Anda di halaman 1dari 8

GANGREN DIABETIK

PENDAHULUAN
Istilah penyakit gula atau kencing manis (diabetes melitus = DM) tentu sudah
tidak asing lagi di telinga kita. Menurut laporan dari beberapa tempat di Indonesia, angka
kejadian dan komplikasi DM cukup tersebar sehingga bisa dikatakan sebagai salah satu
masalah nasional yang harus mendapat perhatian.(1,3,4)
Gangguan kesehatan komplikasi DM antara lain gangguan mata (retinopati),
gangguan ginjal (nefropati), gangguan pembuluh darah (vaskulopati), dan kelainan pada
kaki. Komplikasi yang paling sering adalah terjadinya perubahan patologis pada anggota
gerak bawah yang disebut kaki diabetik (diabetic foot).
Dalam kondisi keadaan kaki diabetik, yang terjadi adalah kelainan persarafan
(neuropati), perubahan struktural, tonjolan kulit (kalus), perubahan kulit dan kuku, luka
pada kaki, infeksi dan kelainan pembuluh darah. Keadaan kaki diabetik lanjut yang tidak
ditangani secara tepat dapat berkembang menjadi suatu tindakan pemotongan (amputasi)
kaki.
Adanya luka dan masalah lain pada kaki merupakan penyebab utama kesakitan
(morbiditas), ketidakmampuan (disabilitas), dan kematian (mortalitas) pada seseorang
dengan diabetes.
Kaki diabetik merupakan komplikasi diabetes yang paling ditakuti, karena dapat
menyebabkan cacat bahkan kematian. Risiko amputasi penderita diabetes, 15 kali
dibandingkan dengan yang nondiabetes. Satu per lima pasien diabetes yang opname di
rumah sakit biasanya lantaran masalah kaki yang luka. Lima hingga lima belas persen di

antara penderita kaki diabetik yang membutuhkan amputasi (dipotong). Jadi, tidak semua
kaki diabetik diamputasi.(1,4)

ETIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI(2,3,4)


Dasar terjadinya kaki diabetik adalah adanya suatu kelainan pada saraf, kelainan
pembuluh darah dan kemudian adanya infeksi. Dari ketiga hal tersebut, yang paling
berperan adalah kelainan pada saraf, sedangkan kelainan pembuluh darah lebih berperan
nyata pada penyembuhan luka sehingga menentukan nasib kaki. Keadaan kelainan saraf
dapat mengenai saraf sensorik, saraf motorik, dan saraf otonom.
Bila mengenai saraf sensoris akan terjadi hilang rasa yang menyebabkan
penderita tidak dapat merasakan rangsang nyeri sehingga kehilangan daya kewaspadaan
proteksi kaki terhadap rangsang dari luar. Akibatnya, kaki lebih rentan terhadap luka
meskipun terhadap benturan kecil. Bila sudah terjadi luka, akan memudahkan kuman
masuk yang menyebabkan infeksi. Bila infeksi ini tidak diatasi dengan baik, hal itu akan
berlanjut menjadi pembusukan (gangren) bahkan dapat diamputasi.
Gangguan pada serabut saraf motorik (serabut saraf yang menuju otot) dapat
mengakibatkan pengecilan (atrofi) otot interosseus pada kaki. Akibat lanjut dari keadaan
ini terjadi ketidakseimbangan otot kaki, terjadi perubahan bentuk (deformitas) pada kaki
seperti jari menekuk (cock up toes), bergesernya sendi (luksasi) pada sendi kaki depan
(metatarsofalangeal) dan terjadi penipisan bantalan lemak di bawah daerah pangkal jari
kaki (kaput metatarsal). Hal ini menyebabkan adanya perluasan daerah yang mengalami
penekanan, terutama di bawah kaput metatarsal.

Sementara itu, kelainan saraf otonom bisa menyebabkan perubahan pola


keringat sehingga penderita tidak dapat berkeringat, kulit menjadi kering, mudah timbul
pecah-pecah

pada

kulit

kaki,

akibatnya

mudah

terkena

infeksi

Selain itu, terjadi perubahan daya membesar-mengecil pembuluh darah (vasodilatasivasokonstriksi) di daerah tungkai bawah, akibatnya sendi menjadi kaku. Keadaan lebih
lanjut terjadi perubahan bentuk kaki (Charchot), yang menyebabkan perubahan daerah
tekanan kaki yang baru dan berisiko terjadinya luka.(1)
Kelainan pembuluh darah berakibat tersumbatnya pembuluh darah sehingga
menghambat aliran darah, mengganggu suplai oksigen, bahan makanan atau obat
antibiotika yang dapat menggagu proses penyembuhan luka. Bila pengobatan infeksi ini
tidak sempurna dapat menyebabkan pembusukan (gangren). Gangren yang luas dapat
pula terjadi akibat sumbatan pembuluh darah yang luas sehingga kemungkinannya
dilakukan amputasi kaki di atas lutut.

Hal_hal yang bisa menyebabkan terjadinya Gangren


Penderita diabetes yang kadar glukosanya tidak terkontrol respons imunnya
menurun. Akibatnya, penderita rentan terhadap infeksi, seperti infeksi saluran kencing,
infeksi paru serta infeksi kaki.
Banyak hal yang menyebabkan kaki penderita diabetes mudah kena infeksi
seperti, terkena knalpot, lecet akibat sepatu sesak, luka kecil saat memotong kuku,
kompres kaki yang terlalu panas. Infeksi kaki mudah timbul pada penderita diabetes
kronis dan dikenal sebagai penyulit gangren atau ulkus.(1,2)

Gejala Klinis
Dari anamnesa ditemukan adanya riwayat luka yang tak sembuh sembuh, dan
adanya keluhan banyak makan,banyak minum, serta adanya riwayat penurunan berat
badan.Dari Pemeriksaan fisik terlihatnya borok atau ganggren pada tungkai, biasanya
berwarna hitam dan berbau yang khas, adanya peningkatan kadar gula pada pemeriksaan
kadar gula darah.(2,4)

PENATALAKSANAAN(3,4)
Standard perawatan medis meliputi:
Medikamentosa
-

Antibiotik

Analgetik

Dan obat-obat DM

Tindakan Bedah
Gangren

sering diobati dengan cara operasi yaitu dengan perawatan luka dan

nekretomi (pembuangan jaringan yang mati)


Jika suatu lengan , kaki, jari tangan atau jari kaki sudah menjadi gangren yang lanjut
dan tidak berfungsi lagi maka dilakukan amputasi.

PENCEGAHAN(1,3)
Upaya pencegahan meliputi upaya pada penderita diabetes yang belum
mengalami komplikasi kaki diabetik, yaitu dengan cara tetap mengontrol keadaan kadar
gula darahnya dengan diet dan atau pemberian obat yang teratur dari dokter, sedangkan

upaya pencegahan pada penderita diabetes dengan komplikasi kaki diabetik sama dengan
yang belum mengalami komplikasi, hanya ditambah dengan perawatan kaki yang baik.
Penderita DM harus disadari bahwa kegiatan perawatan kaki merupakan bagian dari
kebiasaan hidup sehari-hari.
Caranya:

Periksalah kaki setiap hari terutama telapak kaki, jari kaki, dan sela jari kaki.
Pemeriksaan dilakukan di tempat yang terang dan untuk memudahkan
pemantauan gunakan cermin. Perhatikan apakah luka atau tidak, kulit kemerahan
atau penebalan kulit. Bersihkan kaki dengan sabun dan air hangat (jangan air
panas), keringkan dengan handuk halus.

Perawatan kuku dilakukan setiap hari bersamaan dengan perawatan kulit kaki.
Saat pemotongan kuku, jika kuku terlalu keras dan kotor, rendam dalam air sabun
hangat selama 5 menit agar kotoran mudah lepas dan kuku menjadi agak lunak.
Jika penglihatan penderita terganggu, sebaiknya minta tolong pada orang lain
untuk memotong kukunya Arah pemotongan kuku sesuai dengan bentuk kuku.
Jika ditemukan adanya kelainan kuku atau luka dianjurkan berkonsultasi ke
dokter. Pada kulit kering dapat ditambahkan lotion, kecuali pada sela jari dan bila
kulit sudah pecah-pecah atau luka terbuka. Jangan memakai powder karena dapat
menjadi lebih kering dan merupakan bahan iritan kulit.

Sepatu yang dipakai harus sesuai dengan bentuk dan besarnya kaki. Hal ini dapat
dilihat dari gambaran telapak kaki yang dibuat pada kertas yang dapat dibuat
sendiri. Permukaan atas sepatu harus lunak, bagian tumit sepatu harus kokoh agar
kaki stabil, bagian alas sepatu yang bersentuhan dengan kaki (insole)

permukaannya harus sesuai dengan bentuk permukaan telapak kaki yang normal,
yaitu memiliki kelengkungan (arch support). Dengan kelengkungan ini seluruh
permukaan telapak kaki akan tertahan dengan baik dan benar. Alas sepatu ini
harus dilapisi dengan bahan yang halus dan empuk agar permukaan telapak kaki
tidak lecet. Apabila sepatu yang dipakai baru dibeli, sebaiknya pada pemakaian
awal diperiksa adakah daerah kemerahan akibat penekanan yang berlebihan.
Apabila memakai kaus kaki, sebaiknya memakai kaus kaki dari bahan katun yang
dapat menyerap keringat. Tebal kaus kaki harus sesuai dengan sepatu yang
dipakai, jangan terasa sempit.

Lakukan olah raga kaki diabetes yang baik dan benar. Olah raga harus dilakukan
secara teratur. Tujuan olah raga bagi penderita DM adalah melancarkan aliran
darah kaki sehingga nutrisi terhadap jaringan lebih lancar, menguatkan otot betis
dan telapak kaki sehingga sewaktu berjalan kaki menjadi lebih stabil, menambah
kelenturan sendi sehingga kaki terhindar dari sendi kaku, memelihara fungsi saraf.
Latihan ini bermanfaat agar koordinasi gerak tetap terpelihara, meningkatkan
ketahanan jantung dan paru sehingga daya tahan aktivitas fisik bertambah,
menambah toleransi jalan, dan meningkatkan skill dan motivasi.

Setelah luka sembuh, persoalan kaki diabetik belumlah selesai.


Hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut adalah usaha untuk mencegah terjadinya kembali
luka pada kaki. Usaha ini pada kaki diabetik bahkan harus sudah dimulai jauh hari
sebelum terjadinya luka. Dengan mengetahui berbagai permasalahannya, usaha
pencegahan dapat direncanakan dengan baik.(1,2,3,4)

KOMPLIKASI(3)
Bakterimia
Sellulitis
Amiloidosis
Squamouse sel karsinoma
Osteomyelitis

Prognosis
1. Tergantung pada adekuat antibiotik dan tindakan pembedahan dengan
debridement.
2. Pada yang sudah lanjut prognosisnya buruk

DAFTAR PUSTAKA

1. Prabowo Tertianto dr, Merawat dan Mengenal kaki Diabetik available at :


http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/1103/22/hikmah/lainnya02.htm
2. Diabetes dan Penurunan Kualitas Hidup, available at:
http://www.indomedia.com/intisari/1997/feb/diabetes.htm
3. Diabetic Foot Infections, available at :
http://www.emedicine.com/med/topic3547.htm
4. What Is Gangrene, available at : http://www.reversegangrene.com/AB.htm