masa RKAS hanya berlaku untuk satu tahun ajaran
yang akan datang, terdiri atas pendapatan dan belanja (pengeluaran). Pendanaan yang
dicantumkan dalam RKAS hanya mencakup pengeluaran dalam bentuk uang yang akan diterima
dan dikelola sekolah.

Diagram 2.1 Langkah-Langkah Penyusunan RKAS sebagai Bagian dari RPS


Berdasarkan skema tersebut, alur/bagian-bagian dar RKAS adalah sebagai berikut:
1.

Melakukan analisis lingkungan operasional sekolah

2.

Melakukan analisis pendidikan sekolah saat ini

3.

Melakukan analisis pendidikan sekolah satu tahun ke depan (yang diharapkan)

4.

Menentukan kesenjangan antara situasi sekolah saat ini dan yang diharapkan satu tahun
kedepan

5.

Merumuskan tujuan sekolah selama satu tahun ke depan (disebut juga dengan sasaran atau
tujuan situasional satu tahun)

6.

Mengidentifikasi fungsi-fungsi atau urusan-urusan sekolah untuk dikaji tingkat


kesiapannya

7.

Melakukan analisis SWOT

8.

Merumuskan dan mengidentifikasi Alternatif Langkah-langkah Pemecahan Persoalan

9.

Menyusun Rencana Program

10. Menentukan tonggak-tonggak kunci keberhasilan/output apa dan kapan dicapai (milestone)
11. Menyusun rencana biaya (besar dana, alokasi, sumber dana)
12. Menyusun rencana pelaksanaan program
13. Menyusun rencana pemantauan dan evaluasi
14. Membuat jadwal pelaksanaan program
15. Menentukan penanggungjawab program/kegiatan
7

3. Penggunaan
Proses penggunaan biaya yaitu menyangkut proses dan prosedur penggunaan biaya
sesuai dengan rencana yang telah ditentukan.
Depdagri dan depdikbud 1996 menyatakan bahwa dalam administrasi keuangan harus ada
pemisahan tugas dan fungsi otorisator, ordonator dan pembendaharawan.
Pengaturan penggunaan dan pembukuan keuangan tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang
dan smuanya harus melalui proses dan prosedur yang berlaku. Berkenaan dengan hal ini, soetopo
dan soemanto 1982 menyatakan sebagai berikut:
1. Sebaiknya orang yang memegang kas tidak sekaligus memegang pembukuannya.
2. Setelah uang diterima harus dibukukan dan ditulis sesuai dengan mata anggaran
masing-masing.
3. Penggunaan uang harus ada bukti atau dokumen berupa kwitansi atau bukti lain yang
sah
4. Semua pengeluaran harus dibukukan
5. Setiap document yang dijadikan bukti pengeluaran harus diberi nomor, tanggal, harus
diketahui/ diparaf oleh pejabat yang bertanggung jawab (kepala sekolah).
6. Tiap halaman buku harus diberi huruf dan paraf oleh pemegang buku kas
7. Kesalahan-kesalahan tidak boleh dihapus, tetapi harus digaris atau dicoret baik-baik
dan dibubuhkan paraf.
8. Buku kas dibuka dan ditutup tiap blan meskipun tidak ada pemakaiannya/pemasukan
atau pengeluaran .
9. Untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan harus diadakan pengawasan
yang kontiniu.
10.

Kepala sekolah mestinya menunjuk petugas yang menangani keuangan sekolah

yang benar-benar memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam bidng keuangan.

4. Pertanggungjawaban
Soetjipto & Kosasi (2009), menjelaskan bahwa dalam pelaksanaannya, administrasi
keuangan melakukan pemisahan tugas antara fungsi otorisator, ordonator, dan bendaharawan.
Otorisator adalah pejabat yang diberi wewenang untuk mengambil tindakan yang mengakibatkan
penerimaan dan pengeluaran anggaran. Ordonator adalah pejabat yang berwenang melakukan
8

pengujian dan memerintahkan pembayaran atas segala tindakan yang dilakukan berdasarkan
otorisasi yang telah ditetapkan. Bendaharawan adalah pejabat yang berwenang melakukan
penerimaan, penyimpanan dan pengeluaran yang dapat dinilai dengan uang serta diwajibkan
membuat perhitungan dan pertanggungjawaban.
Menurut Staf Pengajar FIP IKIP Padang (1986), pertanggungjawaban dilakukan oleh
pihak-pihak yang terkait, diantaranya adalah bendaharawan sekolah bertugas menagih atau
mengambil, menerima, menyimpan, menyetor dan mempertanggung jawabkan keuangan
sekolah. atau dapat dikatakan sebagai pelaporan atas jalannya keuangan sekolah. semua
tanggung jawab terletak pada kepala sekolah. bendaharawan sendiri bertanggung jawab kepada
sekolah.
Semua keuangan yang masuk maupun keluar harus dicatat secara terinci secara
mendetail. dalam laporan pertanggung jawaban harus dilampiri dengan bukti-bukti pengeluaran
baik berupa kwitansi maupun bon pembelian secara lengkap dan jelas. masalah keuangan
merupakan masalah yang peka, maka diperlukan personil yang jujur, teliti, ulet, bijaksana, sabar
dan berpengetahuan luas di bidang pembukuan keuangan.

C. Pemeriksaan dan Pelaporan


1. Pemeriksaan
Pemeriksaan ialah kegiatan pemeriksaan yang terutana ditujukan pada masalah
keuangan, antara lain untuk memperoleh kepastian bahwa berbagai transaksi keuangan dilakukan
sesuai dengan rencana dan ketentuan berlaku.

2. Pelaporan
Kepala sekolah wajib menyampaikan laporan di bidang keuangan terutama mengenai
penerimaan dan pengeluaran keuangan sekolah. Pengevaluasian dilakukan setiap triwulan atau
per semester. Dana yang digunakan akan dipertanggungjawabkan kepada sumber dana. Jika dana
tersebut diperoleh dari orang tua siswa, maka dana tersebut akan dipertanggungjawabkan oleh
kepala sekolah kepada orang tua siswa. Begitu pula jika dana tersebut bersumber dari pemerintah
maka akan dipertanggungjawabkan kepada pemerintah. Pelaporan itu dapat berupa apakah dana
yang dibelanjakan sesuai dengan rencana, dana tidak dihabiskan untuk digunakan dalam kegiatan
yang tidak bermanfaat, dan lain sebagainya.
9

D. Peran Guru dalam Administrasi Keuangan Sekolah


Soetjipto & Kosasi (2009), menjelaskan bahwa peran guru tidak hanya mengajar dalam
kelas, tetapi guru diharapkan ikut berperan dalam administrasi biaya pendidikan sekolah.
Keterlibatan guru dalam administrasi biaya ini meskipun menambah beban mereka tetapi juga
memberikan kesempatan untuk mereka ikut serta mengarahkan pembiayaan bagi perbaikan
proses belajar mengajar.

10

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Keuangan sekolah merupakan salah satu faktor penting untuk menunjang keberhasilan
pencapaian tujuan pendidikan di sekolah. ketersediaan keuangan sekolah dalam jumlah yang
memadai akan dpat dimanfaatkan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan yang bersifat rutin
maupun kegiatan lain untuk pengembangan atau peningkatan kualitas pendidikan.
Administrasi keuangan dalam arti luas adalah penentuan kebijaksanaan dalam pengadaan
dan penggunaan keuangan untuk mewujudkan kegiatan organisasi kerja berupa kegiatan
perencanaan, pengadaan, pertanggung jawaban dan pengawasan keuangan. Dengan demikian
administrasi keuangan menyangkut kegiatan pengelolaan keuangan secara sah dan efisien. secara
sah, berarti kegiatan ini dilakukan sesuai dengan ketentuan atau peraturan yang berlaku. Efisien
berarti kegiatan tersebut dilakukan dengan penghitungan yang teliti / cermat, sehingga jumlah
uang yang disediakan dapat meningkatkan hasil kerja yang maksimal sesuai dengan tujuan yang
hendak dicapai. dengan kata lain hasil yang diperoleh seimbang denga jumlah uang yang
digunakan.

B. Saran
Keuangan merupakan hal yang sangat sensitif. oleh karena itu keuangan sekolah perlu
dikelola secara cermat, sistematis, dan transparan sehingga berbagai anggapan negative terhadap
pengelola keuangan sekolah dapat dihindari. kondisi ini juga memungkinkan terciptanya suasana
kondusif bagi personil sekolah untuk bekerja sama guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

11

DAFTAR PUSTAKA

Soetjipto, Raflis Kosasi. 2009. Profesi Keguruan. Jakarta: PT. Rineka Cipta
Soetopo, Hendayat dan Soemanto, Wasty. 1988. Kepemimpinan Dan Supervise Pendidikan.
Jakarta: Bina Aksara
Staf Pengajar FIP IKIP Padang. 1986. Dasar-Dasar Administrasi Pendidikan. Padang: IKIP
Padang
Syahril, dkk. 2009. Profesi Kependidikan. Padang: UNP Press

12