Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Sejarah dan perkembangan Ilmu Forensik tidak dapat dipisahkan dari sejarah dan
perkembangan hukum acara pidana. Sebagaimana diketahui bahwa kejahatan yang terjadi di
muka bumi ini sama usia tuanya dengan sejarah manusianya itu sendiri. Luka merupakan
salah satu kasus tersering dalam kedokteran Forensik. Luka bisa terjadi pada korban hidup
maupun korban mati. Dalam sebuah survey di sebuah rumah sakit di selatan tenggara kota
London dimana didapatkan 425 pasien yang dirawat oleh karena kekerasan fisik

yang

disengaja. Beberapa jenis senjata digunakan pada 68 dari 147 kasus penyerangan di
jalan raya, terdapat 12 % dari penyerangan menggunakan besi batangan dan pemukul
baseball atau benda benda serupa dengan itu, lalu di ikuti dengan penggunaan pisau 18%,
terdapat nilai yang sangat berarti dari kasus penusukan, sekitar 47% kasus yang masuk rumah
sakit dan 90% mengalami luka yang serius.
Hal yang harus dicatat bahwa terdapat 2 dari 3 penyerangan terjadi di dalam tempat
tinggal atau klub-klub dengan menggunakan pisau, kaca, dan bermacam-macam senjata. 40%
kasus penikaman terjadi di jalan raya dan 23% di dalam tempat tinggal dan klub-klub, 50%
pasien sedang mabuk atau minum pada saat sebelum waktu penyerangan, 27% pasien
tersebut adalah penganguran. Luka-luka yang disebabkan oleh pukulan (46%), tendangan
(17%) bermacam-macam senjata (17%), pisau dan pecahan kaca (15%) sisanya disebabkan
oleh gigitan manusia dan penyebab-penyebab lain yang tidak diketahui. Selama tahun 2006,
jumlah kejahatan meningkat dari 256.543 (tahun 2005) menjadi 296.119. Inilah peningkatan
kejahatan yakni sekitar 15,43 persen. Jumlah penduduk yang beresiko terkena kejahatan ratarata 123 orang per 100.000 penduduk Indonesia di 2006. Bila dibandingkan tahun 2005
terjadi kenaikan 1,65 persen.
Pada pasal 133 ayat (1) KUHAP dan pasal 179 ayat (1) KUHAP dijelaskan bahwa
penyidik berwenang meminta keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter
atau bahkan ahli lainnya. Keterangan ahli tersebut adalah Visum et Repertum, dimana di
dalamnya terdapat penjabaran tentang keadaan korban, baik korban luka, keracunan, ataupun
1

mati yang diduga karena tindak pidana. Bagi dokter yang bekerja di Indonesia perlu
mengetahui ilmu kedokteran Forensik termasuk cara membuat Visum et Repertum. Seorang
dokter perlu menguasai pengetahuan tentang mendeskripsikan luka, tujuannya untuk
mempermudah tugas-tugasnya dalam membuat Visum et Repertum yang baik dan benar
sehingga dapat digunakan sebagai alat bukti yang bisa meyakinkan hakim untuk memutuskan
suatu tindak pidana. Pada kenyataannya dalam praktek, dokter sering mengalami kesulitan
dalam membuat Visum et Repertum karena kurangnya pengetahuan tentang luka. Padahal
Visum et Repertum harus di buat sedemikian rupa, yaitu memenuhi persyaratan formal dan
material, sehingga dapat dipakai sebagai alat bukti yang sah di sidang pengadilan. Dengan
demikian, jelas bagi kita bahwa sebagai kalangan medis, penting untuk mengetahui dan
mendeskripsikan berbagai hal mengenai luka dan trauma. Sehingga traumatologi menjadi
pokok pembahasan dalam makalah ini.

I.2 Tujuan Penulisan


Dengan penyusunan referat ini kami berharap seorang dokter atau calon dokter
mampu mendeskripsikan luka secara benar sehingga mampu membuat Visum et Repertum
yang baik dan benar sehingga dapat digunakan sebagai alat bukti yang bisa meyakinkan
hakim untuk memutuskan suatu tindak pidana.

I.3 Manfaat Penulisan


I.3.1 Bagi Ilmu Pengetahuan
Referat ini diharapkan mampu memberikan informasi dan pengetahuan
mengenai traumatologi.
I.3.2 Bagi Masyarakat
Referat ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat
mengenai berbagai hal mengenai traumatologi.

BAB II
2

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Definisi
Traumatologi berasal dari kata trauma dan logos. Trauma berarti kekerasan atas
jaringan tubuh yang masih hidup, sedang logos berarti ilmu. Jadi traumatologi merupakan
ilmu yang mempelajari semua aspek yang berkaitan dengan kekerasan terhadap jaringan
tubuh manusia yang masih hidup.

II.2 Jenis Penyebab Trauma


Kekerasan yang mengenai tubuh seseorang dapat menimbulkan efek pada fisik
maupun psikisnya. Efek fisik berupa luka- luka yang kalau di periksa dengan teliti akan dapat
di ketahui jenis penyebabnya yaitu :
A. Bendabenda Mekanik
1. Benda Tajam
Ciri- ciri umum dari luka benda tajam adalah sebagai berikut :
- Garis batas luka biasanya teratur, tepinya rata dan sudutnya runcing
- Bila ditautkan akan mejadi rapat (karena benda tersebut hanya memisahkan, tidak
menghancurkan jaringan) dan membentuk garis lurus dari sedikit lengkung.
- Tebing luka rata dan tidak ada jembatan jaringan.
- Daerah di sekitar garis batas luka tidak ada memar

2. Benda Tumpul
Kekerasan oleh benda keras dan tumpul dapat mengakibatkan berbagai macam jenis
luka, antara lain :
a. Memar ( kontusi )
Memar merupakan salah satu bentuk luka yang ditandai oleh kerusakan jaringan
tanpa disertai diskontinuitas permukaan kulit. Kerusakan tersebut disebabkan oleh
pecahnya kapiler sehingga darah keluar dan meresap ke jaringan di sekitarnya.
Mulamula terlihat pembengkakan, berwarna merah kebiruan. Sesudah 4 sampai 5
hari berubah menjadi kuning kehijauan dan sesudah lebih dari seminggu menjadi
kekuningan. Pada orang yang menderita penyakit defisiensi atau menderita kelainan
darah, kerusakan yang terjadi akibat trauma tumpul tersebut akan lebih besar
dibandingkan pada orang normal. Oleh sebab itu, besar kecilnya memar tidak dapat
di jadikan ukuran untuk menentukan besar kecilnya benda penyebabnya atau keras
tidaknya pukulan. Pada wanita atau orangorang yang gemuk juga akan mudah
terjadi memar. Dilihat sepintas lalu luka memar terlihat seperti lebam mayat, tetapi
jika di periksa dengan seksama akan dapat dilihat perbedaan perbedaanya, yaitu :
Memar

Lebam mayat

Lokasi

Bisa dimana saja

Pada bagian terendah

Pembengkakan

Positif

Negatif

Bila ditekan

Warna tetap

Memucat/menghilang

Mikroskopik

Reaksi jaringan (+)

Reaksi jaringan (-)

Memar

Lebam mayat

b. Luka lecet ( abrasi )


Luka lecet adalah luka yang disebabkan oleh rusaknya atau lepasnya lapisan luar dari
kulit, yang ciri cirinya adalah :
o Bentuk luka tidak teratur
o Batas luka tidak teratur
o Tepi luka tidak rata
o Kadang kadang di temukan sedikit perdarahan
o Permukaannya tertutup oleh krusta ( serum yang telah mengering )
o Warna coklat kemerahan

Pada pemeriksan mikroskopik terlihat adanya beberapa bagian yang masih di


tutupi epitel dan reaksi jaringan ( inflamasi )

Bentuk luka lecet kadangkadang dapat memberi petunjuk tentang benda


penyebabnya; seperti misalnnya kuku, ban mobil, tali atau ikat pinggang. Luka lecet
5

juga dapat terjadi sesudah orang meninggal dunia, dengan tanda tanda sebagai
berikut :
o Warna kuning mengkilat
o Lokasi biasanya didaerah penonjolan tulang
o Pemeriksaan mikroskopik tidak di temukan adanya sisa- sia epitel dan tidak di
temukan reaksi jaringan.
c. Luka terbuka / robek ( laserasi )
Luka terbuka / robek adalah luka yang disebabkan karena persentuhan dengan benda
tumpul dengan kekuatan yang mampu merobek seluruh lapisan kulit dan jaringan di
bawahnya, yang ciricirinya sebagai berikut :
o Bentuk garis batas luka tidak teratur dan tepi luka tak rata
o Bila ditautkan tidak dapat rapat ( karena sebagaian jaringan hancur )
o Tebing luka tak rata serta terdapat jembatan jaringan
o Di sekitar garis batas luka di temukan memar
o Lokasi luka lebih mudah terjadi pada daerah yang dekat dengan tulang ( misalnya
daerah kepala, muka atau ekstremitas )

Karena terjadinya luka disebabkan oleh robeknya jaringan maka bentuk dari luka
tersebut tidak menggambarkan bentuk dari benda penyebabnya. Jika benda tumpul
yang mempunyai permukaan bulat atau persegi dipukulkan pada kepala maka luka
robek yang terjadi tidak berbentuk bulat atau persegi. Kekerasan akibat benda tajam
6

dapat menimbulkan luka yang bentuknya tergantung dari cara benda tajam itu
mengenai sasaran. Jika diiriskan akan mengakibatkan luka iris, jika di tusukan akan
mengakibatkan luka tusuk dan jika di bacokan (di ayunkan dengan tenaga yang
kuat) akan mengakibatkan luka bacok.
Kekerasan akibat benda tumpul dapat menyebabkan luka memar, luka lecet atau
luka robek.
Perbedaan trauma tajam dan trauma tumpul
Trauma

Tajam

Tumpul

a. Bentuk luka

Teratur

Tidak teratur

b. Tepi luka

Rata

Tidak rata

c. Jembatan jaringan

Tidak ada

Ada

d. Rambut

Ikut terpotong

Tidak ikut terpotong

e. Dasar luka

Berupa garis atau titik

Tidak teratur

f. Sekitar luka

Tidak ada luka lain

Ada luka lecet atau memar

3. Benda Yang Mudah Pecah ( kaca )


Kekerasan oleh benda yang mudah pecah ( misal kaca ), dapat mengakibatkan
luka luka campuran; yang terdiri atas luka iris, luka tusuk dan luka lecet. Pada daerah
luka atau sekitarnya biasanya tertinggal fragmen-fragmen dari benda yang mudah pecah
itu. Jika yang menjadi penyebabnya adalah kaca mobil maka luka-luka campuran yang
terjadi hanya terdiri atas luka lecet dan luka iris saja, sebab kaca mobil sengaja dirancang
sedemikian rupa sehingga kalau pecah akan terurai menjadi bagian-bagian kecil.

B. Benda Fisik
Kekerasan fisik adalah kekerasan yang disebabkan oleh benda-benda fisik, antara lain:
Benda bersuhu tinggi
7

Benda bersuhu rendah


Sengatan listrik
Petir
Tekanan (barotrauma)
1. Benda bersuhu tinggi
Kekerasan dengan benda bersuhu tinggi akan menimbulkan luka bakar yang
cirinya amat tergantung pada bendanya, ketinggian suhunya, serta lamanya berkontak
dengan benda tersebut. Api, benda padat panas atau membara dapat mengakibatkan
luka bakar derajat I,II,III dan IV. Zat cair panas dapat mengakibatkan luka bakar
derajat I, II dan III.
Luka bakar derajat I

Luka bakar derajat II

Luka bakar derajat III

Luka bakar derajat IV

2. Benda bersuhu rendah


Kekerasan oleh benda bersuhu dingin (rendah) biasanya dialami oleh bagian
tubuh yang terbuka, seperti misalnya tangan, kaki, telinga atau hidung. Mula-mula
pada daerah tersebut akan terjadi vasokonstriksi pembuluh darah superficial sehingga
terlihat pucat. Selanjutnya akan terjadi paralisis kontrol vasomotor yang menyebabkan
daerah tersebut berubah menjadi kemerahan. Pada keadaan yang lebih berat akan
berubah menjadi gangren.

3. Sengatan listrik
Sengatan oleh benda bermuatan listrik dapat menimbulkan luka bakar sebagai
akibat berubahnya energi listrik menjadi energi panas. Besarnya pengaruh listrik pada
jaringan tersebut tergantung dari besarnya tegangan (voltase), kuatnya arus (ampere),
besarnya tahanan kulit (ohm), dan kontak serta luasnya daerah yang terkena kontak.
Bentuk luka pada daerah kontak (tempat masuknya arus) berupa kerusakan jaringan
kulit dengan tepi agak menonjol dan di sekitarnya terdapat daerah pucat, dikelilingi
daerah hipereremis. Sering ditemukan adanya metalisasi.
Pada tempat keluarnya arus dari tubuh juga sering ditemukan adanya luka.
Bahkan kadang-kadang bagian baju atau sepatu yang dilalui arus listrik ketika
meninggalkan tubuh juga ikut terbakar.Tegangan arus kurang dari 65 volt biasanya
tidak mebahayakan, tetapi tegangan antara 65-1000 volt dapat mematikan. Sedangkan
kuat arus (ampere) yang dapat mematikan adalah 100 mA. Kematian tersebut terjadi
akibat fibrilasi ventrikel, kelumpuhan otot pernapasan atau pusat pernapasan.
Sedangkan faktor yang sering mempengaruhi kefatalan adalah kesadaran seseorang
akan adanya listrik pada benda yang dipegangnya. Bagi orang-orang yang tidak
menyadari adanya arus listrik pada benda yang dipegangnya biasanya pengaruhnya
lebih berat dibanding orang-orang yang pekerjaannya setiap hari berhubungan dengan
listrik.

4. Petir
9

Petir terjadi karena adanya loncatan arus listrik di awan yang tegangannya
dapat mencapai 10 mega volt dengan kuat arus sekitar 100.000 A ke tanah. Luka-luka
karena sambaran petir pada hakekatnya merupakan luka-luka gabungan akibat listrik,
panas dan ledakan udara. Luka akibat panas berupa luka bakar dan luka akibat ledakan
udara berupa luka-luka yang mirip dengan luka akibat persentuhan dengan beda
tumpul.
Dapat terjadi kematian akibat efek arus listrik yang melumpuhkan susunan
saraf pusat, menyebabkan fibrilasi ventrikel. Kematian juga dapat terjadi karena efek
ledakan atau efek dari gas panas yang ditimbulkannya. Pada korban mati sering
ditemukan adanya arborecent mark (percabangan pembuluh darah terlihat seperti
percabangan pohon), metalisasi benda-benda dari logam yang dipakai, magnetisasi
benda-benda dari logam yang dipakai. Pakaian korban terbakar atau robek-robek.
5. Tekanan (barotrauma)
Trauma akibat perubahan tekanan pada medium yang ada di sekitar tubuh
manusia dapat menimbulkan kelainan atau gangguan yang sering disebut disbarisme
yang terdiri atas 2 macam, yaitu:
a. Hiperbarik:
Sindroma ini disebabkan oleh tekanan tinggi, antara lain:
Turun dari ketinggian secara mendadak (saat pesawat mendarat atau turun
-

gunung)
Berada di kedalaman air: pada penyelam bebas, scuba diving (menyelam
dengan tangki oksigen), snorkling (menyelam dengan tube di mulut)
penyelam dengan pakaian khusus.

Gejala yang ditimbulkan oleh perubahan tekanan tersebut dapat berupa:


-

Barotraumas pulmoner: pneumotoraks, emboli udara atau emfisema

interstitialis.
Barotalgia: rasa nyeri, membran tympani pecah, perdarahan, vertigo,

dizziness.
Barodontalgia: pengumpulan gas yang menyebabkan rasa nyeri atau

bahkan meletus.
Narkosis nitrogen: amnesia, disorientasi.

b. Hipobarik
Sindroma ini disebabkan oleh perubahan tekanan rendah, antara lain:
Naik tempat tinggi secara mendadak saat pesawat mengudara atau saat
pesawat meluncur ke ruang angkasa.
10

Berada di ruangan bertekanan rendah, misalnya dalam decompression


chamber.

Gejala yang ditimbulkannya disebabkan oleh pembentukan dan pengumpulan


gelembung-gelembung udara di dalam jaringan lunak atau organ-organ berongga.
Gejala tersebut antara lain:
-

Sendi-sendi terasa kaku disertai nyeri hebat


Rongga dada dirasakan tercekik, sesak napas dan batuk yang hebat.
Gejala pada susunan saraf tergantung letak emboli dan letak emfisema
subkutan
Rongga perut terasa kembung
Gigi geligi terasa nyeri.

C. Kombinasi Benda Mekanik dan Fisik


Luka akibat tembakan senjata api pada dasarnya merupakan luka yang disebabkan
oleh trauma benda mekanik (benda tumpul) dan fisik (panas), yaitu anak peluru yang
jalannya giroskopik (berputar/mengebor).
Mengingat lapisan kulit memiliki elastisitas yang kurang baik dibandingkan lapisan di
bawahnya, maka jaringan yang hancur akibat terjangan anak peluru lebih luas. Akibatnya
bentuk luka tembak masuk terdiri atas lubang, dikelilingi cincin lecet yang diameternya
lebih besar. Diameter cincin tersebut lebih mendekati kaliber pelurunya.
Sedangkan luka akibat senjata yang tidak menggunakan mesiu sebagai tenaga
pendorong anak pelurunya (senjata angin) pada hakekatnya merupakan luka yang
disebabkan oleh persentuhan dengan benda tumpul saja.
Ciri-ciri luka tembak amat bergantung pada jenis senjata yang ditembakkan, jarak
tembakan, arah tembakan, serta posisinya (sebagai tempat masuk atau keluarnya anak
peluru).

11

D. Zat Kimia Korosif


Zat-zat kimia korosif dapat menimbulkan luka-luka apabila mengenai tubuh manusia.
Ciri-ciri lukanya amat tergantung pada golongan zat kimia tersebut.
1. Golongan asam
Termasuk zat kimia korosif dari golongan asam antara lain:
Asam mineral, antara lain: H2SO4, HCl dan NO3
Asam organik, antara lain: asam oksalat, asam formiat dan asam asetat
Garam mineral, antara lain: AgNO3 dan zinc chloride
Halogen, antara lain: F, Cl, Ba dan J
Cara kerja zat kimia korosif dari golongan ini sehingga mengakibatkan luka, ialah:
-

Mengekstraksi air dan jaringan


Mengkoagulasi protein menjadi albuminat
Mengubah hemoglobin menjadi acid hematin

Ciri-ciri luka yang terjadi akibat zat-zat asam korosif tersebut ialah:
Terlihat kering
Berwarna coklat kehitaman, kecuali yang disebabkan oleh nitrit acid berwarna
-

kuning kehijauan
Perabaan keras dan kasar

2. Golongan basa
Zat-zat kimia korosif yang termasuk golongan basa antara lain:
KOH
NaOH
NH4OH
Cara kerja dari zat-zat tersebut sehingga menimbulkan luka adalah:
Mengadakan ikatan denga protoplasma sehingga membentuk alkaline albumin
dan sabun
Mengubah hemoglobin menjadi alkaline hematine
Ciri-ciri luka yang terjadi sebagai akibat persentuhan dengan zat-zat ini adalah:
Terlihat basah dan edematous
Berwarna merah kecoklatan
Perabaan lunak dan licin
12

II.3 Waktu Terjadinya Kekerasan


Waktu terjadinya kekerasan merupakan hal yang sangat penting bagi keperluan
penuntutan oleh penuntut umum, pembelaan oleh penasehat hukum terdakwa serta untuk
penentuan keputusan oleh hakim. Dalam banyak kasus, informasi tentang waktu terjadinya
kekerasan itu akan dapat digunakan sebagai bahan analisa guna mengungkapkan banyak hal,
tidak seharusnya seseorang dituduh atau dihukum jika pada saat terjadinya tindak pidana ia
berada ditempat yang jauh dari tempat kejadian perkara.
Dengan melakukan pemeriksaan yang teliti, akan dapat ditentukan :
-

Luka terjadi antemortem atau postmortem.


Umur luka.

A. Luka Antemortem dan Postmortem


Jika pada tubuh jenazah ditemukan luka maka pertanyaannya ialah luka itu terjadi
sebelum atau sesudah mati. Untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu dicari ada tidaknya
tanda-tanda intravital. Jika ditemukan berarti luka terjadi sebelum mati dan demikian pula
sebaliknya.
Tanda intravital itu sendiri pada hakekatnya merupakan tanda yang menunjukan bahwa :
-

Jaringan setempat masih hidup ketika terjadi trauma.


Organ dalam masih berfungsi ketika terjadi trauma.

1. Jaringan setempat masih hidup ketika terjadi trauma.


Tanda-tanda bahwa jaringan yang terkena trauma masih dalam keadaan hidup ketika
terjadi trauma antara lain :
a. Retraksi jaringan
Terjadi karena serabut-serabut elastis dibawah kulit terpotong dan kemudian
mengkerut sambil menarik kulit diatasnya. Jika arah luka memotong serabut
secara tegak lurus maka bentuk luka akan menganga, tetapi jika arah luka sejajar
dengan serabut elastis maka bentuk luka tak begitu menganga.
b. Reaksi vaskuler
Bentuk reaksi vaskuler tergantung dari jenis trauma, yaitu :
Pada trauma suhu panas, bentuk reaksi intravitalnya berupa :
- Eritema (kulit berwarna kemerahan)
- Vesikel atau bulla
13

Pada trauma benda keras dan tumpul, bentuk intravital berupa :


- Kontusi atau memar
c. Reaksi mikroorganisme (infeksi).
Jika tubuh dari orang yang masih hidup mendapat trauma dan meninggalkan luka
terbuka maka kuman-kuman akan masuk serta menimbulkan infeksi yang ciricirinya sebagai berikut :
- Warna kemerahan.
- Terlihat bengkak.
- Terdapat pus.
- Bila sudah lama telihat adanya jaringan granulasi.
d. Reaksi biokimiawi.
Jika jaringan yang masih hidup mendapat trauma maka pada daerah tersebut akan
terjadi aktivitas biokimiawi berupa :
- Kenaikan kadar serotonin(kadar maksimal terjadi 10 menit sesudah trauma).
- Kanaikan kadar histamine (kadar maksimal terjadi 20-30 menit sesudah
trauma).
- Kanaikan kadar enzim (ATP, aminopeptidase, acid-phosphatase) yang terjadi
beberapa jam sesudah trauma sebagai akibat dari mekanisme pertahanan
jaringan.
2. Organ dalam masih berfungsi saat terjadi trauma.
Jika organ dalam (jantung atau paru-paru) masih dalam keadaan berfungsi ketika
terjadi trauma maka tanda-tandanya antara lain :
a. Perdarahan hebat (profuse bleeding)
Trauma yang terjadi pada orang hidup akan menimbulkan perdarahan yang
banyak sebab jantung masih bekerja sehingga terus-menerus memompa darah
keluar lewat luka. Berbeda sekali dengan trauma yang terjadi sesudah mati sebab
keluarnya darah disini secara pasif karena pengaruh gravitasi sehingga jumlahnya
tidak banyak.
Perdarahan pada luka intravital dibagi menjadi 2 yaitu perdarahan internal
dan eksternal. Perdarahan internal mudah dibuktikan karena darah tertampung
dirongga badan (rongga perut, rongga dada, rongga panggul, rongga kepala, dan
kantong perikardium) sehingga dapat diukur pada waktu otopsi. Sedangkan
perdarahan eksternal (darah tumpah ditempat kejadian) hanya dapat disimpulkan
jika pada waktu otopsi ditemukan tanda-tanda anemis (muka dan organ-organ
dalam pucat) disertai tanda-tanda limpa melisut, jantung dan nadi utama tidak
berisi darah.
b. Emboli udara
14

Terdiri atas emboli udara venosa (pulmoner) dan emboli udara arterial
(sistemik). Emboli udara venosa terjadi jika lumen dari vena yang terpotong tidak
mengalami kolap karena terfiksir dengan baik seperti misalnya vena jugularis
eksterna atau subclavia. Udara akan masuk ketika tekanan dijantung kanan
negatif. Gelembung udara yang terkumpul di jantung kanan dapat terus menuju
kedaerah paru-paru sehingga dapat mengganggu fungsinya.
Emboli arterial dapat terjadi sebagai kelanjutan dari emboli udara venosa
pada penderita foramen ovale persisten atau sebagai akibat dari tindakan
pneumotorak artefisial atau karena luka-luka yang menembus paru-paru.
Kematian dapat terjadi akibat gelembung udara masuk pembuluh darah koroner
atau otak.
c. Emboli lemak
Emboli lemak dapat terjadi pada trauma tumpul yang mengenai jaringan
berlemak atau trauma yang mengakibatkan patah tulang panjang. Akibatnya,
jaringan lemak akan mengalami pencairan dan kemudian masuk kedalam
pembuluh darah vena yang pecah menuju atrium kanan, ventrikel kanan dan dapat
terus menuju daerah paru-paru.
d. Pneumotorak
Jika dinding dada menderita luka tembus atau paru-paru menderita luka,
sementara paru-paru itu sendiri tetap berfungsi maka luka tersebut dapat berfungsi
sebagai ventil. Akibatnya, udara luar atau udara paru-paru akan masuk ke rongga
pleura setiap inspirasi.
Semakin lama udara yang masuk kerongga pleura, semakin banyak yang
pada akhirnya akan menghalangi pengembangan paru-paru sehingga pada
akhirnya paru-paru menjadi kolap.
e. Emfisema kulit (krepitasi kulit)
Jika trauma pada dada mengakibatkan tulang iga patah dan menusuk paruparu maka pada setiap ekspirasi udara paru-paru dapat masuk ke jaringan ikat
dibawah kulit.
Pada palpasi akan terasa ada krepitasi disekitar daerah trauma. Keadaan
seperti ini tidak mungkin terjadi jika trauma terjadi sesudah orang meninggal
dunia. Jika trauma terjadi sesudah orang meninggal dunia maka kelainan-kelainan
tersebut diatas tidak mungkin terjadi mengingat pada saat itu jantung dan paruparunya sudah berhenti bekerja.
15

B. Umur Luka
Untuk mengetahui kapan terjadinya kekerasan, perlu diketahui umur luka. Hanya saja,
tidak ada satupun metode yang dapat digunakan untuk menilai dengan tepat kapan suatu
kekerasan (baik pada korban hidup ataupun mati) dilakukan mengingat adanya faktor
individual, penyulit (misalnya infeksi, kelainan darah atau penyakit defisiensi) serta faktor
kualitas dari kekerasan itu sendiri.
Kendati demikian ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk memperkirakannya, yaitu
dengan melakukan :
-

Pemeriksaan makroskopik.
Pemeriksaan mikroskopik (histologik).
Pemeriksaan histokemik (histochemical examination).
Pemeriksaan biokemik (biochemical examination).

1. Pemeriksaan makroskopik.
Pemeriksaan dengan mata telanjang atas luka dapat memperkirakan berapa umur luka
tersebut. Pada korban hidup, perkiraan dihitung dari saat trauma sampai saat diperiksa dan
pada korban mati, mulai dari saat trauma sampai saat kematiannya.
Pada kekerasan dengan benda tumpul, umur luka dapat diperkirakan dengan
mengamati perubahan-perubahan yang terjadi. Mula-mula pada daerah yang mengalami
trauma akan terlihat pembengkakan akibat ekstravasasi dan inflamasi, berwarna merah
kebiruan. Sesudah 4 samapai 5 hari warna tersebut berubah menjadi kuning kehijauan dan
sesudah lebih dari seminggu menjadi kekuningan.
Pada luka robek atau terbuka juga dapat diperkirakan umurnya dengan mengamati
perubahanperubahannya. Dalam selang waktu 12jam sesudah trauma akan terjadi
pembengkakan pada tepi luka, selanjutnya kondisi luka akan di dominasi oleh tanda-tanda
inflamasi dan kemudian di susul tanda-tanda penyembuhan.
2. Pemeriksaan mikroskopik.
Mengingat hasil pemeriksaan makroskopik sangat variatif dan jauh dari ketetapan
maka perlu dilakukan pemeriksaan mikroskopik pada korban mati. Selain berguna bagi

16

penentuan intravitalisasi luka, pemeriksaan mikroskopik juga dapat menentukan umur luka
secara lebih teliti. Caranya ialah dengan mengamati perubahan-perubahan histologiknya.
Menurut Walcher, Robertson dan Hodge, infiltrasi perivaskuler dari leukosit
polimorfonukler dapat dilihat dengan jelas pada kasus-kasus dengan periode survival
sekitar 4 jam atau lebih. Dilatasi kapiler dan marginasi sel leukosit mungkin dapat dilihat
lebih dini lagi, bahkan dalam beberapa menit sesudah trauma. Leukosit yang mula-mula
masuk kejaringan adalah jenis polimorfonuklear. Pada stadium berikutnya akan tampak
monosit, namun leukosit jenis ini jarang ditemukan pada eksudat kurang dari 12 jam
sesudah trauma. Pada trauma dengan inflamasi aseptik, proses eksudasi akan mencapai
puncaknya dalam waktu 48 jam.
Epitelisasi baru terjadi pada

hari ketiga, sedangkan sel-sel fibroblast mulai

menunjukan perubahan reaktif ( dalam bentuk proliferasi ) sekitar 15 jam sesudah trauma.
Tingkat proliferasi tersebut serta proses pembentukan kapiler-kapiler baru sangat variatif,
tetapi biasanya jaringan granulasi lengkap dengan vaskularisasinya akan terbentuk paling
tidak sesudah 3 hari.serabut-serabut kolagen yang baru juga mulai tebentuk 4 atau 5 hari
sesudah trauma.
Pada luka-luka kecil, kemungkinan jaringan perut tampak pada akhir minggu pertama.
Biasanya sekitar 12 hari sesudah trauma, aktifitas sl-sel epitel dan jaringan dibawah nya
mengalami tahapan regresi. Akibatnya jaringan epitel akan mengalami atrofi, vaakularisasi
jaringan di bawahnya juga berkurang diganti serabut-serabut kolagen,sampai beberapa
minggu sesudah penyembuhannya, serabut-serabut elastis masih tampak lebih banyak dari
jaringan yang tak terkena trauma. Perubahan-perubahan histologik dari luka ini sangat
dipengaruhi oleh ada tidaknya infeksi dan perlu diketahui bahwa infeksi akan
memperlambat proses penyembuhan luka.
3. Pemeriksaan Histokemik
Perubahan-perubahan morfologik dari jaringan hidup yang mendapat trauma
merupakan akibat dari fenomena fungsional yang sering sejalan dengan aktifitas enzim,
yaitu protein yang berfungsi sebagai katalisator reaksi biologik. Oleh sebab itu di
temukannya enzim yang bertanggung jawab terhadap perubahan tersebut dapat
membuktikan lebih dini tentang adanya trauma sebelum perubahan morfologiknya dapat
dilihat.
17

Pemeriksaan histokemik ini didasarkan pada reaksi yang dapat dilihat dengan
pemeriksaan mikroskopik dengan menambahkan zat-zat tertentu. Mula-mula luka atau
bagian dari luka dipotong dengan mengikutsertakan jaringan disekitarnya, kira-kira
setengah inci. Separo dari potongan itu difiksasi dengan menggunakan formalin 10%
didalam refrigerator dengan suhu 4 derajat celcius sepanjang malam untuk membuktikan
adanya aktifitas esterase dan fosfatase. Separonya lagi dibekukan dengan isopentane
dengan menggunakan es kering (dry ice) guna mendeteksi adanya adenosine
triphosphatase dan aminopeptidase.
Peningkatan aktifitas adenosine triphosphatase dan esterase dapat dilihat lebih dini,
yaitu setengah jam setelah trauma. Peningkatan aktifitas aminopeptidase dapat dilihat
sesudah 2 jam, sedangkan peningkatan acid phosphatase dan alkali phosphatase sesudah 4
jam.
4. Pemeriksaan Biokemik.
Meskipun pemeriksaan histokemik lebih banyak menolong, tetapi reaksi trauma yang
dapat ditunjukkannya masih memerlukan waktu yang relatif panjang yaitu beberapa jam
sesudah trauma. Padahal yang sering terjadi korban mati beberapa saat sesudah trauma
sehingga belum dapat dilihat reaksinya dengan metode tersebut. Oleh sebab itu perlu
dilakukan pemeriksaan biokemik.
Perlu diketahui bahwa histamine dan serotonin merupakan zat vasoaktif yang
bertanggung jawab terhadap terjadinya inflamasi akut, terutama pada stadium yang paling
awal dari trauma. Penerapannya bagi kepentingan forensik telah dipublikasikan untuk
yang pertama kali pada tahun 1965 oleh Vazekas dan Viragos-Kis. Mereka melaporkan
adanya kenaikan histamine bebas pada jejas jerat antemortem pada kasus menggantung.
Oleh peneliti lain dibuktikan bahwa kenaikan histamin terjadi 20-30 menit sesudah trauma
sedangkan serotonin naik setelah 10 menit.

II.4 Cara Melakukan Kekerasan


Dengan melihat bentuk serta ciri-ciri luka, dapat juga diketahui cara benda penyebabnya
digunakan. Sudah barang tentu tergantung dari jenis benda penyebab luka tersebut.
Untuk senjata tajam, cara senjata itu digunakan dapat dibedakan, yaitu:
18

Diiriskan
Ditusukkan
Dibacokkan

Untuk senjata api, cara senjata itu ditembakkan juga dapat ditentukan, yaitu:

Secara tegak lurus atau miring


Dengan jarak tembak tempel, dekat, sedang atau jauh

1. DIIRISKAN
Diiriskan artinya bahwa mata tajam dari senjata tersebut ditekankan lebih dahulu ke suatu
bagian dari tubuh kemudian digeser ke arah yang sesuai dengan arah senjata. Luka yang
ditimbulkannya merupakan luka iris (incised wound) yang ciri-cirinya:
Sesuai ciri-ciri umum luka akibat senjata tajam
Panjang luka lebih besar dari dalamnya luka

2. DITUSUKKAN
Ditusukkan artinya bagian ujung dari senjata tajam ditembakkan pada suatu bagian dari
tubuh dengan arah tegak lurus atau miring dan kemudian ditekan ke dalam tubuh sesuai
arah tadi. Luka yang ditimbulkan merupakan luka tusuk (stab wound) yang ciri-cirinya:
Sesuai ciri-ciri umum luka akibat senjata tajam
Dalam luka lebih besar dari panjangnya luka

3. DIBACOKKAN
Dibacokkan artinya bahwa senjata tajam yang ukurannya relatif besar dan diayunkan
dengan tenaga yang kuat sehingga mata tajam dari senjata tersebut mengenai suatu bagian
19

dari tubuh. Tulang-tulang dibawahnya biasanya berfungsi sebagai bantalan sehingga ikut
menderita luka. Luka yang ditimbulkannya merupakan luka bacok (chop wound) yang
ciri-cirinya:
Sesuai ciri-ciri umum luka akibat senjata tajam
Ukuran luka besar dan menganga
Panjang luka kurang lebih sama dengan dalam luka
Biasanya tulang-tulang dibawahnya ikut menderita luka
Jika senjata yang digunakan tidak begitu tajam maka disekitar garis batas luka terdapat
memar.

4. DITEMBAKKAN
Jika ditembakkan tegak lurus ke arah permukaan tubuh, maka ciri-cirinya:
Letak lubang luka terhadap cincin lecet konsentris
Jika ditembakkan secara miring ke arah permukaan tubuh maka ciri-cirinya:
Letak lubang luka terhadap cincin lecet episentris
Jika ditembakkan dengan jarak kontak maka luka yang terjadi mempunyai ciri-ciri:
Bentuknya seperti bintang (cruciform)
Terlihat memar berbentuk sirkuler akibat hentakan balik dari moncong senjata
Jika ditembakkan dengan jarak dekat (1 inci 2 kaki) maka ciri-ciri dari luka yang terjadi
adalah:
Berupa lubang berbentuk bulat yang dikelilingi cincin lecet
Terdapat produk dari mesiu (tatto, sisa-sisa mesiu atau jelaga)
Jika ditembakkan dengan jarak jauh (lebih dari 2 kaki) maka ciri-ciri dari luka yang
terjadi adalah:
Berupa lubang berbentuk bulat yang dikelilingi cincin lecet
Tidak ditemukan produk mesiu
20

II.5. Akibat Trauma


A. Aspek Medik
Berdasarkan prinsip inersia (principle of inertia) dari Galileo Galilei, setiap benda
akan tetap pada bentuk dan ukurannya sampai ada kekuatan luar yang mampu
merubahnya. Selanjutnya Isaac Newton dengan 3 buah hukumnya berhasil menemukan
metode

yang

dapat

dipakai

untuk

mengukur

dan

menghitung

energi.

Dengan dasar-dasar tadi maka dapat diterangkan bagaimana suatu energi potensial dalam
bentuk kekerasan berubah menjadi energi kinetik yang mampu menimbulkan luka, yaitu
kerusakan jaringan yang dapat disertai atau tidak disertai oleh diskontinuitas permukaan
kulit.
Konsekuensi

dari

luka

yang

ditimbulkan

oleh

trauma

dapat

berupa

1. Kelainan fisik / organik.


Bentuk dari kelainan fisik atau organik ini dapat berupa :
- Hilangnya jaringan atau bagian dari tubuh.
- Hilangnya sebagian atau seluruh organ tertentu.
2. Gangguan fungsi dari organ tubuh tertentu.
Bentuk dari gangguan fungsi ini tergantung dari organ atau bagian tubuh yang terkena
trauma. Contoh dari gangguan fungsi antara lain lumpuh, buta, tuli atau terganggunya
fungsi organ-organ dalam.
3. Infeksi
Seperti diketahui bahwa kulit atau membrana mukosa merupakan barier terhadap
infeksi. Bila kulit atau membrana tersebut rusak maka kuman akan masuk lewat pintu
ini. Bahkan kuman dapat masuk lewat daerah memar atau bahkan iritasi akibat benda
yang terkontaminasi oleh kuman. Jenis kuman dapat berupa Streptococcus,
Staphylococcus, Eschericia coli, Proteus vulgaris, Clostridium tetani serta kuman yang
menyebabkan gas gangren.
4. Penyakit
Trauma sering dianggap sebagai precipitating factor terjadinya penyakit jantung
walaupun hubungan kausalnya sulit diterangkan dan masih dalam kontroversi.
21

5. Kelainan psikis
Trauma, meskipun tidak menimbulkan kerusakan otak, kemungkinan dapat menjadi
precipitating factor bagi terjadinya kelainan mental yang spektrumnya amat luas; yaitu
dapat berupa compensational neurosis, anxiety neurosis, dementia praecox primer
(schizophrenia), manic depressive atau psikosis. Kepribadian serta potensi individu
untuk terjadinya reaksi mental yang abnormal merupakan faktor utama timbulnya
gangguan mental tersebut; meliputi jenis, derajat serta lamanya gangguan. Oleh sebab
itu pada setiap gangguan mental post-trauma perlu dikaji elemen-elemen dasarnya yang
terdiri atas latar belakang mental dan emosi serta nilai relatif bagi yang bersangkutan
atas jaringan atau organ yang terkena trauma. Secara umum dapat diterima bahwa
hubungan antara kerusakan jaringan tubuh atau organ dengan psikosis post trauma
didasarkan atas :

Keadaan mental benar-benar sehat sebelum trauma.

Trauma telah merusak susunan syaraf pusat.

Trauma, tanpa mempersoalkan lokasinya, mengancam kehidupan seseorang.

Trauma menimbulkan kerusakan pada bagian yang struktur atau fungsinya dapat
mempengaruhi emosi organ genital, payudara, mata, tangan atau wajah.

Korban cemas akan lamanya waktu penderitaan.

Psikosis terjadi dalam tenggang waktu yang masuk akal.

Korban dihantui oleh kejadian (kejahatan atau kecelakaan) yang menimpanya.

B. Aspek Yuridis
Jika dari sudut medik, luka merupakan kerusakan jaringan (baik disertai atau tidak disertai
diskontinuitas permukaan kulit) akibat trauma maka dari sudut hukum, luka merupakan
kelainan yang dapat disebabkan oleh suatu tindak pidana, baik yang bersifat intensional
(sengaja), recklessness (ceroboh), atau negligence (kurang hati-hati). Untuk menentukan
berat ringannya hukuman perlu ditentukan lebih dahulu berat ringannya luka.
Kebijakan hukum pidana didalam penentuan berat ringannya luka tersebut didasarkan atas
pengaruhnya terhadap :
- Kesehatan jasmani.
22

- Kesehatan rohani.
- Kelangsungan hidup janin di dalam kandungan.
-

Estetika jasmani

Pekerjaan jabatan atau pekerjaan mata pencaharian.

- Fungsi alat indera :


1. Luka ringan.
Luka ringan adalah luka yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan
dalam menjalankan pekerjaan jabatan atau mata pencahariannya.
2. Luka sedang.
Luka yang mengakibatkan penyakit atau halangan dalam menjalankan
pekerjaan jabatan atau mata pencahariannya untuk sementara waktu.
3. Luka berat.
Luka yang sebagaimana diuraikan di dalam pasal 90 KUHP, yang terdiri atas:
a. Luka atau penyakit yang tidak dapat diharapkan akan sembuh dengan
sempurna. Pengertian tidak akan sembuh dengan sempurna lebih ditujukan
pada fungsinya. Contohnya trauma pada satu mata yang menyebabkan
kornea robek. Sesudah dijahit sembuh, tetapi mata tersebut tidak dapat
melihat.
b. Luka yang dapat mendatangkan bahaya maut. Dapat mendatangkan bahaya
maut pengertiannya memiliki potensi untuk menimbulkan kematian, tetapi
sesudah diobati dapat sembuh.
c. Luka yang menimbulkan rintangan tetap dalam menjalankan pekerjaan
jabatan atau mata pencahariannya. Luka yang dari sudut medik tidak
membahayakan jiwa, dari sudut hukum dapat dikategorikan sebagai luka
berat. Contohnya trauma pada tangan kiri pemain biola atau pada wajah
seorang peragawati dapat dikategorikan luka berat jika akibatnya mereka
tidak dapat lagi menjalankan pekerjaan tersebut selamanya.
23

d. Kehilangan salah satu dari panca indera. Jika trauma menimbulkan kebutaan
satu mata atau kehilangan pendengaran satu telinga, tidak dapat digolongkan
kehilangan indera. Meskipun demikian tetap digolongkan sebagai luka berat
berdasarkan butir (a) di atas.
e. Cacat besar atau kudung.
f. Lumpuh.
g. Gangguan daya pikir lebih dari 4 minggu lamanya. Gangguan daya pikir
tidak harus berupa kehilangan kesadaran tetapi dapat juga berupa amnesia,
disorientasi, anxietas, depresi atau gangguan jiwa lainnya.
h. Keguguran atau kematian janin seorang perempuan. Yang dimaksud dengan
keguguran ialah keluarnya janin sebelum masa waktunya, yaitu tidak
didahului oleh proses sebagaimana umumnya terjadi seorang wanita ketika
melahirkan. Sedangkan, kematian janin mengandung pengertian bahwa janin
tidak lagi menunjukkan tanda-tanda hidup, tidak dipersoalkan bayi keluar
atau tidak dari perut ibunya.

II.6 Kontek Peristiwa Penyebab Luka


Latar belakang terjadinya luka dapat disebabkan oleh peristiwa pembunuhan, bunuh diri atau
kecelakaan.
1. Pembunuhan
Ciri-ciri lukanya adalah:
Lokasi luka di sembarang tempat, yaitu daerah yang mematikan maupun yang
tidak mematikan
Lokasi tersebut di daerah yang dapat dijangkau maupun yang tidak dapat
dijangkau oleh tangan korban
Pakaian yang menutupi daerah luka ikut robek terkena senjata
Dapat ditemukan luka tangkisan (defensive wounds), yaitu pada korban yang
sadar ketika mengalami serangan. Luka tangkisan tersebut terjadi akibat reflek
menahan serangan sehingga letak luka tangkisan biasanya pada lengan bawah
bagian luar.
2. Bunuh diri
24

Ciri-ciri lukanya adalah:


Lokasi luka pada daerah yang dapat mematikan secara cepat
Lokasi tersebut dapat dijangkau oleh tangan yang bersangkutan
Pakaian yang menutupi luka tidak ikut robek oleh senjata
Ditemukan luka-luka percobaan (tentative wounds).
Luka percobaan tersebut terjadi karena yang bersangkutan masih ragu-ragu atau
karena sedang memilih letak senjata yang pas sambil mengumpulkan keberaniannya,
sehingga ciri-ciri luka percobaan adalah:

Jumlahnya lebih dari satu


Lokasinya di sekitar luka yang mematikan
Kualitas lukanya dangkal
Tidak mematikan

3. Kecelakaan
Jika ciri-ciri luka yang ditemukan tidak menggambarkan pembunuhan atau bunuh diri
maka kemungkinannya adalah akibat kecelakaan. Untuk lebih memastikannya perlu
dilakukan pemeriksaan di tempat kejadian.

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

III.1 Kesimpulan
1. Luka pada Ilmu Kedokteran Forensik merupakan salah satu bagian terpenting. Luka
bisa terjadi pada korban hidup maupun korban mati. Luka bisa terjadi akibat
25

kekerasan

mekanik,

kekerasan

fisik,

&

kekerasan

kimiawi.

Luka

dapat

diklasifikasikan berdasarkan jenis benda, yaitu akibat kekerasan benda tumpul, akibat
benda tajam, akibat tembakan senjata api, akibat benda yang muda pecah, akibat
suhu/temperatur, akibat trauma listrik, akibat petir, dan akibat zat kimia korosif.
Selain itu luka bisa diketahui waktu terjadinya kekerasan, apakah luka terjadi
antemortem atau postmortem. Terkadang dari luka kita bisa mengetahui umur luka.
Walaupun belum ada satupun metode yang digunakan untuk menilai dengan tepat
kapan suatu kekerasan dilakukan mengingat adanya berbagai macam faktor yang
mempengaruhinya; seperti faktor infeksi, kelainan darah, atau penyakit defisiensi.
Dari deskripsi luka kita sebagai dokter juga dapat membantu pihak hukum untuk
menentukan kualifikasi luka sesuai dengan KUHP Bab XX pasal 351 dan 352 serta
Bab IX pasal 90. Yang pada tindak pidana untuk menentukan hukuman yang
diberikan kepada pelaku kekerasan dengan melihat deskripsi luka yang kita buat. Oleh
karena itu diharapkan kita sebagai calon dokter yang nantinya sebagai dokter di
masyarakat umum akan banyak menemukan kasus kekerasan yang menyebabkan luka
baik pada korban hidup maupun korban mati, bisa mendeskripsikan luka sebaikbaiknya dalam Visum et Repertum.

III.2 Saran
1. Seorang dokter atau calon dokter harus belajar mendiskripsikan luka sehingga
mampu membuat Visum et Repertum yang baik dan benar.
2. Seorang dokter atau calon dokter tidak hanya mempelajari ilmu kedokteran tetapi
juga mengetahui hukum kesehatan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Herlambang, Penggalih Mahardika. Mekanisme Biomolekuler Luka Memar [online]. 2010.
Available at: http://sibermedik.files.wordpress.com/2008/10/biomol-memar_rev.pdf
2. Wales J. Visum et Repertum. [online]. 2010. Available at :
http://Id.Wikipedia.Org/Wiki/Visum_Et_Repertum.
3. Dahlan, Sofwan. Pembuatan Visum Et Repertum. Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Semarang : 2003.
4. Sjamsuhidajat, Wim de Jong. Luka. Dalam: Buku Ajar Ilmu Bedah, Ed.2, Jakarta, Penerbit Buku
Kedokteran EGC. 2004.
26

5. Dahlan, Sofwan. Traumatologi. Dalam: Ilmu Kedokteran Forensik. Badan Penerbit Universitas
Diponegoro.Semarang.2004. Hal 67-91.
6. Apuranto, Hariadi. Luka tumpul [online]. 2010. Available at:
www.fk.uwks.ac.id/elib/Arsip/Departemen/.../LUKA%20TUMPUL.pdf
7. Apuranto, Hariadi. Luka tajam [online]. 2010. Available at : www.fk.uwks.ac.id/elib/.../LUKA
%20AKIBAT%20BENDA%20TAJAM.pdf
8. Budiyanto, Arif. Ilmu Kedokteran Forensik. Bagian Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Jakarta : 1997. Hal 37-54.
9. Idries, Abdul Mun'im. 1997. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Binarupa Aksara: Jakarta 1997.
Hal 85-129.
10.Turner Ralph. For1ensik science. [online]. 2009. Available at :
http://www.Portalkriminal.Com/Index
11.Anonim. 2010. http://www.freewebs.com/patofisiologi-luka/index.html
12. Anonim. 2010. http://ayumi.inube.com/blog/34039/forensic-electric%20trauma/html
13. Anonim. 2011. http://moduldanskill.blogspot.com/2011/06/traumatologi-forensik.html
14. Satyo, Alfred.C. Aspek Medikolegal Luka pada Forensik Klinik. Majalah Kedokteran Nusantara
Vol.39. Universitas Sumatera Utara: Medan: Desember 2006. Hal 430-432

27