Anda di halaman 1dari 17

29

BAB III
METODELOGI PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian ini dilakukan 2 bulan yaitu dari tanggal 23 April 20 Juni 2014.
Pelaksanaan penelitian ini dilakukan di Laboratorium PT. Bukit Asam (Persero)
Tbk. Pengusahaan Briket Unit Usaha Tanjung Enim.
3.2 Metode Penelitian
Metode yang digunakan pada pembuatan biobriket dari campuran limbah
ampas tebu dan tempurung kelapa ini dilakukan dengan metode eksperimen
menggunakan variabel yang ditentukan. Adapun variabel tersebut adalah sebagai
berikut :
1) Variabel Berubah
Variasi berubah pada penelitian ini hanya satu yaitu jenis perekat yang
digunakan, dimana terdapat 5 jenis perekat berupa tepung tapioka, molase, tepung
beras, lem fox (PVAc), dan tepung ketan.
2) Variabel Tetap
Variabel tetap pada penelitian ini antara lain :
a. Komposisi bahan, dimana komposisi tempurung kelapa dan ampas tebu
pada penelitian ini adalah 70 : 30.
b. Komposisi perekat, dimana komposisi tiap jenis perekat yang digunakan
yaitu 30 %. Maka dari 5 kg bahan baku yang digunakan, pada
perbandingan bahan 70 : 30 berat perekat yang digunakan adalah 1,5 kg.
c. Tekanan, dimana dalam penelitian ini digunakan mesin cetak tipe
Briquetting Machine BM-2200H2 di pabrik briket PT. Bukit Asam
Tanjung Enim dengan tekanan 1200 kg/cm2.
d. Waktu karbonisasi, dimana waktu karbonisasi ampas tebu adalah 90
menit, sedangkan tempurung kelapa adalah 4 6 jam.
3.3 Alat dan Bahan
3.3.1 Alat yang digunakan pada penelitian
Adapun alat yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

30

1.

Sieving (ayakan) dengan ukuran 60 mesh, yang digunakan pada saat


mengayak arang tempurung kelapa dan ampas tebu yang telah digerus

2.

dengan menggunakan Crush Battle Mill.


Alat pencetak briket BM-2200H2 Type Briquetting Machine, yang

3.

digunakan pada saat mencetak briket berbentuk oval.


Oven, yang digunakan pada saat mengeringkan briket yang telah jadi. Selain

4.

itu oven juga digunakan pada saat analisa kadar air.


Neraca analitik, yang digunakan untuk menimbang sampel berupa arang

5.
6.
7.

ampas tebu dan tempurung kelapa.


Crusible, yang digunakan untuk keperluan analisa proksimat.
Penjepit crusible, yang digunakan untuk keperluan analisa proksimat.
Desikator, yang digunakan untuk keperluan analisa proksimat setelah dari

8.

oven dan furnace.


Spatula, yang digunakan untuk keperluan mengambil sampel pada saat

analisa proksimat dan ultimat.


9. Panci, yang digunakan untuk tempat memasak perekat.
10. Bak besi, yang digunakan sebagai tempat pencampuran bahan baku dan
perekat.
11. Loyang, yang digunakan sebagai tempat untuk meletakkan bahan-bahan
yang telah disiapkan.
12. Stopwatch, yang digunakan untuk keperluan analisa lama nyala biobriket.
13. Batang pengaduk, yang digunakan pada saat membuat perekat tepung
tapioka, tepung beras, dan tepung ketan.
14. Tungku Pengarangan, yang digunakan untuk tempat api pada saat
pengarangan (karbonisasi).
15. Kompor, yang digunakan untuk memasak perekat tepung tapioka, tepung
beras dan tepung ketan.
16. Crush Battle Mill, yang digunakan untuk menggerus arang tempurung
kelapa.
17. Roll Mill, yang digunakan untuk menggiling arang ampas tebu sebelum
diayak.
18. Jaw Crusher, digunakan saat preparasi sampel untuk pengecilan ukuran
sampel sampai sampel berukuran 13 mm.
19. Hammer Mill, digunakan juga saat preparasi sampel. Setelah sampel
dihancurkan di Jaw Crusher lalu sampel dikecilkan lagi ukurannya di dalam
instrumen ini sampai diperoleh sampel yang berukuran 2,8 mm.

31

20. Crush Battle Mill, digunakan pula untuk pengecilan ukuran sampel sampai
sampel berukuran 0,212 mm.
21. Sulphur Analyzer Determinator S-144DR, merupakan instrument analitik
yang digunakan untuk menganalisa kandungan sulfur yang terdapat di
dalam bahan baku dan produk yang dihasilkan.
22. Minimum Free Space Oven (MFSO), digunakan untuk menentukan kadar air
terikat yang terdapat di dalam bahan baku dan produk yang ada.
23. Bomb Calorimeter, yang digunakan untuk keperluan analisa kadar kalor
biobriket.
24. Furnace ACF (Ash Content Furnace), yang digunakan untuk keperluan
analisa proksimat (kadar abu).
25. Furnace VMF (Volatile Matter Furnace), yang digunakan untuk keperluan
analisa proksimat (kadar zat terbang).
26. Alat Uji Tekan, yang digunakan untuk mengetahui daya tahan biobriket
terhadap tekanan.
3.3.2 Bahan yang digunakan pada penelitian
Adapun bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Tempurung kelapa
Ampas tebu
Tepung tapioka
Molase
Tepung beras
Lem kayu (lem fox PVAc)
Tepung ketan
Air

3.4 Prosedur Penelitian


3.4.1 Prosedur Pengarangan (Karbonisasi)

32

(Sumber : Laboratorium PT.BA, 2014)

Gambar 8. Tungku Pengarangan (Karbonisasi)


A. Karbonisasi Ampas Tebu
1) Mengeringkan ampas tebu dengan cara dijemur dibawah sinar matahari
hingga kering.
2) Melakukan karbonisasi ampas tebu pada suhu 400-500 oC hingga
keseluruhan ampas menjadi arang.
3) Arang yang dihasilkan kemudian dihaluskan dengan menggunakan Roll
Mill untuk mengecilkan ukuran arang.
4) Kemudian arang yang telah halus diayak dengan ayakan 60 mesh.
B. Karbonisasi Tempurung Kelapa
1) Mengeringkan tempurung kelapa dengan cara dijemur dibawah sinar
matahari hingga kering.
2) Melakukan karbonisasi tempurung kelapa pada suhu 600-700 oC hingga
keseluruhan tempurung menjadi arang.
3) Arang yang dihasilkan kemudian dihaluskan dengan menggunakan
Crush Battle Mill untuk mengecilkan ukuran arang.
4) Kemudian arang yang telah halus diayak dengan ayakan 60 mesh.
3.4.2 Prosedur Pembuatan Perekat dari Tepung Tapioka
1) Menimbang tepung tapioka dengan komposisi yang diinginkan.
2) Mencampurkan air dan tapioka ke dalam panci dengan perbandingan 4:1.
3) Larutan tapioka dipanaskan di atas kompor/tungku sampai larutan
tapioka mengental seperti lem dan siap digunakan.

33

(Sumber : Laboratorium PT.BA, 2014)

Gambar 9. Proses pembuatan Perekat


4) Untuk pembuatan perekat dari tepung beras dan tepung ketan dilakukan
prosedur yang sama dengan pembuatan perekat tepung tapioka.
3.4.3 Prosedur Pembuatan Biobriket
1) Menimbang arang yang telah diayak dengan perbandingan arang
tempurung kelapa dan ampas tebu 70 : 30 dengan jumlah berat 5 kg.
2) Mencampurkan arang tersebut dengan perekat hingga menjadi adonan
yang homogen.
3) Campuran arang dengan perekat dimasukkan ke dalam alat pencetak briket
(Briquetting Machine BM-2200H2)dengan tekanan 1200 kg/cm2.

34

(Sumber : Laboratorium PT.BA, 2014)

Gambar 10. Briquetting Machine BM-2200H2


4) Biobriket yang telah dicetak diletakkan ke dalam loyang untuk didiamkan
selama 24 jam.
5) Bioriket yang telah didiamkan selama 24 jam, kemudian dimasukkan ke
dalam oven dengan suhu 80 100 oC selama sejam.
6) Biobriket yang telah dioven, disimpan di tempat tertutup untuk kemudian
dianalisa.
3.4.4 Prosedur Uji Kualitas Biobriket
Penelitian ini menghasilkan produk berupa biobriket dari campuran
tempurung kelapa dan ampas tebu yang perlu dianalisa. Analisa yang dilakukan
seperti :
3.4.4.1 Analisa Proksimat
1. Kadar Air Lembab (Inherent Moisture)
Kadar air dapat ditentukan dengan cara menghitung kehilangan berat dari
contoh yang dipanaskan pada kondisi standar.

(Sumber : Laboratorium PT.BA, 2014)

Gambar 11. Minimum Free Space Oven


Langkah Kerja :
1) Memeriksa kondisi fisik alat apakah dalam kondisi baik atau tidak.
2) Membersihkan bagian luar dari kotoran dengan menggunakan kain
pembersih dan membersihkan bagian dalam nya jika ada kotoran.
3) Memasukkan tegangan ke jala-jala listrik 220 V AC.

35

4) Menghidupkan alat dengan menekan saklar pada posisi ON, hingga


lampu berwarna hijau menyala.
5) Set temperatur pada suhu 105oC 110oC
6) Memasukkan contoh dengan cara membuka tutup Minimum Free Space
Oven dan menutupnya kembali, setting aliran gas nitrogen dengan
kecepatan 450 cm2/menit dengan lama proses sesuai tata cara kerja
pengujian inherent moisture dan total moisture.
7) Bila waktu standar telah tercapai, penutup minimum free space oven
dibuka dan mengeluarkan contoh dengan menggunakan tongs,
kemudian menutup kembali serta mematikan aliran gas nitrogen.
8) Bila masih akan digunakan maka stand by kan pada suhu (105 110
o

C).

9) Jika tidak matikan minimum free space oven dengan menekan saklar
OFF.
10) Melepaskan aliran listrik dari jala-jala.
11) Membersihkan alat minimum free space oven dari kotoran.
12) Kadar air lembab dapat dihitung dengan rumus:

Kadar Air (%)

b c
b a

x 100

Dimana:
a = berat cawan + tutup (gr)
b = berat cawan + tutup + sampel (gr) sebelum pemanasan
c = berat cawan + tutup + sampel (gr) setelah pemanasan
2. Kadar Abu (Ash)
Kadar abu ditentukan dengan cara menimbang residu (sisa) pembakaran
sempurna dari contoh pada kondisi standar.

36

(Sumber : Laboratorium PT.BA, 2014)

Gambar 12. Muffle Furnace Ash


Langkah Kerja :
1) Memeriksa kondidi fisik alat apakah dalam kondisi baik atau tidak.
2) Memasukkan tegangan ke jala-jala listrik 220 V AC.
3) Menghidupkan muffle furnace ash dengan menekan saklar pada posisi
ON.
4) Membuka penutup muffle furnace ash lalu memasukkan contoh dengan
tongs.
5) Set temperatur awal pada suhu 500oC selama 30 menit.
6) Setelah 30 menit set temperatur 815oC.
7) Bila temperatur sudah tercapai sesuai dengan standar analisa ash,
membuka tutup muffle furnace ash dan mengeluarkan contoh dari
muffle furnace ash dengan menggunakan tongs, kemudian menutup
kembali muffle furnace ash.
8) Set temperatur muffle furnace ash pada suhu 400oC, bila sudah
mencapai suhu 400oC, muffle furnace ash dimatikan dengan menekan
saklar OFF.
9) Melepaskan aliran listrik dari jala-jala listrik.
10) Membersihkan muffle furnace ash dari kotoran.
11) Kadar abu dapat dihitung dengan rumus :

Kadar Abu (%)

c a
b a

x 100

37

Dimana:
a = berat cawan kosong (gr)
b = berat cawan + sampel (gr)
c = berat cawan + abu(gr)

3. Kadar Zat Terbang (Volatile Matter)


Kadar zat terbang ditentukan dengan cara menghitung

kehilangan berat

dari contoh yang dipanaskan (tanpa dioksidasi) pada kondisi standar, kemudian
dikoreksi terhadap kadar air lembab.

(Sumber : Laboratorium PT.BA, 2014)

Gambar 13. Muffle furnace Volatile Matter


Langkah Kerja :
1) Memeriksa kondisi fisik alat apakah dalam kondidi baik atau tidak.
2) Membersihkan bagian luar alat jika diperlukan.
3) Memasukkan tegangan ke jala-jala listrik 220 V AC.
4) Menghidupkan muffle furnace volatile matter dengan menekan saklar
pada posisi ON.
5) Set temperatur pada suhu 900oC, kemudian tunggu sampai temperatur
tersebut tercapai.

38

6) Setelah temperatur tercapai, penutup muffle furnace volatile matter


dibuka dan memasukkan contoh dengan menggunakan tongs secara
perlahan-lahan. Proses analisa selama 7 menit.
7) Setelah 7 menit, tongs dikeluarkan.
8) Apabila alat akan segera digunakan, stand by kan pada suhu 900oC.
9) Apabila tidak digunakan, set temperatur muffle furnace volatile matter
pada suhu 400oC. Jika telah mencapai suhu 400oC, mematikan muffle
furnace volatile matter dengan menekan saklar OFF.
10) Melepaskan aliran listrik dari jala-jala.
11) Membersihkan muffle furnace volatile matter dari kotoran.
12) Kadar zat terbang dapat dihitung dengan rumus :
Kadar Zat Terbang (%)

b c
b a

x 100

Dimana:
a = berat cawan + tutup (gr)
b = berat cawan + tutup + sampel (gr) sebelum pemanasan
c = berat cawan + tutup + sampel (gr) setelah pemanasan
4. Kadar Karbon Padat (Fixed Carbon)
Kadar karbon padat ditentukan dengan persamaan berikut :
Fixed Carbon (%) = 100 (IM + Ash + VM)
Dimana :
IM

= Kadar air lembab

Ash

= Kadar Abu

VM

= Kadar Zat Terbang

3.4.4.2 Analisa Total Sulfur


Analisa kadar sulfur ini dilakukan dengan menggunakan Sulphur Analyzer
Determinator S-144DR, dimana dalam analisa ini digunakan British Standard.

39

(Sumber : Laboratorium PT.BA, 2014)

Gambar 14. Sulphur Analyzer Determinator S-144DR


Langkah Kerja :
1) Menyiapkan sampel dengan ukuran butiran 212 m (sesuai dengan British
Standard) sebanyak
2) Memastikan set regulator tekanan gas oksigen (O2) pada 35 40 psi.
3) Memastikan seluruh cord sumber listrik telah terhubung dengan instrumen
dan PC-komputer.
4) Mengaktifkan electronic balance dengan menekan tombol power sampai
muncul angka pada layar.
5) Mengaktifkan PC-komputer dan printer, dan tunggu sampai muncul layar
desktop di monitor.
6) Klik ganda icon S-144DR di layar desktop untuk mengaktifkan aplikasi
pengujian total sulfur dengan Determinator S-144DR.
7) Melakukan pengecekan pada menu Diagnostics dengan menekan F9.
8) Memastikan suhu furnace stabil dalam rentang 1400oC (50oC) dan
memeriksa pengaturan suhu pada furnace set point pada nilai yang sama.
9) Memberi tanda cek untuk Alarm Relay dan Pump/Oxygen Inlet.
10) Melakukan pengujian untuk blank untuk mengkondisikan instrumen.
11) Kemudian bila instrumen telah siap digunakan, klik add sample pada menu
samples (atau tekan F3) untuk merekam data penimbangan dan memulai
pengujian.
12) Kemudian timbang sampel yang akan dianalisa dengan cara menempatkan
combustion boat di atas pan balance, lalu tekan tombol tare hingga angka di
layar menunjukkan 0,0000 gram. Setelahnya, letakkan 0,10 s/d 0,35 gram
sampel yang akan dianalisa ke dalam combustion boat, lalu tekan tombol

40

print pada electronic balance sehingga hasil penimbangan dapat ditransfer ke


PC.
13) Klik analyze pada menu samples (atau tekan F4) untuk memulai analisa.
14) Kemudian tunggu hingga muncul pesa push the sample boat into the
furnace kemudian dorong boat yang berisi sampel ke dalam furnace hingga
menyentuh boat stop.
15) Lama analisa berlangsung antara 60-180 detik.
16) Setelah analisa selesai boat dikeluarkan dari dalam furnace dan dilakukan
pendinginan instrumen terlebih dahulu sebelum instrumen dimatikan.
3.4.4.3 Analisa Nilai Kalor
Nilai kalor ditentukan dengan cara membakar contoh di dalam Bomb
Calorimeter LECO AC 500.

(Sumber : Laboratorium PT.BA, 2014)

Gambar 15. Bomb Calorimeter LECO AC 500


Langkah Kerja :
1) Memastikan

gas oksigen sudah terpasang pada instrument dan setting

regulator pada tekanan 450 Psi.


2) Memastikan kabel power sudah terpasang / tersambung pada sumber listrik.
3) Menekan saklar power ke posisi ON (letak saklar dibagian blakang
instrument).
4) Menghidupkan printer.
5) Menghidupkan komputer, kemudian klik icon AC 500.

41

6) Klik diagnostic, kemudian chart.


7) Ditunggu sampai ambient chart stabil (2-5 menit).
8) Mengisis Bomb Calorimeter dengan aquadest sebanyak 2 liter sesuai takaran
dari Pipette Tank.
9) Mengisi code ID sampel pada kolom Name. Kemudian mengisi berat contoh
pada kolom weight.
10) Menambahkan 5 ml aquadest ke dalam bomb vessel.
11) Memasang benang pada kawat electrode dan memastikan ujung benang
menyentuh contoh.
12) Meletakkan crusible berisi contoh ke dalam bomb vessel, kemudian tutup
dengan rapat.
13) Mengisi bomb vessel dengan gas oksigen sampai mencapai tekanan 420 psi
(secara otomatis berhenti pada saat tekanan mencapai 420 psi).
14) Meletakkan bomb vessel ke dalam bomb bucket.
15) Memasang kedua kabel electrode ke atas bomb vessel. Kemudian menutup
cover bucket.
16) Menekan tombol F5 pada keyboard atau simbol analyze (F5) pada layar
monitor untuk memulai analisa.
17) Setelah selesai analisa contoh, besarnya nilai kalori secara otomatis akan
muncul pada kolom CV (cal/gr).
18) Membuka cover bucket dan melepas kabel electrode kemudian mengeluarkan
bomb vessel dari bomb bucket.
19) Bila hendak mematikan instrument, klik exit pada program AC 500 kemudian
tekan tombol OFF yang berada di belakang instrument.
3.4.4.4 Analisa Lama Nyala Biobriket
Analisa lama nyala bioriket dilakukan untuk mengetahui berapa lama waktu
yang dibutuhkan dari mulai awal penyalaan biobriket sampai dengan biobriket
habis terbakar menjadi abu.
Langkah Kerja :
1) Menyiapkan biobriket yang akan digunakan sebagai sampel analisa lama
nyala.

42

2) Membakar sampel biobriket di dalam tungku.


3) Meletakkan masing-masing biobriket yang sudah mulai terbakar di atas tray.

(Sumber : Laboratorium PT.BA, 2014)

Gambar 16. Proses pembakaran biobriket di atas tray


4) Menghitung lama waktu pembakaran mulai dari biobriket menyala sampai
habis terbakar menjadi abu.
3.4.4.5 Analisa Daya Tahan Biobriket Terhadap Tekanan
Uji tekan biobriket ini dilakukan dengan tujuan agar dapat mengetahui daya
tahan biobriket yang dihasilkan terhadap tekanan. Analisa ini dilakukan dengan
menggunakan alat uji tekan.

(Sumber : Laboratorium PT.BA, 2014)

Gambar 17. Alat Uji Tekan Briket

Langkah Kerja :
1) Menyiapkan biobriket yang akan digunakan sebagai sampel uji tekan.

43

2) Meletakkan sampel biobriket diatas besi bulat tempat uji tekan akan
dilakukan.

(Sumber : Laboratorium PT.BA, 2014)

Gambar 18. Proses Uji Tekan


3) Memutar kayuh yang terdapat di bagian pinggir alat uji tekan sehingga
Tempurung
menekan
Ampassampel
Tebu biobriket.
Kelapa
4) Mencatat nilai uji tekan pada saat sampel
biobriket mulai hancur.
Karbonisasi
selama 90 menit

Analisa
bahan
baku

Karbonisasi
selama 4-6 jam

Arang Ampas
Tebu

Arang Tempurung
Kelapa

Dihaluskan dengan
Roll Mill dan diayak
dengan ukuran 60
mesh

Dihaluskan dalam
Crush Battle Mill
diayak dengan
ukuran 60 mesh

Pati
+ Air (4:1)

Pemanasan
Pencampuran Bahan Baku
dengan komposisi 70:30
Kemudian dicampur dengan
3.5 Diagram Alir Penelitian
perekat 30%

3.5.1 Diagram Pembuatan Biobriket

Pencetakan dan
Pengeringan

Biobriket

Perekat/Lem

44

Gambar 19. Diagram Pembuatan Biobriket

3.5.2 Diagram Analisa Biobriket

Biobriket

Analisa
Proksimat

Total
Sulfur

Nilai
Kalor

Uji Tekan

Lama
Nyala

45

Gambar 20. Diagram Analisa Biobriket